Anda di halaman 1dari 45

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sistem Kesehatan Nasional yang mulai ditetapkan pada tahun 2012 mengatur
segala upaya pengelolaan kesehatan yang saling mendukung dan terpadu untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sistem Kesehatan Nasional yang
tertuang dalam peraturan presiden berkaitan erat dengan upaya kesehatan, peraturan
kesehatan hingga pemberdayaan masyarakat. Salah satu fokus Sistem Kesehatan
Nasional adalah pendekatan pelayanan kesehatan dasar yang adil, merata, berkualitas,
dan berpihak pada kepentingan masyarakat (Presiden RI, 2012).
Dalam pelayanan kesehatan dasar, peran Puskesmas sangat vital dan mempumyai
fungsi yang luas dalam pelaksanaan upaya kesehatan masyarakat dan perorangan. Upaya
kesehatan masyarakat merupakan upaya terpenting dalam sistem kesehatan yang
mengedepankan upaya promotif dan preventif sebagai fokus utama. Sedangkan upaya
kesehatan perorangan berkaitan dengan upaya kuratif dan rehabilitatif terhadap individu
sebagai bagian dari masyarakat (Menteri Kesehatan RI, 2014).
Dalam pelaksanaanya, upaya keesehatan masyarakat dan perorangan sebagai
pelayanan kesehatan tingkat pertama di Puskesmas dituangkan dalam upaya kesehatan
wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Upaya wajib Puskesmas merupakan upaya
yang ditetapkan baik secara nasional maupun regional dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dan wajib diselenggarakan di setiap Puskesmas
di wilayah Indonesia. Disamping pelaksanaan upaya wajib, puskesmas juga
melaksanakan upaya kesehatan pengembangan yang menjadi upaya lanjutan terhadap
permasalahan yang ditemukan dalam masyarakat dan disesuaikan dengan kemampuan
setiap Puskesmas (Menteri Kesehatan RI, 2004).
Sebagai pusat layanan kesehatan primer, Puskesmas melalui upaya kesehatan wajib
maupun pengembangan diharapkan dapat menjadi fasilitaas kesehatan terdepan dalam
mendukung Sistem Kesehatan Nasional yang berpihak pada masyarakat untuk
meningkatkan derajat kesehatan nasional.

B. TUJUAN
Melalui laporan ini, diharapkan dapat memenuhi tujuan-tujuan berikut ini :
1

1. Mengetahui fungsi Puskesmas Karangpandan dalam pelayanan kesehatan primer


2. Mengetahui program upaya wajib Puskesmas Karangpandan dalam pelayanan
kesehatan primer
3. Mengetahui program Upaya Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Karangpandan
4. Mengetahui program Upaya Kesehatan Perorangan di Puskesmas Karangpandan
5. Mengetahui proses pelaksanaan Program Puskesmas Karangpandan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya
kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Menteri Kesehatan RI, 2014).
B. TUJUAN
Tujuan penyelenggaraan Puskemas menurut Permenkes No 75 Tahun 2014 adalah
untuk mewujudkan masyarakat yang :
1. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
sehat
2. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu
3. Hidup dalam lingkungan sehat
4. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat
C. PRINSIP PENYELENGGARAAN, TUGAS, FUNGSI DAN WEWENANG
1. Prinsip Penyelenggaran
a. Paradigma sehat
Paradigma sehat yang dimaksud adalah bahwa Puskesmas mendorong
seluruh pemangku kepentingan untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan
mengurangi resiko kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat
b. Pertanggungjawaban wilayah
Pertanggungjawaban wilayah yang dimaksud adalah bahwa Puskesmas
menggerakkan dan bertanggungjawab terhadap pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya
c. Kemandirian masyarakat
Kemandirian masyarakat yang dimaksud adalah bahwa Puskesmas
mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat
d. Pemerataan
Pemerataan yang dimaksud adalah bahwa Puskesmas menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat
di wilayah kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi,
agama, budaya dan kepercayaan
3

e. Teknologi tepat guna


Teknologi tepat

guna

yang

dimaksud

adalah

bahwa

Puskesmas

menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat


guna yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak
berdampak buruk bagi lingkungan
f. Keterpaduan dan kesinambungan
Keterpaduan dan Kesinambugan yang dimaksud adalah bahwa Puskesmas
mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelenggarakan UKM dan UKP
lintas program dan lintas sektor serta melaksanakan sistem rujukan yang
didukung dengan manajemen puskesmas.
2. Tugas, Fungsi dan Wewenang Puskesmas
a. Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk
mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka
mendukung terwujudnya kecamatan sehat.
b. Fungsi Puskesmas
1) Penyelenggaraan UKM ( Upaya Kesehatan Masyarakat ) tingkat pertama di
wilayah kerjanya
2) Penyelenggaraan UKP ( Upaya Kesehatan Perseorangan ) tingkat pertama
di wilayah kerjanya
c. Wewenang Puskesmas
1) Puskesmas dalam menyelenggarakan UKM memiliki wewenang untuk :
a) Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan
b) Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan
c) Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan
d) Menggerakkan masyarakat untuk mengientifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait
e) Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan
upaya kesehatan berbasis masyarakat
f) Melaksanakan peningkatan kompetensi

sumber

daya

manusia

Puskesmas
g) Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan
h) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses,
mutu, dan cakupan pelayanan kesehatan
i) Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,
termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon
penanggulangan penyakit
2) Puskesmas dalam menyelenggarakan UKP memiliki wewenang :
4

a) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,


berkesinambungan dan bermutu
b) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif
c) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
d) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan

yang

mengutamakan

keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung


e) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerjasama inter dan antar profesi
f) Melaksanakan rekam medis
g) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan
akses pelayanan kesehatan
h) Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan
i) Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya
j) Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan
sistem rujukan
(Menteri Kesehatan RI, 2014)
D. PENYELENGGARAAN
1. Kedudukan dan Organisasi
Puskesmas dipimpin oleh seorang Kepala Puskesmas yang memiliki
kemampuan manajemen kesehatan masyarakat. Dinas kesehatan kabupaten/kota
menyusun organisasi Puskesmas yang minimal terdiri atas kepala puskesmas, kepala
sub bagian tata usaha, penanggung jawab UKM dan Keperawatan Kesehatan
Masyarakat, penanggung jawab UKP, kefarmasian dan Laboratorium, dan
penanggungjawab jaringan pelayanan Puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan
kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 2014).
2.

Upaya Kesehatan
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama
dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan masyarakat
tingkat pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan
masyarakat pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial terdiri atas :
a. pelayanan promosi kesehatan,
b. pelayanan kesehatan lingkungan,
c. pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana,
d. pelayanan gizi, dan
5

e. pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.


Sedangkan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan
dalam bentuk rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan satu hari (one day
care), home care; dan/atau rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan.
Sedangkan upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan
masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau
bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas
masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia
di masing-masing Puskesmas (Menteri Kesehatan RI, 2014).
3.

Jaringan Pelayanan, Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Sistem Rujukan


Jaringan pelayanan Puskesmas terdiri atas Puskesmas pembantu, Puskesmas
keliling, dan bidan desa. Sedangkan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan terdiri atas
klinik, rumah sakit, apotek, laboratorium, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya kesehatan dapat melaksanakan rujukan.
Rujukan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
(Menteri Kesehatan RI, 2014).

E. PROFIL KECAMATAN DAN PUSKESMAS KARANGPANDAN


Luas Kecamatan Karangpandan adalah : 3411,080 Ha, terdiri dari tanah datar
sampai berombak 40%, berombak sampai berbukit 20%, berbukit sampai bergunung
40%; dimana terbagi dalam sebelas desa, yaitu :

Desa Bangsri

Desa Karangpandan

Desa Ngemplak

Desa Gondangmanis

Desa Doplang

Desa Dayu

Desa Gerdu

Desa Harjosari

Desa Karang

Desa Tohkuning

Desa Salam
Jumlah penduduk Kecamatan Karangpandan adalah 44.457 jiwa, jumlah KK :
11.517 dengan

67 Dusun, 116 RW dan 303 RT. Yang memiliki Kartu BPJS/KIS

kepesertaan Puskemas sebanyak 20.321 jiwa (sumber data pcare, BPJS, Desember 2014)
dan jumlah peserta Jamkesda sulit diketahui karena di awal tahun 2014 hingga sekarang
kepesertaan Jamkesda tidak dibatasi kuota oleh Kabupaten Karanganyar.
NO

DESA

LAKI

PEREMPUAN

JUML
6

1 KARANGPANDAN
3148
2 DOPLANG
1864
3 NGEMPLAK
1944
4 BANGSRI
2208
5 TOHKUNING
2621
6 GONDANGMANIS
1326
7 DAYU
1277
8 HARJOSARI
1742
9 SALAM
1567
10 GERDU
1900
11 KARANG
2129
JUMLAH
21726
(Sumber data: Monografi Desa, Juni 2015 ).

