Anda di halaman 1dari 18

2.

MERENCANAKAN KEBIJAKAN KESEHATAN

Perencanaan yang baik, mempunyai beberapa ciri-ciri yang harus diperhatikan. Menurut
Azwar (1996) ciri-ciri tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut :
1.

Bagian dari sistem administrasi

Suatu perencanaan yang baik adalah yang berhasil menempatkan pekerjaan perencanaan
sebagai bagian dari sistem administrasi secara keseluruhan. Sesungguhnya, perencanaan pada
dasarnya merupakan salah satu dari fungsi administrasi yang amat penting. Pekerjaan
administrasi yang tidak didukung oleh perencanaan, bukan merupakan pekerjaan administrasi
yang baik.
2.

Dilaksanakan secara terus-menerus dan berkesinambungan

Suatu perencanaan yang baik adalah yang dilakukan secara terus-menerus dan
berkesinambungan. Perencanaan yang dilakukan hanya sekali bukanlah perencanaan yang
dianjurkan. Ada hubungan yang berkelanjutan antara perencanaan dengan berbagai fungsi
administrasi lain yang dikenal. Disebutkan perencanaan penting untuk pelaksanaan, yang
apabila hasilnya telah dinilai, dilanjutkan lagi dengan perencanaan. Demikian seterusnya
sehingga terbentuk suatu spiral yang tidak mengenal titik akhir.
3.

Berorientasi pada masa depan

Suatu perencanaan yang baik adalah yang berorientasi pada masa depan. Artinya, hasil dari
pekerjaan perencanaan tersebut, apabila dapat dilaksanakan, akan mendatangkan berbagai
kebaikan tidak hanya pada saat ini, tetapi juga pada masa yang akan datang.
4.

Mampu menyelesaikan masalah

Suatu perencanaan yang baik adalah yamg mampu menyelesaikan berbagai masalah dan
ataupun tantangan yang dihadapi. Penyelesaian masalah dan ataupun tantangan yang
dimaksudkan disini tentu harus disesuaikan dengan kemampuan. Dalam arti penyelesaian
masalah dan ataupun tantangan tersebut dilakukan secara bertahap, yang harus tercermin
pada pentahapan perencanaan yang akan dilakukan.
5.

Mempunyai tujuan

Suatu perencanaan yang baik adalah yang mempunyai tujuan yang dicantumkan secara jelas.
Tujuan yang dimaksudkandi sini biasanya dibedakan atas dua macam, yakni tujuan umum
yang berisikan uraian secara garis besar, serta tujuan khusus yang berisikan uraian lebih
spesifik.
6.

Bersifat mampu kelola

Suatu perencanaan yang baik adalah yang bersifat mampu kelola, dalam arti bersifat wajar,
logis, obyektif, jelas, runtun, fleksibel serta telah disesuaikan dengan sumber daya.
Perencanaan yang disusun tidak logis serta tidak runtun, apalagi yang tidak sesuai dengan
sumber daya bukanlah perencanaan yang baik.
3.

DASAR - DASAR MEMBUAT KEBIJAKAN KESEHATAN

Dasar kebijakan strategis dalam pembangunan kesehatan


Memahami dasar-dasar pembangunan kesehatan pada hakekatnya merupakan upaya
mewujudkan nilai kebenaran dan aturan pokok sebagai landasan untuk berpikir dan bertindak
dalam pembangunan kesehatan. Nilai tersebut merupakan landasan dalam menghayati isu
strategis, melaksanakan visi, dan misi sebagai petunjuk pokok pelaksanaan pembangunan
kesehatan secara nasional sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Kesehatan
menuju Indonesia Sehat, yang meliputi: perikemanusiaan, adil dan merata, pemberdayaan
dan kemandirian, pengutamaan dan manfaat.
1.

Isu Strategis Pembangunan Kesehatan

Banyak masalah kesehatan dapat dideteksi dan diatasi secara dini di tingkat paling bawah.
Jumlah dan mutu tenaga kesehatan belum memenuhi kebutuhan. Pemanfaatan pembiayaan
kesehatan belum terfokus dan sinkron. Hasil sarana kesehatan bisa dijadikan pendapatan
daerah. Masyarakat miskin belum sepenuhnya terjangkau dalam pelayanan kesehatan. Beban
ganda penyakit dapat menimbulkan masalah lainnya secara fisik, mental dan sosial.
2.

Visi Strategis Pembangunan Kesehatan

Dengan memperhatikan isu strategis pembangunan kesehatan tersebut dan juga dengan
mempertimbangkan perkembangan, masalah, serta berbagai kecenderungan pembangunan
kesehatan ke depan maka ditetapkan visi pembangunan kesehatan oleh Departemen
Kesehatan yaitu Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat.
Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat
Indonesia menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah dan mengatasi
permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik
yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun
lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
3.

