Anda di halaman 1dari 8

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA DARAH VENA

MENGGUNAKAN METODE ELEKTRODA DAN GOD-PAP


DENGAN METODE HEKSOKINASE
Oleh
Agustiana Dwi Indah V.
Prodi Analis Kesehatan-AAKMAL Malang
ABSTRAK
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolisme kronis yang terjadi karena
berbagai penyebab, ditandai oleh kadar glukosa darah lebih tinggi daripada normal, disertai
dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Apabila tidak terkendali,
penyakit ini akan menimbulkan penyulit fatal berupa kerusakan, penurunan fungsi ataupun
kegagalan berbagai organ tubuh seperti jantung, ginjal, mata, system saraf dan pembuluh darah
(Direktorat Laboratorium Kesehatan, 2005).
Dari hasil penelitian terhadap 30 pasien diperoleh hasil rata-rata kadar glukosa darah
vena menggunakan metode elektroda adalah 219,77 mg/dl, metode GOD-PAP adalah 211,13
mg/dl dan metode Heksokinase adalah 212,13 mg/dl. Dari uji statistik yang telah dilakukan,
didapatkan nilai signifikan 0,932 dimana nilai signifikan > 0,05 sehingga Hipotesa nol diterima.
Artinya tidak didapatkan perbedaan yang signifikan diantara ketiganya. Hal ini berarti bahwa
pemeriksaan kadar glukosa darah vena dengan menggunakan metode elektroda bisa dan layak
digunakan untuk diagnosa diabetes mellitus pada kasus cyto karena tidak memberikan
perbedaan yang bermakna bila dibandingkan dengan metode referen yaitu metode Heksokinase.
Demikian juga metode GOD-PAP bisa digunakan alternatif karena hasilnya masih sebanding
dengan metode referen karena pertimbangan efisiensi harga reagent.
PENDAHULUAN
Glukosa darah merupakan karbohidrat dalam bentuk monosakarida yang terdapat dalam
darah (Baron,1984). Konsentrasi glukosa darah normal seseorang yang tidak makan dalam
waktu 3 atau 4 jam yang lalu sekitar 90 mg/dl. Bahkan setelah konsumsi makanan yang banyak
mengandung karbohidrat sekalipun, konsentrasi ini jarang meningkat diatas 140 mg/dl kecuali
orang tersebut menderita Diabetes Melitus. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber
utama untuk sel sel tubuh. Pengaturan konsentrasi glukosa darah erat hubungannya dengan
hormon insulin dan glukagon (Guyton, 1997).
Tes glukosa darah pada pasien Diabetes Melitus terdiri dari tes saring, tes diagnostik
dan pengendalian. Tes saring tujuannya untuk mendeteksi kasus Diabetes Melitus sedini
mungkin. Biasanya digunakan GDS dan glukosa urine. Tes diagnostik tujuannya untuk
memastikan diagnosa Diabetes Melitus pada individu dengan keluhan klinis Diabetes Melitus
atau mereka yang terjaring pada tes saring penderita. Tes pengendalian tujuannya memantau
keberhasilan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi (Hardjono, 2003).
Pengaturan besarnya konsentrasi glukosa pada orang normal sangat sempit, pada orang yang
sedang berpuasa kadar glukosa darah hanya 80 dan 90 mg/dl darah yang diukur pada waktu
sebelum makan pagi. Konsentrasi ini meningkat menjadi 120-140 mg/dl selama jam pertama
atau lebih setelah makan.
Organ organ yang berpengaruh antara lain:
a. Hati
Hati berperan dalam metabolisme karbohidrat.Karbohidrat yang telah dicerna menjadi
monosakarida (glukosa)diserap darah ke hati lewat vena porta.Di dalam hati monosakarida
(glukosa) di ubah menjadi glikogen(glikogenesis) dan disimpan dalam hati bilamana
diperlukan.tetapi bila dibutuhkan glikogen akan dirubah menjadi glukosa dilepaskan secara
87

b.

