Anda di halaman 1dari 19

Kultur Sel-Review Jurnal | 1

REVIEW JURNAL
Aplikasi Kultur Sel untuk Pengobatan
Pancreatic Insulin-Producing Cells differentiated from

Human Embryonic Stem Cells Correct


Hyperglycemia in SCID/NOD Mice, an Animal Model of Diabetes

disampaikan kepada Ibu Dr. Dianursanti, S.T., M.T.

Disusun oleh:
Elisabet (130637103
h

5)

Program Studi Teknologi Bioproses


Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Depok, 2015
KATA PENGANTAR

Kultur Sel-Review Jurnal | 2

Kami panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
kuasaNya kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada
waktunya. Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Kultur Sel.
Dalam penulisan makalah ini, banyak halangan dan rintangan yang terjadi,
namun tidak menghalangi niat kami untuk menyelesaikan makalah ini dengan
sebaik-baiknya. Kami juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian makalah ini,
yaitu:
1. Dosen pengampu mata kuliah ini, Ibu Dianursanti dan Bapak Saptowo yang
telah membimbing kami selama proses penulisan laporan.
2. Orang tua kami yang senantiasa memberikan dukungan selama proses
pembuatan makalah ini.
3. Seluruh rekan Teknologi Bioproses UI, seluruh angkatan 2013, serta segala
pihak yang telah membantu kami.
Penyusun menyadari banyaknya kekurangan yang terdapat dalam laporan ini.
Oleh karena itu, kami meminta maaf atas semua kesalahan yang terjadi pada
laporan ini. Kami juga mengharapkan saran, masukan, dan umpan balik dari para
pembaca untuk makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih atas
bantuan dari berbagai pihak dan berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca.

Depok, Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3

Kultur Sel-Review Jurnal | 3

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1 Latar Belakang...............................................................................................4
1.2 Tujuan.............................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................6
2.1 Jenis Aplikasi Kultur Sel................................................................................6
2.2 Bahan Baku dan Alat......................................................................................6
2.3 Ketersediaan Bahan Baku..............................................................................7
2.4 Metode Kultur Sel..........................................................................................7
2.4.1 hESC culture and differentiation.............................................................7
2.4.2 Immunohistochemistry............................................................................8
2.4.3 Flow cytometry........................................................................................9
2.4.4 RNA isolation and semi-quantitative RT-PCR........................................9
2.4.5 Measurement of insulin and C-peptide secretion by
electrochemiluminescence immunoassays.....................................................10
2.4.6 STZ-induced diabetic mice....................................................................10
2.4.7 Graft preparation and transplantation....................................................11
2.4.8 C-peptide measurement in serum..........................................................11
2.4.9 Histological analysis of graft development in vivo...............................11
2.4.10 Statistical analysis................................................................................12
2.5 Tingkat Kesulitan Metode Kultur Sel...........................................................12
2.6 Parameter Keberhasilan................................................................................12
2.7 Potensi Pengembangan Aplikasi Kultur Sel.................................................12
BAB III HASIL DAN KESIMPULAN...............................................................14
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................20

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai mahasiswa jurusan Teknologi Bioproses, hendaknya kami dapat lebih
menguasai ilmu tentang biologi, kimia, dan ilmu dasar keteknikan lainnya. Pada
mata kuliah Kultur sel ini, diharapkan kami sebagai mahasiswa Jurusan Teknologi
Bioproses dapat melakukan kultur sel baik itu kultur sel mikroorganisme,

Kultur Sel-Review Jurnal | 4

tumbuhan, maupun hewan. Pada makalah ini, kami akan membahas mengenai
aplikasi kultur sel untuk pengobatan. Makalah ini lebih berbentuk seperti review
jurnal, dimana jurnal yang kami review yaitu Pancreatic Insulin-Producing
Cells

