Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

Intra Uterine Fetal Death


KEPANITRAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD Dr. H. KUMPULAN PANE TEBING TINGGI
Disusun oleh:
Panji Alvin Nugroho / 111001224

PEMBIMBING:
dr. T. Jeffrey Abdillah, Sp.OG
dr. Adi Kusuma Wiratma, Sp.OG
dr. Ari Abdurahman Lubis, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATRA UTARA

2016
1

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulisi ucapkan kepada Allah SWT yang dengan berkat
dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Intra
Uterine Fetal Death. Makalah dibuat sebagai tugas dalam menjalankan
kepanitraan klinik di Ilmu Telinga Hidung Tenggorokan RSUD Dr. H. Kumpulan
Pane Tebing Tinggi.
Dalam kesempatan ini penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada
pembimbing dr. T. Jeffrey Abdillah, Sp.OG yang sudah membimbing sejak awal
hingga selesailah makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari
sempurna, hal ini kurangnya pengalaman dan pengetahuan penulis. Untuk itu
penulis sangat berterima kasih bila pembaca sudi memberikan kritik dan saran.
Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah informasi dan
pengetahuan.

Tebing tinggi , 25 Juli 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................................1
1
2

Latar Belakang.........................................................................................1
Tujuan Penulisan..................................................................................2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................3


2.1 Definisi ....................................................................................................3
2.2 Klasifikasi ................................................................................................3
2.3 Faktor resiko.............................................................................................4
2.4 Etiologi.....................................................................................................4
2.5 Patologi anatomi.......................................................................................4
2.6 Diagnosis..................................................................................................5
2.7 Penatalaksanaan.................................................................................. 6
2.8 Komplikasi.......................................................................................... 7
BAB 3 LAPORAN KASUS.................................................................................8
3.1 Identitas pasien..................................................................................8
3.2 Anamnesa..................................................................................... 9
3.3 Pemeriksaan fisik.......................................................................... 10
3.4 Pemeriksaan penunjang................................................................ 12
3.5 Diagnosa....................................................................................... 13
3.6 Penatalaksanaan........................................................................... 13
BAB 4 DISKUSI KASUS .............................................................................. 17
BAB 5 KESIMPULAN .................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................19
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehamilan merupakan salah satu peristiwa penting dalam kehidupan
keluarga, khususnya calon ibu. Selain merupakan anugerah, kehamilan juga

merupakan suatu hal yang mencemaskan. Dalam setiap keluarga, kehamilan


diharapkan sebagai sumber penghargaan terbesar dari keluarga pada calon anak
yang akan dilahirkan. Walau demikian, ada kalanya harapan ini tidak terwujud
ketika bayi mengalami kematian sebelum sempat dilahirkan.
Menurut World Health Organization (WHO)dan The American College of
Obstetricians and gynecologist yang disebut Intra Uterine Fetal Death (IUFD)
adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih atau
kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
Di Dunia diperkirakan hampir 3,3 juta kematian perinatal dan lebih dari 4
juta lainnya mati dalam 28 hari pertama kehidupannya. Jumlah terbesar kematian
perinatal terjadi di Asia Tenggara yaitu 2,7 juta bayi lahir mati. Badan Pusat
Statistik Kesehatan Nasional tahun 2003 menunjukkan di Amerika Serikat
frekuensi IUFD sebesar 6,9 per 1000 kelahiran.3
Angka kematian perinatal di Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena
belum ada survey yang menyeluruh. Angka yang ada ialah angka kematian
perinatal di rumah sakit-rumah sakit besar yang pada umumnya merupakan
referral hospital, sehingga tidak memberikan gambaran yang mendekati angka
kematian perinatal secara keseluruhan. Angka kematian perinatal di rumah sakitrumah sakit pada umumnya berkisar antara 77,3 sampai 137,7 per 1000 kelahiran
hidup. Di satu sisi, angka kematian perinatal ini merupakan parameter dini
keadaan pelayanan kesehatan dan mencerminkan kemajuan sosial ekonomi suatu
negara, sedangkan di sisi lain kematian janin dalam rahim (Intrauterine Fetal
Death) berkaitan erat dengan angka kematian perinatal tersebut. Statistik juga
menunjukkan bahwa hampir 50% dari kematian perinatal yang terjadi merupakan
lahir mati.
Kematian janin dalam kandungan dapat disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu faktor ibu, faktor janin, dan faktor kelainan tali pusat. Faktor ibu meliputi
umur, paritas, pemeriksaan antenatal, dan penyakit yang diderita oleh ibu (anemia,
pre-eklampsi dan eklampsia, solusio plasenta, diabetes melitus, rhesus iso-

