Anda di halaman 1dari 10

PARASIT DARAH DAN PENYAKIT KULIT

Elphan Augusta (O 111 12 253) 1, Muhammad Iqbal Djamil (O 111 12 103) 2,


Hidayanti Adillah (O 111 12 006) 3, Andi Ainun Karlina (O 111 12 268) 4,
Suci Nurfitriani (O 111 12 273) 5

Bagian Bedah & Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi


Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)
Korespondensi penulis: elphanaugusta@gmail.com

Abstrak
Tujuan praktikum ini adalah memaparkan kasus penyakit kulit pada anjing, untuk mengetahui
berbagai ragam perubahan klinik dan patologis, merumuskan diagnosis dan diagnosis banding serta
rencana tindakan penanganan penyakit pada kasus demodekosis, pyoderma, babesiosis dan
ehrlichiosis. Seekor anjing jantan bernama Moly, ras domestik. Demodekosis merupakan suatu
penyakit yang ditimbulkan oleh parasit demodec sp. yang biasanya menyerang anjing dan dapat
menimbulkan gangguan pada kulit, pyoderma atau dikenal dengan hot spot adalah infeksi kulit
akibat bakteri. Infeksi kulit terjadi saat integritas permukaan kulit telah rusak sebagian besar kasus
pyoderma disebabkan oleh Staphylococcus intermedius. Kejadian babesiosis disebabkan oleh
protozoa Babesia sp dari filum Apicomplexa. Pada anjing kejadian babesiosis umumnya disebabkan
oleh adanya infeksi Babesia canis. Penyebab penyakit ehrlichiosis adalah Ehrlichia canis, dapat
terjadi secara akut, dengan vector caplak Rhipicephalus sanguineus. Anjing bernama Moly, dengan
status belum pernah di vaksinasi, bulu rontok, ada infestasi parasit, serta banyak krusta di telinga
kanan dan kiri. Seekor hewan dengan anamneses demikian, memiliki tempratur 38,9 C, frekuensi
nadi 92 x/ menit. Hasil pemeriksaan klinis berupa pemeriksaan refleks pupil, mukosa mulut, dan
menunjukkan tanda normal. Pemeriksaan fisik yang dilakukan terdiri dari inspeksi, palpasi,
perkusi,auskultasi, dan membaui. Ekspresi kepala, posisi tegak telinga dalam keadaan normal dan
posisi kepala dalam keadaan lemas. Refleks pupil normal, pada mulut dan rongga mulut juga tidak
ditemukan adanya abnormalitas. Pemeriksaan lanjutan boleh dilakukan seperti pemeriksaan swab
telinga, dan pemeriksaan lanjutan lainnya, Untuk pencegahan terjangkit suatu penyakit perlu
dilakukan terapi seperti dilakukan vaksinasi secara rutin dan juga permberian multivitamin, agar
resiko terjangkit penyakit lebih
Kata kunci : Babesiosis, Ehrlichiosis, Demodecosis, ektoparasit dan Pyoderma

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|1

Pendahuluan
Babesia
Babesiosis adalah penyakit parasit yang
disebabkan oleh Babesia sp dan terdistribusi di
dalam sirkulasi darah. pada kasus babesiosis
dilaporkan pernah menyerang manusia
sehingga dimasukkan kedalam penyakit
Zoonosis. Rata-rata prevalensi babesiosis sapi
potong asal australia berdasarkan pemeriksaa
darah di pelabuhan tanjung periuk mencapai
10,5%. Mortalitas akibat babesiosis antara 5
10% meskipun ternak telah diobati. Namun
jika tidak dilakukan tindakan pengobatan
maka mortlitas dapat mencapai 50-100%
( Faisal, 2006).
Penyakit Babesia lebih banyak terdapat
dinegara tropis dan subtropis. Penyakit ini
sebetulnya suatu penyakit zoonosis dan
manusia tertular karena digigit sengkenit yang
memerlukan darah untuk melangsungkan
kehidupannya. Sengkenit secara alami hidup
pada binatang peliharaan dan juga binatang
buas, sedangkan
manusia sendiri tidak
berperan dalam penyakit Babesia. Sebenarnya
banyak penderita yang tertular parasit Babesia
tetapi tidak menunjukkan gejala, maka sulit
ditentukan penderita yang terinfeksi Babesia.
(Endang Setiani, 2009).
Kasus pada di Indonesia dilaporkan pada
kerbau di Tegal, Jawa Tengah bertepatan
dengan terjadinya wabah texas fever pada
tahun 1896 dan menyusul di daerah sumatera
pada tahun 1906, kasus babesiosis terus
berkembang dan menjadi wabah pada tahun
1918, yang menyerang ternak-ternak yang
diimport dari Australia sehingga daerah
tertular dan tersangka tertular yaitu Aceh,
Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa, Riau,
Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan
Selatan, Sulawesi Tengah, Halmahera, Irian
Jaya, Lombok, Bali dan Jawa (Dewi, 2009).