3310
1890
1994
2350
2772
1446
1392
1842
1569
1974
2192
22731

6458
3754
3938
4558
5393
2772
2669
3584
3136
3874
4321
44457

Sedangkan sarana kesehatan yang terdapat di Kecamatan Karangpandan adalah :


No
1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Nama
Puskesmas Induk dengan Perawatan
Puskesmas Pembantu :
-

Pustu Bangsri

Pustu Karangpandan

Pustu Karang

- Pustu Dayu
RB Swasta
BP Swasta
Dokter Praktek Swasta
Bidan Praktek Swasta
Poliklinik Kesehatan Desa
Apotik
Toko Obat
Bong Supit
Posyandu
Posyandu Lansia
SD UKS
SLTP UKS
SMA UKS
Dukun terlatih
Kader Posyandu Balita
Pengobatan tradisional / Battra

Jumlah
1
4

3
3
5
7
11
1
2
1
69
16
30
4
1
30
443
85

PUSKESMAS KARANGPANDAN
Puskesmas Karangpandan terletak di Kecamatan Karangpandan, dengan batas-batas
sebagai berikut :
7

Utara

: Kecamatan Mojogedang

Selatan

: Kecamatan Matesih

Barat

: Kecamatan Karanganyar

Timur

: Kecamatan Tawangmangu

Puskesmas Induk Karangpandan merupakan Puskesmas dengan fasilitas Rawat Inap


yang berada di tepi jalan Karangpandan-Matesih diatas tanah seluas + 2.500 m2 dimana
memiliki 10 tempat tidur pasien, dilengkapi dengan rumah dinas dokter, paramedis, tempat
parkir dan halaman yang luas. Fasilitas peralatan dan obat cukup baik dalam jumlah dan
macamnya. Puskesmas juga memiliki 2 mobil Pusling ( Ambulance ) dalam menunjang
pelayanannya.
Disamping itu,sebagai perpanjangan pelayanan Puskesmas di daerah-daerah,
terdapat empat Puskesmas Pembantu, yaitu :

Pustu Bangsri

Pustu Karangpandan

Pustu Karang

Pustu Dayu

BAB III
PEMBAHASAN
A. STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS
KEPALA
PUSKESMAS
KASUBAG TU

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL
DOKTE
R

PERAWA
T

PERAWA
T GIGI

BIDA
N

PERENCANA
AN
UMUM &
KEPEGAWAI
AN
KEUANGAN

GIZIHS

PETUGAS
OPERASIONAL
R.
JALAN

POLI
GIGI

KIA

GIZI

P2P

R. INAP

LABOR
AT

FARMA
SI

PKPL

PSIKO

PUSTU
BANGS
RI

PUSTU
KRPDN

PUSTU
DAYU

PUSTU
KARAN
G

FISIOTERAP
I

B.
PENERIMA
B. RUTIN
B.
JAMKESMAS
B. BARANG

ADMINISTRASI
PENDAFTARAN
KASIR
ADMINISTRASI

PKD
KARANGPANDAN
NGEMPLAK
HARJOSARI
BANGSRI
SALAM
TOHKUNING
GERDU
GD. MANIS
B. PROGRAM
PUSKESMAS
KARANG

6. DAYU
7.
8.
9.
10.

1. Promosi Kesehatan
Sebagai fasilitas layanan primer, Pusat Kesehatan Masyarakat berperan
langsung di tengah masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan. Sesuai
dengan paradigma sehat yang mengedepankan upaya promotif dan preventif,
Puskesmas memilki peran penting dalam proses promosi kesehatan dan pencegahan
di tengah masyarakat (Keputusan Menteri No. 585, 2007).
Peran promosi kesehatan dalam masyarakat adalah untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan masyarakat mengenai kesehatan melalui pembelajaran
9

dan memunculkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Program


pokok dalam bidang promosi kesehatan di Puskesmas didasarkan pada strategi
pemberdayaan, bina suasana, advokasi, dan kemitraan.
Pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas Karangpandan tidak terlepas
dari koordinasi lintas program yang saling berkaitan dan mengedepankan promosi
kesehatan. Sebagai contoh, program promosi kesehatan dapat bekerjasama dengan
program Kesehatan Lingkungan mengenai kampanye Stop Buang Air Besar
Sembarangan (Stop BABS). Selain itu, kerjasama program juga dapat dijalin dengan
bidang KIA yang membawahi seksi Kesehatan Reproduksi Remaja untuk
melaksanakan program penyuluhan bersama mengenai HIV/AIDS, NAPZA, dan
Kesehatan Reproduksi.
Proses advokasi melalui penyuluhan menjadi strategi utama pada bidang
Promosi Kesehatan dalam meningkatkan komitmen dari pihak-pihak terkait dan
berwenang yang memerlukan pendekatan secara terus menerus agar tercipta
komitmen yang kuat sebagai dasar promosi kesehatan di tengah masyarakat. Proses
advokasi di seriap desa bertujuan untuk menciptakan desa yang sesuai dengan
kriteria Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS). Pelaksanaan advokasi desa PHBS
yang terdapat di wilayah Karangpandan sudah terlaksana selama Januari hingga
Februari di Desa Bangsri, Karangpandan dan Doplang.
Selain itu, bidang Promosi Kesehatan juga secara aktif melakukan advokasi
dan penyuluhan mengenai peraturan-peraturan daerah yang berkaitan dengan
kesehatan seperti program Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Kawasan Bebas
Rokok, serta ASI Eksklusif pada bayi. Kendala yang sering dihadapi adalah ketika
tingkat partipasi dari masyarakat masih rendah meskipun program Promosi
Kesehatan sudah secara aktif memberikan penyuluhan.
Ketika penyuluhan dan advokasi sudah dapat diterima oleh masyarakat,
maka proses pemberdayaan masyarakat dapat terlaksana. Contoh program
pemberdayaan masyarakat di wilayah Puskesmas Karangpandan berupa penciptaan
Desa Siaga Sehat Sejahtera (DS3). Program DS3 dilaksanakan melalui 3 tahapan
yang dimulai dari proses advokasi terhadap perangkat desa, dilanjutkan dengan
program Survei Mawas Diri di tingkat dusun dan ditindaklanjuti dengan program
Musyawarah Masyarakat Desa yang dilaksanakan sebanyak 3 kali dalam setahun
setiap 3 bulan. Program Musyawarah Masyarakat Desa telah terlaksana pada bulan
April dengan agenda membahas prioritas masalah dan akan dilanjutkan pada bulan

10

Agustus dan Desember. Sejauh ini, tingkatan yang sudah dicapai adalah Desa Aktif
Siaga yang sudah dilaksanakan di Desa Dayu dan Bangsri.
Dalam tatanan yang lebih kecil, tingkat rumah tangga dalam masyarakat juga
dilibatkan dalam program Bina Suasana untuk menciptakan suasana atau lingkungan
sosial yang mendorong individu dan anggota keluarga agar dapat mencegah
timbulnya penyakit dengan meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Sehat. Rumah
tangga sehat yang sudah tercapai di wilayah Karangpandan sebesar 75 %.
Pemberdayaan juga menjadi fokus dalam program Promosi Kesehatan,
Pemberdayaan ini meliputi semua lapisan masyarakat yang berkaitan dengan bidang
kesehatan, sebagai contoh adalah Upaya Kesehatan Kerja yang melibatkan langsung
anggota masyarakat dalam mengusahakan kesehatan di tingkat profesi masingmasing. Upaya Keseahtan Kerja di wilayah Karangpandan masih seputar pekerja
tani yang menjadi mayoritas pekerjaan masyarakat Karangpandan. Selain itu,
pengobatan tradisional juga mendapat pembinaan dengan memberdayakan langsung
masyarakat di bidang jamu tradisional, akupuntur dan akupresur.
2. KIA
a. KIA
Salah satu upaya wajib Puskesmas yaitu Kesehatan Ibu Anak didasari
pada permasalahan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) yang masih tinggi di Indonesia bahkan dibandingkan
dengan sesama negara ASEAN. Sebagai salah satu solusi dalam menangani
masalah tersebut, diciptakan indikator Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
KIA yang digunakan sebagai alat pantau untuk memberikan data yang cepat dan
menghasilkan respon yang tepat dalam menangani kasus yang berkaitan dengan
kesehatan ibu dan anak. Kesehatan Ibu meliputi proses bersalin hingga masa
nifas. Sedangkan kesehatan balita meliputi kesehatan neonatus hingga balita
serta MTBS (Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat KIA, 2010).
Program KIA di Puskesmas Karangpandan mengenai kesehatan ibu
hamil terutama pada fase K1 dengan target 100% dengan pencapaian 45,80%
yang meliputi timbang berat badan, tekanan darah, tingkat status gizi, tinggi
fundus uteri, presentasi janin, tablet tambah darah, imunisai TT, Tes
laboratorium, tatalaksana kasus dan temu wicara. Sedangakan pada fase K4
dengan target 94% meliputi deteksi dini faktor risiko tinggi oleh tenaga
kesehatan, deteksi dini faktor risiko tinggi oleh masyarakat, persalinan oleh
tenaga kesehatan, kunjungan nifas, dan penanganan komplikasi obstetri.
11

Target pada fase K4 secara rinci adalah sebesar 24% untuk deteksi risiko
tinggi oleh tenaga kesehatan, 10% untuk deteksi dini risiko tinggi oleh
masyarakat, 90% untuk penanganan komplikasi obstetri, 90% untuk kunjungan
nifas, dan 90% untuk persalinan oleh tenaga kesehatan. Hingga Mei 2016
pencapaian target dari program KIA meliputi 45,80% dari 41,64% untuk Fase
K1; 32,72% dari 39,6% untuk Fase K4; 12,4% dari 4,3% untuk Deteksi dini
risiko tinggi oleh tenaga kesehatan; 34,03 dari 37,5 untuk persalinan dengan
tenaga kesehatan; 34,03% dari 37,5% untuk kunjungan nifas; dan 33,33% dari
42,71% untuk penanganan komplikasi obstetri. Kendala yang dialami pada fase
K4 seringkali berupa umur yang belum mencukupi, kejadian abortus, kejadian
IUFD, dan domisili yang berpindah.
Sedangkan mengenai kesehatan anak terdiri dari Kunjungan Neonatus,
Kunjungan Neonatus Lengkap, Penanganan Komplikasi Neonatus, Kunjungan
Bayi, Kunjungan Balita. Target yang ditetapkan dalam program kesehatan anak
adalah sebesar 80% -90%. Hingga bulan Mei 2016 capaian dari program
kesehatan anak meliputi kunjungan neonatus sebesar 35,27 dari 37,5%;
kunjungan neonatus lengkap sebesar 35,11% dari 37,5%; Komplikasi neonatus
sebesar 16,67% dari 33,33%; kunjungan balita sebesar 33,03% dari 37,5%; dan
Kunjungan bayi sebesar 47,49% dari 37,5%.
Dalam program yang direncanakan untuk mencapai target tersebut, maka
bidang KIA Puskesmas Karangpandan memilki kegiatan-kegiatan seperti
kegiatan bagi ibu hamil, anak dan bayi. Kelas bagi ibu seperti kelas ibu hamil
dan kelas ibu balita rutin diadakan setiap bulan untuk memberikan informasi
dan mempersiapkan ibu dalam mengsuh anak. Dilanjutkan dengan kegiatan
kunjungan kepada ibu hamil dengan risiko tinggi oleh bidan wilayah disamping
kunjungan ibu hamil normal juga tetap dilaksanakan untuk mengetahui jumlah
ibu hamil, serta pelaksanaan ANC terpadu yang melibatkan bagian gizi,
laboratorium, dan P2P.
Dalam pelaksanaan kelas ibu hamil, diadakan sebanyak 4 kali dengan
durasi 2 jam setiap pertemuan. Sasaran yang ditargetkan adalah ibu hamil
dengan usia kehamilan 20 hingga 32 minggu dengan pemberian materi dan
senam ibu hamil. Sementara bagi ibu hamil dengan usia kehamilan kurang dari
20 minggu hanya sebatas diberikan materi. Dalam kelas ibu hamil, dibagi
menjadi 3 kelas yang berjenjang dan memiliki perbedaan dalam materi yang
diberikan. Untuk kelas ibu hamil 1 berisi tentang proses kehamilan dan bahaya
12

