Anda di halaman 1dari 12

SWOT analisis adalah Merupakan metode perencanaan strategis yang digunakan untuk

mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan


ancaman (threats) dalam suatu proyek bisnis/perusahaan atau suatu spekulasi bisnis.
Analisis SWOT yaitu analisis antarkomponen dengan memanfaatkan deskripsi SWOT setiap
komponen untuk merumuskan strategi pemecahan masalah, serta pengembangan dan atau
perbaikan mutu sistem informasi kesehatan secara berkelanjutan.
SWOT merupakan akronim dari Strength (kekuatan/kondisi positif), Weakness (kelemahan
internal sistem), Opportunity(kesempatan/ peluang sistem), dan Threats (ancaman/
rintangan/ tantangan dari lingkungan eksternal sistem). Kekuatan yang dimaksud adalah
kompetensi khusus yang terdapat dalam sistem, sehingga sistem tersebut memiliki
keunggulan kompetitif di pasaran. Kekuatan dapat berupa: sumber daya, keterampilan,
produk, jasa andalan, dan sebagainya yang membuatnya lebih kuat dari pesaing dalam
memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan dan masyarakat di dalam atau di luar sistem.
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber daya, keterampilan dan
kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan kerja sistem informasi
kesehatan. Adapun peluang adalah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi
sistem tersebut, sedangkan ancaman/tantangan merupakan kebalikan dari peluang. Tantangan
yang mungkin muncul sehubungan dengan pengembangan sistem informasi kesehatan pada
dasarnya berasal dari dua perubahan besar yaitu tantangan dari otonomi daerah dan tantangan
dari globalisasi. Dengan demikian ancaman/tantangan adalah faktor-faktor lingkungan yang
tidak menguntungkan sistem.
Analisis SWOT dapat merupakan alat yang ampuh dalam melakukan analisis strategis.
Keampuhan tersebut terletak pada kemampuan untuk memaksimalkan peranan faktor
kekuatan dan memanfaatkan peluang serta berperan untuk meminimalisasi kelemahan sistem
dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi. Analisis SWOT dapat
diterapkan dalam tiga bentuk untuk membuat keputusan strategis, yaitu:
Analisis SWOT memungkinkan penggunaan kerangka berfikir yang logis dan holistik yang
menyangkut situasi dimana organisasi berada, identifikasi dan analisis berbagi alternatif yang
layak untuk dipertimbangkan dan menentukan pilihan alternatif yang diperkirakan paling
ampuh.
Pembandingan secara sistematis antara peluang dan ancaman eksternal di satu pihak, serta
kekuatan dan kelemahan internal di pihak lain.
Analisis SWOT tidak hanya terletak pada penempatan organisasi pada kuadran tertentu akan
tetapi memungkinkan para penentu strategi organisasi untuk melihat posisi organisasi yang
sedang dianalisis tersebut secara menyeluruh dari aspek produk/ jasa/ informasi yang
dihasilkan dan pasar yang dilayani.
Dalam melakukan analisis situasi menggunakan analisis SWOT, maka langkah-langkahnya
adalah:
Langkah 1: Identifikasi kelemahan dan ancaman yang paling mendesak untuk diatasi secara
umum pada semua komponen.
Langkah 2: Identifikasi kekuatan dan peluang yang diperkirakan cocok untuk mengatasi
kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi lebih dahulu pada Langkah 1.

Langkah 3: Masukkan butir-butir hasil identifikasi (Langkah 1 dan Langkah 2) ke dalam Pola
Analisis SWOT seperti berikut.

