Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH SISTEM ENDOKRIN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN GANGGUAN


FUNGSI KELENJAR ADRENAL (ADDISON)

DISUSUN OLEH :
1. BARDAH WASALAMAH
2. RENI MARDHANI
3. AFRIANTO RAHMADANI
4. CELIA ULFA
5. HERNI KURNIA
6. MEGI HARI SANDI
7. YENSI SYAFETRI
8. M PANDU GAGAR DZ
9. WAYAN
10.FILLIAN

(1026010088)
(1026010072)
(1026010090)
(1026010084)
(10260100)
(1026010064)
(1026010083)
(1026010068)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU
2011 / 2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin.
Puji syukur kmi ucapkan atas kehadirat Allah Swt yang mana telah Melimpahkan
rahnmat serta hidayahnya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul
Asuhan Keperawatan dengan Klien Gangguan Fungsi Kelenjar Adrenal (Addison) tepat
pada waktunya. Dan salawat Serta salam juga selalu tercurahkan kepada nabi besar
Muhammab Saw yang Telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang penuh
dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang kita rasakan pada saat

sekarang

ini.Dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada Semua pihak
yang telah ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini. Di dalam penyusunan makalah
ini kami menyadari masih banyak sekali kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat
membangun dari rekan-rekan semua sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah
selanjutnya.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi
mahasiswa STIKES TMS.Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih,, wassalam

Bengkulu, Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................
KATA PENGANTAR.................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................
1. Latar Belakang...............................................................................................
2. Tujuan ............................................................................................................
3. Manfaat .........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................
2.1.Konsep Dasar Teori........................................................................................
2.1.1. Definisi.......................................................................................................
2.1.2. Etiologi.......................................................................................................
2.1.3. Patofisiologi...............................................................................................
2.1.4. WOC...........................................................................................................
2.1.5. Manifestasi Klinis......................................................................................
2.1.6. Pemeriksaan Penunjang.............................................................................
2.1.7. Penatalaksanaan.........................................................................................
2.2. Konsep Dasar Askep.....................................................................................
2.2.1. Pengkajian..................................................................................................
2.2.2. Diangsosa Keperawatan.............................................................................
2.2.3. Rencana Asuhan Keperawatan...................................................................
BAB III PENUTUP....................................................................................................
3.1.........................................................................................................................Kesimpula
n......................................................................................................................
3.2.........................................................................................................................Saran
........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Penyakit Addison merupakan penyakit yang jarang terjadi di dunia. Di
Amerika Serikat tercatat 0,4 per 100.000 populasi. Dari bagian statistik Rumah Sakit
Dr. Soetomo pada tahun 1983, masing-masing mendapatkan penderita penyakit
Addison. Frekuensi pada laki-laki dan wanita hampir sama. Menurut Thom, laki-laki
56% dan wanita 44% penyakit addison dapat dijumpai pada semua umur, tetapi lebih
banyak terdapat pada umur 30-50 tahun.
Kekurangan adrenal sekunder adalah masa yang diberikan pada penyakit yang
menyerupai penyakit Addison. Pada penyakit ini, kelenjar adrenalin kurang aktif
karena kelenjardibawah otak tidak merangsang mereka, bukan karena kelenjar
adrenalin sudah hancur atau dengan cara lain langsung gagal.
Ketika kelenjar adrenalin menjadi kurang aktif, mereka cenderung
memproduksi hormon adrenal dengan jumlah yang tidak cukup sama sekali. Dengan
begitu, penyakit Addison mempengaruhi keseimbangan air, sodium, dan kalium di
badan, serta kemampuan badan untuk menguasai tekanan darah dan bereaksi terhadap
tekanan. Selain itu, kehilangan androgen seperti dehydroepiandosterone (DHEA)
mungkin menyebabkan kehilangan rambut di badan wanita. Pada laki-laki,
testosterone dari testis dibuat lebih untuk kehilangan ini. DHEA mungkin mempunyai
efek tambahan yang tidak berhubungan dengan androgen.
Ketika kelenjar adrenalin dihancurkan,oleh infeksi atau kaknker, medula
adrenal dan sumber epinephrine hilang. Tetapi, kehilangan ini tidak menyebabkan
gejala.
Kekurangan aldosterone secara khusus menyebabkan badan mengeluarkan sodium
yang banyak dan mempertahankan kalium, menyebabkan kadarsolium rendah dan
kadar kalium tinggi di darah. Ginjal tidak dapat menahan air kencing, oleh sebab itu
waktu penderita penyakit Addison minum terlalu banyak air atau kehilangan terlalu
banyak sodium, kadar sodium di darah turun. Ketidakmampuan untuk menahan air
kencing pada akhirnya membuat orang kencingsecara berlebihan dan menjadi
dehidrasi. Dehidrasi hebat dan kadar solium yang rendah mengyrangu volume darah
dan bisa menyebabkan shock. Kekurangan kortikosteroid menyebabkan sensitivitas
yang ekstrim pada insulin sehingga kadar gula darah dapat turun hingga berbahaya
(hipoglikemia). Kekurangan tsb mencegahbadan memproduksi karbohidrat dari
protein, melawan infeksi dengan semestinya, dan mengontrol radang. Otot menjadi
lemah, dan jantungpun bisa menjadi lemah dan tak dapat memompakan darah secara
memadai. Kemudian tekanan darah mungkin menhadi rendah yang berbahaya.
Pada penyakit Addison, kelenjar dibawah otak menghasilkan lebih banyak
kortikotropin didalam usaha untuk merangsang kelenjar adrenalin. Kortikotropin juga
merangsang produksi melanin,oleh sebab itu, kulit dan garis sepanjang mulutsering
terbentuk pigmentasi yang gelap.
2. Tujuan