selama kehamilan. Berlanjut dengan kelas ibu hamil 2 yang berisi tentang
persalinan, nifas, dan proses persalinan. Dan terkahir kelas ibu hamil 3 berisi
tentang perawatan bayi dan pelurusan mitos. Tambahan materi juga dapat
diberikan mengenai HIV, IMS, dan akta kelahiran. Dalam kehadiran hingga
kelas ke 3, maka ssetiap ibu hamil nantinya akan diberikan piagam
penghargaan.
Dalam persiapan kelahiran, Puskesmas Karangpandan menyediakan
Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) yang terletak di Desa Bangsri. Lokasi ini
merupakan wilayah Kecamatan Karangpandan yang paling dekat aksesnya
menuju rumah sakit yang ada di Kecamatan Karanganyar. Fungsi dari Rumah
Tunggu Kelahiran ini adalah sebagai rumah singgah bagi ibu hamil yang
berdomisili jauh dari rumah sakit agar akses menuju rumah sakit saat kelahiran
menjadi lebih singkat dan terpantau dengan baik.
Setelah proses kelahiran, diadakan kelas yang dilaksanakan setiap bulan
dengan lama pertemuan tiap sesi adalah 30-60 menit. Kelas ibu balita
dikelompokkan berdasarkan umur balita yang dibawa. Kelompok A adalah
kelompok balita umur 0-1 tahun dan akan diberikan materi mengenai imunisasi,
ASI, PMT, dan tumbuh kembang. Kelas B adalah kelompok balita umur 1-2
tahun dan akan diberikan materi tentang kesehatan gigi, penyakit yang dapat
menyerang dan tumbuh kembang. Dan terakhir adalah kelas yang terdiri dari
balita dengan umur 2-5 tahun dengan materi yang diberikan berupa pencegahan
kecelakaan, penyakit yang dapat menyeerang, PHBS, pengenalan makanan dan
tumbuh kembang.
Kesehatan anak di Puskesmas Karangpandan melayani kunjungan
Neonatus yang dilakukan sebanyak 3 kali dilanjutkan dengan pelaksanaan
posyandu setiap bulan untuk timbang badan. Kunjungan Bayi dilaksanakan
sebanyak dengan 8 kali timbang badan, pemberian imunisasi, vitamin A dosis
tinggi, layanan SDIDTK sebanyak 4 kali selama 3 bulan dan MTBS terpadu.
Pelayanan balita akan sedikit berbeda dengan bayi dengan kontak posyandu
sebanyak 8 kali dengan pemberian vitamin A dosis tinggi sebanyak 2 kali dan
layanan SDIDTK juga sebankyak 2 kali
b. Imunisasi
Setiap Bulan Desember, dilakukan pendataan bayi real, sasaran akhir
tahun (berkaitan dengan jumlah penduduk dan bayi lahir tahun lalu) dan
13

surviving infant. Bayi real yaitu semua bayi yang lahir dalam setahun dikurangi
bayi yang mati dan/ pindah. Surviving infant yaitu semua bayi yang berada di
wilayah tersebut selama setahun. Angka estimasi tahun berikutnya dihitung
dengan rumus:
Setelah

menghitung

angka

estimasi,

petugas

puskesmas

akan

menghitung kebutuhan logistik berupa vaksin, Auto Disable Syringe (ADS) dan
safety box. Puskesmas akan mengambilnya di Dinas Kesehatan Kabupaten
(DKK) tiap bulan sesuai kebutuhan. Ada 3 pos pelaksana program imunisasi,
yaitu Bidan Praktek Mandiri (BPM), Poliklinik Desa (PKD) dan posyandu
induk.
Kabupaten Karanganyar merupakan satu-satunya yang melakukan
pelatihan imunisasi. Tiap individu yang telah mengikuti pelatihan ini akan
mendapatkan sertifikat imunisasi. Sertifikat inilah yang menjadi syarat
seseorang dapat memberikan suntikan imunisasi. Seringkali, Karanganyar juga
dijadikan tujuan studi banding oleh negara mancanegara, misalnya Thailand.
Salah satu hal menarik di kabupaten ini ialah adanya kartu kreatif penanda
imunisasi yang disediakan di BPM/PKD. Kartu ini dilengkapi gambar tanpa
warna yang disesuaikan jenis kelamin bayi. Pasca pemberian imunisasi, gambar
tersebut akan diberi warna mulai dari kaki hingga kepala sehingga apabila bayi
tersebut sudah melengkapi imunisasi rutin, maka gambar tersebut akan
berwarna utuh. Pengadaan kartu ini hanya inisiatif dari para bidan/perawat di
BPM/PKD Kabupaten Karanganyar.
Berdasarkan sifat penyelenggaraannya,

imunisasi

dikelompokkan

menjadi imunisasi wajib dan pilihan. Imunisasi wajib merupakan imunisasi


yang diwajibkan oleh pemerintah untuk seseorang sesuai dengan kebutuhannya
dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari
penyakit menular tertentu. Imunisasi pilihan merupakan imunisasi yang dapat
diberikan kepada seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka
melindungi yang bersangkutan dari penyakit menular tertentu, misalnya
imunisasi MMR, HPV dan hepatitis A.
Imunisasi wajib terdiri atas imunisasi rutin, yaitu kegiatan imunisasi
yang dilaksanakan secara terus-menerus sesuai jadwal; imunisasi tambahan,
yaitu kegiatan imunisasi yang diberikan pada kelompok umur tertentu yang
paling berisiko terkena penyakit sesuai kajian epidemiologis pada periode waktu
14

tertentu; imunisasi khusus, yaitu kegiatan imunisasi yang dilaksanakan untuk


melindungi masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu, antara
lain calon jemaah haji/umroh, persiapan perjalanan menuju negara endemis
penyakit tertentu dan kondisi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar
diberikan pada bayi sebelum berusia 1 tahun, misalnya BCG, DPT-HB/DPTHB-Hib (pentavalen), polio dan campak. Imunisasi lanjutan merupakan
imunisasi

ulangan

untuk

mempertahankan

tingkat

kekebalan/

untuk

memperpanjang masa perlindungan. Jenis imunisasi ini dapat diberikan pada


anak usia kurang dari 3 tahun (DPT-HB/DPT-HB-Hib dan campak), anak usia
sekolah dasar yang diberikan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (DT, campak
dan Td), dan pada wanita usia subur (TT).
1) Vaksin BCG mengandung bakteri yang dilemahkan. Vaksin ini diberikan
pada bayi usia kurang dari 1 bulan. Dosis pemberian 0,05 ml pada bayi dan
0,1 ml pada anak secara IK, disuntikkan pada lengan kanan atas,
pertengahan M. Deltoideus. Apabila bayi usia lebih dari 2 bulan belum
mendapatkan vaksin BCG, maka harus dilakukan Mantoux test terlebih
dahulu. Hasil negatif langsung dapat diberikan vaksin BCG segera, tetapi
jika hasil positif, vaksin BCG ditunda dulu dengan diberikan pengobatan
terlebih dahulu. Pemberian vaksin BCG harus dilarutkan. Pelarut yang
digunakan harus dimasukkan dalam lemari pendingin 24 jam sebelum
digunakan. Hal inilah yang terkadang disepelekan oleh petugas medis
lainnya sehingga insidensi kasus TB masih tinggi meskipun saat bayi sudah
diberikan vaksin BCG. Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan
sebelum lebih dari 3 jam. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang
mungkin terjadi yaitu pada tempat penyuntikan akan meninggalkan luka
parut. Kontraindikasi vaksin BCG antara lain Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) dan kondisi immunocompromise misalnya B20.
2) Vaksin DPT-HB-Hib (pentavalen), merupakan pengganti vaksin DPT-HB.
Berdasarkan kajian dari Regional Review Meeting on Immunization WHO
dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) tahun
2010, merekomendasikan vaksin Hib diintegrasikan dalam program
imunisasi nasional untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas bayi dan
balita akibat pneumonia dan meningitis. Strategic Advisory Group of
15

Experts on Immunization (SAGE) merekomendasikan kombinasi vaksin


Hib dengan DPT-HB menjadi vaksin DPT-HB-Hib (pentavalen) untuk
mengurangi jumlah suntikan pada bayi. Vaksin ini diberikan sebanyak 3
kali, dapat diulang pada usia 18 bulan. Dosis pertama diberikan pada usia 011 bulan, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4 minggu atau 1
bulan dari pemberian dosis sebelumnya. Dosis pemberian 0,5 ml secara IM,
disuntikkan di paha kanan anterolateral pada bayi dan di lengan kanan atas
pada batita saat imunisasi lanjutan. Sisa vaksin pentavalen masih dapat
digunakan maksimal 6 hari setelah dibuka selama tanggal belum kadaluarsa
dan belum ada perubahan warna. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
yang mungkin terjadi meliputi reaksi lokal seperti bengkak, nyeri,
kemerahan, dan demam. Kontraindikasi vaksin pentavalen yaitu demam
(kontraindikasi terhadap komponen pertusis).
3) Vaksin polio, terdiri dari oral (OPV) dan injeksi (IPV). Vaksin polio oral
mengandung virus yang masih hidup tetapi telah dilemahkan, sedangkan
vaksin polio injeksi mengandung komponen virus yang sudah mati. Pada
tahun 2014, Indonesia mendapat sertifikat bebas polio dari World Health
Organization (WHO). Sertifikat ini bukan berarti Indonesia boleh berhenti
waspada. Pasalnya, masih ada virus yang mungkin datang dari negaranegara yang belum bebas polio. Untuk mempertahankan status bebas polio,
Maret kemarin, pemerintah melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).
Vaksin oral tetap berlaku di seluruh Indonesia dengan pengecualian
Yogyakarta. Rencananya, pada Bulan Juli 2016, Indonesia akan
melaksanakan introduksi 1 dosis IPV ke dalam program imunisasi rutin,
kecuali Yogyakarta, yang telah melaksanakan sejak tahun 2007. Semua bayi
harus mendapatkan 1 dosis IPV terbaik pada usia 4 bulan bersamaan
dengan pemberian OPV dan pentavalen. Dosis pemberian 0,5 ml secara IM,
disuntikkan di paha kiri bagian luar. Dalam strategi global eradikasi polio,
Indonesia mengganti vaksin polio tetes trivalen (tOPV) menjadi vaksin
polio tetes bivalen (bOPV) mulai Bulan April 2016. tOPV mengandung tiga
serotipe yaitu serotipe 1, 2 dan 3. Namun, karena virus polio liar tipe 2
sudah lama tidak ditemukan, maka kemudian vaksin tOPV diubah menjadi
bOPV yang mengandung dua serotipe yaitu serotipe 1 dan 3. Sisa vaksin
polio tidak dapat digunakan kembali jika telah berubah warna. Alat pantau
16