spontan kedalam darah.hati juga mampu mensintesa glukosa dari protein dan lemak
(glikoneogenesis)(Price & Wilson,2005)
Pankreas
Pankreas
merupakan
organ
yang
berfungsi
sebagai
kelenjar
endokrin
eksokrin.sebagaikelenjar endokrin terutama berperan dalam terjadinya diabetes.sebagai
kelenjar eksokrin mengeluarkan enzim kuat yang berguna untuk mencerna
karbhidrat,protein,dan lemak dalam makanan (price & Wilson,2005). Pada orang normal
pankreas mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan jumlah insulin yang dihasilkan
dengan intake karbohidrat ,tetapi pada penderita diabetes fungsi pengaturan ini hilang sama
sekali (www.geogle.com/pankreas/index.html)

Faktor faktor hormon yang berpengaruh


Glukosa darah berada dalam keseimbangan dan yang mengatur secara hormonal adalah
:
a. Hormon tiroid
hormon ini harus dipandang sebagai hormon yang mempengaruhi glukosa darah.terdapat
bukti bukti eksperimental bahwa tiroksin mempunyai kerja diabetogenik dan bahwa
tindakan tiroidektomi menghambat perkembangan diabetes.Pada manusia kadar gula puasa
tampak naik diantara pasien pasien hipotiroid.Meskipun demikian ,pasien hipertiroid
kelihatannya menggunakan glukosa dengan kecepatan yang normal atau
meningkat,sedangkan pasien dengan hipotiroid mengalami penurunan kemampuan dalam
menggunakan glukosa .(Murray 2003)
b. Hormon insulin
Hormon insulin yaitu hormon penurun kadar glukosa darah,meningkat dalam waktu
beberapa menit setelah dan kembali tuun ke nila dasar dalam waktu tiga jam.Insulin
menurunkan glukosa darah dengan meningkatkan transpor glukosa ke dalam sel dan melalui
glukogenesis,insulin berperan penting dalam mengatur metabolisme karbohidrat,lemak dan
protein (Price & Wilson,2005).
c. Hormon Epinefrin
Hormon epinefrin di sekresi oleh medula adrenal sebagai akibat dari rangsangan yang
menimbulkan stress (ketakutan, kegembiraan, pendarahan, hipoksia, hipoglikemia, dll)dan
menimbulkan glikogenesis dihati serta otot (Murray,2003)
d. Hormon Epinefrin
Hormon epinefrin di sekresi oleh medula adrenal sebagai akibat dari rangsangan yang
menimbulkan stres (ketakutan, kegembiraan, pendarahan, hipoksia, hipoglikemia, dll)dan
menimbulkan glikogenolisis di hati serta otot (Murray 2003).
Hormon epinefrin adalah hormon responsif terhadap penurunan konsentrasi glukosa darah
,menghambat glikolisis dan merangsang glukonesis dihati (Marks dkk,1995).
Angka normal
Nilai normal glukosa darah puasa bervariasi antara 60 hingga 110 mg/dl (3.3 6.1 mmol/L).
Kadar plasma atau serum adalah 10 15 % lebih tinggi karena komponen komponen
struktural sel darah dihilangkan, sehingga akan lebih banyak glukosa per unit volume. Jadi nilai
normal glukosa plasma atau serum puasa adalah 70 -120 mg/dl (3,9 6,7 mmol/l). Secara klinis,
pengukuran glukosa plasma atau serum lebih sering digunakan karena bebas dari hematokrit,
lebih dekat dengan kadar glukosa ruang jaringan interstinal, dan memudakan prosedur analisis
otomatis. Penentuan kadar glukosa darah penuh dilakukan untuk menguji glukosa pada keadaan
- keadaan darurat dan juga pada prosedur pemantauan sendiri glukosa kapiler, suatu teknik yang
telah diterima luas dalam penatalaksanaan diabetes melitus (Greenspan, 1998).