Gambar 1. Pola Deskripsi dalam Analisis SWOT

Pada waktu mengidentifikasikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam sistem
informasi kesehatan, perlu diingat bahwa kekuatan dan kelemahan merupakan faktor
internal yang perlu diidentifikasikan di dalam sistem, sedangkan peluang dan
ancaman merupakan faktor eksternal yang harus diidentifikasi dalam lingkungan eksternal
sistem. Lingkungan eksternal suatu sistem informasi kesehatan dapat berupa: pemerintah,
masyarakat luas, stakeholderinternal dan eksternal, dan pesaing. Langkah ini dapat dilakukan
secara keseluruhan, atau jika terlalu banyak, dapat dipilah menjadi analisis SWOT untuk
komponen masukan, proses, dan keluaran.
Masukan termasuk fisik dan non fisik. Masukan fisik berupa sumber daya manusia,
pembiayaan, sarana-prasarana, metode, hardware dan software pendukung, market dan
manajemen waktu (7M=man, money, material, methode, machine, market dan minute).
Masukan non fisik berupa data kesehatan.
Proses berupa pengelolaan sistem (data) hingga menjadi informasi, termasuk tatapamong,
manajemen dan kepemimpinan, dan kerja sama.
Keluaran berupa jenis informasi yang dihasilkan, termasuk model dan media informasi,
publikasi, dan pengguna informasi.
4. Langkah 4: Rumuskan strategi atau strategi-strategi yang direkomendasikan untuk
menangani kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah, perbaikan, dan
pengembangan program secara berkelanjutan. Analisis untuk pengembangan strategi
pemecahan masalah dan perbaikan/pengembangan program itu digambarkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Analisis SWOT untuk Pengembangan Strategi


5. Langkah 5: Tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan susunlah suatu
rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.
Hasil analisis SWOT dimanfaatkan untuk menyusunan strategi pemecahan masalah, serta
pengembangan dan atau perbaikan mutu sistem secara berkelanjutan. Jika kekuatan lebih
besar dari kelemahan, dan peluang lebih baik dari ancaman, maka strategi pengembangan
sebaiknya diarahkan kepada perluasan/pengembangan sistem, sedangkan jika kekuatan lebih
kecil dari kelemahan, dan peluang lebih kecil dari ancaman, maka sebaiknya strategi
pengembangan lebih ditekankan kepada upaya konsolidasi ke dalam, melakukan penataan
sistem dan organisasi secara internal dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada,
dan mereduksi kelemahan di dalam dan ancaman dari luar. Analisis itu dapat digambarkan
sebagai berikut.

Gambar 3. Analisis SWOT dan Prioritas Strategi Pengembangan


Langkah-langkah Analisis SWOT di atas dikenal dengan model David (2004), yaitu
matriks Threats-Opportunity-Weakness-Strength (TOWS), merupakan perangkat pencocokan
yang penting dan dapat membantu pengelola sistem mengembangkan empat tipe strategi:
strategi SO (Strength-Opportunity), strategi WO (Weakness-Opportunity), strategi ST
(Strength-Threats) dan strategi WT (Weakness-Threats). Mencocokkan faktor-faktor
eksternal dan internal kunci, merupakan bagian yang sangat sulit dalam mengembangkan
matriks TOWS dan memerlukan penilaian yang baik dan tidak ada sekumpulan kecocokan
yang paling baik.
Strategi SO (Strength-Opportunity), yaitu strategi kekuatan-peluang, menggunakan kekuatan
internal sistem untuk memanfaatkan peluang eksternal sistem. Strategi WO (WeaknessOpportunity), yaitu strategi kelemahan-peluang, bertujuan untuk memperbaiki kelemahan
dengan memanfaatkan peluang eksternal. Strategi ST (Strength-Threats), yaitu strategi
kekuatan-ancaman, menggunakan kekuatan sistem untuk menghindari atau mengurangi
dampak ancaman eksternal. Strategi WT (Weakness-Threats), yaitu strategi kelemahanancaman, merupakan strategi defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal
dan menghindari ancaman eksternal.
Contoh penerapan deskripsi SWOT pada sistem informasi kesehatan nasional berdasarkan
hasil evaluasi yang telah dilakukan (tahun 2012) pada Pusat Data dan Informasi, dan unit-unit
lain di Kementerian Kesehatan, serta unit di luar sektor kesehatan maka diketahui kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman dalam sistem informasi kesehatan, seperti tampak dalam
tabel di bawah ini. Hasil deskripsi ini kemudian dianalisis dan selanjutnya dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana jangka menengah pengembangan dan
penguatan sistem informasi kesehatan nasional selanjutnya.
Tabel 1: Deskripsi SWOT
STRENGTH ( KEKUATAN )

WEAKNESSES ( KELEMAHAN )

Indonesia telah memiliki beberapa legislasi terkait


SIK (UU Kesehatan, SKN, Kebijakan dan strategi
pengembangan SIKNAS dan SIKDA).