differentiated

from

Human

Embryonic

Stem

Cells

Correct

Hyperglycemia in SCID/NOD Mice, an Animal Model of Diabetes


Jurnal yang kami review ini membahas bagaimana pengaruh stem sel
embrionik dari manusia yang berdiferensiasi menjadi sel pankreas yang
memproduksi insulin, dapat mengatasi penyakit hyperglycemia pada tikus yang
memiliki gen SCID/NOD. Gen SCID/NOD merupakan gen yang memicu
terjadinya penyakit diabetes tipe 1. Penyakit diabetes memiliki 2 tipe, dan yang
paling berbahaya adalah tipe ini. Tipe 1 diabetes adalah kondisi auto-imun dimana
sistem imun teraktivasi untuk menghancurkan sel pankreas yang memproduksi
insulin. Masih tidak diketahui mengapa terjadi reaksi auto-imun ini. Tipe 1
diabetes tidak disesabkan oleh buruknya pola makan dan faktor eksternal lainnya.
Belum ada yang dapat menyembuhkan serta pencegahannya. Tipe 1 diabetes ini
terjadi dimana pankreas tidak dapat memproduksi insulin, karena beta sel yang
memproduksi insulin dihancurkan oleh sistem imun tubuh. Tanpa insulin, sel-sel
dalam tubuh tidak dapat mengubah glukosa menjadi energi. Penyakit ini dialami
oleh semua umur.
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Departemen Kesehatan, terdapat
382 juta orang yang hidup dengan diabetes di dunia pada tahun 2013. Pada tahun
2035 jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 592 juta orang.
Melihat angka yang tertera, diabetes menjadi penyakit yang mengancam
kesehatan penduduk dunia. Mengingat pula bahwa diabetes tipe 1 ini belum
ditemukan obatnya, maka dilakukanlah penelitian oleh Xiu-feng Hua, Yan-wei
Wang, Yu-xiao Tang, Sheng-qiang Yu, Shao-hua Jin, Xiao-mei Meng, Hua-feng
Li, Fu-jun Liu, Qiang Sun, Hai-yan Wang, Jian-yuan Li, untuk mencari solusi
bagi penyakit ini.
1.2 Tujuan
Dalam pembuatan makalah ini terdapat beberapa tujuan, diantaranya sebagai
berikut.
1. Menyelesaikan tugas mata kuliah wajib Teknologi Bioproses Kultur Sel.

Kultur Sel-Review Jurnal | 5

2. Memahami aplikasi dilakukannya kultur sel dari stem sel manusia untuk
pengobatan.
3. Melatih tingkat kritis mahasiswa terhadap jurnal yang dibaca.
4. Dapat bermanfaat dan memberikan ilmu baru bagi pembaca.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Jenis Aplikasi Kultur Sel
Kultur Sel dalam jurnal ini diaplikasikan untuk pengobatan terhadap
diabetes tipe 1. Kultur sel ini dilakukan karena transplantasi islet pankreas
merupakan jenis pengobatan yang prospektif untuk diabetes tipe 1. Penonor
pankreas sulit didapatkan. Salah satu jalan untuk mengatasi hal ini adalah dengan
menghasilkan islet dari human embryonic stem cells (hESCs), sel lini yang dapat
melakukan proliferasi dengan kapasitas besar, melalui diferensiasi langsung
secara cepat. Penelitian ini dilakukan untuk menguji apakah hESCs dapat
menyembuhkan hyperglycemia pada tikus sebagai model dengan severe combined
immunodeficient (SCID)/ non-obese diabetic (NOD) yang dimilikinya.
2.2 Bahan Baku dan Alat

hESC lines YT1 and YT2


Dulbeccos modified Eagles medium (DMEM)
KnockOut serum replacement (KSR)
Matrigel

Kultur Sel-Review Jurnal | 6

RPMI1640 yang mengandung fetal bovine serum (FBS), N2 dan B27


Activin A
Wortmannin
fibroblast growth factor-7 (FGF-7)
Noggin
Epidermal growth factor (EGF)
Paraformaldehyde
Triton X-100/phosphate-buffered saline (PBS)
Serum
Antibodi primer
Guinea pig antiinsulin
Mouse anti-Cpeptide
Antibodi sekunder
trypsin-EDTA
RNAiso Plus reagent
Rever-TraAce
Taq polymerase
Etidium bromida
KrebsRinger buffer at
BCA Protein Assay Kit
STZ
Oral enrofloxacin
Buprenorphin