Erchilioses
Erchilioses sangat sering terjadi di daerah
Amerika Serikat, Selatan dan Tengah Selatan.
Terjadi juga di Eropa. Kasus ini sering terjadi
pada musim semi dan akhir musim gugur, pada
waktu kutu paling aktif. Infeksi menebar ke
manusia melalui gigitan kutu, kadangkala
dihasilkan dari kontak dengan hewan yang
membawa kutu kucing coklat atau kutu rusa.
Demodekosis
Demodecosis merupakan penyakit kulit
yang disebabkan oleh sejumlah parasit
eksternaak/tungau dari genus Demodex.
Penyakit ini dapat menyerang berbagai hewan
antara lain kucing, kucing, sapi, kambing,
domba, babi, dan kuda kecuali unggas. Kasus
demodecosis juga dilaporkan menyerang
manusia. Ada 2 tipe demodekosis yang dikenal
yaitu demodekosis local dan demodekosis
general ( Shipstone, 2000).
Penularan penyakit demodekosis dapat
terjadi secara kontak langsung dengan kucing
penderita. Anak kucing dapat tertular dari
induknya selama 2-3 hari setelah lahir. Anak
kucing tertular saat mereka menyusu dengan
induknya yang menderita demodekosis dan
lesinya menular dari kulit moncong, mata dan
kaki depan sebelah plantar (dalam). Parasit
tersebut dapat meluas hingga ke seluruh tubuh.
Demodekosis Lokal, atau demodekosis
skuamosa berupa alopesia melingkar pada satu
atau beberapa tempat berukuran kecil, eritema,
daerah tersebut bersisik dan mungkin saja
tidak nyeri atau nyeri, kebanyakan ditemukan
pada wajah dan kaki depan. Sifat penyakit ini
kurang ganas dan kebanyakan kasus ini bisa
pulih secara spontan ( Shipstone, 2000)
Demodekosis General, biasanya berawal
dari lesion local dan bila lesion tidak
mengalami pengurangan secara spontan atau
mendapat perawatan memadai akan menjadi
lesio yang meluas ( Shipstone, 2000 )

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|2

Pyoderma
Pyoderma disebabkan pertumbuhan berlebihan dari Staphylococcus Pseudintermedius. Staphylococcus Pseudintermedius
merupakan flora normal pada tubuh kucing
atau kucing namunb, pada keadaan tertentu
organisme ini tumbuh berlebihan maka akan
menyebabkan infeksi. Kucing atau kucing
yang memiliki infeksi jamur atau penakit
endokrin atau memiliki alergi terhadap kutu,
bahan makanan, atau parasit seperti demodex
biasanya diikuti dengan pyoderma.
Tinjauan Pustaka
Babesiosis
Etiologi. Babesiosis merupakan infeksi oleh
parasit intraeritrosit yang disebabkan oleh
Babesia sp. Babesiosis pada kucing
disebabkan oleh B. canis dan B. gibsoni. B.
canis adalah parasit protozoa darah yang
menyerang eritrosit serta penularannya
melalui gigitan caplak. B. canis pertama kali
di identifikasi oleh Pinna dan Galli Valerio
tahun 1895 di Italia. Secara morfologi parasit
darah ini menyerupai B. bigemina yang
menyerang sapi dengan vektor caplak
Dermacentor marginatus dan Rhipicephalus
sanguineus.