88

Gambaran Klinik
Gejala Akut Diabetes Melitus
1. Pada permulaan gejala yang ditujukkan meliputi 3P, yaitu:
a. Banyak makan (polifagia).
b. Banyak minum (polidipsia).
c. Banyak kencing (poliuria).
2. Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus bertambah, karena
pada saat ini insulin masih mencukupi.
3. Bila keadaan tersebut tidak cepat diobati, lama-kelamaan akan timbul gejala yang
disebabkan oleh kurangnya insulin, dan bukan 3P lagi, melainkan 2P saja (polidipsia dan
poliuria) dan beberapa keluhan lain :
a. Nafsu makan mulai berkurang (tidak polifagia lagi) bahkan kadang-kadang disusul
dengan mual jika kadar glukosa darah melebihi 500 mg/dl.
b. Banyak minum.
c. Banyak kencing.
d. Berat badan turun dengan cepat (dapat turun lima sampai sepuluh kilogram dalam waktu
dua sampai empat minggu).
e. Mudah lelah.
f. Bila tidak segera diobati akan timbul rasa mual bahkan penderita akan jatuh koma (tidak
sadarkan diri) dan disebut koma diabetik (kadar glukosa darah melebihi 600 mg/dl)
(Tjokroprawiro, 2007 ).
Gejala Kronik Diabetes Melitus
Gejala kronik yang sering timbul adalah :
1. Kesemutan.
2. Kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
3. Terasa tebal di kulit, sehingga kalau berjalan seperti di atas bantal atau kasur.
4. Kram.
5. Lelah.
6. Mudah mengantuk.
7. Mata kabur.
8. Gatal di sekitar kemaluan, terutama wanita.
9. Gigi mudah goyah dan mudah lepas.
10. Kemampuan seksual menurun bahkan impoten.
11. Pada ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau
berat bayi baru lahir lebih dari 4 kg (Tjokroprawiro, 2007).

Diagnosis Diabetes Melitus


Kegiatan pemeriksaan laboratorium dalam perannya untuk mendukung pengelolaan
diabetes melitus dapat berfungsi sebagai penyaring penyakit (screening), diagnostik dan
pemantauan pengendalian. Diagnosis diabetes melitus harus didasarkan atas pemeriksaan kadar
glukosa darah dan tidak dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam
menentukan diagnosis diabetes melitus harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan
cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis diabetes melitus, pemeriksaan yang dianjurkan
adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan serum (plasma vena).
Walaupun demikian sesuai dengan kondisi setempat dapat juga dipakai bahan darah utuh (whole
blood), vena atau kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda
sesuai pembakuan oleh WHO. Untuk tes saring (screening) dan pemantauan hasil pengobatan
(pengendalian diabetes melitus) dapat menggunakan bahan darah kapiler (Soegondo, 2007).

89

Tabel 1 Kadar glukosa darah sewaktu (GDS) dan glukosa darh puasa (GDP) sebagai
patokan penyaring dan diagnosis diabetes melitus (mg/dl)
Bukan DM
(mg/dl)

Belum Pasti DM
(mg/dl)

DM
(mg/dl)

GDS
~ Plasma vena
~ Darah kapiler

< 110
< 90

110 -199
90 - 99

200
200

GDP
~ Plasma vena
~ Darah kapiler

< 100
< 90

110 125
90 - 109

126
110

Tes

(Persatuan Endokrinologi Indonesia., 2006)