imunisasi, infeksi dalam kehamilan, ketuban pecah dini, dan letak lintang). Faktor
janin yaitu kelainan kongenital, dan infeksi intranatal). Faktor kelainan tali pusat
yaitu kelainan insersi tali pusat, simpul tali pusat, dan lilitan tali pusat.5
Diagnosis dini dalam kasus kematian janin adalah melalui pemantauan
kesejahteraan janin serta pemeriksaan kehamilan ( antenatal care ) yang teratur.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat
menegakkan diagnosis kematian janin intra uterin.6
Penatalaksanaan kematian janin intra uterin ialah melakukan terminasi
kehamilan yang dapat dilakukan melalui penanganan ekspektatif dan penanganan
aktif. Ada beberapa metode terminasi kehamilan pada kematian janin intra uterin,
yaitu dengan induksi persalinan per vaginam dan persalinan per abdominam (
Sectio Caesaria ).6
Pemeriksaan kehamilan ( antenatal care ) sangat berperan penting dalam
upaya pencegahan kematian janin dan secara tidak langsung dapat menurunkan
angka kematian janin.7

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan Penulisan laporan kasus ini adalah untuk menambah wawasan
penulis juga pembaca mengenai kasus Intra Uterine Fetal Death (IUFD).

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Intra Uterine Fetal Death (IUFD) menurut ICD 10 International


Statistical Classification of Disease and Related Health Problems adalah
kematian fetal atau janin pada usia gestasional 22 minggu.8
WHO dan American College of Obstetricians and Gynecologist (1995)
menyatakan Intra Uterine Fetal Death ( IUFD ) ialah janin yang mati dalam rahim
dengan berat badan 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam rahim pada
kehamilan 20 minggu atau lebih.2
2.2 Klasifikasi
Menurut United States National Center for Health Statistic Kematian janin
dapat dibagi menjadi 4 golongan, yaitu :7
a) Golongan I : Kematian sebelum massa kehamilan mencapai 20 minggu
penuh (early fetal death)
b) Golongan II : Kematian sesudah ibu hamil 20-28 minggu (intermediate
fetal death)
c) Golongan III : Kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late fetal
death)
d) Golongan IV : Kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga
golongan diatas.

2.3 Faktor Resiko


Beberapa studi yang dilakukan pada akhir-akhir ini melaporkan sejumlah
faktor risiko kematian fetal, khususnya IUFD. Peningkatan usia maternal akan
meningkatkan risiko IUFD. Wanita diatas usia 35 tahun memiliki risiko 40-50%
lebih tinggi akan terjadinya IUFD dibandingkan dengan wanita pada usia 20-29
tahun. Risiko terkait usia ini cenderung lebih berat pada pasien primipara
dibanding multipara. Selain itu, kebiasaan buruk (merokok), berat maternal,
kunjungan antenatal care, faktor sosioekonomi juga mempengaruhi resiko
terjadinya IUFD.9

2.4 Etiologi
Pada 25-60% kasus penyebab kematian janin tidak jelas. Kematian janin
dapat disebabkan oleh faktor maternal, fetal, atau patologik plasenta.2
a) Faktor maternal antara lain adalah :
Post term (> 42 minggu), diabetes mellitus tidak terkontrol, sistemik lupus
eritematosus,

infeksi,

hipertensi,

preeklampsia,

eklampsia,

hemoglobinopati, umur ibu tua, penyakit rhesus, ruptura uteri, hipotensi


akut ibu, kematian ibu.
b) Faktor fetal antara lain :
Hamil kembar, hamil tumbuh terhambat, kelainan kongenital, kelainan
genetik, infeksi.
c) Faktor plasental antara lain :
Kelainan tali pusat, lepasnya plasenta, ketuban pecah dini, vasa previa.
2.5 Patologi Anatomi
Janin yang meninggal intra uterin biasanya lahir dalam kondisi maserasi.
Kulitnya mengelupas dan terdapat bintik-bintik merah kecoklatan oleh karena
absorbsi pigmen darah. Seluruh tubuhnya lemah atau lunak dan tidak bertekstur.
Tulang kranialnya sudah longgar dan dapat digerakkan dengan sangat mudah satu
dengan yang lainnya. Cairan amnion dan cairan yang ada dalam rongga
mengandung pigmen darah. Maserasi dapat terjadi cepat dan meningkat dalam
waktu 24 jam dari kematian janin.2,7
Dengan kata lain, patologi yang terjadi pada IUFD dapat terjadi perubahanperubahan sebagai berikut7
a) Grade 0
Berlangsung < 8 jam setelah janin mati, ditandai dengan kulit kemerahan
b) Grade I
Timbul lepuh-lepuh pada kulit. Lepuh-lepuh ini mula-mula berisi cairan
jernih kemudian menjadi merah. Berlangsung > 8 jam setelah janin mati.

