Anda di halaman 1dari 72

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049

TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sepeda motor merupakan salah satu alat transportasi yang vital karena dengan
memiliki dan menggunakan sepeda motor dapat mendukung kebutuhan aktifitas
manusia. Selain itu sepeda motor lebih mudah dan praktis dibanding dengan alat
transportasi lainnya untuk mendukung segala aktifitas manusia. Oleh karena itu
kebutuhan akan sepeda motor sebagai alat sepeda motor sebagai alat transportasi
sangatlah tinggi sangatlah tinggi. Selain praktis, ekonomis, dan mudah dalam dalam
pengoperasian berkendaraan, sepeda motor bisa lebih lihai dalam mobilisasi
ditengah padat dan ramainya kendaraan lainnya. Ada beragam jenis sepeda motor
di Indonesia, salah satunya adalah sepeda motor tipe scooter matic.
Ditinjau dari kebutuhan sepeda motor yang semakin banyak, akhirnya
kebutuhan ban sebagai media yang digerakkan sistem permesinan pada motor untuk
dapat bergerak. Telah banyak industri yang bergerak dalam manufaktur produksi
ban. Mulai dari ukuran ban yang beragam dan jenis-jenis ban yang beragam
menyesuaikan penempatan pada kendaraan apa serta fungsinya.
Kebutuhan produksi ban di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2008 produksi ban dalam negeri mencapai 39,8 juta buah/tahun,
sedangkan tahun 2009 sendiri mencapai 41 juta/tahun buah, rata-rata produksi ban
dalam negeri mencapai 40 juta buah/tahun (Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia,
2009). Seiring dengan itu, maka limbah ban yang tidak terpakai di lingkungan
semakin meningkat, sehingga ban karet ini dapat dijadikan actortive dari segi
kuantitas karena tingkat kelangkaannya rendah. Karena itu produksi ban di
Indonesia sangat tinggi tingkat produktivitasnya seiring dengan tingkat produksi
kendaraan yang memakai ban.
Didalam dunia manufakturing tire, proses curing adalah proses terakhir
pembentukan tire. Proses curing ini melibatkan banyak elemen pendukung yang
dapat membuat green tire menjadi tire. Proses ini memiliki banyak karakter yang
berbeda-beda sesuai dengan permintaan customer. Plant B, H, I ini dapat
memproduksi tire 80.000 buah tire per hari. Setiap tahunnya akan terus

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
mengalami peningkatan. Target produksi sebesar ini juga tak lepas dari pengaruh
proses curing. Tak bisa dipungkiri proses curing inipun hanyalah buatan manusia,
maka dari para teknisi selalu berupaya maksimal dalam monitor kinerja proses
mulai dari metodenya, manusianya, dan mesinnya. Para teknisi harus selalu
memperhatikan kinerja proses ini. Sekali proses ini stop berhenti beberapa saat,
maka produksi pun akan turun. Ini dapat menyebabkan perusahaan rugi karena
target produksi kurang.
Berdasarkan fenomena diatas, saya ingin mempelajari proses ini. Inilah
mengapa saya mengambil judul MELAKUKAN PROSES CURING TIRE 90/90
14 TUBELESS. Saat ini proses curing tire ini adalah salah satu proses pokok
dalam pembuatan tire yang baik, benar, nyaman, dan aman bagi pengendara sepeda
motor.

2. Tujuan
1. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan kemampuan profesi mahasiswa
melalui latihan kerja dan pengamatan kegiatan dan teknik-teknik yang
diterapkan dilapangan dalam bidang keahlian merancang dan menganalisa
sebuah komponen-komponen mesin, produksi, proses manufakturing dan
problematika yang ada di dalam lapangan.
2. Sebagai sarana agar mahasiswa dapat mengetahui secara langsung segala
kegiatan yang tercakup seluruh kegiatan dalam suatu industri, khususnya
dalam hal proses produksi dan hasil produk yang akan diamati dengan
standart dalam suatu proses produksi, serta berbagai permasalahan yang
mungkin dihadapi.
3. Sebagai sarana untuk menambah pengalaman, ketrampilan dan wawasan
serta sebagai studi banding untuk menyesuaikan kurikulum pendidikan
dengan tuntutan pengetahuan dan teknologi.
4. Sebagai syarat tugas akhir untuk menyelesaikan studi strata-1.

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
3. Metode Pelaksanaan
Metode pengumpulan data dalam praktek kerja lapangan ini adalah dengan
mengikuti kegiatan proses produksi tire/ban di PT. Gajah Tunggal, Tbk Plant
B, Jatiuwung, Tangerang. Selain metode diatas juga dilakukan

dengan

pengambilan beberapa sampel dari tire tersebut, wawancara dengan staf terkait,
dan mencari sumber referensinya melalui arsip dan dokumen industri.

4. Batasan Masalah
Dalam laporan ini hanya akan membahas proses produksi tire yang telah
melalui proses manufacturing yang dikhususkan pada proses curing tire tipe
Bias Tire (Ban) 90/90 14 Inci Tubeless di PT. Gajah Tunggal, Tbk Plant B
selama Kerja Praktek dilaksanakan.

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

BAB II
RUANG LINGKUP PERUSAHAAN
1. Sejarah PT. Gajah Tunggal, Tbk
PT

Gajah

Tunggal

Tbk.

adalah

salah

satu

perusahaan

pembuat ban di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 1951 dengan


memproduksi dan mendistribusikan ban luar dan ban dalam sepeda. Selanjutnya
perusahaan ini berkembang memperluas produksi dengan membuat variasi
produk melalui produksi ban sepeda motor tahun 1971, diikuti oleh ban
bias untuk mobil penumpang dan niaga pada tahun 1981. Awal tahun 90-an,
Perusahaan mulai memproduksi ban radial untuk mobil penumpang dan truk.
Pada saat ini Gajah Tunggal mengoperasikan 5 pabrik ban dan ban dalam
untuk memproduksi ban radial, ban bias dan ban sepeda motor, serta 2 pabrik
yang memproduksi kain ban dan SBR (Styrene Butadiene Rubber) yang terkait
dengan fasilitas produksi ban. Kelima pabrik ban dan pabrik kain ban ini
berlokasi di Tangerang, sekitar 30 kilometer disebelah barat Jakarta. Sedangkan
pabrik SBR berlokasi di komplek Industri Kimia di Merak, Banten, sekitar 90
km disebelah barat Jakarta.

1951 : PT Gajah Tunggal didirikan untuk memproduksi dan


mendistribusikan ban luar dan ban dalam sepeda.

1971 : Persetujuan bantuan teknis ditandatangani dengan Inoue


Rubber Company, Jepang untuk memproduksi ban sepeda motor.

1981 : Perusahaan mulai memproduksi ban bias untuk kendaraan


penumpang dan niaga dengan bantuan teknis dari Yokohama
Rubber Company, Jepang.

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
1990 : PT Gajah Tunggal Tbk terdaftar dalam Bursa Efek Jakarta
dan Surabaya.

1991 : PT Gajah Tunggal Tbk mengakuisisi GT Petrochem


Industries, sebuah produsen kain ban (TC) dan benang nilon.

1993 : Perusahaan mulai memproduksi secara komersial ban


radial untuk mobil penumpang dan truk ringan.

1994 : PT Gajah Tunggal Tbk menerima sertifikasi mutu, seperti


E-mark dari Komunitas Eropa dan memenuhi syarat dan
peraturan Departemen Transportasi yang diperlukan untuk pasar
Amerika Serikat.

1995 : PT Gajah Tunggal Tbk mengakuisisi Langgeng Baja


Pratama (LBP), produsen kawat baja. PT Gajah Tunggal Tbk
menerima sertifikasi mutu internasional ISO 9002 untuk system
kendali mutu produksi ban radial, dan juga menerima TUV
CERT, sertifikasi mutu dari Jerman.