Berikut ini adalah perbedaan tes saring (screening), tes diagnostik dan tes pemantauan hasil
pengobatan (pengendalian) diabetes melitus:
1. Tes Saring (Screening).
Bertujuan untuk mendeteksi kasus diabetes melitus sedini mungkin, sehingga dapat dicegah
kemungkinan terjadinya komplikasi kronik akibat penyakit ini.
Indikasi :
Bila terdapat sekurang-kurangnya satu faktor resiko sebagai berikut:
a. Usia dewasa tua (> 45 tahun).
b. Kegemukan, berat badan > 120% berat badan ideal.
c. Tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg).
d. Riwayat keluarga diabetes melitus.
e. Riwayat kehamilan dengan berat badan lahir bayi > 4000 gram.
f. Riwayat diabetes melitus pada kehamilan.
g. Dislipidemia (kolesterol HDL < 35 mg/dl dan atau trigliserida > 250 mg/dl.
h. Pernah TGT (toleransi glukosa terganggu) atau GDPT (glukosa darah puasa terganggu).
Sampel :
a. Darah : plasma vena atau serum, darah kapiler (whole blood).
b. Urine : urine post pandial, urine sewaktu (Hardjoeno, 2006).
2. Tes Diagnostik
Bertujuan untuk memastikan diagnosis diabetes melitus pada individu dengan keluhan klinis
khas diabetes melitus atau mereka yang terjaring pada tes saring.
Indikasi :
a. Ada keluhan klinis khas diabetes melitus berupa poliuria, polidipsia, polifagia, lemah dan
penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
b. Pada tes saring menunjukkan hasil :
1) GDS (glukosa darah sewaktu).
a) Plasma vena = 110 199 mg/dl.
b) Darah kapiler = 90 199 mg/dl.
2) GDP (glukosa darah puasa)
a) Plasma vena = 110 125 mg/dl.
b) Darah kapiler = 90 109 mg/dl.
3) Tes urine glukosa / reduksi positif.

90

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasi laboratoris, yaitu untuk
mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan gukosa darah vena menggunakan metode elektroda
dan metode GOD-PAP dengan metode Heksokinase.
Sampel Penelitian
Darah vena yang diambil dari pasien rawat inap dan rawat jalan di Laboratorium Klinik Dharma
Husada sebanyak 30 orang kemudian diperiksa dengan menggunakan glukosameter (metode
elektroda), dengan photometer (metode GOD-PAP) dan menggunakan metode Heksokinase.
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
a. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode elektroda, metode GOD-PAP
dan metode Heksokinase
2. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kadar glukosa darah.
b.

Definisi Operasional
1. Kadar glukosa darah adalah banyaknya glukosa yang ada dalam darah seseorang
yang dinyatakan dalam mg/dl.
2. Metode elektroda adalah metode dari alat glukosameter.
3. Metode GOD-PAP adalah metode yang sering dipakai untuk pemeriksaan kadar
glukosa darah.
4. Metode Heksokinase adalah metode rujukan (Gold Standart) dari pemeriksaan kadar
glukosa darah.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Setelah dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah vena terhadap pasien diabetes
mellitus dengan menggunakan metode elektroda, metode GOD-PAP dan metode Heksokinase
maka didapatkan hasil pemeriksaan
Analisa Data
Dari uji statistik Anova dengan menggunakan proram SPSS 20 terhadap data diatas didapatkan
hasil sebagai berikut :
Dari uji homogenitas didapatkan nilai signifikan 0,995 dimana Ho = varians dalam kelompok
homogen. Dari hasil diatas diketahui nilai signifikan > 0,05 sehingga Hipotesa nol diterima,
artinya varian dalam kelompok homogen. Sehingga asumsi untuk menggunakan uji Anova telah
terpenuhi, yaitu varian dalam kelompok yang sama (Riwidikdo, 2009).
Dari uji Anova yang telah dilakukan didapatkan nilai signifikan 0,932 dimana nilai signifikan >
0,05 sehingga Hipotesa nol diterima. Artinya antara ketiga kelompok tersebut tidak terdapat
perbedaan yang signifikan (Riwidikdo, 2009).
Pembahasan
Diabetes mellitus didiagnosis berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan kadar glukosa darah.
Diagnosis Diabetes Mellitus diperkirakan apabila didapat keluhan khas diabetes mellitus berupa
poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.
Jika didapat keluhan khas diabetes mellitus dan pemeriksaan glukosa darah sewaktu > 200
mg/dl atau glukosa darah puasa > 126 mg/dl maka diagnosis diabetes mellitus dapat ditegakkan.
Apabila tidak didapat kan keluhan khas diabetes mellitus , maka diperlukan pemeriksaan
glukosa lebih lanjut dengan mendapatka 2 kali angka abnormal pada hari yang berbeda atau tes
toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa pasca pembebanan > 200 mg/dl.