Misi Strategis Pembangunan Kesehatan

Visi pembangunan kesehatan tersebut kemudian diejawantahkan melalui misi pembangunan


kesehatan, yakni Membuat Rakyat Sehat. Misi kesehatan ini kemudian dijalankan dengan
mengembangkan nilai-nilai dasar dalam pelayanan kesehatan yaitu berpihak pada rakyat,
bertindak cepat dan tepat, kerjasama tim, integritas yang tinggi, transparansi dan
akuntabilitas.

4.

KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA

Isu strategis

Pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal

Sistem perencanaan dan penganggaran departemen kesehatan belum optimal

Standar dan pedoman pelaksanaan pembangunan kesehatan masih kurang memadai

Dukungan departemen kesehatan untuk melaksanakan pembangunan kesehatan masih


terbatas.

Strategi kesehatan di Indonesia

Mewujudkan komitmen pembangunan kesehatan

Meningkatkan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan

Membina sistem kesehatan dan sistem hukum di bidang kesehatan

Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan

Melaksanakan jejaring pembangunan kesehatan.

==
2.6. BENTUK ANALISIS KEBIJAKAN
Analisis kebijakan terdiri dari beberapa bentuk, yang dapat dipilih dan digunakan. Pilihan
bentuk analisis yang tepat, menghendaki pemahaman masalah secara mendalam, sebab
kondisi masalah yang cenderung menentukan bentuk analisis yang digunakan.
Berdasarkan pendapat para ahli (Dunn, 1988; Moekijat, 1995; Wahab, 1991) dapat diuraikan
beberapa bentuk analisis kebijakan yang lazim digunakan.
2.6.1. Analisis Kebijakan Prospektif
Bentuk analisis ini berupa penciptaan dan pemindahan informasi sebelum tindakan kebijakan
ditentukan dan dilaksanakan. Menurut Wiliam (1971), ciri analisis ini adalah:

mengabungkan informasi dari berbagai alternatif yang tersedia, yang dapat dipilih dan
dibandingkan.

diramalkan secara kuantitatif dan kualitatif untuk pedoman pembuatan keputusan


kebijakan.

secara konseptual tidak termasuk pengumpulan informasi.

2.6.2. Analisis Kebijakan Restrospektif (AKR)


Bentuk analisis ini selaras dengan deskripsi penelitian, dengan tujuannya adalah penciptaan
dan pemindahan informasi setelah tindakan kebijakan diambil. Beberapa analisis kebijakan
restropektif, adalah:
Analisis berorientasi Disiplin, lebih terfokus pada pengembangan dan pengujian teori dasar
dalam disiplin keilmuan, dan menjelaskan sebab akibat kebijakan. Contoh: Upaya pencarian
teori dan konsep kebutuhan serta kepuasan tenaga kesehatan di Indonesia, dapat memberi
kontribusi pada pengembangan manajemen SDM original berciri Indonesia (kultural).
Orientasi pada tujuan dan sasaran kebijakan tidak terlalu dominan. Dengan demikian, jika
ditetapkan untuk dasar kebijakan memerlukan kajian tambahan agar lebih operasional.
Analisis berorientasi masalah, menitikberatkan pada aspek hubungan sebab akibat dari
kebijakan, bersifat terapan, namun masih bersifat umum. Contoh: Pendidikan dapat
meningkatkan cakupan layanan kesehatan. Orientasi tujuan bersifat umum, namun dapat
memberi variabel kebijakan yang mungkin dapat dimanipulasikan untuk mencapai tujuan dan
sasaran khusus, seperti meningkatnya kualitas kesehatan gigi anak sekolah melalui
peningkatan program UKS oleh puskesmas.

Analisis beriorientasi penerapan, menjelaskan hubungan kausalitas, lebih tajam untuk