1996 : PT Gajah Tunggal Tbk mengakuisisi Meshindo Alloy


Wheel Corporation, produsen velg aluminium terbesar kedua di
Indonesia. PT GT Petrochem Industries, anak perusahaan PT
Gajah Tunggal Tbk, memperluas lingkup operasinya dengan
memperoduksi karet sintetis, atilena glikol, benang poliester dan serat poliester.

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
1997 :PT Gajah Tunggal Tbk membuat perjanjian off-take
dengan Pirelli Tyre untuk memproduksi ban radial untuk mobil
penumpang yang dirancang Pirelli untuk wilayah Amerika Utara
dan Eropa. Pabrik ban radial PT Gajah Tunggal Tbk memperoleh
sertifikasi ISO 9001 untuk sistem mutu disain dan pengembangannya.

2001 : Perusahaan membuat perjanjian produksi dengan Nokian


Tyres Group, sebuah perusahaan manufaktur ban terkemuka yang
berbasis di Finlandia, untuk memproduksi beberapa jenis ban
mobil penumpang, termasuk ban untuk musim dingin (salju),
untuk pasar di luar Indonesia.

2002 : Perusahaan menerima sertifikasi mutu QS 9000, satu dari


syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mendistribusikan produk di
Amerika Serikat. PT Gajah Tunggal Tbk menyelesaikan
restrukturisasinya karena timbulnya krisis keuangan Asia, yang
memungkinkan Perusahaan untuk menurunkan beban hutangnya lebih dari US$
200 juta dan mengkonversi hutang ke FRN.

2004 : Divestasi saham Langgeng Bajapratama yang merupakan


produsen kawat baja. DImulainya perjanjian off-take dengan
Michelin yang mana Gajah Tunggal akan memproduksi 5 juta
ban per tahun untuk Michelin untuk pasar ekspor hingga tahun
2010. Peluncuran gerai-gerai TireZone.

2005 : hasil dari obligasi tersebut digunakan untuk membeli


kembali sejumlah wesel bayar dan untuk membiayai ekspansi
perusahaan.Divestasi saham Meshindi Alloy Wheel yang
merupakan produsen velg aluminium.Perusahaan menerima sertifikasi mutu
ISO/TS 16949, sebuah peningkatan dari QS 9000 yang diperoleh pada tahun 2002.
Dimulainya produksi ban untuk Michelin melalui program off-take.

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

2006 : PT Gajah Tunggal Tbk menerima penghargaan Best


managed Company in Indonesia dari Euromoney Magazine.

2007 : Tambahan dana sebesar US$ 95 juta berasal dari


penawaran tambahan obligasi global untuk membiayai ekspansi
yang sedang berjalan dan untuk pengeluaran modal guna
membiayai riset dan pengembangan produk baru. Perusahaan
juga kembali memasuki pasar modal dengan melakukan emisi saham dengan
perbandingan 10:1 dengan nilai emisi sebesar Rp 158,4 milyar (sekitar US$ 17 juta)
untuk memenuhi modal kerja.

2008 :Perusahaan menerima penghargaan Primaniyarta dari


Presiden Republik Indonesia. Micheline off-take mencapai 2,8
juta ban.

2009 : Perusahaan berhasil menyelesaikan penawaran pertukaran


terhadap obligasi yang belum dibayarkan. Gajah Tunggal juga
merupakan penerima beberapa penghargaan, sebagian besar
penghargaan Anugerah Produk Asli Indonesia tahun 2009 dari
Bisnis Indonesia. Perusahaan juga menerima sertifikasi ISO 14001 untuk sistem
manajemennya.

2010 : Peluncuran Champiro Eco, ban Indonesia pertama yang


ramah lingkungan, oleh Menteri Perdagangan ibu Mari Pangestu.
Penjualan konsolidasi Perusahaan melampaui 1 milyar Dolar AS.

2011 : Gajah Tunggal mengekspor lebih dari 10 juta ban radial,


dan melampaui Rp 10 triliun dalam penjualan bersih. Dan
mendapatkan penghargaan sebagai Top 10 - best management

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
companies oleh FinanceAsia dan Top 10 - best big companies oleh Forbes
Indonesia.

2012 : Perusahaan menerima berbagai penghargaan seperti


Indonesias

Best

Mid-cap

Company

dari

FinanceAsia,

penghargaan Primaniyarta dalam kategori Global Brand


Development dari Departemen Perdagangan, dan Indonesias
Trusted Companies dari majalah SWA. Gajah Tunggal juga membeli bidang tanah
di Karawang untuk fasilitas trek pengujian dan ekspansi bisnis masa depan.

2013 : Perusahaan menerbitkan Senior Secured Notes sebesar


500.000.000 Dolar AS, yang jatuh tempo pada tahun 2018 dengan
kupon 7,75% per tahun. Dana dari Notes tersebut digunakan
sepenuhnya untuk menebus Callable Step-up Guaranteed Secured
Bond yang jatuh tempo pada tahun 2014 dengan jumlah prinsipal 412.495.000
Dolae AS. Sisa dana yang diperoleh akan digunakan untuk membiayai belanja
modal.

2014 : Perusahaan memulai pembangunan pabrik baru ban radial


untuk Truk dan Bus. Setelah pabrik tersebut selesai dibangun,
Perusahaan akan menjadi pionir dalam teknologi TBR di
Indonesia.

2. Profil PT Gajah Tunggal, Tbk


2.1. Visi dan Misi PT Gajah Tunggal, Tbk
a)

Visi
Menjadi good corporate citizen dengan posisi keuangan yang
kuat, pemimpin pasar di Indonesia, dan menjadi produsen ban yang
berkualitas dengan reputasi global.

b)

Misi

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Menjadi produsen ban yang memimpin dan terpercaya sebuah
portofolio produk ban yang optimal, dengan harga yang kompetitif dan
kualitas yang unggul disaat yang sama terus meningkatkan ekuitas
merek produk kami, melaksanakan tanggung jawab kami, dan
memberikan profitabilitas/hasil investasi kepada para pemegang
saham serta nilai tambah untuk semua stakeholder perusahaan.

2.2. Tata Letak Perusahaan


PT. Gajah Tunggal, Tbk. memiliki banyak Plant. Plant A, B, C, D, E,
F, G, H, I, J, K, dan seterusnya. Setiap Plant yang ada mempunyai kantor
pusat dan lantai produksi sendiri-sendiri yang bertugas khusus menangani
proses pembuatan produk dan produk yang dihasilkan oleh masing-masing
Plant. Plant tempat bekerja praktek berlokasikan di Plant B divisi
Technical. Plant B adalah tempat produksi ban motor. Plant B ini sudah
termasuk dengan 1 ruang lingkup komplek pabrik PT. Gajah Tunggal,
Tbk.

Gambar 1. Plant B PT. Gajah Tunggal, Tbk.

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3. Struktur Organisasi Technical Plant B

Gambar 2. Struktur Organisasi Technical Plant B

Job Desk Umum


Membuat Spec Mesin untuk dioperasikan dalam pembuatan tire.
Memodifikasi mesin bekerja sama bagian engineering untuk
membuat efisiensi mesin lebih baik dalam produksi tire.
Melakukan setting mesin agar dapat bekerja baik dalam proses
manufakturing.
Monitoring dan terus evaluasi jika terjadi defect pada mesin atau
pada tire.
Ketika ada pembuatan tire baru, maka technical akan mengerjakan
spec nya untuk diserahkan kepada operator.

10

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
1. Bias Tire Tubeless

Gambar 3. Tubeless tire

1.1. Fungsi Tire


1.1.1. Menahan Beban
Dalam hal menahan beban yang paling berpengaruh adalah tekanan
angin, karena angin dalam ban berfungsi untuk menopang berat
kendaraan dan muatan.