91

Pada laboratorium klinik umumnya pengukuran kadar glukosa darah mengunakan


bahan plasma atau serum, sedangkan pada glukosameter umumnya menggunakan sampel darah
utuh (whole blood). Pada keadaan puasa, kadar glukosa darah kapiler akan lebih tinggi 2 3
mg/dl bila dibanding dengan kadar glukosa darah vena, sedangkan setelah makan kadar glukosa
darah kapiler dapat mencapai 20 30 mg/dl lebih tinggi dari pada vena. Pada suhu kamar dalam
waktu 1 jam kadar glukosa darah akan berkurang 5 7% pada bahan yang belum dipusing.
Serum steril yang tidak hemolisis kadar glukosa darahnya stabil selama 8 jam pada suhu 25 o C
dan tetap stabil selama 72 jam pada suhu 4oC. (Threatte GA, 1996 ; Tiettz, 1994).
Metode pengukuran glukosa darah dapat dibedakan menjadi metode kimia dan
enzimatik. Metode kimia saat ini tidak digunakan lagi karena tidak spesifik dan umumnya
tergantung pada reaksi reduksi. Metode enzimatik mempunyai spesifisitas lebih baik, umumnya
mengunakan enzim glukosa oksidase (GOD), heksokinase, dan glukosa dehidrogenase. Enzim
Glukosa Oksidase (GOD) dapat bereaksi dengan oksigen dalam darah, sehingga dapat
menyebabkan kesalahan pengukuran kadar glukosa darah/ intervensi oksigen pada hasil
pengukuran kadar glukosa. Hal ini sangat berbeda dengan enzim Glukosa Dehidrogenase
(GDH) yang tidak bereaksi dengan oksigen, karena itu enzim ini dianggap lebih baik. (Tiettz,
1994).
Antikoagulan yang dianjurkan dipakai adalah heparin, sebab heparin paling sedikit
mengganggu hasil pengukuran glukosa. Keunggulan metode enzimatik Heksokinase adalah
tidak dipengaruhi zat reduktor seperti vitamin C. Kadar glukosa darah ditentukan oleh
kecepatan pembentukan NADPH selama reaksi yang diukur secara fotometrik. (Anonymous
Dimension Aca And Flex, 2008 ; Threatte GA, 1996).
Pada glukosameter terdapat 2 jenis metode yang digunakan yaitu reflectance
photometry (generasi 1) dan biosensor / electrochemical (generasi 2). Pada metode reflectance
photometry glukosa direaksikan dan menghasilkan produk berwarna. Inetsitas waran diukur
dengan cahaya panjang gelombang tertentu yang dipantulkan pada carik uji dan ditangkap oleh
detektor yang akan mengubahnya menjadi sinyal listrik dan menunjukan kadar glukosa sampel.
Pada metode biosensor (elektrokimia), glukosa direaksikan pada suatu mediator untuk
menghasilkan elektron dengan bantuan enzim sebagai katalisator. Elektron yang dilepas akan
ditangkap oleh mediator dan bila diberi tegangan, elektron yang dihasilkan akan bergerak ke
elektroda dan diukur pada elektroda tersebut.
Detektor akan mengubah arus istrik yang dihasilkan menjadi sinyal listrik dan sinyal ini
diterjemahkan sesuai dengan kadar glukosa yang terkandung dalam sinyal. (Brown LC, 2010 ;
Tiettz, 1994).
Dari hasil penelitian terhadap 30 pasien diperoleh hasil rata-rata kadar glukosa darah
vena menggunakan metode elektroda adalah 219,77 mg/dl, metode GOD-PAP adalah 211,13
mg/dl dan metode Heksokinase adalah 212,13 mg/dl.
Dari uji statistik yang telah dilakukan, didapatkan nilai signifikan 0,932 dimana nilai signifikan
> 0,05 sehingga Hipotesa nol diterima. Artinya tidak didapatkan perbedaan yang signifikan
diantara ketiganya. Hal ini berarti bahwa pemeriksaan kadar glukosa darah vena dengan
menggunakan metode elektroda bisa dan layak digunakan untuk diagnosa diabetes mellitus pada
kasus cyto karena tidak memberikan perbedaan yang bermakna bila dibandingkan dengan
metode referen yaitu metode Heksokinase. Demikian juga metode GOD-PAP bisa digunakan
alternatif karena hasilnya masih sebanding dengan metode referen karena pertimbangan
efisiensi harga reagent.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Rata-rata kadar glukosa darah vena dengan mengunakan metode elektroda adalah 219,77
mg/dl.