2.3 Ketersediaan Bahan Baku


Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian tersedia di berbagai
situs penjualan kit untuk proses kultur sel seperti Sigma Aldrich, Invitrogen, dan
sebagainya. Informasi sumber untuk mendaatkan bahan dan alat diatas tertera
pada pembahasan metode dibawah ini. Sumber dituliskan tepat disamping
didalam tanda kurung, dimana bahan dan alat disebutkan. Kemudian, semua
media dan suplemen didapat dari Invitrogen (Carlsbad, CA, USA) dan untuk
growth factors dari Peprotech (Rocky Hill, NJ, USA).
2.4 Metode Kultur Sel
Metode ini menghasilkan pancreatic IPCs dari dua hESC lines yaitu YT1 dan
YT2, menggunakan optimasi empat tahap diferensiasi protokol pada sistem kultur
secara chemical. Kemudian, sekitar 5-7 x 10^6 sel yang terdiferensiasi di
transplantasi ke epididymal fat pad pada 20 tikus SCID/NOD. Sebagai kontrol

Kultur Sel-Review Jurnal | 7

negatif pada penelitian ini, 6 tikus diataranya, ditransplantasi dengan hSECs yang
tidak

berdiferensiasi.

Keberhasilan

pencangkokan

dilihat

dengan

immunohistochemistry dan perhitungan banyaknya C-peptida dan tingkat gula


darah. Metode yang digunakan, dijelaskan lebih detail dibawah ini.
2.4.1 hESC culture and differentiation
hESC lines YT1 and YT2 diambil dari Ethics Committee of The Medical
College of Qingdao University, China. hESCs dikultur pada Dulbeccos modified
Eagles medium (DMEM)/F12, dan ditambahkan dengan % KnockOut serum
replacement (KSR) dan 4 ng/mL of basic fibroblast growth factor (bFGF). Koloni
dari hESCs dikumpulkan dengan 10 mg/mL collagenase IV menjadi small
clumps. hESC clumps lalu dipindahkan ke Matrigel (BD Biosciences, Franklin
Lakes, NJ, USA; 1:50)-coated dishes. Sel diinkubasi dengan RPMI1640 yang
mengandung 0,2% fetal bovine serum (FBS), 0,56N2 dan 0,56B27 lalu
ditambahkan dengan 100 ng/mL activin A (R&D Systems, Minneapolis, MN,
USA) dan 1 mM wortmannin selama 4 hari. Sel yang terdiferensiasi dikultur pada
RPMI1640 ditambahkan dengan 0,5% FBS, 0,5% insulin/transferrin/selenium
(ITS), 0,56B27, 2 mM retinoic acid (RA) (Sigma, St. Louis, MO, USA), 20 ng/ml
fibroblast growth factor-7 (FGF-7), and 50 ng/mL Noggin selama 4 hari. Lalu sel
diinkubasi selama 5 hari pada glukosa tinggi DMEM ditambahkan dengan 0,5%
FBS, 1% ITS, 16N2, dan 50 ng/mL epidermal growth factor (EGF) (Sigma). Sel
mengalami perbanyakan.Terakhir, sel dikultur pada DMEM/F12 mengandung 1%
ITS, 10 ng/ml bFGF, 10 mM nicotinamide (Sigma), 50 ng/ml exendin-4 (Sigma),
dan 10 ng/ml bone morphogenetic protein 4 (BMP4) untuk sel bertumbuh dewasa.
Semua media dan suplemen didapat dari Invitrogen (Carlsbad, CA, USA) dan
growth factors dari Peprotech (Rocky Hill, NJ, USA).
2.4.2 Immunohistochemistry
Sel yang terinduksi dimasukkan ke dalam 4% paraformaldehyde selama 15
menit, dibuat permeabel selama 10 menit dalam 0,2% Triton X-100/phosphatebuffered saline (PBS), dan di tutup dengan 10% serum. Sel diinkubasi dengan
antibodi primer (rabbit anti-PDX1 (1:1000; Abcam, Cambridge, UK), guinea pig
antiinsulin (1:50; Dako, Glostrup, Denmark), and mouse anti-Cpeptide (1:200;
Linco/Millipore)) selama satu malam pada 4uC lalu dengan antibodi sekunder

Kultur Sel-Review Jurnal | 8

(fluorescein isothiocyanate [FITC]-conjugated donkey anti-rabbit IgG, Cy3conjugated donkey anti-guinea pig IgG, or Cy3-conjugated donkey anti-rabbit
IgG; Millipore, Billerica, MA, USA) selama 60 menit pada suhu ruang. Gambar
diambil

menggunakan

confocal

microscope

(Zeiss,

Jena,

Germany).