1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan
fungsi kelenjar adrenal (Addison)
2. Tujuan Khusus
Setelah membaca dan mempelajari makalah ini diharapkan :
Mengetahui konsep dasar teoritis pada pasien dengan penyakit Addison
Mengetahui Konsep asuhan keperawatan pda klien dengan penyakit
Addison yang meliputi pengkajian,diagnosa keperawatan, dan intervensi.
3. Manfaat
1. Secara aplikatif, makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
keterampilan kelompok dalam memberikan asuhan keperawatn pada klien dengan
penyakit Addison
2. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi semua pembaca tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan penyakit Addison

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Dasar Teori


2.1.1. Definisi
Penyakit Addison adalah kegagalan korteks adrenal memproduksi hormon adrenokortikal
yang disebabkan oleh atropi primer pada korteks adrenal akibat autoimmunitas.
Krisis adrenal adalah suatu keadaan insufisiensi adrenal akut, tanpa tanda klinis yang khas.
Diagnosis krisis adrenal hanya berdasarkan kemungkinan saja, dan pengobatannya harus
segera diberikan tanpa menunggu hasil laboratorium. (Soeparman,dkk, Ilmu Penyakit Dalam
Jilid I, Edisi 2,FKUI, Jakarta,1987 )
Fisiologi Hormon Korteks Adrenal :
a) Kortisol (glukokortikoid)
Hormon ini diproduksi oleh kelenjar adrenal, yang mempengaruhi hampir setiap
organ dan jaringan dalam tubuh. Fungsi dari hormon ini yang terpenting adalah
membantu tubuh merespon stress. Selain itu, kortisol berfungsi : membantu
mempertahankan tekanan darah dan fungsi jantung, membantu memperlambat respon
peradangan sistem imun, membantu menyeimbangkan efek-efek dari insulin dalam
mengurai gula untuk energi dan membantu mengatur metabolisme protein,
karbohidrat, dan lemak.
b) Aldosteron (Mineralocorticoid)
Aldosteron membantu mempertahankan tekanan darah dan keseimbangan air dan
garam dalam tubuh dengan membantu ginjal menahan natrium dan mengeluarkan
kalium. Ketika produksi aldosterone rendah,ginjal tidak mampu mangatur
keseimbangan garam dan air, menyebabkan volume darah dan tekanan darah turun.
2.1.2. Etiologi
1. Autoimmune ( idiopatik )
2. Pengangkatan kelenjar adrenal
3. Infeksi pada kelenjar adrenal
4. Tuberkulosis
5. Insufisiensi ACTH Hipofise
6. Perdarahan
7. Trombosis

