Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 2 BLOK 5.1

PENGAMPU :

Dr.Hj. MIENTJE OESMAINI,M.M


KELOMPOK VII :

ELMIRA NITA QAINY

G1A114073

HABIBI TRI PUTRA

G1A114075

RICCO FIRMANSYAH

G1A114076

RACHILLA ARANDITA S

G1A114080

MUTIA RAMADHANI S.L

G1A114081

WULAN REKSA FORTUNA

G1A114085

M AINUN NAJIB

G1A114086

M HERPIAN NUGRAHADIL

G1A114087

HANIFA AZZAHRA

G1A114089

RENO WAISYAH

G1A114090

DESY PERMATASARI

G1A114091

PUTRI MARIA KURNIA

G1A114092

PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

SKENARIO
Anak Z, perempuan 7 tahun dengan berat badan 20 kg, diantar ibunya
berobat kepuskesmas dengan keluhan badan lemah dan pusing yang dirasakan
semakin memberat sejak 4 hari yang lalu. Wajah anak Z tampak pucat, ia juga
mengalami penurunan nafsu makan, mual dan merasa tidak nyaman pada
perutnya.
Anak Z tinggal didaerah perkebunan, ia senang bermain tanah tanpa
menggunakan alas kaki dan juga tidak mencuci tangan saat makan. Ibunya
merasa prestasi anak Z disekolah rendah, dan anak Z sulit untuk berkonsentrasi
dalam belajar.
Dokter menduga anak Z mengalami cacingan dan merencanakan
melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan penyakitnya sehingga
anak Z dapat diberikan terapi adekuat serta konseling untuk mencegah dan
menghindari komplikasi yang tidak di inginkan.

KLARIFIKASI ISTILAH
1. Pusing
keseimbangan1
2. Cacingan

:sensasi

nyeri

pada

kepala

akibat

kehilangan

:penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit cacing 1

3. Konseling
:tanyajawab
dengan pasien1

tentang

suatu

masalah

antara

ahli/dokter

4. Komplikasi

:penyakit lanjutan akibat dari penyakit sebelumnya 1

5. Pucat
akibat

:istilah yang menggambarkan perubahan wana pada wajah


kekurangan darah (hemoglobin yang berkurang)1

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa penyebab dari keluhan An. Z?
2. Apa makna klinis dari keluhan an. Z?
3. Bagaimana mekanisme dari keluhan an. Z?
4. Apa hubungan dari keluhan an. Z dengan tinggal di daerah perkebunan?
5. Apa hubungan dan dampak dari keluhan an z dengan kebiasaan tidak
mencuci tangan saat makan dan tidak menggunakan sendal saat
bermain?
6. Bagaimana langkah-langkah mencuci tangan yang baik dan benar?
7. Apa ada hubungan dari keluhan an. Z dengan menurunnya prestasi
disekolah dan sulit berkonsentrasi dalam belajar?
8. Apa kemungkinan jenis cacing yang menginfeksi an Z?
9. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan cacingan pada an z?
10.Mengapa dokter menduga an. Z mengalami cacingan?
11.Apa saja jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cacing?
12.Apa saja pemeriksaan penunjang yang perlu dilakaukan pada an. Z?
13.Bagaimana alur penegakan diagnosa dari penyakit an. Z?
14.Apa diagnosis banding dari keluhan an. Z?
3

15.Apa yang terjadi pada an. Z?


16.Apa defenisi dari penyakit an. Z?
17.Apa etiologi dari penyakit an. Z?
18.Apa epidemiologi dari penyakit an. Z?
19.Bagaimana patofisiologi dan patogenesis dari penyakit an. Z?
20.Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit an. Z?
21.Bagaimana tatalaksana dari penyakit an. Z?
22.Apa saja komplikasi dari penyakit an. Z?
23.Apa saja edukasi dan konseling dari an. Z?
24.Bagaimana prognosis dari penyakit an. Z?

ANALISIS MASALAH
1. Apa penyebab keluhan dari an Z?

Jawab :
Mual dan adanya rasa tidak nyaman pada perut diakibatkan oleh
suatu penyakit sehingga memicu terjadinya penurunan nafsu makan,
nafsu makan akan kembali normal setelah penyakit tersebut pergi.
Selain itu, stres, sedih dan cemas juga bisa mempengaruhi nafsu
makan normal. Kurang darah atau dalam dunia medis disebut dengan
anemia merupakan kondisi yang disebabkan karena menurunnya
jumlah sel darah merah. Sel darah merah yang mengandung komposisi
hemoglobin, berfungsi untuk mengantarkan oksigen ke seluruh sel
tubuh manusia. Kekurangan sel darah merah ini akan mempengaruhi
proses transportasi oksigen dan karbondioksida dalam tubuh, sehingga
dapat menyebabkan gejala seperti: badan lemah, pusing yang semakin
memberat, wajah tampak pucat.2

2. Apa makna klinis dari keluhan an. Z?


Jawab :
Makna klinis penurunan nafsu makan : penurunan nafsu makan
merupakan akibat dari kerjasama IL-1 dan TNF. Keduanya akan
meningkatkan ekspresi leptin oleh sel adiposa. Peningkatan
leptin dalam sirkulasi menyebabkan negatif feedback ke
hipotalamus ventromedial yang berakibat pada penurunan
intake makanan.
Makna klinis pusing : karena kekurangan zat besi akibat cacing
menghisap darah hospes
Makna klinis perut terasa tidak nyaman : karena setelah cacing
memakan nutrisi hospes, cacing tersebut mengeluarkan gas 2
3. Bagaimana mekanisme dari keluhan an. Z?
Jawab:
Terjadinya infeksi cacing dan sampai menyebabkan penurunan
kadar hemoglobin, penurunan kadar hemoglobin tersebut disebabkan
oleh banyak hal, misalnya, pendarahan yang hebat, defisiensi zat gizi
(zat besi, asam folat & vit. B12), produksi sel-sel darah di sumsum
tulang yang menurun, penghancuran sel darah sebelum waktunya
dengan jumlah yang banyak, dan sebagainya.
Dengan adanya penyebab-penyebab diatas, kadar hemoglobin
dalam tubuh kita turun dari kadar normalnya. Hemoglobin merupakan
pengangkut oksigen untuk keseluruh jaringan tubuh, dengan kadar
hemoglobin yang turun, kadar oksigen pun turun secara tidak
langsung. Kadar oksigen yang turun menyebabkan metabolisme sel
turun. Dengan turunnya metabolisme sel, energy yang dihasilkan juga
sedikit, sehingga orang tersebut akan mudah lemah karena kurangnya
energy. Saat proses metabolisme sel secara aerob tidak optimal,
5