Immunostaining dilakukan pada sampel yang disiapkantanpa antibodi primer


sebagai kontrol negatif. Cangkokan yang diambil dari tikus disimpan pada
Bouins solution selama 24 jam and dimasukkan ke dalam paraffin. Lalu, bagian
setebal 5mm dipotong dan diletakkan pada slide.
2.4.3 Flow cytometry
hESCs yang terinduksi dicuci dengan PBS dan dipisahkan menjadi suspensi
single-cell dengan 0,25% trypsin-EDTA, dan dibuat menjadi 1 x106 cells/mL
dengan PBS. Antibodi primer dan sekunder yang digunakan yaitu: anti-insulin
(guinea pig IgG; 1:500; Dako) and anti-C-peptide (mouse IgG; 1:200;
Linco/Millipore), FITCconjugated donkey anti-rabbit IgG, Cy3-conjugated
donkey antiguinea pig IgG, and Cy3-conjugated donkey anti-rabbit IgG. Setelah
dicuci, sel kemudian dianalis dengan flow cytometry.
2.4.4 RNA isolation and semi-quantitative RT-PCR
Total RNA diekstraksi menggunakan RNAiso Plus reagent (TaKaRa, Dalian,
China) berdasarkan instruksi manufakturer. Lalu, 2 mg dari total RNA di
transkribse balik dengan Rever-TraAce (TOYOBO, Osaka, Japan). Taq
polymerase (TaKaRa, Dalian, China) digunakan untuk PCR dan kondisi reaksi
dibuat untuk tahap denaturasi pada 94C selama 5 menit, diikuti dengan beberapa
tahap denaturasi pada 94C selama 30 s, annealing pada 60C selama 30 s, dan
extension pada 72C selama 30 s, dan tahap extension pada 72C selama 10
menit. Sekuens primer dan panjang setiap produk dapat dilihat pada tabel berikut.

Kultur Sel-Review Jurnal | 9

Produk hasil PCR dipisahkan pada 1% (w/v) agarose gel, dan divisualisasi
menggunakan pewarna etidium bromida dengan 2 kb DNA ladder untuk
mengestimasi ukuran produk. Amplifikasi gen b-actin digunakan sebagai kontrol
positif.
2.4.5
Measurement
of
insulin
and
electrochemiluminescence immunoassays

C-peptide

secretion

by

Kadar insulin/C-peptida manusia pada kultur supernatan setelah distimulasi


dengan glukosa dan setelah lisis sel dengan ultrasonik, dihitung dengan Elecsys
1010 insulin dan C-peptide electrochemiluminescence immunoassays (Roche,
Penzberg, Germany). Untuk melihat apakah sekresi insulin dan C-peptide dari
hESCs terdiferensiasi, sel di stimulasi dengan 5,5, 16,7, atau 25 mM glukosa.
hESCs yang tidak terdiferensiasi diinkubasi pada kondisi yang sama untuk dipakai
sebagai kontrol. Setelah pre-incubation dengan KrebsRinger buffer at 37C
selama 90 menit, hESCs terdiferensiasi diinkubasi dengan Krebs Ringer buffer
mengandung 5,5, 16,7, atau 25 mM glukosa selama 60 menit pada 37C.
Supernatan yang didapatkan dianalisis. Total protein ditentukan menggunakan
BCA Protein Assay Kit (PIERCE/Thermo Fisher Scientific, Inc., Rockford, IL,
USA).
2.4.6 STZ-induced diabetic mice
Tikus SCID/NOD berumur 68 minggu diambil dari Vital River Laboratories,
(Beijing, China) digunakan untuk studi ini. Tikus tersebut dipelihara pada kondisi
pathogen-free pada fasilitas hewan yang dikontrol