92

2.
3.
4.

Rata-rata kadar glukosa darah vena dengan menggunakan metode GOD-PAP adalah
211,13 mg/dl.
Rata-rata kadar glukosa darah vena dengan menggunakan metode Heksokinase adalah
212,13 mg/dl.
Tidak terdapat perbedaan hasil pemeriksaan gukosa darah vena menggunakan metode
elektroda dan metode GOD-PAP dengan metode Heksokinase.

Saran
Bagi peneliti berikutnya bisa melakukan penelitian lebih lanjut dengan menambah jumlah
sampel penelitian ataupun dengan mengunakan sampel yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Bilous, Rudy. 2002. Seri Kesehatan Bimbingan Dokter Pada Diabetes. Dian Rakyat
Jakarta.
Chan AYW, Swaminanthan R, Cockram CS. 1989. Effectiveness of sodium fluoride as
a preservative of glucose in blood. Clin Chem;35:3157.
Depkes RI. 2004. Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar (Good Laboratory
Practice).
Gandasoebrata, R. 1995. Penuntun Laboratorium Klinik. Cetakan ke-8. Jakarta : Dian
rakyat.
Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Guyton. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. Jakarta : EGC.
Hardjono. 2003. Interpretasi Hasil Laboratorium Klinik. Makassar : Lembaga
Penerbitan Universitas Hassanudin.
Hasan, Iqbal. 2009. Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta : Bumi Aksara.
Koestadi. 1989. Kimia Klinik Teori dan Praktek Darah.
Mansjoer, Arif. dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-3. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Marks, Dawn B. dkk. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. Penerbit Buku Kedokteran :
EGC.
Mikesh LM, Bruns DE. 2008. Stabilization of glucose in blood specimens: mechanism
of delay in fluoride inhibition of glycolysis Clin Chem; 54:930 2.
Murray, K. Robert. dkk. 2009. Biokimia Harper. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta:
EGC.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta.

93

Piscitelli, Janet. 2009. Acidification of Blood Is Superior to Sodium Fluoride Alone


as an Inhibitor of Glycolysis. Clinical Chemistry 55:5 10191021.
Poedjiati, Ana. 1994. Dasar Dasar Biokimia. Jakarta : FKUI.
Price. 2005. Patofisiologi Volume 1. Jakarta: EGC
Riswanto. 2009. Pengumpulan Spesimen.
Riwidikdo, Handoko. 2009. Satistik Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Cendekia Press.
Sacher, Ronald A. dkk. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium Edisi
11. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.
Soewondo, Pradana. 2007. Pemantauan Pengendalian Diabetes Melitus. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Stahl M, Jrgensen LGM, Hyltoft Petersen P, Brandslund I, De Fine Olivarius N,
Borch-Johnsen K. 2001. Optimization of preanalytical conditions and analysis
of plasma glucose. 1. Impact of the new WHO and ADA recommendations on
diagnosis of diabetes mellitus. Scan J Clin Lab Invest; 61: 169 80.
Uchida K, Okuda S, Tanaka K. 1988. inventors; Terumo Corporation, assignee. Method
of inhibiting glycolysis in blood samples. US patent 4,780,419.
Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium.
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.

94