mengidentifikasi tujuan dan sasaran dari kebijakan dan para pelakunya. Informasi yang
dihasilkan dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil kebijakan khusus, merumuskan
masalah kebijakan, membangun alternatif kebijakan yang baru, dan mengarah pada
pemecahan masalah praktis. Contoh: analis dapat memperhitungkan berbagai faktor yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan pelayanan KIA di Puskesmas. Informasi yang
diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pemecahan masalah kebijakan KIA di puskesmas.
2.6.3. Analisis Kebijakan Terpadu
Bentuk analisis ini bersifat konprehensif dan kontinyu, menghasilkan dan memindahkan
informasi gabungan baik sebelum maupun sesudah tindakan kebijakan dilakukan.
Menggabungkan bentuk prospektif dan restropektif, serta secara ajeg menghasilkan informasi
dari waktu ke waktu dan bersifat multidispliner.
Bentuk analisis kebijakan di atas, menghasilkan jenis keputusan yang relatif berbeda yang,
bila ditinjau dari pendekatan teori keputusan (teori keputusan deksriptif dan normatif), yang
dapat diuraikan sebagai berikut:
1)
Teori Keputusan Deskriptif, bagian dari analisis retrospektif, mendeskripsikan tindakan
dengan fokus menjelaskan hubungan kausal tindakan kebijakan, setelah kebijakan terjadi.
Tujuan utama keputusan adalah memahami problem kebijakan, diarahkan pada pemecahan
masalah, namun kurang pada usaha pemecahan masalah.
2)
Teori Keputusan Normatif, memberi dasar untuk memperbaiki akibat tindakan, menjadi
bagian dari metode prospektif (peramalan atau rekomendasi), lebih ditujukan pada usaha
pemecahan masalah yang bersifat praktis dan langsung. [5][6]
2.7. PERANAN POLITIK
Analisis kebijakan merupakan proses kognitif. Pembuatan kebijakan merupakan proses
Politik. Dengan demikian Informasi yang dihasilkan belum tentu digunakan oleh
pengambilan kebijakan.
Seorang analis harus aktif sebagai agen perubahan, paham struktur politik, berhubungan
dengan orang yang mempengaruhi kebijakan yang dibuat, membuat usulan yang secara
politis dapat diterima pengambil kebijakan, kelompok sasaran, merencanakan usulan yang
mengarah kepada pelaksanaan.
Analis hanya satu dari banyak pelaku kebijakan, dengan pelaku kebijakan merupakan salah
satu elemen sistem kebijakan. Dunn (1988) menjelaskan adanya 3 elemen dalam sistem
kebijakan, yang satu sama lain mempunyai hubungan.
Dapat dijelaskan bahwa 3 elemen sistem kebijakan saling berhubungan:
1)
Kebijakan publik, merupakan serangkaian pilihan yang dibuat atau tidak dibuat oleh
badan atau kantor pemerintah, dipengaruhi atau mempengaruhi lingkungan kebijakan dan
kebijakan publik.
2)
Pelaku kebijakan, adalah kelompok masyarakat, organisasi profensi, partai politik,
berbagai badan pemerintah, wakil rakyat, dan analis kebijakan yang dipengaruhi atau
mempengaruhi pelaku kebijakan dan kebijakan publik.

3)
Lingkungan kebijakan, yakni suasana tertentu tempat kejadian di sekitar isu kebijakan
itu timbul, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pelaku kebijakan dan kebijakan publik.
Berdasarkan uraian di atas, maka seorang analis kebijakan dapat dikategorikan sebagai aktor
kebijakan yang menciptakan dan sekaligus menghasilkan sistem kebijakan, disamping aktor
kebijakan yang lainnya. [5][6]

2.8. SISTEM KESEHATAN


Sebelum melakukan analisis kebijakan kesehatan perlu dipahami terlebih dahulu mengenai
sistem kesehatan. Bagaimana pengambilan kebijakan dibidang kesehatan.

2.9. KEBIJAKAN KESEHATAN DI INDONESIA


2.9.1. Isu strategis

Pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu belum optimal

Sistem perencanaan dan penganggaran departemen kesehatan belum optimal

Standar dan pedoman pelaksanaan pembangunan kesehatan masih kurang memadai

Dukungan departemen kesehatan untuk melaksanakan pembangunan kesehatan masih


terbatas.
2.9.2. Strategi kesehatan di Indonesia

Mewyjudkan komitmen pembangunan kesehatan

Meningkatkan pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan

Membina sistem kesehatan dan sistem hukum di bidang kesehatan

Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan

Melaksanakan jejaring pembangunan kesehatan

2.9.3. Kebijakan program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat

Pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan


edukasi (KIE)

Pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat dan generasi muda

Peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat

2.9.4. Kebijakan program lingkungan sehat

Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar

Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan

Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan

Pengembangan wilayah sehat

2.9.5. Kebijakan program upaya kesehatan dan pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya

Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan


jaringannya

Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial

Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-kurangnya promosi


kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana

Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan

2.9.6. Kebijakan program upaya kesehatan perorangan

Pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin kelas III RS

Pembangunan sarana dan parasarana RS di daerah tertinggal secara selektif

Perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit

Pengadaan obat dan perbekalan RS

Peningkatan pelayanan kesehatan rujukan

Pengembangan pelayanan kedokteran keluarga

Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan

2.9.7. Kebijakan program pencegahan dan pemberantasan penyakit

Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko

Peningkatan imunisasi

Penemuan dan tatalaksana penderita

Peningkatan surveilans epidemologi

Peningkatan KIE pencegahan dan pemberantasan penyakit

2.9.8. Kebijakan program perbaikan gizi masyarakat

Peningkatan pendidikan gizi

Penangulangan KEP, anemia gizi besi, GAKI, kurang vitamin A, kekuarangan zat gizi
mikro lainnya