c) Grade II
Kulit mengelupas luas, efusi cairan serosa pada rongga thoraks dan
abdomen. Terjadi setelah 2-7 hari setalah janin mati.
d) Grade III
Terjadi kira-kira > 8 hari setelah janin mati. Hubungan antar tulang sangat
longgar. Terdapat edema di bawah kulit. Hepar berwarna kuning
kekeruhan

2.6 Diagnosis
Untuk mendiagnosis IUFD dari anamnesis biasanya didapatkan gerakan
janin yang tidak ada, perut tidak bertambah besar, bahkan mungkin mengecil
(kehamilan tidak seperti biasanya), perut sering menjadi keras, merasakan sakit
seperti ingin melahirkan, dan penurunan berat badan.10
Pemeriksaan fisik pada pasien IUFD biasanya didapatkan tinggi fundus
uteri berkurang atau lebih rendah dari usia kehamilan, tidak terlihat gerakan
gerakan janin yang biasanya dapat terlihat pada ibu yang kurus. Pada palpasi
didapatkan tonus uterus menurun, uterus teraba flaksid, dan tidak teraba gerakan
gerakan janin. Pada auskultasi tidak terdengar denyut jantung janin setelah usia
kehamilan 10-12 minggu.10
Pada pemeriksaan laboratorium, hanya didapatkan pemeriksaan darah
rutin dalam batas normal. Seharusnya dilakukan pemeriksaan darah yang lebih
lengkap yaitu fibrinogen untuk mengetahui ada tidaknya permasalahan pada
faktor pembekuan darah dari faktor janin terhadap maternal.10
Pada pemeriksaan USG biasanya akan didapatkan beberapa tanda yaitu,
tulang tengkorak saling tutup menutupi (Spaldings Sign), tulang punggung janin
sangat melengkung (Naujokess Sign), hiperekstensi kepala (Gerhards Sign),
Gelembung gas pada badan janin (Roberts Sign), dan femur length yang tak
sesuai dengan usia kehamilan.10

2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kasus IUFD yaitu dengan terminasi kehamilan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :7
a)

Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun


ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum

b)

keputusan diambil.
Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif maka tunggu persalinan
spontan hingga 2 minggu dan yakinkan bahwa 90 % persalinan spontan

c)

d)

akan terjadi tanpa komplikasi


Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan, lakukan
penanganan aktif.
Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai serviks yaitu :

Jika serviks matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin atau

prostaglandin.
Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan
prostaglandin atau kateter foley, dengan catatan jangan lakukan

amniotomi karena berisiko infeksi


Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir
e) Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun

dan serviks belum matang, dilakukan pematangan serviks dengan


misoprostol:
Berikan misoprostol 25 mcg dipuncak vagina dan dapat diulang

sesudah 6 jam .
Jika tidak ada respon sesudah 2x25 mcg misoprostol maka naikkan
dosis menjadi 50mcg setiap 6 jam. Jangan berikan lebih dari 50 mcg

setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis.


f) Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika.
g) Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah
pecah, waspada koagulopati
h) Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya
patologi plasenta dan infeksi.
2.8 Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu hamil dengan IUFD dapat
terjadi bila janin yang sudah meniggal tidak segera dilahirkan lebih dari 2 minggu.
Akan tetapi, kasus janin yang meniggal dan tetap berada di rahim ibu lebih dari 2
minggu sangat jarang terjadi. Hal ini dikarenakan biasanya tubuh ibu sendiri akan
melakukan penolakan bila janin mati, sehingga timbulah proses persalinan.
Adapun komplikasi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut7 :
a) Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) yaitu adanya perubahan
pada proses pembekuan darah yang dapat menyebabkan perdarahan atau
internal bledding.
b) Infeksi.
c) Koagulopati maternal dapat terjadi walaupun ini jarang terjadi sebelum 46 minggu setelah kematian janin.