SIK masih terfragmentasi (belum terintegrasi) dan


dikelola berbagai pihak sehingga terdapat pulaupulau informasi.

Tenaga pengelola SIK sudah mulai tersedia pada


tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Legislasi yang ada belum kuat untuk mendukung


integrasi SIK.

Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi


tersedia di semua Provinsi dan hampir seluruh
Kabupaten/kota

Tidak terdapatnya penanggung jawab khusus SIK


(petugas SIK umumnya masih rangkap jabatan).

Indikator kesehatan telah tersedia.


Telah ada sistem penggumpulan data secara rutin
yang bersumber dari fasilitas kesehatan pemerintah
dan masyarakat.
Telah ada inisiatif pengembangan SIK oleh
beberapa fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit,
Puskesmas dan Dinas Kesehatan, untuk memenuhi
kebutuhan mereka sendiri.
Diseminasi data dan informasi telah dilakukan,
contohnya hampir semua Provinsi dan
Kabupaten/kota dan Pusat menerbitkan profil
kesehatan.

Tenaga Pengelola SIK umumnya masih kurang


diakui perannya, pengembangan karir tidak jelas
dan belum ada jabatan fungsionalnya.
Terbatasnya anggaran untuk teknologi informasi
dan komunikasi khususnya untuk pemeliharaan.
Indikator yang digunakan sering kurang
menggambarkan subjek yang diwakili.
Belum terbangunnya mekanisme aliran data
kesehatan baik lintas program (Pusat, Provinsi,
Kabupaten/Kota) maupun lintas sektor.
Masih lemahnya mekanisme monitoring, evaluasi
dan audit SIK.
Kualitas data masih bermasalah (tidak akurat,
lengkap, tepat waktu)
Penggunaan data/informasi oleh pengambil
keputusan dan masyarakat masih sangat rendah

OPPORTUNITIES ( PELUANG )

THREATHS ( ANCAMAN )

Kesadaran akan permasalahan kondisi SIK dan


manfaat eHealth mulai meningkat pada semua
pemangku kepentingan terutama pada tingkat
manajemen Kementerian Kesehatan.

Dengan Otonomi daerah, terkadang pengembangan


SIK tidak menjadi prioritas.

Telah ada peraturan perundang-undangan terkait


informasi dan TIK.
Terdapatnya kebijakan perampingan struktur dan
pengkayaan fungsi, memberikan peluang dalam
pengembangan jabatan fungsional pengelolaan SIK.
Terdapat jenjang pendidikan informasi kesehatan
yang bervariasi dari diploma hingga sarjana di
perguruan tinggi.

Rotasi tenaga SIK di fasilitas kesehatan Pemerintah


tanpa perencanaan dan koordinasi dengan Dinas
Kesehatan telah menyebabkan hambatan dalam
pengelolaan SIK.
Sebagian program kesehatan yang didanai oleh
donor mengembangkan sistem informasi sendiri
tanpa dikonsultasikan atau dikoordinasikan
sebelumnya dengan Pusat Data dan Informasi dan
pemangku kepentingannya.
Komputerisasi data kesehatan terutama menuju data
individu (disaggregate) meningkatkan risiko

Para donor menitik beratkan program


pengembangan SIK.
Registrasi vital telah dikembangkan oleh
Kementerian Dalam Negeri dan telah mulai dengan
proyek percobaan di beberapa Provinsi.

terhadap keamanan dan kerahasiaan sistem TIK.


Kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam
dimana infrastruktur masih sangat lemah di daerah
terpencil sehingga menjadi hambatan modernisasi
SIK.

Adanya inisiatif penggunaan nomor identitas


tunggal penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri
yang merupakan peluang untuk memudahkan
pengelolaan data sehingga menjadi berkualitas.
Kebutuhan akan data berbasis bukti meningkat
khususnya untuk anggaran (perencanaan) yang
berbasis kinerja.
ANALISA SWOT (STRENGHT, WEAKNESSES, OPPORTUNITIES, THREATS)
1. Kekuatan (Strenght)
a. Sumber Daya
Memiliki jumlah tenaga kesehatan cukup banyak yaitu sebanyak 33 orang
b.