Patofisiologi. Babesia merupakan parasit di


dalam sel darah merah (intraeritrosit). Pada
fase exoeritrositik tidak ada keluhan dan
gejala seperti yang terjadi pada malaria.

Parasit babesia berkembang biak secara


aseksual, dengan tumbuh di dalam sel darah
merah. Biasanya menjadi 2-4 tunas. Bila sel
darah merah yang terinfeksi pecah, parasit
menginfeksi sel darah merah lain dan
memulai siklus baru. Gejala klinik utama
babesiosis, hemoglobinemia, hemoglobinnuria dan kuning (jaundice), Babesiosis pada
hewan berlangsung menahun setelah gejala
akut karena parasit mampu mengubah
spesifisitas antigen di permukaan sel hingga
berubah kepekaannya terhadap antibodi.
Gejala klinis. Gejala klinis yang dapat timbul
akibat penyakit ini antara lain demam,
anoreksia,
malaise,
hemoglobin-nuria,
splenomegali, dan hemolisis darah yang
sering kali menyebabkan kematian (Arai,
1998). Kematian hewan yang terinfeksi dapat
meningkat jika infeksi tersebut tidak
dikendalikan khususnya pada anak kucing.
Diagnosa. Pemeriksaan mikroskopis pre-parat
apus darah tipis atau tebal, dengan pewarnaan
gram atau wright. Gambaran parasit di dalam
sel darah merah berbentuk ring mirip dengan
tropozoit parasit Plasmodium malaria, tetapi
pada infeksi Babesia tidak terlihat pigmen.
Pemeriksaan Indirect Immunofluorescent
antibody assay (IFA).
Diagnosa banding. Gejala klinisnya sangat
menyerupai malaria falciparum, dimana
terjadi demam tinggi, anemia, hemoglobin di
dalam air kemih, jaundice (sakit kuning) dan
gagal ginjal. Penyakit Lyme dengan Gejala
klinis utama dari penyakit ini adalah
kepincangan disertai bengkak dan rasa sakit
pada
sendi
(suppurative
arthritis).
Kepincangan bisa berlangsung dalam waktu
singkat atau yang lebih lama. Nafsu makan
menurun dan hewan tampak lemah.
Kerusakan ginjal yang ditandai dengan
azotemia, hipoalbuminemia, proteinemia
muncul pada kasus lanjutan. (Boozer &
Macintire 2005).

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|3

Terapi dan Pengobatan. Pada penderita


Babesia, perawatan yang baik sebenarnya
sudah cukup efektif. Obat yang sering
digunakan adalah chloroquine. Apabila obat
tersebut kurang berhasil bias diberikan
quinine dengan dosis 650mg 3 kali sehari,
bias dikombinasikan dengan clindamycine
600mg 3 kali sehari. Pengobatan diberikan
selama 7-10 hari.
Pencegahan. pencegahan yang paling efektif
adalah dengan cara menghindari gigitan
sengkenit, misal dengan menggunakan obat
anti serangga gosok (repelen). Dapat
dilakukan vaksinasi.
Ehrlichiosis
Etiologi. Bakteri Ehrlichia, seperti Ricketsiae,
hanya dapat hidup di dalam sel hewan.
Meskipun begitu, tidak seperti Ricketsiae,
bakteri Ehrlicia mendiami sel-sel darah putih.

Patofisiologis. Penyakit ini ditularkan oleh


kutu. Setelah kutu mengisap darah dari inang
bakteri ini masuk ke pembuluh darah. Bakteri
ini menyerang sel darah putih atau leukosit.
Gejala Klinis. Gejala biasanya dimulai sekitar
12 hari setelah gigitan kutu. Gejala muncul
secara tiba-tiba, yaitu berupa demam,
menggigil, nyeri otot, lemah, mual dan atau
muntah, batuk, sakit kepala, dan tidak enak di
seluruh tubuh (malaise).
Diagnosa. Pada pemeriksaan darah dapat
ditemukan jumlah sel-sel darah putih yang
rendah, trombosit yang rendah, kadar enzim
hati yang tinggi, dan kelainan pembekuan
darah. Akan tetapi temuan ini juga bisa
didapatkan pada penyakit lainnya. Untuk itu
dilakukan
pemeriksaan
darah
untuk
memeriksa adanya antibodi terhadap bakteri