berlangsung proses metabolism anaerob. Pada metabolisme anaerob


energy yang dihasilkan sedikit dan menghasilkan asam laktat yang
menyebabkan otot lelah.
Berkurangnya hemoglobin akan menyebabkan turunnya kadar
oksigen dalam darah karena fungsi hemoglobin adalah mengikat
oksigen dalam darah . Hal ini akan
menyebabkan penurunan
oksigenisasi jaringan. Untuk menyesuaikan keadaan ini tubuh akan
memvasokonstriksi pembuluh darah untuk memaksimalkan pengiriman
oksigen ke organ-organ vital. Untuk dalam keadaan ini akan
menyebabkan pucat. Warna kulit bukan merupakan indeks yang dapat
dipercaya untuk pucat karena dipengaruhi pigmentasi kulit,suhu dan
kedalaman serta distribusi bantalan kapiler. Bantalan kuku, telapak
tangan dan membrane mukosa mulut serta konjungtiva merupakan
indicator yang lebih baik menilai pucat. Kadar oksigen yang turun juga
menyebabkan hipoksia di jarinngan-jaringan tubuh, salah satunya di
otak, akan menyebabkan pusing dan kesadaran menurun. 2,3

4. Apa hubungan dari keluhan an. Z dengan tinggal di daerah perkebunan?


Jawab :
Soil-transmitted helminthes atau cacing yang menular melalui
tanah tumbuh dan bekembang pada daerah yang beriklim tropis dan
lembab dengan sanitasi yang buruk. Pencemaran tanah dengan tinja
juga dapat menjadi tempat hidup bagi cacing. Daerah perkebunan
memiliki tanah yang gembur dan lembab serta sering memakai tinja
untuk dijadikan pupuk. Hal tersebut dapat memicu perkembangan
cacing ditanah perkebunan dan menyebabkan keluhan pada an. Z. 4

5. Apa hubungan dan dampak dari keluhan an z dengan kebiasaan tidak


mencuci tangan saat makan dan tidak menggunakan sendal saat
bermain?
Jawab :

hubungan tidak mencuci tangan

Pada skenario diberitahu bahwa An.Z bermain di tanah. Jika anak


tidak mencuci tangan sebelum makan kemungkinan jari jemari yang
masih kotor setelah bermain mengandung telur atau larva cacing di
dalam sela kuku , sehingga ketika anak menelan makanan telur
cacing tadi masuk ke dalam tubuh dan telur tersebut akan
berkembang biak di dalam usus halus manusia.

dampak jika tidak mencuci tangan


6

Dampak yang sering terjadi adalah penyakit- penyakit yang


disebabkan oleh higiene yang buruk seperti diare, cacingan dll.

hubungan tidak memakai sandal ketika bermain

Di skenario diberitahu bahwa An.Z tinggal di daerah perkebunan,


dimana An.Z main di tanah . akan ada kemungkinan anak Z akakn
terinfeksi cacing yang transmisi di tanah (STH) yang masuk ke
dalam tubuh melalui penetrasi di kulit tubuh sehingga akan timbul
gejala cacingan.

Dampak tidak menggunakan alas kaki di tanah

Resiko terinfeksi cacing dan resiko terinjak benda asing yang


bisa menyebabkan trauma kemungkinan lebih besar. 5

6. Bagaimana langkah-langkah mencuci tangan yang baik dan benar?


Jawab :

1. Ratakan sabun dengan menggosokkan pada kedua telapak tangan.


2. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari, lakukan pada kedua
tangan.
3. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari kedua tangan.
4. Gosok punggung jari kedua tangan dengan posisi tangan saling
mengunci.
5. Gosok ibu jari kiri dengan diputar dalam genggaman tangan kanan,
lakukan juga pada tangan satunya.

6. Usapkan ujung kuku tangan kanan dengan diputar di telapak tangan


kiri, lakukan juga pada tangan satunya kemudian bilas. 6

7. Apa ada hubungan dari keluhan an. Z dengan menurunnya prestasi


disekolah dan sulit berkonsentrasi dalam belajar?
Jawab :
Gejala klinik penyakit cacing berupa anemia yang diakibatkan oleh
kehilangan darah pada usus halus secara kronik. Jumlah darah yang
hiIang setiap hari tergantung pada: (1) jumlah cacing, terutama yang
secara kebetulan melekat pada mukosa yang berdekatan dengan
kapiler arteri; (2) species cacing (3) lamanya infeksi. Terjadinya anemia
tergantung pada keseimbangan zat besi dan protein yang hilang dalam
usus dan yang diserap dari makanan. Kekurangan gizi dapat
menurunkan daya tahan terhadap infeksi parasit. Beratnya penyakit
cacing tambang tergantung pada beberapa faktor, antara lain
umur,"wormload," lamanya penyakit dan keadaan gizi penderita.
Penyakit cacing tambang menahun dapat dibagi dalam tiga golongan :
I. Infeksi ringan dengan kehilangan darah yang dapat diatasi tanpa
gejala, walaupun penderita mempunyai daya tahan yang menurun
terhadap penyakit lain.
II. infeksi sedang dengan kehilangan darah yang tidak dapat
dikompensasi dan penderita kekurangan gizi, mempunyai keluhan
pencernaan, anemia, lemah, fisik dan mentaI kurang baik yang
menyebabkan aktifitas sehari-hari dan pembelajaran memburuk pada
anak-anak.
III. infeksi berat yang dapat menyebabkan keadaan fisik buruk dan payah
jantung dengan segala akibatnya.7
8. Apa kemungkinan jenis cacing yang menginfeksi an Z?
Jawab :
Jenis cacing yang mungkin menginfeksi An. Z adalah jenis cacing
nematode usus :
1. Ascaris lumbricoides
2. Cacing tambang ( necator americanus dan ancylostoma duodenale)
3. Trichuris trichura
4. Enterobius vermicularis

9. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan cacingan pada an z?