2.1.3. Patofisiologi

Penyakit Addison atau Insufisiensi adrenokortikal, terjadi bila fungsi korteks adrenal
tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan kebutuhan hormon-homon-hormon
korteks ardernal. Atrofi autoimun atau idiopatik pada kelenjar ardernal merupakan penyebab
pada 75% khasus penyakit addison (Stren dan tuck,1994). Penyebab lainnya mencakup
operasi pengangkatan kedua kelenjar adrenal atau infeksi pada kedua kelenjar tersebut.
Tuberkulosis (TB) dan histoplasmosis merupakan infeksi yang paling sering ditemukan dan
menyebabkan kerusakan pada kedua kelenjar adrenal. Meskipun kerusakan adrenal karena
akibat dari proses otoimun telah menggantikan tuborkulosis sebagai penyakit addison, namun
peningkatan insiden tubeculosis yang terjadi akhir akhir harus mempertimbangkan penyakit
infeksi ini kedalam daftar diagnosis. Sekresi ACTH yang tidak adekuat dari kelenjar hipofisis
juga akan menimbulkan insufisiensi adrenal akibat penurunan stimulasi korteks adrenal.
Gejala insufisiensi adrenokortikal dapat pula terjadi akibat penghentian mendadak terapi
hormone adrenokortikal yang akan menekan respon normal tubuh terhadap keadaan stres dan
mengganggu mekanisme umpan balik normal. Terapi dengan pemberian kortikostiroid setiap
hari selama 2 hingga 4 minggu dapat menekan fungsi korteks ardernal: oleh sebab itu,
kemungkinan penyakit addison harus diantisipasi pada pasien yang mendapat pengobatan
kortikostiroid.

2.1.4 WOC
Autoimu
n

Tuberculosis

Sekresi ACTH
tidak adekuat

Inflamasi
kelenjar
adrenal
Kerusakan
kelenjar
adrenal

Kerusakan
kelenjar
adrenal
Gagal memproduksi
hormone
adrenokortikal

Penurunan
stimulasi korteks
adrenal
Insufisiensi
adrenal

ADDISON

Diare, pengeluaran
urine banyak dan
encer

Mual, muntah

Peningkatan
pengeluaran
cairan

Intake
makanan
menurun

Tidak
bertenaga

Tidak mampu
melakukan
aktivitas seharihari
Penurunan
penampilan

MK :
Kekurangan
volume cairan

MK : Perubahan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

MK : Kelelahan

2.1.5. Manifestasi Klinis


1. Hiperpigmentasi
Disebabkan karena timbunan melanin pada kulit dan mukosa. Pigmentasi
juga dapat terjadi pada penderita yang menggunakan kortikosteroid jangka

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

panjang, karena timbul insufisiensi adrenal dengan akibat meningkatnya


hormon adrenokortikotropik. Hormon adrenokortikotropik ini mempunyai
MSH. Pada penyakit Addison terdapat peningkatan kadar beta MSH dan
hormon adrenokortikotropik.
Emasiasi (tubuh kurus kering)
Shock
Anoreksia / Rasa mual dan muntah
Dehidrasi
Frustasi
Kelemahan otot, kelelahan
Kehilangan rambut tubuh ( lebih jelas pada wanita )