pada

kelembaban

(55%

5%), cahaya (12/12 h light/dark), dan suhu (22C1C). Aerasi dilewatkan

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 10

melalui HEPA filter system yang di desain untuk menyaring virus dan bakteri.
Tikus-tikus diberi makan sepuasnya. Untuk menginduksi diabetes, 70 mg/kg STZ
(in 0.1 M citrate buffer, pH 4,5) di injeksi ke tikus setiap hariEmpat hari setelah
injeksi STZ, kami mulai menghitung kadar glukosa setiap hari menggunakan tail
vein blood dengan glucose meter (Roche, Basel, Switzerland). Gula darah pada
tikus sebanyak 6,32,1 mmol/L sebelum injeksi STZ. Pada 15 hari setelah
injeksi STZ, semua tikus yang diinjeksikan STZ mengalami hyperglycemia,
dengan tingkat gula darah 9,23,6, 13,65,9, 16,96,4, 23,96,8, and 24,610,3
mmol/L, untuk hari 1 hingga 5. Tiga hari setelah treatmen STZ, kadar gula darah
meningkat hingga 16,7 mmol/L pada semua tikus. Semua tikus dinyatakan
menderita hyperglycemia. Tikus diabetes ini kemudian diinjeksi dengan longacting insulin setiap hari hingga waktu transplantasi. Tikus-tikus dimonitor berat
tubuhnya dan kadar gula darahnya setiap hari.
2.4.7 Graft preparation and transplantation
Sel yang terdiferensiasi dicabut dari culture plate dan dipotong dengan ukuran
yang diinginkan menggunakan cell scaper. Agregat disentrifugasi, dan pellet
diresuspensi ke dalam media dengan volume akhir 500 mL. Sebelum
pembedahan, tikus di bius dengan Nembutal (intraperitoneal injection, 50 mg/kg).
Kemudian hESCs terdiferensiasi di transplantasi ke epididymal fat pads dari tikus
SCID/NOD. 14 tikus ditransplantasi dengan hESCs yang terdifensiasi menjadi
IPCs dan 6 tikus ditransplantasi dengan undifferentiated hESCs. Tikus yang
diperkirakan tidak sehat akan di eutanasia dengan CO2. Setiap tikus menerima 5
7x10^6 hESCs. Setelah pembedahan, buprenorphine diinjeksikan ke bawah kulit
pada dosis 0,75 mg/kg untuk menghilangkan rasa sakit. Delapan jam kemudian,
buprenorphine diinjeksikan berulang. Setelah 8 minggu transplantasi tikus
dieutanasia untuk dianalisis.
2.4.8 C-peptide measurement in serum
Keberhasilan pencangkokan dinilai dari perhitungan serum dari kadar Cpeptida manusia. C-peptide dihitung menggunakan electrochemiluminescence
immunoassays (Roche, Penzberg, Germany).

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 11

2.4.9 Histological analysis of graft development in vivo


Untuk menilai potensi diferensiasi dari hESCs, kami mencangkok
differentiated cells ke dalam epididymal fat pad of 20 tikus SCID/NOD. Agregat
dari 57x10^6 cells dimasukan ke dalam Gelfoam sponge dan dilapisi dengan
Matrigel. Tikus dibius dengan inhalable isofluance dan cangkok yang disiapkan
dicangkokkan ke dalam epididymal fat pad setiap tikus SCID/NOD. Semua tikus
diperlakukan dengan oral enrofloxacin (Bayer Animal Health) selama 1 minggu
(100 mg/mL dalam air minum) setelah pencangkokan. Delapan minggu setelah
pencangkokan, cangkokan diambil dari epididymal fat pad and dilakukan
immunohistological analisis.
2.4.10 Statistical analysis
Persentase dari insulin atau C-peptide-positive cells dinilai dengan tiga
percobaan independen. Sel juga diberi warna dengan 49,6-diamidino-2phenylindole untuk menghitung jumlah total dari sel. Statistical tests dilakukan
menggunakan SPSS software (SPSS Inc., Chicago, IL, USA).
2.5 Tingkat Kesulitan Metode Kultur Sel
Kesulitan yang mungkin dialami saat percobaan adalah banyaknya tahapan
yang perlu dilakukan. Selain itu juga banyak informasi serta pengetahuan baru
yang perlu dimiliki untuk melakukan penelitian sejenis ini. Kemungkinan lainnya
adalah peralatan yang diperlukan sangat banyak, ketersediaan peralatan dan juga
bahan dapat mempengaruhi keberhasilan dalam penelitian ini. Biaya juga dapat
menjadi faktor yang menambah tingkat kesulitan penelitian.
2.6 Parameter Keberhasilan
Penelitian ini memiliki parameter keberhasilan yaitu, jika terjadi penurunan
tingkat gula darah pada tikus model yang mengalami hyperglycemia, setelah
dilakukan transplantasi human embryonic stem cells (hESCs) yang berdiferensiasi
menjadi Insulin-Producing Cellls (IPCs). Untuk melihat keberhasilannya akan
dibahas pada bagian hasil dan kesimpulan.