Jawab :
1. Faktor higienitas anak

Tidak mandi dua kali sehari

Tidak mencuci tangan sebelum makan

Tidak mencuci tangan setelah buang air

Menggigit kuku dan menghisap jempol

Kebiasaan bermain di tanah dan tidak memakai alas kaki

Defekasi di kebun, parit sungai atau danau (tidak dijamban)

Tidak memakai pakaian dalam

Memakai alas tidur jarang diganti

Makan makanan yang tercemar oleh larva cacing

Minum minuman yang tidak bersih

2. Faktor sanitasi lingkungan

Tidak ada sinar matahari

Kondisi rumah yang tidak memiliki jendela, ventilasi, dan


genteng kava yang langsung menyinari tempat tidur

Lingkungan yang kotor dan penuh penyakit3,5

10.Mengapa dokter menduga an. Z mengalami cacingan?


Jawab :
Pada skenario diketahui bahwa An.Z diduga cacinga oleh dokter,
pada kebanyakan jenis cacing pencernaan contohnya Anchylostomiasis
duodenale yang memiliki gejala sama jika terinfeksi dengan keluhan
An.Z, awalnya akan timbul rasa gatal akibat larva cacing masuk kekulit
(telapak kaki, terutama untuk N. americanus) untuk masuk
keperedarandarah. Kemudian larva akan keparu dan naik ke trakea,
berlanjut ke faring kemudian larva tertelan kesaluran pencernaan.
Keadaan ini juga memicu berkurang nya nafsu makan dari penderita
sehingga bisa menyebabkan penurunan berat badan. Selain itu faktor
menurunnya berat badan juga dipengaruhi oleh aktifitas cacing
tersebut, cacing dewasa biasanya akan berada di rongga caecum, usus
besar dan usus halus, dan juga makanan cacing itu sendiri adalah isi
dari usus penderita tersebut, yang mana jika cacing terlalu banyak
jumlahnya dan jika terus memakan isi usus, maka penyerapan nutrisi
penting yang di perlukan oleh tubuh pada usus akan berkurang, itulah
yang akan menyebabkan turunnya berat badan. Selain itu gangguan
pencernaan lainnya dapat berupa mual, muntah, nyeri perut dan
diare.Pada infeksi kronis, anemia dapat terjadi karena penghisapan
darah oleh cacing. Gejala anemia antara lain badan lemas, pusing,
berdebar-debar, kuku pucat pemukaan kuku agak melengkung kedalam
dan sesak nafas.5

11.Apa saja jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh cacing?


Jawab :
1. Askariasis
Askariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh A.
lumbricoides (cacing gelang) yang hidup di usus halus manusia dan
penularannya melalui tanah. Cacing ini merupakan parasit yang
kosmopolit yaitu tersebar di seluruh dunia, frekuensi terbesar berada di
negara tropis yang lembab, dengan angka prevalensi kadangkala
mencapai di atas 50%. Angka prevalensi dan intensitas infeksi
biasanya paling tinggi pada anak usia 5-15 tahun (Ditjen PP&PL
Dep.Kes. RI, 2005) (Bethony, J., et al., 2006. Soil Transmitted Helminth
Infection : Ascariasis, Trichuriasis, and Hookworm.). Siklus hidup cacing
ini membutuhkan waktu empat hingga delapan minggu untuk menjadi
dewasa. Manusia dapat terinfeksi cacing ini karena mengkonsumsi
10

makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing yang telah


berkembang (telur berembrio). 9
Infeksi ringan cacing ini biasanya ditandai dengan sedikit gejala atau
tanpa gejala sama sekali. Kelainan patologi yang terjadi, disebabkan
oleh dua stadium sebagai berikut :

Kelainan oleh larva, yaitu berupa efek larva yang bermigrasi di


paru (manifestasi respiratorik). Gejala yang timbul berupa
demam, dyspneu, batuk, malaise bahkan pneumonia. Gejala ini
terjadi 4-16 hari setelah infeksi.

Kelainan oleh cacing dewasa, berupa efek mekanis yang jika


jumlahnya cukup banyak, akan terbentuk bolus dan
menyebabkan obstruksi parsial atau total. Migrasi yang
menyimpang dapat menyebabkan berbagai efek patologi,
tergantung kepada tempat akhir migrasinya. Infeksi Ascaris
lumbricoides dapat menyebabkan gangguan absorbsi beberapa
zat gizi; seperti karbohidrat dan protein, dan cacing ini dapat
memetabolisme vitamin A, sehingga menyebabkan kekurangan
gizi, defisiensi vitamin A dan anemia ringan. 5,9

2. Trichuriasis
Trichuriasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh T.
trichiura (cacing cambuk) yang hidup di usus besar manusia khususnya
caecum yang penularannya melalui tanah. Cacing ini tersebar di
seluruh dunia, prevalensinya paling tinggi berada di daerah panas dan
lembab seperti di negara tropis dan juga di daerah-daerah dengan
sanitasi yang buruk, cacing ini jarang dijumpai di daerah yang gersang,
sangat panas atau sangat dingin. Cacing ini merupakan penyebab
infeksi cacing kedua terbanyak pada manusia di daerah tropis. Cacing
dewasa masuk ke mukosa caecum dan colon proximal manusia dan
dapat hidup di saluran pencernaan selama bertahun-tahun. Infeksi
ringan pada manusia biasanya tanpa gejala. Kelainan patologi
disebabkan oleh cacing dewasa. Bila jumlah cacing cukup banyak
dapat menyebabkan colitis dan apendisitis akibat blokade lumen
appendics. Infeksi yang berat menyebabkan nyeri perut, tenesmus,
diare berisi darah dan lendir (disentri), anemia, prolapsus rektum, dan
hipoproteinemia. Pada anak, cacing ini dapat menyebabkan jari tabuh
(clubbing fingers) akibat anemia dan gangguan pertumbuhan. 3,9
3. Infeksi Cacing Tambang
Infeksi cacing tambang pada manusia disebabkan oleh infeksi
parasit cacing nematoda N. americanus dan Ancylostoma duodenale
yang penularannya melalui kontak dengan tanah yang terkontaminasi.
11

Cacing ini merupakan penyebab infeksi kronis yang paling sering,


dengan jumlah orang yang terinfeksi diperkirakan mencapai
seperempat dari populasi penduduk dunia di negara tropis dan
subtropis. Cacing dewasa hidup dan melekat pada mukosa jejunum dan
bagian atas ileum. Penularan terjadi karena penetrasi larva filariform
melalui kulit atau pada Ancylostoma duodenale lebih sering tertular
karena tertelan larva filariform dari pada penetrasi larva tersebut
melalui kulit. Selanjutnya cacing ini tumbuh dan berkembang menjadi
cacing dewasa, kawin dan mulai bertelur empat sampai tujuh minggu
setelah terinfeksi.3
Infeksi ringan cacing ini biasanya ditandai dengan sedikit gejala
atau tanpa gejala sama sekali. Pada infeksi yang berat, kelainan
patologi yang terjadi, disebabkan oleh tiga fase sebagai berikut :

Fase cutaneus, yaitu cutaneus larva migrans, berupa efek larva


yang menembus kulit. Larva ini menyebabkan dermatitis yang
disebut Ground itch. Timbul rasa nyeri dan gatal pada tempat
penetrasi.