Penanggulangan gizi lebih

Peningkatan surveilans gizi

Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi

2.9.9. Kebijakan program sumber daya kesehatan

Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan


Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk
penduduk miskin
Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit
2.9.10. Kebijakan program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan
Pengkajian dan penyusunan kebijakan
Pengembangan sistem perencanaan dan pengangaran, pelaksanaan dan pengendalian,
pengawasan dan penyempurnaan administrasi keuangan, serta hukum kesehatan
Pengembangan sistem informasi kesehatan
Pengembangan sistem kesehatan daerah
Peningkatan jaminan pembiayaan kesehatan
2.9.11. Kebijakan program penelitian dan pengembagan kesehatan
Penelitian dan pengembangan
Pengembangan tenaga, sarana dan prasarana penelitian
Penyebarluasan dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan[4][7]
SWOT analisis adalah Merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk
mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan
ancaman (threats) dalam suatu proyek bisnis/perusahaan atau suatu spekulasi bisnis.
Analisis SWOT yaitu analisis antarkomponen dengan memanfaatkan deskripsi SWOT setiap
komponen untuk merumuskan strategi pemecahan masalah, serta pengembangan dan atau
perbaikan mutu sistem informasi kesehatan secara berkelanjutan.
SWOT merupakan akronim dari Strength (kekuatan/kondisi positif), Weakness (kelemahan
internal sistem), Opportunity(kesempatan/ peluang sistem), dan Threats (ancaman/
rintangan/ tantangan dari lingkungan eksternal sistem). Kekuatan yang dimaksud adalah
kompetensi khusus yang terdapat dalam sistem, sehingga sistem tersebut memiliki
keunggulan kompetitif di pasaran. Kekuatan dapat berupa: sumber daya, keterampilan,
produk, jasa andalan, dan sebagainya yang membuatnya lebih kuat dari pesaing dalam
memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan dan masyarakat di dalam atau di luar sistem.
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber daya, keterampilan dan
kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan kerja sistem informasi
kesehatan. Adapun peluang adalah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi
sistem tersebut, sedangkan ancaman/tantangan merupakan kebalikan dari peluang. Tantangan
yang mungkin muncul sehubungan dengan pengembangan sistem informasi kesehatan pada
dasarnya berasal dari dua perubahan besar yaitu tantangan dari otonomi daerah dan tantangan
dari globalisasi. Dengan demikian ancaman/tantangan adalah faktor-faktor lingkungan yang
tidak menguntungkan sistem.
Analisis SWOT dapat merupakan alat yang ampuh dalam melakukan analisis strategis.
Keampuhan tersebut terletak pada kemampuan untuk memaksimalkan peranan faktor

kekuatan dan memanfaatkan peluang serta berperan untuk meminimalisasi kelemahan sistem
dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi. Analisis SWOT dapat
diterapkan dalam tiga bentuk untuk membuat keputusan strategis, yaitu:
Analisis SWOT memungkinkan penggunaan kerangka berfikir yang logis dan holistik yang
menyangkut situasi dimana organisasi berada, identifikasi dan analisis berbagi alternatif yang
layak untuk dipertimbangkan dan menentukan pilihan alternatif yang diperkirakan paling
ampuh.
Pembandingan secara sistematis antara peluang dan ancaman eksternal di satu pihak, serta
kekuatan dan kelemahan internal di pihak lain.
Analisis SWOT tidak hanya terletak pada penempatan organisasi pada kuadran tertentu akan
tetapi memungkinkan para penentu strategi organisasi untuk melihat posisi organisasi yang
sedang dianalisis tersebut secara menyeluruh dari aspek produk/ jasa/ informasi yang
dihasilkan dan pasar yang dilayani.
Dalam melakukan analisis situasi menggunakan analisis SWOT, maka langkah-langkahnya
adalah:
Langkah 1: Identifikasi kelemahan dan ancaman yang paling mendesak untuk diatasi secara
umum pada semua komponen.
Langkah 2: Identifikasi kekuatan dan peluang yang diperkirakan cocok untuk mengatasi
kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi lebih dahulu pada Langkah 1.
Langkah 3: Masukkan butir-butir hasil identifikasi (Langkah 1 dan Langkah 2) ke dalam Pola
Analisis SWOT seperti berikut.

Gambar 1. Pola Deskripsi dalam Analisis SWOT

Pada waktu mengidentifikasikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam sistem
informasi kesehatan, perlu diingat bahwa kekuatan dan kelemahan merupakan faktor

internal yang perlu diidentifikasikan di dalam sistem, sedangkan peluang dan


ancaman merupakan faktor eksternal yang harus diidentifikasi dalam lingkungan eksternal
sistem. Lingkungan eksternal suatu sistem informasi kesehatan dapat berupa: pemerintah,
masyarakat luas, stakeholderinternal dan eksternal, dan pesaing. Langkah ini dapat dilakukan
secara keseluruhan, atau jika terlalu banyak, dapat dipilah menjadi analisis SWOT untuk
komponen masukan, proses, dan keluaran.
Masukan termasuk fisik dan non fisik. Masukan fisik berupa sumber daya manusia,
pembiayaan, sarana-prasarana, metode, hardware dan software pendukung, market dan
manajemen waktu (7M=man, money, material, methode, machine, market dan minute).
Masukan non fisik berupa data kesehatan.
Proses berupa pengelolaan sistem (data) hingga menjadi informasi, termasuk tatapamong,
manajemen dan kepemimpinan, dan kerja sama.
Keluaran berupa jenis informasi yang dihasilkan, termasuk model dan media informasi,
publikasi, dan pengguna informasi.
4. Langkah 4: Rumuskan strategi atau strategi-strategi yang direkomendasikan untuk
menangani kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah, perbaikan, dan
pengembangan program secara berkelanjutan. Analisis untuk pengembangan strategi
pemecahan masalah dan perbaikan/pengembangan program itu digambarkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Analisis SWOT untuk Pengembangan Strategi