2.1.6. Pemeriksaan Penunjang


Meskipun manifestasi klinik yang disampaikan tampak spesifik,namun penyakit
Addison biasanya terjadi dengan gejala yang tidak spesifik. Diagnosis penyakit
Addison dipastikan oleh hasil-hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil-hasil
laboratorium mencakup:
- Hiponatremia
- Hiperkalemia
- Hipoglikemia
- Adotemia
- Hemokosentrasi
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan kadar hormon adrenokortikal yang
rendah dalam darah atau urine. Kadar kortisol serum menurun pada insufisiensi
adrenal.jika koretks adrenal sudah mengalami kerusakan,nilai-nilai dasar
laboratorium tamapk rendah,dan penyutikan ACTH tidak akn mampu menaikkan
kadar kortisol plasma dan kadar 17-hirdoksikortikosteroid urine hingga mencapai
nila normalanya.jika kelenjar adrenal masih normal namun tidak terstimulasi
dengan baik oleh kelenjar hipofisis,maka respons normal terhadap pemberian
ACTH eksogen yang berulang akan terlihat tetapi respons sesudah pemberian
mtyrapon yang menstimulasi ACTH endogen tidak akan tampak.
2.1.7. Penatalaksanaan
1) Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok,memulihkan sirkulasi
darah,memberikan cairan,melakukan terapi penggantian kortikosteroid.
2) Memantau tanda-tanda vital
3) Memberikan posisi duduk dengan tungkai ditinggikan
4) Memberikan hidrokortison IV- pemberian infue dextrose 5% dalam larutan
normal saline.
Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok,memulihkan sirkuasi,memberikan
cairan,pergantian kortikosteroid.panatau tanda-tanda vital.menempatkan klien
pada posisi stengah duduk dengan kedua tungkai ditinggikan.hidrokortison
disuntikan IV,kemudian IVFD D5% dalam larutan normal saline.kaji
stress/keadaan sakit yang menimbulakn serangan akut.bila asupan oral (+), IVFD
perlahan dikurangi.bila k.adrenal tidak berfungsi lagi,perlu dilakukan terapi

penggantian preparat kortikosteroid dan mineralokortikoid seumur hidup.


Suplemen penambah garam untuk menghindari kehilangan cairan dari saluran
cerna akibat muntah dan diare.

2.2. KONSEP DASAR ASKEP


2.2.1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas pasien dan isi identitasnya yang meliputi ;
nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama, tanggal masuk
RS, tanggal pengkajian.
b) Keluhan Utama
Sering menjadi alasan untuk meminta pertolongan kesehatan, diikuti oleh
mereka yang mengalami hiperpigmentasi dan mudah lelah.
c) Riwayat Kesehatan Sekarang ( RKS )
Dehidrasi, shock, frustasi, emasiasi, anoreksia
d) Riwayat Kesehatan Dahulu
Pernah dirawat di Rumah sakit dengan keluhan utama
e) Riwayat Kesehatan Keluarga ( RKK )
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit Addison
f) Data dasar pengkajian
Aktifitas/Istirahat
Gejala : lelah,nyeri/kelemahan pada otot(terjadi perburukan setiap hari)
Tidak mampu beraktifitas atau bekerja
Tanda : peningkatan denyut jantung,penurunan kekuatan dan dan rentang geraks
Sendi.depresi,gangguan konsentrasi,penurunan inisiatif/alergi letargi.

Sirkulasi

Tanda : Hipotensi termasuk hipotensi postural.takikardia,distritmia,suara jantung


Melemah.nadi perifer melemah,pengisian kapiler memanjang.
Ektremitas dingin,sianosis,dan pucat.

Integritas Ego

Gejala : adanya riwayat faktor stres yang baru dialami,termasuk sakit fisik/
Pembedahan,pembuahan gaya hidup.
Tanda : ansietas,peka rangsang,depresi,emosi tidak stabil.

Eliminasi

Gejala : Diare sampai dengan adanya konstipasi kram abdomen

Tanda : Diuresis yang diukuti dengan oliguria

Makanan/Cairan

Gejala : Anoreksia berat (gejala utama) , mual,muntah.


Kekurangan zat garam
Tanda : turgor kulit jelek,membran mukosa kering

Neurosensori

Gejala : pusing,sinkope(pingsan sejenak),gemetar.sakit kepala yang berlangsung


Lama yang diikuti oleh diaforesis.kelemahan otot.
Tanda : Disorientasi terhadap waktu,tempat,dan ruang,letargi.kelemahan mental
Peka rangsang,cemas,koma.