1.1.2. Meredam Guncangan atau Benturan


Tekanan angin dan type ban (radial/ bias) sangat berpengaruh dalam
meredam guncangan awal sebelum diredam lagi oleh suspensi. Ban
tipe radial mampu meredam guncangan lebih baik daripada tipe bias.

1.1.3. Meneruskan Tenaga Dari Mesin


Ban berfungsi untuk meneruskan gaya gerak dan pengeraman ke
permukaan jalan, hal ini berkaitan dengan kinerja traksi dan
pengereman. Yang berpengaruh dalam hal ini adalah pattern atau
kembangan dari ban.

11

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
1.1.4. Meneruskan Fungsi Kemudi
Ban sangat penting dalam mengontrol arah kendaraan, hal ini akan
menentukan

kemampuan

bermanuver

dan

kestabilan

dalam

berkendara. Ban juga memiliki kegunaan memikul beban kendaraan


dan meredam kejutan-kejutan yang ditimbulkan oleh keadaan
permukaan jalan.

1.2. Konstruksi Tubeless Tire

Gambar 4. Konstruksi Tubeless Tire (Ban)

12

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

2. Alur Proses Pembuatan Tire Dan Hasil Produknya

Flow Chart 1. Jenis Proses dan Produk

2.1. Alur Proses Produksi Material


2.1.1. Tread Extruder
Proses ekstrusi ini yaitu suatu proses pembuatan karet pola telapak ban.
Sebelum dilakukan proses ekstrusi, compound diolah terlebih dahulu pada
mesin open mill untuk menaikan suhu dan membuat compound lebih
homogen. Proses pada open mill ini dengan memasukkan compound ke
dalam 2 buah roll yang memiliki gape (sesuai jenis tread yang diinginkan)
selama 5 menit. Setelah compound homogen, compound didorong oleh
screw melalui sebuah die yang memiliki bentuk sesuai dengan bentuk tread

13

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
yang diinginkan. Lalu tread diberi tanda (marking) yang kemudian dilapisi
plastik untuk didinginkan dengan air pada cooling conveyor. Proses
berikutnya adalah pemotongan tread sesuai dengan ketentuan yang
selanjutnya ujung tread diberi cement kemudian ditempatkan pada pantruck
untuk proses selanjutnya (building).

Gambar 5. Compound

Gambar 6. Extruder
14

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.1.2. Topping Calender
Proses pada Topping Calender merupakan proses pelapisan kain ban
atau nylon cord dengan compound yang menghasilkan produk yang
bernama treatment. Proses aplikasi lain adalah untuk pembuatan
material ply. Aplikasi tersebut dibentuk oleh mesin Calender dengan bahan
dasar benang (polyester dan nylon) maupun nylon yang akan diproses,
sebelumnya harus melalui proses pelebaran terlebih dahulu agar material
tersebut terbuka untuk kemudian di masukan ke dalam oven dengan suhu
160C agar pada saat diberikan compound dan bahan-bahan seperti
polyester dan nylon dapat merekat dengan sempurna. Treatment yang
dihasilkan lalu digulung dalam sebuah gulungan besar yang kemudian
dikirim ke bias cutting untuk mengalami proses pemotongan.

Gambar 7. Nylon Calender

15

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 8. Cord (Nylon + Compound) Calender

2.1.3. Bias Cutting


Proses cutting ini merupakan proses lanjutan dari mesin Callender.
Proses Bias Cutting adalah suatu proses pemotongan treatment dengan
sudut 60 derajat dan lebar sesuai dengan spesifikasi. Hasil akhir dari proses
ini biasa disebut dengan Ply dan Cap Ply. Ply merupakan lembaran material
yang terdiri dari Polyester, Nylon, dan compound yang telah diproses
sebelumnya dalam bentuk gulungan panjang di mesin Calender yang
kemudian di potong potong untuk merubah arah atau sudut benang dari 0
menjadi 60. Ply berfungsi sebagai carcass atau kerangka untuk menahan,
membentuk sistem suspensi dan beban ban. Sedangkan Cap Ply merupakan
lembaran material yang terdiri dari nylon dan compound yang dipotong
potong menjadi beberapa bagian di mesin TTO. Proses bias cutting adalah
proses pemotongan treatment dari proses calendaring secara diagonal
dengan sudut tertentu menjadi lembaran yang disebut ply dengan lebar
sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Proses pemotongannya
membentuk sudut 60 . Ply yang telah dipotong dengan lebar dan sudut
tertentu disambung ujungnya dengan ujung ply berikutnya menjadi
lembaran, kemudian digulung dengan liner.

16

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 9. Sudut Potong Ply

Gambar 10. Cutter Memotong Ply Sesuai Sudut potong

2.1.4. Bead Grommet


Proses kelanjutan dari Bead Forming untuk membuat Bead yang dapat
dipakai. Proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

17

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.1.4.1.

Wrapping Tipe

Melilitkan pita/tape pada sekeliling Bead untuk menguatkan posisi


Bead dan menjaga susunan train agar tidak terlepas. Pita yang digunakan
adalah treatment yang dipotong dengan lebar 18 mm. Strand merupakan
jumlah kawat dalam lilitan. Train merupakan jumlah lilitan yang ada
dalam 1 bead.

Gambar 11. Kawat (Wire) Sebagai Komponen Bead

Gambar 12. Proses Pembuatan Bead

18

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.1.4.2.

Apexing

Merupakan proses penambahan compound pada sekeliling luar


bead untuk mencegah adanya ruang kosong antara bead dengan flipper,
dan untuk meningkatkan kekuatan bead.

Gambar 13. Apex

2.1.4.3.

Flippering

Proses pembungkusan bead dengan treatment yang dipotong


dengan lebar tertentu untuk menguatkan bead agar tidak pecah dan
menguatkan posisi apex pada bead.

2.1.5. TUC (Tread Under Cushion)


TUC adalah salah satu komponen penyusun tire yang masih
berhubungan dengan tread. Kepanjangan dari TUC ini adalah Tread Under
Cushion yang artinya adalah tread dibawah cushion. Akan tetapi memang
pada saat berlangsungnya proses produksinya sendiri, cushion berada diatas
ply. Ini tidak menjadi masalah yang besar karena posisi cushion tetap
dibawah tread saaat proses building. Fungsi dari TUC ini adalah merekatkan
komponen ply dengan tread sehingga dapat mengatasi separation (terpisah
atau terbuka). Jadi fungsinya adalah lebih merekatkan agar tidak terjadi

19

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
celah antara tread dan ply yang dapat menyebabkan defect atau kecacatan
pada tire.

Gambar 14. TUC (Tread Under Cushion)

2.1.6. Slitter / Chafer


Slitter ini terdiri dengan 2 lapisan yang diletakkan diatas OB. Chafer ini
terdiri atas compound dan benang. Benangnya berbahan filamen yang ketika
compound dan benang disatukan maka chafer ini akan susah sekali disobek
maupun ditarik karena bahannya sendiri kokoh. Fungsi Chafer adalah antara
lain :
a) Melapisi bagian bead sehingga lebih kokoh.
b) Melindungi ply dan area bead dari gesekan terhadap rim saat
breaking dan driving.
c) Saat menjadi tire, chafer ini akan melindung bagian bead dari
sobekan tire pada rim.

20

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 15. Chafer

Gambar 16. Chafer Digulung

2.1.7. Pre Assy


Pre Assy adalah suatu tahapan proses dimana penyatuan antara Inner
Linner dengan Cushion Rubber menjadi OB. Pre Assembly (Pre Assy)
adalah proses penggabungan Inner Linner dari proses calendering dengan

21

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
chafer dan OB. Inner Linner berfungsi sebagai panahan angin saat
dipompakan kedalam ban atau bisa disebut juga sebagai pengganti ban
dalam.