ini, meskipun biasanya hasilnya tidak positif,


sampai beberapa minggu setelah penyakit
dimulai. Teknik PCR (Polymerase Chain
Reaction) bisa mem-bantu. Teknik ini
meningkatkan jumlah DNA bakteri sehingga
membuat bakteri lebih mudah untuk
diidentifikasi.
Diagnosa Banding. Seperti pada demam
berbinbik Rocky Mountain.
Terapi dan Pengobatan. Biasanya digunakan
Doxycycline. Antibiotik ini harus diberikan
sampai penderita membaik dan tidak
mengalami demam selama 24-48 jam, tetapi
obat ini minimal harus diberikan salama 7
hari. Ketika pengobatan dimulai lebih awal,
kebanyakan penderita segera mengalami
perbaikan
dan
sembuh.
Penundaan
pengobatan bisa menyebabkan komplikasi
yang serius, termasuk kematian pada 2 sampai
5% penderita.
Pencegahan. Mencegah dari gigitan kutu.
Prognosa. Prognosa dari penyakit ini
yakni fausta.

Demodekosis
Etiologi. Kucing sebagai hewan kesayangan
yang banyak disukai dan dipelihara oleh
banyak orang, sering mengalami gangguan
penyakit kulit yang disebut Demodikosis. ada
tiga spesies dalam genus Demodex pada
kucing, Demodex canis, Demodex cornei, and
Demodex injai. Namun spesies yang terkenal
dan sering ditemukan menyerang kucing
adalah Demodex canis.

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|4

Patofisiologis. Demodex canis terdapat dalam


jumlah yang kecil pada kulit dan tidak
menunjukkan gejala klinis pada kucing yang
sehat. Dalam kondisi normal, parasit ini tidak
memberikan kerugian bagi kucing, namun
bila kondisi kekebalan kucing menurun maka
demodex akan berkembang menjadi lebih
banyak dan menimbulkan penyakit kulit. Pada
anak kucing akan tertular oleh induknya,
namun setelah sistem kekebalan tubuhnya
meningkat kira-kira pada umur 1 minggu,
maka parasit ini akan menjadi flora normal
dan tidak menimbulkan penyakit kulit.
Demodex yang menginfeksi kulit akan
mengalami perkembangbiakan (siklus hidup)
di dalam tubuh hospes tersebut.
Gejala Klinis. Menurut Henfrey (1990),
Scott (2001), Triakoso (2006), Dunn (2008)
gejala klinis dari demodekosis adalah pada
kulit terjadi alopecia, berkerak, kemerahan,
disertai rasa gatal dan sakit jika ada infeksi
sekunder. Munculnya demodex biasanya pada
daerah kepala, kaki depan, hidung, ekor dan
beberapa kucing ada juga yang terserang
hanya di daerah telapak kaki dan telinga saja.
Pada demodekosis general, lesi terdapat
hampir di seluruh tubuh dan biasanya disertai
dengan infeksi sekunder.
Diagnosa. Diagnosa yang dapat dilakukan
pada kasus demodekosis adalah dengan
kerokan kulit yang agak dalam dari bagian
tengah lesi, kemudian diberi tetesan KOH 10
% untuk diamati di bawah mikroskop.
Apabila positif maka akan ditemukan parasit

