Anda di halaman 1dari 2

SURAT CINTA UNTUK NONA BENNETT

(SURAT KETIGA)
Nona Bennet, ini surat ketiga yang aku layangkan. Sungguh ganjil memang
rasanya, jika aku masih kirimkan sebuah surat lagi, sebab dua surat sebelumnya
tidak ada balasan darimu. Mungkin ini menunjukkan sesuatu, bahwa hanya
kepadamu aku turunkan sedikit harga diriku. Atau lebih tepatnya banyak, bukan
sedikit saja. Dan apa kabar dirimu di Kota London saat ini? Semoga baik-baik
saja.

Mungkin kau sudah dengar kabar, bahwa pasukan kita segera pulang. Sebab
peperangan yang mencekik kita di hari-hari sebelumnya, telah berakhir dengan
datangnya bala bantuan para militan dari Oxford dan pasukan kavaleri dari York.
Hal itu bukan hanya sebagai pertanda bahwa aku akan pulang ke rumah, tapi
juga sebagai pertanda bahwa aku harus segera menemuimu untuk meminta
maaf secara langsung. Ketahuilah jika hari-hari sebelumnya aku takut Jembatan
Hingham runtuh, namun saat ini aku tetap takut, bukan pada musuh, melainkan
jika aku nanti ada di rumah. Sungguh semalaman aku berpikir keras, bagaimana
caranya menyiapkan kata-kata yang indah dan sempurna saat berbicara
denganmu nanti di rumah. Sebab seperti biasanya, aku hanyalah pria yang
angkuh dan kaku, apalagi di hadapan wanita secantik dirimu. Pastinya aku akan
salah tingkah lalu lidahku menjadi kelu. Bahkan hingga kutulis surat ini, aku
masih tidak tahu bagaimana caranya aku akan mengetuk pintu rumahmu.

Namun dengan datangnya surat ini padamu dan surat-surat sebelumnya,


sebenarnya aku telah mengetuk pintu. Tetapi bukan pintu rumahmu, melainkan
langsung pada pintu hatimu. sayang sekali, surat sebelumnya tidak ada yang
kau balas, itu jadi pertanda bahwa pintu hatimu tidak terbuka untukku. Kuharap
surat kali ini, akan berbeda cara kau menanggapinya.

Nona Bennett, surat ini kutulis saat kami baru saja melintasi Sungai Thames
ketika matahari persis berada di ufuk barat. Beberapa saat kemudian gelap
gulita melanda jalanan yang kami tempuh, lalu kami mulai memasang kemah.
Aku berharap sekali saat pulang nanti tidak seperti itu. Aku ingin masuk ke pintu
gerbang kota saat pagi hari. Dan ada dirimu yang menunggu di balik gerbang itu
dengan senyuman manismu yang hanya khusus untukku. Namun kusadari, itu
sepertinya sebuah mimpi yang terlalu berlebihan. Setidaknya Nona Bennett, saat
aku sampai di rumah, kau berkenan hadir di acara pesta dansa yang seperti
biasanya jika kita baru saja menang dalam perang. Tetapi sekali lagi, aku minta
maaf lebih dulu Nona Bennett, jika aku tak mengajakmu berdansa atau bahkan
jika sama sekali tak kupalingkan wajahku menghadap wajahmu yang cantik
dengan gaun putih seperti biasanya kulihat. Atau bahkan jika kau temui aku
sedang duduk menyendiri dengan menggenggam gelas berisi Vodka, itu bukan
berarti tak ada dirimu dihatiku saat itu. Ketahuilah bahwa jika kupandangi gelas
yang kugenggam, aku seolah memandang wajahmu. Dan caraku mengagumi

kecantikanmu adalah dengan menenggak cinta di dalamnya hingga mabuk


berat.

Kemudian Nona Bennett, jika aku sudah mabuk berat, pasti akan berakhir
dengan dua pilihan, pertama aku akan tertidur di jalanan. Dan sudah bisa
dipastikan bahwa aku akan bermimpi menikah denganmu di altar gereja. Dan
pilihan yang kedua, aku dirampok oleh orang-orang jahat, dan pastinya aku akan
melawan meski mabuk berat. Malaikat maut bisa saja menjemputku, atau
setidaknya aku terluka parah. Sebab itulah diriku, pria angkuh dan sombong
dengan sedikit saja kelebihan.

Kuceritakan semua isi hatiku di dalam surat ini dan segala kemungkinan yang
akan terjadi, bukan berarti aku meratap padamu dan minta belas kasih atau
ibamu. Melainkan hanya satu hal, aku ingin kamu tahu bahwa tidak ada di dunia
ini pria yang segila aku dalam mencintaimu. Bahkan mungkin tidak akan ada
hingga tujuh kehidupan berikutnya. Aku mencintaimu dengan segenap isi hatiku
dan dengan segenap sikapku yang kaku saat di hadapanmu, Nona Bennett.
Selebihnya, kau artikan sendiri saja ke mana sebenarnya arah dari tulisanku,
dalam surat yang panjang ini. Surat yang mungkin saja akan kau buang ke
tempat sampah.

--- Terinspirasi dari film "Pride and Prejudice and Zombies", namun semua isi
tulisan adalah tulisanku. Khusus untukmu, sebab aku sangat mencintaimu .......
---

BY: ANWAR HIDAYAT