Sarana

Banyak peralatan baru yang diperoleh dari Pemerintah Kota


c. Prasarana
Lokasi Puskesmas berada di dekat pusat terminal ( pasar dan terminal type A kota
Tasikmalaya, terbesar se Priangan Timur )
d. Dana
Memiliki sumber dana operasional yang kontinyu
e. Manajemen Puskesmas
Memiliki program kerja dan stuktur organisasi
2. Kelemahan (Weaknesses)
a. Sumber Daya
Distribusi tenaga tidak merata dan pola penempatan tenaga belum sesuai
b.

Sarana

Jenis peralatan yang diperlukan tidak sesuai dengan kebutuhan karena pengadaan sarana yang
tersentralisasi dari pusat dan distribusi tidak merata
c. Prasarana

Bangunan berada di belakang pasar dan tidak berada di pinggir jalan protokol, sehingga
akses menuju Puskesmas sulit.
d. Dana
Pengelolaan dana belum dikerjakan oleh tenaga ahli
e. Manajemen Puskesmas
Tidak terdapat pembagian tugas yang jelas dan masih berlaku budaya asal bapak senang
3. Kesempatan (Opportunities)
a. Masyarakat bersedia diberi pelayanan kesehatan
b.

Sebagai Puskesmas induk di Kecamatan Indihiang

c.

Berada di dekat pusat keramian sehingga bias menjadi pusat pelayanan gawat darurat

d.

Dengan tenaga SDM yang ada mengoptimalkan program

e.

Dengan dana operasional dapat menambah kesejahteraan personil

4. Ancaman (Threats)
a. Banyak berdiri Balai Pengobatan swasta yang memberikan pelayanan yang sama
c.

Adanya persepsi biaya pelayanan kesehatan yang mahal

c. Status kepemilikan sertifikat tanah yang ditempati gedung belum jelas dan sering ada isu
akan digugat
d. Polusi udara dari pasar dan terminal

E. BERDASARKAN ANALISIS SWOT PENGEMBANGAN PROGRAM PADA TUGAS


SAYA :
1. Penentuan target cakupan program KIA dan KB
2. Dibentuknya program baru yakni Kelurahan Siaga
3. Inventarisasi kebutuhan sarana untuk melaksanakan program
4. Adanya tata tertib petugas Puskesmas
F. KENDALA
1. Komunikasi dan interaksi antar karyawan kurang harmonis
2. Mayoritas tempat tinggal karyawan jauh dari Puskesmas
3. Disiplin kerja yang masih kurang
4. Pelayanan kesehatan yang dilakukan karyawan tidak hanya dilakukan di dalam gedung
Puskesmas

5. Kepala Puskesmas sering tidak berada di tempat karena sering mengikuti rapat dinas
6. Distribusi tugas dan tanggung jawab belum berdasar pada prinsip The right man on the
right place
G. SOLUSI
1. Memperbaharui tata tertib Puskesmas
2. Mengadakan Staff Meeting setiap bulan
3. Mengaktifkan kegiatan apel pagi sebagai sarana silaturahmi dan berbagi informasi antar
karyawan
4. Pembagian tugas berdasarkan prinsip The right man on the right place
5. Pendelegasian wewenang dari Kepala Puskesmas kepada staf yang ditunjuk
6. Membentuk petugas pengelolaan keuangan
H. TINDAK LANJUT
1. Merencanakan, melaksanakan dan megevaluasi semua program kerja secara
berkesinambungan
2. Program pengobatan gratis bagi pasien yang datang pada jam kerja
I.

QUALITY CONTROL

Menjaga pelayanan yang optimal dengan cara memberikan kepuasan kepada customer :
1. Meningkatkan produktifitas
2. Mengefesiensikan sumber daya manusia
3. Meningkatkan kerja sama dan peran serta karyawan
4. Melibatkan seluruh karyawan dalam pemecahan berbagai macam masalah
5. Meningkatkan komunikasi dan interaksi antar karyawan dan pimpinan
6. Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan
tujuan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (SimKes)
Puskesmas adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui sistem informasi
yang terintegrasi di semua unit pelayanan Puskesmas sehingga dapat meningkatkan
kecepatan proses pada pelayanan, mempermudah akses data, pelaporan dan akurasi data
sehingga menjadi lebih baik.
Rumah Sakit dalam bentuk SISTEM INFORMASI MANAJEMEN RUMAH SAKIT .
Saya ingin mengklarifikasi pendefinisian Simkes Diantaranya yaitu :
1. Sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang biasanya diterapkan dalam
suatu organisasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan informasi yang dihasilkan
dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen (Kristianto,2003).
2. SIM adalah sebuah sistem manusia atau mesin yang terpadu (integrated) untuk menyajikan
informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam

sebuah organisasi (Davis, 2002).