yang digunakan yaitu Vaccine Vial Monitor (VVM), berupa gambar


lingkaran berwarna ungu dengan segi empat didalamnya. VVM terdiri dari
VVM A, yaitu warna kotak masih putih dari lingkaran sekitar (bila belum
kadaluwarsa, boleh digunakan); VVM B, yaitu warna vaksin berubah lebih
gelap tapi masih lebih terang dari lingkaran sekitar (bila belum
kadaluwarsa, segera gunakan vaksin); VVM C, yaitu warna vaksin sama
gelapnya dengan lingkaran sekitar (jangan digunakan); VVM D, yaitu
warna vaksin lebih gelap dari lingkaran sekitar (jangan digunakan).
Perubahan warna yang terjadi pada VVM akibat paparan panas.
Kontraindikasi vaksin polio yaitu diare karena vaksin per oral akan melalui
saluran cerna. Selain itu, karena vaksin polio oral berisi virus yang
dilemahkan, anak yang daya tahan tubuhnya sedang lemah saat pemberian
vaksin, bisa saja terinfeksi virus yang dilemahkan tersebut. Virus yang
masih hidup namun telah dilemahkan juga dapat keluar melalui feses
sehingga ada kemungkinan menularkan ke orang lain.
4) Vaksin campak diberikan saat usia 9 bulan, dapat diulang pada usia 2 tahun.
Apabila anak belum pernah mendapatkan imunisasi campak sebelumnya,
maka pemberian imunisasi lanjutan campak dianggap sebagai dosis
pertama. Selanjutnya, dosis kedua diberikan minimal 6 bulan setelah dosis
pertama. Sama seperti vaksin BCG, pemberian vaksin campak juga harus
dilarutkan. Pelarut yang digunakan harus dimasukkan dalam lemari
pendingin 24 jam sebelum digunakan. Vaksin yang sudah dilarutkan harus
digunakan sebelum lebih dari 6 jam. Dosis pemberian 0,5 ml secara SK,
disuntikkan pada lengan kiri atas, pertengahan M. Deltoideus. Kejadian
Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mungkin terjadi meliputi reaksi lokal
seperti bengkak, nyeri, kemerahan, dan demam. Kontraindikasi vaksin
campak

yaitu

demam.

Penyakit

campak

sangat

potensial

untuk

menimbulkan wabah, bahkan, berdasarkan data Puskesmas Karangpandan


tahun 2015, wilayah Karangpandan menjadi wilayah Kejadian Luar Biasa
(KLB) campak.
Setelah anak mendapatkan imunisasi lengkap maka akan diberikan
sertifikat imunisasi.
Setiap awal bulan, Puskesmas Karangpandan akan mengambil kebutuhan
vaksin di DKK Kabupaten Karanganyar. Semua vaksin akan disimpan di
17

puskesmas untuk didistribusikan ke BPM, PKD dan posyandu induk. Vaksin


tidak disimpan langsung di BPM atau PKD karena keterbatasan lemari
pendingin. Kedua pos ini hanya menyimpan vaksin BCG dan TT karena
kejadian partus dan ibu hamil akan datang sewaktu-waktu. Di DKK,
penyimpanan vaksin di suhu kurang dari 00C karena di-stock untuk 6 bulan,
sedangkan di puskesmas, penyimpanan vaksin di suhu antara 2-80C karena
hanya di-stock untuk 2 minggu. Penyimpanan vaksin pentavalen dan TT di
dalam lemari pendingin harus jauh dari bagian freezer karena vaksin tersebut
akan rusak bila beku.
Dalam rangka pemantauan dan penanggulangan KIPI, pemerintah
membentuk Komnas PP KIPI dan pemerintah daerah provinsi membentuk
Komda PP KIPI. Keanggotaan keduanya terdiri atas unsur perwakilan dokter
spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis forensik,
farmakolog, vaksinolog dan imunolog. Apabila masyarakat mengetahui adanya
dugaan terjadinya KIPI, harus melapor kepada pelaksana pelayanan imunisasi,
puskesmas atau dinas kesehatan setempat. Mereka yang menerima laporan
tersebut harus melakukan investigasi. Hasil investigasi harus segera dilaporkan
secara berjenjang kepada Komda PP KIPI melalui Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dan kepada Komnas PP KIPI melalui Direktur Jenderal oleh
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Hal ini guna dilakukan pengkajian kausalitas
KIPI.
Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) sudah dilaksanakan pada
tanggal 8-15 Maret 2016. Tempat pelaksanaan imunisasi dilaksanakan di semua
pelayanan imunisasi, kecuali di Yogyakarta, di bawah koordinasi dinas
kesehatan setempat. Pendistribusian logistik ke puskesmas paling lambat 1
minggu sebelum pelaksanaan PIN. Program ini dilaksanakan kurang lebih
selama 4 jam, namun dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
PIN 2016 masih memakai vaksin polio oral, diberikan sebanyak 2 tetes.
Sasarannya adalah anak sehat berusia 0-59 bulan tanpa memperhatikan
imunisasi polio sebelumnya, tetapi tetap memperhatikan interval pemberian
vaksin (4 minggu atau 1 bulan). Bila anak sedang demam atau sakit berat
lainnya maka imunisasi polio oral ditunda hingga anak tersebut sembuh. Untuk
mengantisipasi terjadinya kasus KIPI yang serius maka sasaran dan
orangtua/pengasuh diminta untuk tetap tinggal di pos pelayanan imunisasi
18

selama 30 menit setelah imunisasi dan petugas harus tetap berada di pos
minimal 30 menit setelah sasaran terakhir diimunisasi. Pencatatan kegiatan PIN
polio harus terpisah dari pencatatan imunisasi rutin, dilaporkan setiap hari dan
direkapitulasi setelah PIN polio berakhir. Pelaporan dilakukan berjenjang.
Pemantauan dan pembinaan dilakukan secara terus menerus, baik sebelum PIN,
saat PIN dan setelah PIN oleh supervisor. Jumlah puskesmas yang disupervisi
adalah minimal 50% dari total puskesmas. Pemilihan puskesmas yang akan
disupervisi berdasarkan kriteria tingkat kesulitan jangkauan atau diutamakan
daerah yang berisiko tinggi (cakupan polio rutin<80%, daerah kumuh, padat
penduduk, pernah terjadi KLB). Setiap selesai pelayanan imunisasi, kader
mengidentifikasi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi polio dan
menyampaikannya pada tenaga pelaksana imunisasi untuk melakukan sweeping
segera setelah pelayanan berakhir atau dalam kurun waktu maksimal 3 hari.
Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) biasanya dilaksanakan
tiap Bulan Juli dan Desember. Sasarannya adalah anak usia 7 tahun, diberikan
vaksin campak pada Bulan Juli dan vaksin DT pada Bulan Desember. Anak usia
8 dan 9 tahun diberikan vaksin Td pada Bulan Desember. Bedanya vaksin DT
dan Td yaitu dalam 0,5 ml vaksin DT mengandung vaksin difteri dan tetanus
dengan perbandingan 50%:50%, sedangkan dalam 0,5 ml vaksin Td
mengandung vaksin difteri hanya sepertiga dari komponen difteri di vaksin DT.
Setelah anak mengikuti program ini secara lengkap maka akan diberikan kartu
sebagai bukti.
Program TT 5 dosis merupakan suatu program pemberian vaksin pada
Wanita Usia Subur (WUS) usia 15-39 tahun pada 5 momen, yaitu saat mau
menikah, 1 bulan setelah vaksin TT pertama, 6 bulan setelah vaksin TT kedua, 1
tahun setelah vaksin TT ketiga dan 1 tahun setelah vaksin TT keempat. Hal ini
guna melindungi bayi yang akan dilahirkan nantinya, karena kejadian tetanus
neonatorum terjadi akibat kontaminasi spora clostridium tetani pada luka tali
pusar bayi baru lahir saat pemotongan tali pusar ataupun pada saat perawatan
tali pusar. Melalui program ini, ibu hamil tidak perlu lagi mendapatkan vaksin
TT. Apabila telah mengikuti program TT 5 dosis secara lengkap, kekebalan yang
terjadi selama 25 tahun dan mereka akan mendapatkan kartu sebagai bukti.
Namun, apabila ia sudah mengikuti program BIAS secara lengkap sebelumnya,
maka ia hanya mendapatkan vaksin TT sebanyak 2 kali saja saat ingin menikah,
19