5. Langkah 5: Tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan susunlah suatu
rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.
Hasil analisis SWOT dimanfaatkan untuk menyusunan strategi pemecahan masalah, serta
pengembangan dan atau perbaikan mutu sistem secara berkelanjutan. Jika kekuatan lebih
besar dari kelemahan, dan peluang lebih baik dari ancaman, maka strategi pengembangan
sebaiknya diarahkan kepada perluasan/pengembangan sistem, sedangkan jika kekuatan lebih
kecil dari kelemahan, dan peluang lebih kecil dari ancaman, maka sebaiknya strategi

pengembangan lebih ditekankan kepada upaya konsolidasi ke dalam, melakukan penataan


sistem dan organisasi secara internal dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada,
dan mereduksi kelemahan di dalam dan ancaman dari luar. Analisis itu dapat digambarkan
sebagai berikut.

Gambar 3. Analisis SWOT dan Prioritas Strategi Pengembangan


Langkah-langkah Analisis SWOT di atas dikenal dengan model David (2004), yaitu
matriks Threats-Opportunity-Weakness-Strength (TOWS), merupakan perangkat pencocokan
yang penting dan dapat membantu pengelola sistem mengembangkan empat tipe strategi:
strategi SO (Strength-Opportunity), strategi WO (Weakness-Opportunity), strategi ST
(Strength-Threats) dan strategi WT (Weakness-Threats). Mencocokkan faktor-faktor
eksternal dan internal kunci, merupakan bagian yang sangat sulit dalam mengembangkan
matriks TOWS dan memerlukan penilaian yang baik dan tidak ada sekumpulan kecocokan
yang paling baik.
Strategi SO (Strength-Opportunity), yaitu strategi kekuatan-peluang, menggunakan kekuatan
internal sistem untuk memanfaatkan peluang eksternal sistem. Strategi WO (WeaknessOpportunity), yaitu strategi kelemahan-peluang, bertujuan untuk memperbaiki kelemahan
dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi ST (Strength-Threats), yaitu strategi
kekuatan-ancaman, menggunakan kekuatan sistem untuk menghindari atau mengurangi
dampak ancaman eksternal. Strategi WT (Weakness-Threats), yaitu strategi kelemahanancaman, merupakan strategi defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal
dan menghindari ancaman eksternal.
Contoh penerapan deskripsi SWOT pada sistem informasi kesehatan nasional berdasarkan
hasil evaluasi yang telah dilakukan (tahun 2012) pada Pusat Data dan Informasi, dan unit-unit
lain di Kementerian Kesehatan, serta unit di luar sektor kesehatan maka diketahui kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman dalam sistem informasi kesehatan, seperti tampak dalam
tabel di bawah ini. Hasil deskripsi ini kemudian dianalisis dan selanjutnya dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana jangka menengah pengembangan dan
penguatan sistem informasi kesehatan nasional selanjutnya.

Tabel 1: Deskripsi SWOT


STRENGTH ( KEKUATAN )

WEAKNESSES ( KELEMAHAN )

Indonesia telah memiliki beberapa legislasi terkait


SIK (UU Kesehatan, SKN, Kebijakan dan strategi
pengembangan SIKNAS dan SIKDA).

SIK masih terfragmentasi (belum terintegrasi) dan


dikelola berbagai pihak sehingga terdapat pulaupulau informasi.

Tenaga pengelola SIK sudah mulai tersedia pada


tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Legislasi yang ada belum kuat untuk mendukung


integrasi SIK.

Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi


tersedia di semua Provinsi dan hampir seluruh
Kabupaten/kota

Tidak terdapatnya penanggung jawab khusus SIK


(petugas SIK umumnya masih rangkap jabatan).

Indikator kesehatan telah tersedia.


Telah ada sistem penggumpulan data secara rutin
yang bersumber dari fasilitas kesehatan pemerintah
dan masyarakat.
Telah ada inisiatif pengembangan SIK oleh
beberapa fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit,
Puskesmas dan Dinas Kesehatan, untuk memenuhi
kebutuhan mereka sendiri.
Diseminasi data dan informasi telah dilakukan,
contohnya hampir semua Provinsi dan
Kabupaten/kota dan Pusat menerbitkan profil
kesehatan.

Tenaga Pengelola SIK umumnya masih kurang


diakui perannya, pengembangan karir tidak jelas
dan belum ada jabatan fungsionalnya.
Terbatasnya anggaran untuk teknologi informasi
dan komunikasi khususnya untuk pemeliharaan.
Indikator yang digunakan sering kurang
menggambarkan subjek yang diwakili.
Belum terbangunnya mekanisme aliran data
kesehatan baik lintas program (Pusat, Provinsi,
Kabupaten/Kota) maupun lintas sektor.
Masih lemahnya mekanisme monitoring, evaluasi
dan audit SIK.
Kualitas data masih bermasalah (tidak akurat,
lengkap, tepat waktu)
Penggunaan data/informasi oleh pengambil
keputusan dan masyarakat masih sangat rendah

OPPORTUNITIES ( PELUANG )

THREATHS ( ANCAMAN )

Kesadaran akan permasalahan kondisi SIK dan


manfaat eHealth mulai meningkat pada semua
pemangku kepentingan terutama pada tingkat
manajemen Kementerian Kesehatan.