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 12

2.7 Potensi Pengembangan Aplikasi Kultur Sel


Pengembangan untuk studi ini akan memiliki potensi yang sangat besar
karena mengingat bahwa banyak sekali penderita diabetes di Indonesia bahkan di
seluruh dunia. Keberhasilan dari penelitian ini akan memberikan solusi bagi
masalah kesehatan, diabetes tipe 1. Diferensiasi ESC menjadi IPCs telah terbukti
dapat melakukan reverse hyperglycemia pada tikus nonobese diabetic (NOD).
Namun untuk memasuki tingkat preclinical trials, masih sangat banyak studi yang
harus dilakukan untuk benar-benar memahami mekanisme dan metode untuk
menghasilkan IPCs yang dapat dikomparasi secara fenotip maupun fungsional
terhadap b-cells. Sekalipun masih panjang perjalanan untuk benar-benar mencapai
tahap preclinical trial, namun stem cells transplantasi menghadirkan arah
penelitian untuk treatment diabetes dan memiliki prospek yang besar dalam
aplikasi klinis dan penelitian akademik.

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 13

BAB III HASIL DAN KESIMPULAN


Hasil
Pancreatic differentiation of hESCs
Hasil pembacaan dari mikroskop mengkonfirmasi bahwa undifferentiated
hESCs

mengalami

proliferasi

melalui

clonal

growth.

hESCs

dikultur

menggunakan four-stage in vitro differentiation protocol dengan beberapa


modifikasi (Figure 1). Pertama, hESCs diinduksi untuk membentuk sel
endodermal

definitif.

Kemudian

sel

berdiferensiasi

menjadi

pancreatic

endodermal cells, dan akhirnya menjadi insulin-producing cells.

Immunohistochemistry analysis
Seperti ditunjukan pada Figure 2, immunohistochemistry mengkonfirmasi
bahwa differentiated hESCs mengekpresikan tanda-tanda sel pankreas termasuk,
insulin, glucagon, PDX-1, and C-peptide.

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 14

RT-PCR analysis
RT-PCR analisis

mengkonfirmasi

bahwa

differentiated

hESCs

mengekspresikan Pdx1, Insulin-1, Hnf4a, Isl-1, Glut2, and Nkx6-1(Figure 3).

Flow cytometry
Persentase dari sel yang mengekspresikan human C-peptide and insulin
ditentukan pada hari ke 1, 12, and 22 dengan flow cytometry. Pada hari ke 1,
0,4% dari sel positif terhadap insulin dan C-peptide. Setelah 12 hari induksi, 7,1%
dan 2,0% dari sel positif terhadap insulin dan C-peptide. Pada hari ke 22, 17,1%
dan 3,8% dari differentiated hESCs positif terhadap insulin and C-peptide (Figure
4).