dengan interval 1 tahun. Hal ini dikarenakan program BIAS sudah meng-cover
3 vaksin TT.
Berdasarkan data tahun 2012, masih terdapat 31 negara yang belum
mencapai Eliminasi Tetanus Maternal Neonatal (TMNE), termasuk Indonesia.
Eliminasi TN dicapai apabila di suatu wilayah Kabupaten/Kota mempunyai
jumlah kasus TN kurang dari 1 per 1000 bayi lahir hidup. Kegiatan akselerasi
imunisasi TT WUS di suatu Kabupaten/Kota dihentikan apabila rata-rata lebih
dari 80% WUS telah mempunyai status TT 5.
Kabupaten Karanganyar belum mencapai target BIAS 99%, dikarenakan
Kabupaten Karanganyar merupakan kabupaten dengan reaksi penolakan
imunisasi paling tinggi se-Indonesia. Meskipun Kabupaten Karanganyar
memiliki pelatihan imunisasi tetapi kepercayaan bahwa imunisasi itu haram
juga masih tinggi, ditunjang dengan pendidikan masyarakat yang rendah dan
kejadian 3T (terlalu dini, terlalu tua dan terlalu sering). Awalnya, penolakan
yang terjadi hanya terhadap imunisasi rutin, kemudian berkembang ke semua
program imunisasi lainnya. Indikator imunisasi dianggap baik jika mencapai
Universal Child Immunization (UCI) 95%. Beberapa faktor yang menyebabkan
tidak tercapainya UCI 95% di Kabupaten Karanganyar sebelumnya, antara lain
reaksi penolakan, drop-out dan belum waktunya diberikan vaksin tertentu.
Misalnya, bayi yang lahir pada Bulan Oktober tidak mungkin dapat diberikan
vaksin campak pada Bulan Desember. Hal ini seringkali terjadi dan sangat
berpengaruh terhadap menurunnya capaian UCI. Oleh karena itu, perhitungan
UCI yang sekarang dihitung dengan cara:
Penyelenggaraan imunisasi wajib dicatat dan dilaporkan, yang meliputi
cakupan imunisasi, stok dan pemakaian vaksin, monitoring suhu dan kasus KIPI
atau diduga KIPI. Pencatatan pelayanan imunisasi dilakukan di buku Kesehatan
Ibu dan Anak (KIA), rekam medis dan/ kohort. Semua pos (BPM, PKD dan
posyandu induk) akan melakukan pelaporan kepada binwil, kemudian binwil
akan merekap data per dusun dan desa. Pelaporan selanjutnya masuk ke
puskesmas, yang nantinya akan dilakukan rekapan Pemantauan Wilayah
Setempat (PWS), kemudian dilaporkan ke DKK lalu provinsi.
c. KB, KRR, KTA dan Lansia

20

Program Keluarga Berencana (KB) merupakan bagian dari program


KIA. Program ini diketuai oleh seorang pemegang program. Ketua program KB
membawahi empat program kerja utama yaitu keluarga berencana (KB),
kesehatan reproduksi remaja (KRR), kekerasan terhadap anak dan perempuan
(KTA), dan lansia.
1.

Keluarga Berencana (KB)


Program KB bekerjasama dengan BP3AKB dalam hal penyediaan
alat kontrasepsi. Jenis kontrasepsi yang disediakan adalah pil, implan,
kondom, suntik, AKDR, MOW, dan MOP. Pelaksanaan KB tidak hanya
dilakukan di puskesmas, tetapi dapat dilakukan di tempat bidan praktek
mandiri (BPM) atau di bidan wilayah (binwil). Binwil dan BPM akan
mengambil alat kontrasepsi ke puskesmas. Pasien yang memiliki BPJS
dapat menggunakan alat kontrasepsi secara gratis.
Target peserta KB adalah 75% dimana sasarannya adalah Pasangan
Usia Subur (PUS). Sampai bulan Mei capaian pelaksanaan program KB
adalah 80% dari total PUS.
Kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan program KB adalah
adanya warga yang menganut paham tidak boleh KB dan menutup diri
terhadap kader / petugas puskesmas. Daerah Gerdu merupakan daerah
paling banyak yang tidak mengikuti program KB karena dekat dengan
wilayah pesantren.
Sistem pelaporannya terbagi menjadi dua
a. Laporan dari bidan wilayah ke puskesmas
b. Laporan kader PKBRT ( Paguyuban Keluarga Berencana tingkat
RT ) ke BP3AKB ( Badan Pemberdayaan Perempuan,
Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana ). PKBRT
merupakan kader yang dikoordinir oleh BP3AKB yang kemudian
dilakukan pembinaan kader oleh puskesmas bersama dengan
BP3AKB.

2.

Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR)


Program kesehatan reproduksi remaja salah satu kegiatannya adalah
pembentukan Konselor Sebaya. Sampai saat ini sudah terbentuk 20
konselor. Kegiatan rutin yang dilakukan adalah penyuluhan Kesehatan
Reproduksi di SMP dan SMA bersama dengan petugas Promkes (NAPZA

21

dan HIV AIDS). Jumlah SMP dan SMA di Kecamatan Karangpandan


adalah 6 SMP dan 3 SMA.
Konselor Sebaya adalah siswa yang dipilih dan dibina oleh
puskesmas pada awal semester dan dievaluasi pada akhir semester, sebagai
tangan panjang puskesmas apabila ada siswa yang ingin berkonsultasi
masalah kesehatan reproduksi.
Alur diadakannya kegiatan penyuluhan Kesehatan Reproduksi
adalah pertama-tama petugas Promkes mendatangi Dikpora Kecamatan
untuk menanyakan jeda KBM sekolah. Kemudian mengkoordinasikan
dengan dokter dan petugas Kesehatan Reproduksi dan menyesuaikan
jadwal dari sekolah. Target terbentuknya Konselor Sebaya sejumlah 20%
dari total siswa. Namun saat ini belum memenuhi target dikarenakan
3.

beberapa hal antara lain keterbatasan tenaga dan keterbatasan dana.


Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan (KTA)
Kasus kekerasan pada anak dan perempuan (KTA) menurut warga
merupakan kasus yang tabu untuk dibicarakan, sehingga sangat sedikit
kasus yang tercatat karena kebanyakan korban menyembunyikan kasus
tersebut. Evaluasi program ini adalah apabila petugas puskesmas / kader
mengetahui adanya kasus KTA maka harus dilaporkan namun hanya berupa
angka (jumlah) dengan tidak menyebutkan nama korban. Laporan tersebut
dilaporkan ke DKK. Saat ini sudah terbentuk Rumah Aman yang
bekerjasama dengan LSM dan BP3AKB. Rumah ini difungsikan untuk para
korban dan alamat rumah ini disembunyikan.

4.

Lansia
Wilayah kerja Puskesmas Karangpandan terdapat 27 posyandu
lansia (poslan). Dimana penanggung jawab penuh kegiatan poslan adalah
bidan wilayah (binwil). Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan
posyandu balita. Posyandu lansia menyediakan pelayanan timbang berat
badan, pengukuran tekanan darah, penyuluhan, dan senam lansia. Di Desa
Harjosari dilakukan iuran perKK kemudian uang iuran tersebut dikelola
oleh PKD untuk dibelikan obat-obatan yang bisa disediakan saat poslan.
Target Posyandu Lansia adalah 70%, namun capaiannya sampai
bulan Mei adalah 59,42%. Rendahnya capaian tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor antaralain :
a. Kesadaran masyarakat tentang kesehatan masih kurang.
b. Rumah yang jauh dari lokasi posyandu dan tidak adanya transportasi
22

3. Gizi
Program gizi di puskesmas dibedakan menjadi dua, gizi institusi dan gizi
masyarakat. Gizi institusi meliputi sekolah, perusahaan dan pondok pesantren,
sedangkan gizi masyarakat meliputi posyandu balita.
Pada tingkat sekolah dilakukan penjaringan status gizi dan anemia. Kegiatan
ini dilakukan sekali tiap tahun, biasanya di Bulan September atau Oktober.
Sasarannya yaitu siswa/i SD, SMP dan SMA kelas 1. Penjaringan status gizi
dilakukan dengan mengukur berat badan (BB) dan tinggi badan (TB), kemudian
diklasifikasikan berdasarkan WHO tahun 2005. Indikator-indikator yang digunakan,
yaitu BB/U, PB/U, BB/TB dan IMT/U. Berdasarkan data yang terkumpul saat ini,
kondisi stunting masih mendominasi. Oleh karena itu, puskesmas melakukan
beberapa upaya, seperti memotivasi orangtua/wali murid guna meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran mereka akan pentingnya asupan protein, terutama di usia
dini (20 minggu pertama). Selain itu, juga memberikan himbauan agar terbiasa
membawakan bekal makan siang untuk anak, serta himbauan untuk menghindari
jajanan di lingkungan sekolah.
Anemia pada anak usia sekolah diantisipasi dengan melakukan pemeriksaan
Hb sahli, dimana dianggap anemia jika kadar Hb kurang dari 11 gr/dl. Namun,
pemberian tablet tambah darah belum bisa dilakukan puskesmas karena alur
pemberiannya harus melalui Sistem Informasi Managemen Puskesmas (SIMPUS).
Untuk saat ini, program pemberian tablet tambah darah oleh puskesmas hanya untuk
ibu hamil. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan puskesmas melalui koordinasi
dengan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) agar bersedia menyediakan tablet tambah
darah dan mengusulkan sekolah untuk mengadakan acara makan bersama di
sekolah. Tablet tambah darah untuk remaja putri diberikan 1 tablet per hari selama
haid dan 1 tablet per minggu. Kasus anemia pada remaja putri seringkali terjadi
akibat di usia yang beranjak dewasa tersebut, mereka menerapkan pola diet atau
memiliki kebiasaan minum teh setelah makan, dimana teh mengandung tanin, yang
akan menghambat proses absorbsi zat besi. Apabila didapatkan anak usia sekolah
dengan anemia maka segera dirujuk. Pada kasus seperti ini, juga biasanya dilakukan
pemeriksaan feses untuk mengetahui apakah ada infeksi cacing atau tidak. Pada
tingkat SMA, selain dilakukan pemeriksaan Hb sahli, juga dilakukan pemeriksaan
golongan darah.
Pemeriksaan penggunaan garam beriodium di tingkat rumah tangga dilakukan
pada siswa/i kelas 4 dan 5. Program ini dilakukan dengan cara meminta semua
23