2.2. Alur Proses Produksi Building


Kemudian

sampailah

pada

tahap

perakitan

semua

komponen-

komponen aplikasi yang telah dibuat pada proses semi manufaktur. Semua
komponen seperti rakitan Tread, bead, lembaran ply yang telah di potong
dengan sudut 60, TUC, innerliner, tread dan Chafer semua di rakit menjadi
satu kesatuan utuh sebagai bagian dari ban setengah jadi atau biasa disebut
dengan Green Tire (GT). Proses perakitan (Tire Building) terdiri dari 2 tahap,
tahap pertama sering disebut dengan istilah 1st stage yang kemudian menghasil
produk berupa carcass, kemudian carcass diproses kembali di tahap kedua
atau 2nd stage dengan menambahkan OB, cap ply dan tread menjadi GT. Tahap
ini dilakukan dengan menggunakan mesin yang dioperasikan oleh satu operator
di masing masing tahap.

Gambar 17. Proses Building

22

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Setelah proses assembling, green tire kemudian dikirim ke mesin
Venting untuk ditusuk tusuk bagian dalam oleh paku-paku. Fungsi proses
Venting ini adalah agar pada saat pemasakan di mesin curing tidak ada
udara yang terjebak.

Gambar 18. Proses Venting

Setelah proses Venting selesai, kemudia green tire dikirim ke bagian


mesin GIP/GOP. Green Tire ini akan dilapisi oleh cairan silicon di mesin
painting. Tujuannya agar pada saat pemasakan ban tidak menjadi lengket.

Gambar 19. Proses GIP/GOP


23

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3. Alur Proses Produksi Curing Tire

Flow Chart 2. Proses Departemen Curing Tire

2.3.1. Definisi Proses Curing Tire


Proses selanjutnya adalah tahap akhir dari proses pembentukan ban.
GT yang dihasilkan dari proses perakitan kemudian di kirim ke
area Curing untuk dimasak. Curing merupakan salah satu proses crusial
jika mengalami proses stop mesin karena stop mesin akan menyebabkan
target menurun. Sehingga kelancaran proses curing ini begitu sangat
diperhatikan sekali oleh para teknisi.

24

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.2. Komponen Besar Pendukung Proses Curing Tire
2.3.2.1.

Green Tire

Gambar 20. Green Tire 90/90 14 Tubeless

2.3.2.2.

Cover Mold

Gambar 21. Cover Mold

25

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.2.3.

Mold

Gambar 22. Mold

2.3.2.4.

Bladder

Gambar 23. Bladder


26

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.2.5.

Platen

Gambar 24. Platen

2.3.2.6.

Mekanik Valve

Gambar 25. Mekanik Valve

27

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.2.7.

Control Unit

Gambar 26. Control Unit

2.3.2.8.

Steam Pressure

Proses ini tidak lepas dari pengaruh tekanan steam dan temperatur.
Steam pressure ini berasal dari panas-panas pipa yang berasal dari utility.

Gambar 27. Pipa-pipa Aliran

28

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Pipa-pipa inilah yang akan mensupport proses curing green tire
menjadi tire. Inilah skema piping diagram :

Gambar 28. Diagram Alir Pipa

2.3.3. Proses Curing Tire


Proses ini berlangsung di dalam

cetakan/mold. Proses ini

menggunakan utility (steam, air panas, air dingin, angin dan nitrogen). Ada
beberapa tahap dalam proses curing, antara lain :
Proses curing merupakan proses pemasakan green tire menjadi ban
jadi. Proses ini berlangsung di dalam cetakan/mold. Sebelum proses curing
green tire akan mengalami proses, yaitu:

2.3.3.1.

Shapping

2.3.3.1.1.

Definisi

Shapping adalah salah satu tahap proses curing tire yang


berfungsi untuk membentuk tire dengan menggunakan bantuan

29

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Bladder sebagai pembentuk pola tire pada green tire sebelum green
tire dimasak didalam mesin curing press.

2.3.3.1.2.

Cara Kerja + Dasar Teori

2.3.3.1.2.1. Bladder dalam keadaan kosong / empty.

2.3.3.1.2.2. Air steam masuk mengisi bladder dengan standar


pressure 1 kg/cm2 (untuk air steam).
Dasar Teori
Secara

makroskopis

hanya

didasarkan

kepada besaran-besaran fisika seperti P, V dan T


yang menyatakan gas dalam keseluruhan. Secara
mikroskopis didasarkan kepada kelakuan tiap partikel
gas seperti kecepatan, momentum dan energi kinetik
gas

untuk

menyatakan

energi

kinetik

secara

keseluruhan.
Jika massa jenis diterapkan pada gas, maka nilai
massa jenis akan dapat dengan mudah kita atur sesuai
dengan kemampuan mengubah volume gas.
Pada massa jenis yang cukup rendah (volume gas
besar dengan partikel yang sedikit), semua jenis
memiliki hubungan yang sederhana dan tertentu atas
besaran termodinamikanya yaitu volume, suhu dan
tekanannya.

Hukum- hukum Tentang Gas


Hukum Boyle

30

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Jika suhu gas yang berada dalam bejana tertutup
(tidak bocor) dijaga tetap, maka tekanan gas
berbanding dengan volumenya.

Gambar 29. Skema Bejana Tertutup Diberikan Tekanan.

Secara matematis :

P V = tetap
1 1 = 2 2
Keterangan :
1 = tekanan pada keadaan 1 (/2)
1 = volume gas pada keadaan 1 (3 )
2 = tekanan pada keadaan 2 (/2)
2 = volume gas pada keadaan 2 (3 )
Persamaan di atas disebut hukum Boyle, sebagai
penghargaan atas fisikawan dan kimiawan Inggris
bernama Robert Boyle (1627-1691). Apabila hubungan
antara tekanaan dan volume gas pada hukum Boyle kita
lukiskan dalam grafik maka hasilnya akan tampak
seperti gambar

31

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 30 . Kurva Isotermal

Suhu mutlak yang dimaksud adalah derajat panas


suhu benda yang didasarkan pada derajat thermometer
Kelvin (T = t + 273).

2.3.3.1.2.3. Lalu green tire terbentuk sesuai pola bentuk bladder.

Gambar 31. Prinsip Kerja Green Tire Menyesuaikan Bentuk Bladder.

2.3.3.1.2.4. Cover turun yang digerakkan oleh hidrolik press


pada mesin menggunakan media tekanan dari oli.
Dasar Teori Hidrolik Oli
Definisi

32

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Pada oli hydraulic mempunyai kekentalan dan
klasifikasi sebagaimana oli mesin, hanya tidak
dinyatakan dalam SAE maupun kode API service.
Sifat oli pada system hidrolik:
Bersifat

tidak

dapat

dimampatkan

(uncrompressible).

Bersifat mudah mengalir (fluidity).

Harus stabil sifat fisika dan kimianya.

Mempunyai sifat melumasi.

Mencegah terjadinya karat.

Bersifat mudah menyesuaikan dengan tempat.

Dapat memisahkan kotoran kotoran.

Fungsi-fungsi fluida hidrolik:


Transmisi daya Menurut prinsip Pascal, daya hidrolik
merupakan hasil kali antara

transmisi

(tekanan)

gaya dengan debit aliran yaitu PQ/60 KW.


Pelumasan Mencegah keausan dan gesekan pada
komponen.
Menutup Kekentalan oli akan membantu menutup
celah antar komponen.
Mendinginkan Mencegah timbulnya panas, panas
yang berlebihan akibat

keausan,

kehilangan

tekanan, kebocoran internal.

Kerusakan Pada Oli.


Penggunaan oli hidrolik harus dijaga dari kerusakan,
karena kerusakan oli hidrolik bisa mengakibatkan
kerja yang tidak maksimal dari unit. Berikut adalah
beberapa penyebab kerusakan oli:

33

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Kontaminasi (contamination)
Yaitu kerusakan yang diakibatkan pengaruh atau
kesalahan dari luar luar oli tersebut.
Deteriorasi (deterioration)
Yaitu kerusakan oli yang disebabkan oleh
pengaruh

dari

oli

itu

sendiri

Selanjutnya pada gambar berikut ditunjukan


ganguan

gangguan

yang

terjadi

jika

oli

mengalami kerusakan.