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 15

Secretion of C-peptide and insulin from differentiated hESCs


Insulin tidak dapat dideteksi di supernatan pada sel setelah tahap dari
protokol diferensiasi. Namun, hESCs pada stages 2 dan 3 sudah dapat mensekresi
insulin. Sel dewasa didapatkan setelah tahap 4 (105 cells/well) kemudian di preinkubasi dengan KrebsRinger buffer mengandung 5.5, 16.7, or 25 mM glukosa
selama 60 menit pada 37C; Level insulin dalam supernatan diantarannya
112,830,6, 176,640,6, dan 185,043,7 mU/L. Sekresi C-peptide yaitu
(8,62,7)ng/mL, (12,34,9) ng/mL, (15,64,9) ng/mL.
Transplantation of pancreatic cells into the epididymal fat pads of diabetic
mice
Untuk mengkarakterisasi lebih jauh pembentukan hESCs in vivo,
sekitar 57x 10^6 cells setelah stage 4 dicangkokan ke dalam epididymal fat pad
tikus diabetes (Figure 5).

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 16

Sebelum pencangkokan, kadar gula darahnya 26,45,6 mmol/L. Tiga hari setelah
pencangkokan, kadar gula darah menurun menjadi 16,44,3 mmol/L. Kadar gula
dara diukur pada 18 weeks setelah transplantasi yaitu, 9,23,6, 8,23,2, 6,92,9,
7,03,2, 7,12,8, 7,62,6, 7,83,1, and 7,93,1 mmol/L (Figure 6).

Untuk melihat keberhasillan pencangkokan, human serum C-peptide pada 21, 42,
dan 56 hari dilihat perbedaan dari transplantation differentiated cells dan
undifferentiated cells (Figure 7).

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 17

20 tikus yang ditransplantasi dengan hESC-derived IPCs, 6 diantaranya mati saat


50 hari follow-up periode, dan tiga dieutanasia karena sakit sebelum 42 days posttransplant. Sisa 11 tikus, dieutanasia pada hari ke 56 untuk analisis. Sebagai
kontrol, 6 tikus yang ditransplantasi dengan undifferentiated hESCs, empat
didapati mati saat follow-up dan dua di eutanasia karena sakit. Jika dikomparasi
dengan IPCs group dimana 56 hari adalah waktu final eutanasia, tidak ada dari
undifferentiated hESCs transplanted mice yang hidup.

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 18

Gambar diatas menunjukan bahwa IPCs group memiliki kemampuan hidup yang
lebih besar daripada uhESCs group.
Kesimpulan
Hasil dari studi ini mengkonfirmasi bahwa differentiated pancreatic IPCs dari
human embryonic Stem Cells (hESCs) dapat memperbaiki hyperglycemia pada
SCID/NOD tikus dalam waktu 8 minggu.

DAFTAR PUSTAKA

Xiu-feng Hua., et al. (2014). Pancreatic Insulin-Producing Cells Differentiated


fromHuman Embryonic Stem Cells Correct Hyperglycemia in SCID/NOD
Mice,
an
Animal
Model
of
Diabetes.
Retrieved
from
http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0102198.
Diakses pada 9 Desesmber 2015. Pukul 23.03 WIB.
Unknown.
(2015).
Type
1
Diabetes.
https://www.diabetesaustralia.com.au/type-1-diabetes.
Desesmber 2015. Pukul 23.03 WIB.

Retieved
from
Diakses pada 9

K u l t u r S e l - R e v i e w J u r n a l | 19

Unknown. (2014). Situasi dan Analisis Diabetes. Jakarta: Pusat Data dan
Informasi Kementrian Kesehatan RI. Hal 1-8.
Szkudelski T. (2001).The mechanism of alloxan and streptozotocin action in B
cells
of
the
rat
pancreas.
Retrieved
from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11829314.
Watson, S. (2015). Long Actig Insulin: How It Works. Retrieved from
http://www.healthline.com/health/diabetes/long-acting-insulin#Overview1.
Diakses pada 9 Desesmber 2015. Pukul 23.03 WIB.
Unkown. (2002). What exactly is Buprenorphine?. Retrieved from
https://www.naabt.org/faq_answers.cfm?ID=2. Diakses pada 9 Desesmber
2015. Pukul 23.03 WIB.
Kachapati K., et al. (2012). The non-obese diabetic (NOD) mouse as a model of
human
type
1
diabetes.
Retrieved
from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22893397. Diakses pada 9 Desesmber
2015. Pukul 23.03 WIB.