murid membawa garam secukupnya yang biasa dipakai orangtuanya, kemudian


masing-masing garam tersebut diuji dengan reagen tertentu, ada perubahan warna
atau tidak. Penggunaan garam tidak beriodium biasanya ditemukan pada masyarakat
yang memelihara hewan ternak atau pada home-industry karak. Masyarakat yang
memelihara hewan ternak cenderung memilih garam dengan harga yang murah
tanpa mempertimbangkan kadar iodiumnya, sedangkan pada karyawan homeindustry karak banyak ditemukan kasus pembesaran kelenjar tiroid.
Saat ini, program gizi rutin belum dapat dilakukan di perusahaan ataupun di
pondok pesantren. Hal ini dikarenakan masih sulitnya proses perijinan di lingkup
tersebut.
Program gizi masyarakat dilakukan di 11 desa dengan 69 posyandu balita.
Penilaian dilakukan terhadap status gizi balita, tingkat partisipasi masyarakat dan
capaian program. Program ini dilakukan bidang gizi bersama dengan poli gigi, poli
tumbuh kembang dan bidang promkes. Tatalaksana balita gizi buruk di tingkat
puskesmas:
a. Jika ditemukan balita gizi buruk maka dilakukan konseling selama 1 bulan, jika
tidak ada perbaikan, akan dilakukan pemeriksaan medis untuk mengidentifikasi
penyebab lainnya, jika masih belum dapat teratasi maka lakukan rujukan
b. Setelah dilakukan konseling, dibawa ke klinik tumbuh kembang. Biasanya
petugas puskesmas akan meminta penjaga balita untuk memasak makanan yang
biasa dimasak lalu menyuapi balitanya. Petugas puskesmas akan melihat
balitanya mau menerima atau tidak
c. Petugas puskesmas juga akan melakukan kunjungan rumah untuk memeriksa
informasi bahan makanan yang dimasak orangtua/ pengasuh sesuai tidak dengan
kondisi di rumah
d. Pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan selama 90 hari,
jika membaik maka intervensi dapat dialihkan ke sasaran lainnya, jika belum
membaik dapat dilanjutkan. Kendala yang seringkali terjadi adalah PMT yang
seharusnya diberikan untuk balita gizi buruk malah dimakan untuk sekeluarga
Kasus gizi buruk pada balita disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain
asuhan nenek dimana seringkali menganggap pemberian makan hanya supaya bayi
tidak rewel sehingga kurang memperhatikan zat gizi, penyakit lain (sering akibat
suspek TB) atau karena orangtua/ pengasuh tidak sabar menyuapi.
Program ASI eksklusif sudah baik dari segi promkes, sedangkan dari segi gizi
masih rendah. Artinya, masyarakat sudah memiliki pengetahuan yang tepat
mengenai pemberian ASI eksklusif bayi kurang dari 6 bulan tetapi kesadaran untuk
24

melakukannya masih sangat kurang. Hal ini disebabkan oleh ibu yang sibuk bekerja,
ASI yang tidak bisa keluar, memiliki kepercayaan bahwa jika bayi tidak segera
diberikan ASI maka suhu tubuhnya akan meningkat atau jika bayi sudah terbiasa
diberikan ASI, nantinya tidak akan mau diberikan makanan tambahan (MT) dan/
susu formula.
Pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu meliputi konseling ibu hamil anemia
dan/ Kurang Energi Kronis (KEK). Ibu hamil dianggap KEK jika memiliki lingkar
lengan (LILA) kurang dari 23,5 cm. Awalnya, pencatatan data dari posyandu
dilaporkan ke puskesmas, kemudian petugas puskesmas akan melakukan kunjungan
lapangan sekaligus pemberian edukasi terkait ANC terpadu. Program ANC terpadu
dilakukan pada kehamilan trimester pertama dan ketiga, berkoordinasi dengan
petugas laborat, poli gigi, bidang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Voluntary
Counseling Test (VCT). Apabila ditemukan ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari
9 gr/dl, harus diberikan motivasi untuk melakukan persalinan di rumah sakit.
Berdasarkan data puskesmas, mayoritas anemia dialami oleh Wanita Usia Subur
(WUS) yang bekerja di perusahaan. Hal ini disebabkan oleh aturan dilarangnya
membawa bekal, hanya diperbolehkan membawa air putih dan kebiasaan tidak
sempat sarapan. Upaya yang sudah dilakukan puskesmas yaitu mengusulkan ke
kabupaten agar setiap perusahaan menyediakan klinik untuk pemeriksaan kesehatan
rutin dan/ dapur serta koordinasi mengenai status gizi harus dipastikan baik dan
tidak ada anemia dan/ KEK sebelum konsepsi. Upaya-upaya ini turut mendapat
dukungan dari bupati, yang juga menyarankan calon pengantin mengikuti pelatihan
terlebih dahulu.

4. P2P ( Pengendalian Dan Pencegahan Penyakit )


Salah satu program pokok Puskesmas adalah pengendalian dan pencegahan
penyakit (P2P), yang terbagi menjadi Penyakit Menular (PM) dan Penyakit Tidak
Menular (PTM).
a. Penyakit Menular
Data kasus PM terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Karangpandan
adalah ISPA dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Tahapan Penanggulangan PM :
1) Pencegahan
a) Promosi kesehatan

25

Pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dengan promosi


kesehatan di Karangpandan dilakukan oleh Bagian Promkes (Promosi
Kesehatan) Puskesmas. Namun jika muncul suatu kasus baru di
Karangpandan, Tim P2P akan terjun langsung dalam melakukan
promosi kesehatan, seperti contohnya disaat terjadinya kasus Flu
Burung di wilayah kerja Puskesmas Karangpadan.
b) Surveilans kesehatan
Merupakan suatu rangkaian proses yang terus menerus,
sistematik dan berkesinambungan dalam pengumpulan data, analisa
dan interpretasi data kesehatan dalam upaya untuk menguraikan dan
memantau

suatu

peristiwa

kesehatan

agar

dapat

dilakukan

penanggulangan yang efektif dan efisien terhadap masalah kesehatan


tersebut ( Dirjen P2P dan Penyehatan Lingkungan, 2003)
Tahapan :
Pengumpulan data
Pengolahan data, analisis dan interpretasi
Umpan balik dan disseminasi yang baik serta respon yang cepat
Pelaksanaan surveilans kesehatan di Puskesmas Karangpandan
oleh P2P dilakukan dengan pengumpulan data dari SIMPUS ( Sistem
Informasi dan Manajemen Puskesmas ) yang sudah terintegrasi di
seluruh bagian Puskesmas Karangpandan. Selain melalui SIMPUS,
pengumpulan data juga secara aktif melibatkan Bidan Wilayah yang
secara mingguan melaporkan kejadian penyakit di wilayah kerja
masing-masing wilayah kerja Bidang Wilayah. Data ini juga digunakan
untuk Deteksi Dini sebelum terjadiya KLB sehingga KLB bisa dicegah.
Pencegahan dengan Deteksi Dini ini melibatkan stakeholder langsung
dengan Dinas Kesehatan Provinsi, sehingga keputusan tatalaksana
pencegahan KLB bila dilakukan lebih cepat.
c) Pemberian kekebalan/imunisasi
Kegiatan yang dimaksud dalam hal ini adalah dengan
pemberian imunisasi rutin, imunisasi tambahan, dan imunisasi khusus.
Kegiatan ini dilakukan oleh Bagian Operasional Imunisasi
d) Pengendalian faktor risiko
Merupakan cara untuk memutus rantai penularan dengan :

26

Perbaikan kualitas media lingkungan ; meliputi perbaikan kualitas


air, udara, tanah, sarana dan bangunan, serta pangan agar tidak

menjadi tempat berkembangnya agen penyakit.


Pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit
Rekayasa lingkungan ; dilakukan paling sedikit dengan kegiatan

rehabilitasi lingkungan secara fisik, biologi maupun kimiaawi


Peningkatan daya tahan tubuh ; paling sedikit dengan perbaikan

gizi masyarakat
e) Penemuan kasus secara aktif dan pasif
Secara aktif yaitu dilakukan dengan cara petugas kesehatan
datang langsung ke masyarakat dengan atau tanpa informasi dari
masyarakat, untuk mencari dan melakukan identifikasi kasus.
Sedangkan penemuan secara pasif dilakukan melalui pemeriksaan
penderita penyakit menular yang datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan. Penemuan kasus di wilayah kerja Puskesmas Karangpandan
dilakukan secara aktif dengan melibatkan Binwil dan secara pasif
dilakukan disaat penderita melakukan pemeriksaan di Puskesmas atau
fasilitas kesehatan lain yang selanjutnya informasi kasus tersebut
diberikan kepada pihak Puskesmas.
2) Penanganan kasus
Penanganan kasus bertujuan untuk memutus mata rantai penularan
dan/atau pengobatan penderita. Kegiatan ini dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang berwenang di fasilitas kesahatan dalam hal ini Puskesmas.
Pemutusan rantai penularan yang paling banyak dilakukan oleh P2P
Puskesmas Karangpandan adalah rantai penlaran penyakit DBD yaitu
dengan dilakukan penyelidikan epidemiologi pada lingkungan radius 100
meter di sekitar lokasi ditemukannya pasien DBD yaitu dengan PSN dan
edukasi ke lokasi keluarga yang teridentikasi jentik nyamuk. Selain DBD,
pemutusan rantai penularan juga dilakukan pada penyakit Diare dengan
penggalakan SBS ( Stop Buang Air Besar Sembarangan ) yang dilakukan
oleh Bagian Operasional Kesehatan Lingkungan (Kesling) Puskesmas.
Penanganan kasus yang dilakukan oleh Puskesmas Karangpandan
yaitu perawatan pasien, pengobatan

penyakit dan rujukan yang

dilaksanakan oleh bagian Pelayanan Kesehatan (Yankes) Puskesmas.


Program penanganan kasus penyakit menular di wilayah kerja Puskesmas
Karangpandan :
27

1) TB
Jumlah penderita TB di wilayah kerja Puskesmas Karangpandan
pada bulan Januari-Mei 2016 adalah 7 pasien, dimana pada tahun 2015
terdapat 19 pasien, baik pasien dengan katgori I atau II. Di Puskesmas
Karangpandan belum menemukan kasus pasien dengan MDRTB.
Pemeriksaan dahak (BTA) sudah dilakukan kepada 63 suspek, dimana 5
orang dijaring pada saat pelaksanaan kegiatan Gerdu TB dan 58 orang
dijaring pada saat pasien periksa ke puskesmas. Pasien yang periksa ke
puskesmas dan memiliki keluhan mengarah ke TB akan dilakukan
pemeriksaan dahak. Data yang sudah tercatat adalah bulan Januari-Maret
dan terdapat 58 orang sebagai suspek TB yang kemudian diperiksa dahak
(BTA). Dari 63 suspek TB yang diperksa dahaknya terdapat 7 orang yang
positif menderita TB. Sedangkan untuk data dari bulan April-Juni belum
dilaporkan.