3. SIM adalah sekumpulan subsistem yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama
dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara satu bagian dengan
lainnya menggunakan cara tertentu untuk melakukan fungsi pengolahan data, menerima
masukan (input) berupa data-data, kemudian mengolahnya (processing) dan menghasilkan
keluaran (output) berupa informasi sebagai dasar pengambilan keputusan yang berguna dan
mempunyai nilai nyata yang dapat dirasakan akibatnya baik pada saat itu juga maupun
dimasa mendatang, mendukung kegiatan operasional, manajerial, dan strategis organisasi
dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan tersedia bagi fungsi tersebut guna
mencapai tujuan (Sutanta,2004)
Dari tiga pengertian di atas, sangatlah jelas bahwa Simkes itu bukan hanya software, tetapi
software itu hanya merupakan bagian kecil dari Simkes.
Menurut Laudon & Laudon (2005), Sistem informasi berisi tentang orang-orang, tempat dan
sesuatu di dalam organisasi atau lingkungan sekitar. Semua sistem informasi bisa
digambarkan sebagai solusi manajemen dan organisatoris atas tantangan-tantangan yang
ditimbulkan oleh lingkungannya. Ketiga komponen pembentuk sistem informasi tersebut
saya fokuskan ke bidang kesehatan sehingga dapat diterjemahkan ke dalam Sistem Informasi
Kesehatan (SIK) dan dapat dilihat pada gambar beriknew-picture-13ut :
Komponen-komponen yang ada dalam sistem harus dapat bekerja sama dan saling
mendukung untuk mencapai tujuan dari suatu sistem informasi pada suatu organisasi.
Yang terdiri dari :
1. Organisasi (struktur organisasi, peraturan2 tentang tata hubungan kerja, tugas dan
tanggungjawab, kompensasi, reward, punishment, dan yang terpenting adalah Sumber Daya
Manusia (SDM), termasuk komitmennya).
2. Manajemen (strategi, kebijakan, desain kebutuhan, integrasi kebutuhan, prosedur
manajemen, prosedur pemeliharaan, aturan pengelolaan, sosialisasi, pelatihan, monitoring
dan motivasi bagi pengguna dll).
3. Teknologi
Banyak orang salah menafsirkan bahwa IT adalah Sistem Informasi. Padahal IT itu hanya
salah satu bagian dari sesuatu yg lebih kompleks yang disebut Sistem Informasi. Beberapa
hal yang termasuk dalam kategori teknologi dalam suatu sistem informasi, antara lain :
software, hardware, database, jaringan LAN/WAN, internet, website dll).
Rumah Sakit mempunyai Pasien dan Pegawai sebagai subject dari aktivitas di Rumah
Sakit.Setiap pasien mempunyai data pasien seperti nama,alamat,tempat tanggal lahir,dan lainlain.Pegawai Rumah Sakit disamping mempunyai nama,alamat,dan seterusnya juga memiliki
data,mulai pangkat,dan seterusnya.Informasi yang didapat pasien dan karyawan haruslah
Valid dan Konsisten,untuk menjaga agar tetap valid dan konsisten haruslah dibuat sistem
yang mampu menjaganya.
Informasi bukan hanya terkait antara Pasien dan Karyawan RS tetapi yang berkaitan dengan
Rumah Sakit,misalnya pembayaran pasien,Rekam Medis,Pembukuan RS dan lainlain.Sumber Informasi yang demikian banyak tersebut,harus dikelola dengan rapi dan
baik,agar pengelolaan Rumah Sakit bisa ditingkatkan menjadi Rumah Sakit yang unggul dan
profesional.Penerapan SIMKES di Rumah Sakit akan membuat semua informasi Rumah
Sakit tetap valid dan konsisten,mudah di akses dan dikelola,sehingga manajemen Rumah
Sakit dapat menentukan yang terbaik buat Rumah Sakit tersebut.
Topologi SIMKES Rumah Sakit
SOLUSI SIMKES
SIMKES JS adalah aplikasi berbasis web,yang ditunjuk untuk memperbaiki pengelolaan data
Rumah Sakit agar data Rumah Sakit dan informasi bisa ditata dengan baik dan dapat di

pertanggungjawabkan.Pengelolaan data dan informasi meliputi :