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama

: Ny. N

Umur

: 36 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: IRT

Suku

: Jawa

Alamat

: Jl.Nelayan NO 8

10

No. RM

: 07.11.52

Tgl.MRS

: 04 September 2016 (Pukul 13:20)

Tgl.KRS

: 9 September 2016

Nama Suami

: Tn. SB

Umur

: 41 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Suku

: Jawa

Alamat

: Jl.Nelayan NO 8

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama

: Perut terasa mulas-mulas disertai keluarnya darah

bercampur lendir dari kemaluan


Telaah

: Pasien datang ke PONEK RSUD Dr.H. Kumpulan

Pane diantar keluarga dengan keluhan perut terasa mulas-mulas disertai


keluarnya darah bercampur lendir dari kemaluan. Perut terasa mulas dialami
mulai sejak tadi malam pukul 02.00 WIB. Keluar darah bercampur lendir
sejak pagi ini pukul 10.00 WIB. Sebelumnya keluhan keluar darah dari
kemaluan sudah perna dialami pada hari rabu tanggal 31 Agustus 2016,
kemudian pada keesokan harinya os memeriksakan kehamilannya ke
praktek dr.T Jeffrey Abdillah Sp.OG dan dilakukan pemeriksaan USG
dengan hasil bayi hidup, letak normal dan didapati plasenta previa. Lalu
dokter memberikan obat kepada os, setelah mengkonsumsi obat tersebut
perdarahan berhenti dan kembali muncul pada pagi hari ini pukul 10.00
11

WIB. Os mengaku tidak merasakan gerakan janin pagi ini SMRS. Riwayat
trauma/dikusuk (-),demam (-). Keluar bercak-bercak darah (+), warna
merah segar.
RPT: DM (-), HT (-), asma (-)
RPK: DM (-), HT (-), asma (-)
RPO : Tidak Jelas
Riwayat Kehamilan :
G3 P2 A0
Anak ke-I laki-laki BB: 3500 gr, Aterm, PSP tahun 2008
Anak ke-II laki-laki BB: 3700 gr, Aterm, PSP tahun 2011
Riwayat KB : HPHT

: 15-02-2016

TTP

: 22-11-2016

Riwayat ANC : 2 kali selama kehamilan (usia kehamilan 4 dan 16 minggu)


USG

: dilakukan sebanyak 1 kali yaitu


USG I pada usia kehamilan 28 minggu

3.3 Pemeriksaan Fisik

Status Present
Vital Sign
Kesadaran

: CM

TD

: 130/90 mmHg
12

HR

: 100 x/i

RR

: 32 x/i

: 38,1 oC

Status lokalisata:
Kepala dan Leher
Kepala

: Normochepali

Mata

: Eksoftalmus (-), konjungtiva tidak anemis, sklera tidak


ikterik, refleks pupil (+/+), isokor.

Hidung

: Tidak ada sekret/bau/perdarahan

Telinga: Tidak ada sekret/bau/perdarahan


Mulut

: Lidah tidak kotor, gigi geligi normal, faring tidak


hiperemis, tonsil tidak membesar

Leher

: Pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat.

Thoraks:
Cor:
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba normal di ICS V 1 jari medial MCL


Sinistra

Perkusi

: Batas jantung ICS IV Parasternal dekstra sampai ICS V

13

MCL Sinistra
Auskultasi

: Irama sinus takikardi, bunyi tambahan (-).

Pulmo:
Inspeksi

: Simetris kiri dengan kanan, tidak ada Retraksi/


ketertinggalan gerak

Palpasi

: Fremitus kanan sama dengan kiri.

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru.

Auskultasi

: Vesikuler +/+, Ronkhi -/-, Wheezing -/-

Abdomen:
Inspeksi

: Sedikit membesar, asimetris

Palpasi

: Nyeri tekan (+), gerakan janin (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas

Superior

: Oedem (-)

Inferior

: Oedem (-)

Status Obstetri :
Pemeriksaan Leopold
L1

: TFU terletak 3 jari diatas umbilikus

L2

: Kanan teraba bagian keras melebar seperti papan (punngung)


Kiri teraba bagian bagian kecil janin (extremitas)

L3

: Teraba satu bagian keras janin (kepala)

L4

: Belum masuk PAP

14

Auskultasi

: DJJ (-)

Vaginal Toucher: Tidak dilakukan Pemeriksaan dalam.