28

Rumus menghitung angka penjaringan suspek TB adalah :


Jumlah suspek TB yang diperiksa
Jumlah penduduk

x 100.000

Rumus menghitung sasaran ( jumlah penderita TB BTA positif ) :


Jumlah pasien TB BTA positif yang ditemukan
Jumlah suspek TB yang diperiksa

x 100.000

Sasaran/ target penderita TB di wilayah kerja Puskesmas


Karangpandan masih dibawah 50%, hal tersebut dikarenakan antara lain :
a) Pasien memeriksakan dirinya langsung ke RSUD atau ke BPKPM
sehingga tidak tercatat oleh puskesmas
b) Efek dari pasien yang tidak mau kembali saat disarankan untuk
pemeriksaan dahak.
Program TB
Program/kegiatan yang dilaksanakan oleh petugas Program TB
terbagi menjadi 2 yaitu yang mendapat dana dari BOK (Gerdu TB dan
Kontak serumah pasien TB) dan dana dari Jamkesnas ( Kelas TB).
a) Gerdu TB
Gerakan peduli TB (Gerdu TB) adalah suatu program yang
bertujuan untuk melakukan penjaringan kepada penderita TB. Desa
yang dijaring adalah desa yang paling sedikit ditemukan penderita TB
karena

ditakutkan

adanya

penderita

yang

tidak

terdeteksi

(tersembunyi). Kegiatan yang dilakukan pada saat Gerdu TB antara


lain penyuluhan, penimbangan berat badan, anamnesis untuk keluhan,
dan pemeriksaan dahak untuk warga yang memiliki indikasi TB.
Indikasi pemeriksaan dahak menurut Kemenkes (2014) apabila
memiliki gejala : batuk berdahak selama 2 minggu/lebih, dimana batuk
dapat diikuti dengan gejala tambahan berupa dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan turun, berat badan
turun, berkeringat malam dari, demam meriang.
Gerdu TB dilaksanakan satu tahun tiga kali. Pelaksanaan yang
pertama adalah pada bulan April di Desa Karangpandan. Sedangkan
29

Gerdu TB kedua dan ketiga belum dilaksanakan. Petugas puskesmas


mengirimkan surat pemberitahuan kepada Kepala Desa Karangpandan
untuk mengundang 40 warganya ke Balaidesa Karangpandan.
Kemudian dilakukan anamnesis dan ditemukan 5 suspek TB. Namun,
setelah diperiksa dahak hasilnya adalah negatif untuk kesemua suspek
tersebut. Beberapa kemungkinan penyebab tidak ditemukannya hasil
yang positif antara lain pasien memang tidak menderita TB, dahak
yang dikeluarkan kualitasnya jelek, kesulitan mengeluarkan dahak,
dan/atau kesulitan dalam pengumpulan warganya.
b) Kontak serumah pasien TB
Kontak serumah pasien TB dilakukan setelah ditemukan
penderita TB. Petugas puskesmas yang terdiri atas petugas P2P,
Laborat, dan petugas Program TB mendatangi rumah penderita TB
untuk melakukan pemeriksaan kepada keluarga dan pemeriksaan
rumah. Apabila ada anggota keluarga penderita TB yang menderita
batuk minimal 1 minggu maka akan langsung dilakukan pemeriksaan
dahak.
c) Kelas TB
Kelas TB merupakan program dimana salah satu tujuannya
untuk mencegah penderita TB putus minum obat. Kelas TB dilakukan
setahun 3 kali yang sudah dilakukan satu kali pada bulan April dan
direncanakan pada bulan Agustus dan September. Kelas TB
dilaksanakan di aula puskesmas. Kegiatan yang dilakukan adalah
penyuluhan, penimbangan berat badan, dan penilaian status gizi.
Peserta kelas TB adalah penderita TB dan pengawas minum obat
(PMO).
Sistem Pelaporan Program TB
TB adalah penyakit menular yang wajib dilaporkan. Setiap fasilitas
kesehatan yang memberikan pelayanan TB wajib mencatat dan melaporkan
kasus TB yang ditemukan dan atau diobati sesuai dengan format pencatatan
dan pelaporan yang ditentukan. Data untuk program pengendalian TB
diperoleh dari sistem pencatatan-pelaporan TB. Pencatatan menggunakan
formulir standar secara manual didukung dengan sistem informasi secara
30

elektronik, sedangkan pelaporan TB menggunakan sistem informasi


elektronik. Penerapan sistem informasi TB secara elektronik disemua faskes
dilaksanakan secara bertahap dengan memperhatikan ketersediaan sumber
daya di wilayah tersebut. Sistem pencatatan-pelaporan TB secara elektronik
menggunakan Sistem Informasi TB Terpadu (SITT) yang berbasis web dan
terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan secara Nasional (Kemenkes,
2014).
Sistem pelaporan kasus TB di Puskemas Karangpandan dilakukan
dengan sistem pelaporan tiga bulan sekali yang dicatat dengan cara manual
di buku catatan bulanan lalu dimasukkan ke SITT secara berkala.

2) HIV/AIDS
Program penanggulangan HIV dan AIDS harus dilakukan secara
komprehensif dan berkesinambungan yang terdiri atas promosi kesehatan,
pencegahan, diagnosis, pengobatan dan rehabilitasi terhadap individu,
keluarga dan masyarakat. Promosi kesehatan dilakukan dengan kerjasama
antara P2P dengan Promkes. Sasaran promosi kesehatan diantaranya adalah
pengguna NAPZA suntik, Wanita Pekerja Seks (WPS), pelanggan/pasangan
pekerja seks, gay waria, warga binaan lapas/rutan. Kegiatan promosi yang
dilakukan melaui iklan layanan masyarakat, kampanye penggunaan
kondom pada setiap hubungan seks berisiko, dan promosi kesehatan bagi
remaja dan dewasa muda.
Program selanjutnya adalah pencegahan penularan HIV dengan upaya
penerapan pola hidup aman dan tidak berisiko, mulai dari hubungan
seksual, hubungan non seksual dan penularan HIV dari ibu ke anaknya.
Langkah pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual dilakukan
dengan 4 kegiatan yang terintegrasi, yaitu :
a) Peningkatan peran pemangku kepentingan untuk menciptakan tatanan
sosial di lingkungan populasi kunci yang kondusif
b) Intervensi perubahan perilaku untuk memberikan pemahaman dan
mengubah perilaku kelompok secara kolektif dan perilaku setiap
individu dalam kelompok sehingga kerentanan terhadap HIV berkurang

31

c)

Manajemen

pasokan

perbekalan

kesehatan

pencegahan

untuk

menjamin tersedianya perbekalan kesehatan pencegahan yang bermutu


dan terjangkau
d) Penatalaksanaan IMS untuk menyembuhkan IMS pada individu dengan
memutus mata rantai penularan IMS melalui penyediaan pelayanan
diagnosis dan pengobatan serta konseling perubahan perilaku
Pencegahan penularan HIV melalui hubungan non-seksual dilakukan
diantaraya dengan uji saring donor, pencegahan infeksi HIV pada tindakan
medis dan non meda yang melukai tubu, dan pengurangan dampak buruk
pada pengguna NAPZA suntik. Lalu pencegahan penularan HIV dari ibu ke
anaknya dlaksanakan melalui 4 kegiatan yang meliputi :
a) Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia produktif
b) Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan
c)

dengan HIV
Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil dengan HIV ke bayi yang

dikandungnya
d) Pemberia dukngan psikolgis, sosial dan perawatan kepada ibu denan
HIV beserta anak dan keluarganya
Kegiatan ini juga dilakukan kepada ibu hamil yang memeriksakan
kehamilan yaitu dilakukan promosi kesehatan dan pencegahan penularan
HIV yang dilakukan dengan pemeriksaa diagnostik HIV serta tes dan
konseling VCT ( Volunteer Counseling and Testing ). Tes dan konseling
yang dimaksud adalah pemeriksaan laboratorium rutin saat pemeriksaan
asuhan antenatal atau menjelang persalinan. Program penanggulangan dan
pencegahan

penyakit

yang

dilakukan

P2P HIV/AIDS

Puskesmas

Karangpandan adalah melalui skrining ibu hamil dengan VCT


b.

Penyakit Tidak Menular


Penyakit tidak menular yang dimaksud seperti Penyakit Jantung dan
Pembuluh Darah, Kanker, Penyakit Saluran Pernapasan Kronis, dan Penyakit
Diabetes Melitus. Kejadian PTM terbanyak di Wilayah Kerja Puskesmas
Karangpandan adalah Hipertensi. Hipertensi pada Kabupaten Karangpandan
menduduki peringkat terbanyak ke-2 di Kabupaten Karanganyar.
Upaya pelayanan pengendalian PTM di Puskesmas :

32

1) Pencegahan primer :

segala kegiatan yang dapat menghentikan atau

mengurangi faktor risiko kejadian penyakit sebelum penyakit tersebut


terjadi. Pencegahan yang rutin dilakukan di Puskesmas Karangpandan
adalah Promosi kesehatan. Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama lintas
sektoral P2P dan Promkes.
2) Pencegahan sekunder : lebih ditujukan pada kegiatan deteksi dini untuk
menemukan penyakit. Bila ditemukan kasus, maka dapat dilakukan
pengobatan dini agar penyakit tersebut tdak menjadi parah. Pencegahan
sekunder dapat dilaksanakan melalui skrining/uji tapis dan deteksi dini.
3) Pencegahan tersier : suatu kegiatan difokuskan kepada mempertahankan
kualitas hidup penderita yang telah mengalami penyakit yang cukup berat
yaitu dengan cara rehabilitatif dan paiatif.
Kegiatan

pencegahan

PTM

dilakukan

oleh

Puskesmas

dengan

mengadakan kegiatan Prolanis. Prolanis ditujukan kepada pasien hipertensi


agar bisa terkontrol dan tidak berlanjut menjadi Penyakit Kardiovaskular
lainnya. Prolanis terdiri dari kegiatan senam, pengobatan gratis, edukasi dan
pemberian makanan penunjang. Selain hipertensi, kegiatan deteksi dini juga
dilakukan pada penyakit Diabetes Melitus yaitu dengan dilaksanakannya
Pemeriksaan Gula Darah Gratis rutin setiap bulan. Kegiatan ini terdiri dari cek
gula darah, cek tensi dan penyuluhan. Kegiatan-kegiatan tersebut juga
merupakan kegiatan lintas sektoral yang melibatkan Promkes dalam
melakukan penyuluhan.
5. Kesehatan Lingkungan (Kesling)
Program kesehatan lingkungan dipimpin oleh seorang petugas sanitarian.
Tugas seorang petugas sanitarian adalah untuk membuat perencanaan kegiatan
sanitarian selama satu tahun (Rencana Kerja Tahunan yang dituangkan dalam
rencana kerja bulanan).
Program kesehatan lingkungan berupa kegiatan pendataan/inventarisasi dan
kegiatan pembinaan/pengawasan terhadap empat program pokok. Empat program
pokok tersebut adalah :
a.
b.
c.
d.