demodex yang bentuknya seperti wortel atau


cerutu.
Diagnosa Banding. Adanya tungau tidak sulit
diungkap dengan pengerokan kulit, karenanya
demodekosis jarang dikelirukan dengan
penyakit lain. Pyoderma biasanya mirip
demodekosis, dan setiap folikulitis hendaknya
selalu dicurigai akan adanya demodekosis.
Infeksi dermatofita biasanya menyerupai
kerontokan rambut demodekosis lokal.
Demodekosis dapat dikelirukan dengan abrasi
dan jerawat (acne) pada wajah kucing muda.
Dermatitis seborrheik local sangat mirip
dengan demodekosis local, demikian juga
pemphigus kompleks dan epidermolisis
belosa simppleks yang merupakan lesion pada
wajah bias dikelirukan dengan demodekosis.
Terapi
dan
Pengobatan.
Pengobatan
demodekosis terutama ditujukan untuk
membunuh parasit penyebab. Ivermectin
diberikan secara subkutan dengan dosis 400
g per kg berat badan dengan interval
pengulangan sekali seminggu, dan diberikan
injeksi duradryl secara subkutan terlebih dulu
sebagai antihistamin.
Pencegahan. Hewan yang sakit diisolasi
bertujuan agar tidak menyebar. Bekas
kandang (semua material) didesinfeksi atau
dibakari belerang di dalam kandang selama 2
jam, diulang selang 10 hari (tungau tahan 1215 hari diluar tubuh)
Prognosa. Pada tingkat ringan, dengan
perbaikan pakan dan kandang dapat sembuh
dengan spontan. Pada tingkat parah, dengan
pengobatan teratur dapat sembuh.
Pyoderma
Etiologi. Pyoderma disebabkan pertum-buhan
berlebihan dari Staphylococcus Pseudintermedius.

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|5

Patofisiologi.
Staphylococcus
Pseudintermedius merupakan flora normal pada tubuh
kucing atau kucing namunb, pada keadaan
tertentu organisme ini tumbuh berlebihan
maka akan menyebabkan infeksi. Kucing atau
kucing yang memiliki infeksi jamur atau
penakit endokrin atau memiliki alergi
terhadap kutu, bahan makanan, atau parasit
seperti demodex biasanya diikuti dengan
pyoderma.
Gejala Klinis. Tanda-tanda klinis yang paling
umum yang terkait dengan pioderma adalah
pustule yang terbentuk pada kulit, membesar
dan membentuk puss. Tanda-tanda lainnya
mereh melingkar, rambut pendek, gata-gala
dan rambut rontok (alopesia).
Diagnosa. Peneguhan diagnose dilakukan
dengancara membuat kultur jaringan. Kultur
dilakukan dengan cara mengambil kerak
ataupun eksudat dari kasus pyoderma. Selain
itu juga dapat dilakukan dengan kerokan kulit
dan biopsy kulit.
Diagnosa banding. Beberapa diagnose
diperensial
dari
pioderma
ialah
dermatofisiologis, demodekosis, pemphigus
foliaceus, dan dermatosis pustular subcornea.
Terapi dan Pengobatan. Terapi dapat
dilakukan dengan pemberian Ivermectin 0.2
mg/kg bb sc, Metronidazole 20 mg/kg bb po,
CTM 4 mg po, dan Dexamethasone 0.3 mg/kg
bb po. Pemberian Ivermectin bertujuan
mengantisipasi apabila ternyata kejadian
pyoderma merupakan akibat dari infeksi
parasit. Metronidazole yang diberikan
bertujuan untuk mengatasi infeksi bakteri

yang terjadi. Dexamethasone bertujuan untuk


mengatasi proses inflamasi dan alergi yang
terjadi.
Pencegahan. Cara terbaik mengcegah
pioderma adalah mengatasi penyakit/
penyebab yang mendasarinya.
Prognosa. Dengan memperhatikan pemilihan
dan cara pemakaian obat, serta syarat
pengobatan,
dan
mengatasi
penyakit/penyebab
yang
mendasarinya,
penyakit ini dapat diberantas dan memberi
prognosis yang baik.
Diskusi
Kucing dalam praktikum ini adalah
kucing yang ditemukan dipinggir jalan dan
tidak memiliki pemilik. Adapun hasil
anamneses, yaitu kucing hidupnya tidak
terawat, belum memiliki catatan vaksin,
terdapat luka di beberapa bagian tubuh, seperti
bawah abdomen, luka pada kaki sebelah kanan
mulai dari bagian femur hingga dorsal footpad,
luka pada tibia fibula kaki kiri, kesakitan saat
buang air besar, iritasi pada bagian anus dan
terdapat erithema pada bagian abdomen.
Signalment dari pasien, yaitu kucing dengan
nama Alicia, spesiesnya kucing, termasuk
dalam rass/breed local/domestik, warna bulu
dan kulit yaitu campuran putih dan abu-abu,
memiliki jenis kelamin betina, berumur 4
tahun, memiliki berat badan 3 kg, dan
memiliki tanda khusus yaitu gigi sebelah kiri
tanggal. Adapun keadaan umum dari pasien,
yaitu tidak pernah melakukan perawatan
apapun, memiliki tingkah laku pasif, gizi yang
didapatkan termasuk dalam kategori buruk,
pertumbuhan badan berdasarkan kriteria
penilaian BCS adalah buruk, sikap berdirinya
normal, memiliki suhu tubuh 36,8C (normal:
37,6-39,4), yang artinya suhu tubuh kucing
tersebut di bawah normal, memiliki frekuensi
nadi 128 x/menit (normal: 92-150/menit) yang
artinya normal, dan frekuensi nafas 40 x/menit
(normal: 26-48/menit) frekuensi nafas normal.
Babesiosis, ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma
|6