Komponen Hidrolik Oli.


Komponen hidrolik dalam system pemindah tenaga
dengan system hidrolik sangat penting untuk diketahui
fungsinya. Antara lain :
Hidrolik Tangki / Hydraulic Reservoir
Tangki hydraulic sebagai wadah oli untuk digunakan
pada sistem hidrolik.
Pompa
Pompa hidrolik merupakan komponen dari sistem
hidrolik yang membuat oli mengalir atau pompa
hidrolik sebagai sumber tenaga yang mengubah
tenaga mekanis menjadi tenaga hidrolik.
Motor
Motor berfungsi sebagai penghasil daya untuk
menggerakkan pompa.
Pipa

34

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Ada tiga macam garis besar yang dipergunakan dalam
penggambaran symbol grafik untuk melambangkan
pipa, selang dan saluran dalam sehubungan dengan
komponen-komponen hidrolik.
Splid line digunkan melambangkan pipa kerja
hidrolik. Pipa kerja ini menyalurkan aliran utama
oli dalam suatu sistem hidrolik.
Dashed line digunakan untuk mlambangkan pipa
control hidrolik. Pipa control ini menyalurkan
sejumlah kecil oli yang dipergunakan sebagai
aliran

bantuan

untuk

menggerakkan

atau

mengendalikan komponen hidrolik.


Silinder Hidrolik
Silider hidrolik merubah tenaga zat cair menjadi
tenaga mekanik. Fluida yang tertekan , menekan sisi
piston silinder untuk menggerakan beberapa gerakan
mekanis. Singgle acting cylinder hanya mempunyai
satu port, sehingga fluida bertekanan hanya masuk
melalui satu saluran, dan menekan ke satu arah.
Silinder ini untuk gerakan membalik dengan cara
membuka valve atau karena gaya gravitasi atau juga
kekuatan spring. Double acting cylinder mempunyai
port pada tiap bagian sehingga fluida bertekanan bias
masuk

melalui

kedua

bagian

sehingga

bias

melakukan dua gerakan piston.


Kecepatan gerakan silinder tergantung pada fluid
flow rate (gallon / minute) dan juga volume piston.
Cycle time adalah waktu yang dibutuhkan oleh
silinder

hidrolik

untuk

melakukan

gerakan

35

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
memanjang penuh. Cycle time adalah hal yang sangat
penting dalam mendiagnosa problem hidrolik.

Volume = Area x Stroke

CYCLE TIME = (Volume/Flow Rate) x 60


Pressure Control Valve.
Tekanan hidrolik dikontrol melalui penggunaan
sebuah valve yang membuka dan menutup pada
waktu yang berbeda berdasar aliran fluida by pass
dari tekanan tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
Pressure Relief Valve
Presure

Relief

Valve

membatasi

tekanan

maksimum dalam sirkuit hidrolik dengan membatasi


tekanan

maksimum

pada

komponen-komponen

dalam sirkuit dan di luar sirkuit dari tekanan yang


berlebihan dan kerusakan komponen. Saat Presure
relief

valve

terbuka,

Oli

bertekanan

tinggi

dikembalikan ke reservoir pada tekanan rendah.


Presure Relief valve biasanya terletak di dalam
directional control valve.
Directional Control Valve.
Aliran fluida hidrolik dapat dikontrol dengan
menggunakan valve yang hanya memberikan satu
arah aliran. Valve ini sering dinamakan dengan check
valve yang umumnya menggunakan system bola.
Flow Control Valve

36

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Fungsi katup pengontrol aliran adalah untuk
mengontrol arah dari gerakan silinder hidrolik atau
motor hidrolik dengan merubah arah aliran oli atau
memutuskan aliran oli.
Flow Control Mechanis
Ada kalanya system hidrolik membutuhkan
penurunan laju aliran atau menurunkan tekana oli
pada beberapa titik dalam sistem. Hal ini bias
dilakukan dengan memasang restrictor. Restrictor
digambarkan seperti pengecilan dalam system, dapat
berupa fixed dan juga variable, bahakan bias
dikontrol dengan system lain.
Hidrolik Oil filter
Menapis kotoran, partikel logam dsb.
Kotoran dapat menyebabkan cepat terjadinya
keausan Oil Pump, Hydrlic Cylinder dan Valve.
Saringan filter yang halus akan menjadi buntu
secara berangsur-angsur sejalan dengan jam
operasi mesin, maka elemennya perlu diganti
secara berkala.
Dilengkapi dengan by pass valve sehingga bila
filter buntu, oli dapat lolos dari filter dan kembali
ke tangki. Hal ini dapat mencegah terjadinya
tekanan yang berlebihan dan kerusakan pada
sistem tersebut.
Akumulator
Akumulator berfungsi sebagai peredam kejut
dalam system. Biasanya akumulator terpasang paralel
dengan pompa dan komponen lainnya. Akumulator
37

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
menyediakan sedikit aliran dalam kondisi darurat
pada sistem steering dan juga rem, menjaga tekanan
konstan dengan kata lain sebagai pressure damper.
Umumnya pada sistem hidrolik modern digunakan
akumulator dengan tipe gas.

Gambar 32. Sistem Hidrolik Pada Mesin Curing.

Gambar 33. Tangki Oli Untuk Sistem Hidrolik.

38

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Cara kerja Sistem Hidrolik

Gambar 34. Pompa Oli Hidrolik.


Langkah ke-1.
Tekanan Hidrolik menggunakan sebuah pompa
(gear pump piston pump No.4) di dalam tangki
hidrolik yang digerakkan oleh sebuah motor yang
terpasang vertikal diatas tangki hidrolik.
Langkah Ke-2.
Minyak hidrolik didorong oleh Radial Piston
Pump (No.4) melalui sebuah Check Valve (No.9)
yang berfungsi agar minyak hidrolik tidak kembali
ke pompa penghisap menuju ke Pressure Control
Valve/Relief Valve (No. 7) melalui Four Way 2 Ball
Valve-Manifold Block (No. 5).
Langkah Ke-3.

39

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Minyak hidrolik yang berada di dalam Pressure
Control Valve dapat diatur secara manual oleh sebuah
Hand Control Valve (No.6) ini, berfungsi mengatur
dengan tangan terhadap posisi hidrolik silinder maju
dan mundur, apabila sistem otomatis maju mundur
tidak bisa bekerja lagi atau rusak.
Langkah Ke-4.
Tekanan minyak dalam Pressure Control Valve
(No.7) digabung dengan sebuah Solenoid Unloading
Valve (No.8) yang dipasang diatas Manifold
Block (No.5) mendapat perintah dari Amplifier Card
(Relay Control) untuk membuka katupnya pada saat
beban screw press naik dan menutupnya pada saat
beban screw press turun, sehingga sumbu silinder
dapat maju mundur sesuai dengan beban yang distel
di amplifier card (relay control) yang dapat
mendeteksi ampere screw press melalui sebuah CT
yang terpasang di dalam kotak starter.
Langkah Ke-5.
Silinder

hidrolik

mempunyai

dua

jalur

sambungan, satu didepan dan satu di belakang.