Nyeri/Kenyamanan

Gejala : Nyeri otot,kaku perut,nyeri kepala.nyeri tulang belakang,abdomen.

Pernapasan

Gejala : Dispnea
Tanda : kecepatan pernapasan meningkat,takipnea,suara napas:krakel,kronki

Keamanan

Gejala : tidak toleran terhadap panas,cuaca (udara) panas


Tanda : Hiperpigmentasi kulit (coklat,kehitaman karena kena sinar matahari)
Yang menyeluruh atau bintik-bintik.

Seksualitas

Gejala : Adanya riwayat menopause dini,amenorea.hilangnya tanda-tanda seks


Sekunder (misal berkurangnya rambut-rambut pada tubuh terutama pada
wanita) hilangnya libido

Penyuluhan/Pembelajaran

Gejala : Adanya riwayat keluarga DM. TB, kanker.


Pertimbangan DRG menunjukkan rerata lama dirawat:4,3 hari
Rencana pemulangan :membutuhkan bantuan dalam hal obat,aktifitas sehari-hari.
Mempertahankan kewajibannya.

ANALISA DATA

No
1

Data
DS :
-Klien mengatakan diare
-Klien mengatakan lemah
-Klien mengatakan pengeluaran urine
banyak

Etiologi
Kehilangan cairan
dan natrium melalui
ginjal, kelenjar
keringat, saluran
gastrointestinal

Masalah
Kekurangan volume
cairan

Defisiensi
glukokortikoid,
metabolisme lemak
abnormal, protein
dan karbohidrat

Perubahan nutrisi;
kurang dari
kebutuhan tubuh

Penurunan energi
metabolisme,
perubahan kimia
tubuh,
ketidakseimbangan
cairan, elektrolit dan
glukosa

Kelelahan

DO :
-Klien tampak lemah
-Klien tampak pucat
-Hipotensi postural
- Nadi lemah
2

DS :
-Klien mengatakan mual / muntah
- Klien mengatakan tidak nafsu makan
-Klien mengatakan lemah
DO :
-Kelemahan otot
-Penurunan BB
-Kaku otot abdomen
-Hipoglikemia berat

DS :
-Klien mengatakan tidak nyaman / tidak
bertenaga
-Klien mengatakan tidak mampu
melakukan aktivitas sehari-hari
-Klien mengatakan kelelahan
DO :
-Klien tampak lelah
-Klien tidak memperhatikan lingkungan
-penurunan penampilan

2.2.2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan dan natrium melalui ginjal,kelenjar
keringat, saluran gastrointestinal
2. Perubahan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d defisiensi glukokortikoid,
metabolisme lemak abnormal, protein dan karbohidrat

3. Kelelahan

b.d

penurunan

energi

metabolisme,

perubahan

kimia

tubuh,

ketidakseimbangan cairan, elektrolit dan glukosa


2.2.3. Rencana Asuhan Keperawatan
No

DIAGNOSA
KEPERAWATA
N

TUJUAN

KRITERIA
HASIL

INTERVENSI

RASIONAL

Kekurangan
volume cairan
b.d kehilangan
cairan
dan
natrium
melalui ginjal,
kelenjar
keringat,
saluran
gastrointestinal

Setelah
dilakukan
intervensi
keperawata
n
selama
3x24 jam
diharapkan
volume
cairan
normal

Menunjukaka
n
adanya
perbaikan
keseimbanga
n
cairan,:
pengeluaran
urine
yang
adekuat,
(
batas
normal)tanda
-tanda vital
stabil,tekanan
nadi perifer
jelas, turgor
kulit
baik,pengisia
n
kapiler
baik,dan
membran
mokosa
lembab/basah

-Kaji
riwayat
pasien
mengenai
lama dan inensiras
gejala yangmuncul
seperti
muntah,pengeluarn
urine
yang
berlebihan