Fase pulmonary, berupa efek yang disebabkan oleh migrasi larva


dari pembuluh darah kapiler ke alveolus. Larva ini menyebabkan
batuk kering, asma yang disertai dengan wheezing dan demam.

Fase intestinal, berupa efek yang disebabkan oleh perlekatan


cacing dewasa pada mukosa usus halus dan pengisapan darah.
Cacing ini dapat mengiritasi usus halus menyebabkan mual,
muntah, nyeri perut, diare, dan feses yang berdarah dan
berlendir. Anemia defisiensi besi dijumpai pada infeksi cacing
tambang kronis akibat kehilangan darah melalui usus akibat
dihisap oleh cacing tersebut di mukosa usus. Pada anak, infeksi
cacing ini dapat menganggu pertumbuhan fisik dan mental. 9

4. Enterobiasis (Oxyuriasis)
Enterobiasis/penyakit cacing kremi adalah infeksi usus pada
manusia yang disebabkan oleh cacing E. vermicularis. Enterobiasis
merupakan infeksi cacing yang terbesar dan sangat luas dibandingkan
dengan infeksi cacing lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya
hubungan yang erat antara parasit ini dengan manusia dan lingkungan
sekitarnya. Cacingan, penyakit yang cukup akrab di kalangan anakanak Indonesia. Mulai dari yang berukuran besar seperti cacing perut,
sampai yang kecil setitik seperti cacing kremi (pinworm). Cacing kremi
atau Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis adalah parasit
yang hanya menyerang manusia, penyakitnya kita sebut oxyuriasis
atau enterobiasis. Oleh awam, kita sering mendengar, Kremian. 3,5

12

Enterobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang


berarti. Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi di sekitar anus,
perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang berimigrasi ke
daerah anus dan vagina sehingga menyebabkaan pruritus lokal. Karena
cacing berimigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani,
maka penderita menggaruk daerah sekitar anus sehingga timbul luka
garuk di sekitar anus. Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam
hari hingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Kadang
kadang cacing dewasa mudah dapat bergerak ke usus halus bagian
proksimal sampai ke lambung, esofagus dan hidung sehingga
menyebabkan gangguan di daerah tersebut. 9

12.Apa saja pemeriksaan penunjang yang perlu dilakaukan pada an. Z?


Jawab :
Pemeriksaan feses rutin
a. Makroskopis
Persiapan Sampel:
Feses untuk pemeriksaan sebaiknya berasal dari defekasi spontan yang
dikumpulkan pagi hari sebelum sarapan atau dapat juga feses sewaktu
dan harus segera diperiksa dalam 2-3 jam setelah defekasi (feses
segar); kalau dibiarkan mungkin sekali unsur-unsur dalam tinja menjadi
rusak. Pasien diberitahu agar sampel tidak tercampur urine atau
sekresi tubuh lainnya.

Warna: tinja normal berwarna kuning coklat/coklat muda/coklat


tua. Warna tinja yang dibiarkan pada udara menjadi lebih tua
karena terbentuknya lebih banyak urobilin dari urobilinogen
yang dieksresikan lewat usus. Selain urobilin yang normal ada,
warna tinja dipengaruhi oleh jenis makanan, kelainan dalam
saluran cerna, dan oleh obat-obat yang diberikan.

Bau: Bau normal disebabkan oleh indol, skatol, dan asam


butirat. Bau busukdisebabkan proses pembusukan protein yang
tidak dicerna oleh bakteri, bau asam menunjukkan pembentukan
gas dan fermentasi karbohidrat yang tidak dicerna atau
diabsorbsi sempurna/lemak yang tidak diabsorbsi. Bau anyir
dapat disebabkan adanya perdarahan pada saluran cerna.

Bentuk dan Konsistensi: Feses normal berbentuk sosis dan


agak lunak. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau
cair, sedangkan pada konstipasi didapat tinja dengan konsistensi
keras.

13

Lendir: Pada feses normal tidak ada lendir. Bila terdapat lendir
berarti ada iritasi atau radang dinding usus. Jika lendir hanya
ditemukan dibagian luar feses, lokasi iritasi mungkin usus besar,
jika bercampur dengan feses mungkin iritasi berasal dari usus
halus.

Darah: Feses normal tidak mengandung darah. Jika terdapat


darah, perhatikan apakah darah itu segar (merah muda), coklat
atau hitam dan apakah bercampur atau hanya dibagian luar
feses saja. Perdarahan yang terjadi di bagian proksimal saluran
cerna menyebabkan feses berwarna hitam. Jumlah darah yang
banyak mungkin disebabkan oleh ulkus, varises esofagus,
karsinoma atau hemoroid.

Cacing: cacing mungkin dapat terlihat10

b. Mikroskopis

Sel epitel: Beberapa sel epitel yang berasal dari dinding usus
bagian distal dapat ditemukan dalam keadaan normal. Jika sel
epitel berasal dari bagian yang lebih proksimal, sel-sel itu
sebagian atau seluruhnya rusak. Jumlah sel epitel bertambah
banyak kalau ada peradangan dinding usus.

Makrofag: Sel- sel berinti satu memiliki daya fagositosis; dalam


plasmanya sering dilihat sel-sel lain (leukosit, eritrosit) atau
benda-benda lain.

Leukosit: Lebih jelas terlihat kalau feses dicampur dengan


beberapa tetes larutan asam acetat 10%. Kalau hanya dilihat
beberapa dalam seluruh sediaan, tidak ada artinya. Jumlah
leukosit meningkat pada disentri basiler, kolitis ulserosa, dan
peradangan lain.

Eritrosit: Hanya dilihat kalau lesi mempunyai lokalisasi dalam


kolon, rektum atau anus. Keadaan ini selalu bersifat patologis.

Kristal-kristal: Pada umumnya tidak banyak artinya. Dalam


feses normal mungkin terlihat kristal tripelfosfat dan kalsium
oksalat. Kristal Charcot-Leyden biasanya ditemukan pada
kelainan ulseratif usus, kristal hematoidin dapat ditemukan pada
perdarahan usus.