Tekanan minyak yang masuk ke jalur depan, sumbu
silinder hidroliknya mundur, dan yang masuk ke jalur
belakang sumbu hidroliknya maju.
Langkah Ke-6.
Minyak hidrolik dapat disirkulasi secara otomatis
dan teratur oleh pompa hidrolik ke dalam tangki
hidrolik, didinginkan melalui sebuah Intergral Oil
Cooler (No.17), kemudian disaring oleh Return Line

40

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Filter (No.12). Minyak hidrolik harus tetap bersih dan
tidak berkurang.
Langkah Ke-7.
Untuk menambah (atau berkurang) tekanan
hidrolik dapat dibuka dengan cara memutar baut yang
terdapat di Pressure Control Valve/Relief Valve
(No.7) secara perlahan-lahan hingga mencapai 45
bar. Untuk mengetahui besarnya tekanan minyak
dapat

melihat

penunjuknya

pada

Pressure

Gauge (No.11). Pressure Control Valve/Relief Valve


(No.7) dan Solenoid Unloading Valve (No.11)
berfungsi untuk mengatur arus tekanan ke hidrolik
silinder, dan Shut Off Valve (No.10) yang berfungsi
untuk

menutup

tekanan

hidrolik

Pressure

Gauge (No.11).
Langkah Ke-8.
Ketinggian level dan suhu minyak hidrolik
didalam tangki dapat dilihat pada Fluid Level Gauge
(No.15).
Langkah Ke-9.
Pengoperasian sistem hidrolik tersebut diatas,
jika menghendaki Elektro Motor Hidrolik (No.2)
dapat berhenti pada tekanan kerja tertentu dan
berjalan kembali apabila tekanan kerja berkurang,
maka untuk itu harus dipasang sebuah Pressure
Switch .
Langkah ke-10.

41

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Untuk menstabilkan tekanan kerja agar tetap
apabila elektro motor berhenti, harus pula dipasang
akumulator (integral oil cooler No.17 ditiadakan).

(catatan: tanpa akumulator system hidrolik diatas,


tekanan kerja juga stabil dan konstan karena pompa
hidrolik tetap bekerja).
Langkah ke-11.
(Point 9 dan 10 diatas) Dengan menggunakan
pressure switch dan akumulator dalam sistem hidrolik
ini agar elektrik motor dan pompa hidrolik dapat
berhenti sejenak (5 30 detik) sangatlah tidak efesien
karena

biaya perawatannya

mahal

dan tidak

memperoleh hasil yang setimpal.

2.3.3.1.2.5. Cover mold telah tertutup, lalu terjadi curing di mesin


tersebut.

2.3.3.1.2.6. Setelah selesai seluruh proses curing, tekanan yang


ada didalam bladder dikempeskan agar tire yang
telah matang mudah untuk diambil lepas dari
bladder.

42

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.3.1.2.7. Lalu kembali kepada awal proses diatas.

Gambar 35. Skema Aliran Pipa

2.3.3.2.

High Pressure Steam

2.3.3.2.1.

Definisi

High Pressure Steam mempunyai arti Steam bertekanan tinggi.


Pada proses steam kali ini adalah memanaskan platten dengan
tekanan serta suhu tinggi yang bertujuan untuk memasak green tire
menjadi tire.

2.3.3.2.2.

Cara Kerja

2.3.3.2.2.1. High Pressure Steam ini dapat bekerja apabila cover


mold telah tertutup dan mekanik valve telah ditekan
oleh key pada cover mold.

43

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.3.2.2.2. Setelah key menekan mekanik valve, maka High
Pressure Steam masuk untuk mengisi dan memanasi
bladder.

2.3.3.2.2.3. Pola pemanasan pada bladder adalah seperti


memanaskan water heater, yaitu membentuk pola
seperti bunga yang mengelilingi dalam platen. Jadi
pola bunga yang mengelilingi tersebut tidak dapat
dilihat karena berada didalam platen.
2.3.3.2.2.4. Setelah bladder berhasil dipanaskan sesuai dengan
temperatur

setting

186

dan

besar

tekanannya 11 0,5 /2 selama 13 Menit.


Karena kunci curing tire adalah tekanan, temperatur,
dan waktu. Ketetepan ini sudah dilakukan oleh riset
PT. Gajah Tunggal bahwa ketetapan tekanan,
temperatur, dan waktu ini akan menghasilkan tire
yang sempurna sesuai dengan permintaan customer.
2.3.3.2.2.5. Setelah selesai 13 menit, maka pintu high pressure
steam tertutup. Lalu pintu low pressure steam
terbuka.

2.3.3.3.

Low Pressure Steam

2.3.3.3.1.

Definisi

Low Pressure Steam merupakan tahap kedua proses curing tire.


Proses ini mempunyai arti steam bertekanan rendah. Pada proses
steam kali ini adalah langkah selanjutnya setelah memasak tire
dengan suhu tinggi lalu tekanan pada steam dikurangi yang
bertujuan untuk mengurangi panas pada bladder akibat High
Pressure Steam untuk kemudian panas yang ada dibladder dibuang
melalui proses drain.

44

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.3.3.2.

Cara Kerja

2.3.3.3.2.1. Setelah selesai proses high pressure steam maka


pintu high pressure steam tertutup. Lalu terbukalah
pintu valve untuk low pressure steam menuju
bladder.

2.3.3.3.2.2. Low pressure steam masuk hanya sebentar yaitu 1


detik karena fungsinya adalah sebagai penurun
tekanan saja setelah proses high pressure steam.
2.3.3.3.2.3. Sebelum drain maka tekanan, temperatur harus kecil
sehingga ketika dikeluarkan dari bladder lebih
ringan. Seperti skema memasak nasi. Cook adalah
untuk high pressure steam dan warm untuk low
pressure steam.
2.3.3.3.2.4. Low pressure steam memiliki tekanan 7,5 0,5
/2 dengan temperatur setting 1710 .
2.3.3.3.2.5. Setelah proses low pressure steam selesai, maka
terbukalah pintu drain yang dialirkan khusus untuk
drain dan bladder akan mengempes.

2.3.3.4.

Drain

2.3.3.4.1.

Definisi

Drain merupakan tahap ketiga proses curing tire. Drain adalah


proses pembuangan panas yang ada di bladder setelah proses High
dan Low Pressure Steam bekerja untuk memasak green tire.
Fungsinya adalah untuk membuang seluruh panas yang ada didalam
bladder.

2.3.3.4.2.

Cara Kerja

45

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.3.4.2.1. Proses drain adalah membuang tekanan setelah
selesai proses high pressure steam dan low pressure
steam

pada

bladder.

Ini

mengapa

bladder

mengempes.

2.3.3.4.2.2. Pintu pipa untuk pipa drain terbuka agar seluruh uap
tekanan dari hasil low pressure dialirkan kesana jadi
tidak dibuang langsung dalam lingkungan pabrik.
Karena pabrik bersifat seperti bangunan semi
tertutup.
2.3.3.4.2.3. Proses drain ini membutuhkan waktu setting 18
detik untuk benar-benar dibuang tekanan steam pada
bladder.
2.3.3.4.2.4. Setelah proses drain, maka bladder akan mengempes.

2.3.3.5.

Vacum

2.3.3.5.1.

Definisi

Vaccum merupakan tahap akhir proses curing tire. Vaccum


adalah proses penyedotan panas-panas yang tersisa setelah proses
drain pada bladder. Proses ini dilakukan dengan tujuan membuat
keadaan pada bladder tidak ada panas lagi walaupun panas tidak bisa
hilang 100%.

2.3.3.5.2.

Cara Kerja

2.3.3.5.2.1. Setelah bladder selesai melalui tahap drain, maka


valve cooling water akan terbuka lalu masuk kedalam
bladder.

2.3.3.5.2.2. Apabila ada sisa panas dalam bladder, maka disedot


dengan menggunakan cooling water fan yang

46

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
fungsinya menyedot sisa panas yang ada didalam
bladder.

Gambar 36. Cooling Water Fan


2.3.3.5.2.3. Lalu begitulah seterusnya seperti sistim sirkulasi
sampai bladder benar benar dalam keadaan vacum.
2.3.3.5.2.4. Lalu Green tire dimasukkan lagi kedalam bladder
lalu kembali ke step awal shaping.

47

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.3.3.6.