3.4 Pemeriksaan Penunjang
1. USG
Dilakukan pada tanggal : 1 September 2016

Interpretasi :
BPD : 70,2 mm
GA : 26W, 4D
EDD : 2016 12 04
FL : 190,2 mm
2. Hasil Darah Rutin Tanggal (04 September 2016)
Leukosit

: 18.400 ul

Hb

: 10,2 gr/dl

Ht

: 31,7 %

Trombosit

: 177.000 mm

15

3. Imunoserologi
HIV

: Non reaktif

4. Golongan Darah: O
3.5 Diagnosa
MG+ KDR (28-29 minggu) + Plasenta Previa + KJDK
3.6 Penatalaksanaan

TERAPI
IVFD RL cor 1 FLS selanjutnya 20 gtt/i
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12jam (ST)
Inj. Novalgin 1 amp (K/P)
PCT tab 3x500 mg

16

Gambar 3.1 Janin

Setelah kurang lebih 15 menit pasien mendapat penangan di ruang


PONEK, pasien merasakan perut mules-mules semakin kuat dan keluar
darah dan diikuti keluarnya air ketuban yang banyak dan disusul dengan
keluarnya janin. Janin lahir jenis kelamin perempuan, tidak bergerak, berat
badan 1.100 gr , panjang badan 39 cm, termasuk dalam stadium maserasi
0 dimana kulit berwarna kemerahan terutama pada kedua lengan bahagian
atas.

Follow Up
Tanggal
5 Sept 2016

Keluhan
Ku/

Th/

Post Partum hari ke-1

Sens : CM

TD : 100/70 mmHg

Lochea rubra (+)


Nyeri abdomen (-)
Demam (-)
BAK(+) kateter
BAB (-)

IVFD RL 20 gtt/i
Inj.Ceftriaxone

jam
Inj. Ranitidin 1a/12 jam
Inj. Novalgin (K/P)
PCT tab 3x500 mg

KU/

Th/

HR : 80 x/i

Terapi

RR : 20 x/i
T

: 36,4 C

06 Sept 2016

17

1gr/12

Post Partum hari ke-2

Sens : CM

TD : 170/80 mmHg

Lochea rubra (+)


Nyeri abdomen (-)
Demam (-)
BAK(+) kateter
BAB (-)

HR : 76 x/i

IVFD RL 20 gtt/i
Inj.Ceftriaxone

jam
Inj. Ranitidin 1a/12 jam
Inj. Novalgin (K/P)
PCT tab 3x500 mg

1gr/12

RR : 24 x/i
T

: 36,3 C

Hasil Lab post op:


Leukosit : 15.900ul
Hb

: 8,1 gr/dl

Ht

: 25,6 %

Puku 13.40 WIB lapor dr.


Ari Abdulrahman Lubis
Sp.OG
Anjuran :
-Transfusi PRC 250 cc

Trombosit : 225.000 ul
07 Sept 2016

KU/

Th/

Post post partum hari Lochea rubra (+)


BAK(+)BAB (-)
ke-3
Sens : CM
TD

: 100/60 mmHg

HR

: 72 x/i

RR

: 20 x/i

: 36,7 C

08 Sept 2016

KU/

IVFD RL 20 gtt/i
Inj.Ceftriaxone

jam
Inj. Ranitidin 1a/12 jam
Inj. Novalgin (K/P)
Methyl ergometrin 3x1
Bromocriptine 2x1
Asam mefenamat 3x1
PCT tab 3x500 mg
Desabion 1x1

1gr/12

Th/

Post partum hari ke-4 Lochea rubra (+)


BAK(+)
BAB (-)
Sens : CM
TD

: 110/70 mmHg

18

IVFD RL 20 gtt/i
Inj.Ceftriaxone

jam
Inj. Ranitidin 1a/12 jam
Inj. Novalgin (K/P)

1gr/12

HR

: 76 x/i

RR

: 20 x/i

: 36,5C

09 Sept 2016
Post SC hari ke-5
Sens : CM
TD

: 120/70 mmHg

HR

: 72 x/i

RR

: 20 x/i

: 36,5C

Methyl ergometrin 3x1


Bromocriptine 2x1
Asam mefenamat 3x1
PCT tab 3x500 mg
Desabion 1x1
Th/

KU/
Lochea rubra (+)
BAK(+)
BAB (-)

Methyl ergometrin 3x1


Bromocriptine 2x1
Asam mefenamat 3x1
PCT tab 3x500 mg
Desabion 1x1

PASIEN PBJ
BAB 4
DISKUSI KASUS

Pada kasus ini, wanita 36 tahun dengan diagnosa kematian janin intra
uterine. Hal ini ditegakkan berdasarkan faktor resiko terjadinya IUFD
yaitu Wanita diatas usia 35 tahun memiliki risiko 40-50% lebih tinggi akan
terjadinya IUFD dibandingkan dengan wanita pada usia 20-29 tahun.