Perumahan dan Lingkungan


Sarana Sanitasi Dasar
Tempat-tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan (TPM)
Institusi Kesehatan, Pendidikan, dan Perkantoran
33

Pendataan dan pengawasan untuk perumahan dan lingkungan yang dilakukan


satu bulan sekali, memeriksa minimal sebanyak 10 rumah. Keempat program pokok
tersebut sudah rutin dilakukan satu bulan sekali tiap programnya, kecuali program
untuk institusi pendidikan karena menunggu adanya kegiatan dari sekolah-sekolah
supaya efektif. Pelaksanaan setiap program pasti memasukkan penilaian 5 pilar
STBM yaitu:
Pilar 1. SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan)
Pilar 2. CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun dengan air mengalir)
Menggunakan 10 langkah cuci tangan
Pilar 3. PAM RT (Penyediaan Air Minum Rumah Tangga yang aman)
Pilar 4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga yang aman
Pilar 5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman
Petugas Program Kesling melakukan lintas program dengan petugas
Promkes, P2P, petugas UKS, dan bidan desa. Sedangkan lintas sektoral dengan
Camat, Polsek, Koramil, Ka.UPT.PUDNFI, dan SD, KUA, PKK.
Terdapat dua desa di wilayah kerja Puskesmas Karangpandan yang sudah
memenuhi 4 dari 5 pilar STBM yaitu Desa Jumapolo dan Desa Dayu. Desa Dayu
sedang dilakukan pembinaan untuk maju ke tingkat provinsi.
Program Kesling yang sedang menjadi trend adalah program Stop Buang Air
Besar Sembarangan (Stop BABS). Kendala yang dijumpai pada program ini antara
lain :
a. Masih ada salah satu anggota keluarga yang sulit melakukan perubahan untuk
SBS
b. Masyarakat masih mengandalkan bantuan dari pemerintah untuk pembuatan
jamban, sehingga masih banyak yang belum membangun jamban sehat mandiri.
6. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan melaksanakan peran Puskesmas dalam hal ini Puskesmas
Karangpandan dalam hal pelayanan kesehatan tingkat pertama yaitu pelayanan
kesehatan perorangan (UKP) yang bersifat non spesialistik (primer) meliputi
pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Selain peran tersebut, sesuai Permenkes
Nomor 75 Tahun 2014 bahwa selain rawat jalan dan rawat inap, Puskesmas juga
melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan dan pelayanan Perkesmas. Pelayanan
kesehatan Di Puskesmas Karangpandan meliputi :
a. Rawat Jalan

34

Pelayanan rawat jalan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan


perorangan yang bersifat non spesialistik yang dilaksanakan pada fasilitas
kesehatan tingkat pertama dalam hal ini Puskesmas,untuk keperluan observasi,
diagnosis, pengobatan, dan/atau pelayanan kesehatan lainnya.
b. Rawat Inap
Pelayanan rawat jalan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan
perorangan yang bersifat non spesialistik dan dilaksanakan pada fasilitas
kesehatan tingkat pertama dalam hal ini Puskesmas, untuk keperluan observasi,
perawatan, diagnosis, pengobatan, dan/atau pelayanan medis lainnya, dimana
peserta dan/atau anggota keluarganya dirawat inap paling singkat 1 (satu) hari.
c. Perkesmas ( Perawatan Kesehatan Masyarakat )
Sesuai dengan KMK No. 279 Tahun 2006 yang menjelaskan bahwa
Perkesmas adalah suatu bidang dalam keperawatan kesehatan yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan
peran serta aktif masyarakat serta mengutamakan pelayanan promotif, preventif
secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif
secara menyeluruh dan terpadu, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat sebagai suatu kesatuan yang utuh, melalui proses keperawatan
untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri
dalam upaya kesehatannya. Sasaran kegiatan ini adalah individu, keluarga atau
kelompok masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor
ketidaktahuan, ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan
permasalahan kesehatannya.
Pelaksanaan Perkesmas di Puskesmas Karangpandan dilakukan secara
terprogram kepada individu atau masyarakat yang memiliki kendala untuk
menyelesaikan permasalahan kesehatannya. Program Perkesmas melibatkan
beberapa

bagian

program

lain

di

Puskesmas

menyesuaikan

dengan

permasalahan yang dialami. Salah satu kegiatan yang masuk dalam program
Perkesmas adalah homecare, dimana kegiatan ini ditujukan kepada individu
untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
d. Kegawatdaruratan / UGD
Pelayanan kesehatan darurat medis adalah pelayanan kesehatan yang
harus diberikan secepatnya untuk mencegah kematian, keparahan, dan/atau
kecacatann sesuai dengan kemampuan fasilitas

kesehatan. Puskesmas

Karangpandang memiliki 1 ruang UGD. Evaluasi UGD yang ada di Puskesmas


Karangpandan adalah posisi ruangan yang kurang tepat karena letak pintu tidak
35

langsung menghadap keluar sehingga akan memperlama penanganan kasus


kegawatdaruratan.
Pelaksanaan pelayanan kesehatan di Puskesmas Karangpandan dilakukan oleh
dokter, bidan, dan perawat dan didukung oleh bagian gizi, laboratorium, fisioterapi,
dan poli tumbuh kembang anak. Puskesmas Karangpandan juga melakukan rujukan
jika pasien tidak bisa ditangani di Puskesmas. Rujukan dilakukan menggunakan
mobil ambulan yang dimiliki oleh Puskesmas.

Alur Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Dan Rawat Jalan Di Puskesmas Karangpandan
Melakukan pendaftaran serta
ditanyakan :
- Tujuan datang ke puskesmas
- informasi asuransi kesehatan
yang dimiliki/pasien umum

Pasien
datang
UGD

Rawat Inap
Tidak ada
perbaikan
Rujuk

Ada
indikasi
rawat inap
-

Poli
Umum/Bala
i
Pengobata

Fisioterapi, atau
Poli Tumbuh
Kembang Anak
Gizi

KB/ KIA

Poli Gigi

Edukasi
dan/
Kontrol
Apotek

36

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Puskesmas Karangpandan yang memiliki fungsi sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama berperan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di
Kecamatan Karangpandan secara langsung

maupun tidak langsung dengan

melaksanakan program yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan maupun


Dinas Kesehatan terkait.
2. Program atau upaya wajib di Puskesmas Karangpandan dilaksanakan dengan adanya
program Promosi Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Perorangan, KIA (Imunisasi,
KB), Gizi, Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit
Menular dan Tidak Menular.
3. Upaya Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Karangpandan dilaksanakan dengan
program Promosi Kesehatan, KIA (Imunisasi, KB), Gizi, Kesehatan Lingkungan dan
Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular dan
dilakukan secara berkesinambungan.
4. Upaya Kesehatan Perorangan di Puskesmas Karangpandan dilakukan dengan
dilaksanakannya pelayanan kesehatan berupa Rawat Inap, Rawat Jalan, Rujukan,
Perkesmas, dan UGD.
5. Pelaksanaan Program yang terdapat di Puskesmas Karangpandan dilakukan dengan
perencanaan, pelaksanaan, pelaporan serta evaluasi.

B. SARAN
1. Dalam melaksanakan program terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh tenaga
kesehatan bersangkutan sehingga diperlukan evaluasi yang lebih mendalam terhadap
pelaksanaan program di Puskesmas.
2. Puskesmas dalam melaksanakan upaya kesehatan berbasis masyarakat diharapkan
dapat selalu melakukan pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan programnya.

37

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2013. Introduksi Imunisasi Pentavalen pada Bayi
dan Pelaksanaan Imunisasi Lanjutan pada Anak Balita. Jakarta:_
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) dan Penyehatan Lingkungan.
2003. Panduan Praktis Surveilans Epidemiologi Penyakit (SEP). Departemen
Kesehatan RI: Jakarta.
Direktorat Jenderal PPM & PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Pedoman
Pelaksanaan Akselerasi Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (MNTE). Jakarta:_
Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. 2013. Pedoman Teknis Penyelenggaraan
Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Puskesmas. Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan:Jakarta
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Buku Pedoman Introduksi Vaksin Baru.
Jakarta: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Kementrian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta :
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Menteri Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia : Jakarta
Menteri Kesehatan RI. 2007. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 585
Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas. Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia : Jakarta
Menteri Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82
Tahun 2014 Tentang Penaggulangan Penyakit Menular. Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia : Jakarta
Menteri Kesehatan RI. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128
Tahun 2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Direktorat
Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat : Jakarta
Menteri Kesehatan RI. 2006. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 279 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas.
Depkes RI: Jakarta

38

Presiden RI. 2012. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 Tentang
Sistem Kesehatan Nasional. Sekretariat Kabinet RI: Jakarta

39

LAMPIRAN

Bimbingan materi Program Promosi Kesehatan oleh Bapak Herry Putut Cahyono, SKM
(Selasa, 31 Mei 2016)

Bimbingan materi Program Gizi oleh Ibu Sri Wahyuningsih, SKM.M.Gizi (Rabu, 1 Juni
2016)

40

Bimbingan materi Program Imunisasi oleh Ibu Darsi, Amd.Kep (Rabu, 1 Juni 2016)

41

Contoh Kartu Imunisasi Anak Sekolah, Sertifikat Imunisasi dan Rambu Imunisasi yang
digunakan pada Program Imunisasi Puskesmas Karangpandan

42

Bimbingan materi Program TB oleh Ibu Rina Dhewi, AMK (Kamis, 2 Juni 2016)

Penjelasan SIMPUS oleh Ibu Warsiti, S.Kep (Kamis, 2 Juni 2016)

43

Bimbingan materi Program Kesehatan Lingkungan oleh Ibu Yayuk Yuliana (Sabtu, 4 Juni
2016)

Bimbingan materi Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) oleh Ibu Dwi Haryati Amd.Keb
(Senin, 6 Juni 2016)

44

Bimbingan materi Program Keluarga Berencana (KB) oleh Ibu Lilis Purwati (Senin, 6 Juni
2016)

45