Pada pemeriksaan secara inspeksi di bagian


kepala dan leher didapatkan hasil pemeriksaan,
yaitu ekspresi kepala terlihat lesu dan malas,
pertulangan kepala terlihat normal, posisi
tegak telinga terlihat normal, dan posisi kepala
terlihat normal. Pada pemeriksaan turgor kulit,
turgor kembali setelah 3 detik sehingga dapat
dinyatakan bahwa kucing tersebut mengalami
dehidrasi. Pada pemeriksaan mata dan orbita
kiri dan kanan didapatkan hasil pemeriksaan,
yaitu pada palpebrae terdapat kotoran, cilia,
conjunctiva dan membrana nictitans normal.
Pada bola mata kanan dan kiri, didapatkan
sclera berwarna abu-abu dan pada iris terdapat
spot merah. Pada pemeriksaan mulut dan
rongga mulut didapatkan hasil yaitu adanya
luka pada bibir tepatnya pada mandibula
sebelah kiri, mukosa mulut pucat, gigi geligi
pada caninus sebelah kanan patah dan sebelah
kiri tanggal dan lidah terlihat normal. Pada
pemeriksaan
hidung
dan
sinus-sinus
didapatkan sedikit kotoran namun dalam tahap
masih normal. Pada pemeriksaan telinga
didapatkan hasil, yaitu posisi telinga normal,
terdapat sedikit bau pada lubang telinga, pada
permukaan bagian dalam telinga kotor dan
pada permukaan luarnya terdapat alopecia,
namun tidak ditemukan adanya krepitasi. Pada
pemeriksaan leher didapatkan hasil, yaitu
perototan leher normal, trachea dipalpasi pada
permukaan leher kucing tidak mengalami
reaksi sakit, dan esophagus yang dipalpasi
pada permukaan leher terasa normal, namun
terdapat alopecia pada leher sebelah kiri.
Pada pemeriksaan sistem pernapasan
secara inspeksi didapatkan hasil, yaitu kucing
memiliki tipe pernapasan thoracoabdominal,
aritmis, intensitas penapasan dalam dan
memiliki frekuensi pernapasan 40 x/menit.
Pada saat pemeriksaan secara auskultasi di
bagian sistem pernapasan didapatkan hasil
yaitu suara pernapasan berderik. Suara ikutan
tidak ada serta suara antara inspirasi dan
ekspirasi, pada ekspirasi terdengar suara