Dari anamnesis, pasien mengaku tidak merasakan gerakan janin sejak pagi
ini SMRS. Keadaan ini sesuai dengan salah satu dasar diagnosis IUFD
yang bersifat subjektif. Dimana ibu tidak merasakan adanya gerakan janin
seperti biasanya, yang menandakan kematian janin dalam kandungan.

Pada pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan palpasi tidak didapati adanya


gerakan janin.Ini sesuai dengan kriteria diagnosa dari IUFD dimana pada
palpasi tidak didapati adanya gerakan janin.

Pada pemeriksaan auskultasi dengan penggunaan alat bantu Doppler


tidak terdengar bunyi jantung janin, hal ini turut membuktikan adanya
kematian janin intra uterin.

19

Setelah kira-kira 15 menit pasien mendapat penangan di ruang PONEK,


pasien merasakan perut mules-mules semakin kuat dan keluar darah dan
diikuti keluarnya air ketuban yang banyak dan disusul dengan keluarnya
janin. Janin lahir jenis kelamin perempuan, tidak bergerak, berat badan
1.100 gr , panjang badan 39 cm, termasuk dalam stadium maserasi 0
dimana kulit berwarna kemerahan terutama pada kedua lengan bahagian
atas. Ini sesuai dengan derajat maserasi 0 yang terjadi < 8 jam setelah janin
meninggal dalam kandungan.

Pada kasus ini penyebab dari IUFD diduga kuat disebabkan oleh faktor ibu
yaitu infeksi. Hal ini dibuktikan oleh hasil pemeriksaan darah rutin ibu
yang menunjukan peningkatan dari leukosit sebesar 18.400 ul, hal ini
sesuai dengan salah satu etiologi dari IFUD faktor maternal yaitu infeksi.
BAB 5
KESIMPULAN

Pada pasien ini ditegakkan diagnosis kematian janin intra uterin (IUFD)

berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.


Pengetahuan ibu mengenai pemeriksaan Ante Natal Care yang teratur dan
efektif sangat dibutuhkan untuk mengetahui kesejahteraan janin untuk
mendeteksi penurunan kesejahteraan janin dan komplikasi pada ibu dapat

dihindari.
Penatalaksanaan IUFD dibagi menjadi penanganan ekspektatif dan aktif.
Penanganan aktif lebih baik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada

ibu dan mengurangi gangguan psikologis keluarga, terutama ibu.


Dukungan moril / psikologis dari pihak dokter dan keluarga sangat

berperan penting pada kasus IUFD.


Penyebab pasti hanya dapat ditegakkan bila pada bayi yang dilahirkan
dilakukan autopsi.

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Saifudin, (2010), Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


SarwonoPrawirohardjo.
2. Winkjosastro, (2005), Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga Cetakan Ketujuh,
Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
3. Novita, (2008), Kesehatan Ibu dan Anak, Diakses pada tanggal 04
September 2013, dari http://one.indoskripsi.com
4. Depkes RI, (2011), Visi dan Misi Indonesia Sehat, Diakses pada tanggal
03 September 2013, darihttp://www.depkes.go.id
5. Suheimi, (2007), Penyebab Kematian Janin, Diakses pada tanggal 25
Agustus2013 dari http://www.Farmacia.com
6. De Cherney, Alan Nathan, Lauren,Current, Obstetri & Gynecology.
LANGE. Diagnosis and Treatment. P:173-4,2011.
7. Cunningham, FG. Williams Obstetrics 21st Edition. McGraw Hill. USA.
1073-1078,1390-94,1457-77.
8. Petersson K. 2003. Diagnostic Evaluation of Fetal Death with Special
Reference to Intrauterine Infection. Thesis dari Departement of Clinical
Science, Divison of Obstetrics and Gynecology, Karolinska Institutet,
Huddinge University Hospital, Stockholm, Sweden.

21

9. Sarah D. McDonald, MD. 2007. Risk of Fetal Death Associated With


Maternal Drug Dependence and Placental Abruption A Population-Based
Study. 1Department of Obstetrics and Gynecology, McMaster University,
Hamilton ON.
10. Agudelo AC, Beliza JM, Rossello LD. 2004. Epidemiology of Fetal Death
in Latin America. Acta Obstet Gynecol Scand ; 79: 3718.

22