Dengan Otonomi daerah, terkadang pengembangan


SIK tidak menjadi prioritas.

Telah ada peraturan perundang-undangan terkait


informasi dan TIK.

Rotasi tenaga SIK di fasilitas kesehatan Pemerintah


tanpa perencanaan dan koordinasi dengan Dinas
Kesehatan telah menyebabkan hambatan dalam
pengelolaan SIK.

Terdapatnya kebijakan perampingan struktur dan


pengkayaan fungsi, memberikan peluang dalam
pengembangan jabatan fungsional pengelolaan SIK.

Sebagian program kesehatan yang didanai oleh


donor mengembangkan sistem informasi sendiri
tanpa dikonsultasikan atau dikoordinasikan

Terdapat jenjang pendidikan informasi kesehatan


yang bervariasi dari diploma hingga sarjana di
perguruan tinggi.
Para donor menitik beratkan program
pengembangan SIK.
Registrasi vital telah dikembangkan oleh
Kementerian Dalam Negeri dan telah mulai dengan
proyek percobaan di beberapa Provinsi.
Adanya inisiatif penggunaan nomor identitas
tunggal penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri
yang merupakan peluang untuk memudahkan
pengelolaan data sehingga menjadi berkualitas.

sebelumnya dengan Pusat Data dan Informasi dan


pemangku kepentingannya.
Komputerisasi data kesehatan terutama menuju data
individu (disaggregate) meningkatkan risiko
terhadap keamanan dan kerahasiaan sistem TIK.
Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam
dimana infrastruktur masih sangat lemah di daerah
terpencil sehingga menjadi hambatan modernisasi
SIK.

Kebutuhan akan data berbasis bukti meningkat


khususnya untuk anggaran (perencanaan) yang
berbasis kinerja.
ANALISA SWOT (STRENGHT, WEAKNESSES, OPPORTUNITIES, THREATS)
1. Kekuatan (Strenght)
a. Sumber Daya
Memiliki jumlah tenaga kesehatan cukup banyak yaitu sebanyak 33 orang
b.

Sarana

Banyak peralatan baru yang diperoleh dari Pemerintah Kota


c. Prasarana
Lokasi Puskesmas berada di dekat pusat terminal ( pasar dan terminal type A kota
Tasikmalaya, terbesar se Priangan Timur )
d. Dana
Memiliki sumber dana operasional yang kontinyu
e. Manajemen Puskesmas
Memiliki program kerja dan stuktur organisasi
2. Kelemahan (Weaknesses)
a. Sumber Daya
Distribusi tenaga tidak merata dan pola penempatan tenaga belum sesuai
b.

Sarana

Jenis peralatan yang diperlukan tidak sesuai dengan kebutuhan karena pengadaan sarana yang
tersentralisasi dari pusat dan distribusi tidak merata

c. Prasarana
Bangunan berada di belakang pasar dan tidak berada di pinggir jalan protokol, sehingga
akses menuju Puskesmas sulit.
d. Dana
Pengelolaan dana belum dikerjakan oleh tenaga ahli
e. Manajemen Puskesmas
Tidak terdapat pembagian tugas yang jelas dan masih berlaku budaya asal bapak senang
3. Kesempatan (Opportunities)
a. Masyarakat bersedia diberi pelayanan kesehatan
b.

Sebagai Puskesmas induk di Kecamatan Indihiang

c.

Berada di dekat pusat keramian sehingga bias menjadi pusat pelayanan gawat darurat

d.

Dengan tenaga SDM yang ada mengoptimalkan program

e.

Dengan dana operasional dapat menambah kesejahteraan personil

4. Ancaman (Threats)
a. Banyak berdiri Balai Pengobatan swasta yang memberikan pelayanan yang sama
c.

Adanya persepsi biaya pelayanan kesehatan yang mahal

c. Status kepemilikan sertifikat tanah yang ditempati gedung belum jelas dan sering ada isu
akan digugat
d. Polusi udara dari pasar dan terminal

E. BERDASARKAN ANALISIS SWOT PENGEMBANGAN PROGRAM PADA TUGAS


SAYA :
1. Penentuan target cakupan program KIA dan KB
2. Dibentuknya program baru yakni Kelurahan Siaga
3. Inventarisasi kebutuhan sarana untuk melaksanakan program
4. Adanya tata tertib petugas Puskesmas
F. KENDALA
1. Komunikasi dan interaksi antar karyawan kurang harmonis
2. Mayoritas tempat tinggal karyawan jauh dari Puskesmas
3. Disiplin kerja yang masih kurang