dipercepat. Pada pemeriksaan auskultasi


jantung, didapatkan intensitas yang cukup
lemah. Pada saat pemeriksaan auskultasi di
bagian abdomen dan organ pencernaan yang
berkaitan didapatkan hasil, yaitu hasil
auskultasi peristaltik usus tidak terdengar
akibat pengaruh perutnya dalam kondisi
kosong. Pada palpasi daerah epigastricus
didapatkan pembesaran ginjal sebelah kiri dan
terdapat erithema pada abdomen. Kemudian
dilakukan pemeriksaan inspeksi di sekitar anus
didapatkan bahwa daerah sekitar anus kotor
dan terdapat iritasi. Pada pemeriksaan alat
gerak yang dilakukan secara inspeksi
didapatkan hasil, yaitu perototan kaki depan
dan kaki belakang normal, kucing tidak
mengalami tremor, cara bergerak/berjalan
inkoordinatif, dan cara bergerak/berlari
inkoordinatif dikarenakan luka pada kakinya.
Pada saat pemeriksaan alat gerak yang
dilakukan secara palpasi didapatkan hasil,
yaitu struktur pertulangan pada kaki kiri depan
normal, struktur pertulangan kaki kanan depan
normal, struktur pertulangan kaki kiri belakang
normal, struktur pertulangan kaki kanan
belakang normal, konsistensi pertulangan
normal, tidak terjadi reaksi saat palpasi, dan
letak reaksi sakit hanya terdapat jika luka pada
kakinya disentuh. Pada pemeriksaan palpasi
lymphonodus popliteus didapatkan hasil, yaitu
ukuran lymphonodus sebelah kanan membesar,
serta memiliki konsistensi yang padat.
Pemeriksaan
lanjutan
sebaiknya
dilakukan pemeriksaan lab urin untuk
mengetahui adanya masalah pada ginjal, jika
diperlukan dilakukan X-ray, kerokan kulit
untuk mendeteksi adanya infestasi parasit atau
menemukan kutu yang diduga terdapat pada
tubuh kucing pada kulit yang terdapat
alopecia, erithema dan luka. Diagnosa suspect
nefritis, infestasi kutu, infeksi bakteri dan
prognosa dubius. Terapi yang dapat dilakukan
ialah pengobatan dan pembersihan luka, terapi
Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|7

cairan, pemberian vitamin,


antibiotik serta perbaikan nutrisi.

pemberian

Kesimpulan
Pada kucing yang ditemukan dapat
didiagnosa berdasarkan gejala klinis yang
ditemukan di mana terdapat alopecia pada
daerah permukaan bagian belakang telinga dan
leher, bulu kusam dan dehidrasi, kemungkinan
kucing tersebut terkena pediculosis atau
infetasi kutu. Selain itu, kucing tersebut
didiagnosis suspect nefritis dilihat dari adanya
pembesaran ginjal sebelah kiri. Infestasi
bakteri juga dapat dipastikan terdapat pada
luka di bagian kaki kanan dan kiri kucing juga
pada anus yang mengalami iritasi sehingga
luka semakin melebar.

Setiyani, Endang. 2009. Babesia SP. Litbang


P2B2 Banjarnegar. Balaba, Vol. 5, No.
02, Des 2009 : 24-25
Wardhana, April H. Manurung, Joses.
Iskandar, Tolibin. 2006. Skabies:
Tantangan Penyakit Zoonosis Masa Kini
dan Masa Datang. Balai Penelitian
Veteriner. Bogor. Vol. 16, No. 1, Th.
2006.
Yatim, Faizal. Herman, Reni. 2006. Babesiosi
(Piroplasmosis). Puslit Biomedis dan
Farmasi, Badan Litbang Kesehatan
Departemen Kesehatan. Vol. 39 No. 2.

Pustaka Acuan
Adzima, Vhodzan. Jamin, Faizal. Abrar,
Mahdi.
2013.
Isolation
and
Identification
of
Canine
Dermatophytosis Molt in Syiah Kuala
Banda Aceh. Labolatorium Mikrobiologi
FKH Universitas Syiah Kuala. Banda
Aceh. Vol. 7, No. 1
Ahmad, Riza Zainuddin. Permasalahan dan
Penanggulangan
Ringworm
pada
Hewan. Balai Penelitian Veteriner.
Bogor. Lokakarya Nasional Penyakit
Zoonosis.
Astawati, Tutuk. Wulansari, Retno. Cahyono.
Ardhiansyah, Ferry. Rumekso, Ari.
Dhetty. 2010. Konsentrasi Serum Kucing
yang Optimun untuk Membunuh dan
Memelihara Babesia Canis dalam
Biakan. Bagian Parasitologi dan
Penyakit dalam FKH IPB. Bogor. Vol. 11
No. 4 : 238-243
Sardjana,
I
Komang
Wiarsa.
2012.
Pengobatan Demodekosis pada Kucing
di Rumah Sakit Hewan Pendidikan
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga. Departemen Klinik Veteriner
FKH Unair. Surabaya. Vol. 1, No. 1, Juli
2012
Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|8

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


|9

Babesiosis,

ehrchiosis, demodecosis, dan pyoderma


| 10