-Membantu
memperkirakan
volume
total
cairan

-Pantau
tanda
vital,catat
perubahan TD pada
perubahan posisi
,kekuatan
nadi
perifer

-Hipotensi
postural
merupakan
bagian
hipovolemia
akibat
kekurangan
hormon
aldosteron dan
penurunan
curah jantung
akibat penuruna
kortisol

-Ukurdan
timbangBB
hari

-Memberikan
setiap perkiraan
kebutuhan akan
penggantian
volume cairan
dan keefektipan
pengobatan

-Kaji adaya rasa


hau,kelelehan ,nadi
cepat,pengisian
kapiler
memanjang, turgor

-Untuk
mengindikasika
n berlanjutnya
hipovolemia
dan

kulit
jelek,
membran mukosa
kering. Catat warna
kulit
dan
temperaturnya

mempengaruhi
kebutuhan
volume
pengganti

-Dehidrasi
-Periksa
adanya berat
perbahan
status menurunkan
mental dan sensori curah jantung
dan
perfusi
jaringan
terutama
jaringan otak

-Auskultasi bising
khusus,catat
dan
laporkan
adanya
mual muntah dan
diare

-Kerusakan
fungsi saluran
cerna
dapat
meningkatkan
kehilangan
cairan
dan
elektrolit dan
mempengaruhi
cara
untuk
pemberian
cairan
dan
nutrisi

-Membantu
-Berikan perawatan menurunkan
mulut
secara rasa
tidak
teratur
nyaman akibat
dehidrasi dan
mempertahanka
n
kerusakan
membran
mukosa
--

Perubahan
nutrisi ;kurang
dari kebutuhan
tubuh
b.d
defisiensi
glukokortikoid,
metabolisme
lemak
abnormal,
protein
dan
karbohidrat

Setelah
dilakukan
intervensi
keperawata
n selama 3
x 24 jam
diharapkan
kebutuhan
nutrisi
terpenuhi

-tidak
ada
mual
dan
muntah
-meunukakan
BB
stabil
atau
meningkat
sesuai
dengan yang
diharapkan
nilay
lab
normal

- Auskultasi bising
usus da kaji adanya
nyeri perut, mal
dan muah

-Kekurangan
kortiso
menyebabkan
gejala
gastro
intestinal berat

- Catat adanya kulit


yang dingin atau
basah,perubahan
tingkat
kesadaran,nadi
yang cepat, peka
rangsang,nyeri
kepala,sempoyonga
n

-Gejala
hipoglikemia
dengan
timbulnya
tanda tersebut
mungkin perlu
pemberian
glukosa
dan
mengindikasika
n
pemberian
tambahan
glukortikoid

- Pantau masukan
makanan
dan
timbang BB setiap
hari

-Anoreksia,
kelemahan dan
kehilangan
pengaturan
metabolisme
oleh
kortisol
terhadap
makanan
mengakibatkan
penurunan BB
dan terjadinya
mal nutrisi

-Catat
adanya
muntah,berapa kali
muntah,dan
karakteristiknya

-Membantu
untuk
menentukan
derajat
kemampuan
pencernaan
atau
absorsi
makanan

-Berikan atau bantu -Mulut

ytang

Kelelahan b.d
penurunan
produksi
energi
metabolisme,
perubahan
kimia
tubuh
,ketidak
seimbangan
cairan,elektroli
t dan glukosa.