Sisa makanan: Sebagian besar berasal dari makanan daundaunan dan sebagian lagi dari makanan yang berasal dari
hewan, seperti serat otot, serat elastik, dan lain-lain.

14

Telur dan larva cacing : dapat ditemukan larva cacing atau


telur cacing.10

13.Bagaimana alur penegakan diagnosa dari penyakit an. Z?


Jawab :
Anamnesis:

Identitas penderita

Keluhan utama seperti: Lemah dan pusing, penurunan nafsu


makan, adanya rasa mual dan merasa tidak nyaman pada perut

Lokasi

Onset dan kronologi

Kualitas keluhan

Kuantitas keluhan

Factor-faktor pemberat

Factor-faktor peringan

Gejala penyerta

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat kesehatan keluarga

Riwayat sosial ekonomi

Kebiasaan pribadi seperti: area tempat bermain

Pemeriksaan Fisik:

Pemeriksaan tanda vital

Pemeriksaan generalis tubuh: konjungtiva anemis atau wajah


pucat, terdapat tanda-tanda malnutrisi, nyeri abdomen jika
terjadi obstruksi

Pemeriksaan Penunjang:

Pemeriksaan Feces
Untuk mendiagnosis kecacingan banyak cara dan tehniknya,
cara yang lazim ialah memeriksa tinja segar dengan membuat
15

sediaan langsung (direct smear). Untuk pemeriksaan ini


sebaiknya jangan diambil tinja yang sudah kering atau yang
lama (lebih dari 24 jam) karena telur cacing tambang dalam tinja
yang agak basah dalam waktu itu akan menetas dan sukar
diidentifikasi. Cara yang dianjurkan internasional adalah cara
Kato Katz, yaitu sediaan tinja ditutup dan diratakan dibawah
cellophane tape yang sudah direndam dalam larutan hijau
malachit (malachite green) supaya dapat efek penjernihan
(clearing).11

14.Apa diagnosis banding dari keluhan an. Z?


Jawab :

Anchilostomiasis

Askariasis

Enterobasis

Anemia Defisiensi3

Anchilostomiasis : Ankilostomiasis (infeksi cacing tambang pada


manusia) adalah infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah yang
disebabkan oleh nematoda parasit Necator americanus dan Ancylostoma
duodenale. Gambaran klinis infeksi cacing tambang yang tampak dapat
berupa:
1. Anemia hikromik mikrositer
2. Gambaran umum kekurangan darah : pucat, perut buncit, rambut
kering dan mudah lepas
3. Rasa tak enak di epigastrium
4. Sembelit , diare atau steatore
5. Ground-itch (gatal pada kulit di tempat masuknya larva cacing)
6. Gejala bronchitis : batuk, kadang-kadang dahak berdarah. 11

Askariasis : Askariasis (ascariasis) adalah infeksi usus kecil yang


disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides. Gejala-gejala askariasis,
antara lain:

Demam dan batuk kering

Mengi
16

Sakit perut

Mual atau muntah

Gizi buruk, terutama pada anak-anak

Diare atau BAB berdarah

Cacing keluar baik dari mulut, hidung atau rektum (anus) 5

Enterobiasis : suatu jenis penyakit yang disebabkan oleh cacing kremi.


Gejala enterobiasis:

Sering merasa gatal pada daerah sekitar anus

Nafsu makan berkurang secara perlahan dan berat badan akan


semakin menurun

Anemia Defisiensi : kondisi kekurangan nutrisi zat besi yang


mengakibatkan penurunan jumlah sel darah merah. Anemia terjadi ketika
tubuh mengalami kekurangan sel darah merah yang sehat dan dapat
berfungsi dengan baik. gejala-gejala anemia yang umum terjadi:

Mudah atau lebih cepat lelah

Mudah tersinggung

Kurang berenergi

Muka pucat

Sesak napas

Sulit berkonsentrasi atau berpikir.

Pusing dan sakit kepala

Kaki dan tangan terasa dingin

Sensasi kesemutan pada kaki

Lidah membengkak atau terasa sakit

Sistem kekebalan tubuh menurun sehingga rentan terkena infeksi

Sakit pada dada

Jantung terasa berdetak dengan cepat 3

17

15.Apa yang terjadi pada an. Z?


Jawab :
Suspect infeksi disebabkan oleh parasit cacing

SINTESIS
Cacingan adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing.
beberapa jenis cacing yang hidup di daerah tropis dan subtropis. Yaitu:

Ada

Askariasis adalah penyakit cacingan yang disebabkan oleh


cacing Ascaris lumbricoides atau cacing gelang.

Oxyuriasis atau enterobiasis (penyakit cacing kremi) adalah


penyakit cacingan yang disebabkan oleh Oxyuris vermicularis
atau Enterobius vermicularis atau pinworm.

Ankilostomiasis (penyakit cacing tambang) adalah penyakit


cacingan yang disebabkan oleh Ancylostoma duodenale.

Trikuriasis adalah penyakit cacingan yang disebabkan oleh


Trichuris trichiura.3

ETIOLOGI
Ascaris lumbricoides
etiologi Infeksi yang disebabkan oleh cacing ini disebut Ascariasis. Ascaris
lumbricoides merupakan nematoda usus terbesar. Angka kejadiannya di dunia
18