PCI (Post Cure Inflation)

Setelah curing, selesai ban mengalami proses PCI (Post Cure


Inflation), yaitu pendinginan ban dengan memberikan tekanan agar
ban tidak mengalami perubahan bentuk.

Gambar 37. PCI (Post Cure Inflation)

48

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

BAB IV
DATA PENGAMATAN
1. Pre Curing Tire
1.1. Booking
1.1.1. Tujuan
Sebagai penempatan dan storage serta pemberian identitas green tire di
lorry. Apabila identitas sudah terpasang maka green tire tersebut dapat
dipergunakan untuk proses selanjutnya.

1.1.2. Pemakaian

Sebagai acuan dalam penghitungan stock produksi dan kebutuhan


lorry. Lihat Tabel Berikut ini.

Code No.

Green Tire Width (mm)

Jumlah Maksimal (Pcs.)

14

154

48

Tabel 1. Penghitungan Stock dan Kebutuhan Lorry.


Menaruh green tire pada lorry, posisi sambungan tread .Gambar ilustrasi
sebagai berikut :

Gambar 38. Booking Tire 90/90 14 Tubeless


49

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
1.2. Green Inner Paint (GIP) & Green Outer Paint (GOP)

Gambar 39. Proses GIP dan GOP

1.2.1. Green Inner Paint (GIP)


1.2.1.1.

Tujuan

Sebagai lubricant pada bagian dalam green tire agar tidak lengket
dengan bladder pada proses curing.

1.2.1.2.

Pemakaian

50

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Disemprotkan merata pada bagian dalam green tire (Mesin
Automatic).
Internal tire lubricant tidak boleh ditambahkan air & selalu
diaduk.
Proses GIP dilakukan pada setiap green tire yang akan masuk ke
proses curing tire.
Set Air Pressure untuk motor pump : 3 0,5 /2 .
Silikon disemprotkan dari posisi atas green tire dan berhenti di
bagian bawah.
Bila diperlukan green tire diberi tutup pada bagian atas saat
penyemprotan silikon. Pastikan semua bagian mesin yang
bersentuhan dengan green tire dalam keadaan bersih.
Setelah diberi GIP, dikeringkan (pada temperatur ruangan) Min.
30 menit. Setelah itu siap dimasak / secara visual diraba dengan
tangan, bila terasa kering, siap dimasak.

1.2.1.3.

Material : Internal tire lubricant (Silicon).

1.2.2. Green Outer Paint (GOP)


1.2.2.1.

Tujuan

Sebagai lubricant pada luar green tire untuk membantu tire agar
tidak crown bare maupun side bare sesuai kebutuhan.

1.2.2.2.

Pemakaian

Disemprotkan merata pada bagian luar permukaan green tire


(Mesin Automatic).
Pengolesan secara manual pada green tire yang terkena crown
bare & side bare sesuai dengan kebutuhan. Bila green tire tidak
crown bare maupun side bare, maka green tire tidak dioles PCP
(Green Outer Paint).
Green outer paint tidak boleh ditambahkan Cairan Exxol DSP
dan selalu diaduk.

51

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

1.2.2.3.

Material

Green outer panit (semprot PCP) sesuai dengan Standart pabrik.


Lama penyimpanan max. 48 jam (lebih dari itu dikembalikan ke
cement house).

2. Curing Tire

Gambar 40. Proses Tire Curing

2.1. Tujuan
Alat untuk memasak dengan dibantu mold sebagai cetakan tirenya, clip ring
Bladder & Bladder membentuk pola tirenya.

2.2. Pemakaian
Pasang tire mold pada tire curing machine dengan posisi serial no.
Didepan operator.
Curing time sesuai Inproses Spec.
Bila kondisi mesin curing stop dalam waktu 30 menit atau lebih karena
material shortage, maka mesin curing harus dalam keadaan mold ditutup

52

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
dan curing time ditambahkan 2 menit dari spec regular dari masak
pertama.
Bila penggantian bladder, maka masak pertama curing time
ditambahkan 2 menit dari curing time regular.
Posisi arah sambungan tread pada waktu meletakkan green tire di mold
adalah sesuai dengan Inproses Spec.
Posisi green tire colour marking line harus sesuai Inproses Spec.
Bila kondisi mesin curing stop dikarenakan PLN off, maka untuk
mengantisipasi vent hole tire mampet & tire mold kotor, maka curing
time ditambahkan pada tire size yang masih didalam mesin curing.
Bila pada size 90/90 14 T/L curing time < 15 menit, maka curing
timenya ditambah 5 menit.
Bila pada size 90/90 14 T/L curing time > 15 menit atau bahkan lebih,
maka curing timenya ditambah 1 x siklus curing time.
Ketika proses curing selesai, tire tersebut ditandain dengan kapur
berwarna kuning.

2.2.1. Jenis Tire terhadap tipe mesin


No.

Tipe Mesin

Tire Size

1.

BOM Hydraulic Press

90/90 14 Tubeless

Tabel 2. Tipe mesin

2.2.2. Oil Pump


2.2.2.1.

Tujuan

Sebagai media penggerak silinder piston untuk curing tire tipe


BOM Hydraulic dan agar tire yang dimasak tidak terjadi open mold
serta.

53

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.2.2.2.

Oil Pressure Pump


Oil Pressure (/ )

Note

Low

High*

High Pressure digunakan

25 5

100 ~ 120

untuk proses pemasakan.

Tabel 3. Oil Pressure Pump

* : Dicheck bila terjadi Open Mold


Gambar 41. Oil Pressure Pump

54

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 42. Tangki Penyimpanan Oil Pressure Pump

2.2.3. Tire Mold


2.2.3.1.

Tujuan

Sebagai media untuk mencetak green tire menjadi tire.

2.2.3.2.

Pemakaian :

Pasang tire mold sesuai dengan inproses spec.


Sesuaikan Mold Temperatur dengan inproses spec.
Sesuaikan Mold size & code sesuai inproses spec.

55

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 43. Tire Mold

2.2.4. Platen
2.2.4.1.

Tujuan
Digunakan sebagai media untuk meletakkan memanaskan

tire mold pada mesin curing.

2.2.4.2.

Pemakaian

Standar temperatur platen untuk memanaskan tire mold sebesar


167 5 C.

56

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Platen dipanaskan menggunakan low pressure steam sebesar 7,5
5 /2.

Platen

Mold

Gambar 44. Posisi Platen dan Mold saat curing.

2.2.5. Bladder
2.2.5.1.

Tujuan
Sebagai media untuk shapping proses dan vacum pada

pembentukan / pemasankan green tire menjadi tire.

2.2.5.2.

Pemakaian

2.2.5.2.1.

Setting tinggi bladder sesuai dengan inproses spec.

2.2.5.2.2.

Bladder temperatur : 120 ~ 145

2.2.5.2.3.

Pada waktu proses Drain dan Vacum, bladder harus


diflate.

57

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 45. Bladder

2.2.6. Shapping Proses


2.2.6.1.

Tujuan

Pembentukan awal green tire pada mold sebelum proses curing


dengan cara bladder menggelembung dan menggelembukan
greeen tire sampai bagian center tread hampir mendekati outer
diameter mold (dengan jarak relatif 5 ~ 10 mm)

2.2.6.2.

Skema Proses

Gambar 46. Skema Proses Shapping


58

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
2.2.6.3.

Shapping Air Pressure Diaphragm

Adalah tekanan angin yang dibutuhkan untuk menggerakkan


piston valve diafragma, gerakan piston tersebut mengatur besar
kecilnya steam pressure kedalam bladder.
Shapping Air Press Diaphragm
1,0 0,5 /2

Steam

Size
90/90

Tabel 4. Shapping Air Press Diaphragm

Gambar 47. Bladder saat kempes

Gambar 48. Blaader Saat Mengembang

2.2.7. Steam Pressure


2.2.7.1.