4. Pelayanan kesehatan yang dilakukan karyawan tidak hanya dilakukan di dalam gedung
Puskesmas
5. Kepala Puskesmas sering tidak berada di tempat karena sering mengikuti rapat dinas
6. Distribusi tugas dan tanggung jawab belum berdasar pada prinsip The right man on the
right place
G. SOLUSI
1. Memperbaharui tata tertib Puskesmas
2. Mengadakan Staff Meeting setiap bulan
3. Mengaktifkan kegiatan apel pagi sebagai sarana silaturahmi dan berbagi informasi antar
karyawan
4. Pembagian tugas berdasarkan prinsip The right man on the right place
5. Pendelegasian wewenang dari Kepala Puskesmas kepada staf yang ditunjuk
6. Membentuk petugas pengelolaan keuangan
H. TINDAK LANJUT
1. Merencanakan, melaksanakan dan megevaluasi semua program kerja secara
berkesinambungan
2. Program pengobatan gratis bagi pasien yang datang pada jam kerja
I.

QUALITY CONTROL

Menjaga pelayanan yang optimal dengan cara memberikan kepuasan kepada customer :
1. Meningkatkan produktifitas
2. Mengefesiensikan sumber daya manusia
3. Meningkatkan kerja sama dan peran serta karyawan
4. Melibatkan seluruh karyawan dalam pemecahan berbagai macam masalah
5. Meningkatkan komunikasi dan interaksi antar karyawan dan pimpinan
6. Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan
tujuan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (SimKes)
Puskesmas adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui sistem informasi
yang terintegrasi di semua unit pelayanan Puskesmas sehingga dapat meningkatkan
kecepatan proses pada pelayanan, mempermudah akses data, pelaporan dan akurasi data
sehingga menjadi lebih baik.
Rumah Sakit dalam bentuk SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT .
Saya ingin mengklarifikasi pendefinisian Simkes Diantaranya yaitu :
1. Sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang biasanya diterapkan dalam
suatu organisasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan informasi yang dihasilkan

dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen (Kristianto,2003).


2. SIM adalah sebuah sistem manusia atau mesin yang terpadu (integrated) untuk menyajikan
informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam
sebuah organisasi (Davis, 2002).
3. SIM adalah sekumpulan subsistem yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama
dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara satu bagian dengan
lainnya menggunakan cara tertentu untuk melakukan fungsi pengolahan data, menerima
masukan (input) berupa data-data, kemudian mengolahnya (processing) dan menghasilkan
keluaran (output) berupa informasi sebagai dasar pengambilan keputusan yang berguna dan
mempunyai nilai nyata yang dapat dirasakan akibatnya baik pada saat itu juga maupun
dimasa mendatang, mendukung kegiatan operasional, manajerial, dan strategis organisasi
dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan tersedia bagi fungsi tersebut guna
mencapai tujuan (Sutanta,2004)
Dari tiga pengertian di atas, sangatlah jelas bahwa Simkes itu bukan hanya software, tetapi
software itu hanya merupakan bagian kecil dari Simkes.
Menurut Laudon & Laudon (2005), Sistem informasi berisi tentang orang-orang, tempat dan
sesuatu di dalam organisasi atau lingkungan sekitar. Semua sistem informasi bisa
digambarkan sebagai solusi manajemen dan organisatoris atas tantangan-tantangan yang
ditimbulkan oleh lingkungannya. Ketiga komponen pembentuk sistem informasi tersebut
saya fokuskan ke bidang kesehatan sehingga dapat diterjemahkan ke dalam Sistem Informasi
Kesehatan (SIK) dan dapat dilihat pada gambar beriknew-picture-13ut :
Komponen-komponen yang ada dalam sistem harus dapat bekerja sama dan saling
mendukung untuk mencapai tujuan dari suatu sistem informasi pada suatu organisasi.
Yang terdiri dari :
1. Organisasi (struktur organisasi, peraturan2 tentang tata hubungan kerja, tugas dan
tanggungjawab, kompensasi, reward, punishment, dan yang terpenting adalah Sumber Daya
Manusia (SDM), termasuk komitmennya).
2. Manajemen (strategi, kebijakan, desain kebutuhan, integrasi kebutuhan, prosedur
manajemen, prosedur pemeliharaan, aturan pengelolaan, sosialisasi, pelatihan, monitoring
dan motivasi bagi pengguna dll).
3. Teknologi
Banyak orang salah menafsirkan bahwa IT adalah Sistem Informasi. Padahal IT itu hanya
salah satu bagian dari sesuatu yg lebih kompleks yang disebut Sistem Informasi. Beberapa
hal yang termasuk dalam kategori teknologi dalam suatu sistem informasi, antara lain :
software, hardware, database, jaringan LAN/WAN, internet, website dll).
Rumah Sakit mempunyai Pasien dan Pegawai sebagai subject dari aktivitas di Rumah
Sakit.Setiap pasien mempunyai data pasien seperti nama,alamat,tempat tanggal lahir,dan lainlain.Pegawai Rumah Sakit disamping mempunyai nama,alamat,dan seterusnya juga memiliki
data,mulai pangkat,dan seterusnya.Informasi yang didapat pasien dan karyawan haruslah
Valid dan Konsisten,untuk menjaga agar tetap valid dan konsisten haruslah dibuat sistem
yang mampu menjaganya.
Informasi bukan hanya terkait antara Pasien dan Karyawan RS tetapi yang berkaitan dengan
Rumah Sakit,misalnya pembayaran pasien,Rekam Medis,Pembukuan RS dan lainlain.Sumber Informasi yang demikian banyak tersebut,harus dikelola dengan rapi dan
baik,agar pengelolaan Rumah Sakit bisa ditingkatkan menjadi Rumah Sakit yang unggul dan
profesional.Penerapan SIMKES di Rumah Sakit akan membuat semua informasi Rumah
Sakit tetap valid dan konsisten,mudah di akses dan dikelola,sehingga manajemen Rumah
Sakit dapat menentukan yang terbaik buat Rumah Sakit tersebut.
Topologi SIMKES Rumah Sakit