lebih banyak dari cacing lainnya, diperkirakan lebih dari 1 milyar orang di dunia
pernah terinfeksi dengan cacing ini. Hal ini disebabkan karena telur cacing ini
lebih tahan terhadap panas dan kekeringan. Tidak jarang ditemukan infeksi
campuran dengan cacing lain, terutama Trichuris trichiura. Manusia dapat
terinfeksi dengan cara menelan telur cacing Ascaris lumbricoides yang infektif
(telur yang mengandung larva). Di daerah tropis, infeksi cacing ini mengenai
hampir seluruh lapisan masyarakat, dan anak lebih sering terinfeksi. Pencemaran
tanah oleh cacing lebih sering disebabkan oleh tinja anak. Perbedaan insiden dan
intensitas infeksi pada anak dan orang dewasa kemungkinan disebabkan oleh
karena berbeda dalam kebiasaan, aktivitas dan perkembangan imunitas yang
didapat. Prevalensi tertinggi Ascariasis di daerah tropis pada usia 38 tahun. 3
Cacing dewasa, Cacing berwarna putih atau merah muda. Cacing ini dapat
langsung di identifikasikan karena ukurannya yang besar, yaitu cacing jantan 10
31 cm dengan diameter 24 mm, betina 2235 cm, kadang-kadang sampai 39
cm dengan diameter 36 mm. Pada kepala terdapat tiga bibir, satu yang lebar di
medio dorsal dan sepasang di ventro lateral. bagian anterior tubuh, mempunyai
dentakel-dentakel halus. Ujung posterior cacing jantan melengkung kearah
ventral dan sepasang spikulum terdapat dalam sebuah kantong. Vulva cacing
betina letaknya di tengah ventral dekat perbatasan bagian anterior dan bagian
tengah.
Telur yang dibuahi, besar dan berbentuk lonjong dengan ukuran 4575
mikron x 3550 mikron. Pada waktu dikeluarkan dalam tinja telur belum
membelah. Dengan adanya mamillated outer coat, telur ini dapat bertahan hidup
karena partikel tanah melekat pada dinding telur yang dapat melindunginya dari
kerusakan. Telur yang tidak dibuahi yang ditemukan dalam tinja berukuran 88
94 mikron x 44 mikron. Telur yang tidak dibuahi dihasilkan oleh cacing betina
yang tidak dibuahi atau cacing yang masih muda dan belum lama mengeluarkan
telur. Isi telur yang tidak dibuahi terdiri atas granula dengan berbagai ukuran dan
tidak teratur. Dinding telur yang lebih bujur ini, lebih tipis dari dinding telur yang
dibuahi.3,5

Oxyuris atau enterobius


Etiologi infeksi yang disebabkan oleh cacing ini disebut oxyuriasis atau
enterobiasis. Enterobius vermicularis atau oxyuris vermicularis adalah cacing
kecil (1cm) berwarna putih. Dalam sekali bereproduksi cacing dapat
menghasilkan 11.000 butir telur. Telur berbentuk asimetris, eclips pada satu sisi
dan datar pada sisi lainnya dengan ukuran telur 30-60 m. setelah mengalami
proses pematangan, larva dapat bertahan hidup dalam telur sampai 20 hari. 3
Cacing tambang.
Terdapat tiga spesies cacing tambang yang menyebabkan penyakit, yaitu
Necator americanus, Ancylostoma duodenale, dan ancylostoma ceylonicum. Dua
spesies yang pertama banyak dietemukan di Asia dan Afrika. N. americanus
19

paling banyak ditemukan di Indonesia dari pada spesies lainnya. N. americanus


berbentuk silinder dengan ukuran 5-13 mm x 0,3-0,6 mm, cacing jantan lebih
kecil dari pada betina. Cacing ini mampu memproduksi 10.000-20.000 telur/hari,
dengan ukuran telur adalah 64-76 mm x 36-40 mm. A. duodenale berukuran
sedikit lebih besar dari pada N.americanus, dengan kemampuan menghasilkan
10.000-25.000 telur/hari dan ukuran telur 56-60 mm x 36-40 mm. 3
Trichuris trichiura
Etiologi Infeksi oleh cacing ini disebut trichuriasis. Diperkirakan sekitar
setengah milyar kasus diseluruh dunia. 8 Trichuriasis paling sering terjadi pada
masyarakat rural yang miskin dimana fasilitas sanitasi tidak ada.. Prevalensi
infeksi berhubungan dengan usia, tertinggi adalah anak-anak usia sekolah.
Penularan terjadi melalui kontaminasi tangan, makanan atau minuman.
Cacing dewasa berwarna merah muda, melekat pada dinding sekum dan
pada dinding apendiks, kolon atau bagian posterior ileum. Bagian tiga perlima
anterior tubuh adalah langsing, dan bagian posterior tebal, sehingga menyerupai
cambuk. Cacing jantan berukuran 3045 mm dengan bagian kaudal melingkar.
Cacing betina berukuran 3550 mm dan ujung posteriornya membulat.
Telur cacing cambuk berukuran 3054 x 23 mikron, berbentuk seperti
tempayan (gentong) dengan semacam tutup yang jernih dan menonjol pada
kedua kutupnya. Kulit bagian luar bewarna kekuning-kuningan dan bagian
dalamnya jernih. Sel telur yang dibuahi pada waktu dikeluarkan dari cacing
betina dan terbawa tinja ke luar tubuh manusia, isinya belum bersegmen. Di
dalam tanah, memerlukan sekurang-kurangnya 34 minggu untuk menjadi
embrio. Cacing betina dapat mengeluarkan telur sebanyak lebih kurang 4000
telur per hari. Keadaan udara yang lembab perlu untuk perkembangannya.
Manusia merupakan hospes defenitif utama pada cacing cambuk, walaupun
kadang kadang terdapat juga pada hewan seperti babi dan kera.Bila telur berisi
embrio tertelan manusia, larva yang menjadi aktif keluar melalui dinding telur
yang tak kuat lagi, masuk kedalam usus bagian proksimal dan menembus vili
usus. Di dalam usus dapat menetap selama 310 hari. Setelah menjadi dewasa
cacing turun kebawah ke daerah sekum. Suatu struktur yang menyerupai
tombak pada bagian anterior membantu cacing itu menembus dan
menempatkan bagian anteriornya yang seperti cambuk kedalam mukosa usus
hospesnya. Di tempat itulah cacing mengambil makanannya. Masa
pertumbuhan, mulai dari telur tertelan sampai menjadi dewasa lebih kurang 30
90 hari. Cacing betina dewasa dapat memproduksi 20006000 telur/hari. Cacing
dewasa dapat hidup untuk beberapa tahun.3
EPIDEMIOLOGI3,5
Ascaris Lumbricoides
Pada umumnya frekuensi tertingi penyakit ini diderita oleh anak-anak
sedangkan orang dewasa frekuensinya rendah. Hal ini disebabkan oleh karena
kesadaran anak-anak akan kebersihan dan kesehatan masih rendah ataupun
20