1 Registrasi Pasien
2 Medical Record ( Rekam Medik )
3 Rawat Jalan
4 Rawat Inap
5 Poliklinik
6 Radiologi,Elektromedik CT-Scan
7 Bedah Central
8UGD
9 Apotek
10 Medicak Chek Up
11 Piutang Rumah Sakit ( Asuransi/Jamkesmas )
12 Administrasi
13 Kas Dan Bank
14 Hutang Rumah Sakit
15 Sistem Pelapoan Rumah Sakit ( Akuntansi General Ledger )
16 Modul Gizi dan lain-lain
KEUNTUNGAN SIMKES JS
1. Dapat memantau perkembangan Rumah Sakit secara akuraat
2. Dapat meningkatkan pelayanan dibidang kesehatan kepada
masyarakat secara akurat.
3. Rumah Sakit tersebut dapat terpantau secara langsung oleh
lembaga-lembaga dari luar atau dalam Negeri secara akurat,
sehingga mempermudah akses bagi lembaga tersebut jika akan
memberikan informasi serta mempermudah akses jika ingin
mememberikan dana.
4. Dapat menyimpan data base Rumah Sakit mulai dari Pasien,
Karyawan yang terdiri dari Data Rumah Sakit, data administrasi,data
Aset Rumah Sakit dan lain-lain
5. Dapat mengangkat brand imageRumah Sakit tersebut secara
tidak langsung dengan memiliki fasilitas modern
6.Dapat mengurangi beban kerja sub-bagian rekam medis dalam
menangani berkas rekam medis,Bagian Rekam Medis memang
sub-bagian yang paling direpotkan mulai dari coding,indexing,filling
dan lain-lain.Sebagian Rumah Sakit di Indonesia masih mengggunakan
petugas Rekam Medis ataupun kurir dalam mendistribusikan berkasberkas ke masing-masing pelayanan
7. Dapat mengurangi pemakaian kertas.Pemakaian kertas masih
belum bisa dihilangkan di Indonesia karena data medis sangat rentan
dengan hukum dan akan memporakporandakan perdagangan kertas di
Indonesia . Dengan sistem yang terkomputerisasi , pemakaian kertas
yang bisa di pangkas antara lain :
1 Lembar kertas Rekam Medis yang tidak bebrhubungan dengan
masalah Autentikasi atau aspek hukum
2 Laporan masing-masing unit pelayanan ( karena semua laporan
telah terekap oleh sistem )
3 Rekap Laporan ( RL ) 1-6 yang dikirim ke dinas Kesehatan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Peranan Puskesmas sebagai unit fungsional kesehatan yang terdepan akan sangat menentukan
keberhasilan pencapaian visi dan misi. Secara operasional peran Puskesmas tersebut harus
lebih jelas dan terukur sehingga Puskesmas harus lebih efekktif dan responsif terhadap
masalah-masalah kesehatan di wilayah kerjanya.
Pelayanan kesehatan dituntut untuk memberikan suatu jaminan dalam bentuk layanan yang
memiliki tingkat mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan pengelolaan
pelayanan kesehatan diperlukan komitmen yang penuh kesungguhan.
Analisis SWOT adalah suatu bentuk analisis situasi dengan mengidentifikasikan berbagai
faktor secara sistematis terhadap kekuatan-kekuatan (Strenghts) dan kelemahan-kelemahan
(Weaknesses). Suatu organisasi dan kesempatan-kesempatan (Opportunities) serta ancamanancaman (Threats) dari lingkungan untuk merumuskan strategi organisasi.

B. Saran

Keberhasilan sarana kesehatan dapat dilihat dari sudut dan tingkat kepuasan pelanggannya.
Ukuran keberhasilan layanan kesehatan dapat dilihat dari layanan yang diberikan. Oleh
karena itu maka semua layanan kesehatan harus melaksanakan Gugus Kendali Mutu (GKM).