Setelah
dilakukan
intervensi
keperawata
n 3 x 24
jam
diharapkan
kelelahan
tidak ada

- menyatakan
mampu untuk
beristirahat,
perningkatan
tenaga
dan
penurunan
rasa
mampu
menunjukaka
n faktor yang
berpengaruh
terhadap
kelelahan

menunjukaka
n
kemampuan

perawatan mulut

bersih
dapat
meningkatkan
napsu makan

-Ciptakan
lingkungan yang
nyaman
untuk
makan,seperti
bebas dari bau
tidak sedap,tidak
terlalu rame,udara
yang tidak nyaman

-Dapat
meningkatkan
nafsu
makan
dan
memperbaiki
pemasukan
makanan

- Berikan informasi -Perencanaan


tentang
menu menu
yang
pilihan
disukai pasien
dapat
menstimulasi
nafsu
makan
dan
meningkatkan
pemasukan
makanan
-Kaji
tingkat -Pasien
kelemahan
klien biasanya
dan
identifikasi mengalami
aktifitas yang dapat penurunan
dilakukan klien
tenaga,
kelelahan otot
menjadi terus
memburuk
setiap
hari
karena proses
penyakit
dan
munculnya
ketidak
seimbangan
natrium
dan
kalium
-Observasi
TTV
sebelum
dan
sesudah
beraktivitas,catat

-Kolaps
nya
sirkulasi dapat
terjadi akibat
stress
akibat

dan
berpartisipasi
dalam
aktifitas

adanya
jika
curah
takikardi,hipotensi, jantung
dan periper yang berkurang
dingin
-Libatkan
klien
dalam menyusun
aktifitas
dan
identifikasi
aktifitas
yang
dibutuhkan
serta
yang menyebabkan
kelelahan

-Aktifitas yang
berkurang
selama
menerima
terapi hormon
pengganti
untuk
memperbaiki
tonus
dan
kekuatan
otot,menurunny
a kelelahan. hal
tersebut
memberikan
harapan bahwa
kemampuan
untuk
melakukan
aktifitas yang
baik
akan
kembali seperti
semula

-Anjurkan
klien
untuk beristirshat
sebelum
melakukan aktifitas
sebelumnya

-Mengurangi
kelelahan dan
mencegah
ketegangan
pada jantung

-Diskusikan klien
cara
menghemat
tenaga
seperti
duduk lebih baik
dari pada berdiri
dalam melakiukan
aktiftas/latihan

-Pasien akan
dapat
melakukan
lebih
banyak
kegiatan
dengan
megurangi
pengeluaran
tenaga
pada
setiap kegiatan

yang
dilakukannya
-Berikan
kesempatan pada
klien
untuk
berfartisipasi dalam
melakukan
aktifitasnya

-Menambahkan
tingkat
keyakinan
pasien
dan
harga dirinya
secara
baik
sesuai dengan
tingkat aktifitas
yang
dapat
ditoleransi.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penyakit Addison adalah kegagalan korteks adrenal memproduksi hormon adrenokortikal
yang disebabkan oleh atropi primer pada korteks adrenal akibat autoimmunitas.
Krisis adrenal adalah suatu keadaan insufisiensi adrenal akut, tanpa tanda klinis yang
khas. Diagnosis krisis adrenal hanya berdasarkan kemungkinan saja, dan pengobatannya
harus segera diberikan tanpa menunggu hasil laboratorium. (Soeparman,dkk, Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I, Edisi 2,FKUI, Jakarta,1987 )
Hormon adrenokortikal dibagi menjadi tiga kelompok :
- Mineralokortikoid berkenaan dengan retensi natrium serta air dan eksresi kalium.
Contohnya aldosteron dan desoksikortikosteron yang merupakan prekursor alami
aldosteron.
-Glukokortikoid berhubungan dengan efek metabolik. Contohnya adalah kortisol dan
kortikosteron
-Hormon seks yang disekresikan oleh korteks adrenal adalah androgen dan estrogen
3.2. Saran

-Diharapkan kepada mahasiswa dapat mempelajari dan memahami tentang penyakit


addison
-Dalam bidang keperawatan, mempelajari suatu penyakit itu penting, dan diharapkn
kepada mahasiswa mampunmembuat konsep teoritis penyakit Addison beserta asuhan
keperawatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.Jakarta : EGC
Sylvia A.Price & Lorraine M. Wilson.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta : EGC
Marilynn E. Doengoes. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta : EGC
Kumala, Poppy & Dyah Nuswantari. 1998. Kamus Saki Kedokteran Dorland. Jakrta : EGC