mereka tidak berpikir sampai ke tahap itu. Sehinga anak-anak lebih mudah
diinfeksi oleh larva cacing Ascaris misalnya melalui makanan, ataupun infeksi
melalui kulit akibat kontak langsung dengan tanah yang mengandung telur
Ascaris lumbricoides.
Faktor host merupakan salah satu hal yang penting karena manusia
sebagai sumber infeksi dapat mengurangi kontaminasi ataupun pencemaran
tanah oleh telur dan larva cacing, selain itu manusia justru akan menambah
tercemarnya lingkungan sekitarnya.
Prevalensi Ascariasis di daerah pedesaan lebih tinggi, hal ini terjadi karena
buruknya sistem sanitasi lingkungan di pedesaan, tidak adanya jamban sehingga
tinja manusia tidak terisolasi sehingga larva cacing mudah menyebar. Hal ini
juga terjadi pada golongan masyarakat yang memiliki tingkat sosial ekonomi
yang rendah, sehingga memiliki kebiasaan buang air besar (defekasi) ditanah,
yang kemudian tanah akan terkontaminasi dengan telur cacingyang infektif dan
larva cacing yang seterusnya akan terjadi reinfeksi secara terus menerus pada
daerah endemik (Brown dan Harold, 1983). Perkembangan telur dan larva cacing
sangat cocok pada iklim tropik dengan suhu optimal adalah 23o C sampai 30o C.
Jenis tanah liat merupakan tanah yang sangat cocok untuk perkembangan telur
cacing, sementara dengan bantuan angin maka telur cacing yang infektif
bersama dengan debu dapat menyebar ke lingkungan.

Oxycuris atau enterobiaisis


Penyebaran penyakit cacing kremi lebih luas dari pada penyakit cacing
lain. Penularan dapat terjadi pada keluarga atau kelompok yang hidup dalam
satu lingkungan yang sama (asrama, rumah piatu). Telur cacing dapat diisolasi
dari debu di ruangan sekolah atau kafetariaPenyebaran penyakit cacing kremi
lebih luas dari pada penyakit cacing lain. Penularan dapat terjadi pada keluarga
atau kelompok yang hidup dalam satu lingkungan yang sama (asrama, rumah
piatu). Telur cacing dapat diisolasi dari debu di ruangan sekolah atau
kafetariasekolah dan menjadi sumber infeksi bagi anak-anak sekolah. Diberbagai
rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga yang mengandung cacing
kremi, telur cacing dapat ditemukan dilantai, meja ,kursi, bak mandi, alas kasur
dan pakaian.
Hasil penelitian menunjukkan angka prevalensi pada berbagai golongan
manusia 3% - 80%. Penelitian didaerah Jakarta Timur melaporkan bahwa
kelompok usia terbanyak yang menderita enterobiasis adalah kelompok usia 5
12 tahun yaitu pada 46 anak (54,1%) dari 85 anak yang diperiksa.

Penularan dapat dipengaruhi oleh :

21

Penularan dari tangan ke mulut sesudah menggaruk daerah


perianal (autoinfeksi) atau tangan dapat menyebarkan telur kepada
orang lain maupun pada diri sendiri karena memegang bendabenda ataupakaian yang terkontaminasi.

Debu merupakan sumber infeksi karena mudah diterbangkan oleh


angin sehingga telur melalui debu dapat tertelan.

Retrofeksimelalui anus, larva dari telur yang menetas disekitar anus


kembali masuk ke usus. Anjing dan kucing tidak mengandung
cacing kremi tetapi dapat menjadi sumber infeksi oleh karena telur
dapat menempel pada bulunya.

Cacing tambang (ancylostoma duodenale)


Pejamu utama cacing tambang adalah manusia. Penyakit cacing tambang
menyerang semua umur dengan proporsi terbesar pada anak. Belum ada
keterangan yang pasti mengapa banyak anak yang diserang, tetapi penjelasan
yang paling mungkin adalah karena aktivitas anak yang relative tidak higienis
dibandingkan dengan orang dewasa. Di seluruh dunia di perikirakan penyakit ini
menyerang 700-900 juta orang, dengan 1 juta liter darah hilang (1 orang = 1 mL
darah terhisap cacing). Suatu penelitian melaporkan bahwa angka kesakitannya
adalah 50% pada balita, sedangkan 90% anak yang terserang penyakit ini
adalah anak berusia 9 tahun.
Tricuris trichuria
Epidemiologi Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang penting dalam
proses transmisi, iklim tropis Indonesia sangat menguntungkan terhadap
perkembangan T. trichiura. Indonesia mempunyai empat area ekologi utama
terhadap transmisi T. trichiura yaitu dataran tinggi, dataran rendah, kering, dan
hujan. Data dari berbagai survei di berbagai tempat di Indonesia menunjukkan
bahwa infeksi T. trichiura merupakan masalah di semua daerah di Indonesia
dengan prevalensi 35% sampai 75%. Infeksi T. trichiura didasari dengan sanitasi
yang inadekuat dan populasi yang padat, umumnya ini dijumpai di daerah
kumuh dengan tingkat sosioekonomi yang rendah. Perbedaan prevalensi T.
trichiura di daerah perkotaan dan pedesaan menggambarkan perbedaan sanitasi
atau densitas populasi, tingkat pendidikan, serta perbedaan sosioekonomi yang
juga berperan penting.Anak usia sekolah mempunyai prevalensi yang tinggi
terhadap infeksi T. trichiura. Berdasarkan data epidemiologi, anak dengan
tempat tinggal dan sanitasi yang buruk dan higienitas yang rendah mempunyai
risiko terinfeksi yang lebih tinggi. Pendidikan higienitas yang rendah juga
mendukung tingginya infeksi tersebut. Tumpukan sampah dan penyediaan
makanan jajanan di lingkungan sekolah juga menjelaskan tingginya prevalensi.
PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS3,5,12
Ascaris lumbricoides adalah nematode terbesar yang menginfeksi
manuasia. Cacing dewasa berwarna putih atau kuning dan panjangnya 15-35
22

cm. mereka hidup 10-24 bulan di jejunum dan ileum media intestinal. Setiap
hari, cacing betina menghasilkan 240.000 telur yang difertilisasi oleh cacing
jantan. Telur-telur fertilisasi dikeluarkan di tanah bisa menginfeksi sekitar 5-10
hari. Telur tersebut bisa bertahan hingga 17 bulan di tanah. Infeksi terjadi
melalui kontaminasi tangan atau makanan, masukan ke mulut dan telur-telur
menetas usus kecil.