SOLUSI SIMKES
SIMKES JS adalah aplikasi berbasis web,yang ditunjuk untuk memperbaiki pengelolaan data
Rumah Sakit agar data Rumah Sakit dan informasi bisa ditata dengan baik dan dapat di
pertanggungjawabkan.Pengelolaan data dan informasi meliputi :
1 Registrasi Pasien
2 Medical Record ( Rekam Medik )
3 Rawat Jalan
4 Rawat Inap
5 Poliklinik
6 Radiologi,Elektromedik CT-Scan
7 Bedah Central
8UGD
9 Apotek
10 Medicak Chek Up
11 Piutang Rumah Sakit ( Asuransi/Jamkesmas )
12 Administrasi
13 Kas Dan Bank
14 Hutang Rumah Sakit
15 Sistem Pelapoan Rumah Sakit ( Akuntansi General Ledger )
16 Modul Gizi dan lain-lain
KEUNTUNGAN SIMKES JS
1. Dapat memantau perkembangan Rumah Sakit secara akuraat
2. Dapat meningkatkan pelayanan dibidang kesehatan kepada
masyarakat secara akurat.
3. Rumah Sakit tersebut dapat terpantau secara langsung oleh
lembaga-lembaga dari luar atau dalam Negeri secara akurat,
sehingga mempermudah akses bagi lembaga tersebut jika akan
memberikan informasi serta mempermudah akses jika ingin
mememberikan dana.
4. Dapat menyimpan data base Rumah Sakit mulai dari Pasien,
Karyawan yang terdiri dari Data Rumah Sakit, data administrasi,data
Aset Rumah Sakit dan lain-lain
5. Dapat mengangkat brand imageRumah Sakit tersebut secara
tidak langsung dengan memiliki fasilitas modern
6.Dapat mengurangi beban kerja sub-bagian rekam medis dalam
menangani berkas rekam medis,Bagian Rekam Medis memang
sub-bagian yang paling direpotkan mulai dari coding,indexing,filling
dan lain-lain.Sebagian Rumah Sakit di Indonesia masih mengggunakan
petugas Rekam Medis ataupun kurir dalam mendistribusikan berkasberkas ke masing-masing pelayanan
7. Dapat mengurangi pemakaian kertas.Pemakaian kertas masih
belum bisa dihilangkan di Indonesia karena data medis sangat rentan
dengan hukum dan akan memporakporandakan perdagangan kertas di
Indonesia . Dengan sistem yang terkomputerisasi , pemakaian kertas
yang bisa di pangkas antara lain :
1 Lembar kertas Rekam Medis yang tidak bebrhubungan dengan
masalah Autentikasi atau aspek hukum
2 Laporan masing-masing unit pelayanan ( karena semua laporan
telah terekap oleh sistem )
3 Rekap Laporan ( RL ) 1-6 yang dikirim ke dinas Kesehatan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Peranan Puskesmas sebagai unit fungsional kesehatan yang terdepan akan sangat menentukan
keberhasilan pencapaian visi dan misi. Secara operasional peran Puskesmas tersebut harus
lebih jelas dan terukur sehingga Puskesmas harus lebih efekktif dan responsif terhadap
masalah-masalah kesehatan di wilayah kerjanya.
Pelayanan kesehatan dituntut untuk memberikan suatu jaminan dalam bentuk layanan yang
memiliki tingkat mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan pengelolaan
pelayanan kesehatan diperlukan komitmen yang penuh kesungguhan.
Analisis SWOT adalah suatu bentuk analisis situasi dengan mengidentifikasikan berbagai
faktor secara sistematis terhadap kekuatan-kekuatan (Strenghts) dan kelemahan-kelemahan
(Weaknesses). Suatu organisasi dan kesempatan-kesempatan (Opportunities) serta ancamanancaman (Threats) dari lingkungan untuk merumuskan strategi organisasi.

B. Saran
Keberhasilan sarana kesehatan dapat dilihat dari sudut dan tingkat kepuasan pelanggannya.
Ukuran keberhasilan layanan kesehatan dapat dilihat dari layanan yang diberikan. Oleh
karena itu maka semua layanan kesehatan harus melaksanakan Gugus Kendali Mutu (GKM).