Tujuan

Sebagai media untuk memanaskan platen / mold / bladder.

59

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

2.2.7.2.

Pemakaian

Platen Steam Pressure sesuai inproses spec.


Internal High Pressure Steam sesuai inproses spec.
Internal Low Pressure Steam sesuai inproses spec.
Waktu menunggu sampai High Pressure Steam masuk ke
bladder sampai mencapai tekanan maksimal 30 detik, dimana
waktu mulai dihitung setelah Tire Mold Close dan Oil Pressure
Pump sudah mencapai 100 ~ 125 /2 untuk mesin curing
tipe hidrolik.
Tire Mold telah tertutup penuh dan mekanik valve sudah bekerja
menggerakkan diafragma sehingga High Pressure Steam sudah
mulai masuk ke dalam bladder.
Besar Pressure yang dibutuhkan dalam proses ini adalah :
Jenis Pressure

Besar Tekanan (/ )

High Pressure Steam

11,0 0,5

Low Pressure Steam

7,5 0,5

Tabel 5. Jenis Pressure dan Besar tekanan


Pengaturan Temperatur Internal Control (TIC) di Main Line :
Setting TIC

Temperatur (C)

Time (hh:mm:ss)

Shapping

153,0

Sesuai kebutuhan

High Pressure Steam

186,0

00:13:30

Low Pressure Steam

153,0

00:00:01

Drain

00:00:18

Vacum

00:00:12

60

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Total

00:14:00

Tabel 6. Temperatur Internal Control (TIC) di Main Line


Besar Tekanan dan Temperatur pada mold dan platen.
Bagian

Tekanan (/2 )

Temperatur ()

Platen

7,5 0,5

167 5

Mold

165 5

Tabel 7. Besar Tekanan dan Temperatur


* : Akan tetapi ketika aktual dilapangan, temperaturnya lebih
dari Temperatur Setting.

Gambar 49. Diafragma

61

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 50. Saluran Masuk Steam Ke Dalam Bladder.

2.2.8. Water Pressure


2.2.8.1.

Tujuan

Sebagai Media untuk proses vaccum bladder dibantu dengan


sistem ventury valve.
Sebagai media untuk menggerakkan silinder bladder.
Sebagai media untuk membantu pembuangan steam pada proses
drain dibantu ventury valve.

2.2.9. Post Cure Inflation (PCI)


2.2.9.1.

Tujuan

Untuk membentuk keseragaman dimensi tire setelah dimasak,


mencegah tire mekar, mengetahui terjadinya missing ply,
Bladder bocor, Under cure, dan Blown Tread.

2.2.9.2.

Pemakaian

Tire setelah dimasak langsung di PCI.


Inflate air pressure
Pressure (/2)

Time

2,8 0,05

28 menit 2 menit

Tabel 8. Inflate Air Pressure PCI


62

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

3. Sistem Safety Penggunaan Mesin Curing


3.1. Tujuan
Membantu menyelamatkan operator ketika terjadi kegagalan, atau
kecacatan kerja.

3.2. Pemakaian
Jika terjadi Over Cure, panas steam bocor, bladder dalam keadaan
tidak stabil, dan human accident maka tuas ini harus diangkat
Jika tuas ini diangkat, maka seluruh proses panas masuk ataupun
keluar akan mati.
Pintu saluran panas masuk akan menutup.
Oil pressure pump akan turun, ini mengakibatkan cover mold akan
naik dan posisi mesin dalam keadaan terbuka.

Gambar 51. Tuas Pengaman Pada Cover Mold Mesin Curing

63

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

4. Hasil Proses Curing Tire Tipe 90/90 14 Tubeless

Gambar 52. Tire 90/90 14 Tubeless

4.1. Pemakaian
4.1.1. Untuk Ban Belakang Scooter Matic
Contohnya adalah Motor Honda Beat.

64

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Hasil kerja praktek di PT. Gajah Tunggal, Tbk memberikan pengalaman
luar biasa bagi penulis. Penulis dapat terlibat langsung dalam proses pemasakan
(curing) tire di PT. Gajah Tunggal, Tbk. Adapun kesimpulan dari kerja praktek
ini adalah:
1. Ban atau tire adalah salah satu alat penting dalam kendaraan sebagai
media penggerak kendaraan yang langsung berinteraksi dengan jalan
atau aspal.
2. Fungsi tire pada kendaraan adalah :

Menahan beban.

Meredam guncangan atau benturan.

Meneruskan tenaga dari mesin.

Meneruskan fungsi kemudi.

3. Fungsi curing tire adalah untuk memasak green tire menjadi tire.
4. Proses curing tire
Shapping
Membentuk pola green tire menjadi tire sesuai dengan aturan
pembuatan.
High Pressure Steam
Memasak tire dengan dengan tekanan, temperatur, dan waktu yang
diperlukan sesuai dengan aturan pembuatan.
Low Pressure Steam
Menstabilkan panas setelah proses high pressure steam.
Drain
Membuang panas setelah proses pemasakan tire.
Vacum
Membuat bladder bagian dalam keadaan kosong bersih tanpa panas
hasil pemasakan tire.

65

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
Total waktu yang diperlukan untuk proses curing tire pada size 90/90
14 inci Tubeless Tire adalah 14 Menit.

B. Saran
Saran yang penulis kemukakan tertuju pada PT. Gajah Tunggal, Tbk terkait
dengan proses pemasakan (curing) tire yang ada didalam perusahaan ini. Antara
lain :
1. PT. Gajah Tunggal, Tbk memiliki sumber daya manusia yang
kompeten pada bagian pemasakan (curing). Hal ini menjadi modal
penting untuk perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas
produk agar bisa lebih bersaing dikancah international.
2. Peningkatan peralatan teknologi dan informasi di PT. Gajah
Tunggal, Tbk harus terus ditingkatkan dan dikembangkan tentunya
untuk mencapai kualitas terbaik produk-produk tire seiring terus
bertambahnya kebutuhan tire didunia.

Hal ini penting dimana peluang untuk bisnis pembuatan tire terus
meningkat dan berkembang, seiring dengan terus bertambahnya jumlah
volume transportasi darat yang menggunakan tire. Sekian saran dari penulis,
semoga perusahaan raksasa PT. Gajah Tunggal dapat terus meningkatkan mutu
dan kualitas produk didunia tire manufakturing.

66

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

DAFTAR PUSTAKA
1. Manufacturing Technical Standart/2016/Curing Tire/PT. Gajah Tunggal, Tbk.
2. Manual Book/Curing Tire/Machine Press.
3. Document/Struktur Organisasi/Technical/Plant B/PT. Gajah Tunggal,Tbk/.
4. http://bimby-laporan.blogspot.co.id/.
5. http://dedylondong.blogspot.co.id/2011/11/bagaimana-proses-pembuatanban-mobil.html.
6. http://silvia-rizky1.blogspot.co.id/2012/11/cara-produksi-ban.html.
7. http://dokumen.tips/documents/proses-pembuatan-ban-55c9a2e97fc34.html
8. http://Wikipedia.org/curingtire/indonesia/.
9. http://Wikipedia.org/PT.Gajah Tunggal,Tbk./Profil/.
10. http://Wikipedia.org/PT.Gajah Tunggal,Tbk./Visi&Misi/.

67

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

LAMPIRAN

68

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 1. Surat Persetujuan Kerja Praktek

69

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 2. Jadwal Kerja Praktek

Gambar 3. Suasana Tempat Curing Tire

70

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 4. Pengecekan Green Tire

Gambar 5. Control Cover Mold Saat Curing Tire

71

MUHAMMAD ARYZAL NURUZZAMAN 112130049


TEKNIK MESIN S1 INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Gambar 6. Set Up Temperature, Pressure dan Curing Time

Gambar 7. Hasil Curing Tire 90/90 14 Tubeless

72