23

Larva stadium kedua melalui dinding intestinal dan migrasi melalui system
portal ke hepar (4d) dan lalu ke paru-paru (14d). Pajanan signifikan
mengakibatkan pneumonia subsekuen dan eosinofilia. Gejala-gejala pneumonitis
termasuk wheezing, dispnea, batuk nonproduktif, hemoptisis, dan demam. Larva
yang tertelan akhirnya mencapai jejunum, dimana mereka matang menjadi
dewasa kira-kira 65 hari. Cacing dewasa memakan hasil pencernaan host. Anakanak dengan diet marginal rentan terhadap defisiensi protein, kalori, atau
vitamin A, berakibat pada retardasi pertumbuhan dan meningkatkan kerentanan
terhadap penyakit infeksi seperti malaria. Cacing besar menyebabkan obstruksi
ileum, ductus communis, pancreas, atau apendiks. Cacing tidak bermultiplikasi di
dalam host. Infeksi bertahan melebihi 2tahun waktu hidup maksimum cacing,
pajanan ulang terjadi. Beberapa anak menjadi infeksi berat, mungkin dari
pajanan berulang dan atau imunodefisiensi.
Oxycuris atau enterobius, Cacing dewasa betina biasanya akan
bermigrasi pada malam hari ke daerah sekitar anus untuk bertelur. Telur akan
terdeposit di sekitar area ini O. Hal ini akan menyebabkan rasa gatal di sekitar
anus (pruritus ani nokturnal). Apabila digaruk maka penularan dapat terjadi dari
kuku jari tangan ke mulut (self-infection infeksi oleh diri sendiri). Metode
penularan lainnya adalah dari-orang-ke-orang melalui pakaian, peralatan tidur.
Penularan juga dapat terjadi dalam lingkungan yang terkontaminasi cacing
kremi, misalnya melalui debu rumah. Telur menetas di usus halus, selanjutnya
larva akan bermigrasi ke daerah sekitar anus (sekum ,caecum). Di sini larva akan
tinggal sampai dewasa. lnfeksi dapat juga terjadi karena menghisap debu yang
mengandung telur dan retrofeksi dari anus. Bila sifat infeksinya adalah
retroinfeksi dari anus, maka telur akan menetas di sekitar anus, selanjutnya
larva akan bermigrasi ke kolon asendens, sekum, atau apendiks dan berkembang

24

sampai dewasa. Suatu penelitian pada anak melaporkan bahwa ada 33% anak
yang memiliki telur cacing pada kuku jarinya.
(Gambar 21 .3).

Daur hidup cacing tambang

Gambar 1. Siklus hidup cacing tambang

25

Ancylostoma duodenale, setiap harinya di usus halus, A.duodenale


betina dewasa menghasilkan 10.000-30.000 telur, dan N.americanus betina
dewasa menghasilkan 5.000-10.000 telur. Setelah deposisi ke dalam tanah,
setiap telur akan berubah menjadi larva infeksius.larva-larva ini berkembang.
Jika mereka tidak mampu menginfeksi host baru, mereka mati ketika reserve
metaboliknya kelelahan, biasanya sekitar 6 minggu.
Larva berkembang biasanya di tanah yang lembab dan berpasir, dengan
suhu optimal 20-30oC. Larva menetas pada 1 atau 2 hari menjadi larva
rhabditiform, dikenal dengan L1. Larva rhabditiform makan di fese dan melalui 2
proses pergantian bulu; setelah 5-10 hari, mereka menjadi larva filariform atau
L3. Larva filariform berkembang dan bertahan di tanah basah selama 2 tahun.
Meskipun begitu, larva tersebut dapat mongering jika terpapar langsung oleh
sinar matahari atau air garam. Larva filariform hidup di atas 2,5 cm tanah dan
bergerak secara vertical menuju oksigen dan kelembaban.

Gambar 2.Larva filariform cacing tambang


Larva filariform panjangnya 500-700 mdan mampu penetrasi cepat ke
dalam kulit normal, paling sering di tangan atau kaki. Transmisi terjadi setelah 5
menit atau lebih kontak kulit dengan tanah yang mengandung larva. Penetrasi
kulit menyebabkan dermatitis pruritis lokal, yang disebut ruam tanah. Ruam
tanah lebih sering disebabkan oleh Ancylostoma dariapada Necator.
Larva migrasi melalui dermis, memasuki aliran darah dan bergerak ke
paru-paru kurang lebih 10 hari. Saat di paru-par, larva tersebut masuk ke
alveolus, menyebabkan gejala ringan dan alveolitis asimptomatis dengan
eosinofilia.
Saat berpenterasi di alveolus, larva dibawa ke glottis dengan gerakan silia
traktus respiratorius. Selama migrasi paru-paru, host merasakan batuk ringan,
nyeri tenggorokan, dan demam yang selesai setelah cacing migrasi ke usus. Di
glottis,larva tertelan dan terbawa ke usus kecil.
Selama tahap migrasi, larva melalui 2 tahap perontokan selanjutnya,
perkembangan kapsul bukal dan perolehan bentuk dewasa. Kapsul bukal
A.duodenale dewasa memiliki gigi untuk melekatkan ke mukosa, sedangkan
N.americanus dewasa memiliki gigi runcing.
Dengan cara menggunakan kapsul bukalnya, cacing dewasa melekatkan
diri mereka ke lapisan mukosa dari usus kecil proksimal, termasuk bagian
26

terbawah yakni duodenum, jejunum, dan ileum proksimal. Otot esofagus cacing
menyebabkan tekanan negatif yang menyedot gumpalan jaringan intestinal ke
dalam kapsul bukal cacing. Akibatnya, terjadi rupture arteriol dan venula
sepanjang permukaan luminal usus.

Gambar 3.
A.duodenale dewasa
melekat ke mukosa
duodenum
Cacing dewasa mengeluarkan hyaluronidase,yang mendegradasi mukosa
usus dan mengikis pembuluh darah akibatnya terjadi ekstravasasi darah. Mereka
juga mencerna darah. A.duodenale menghisap darah 0,2 ml darah per hari dan
N.americanus 0,03 ml darah per hari. Antikoagulan mengakibatkan aliran darah
dihambat oleh adanya faktor Xa dan VIIa. Cacing dewasa juga menguraikan
faktor-faktor (contoh : faktor penghambat neutrofil) yang melindungi mereka dari
pertahanan host.
Pada minggu 3-5, cacing dewasa menjadi matang secara seksual. Dan
cacing wanita mulai produksi telur yang sering tampak di feses.
Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan
timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut, berkisar antara 1-3 bulan. Untuk
meyebabkan anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa. Pada infeksi
yang berat dapat terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/hari, meskipun pada
umumnya didapatkan perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahanlahan.
Terjadinya anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada
status besi tubuh dan gizi pejamu, beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus
penderita), serta spesies cacing tambang dalam usus. Infeksi A. duodenale
menyebabkan perdarahan yang lebih banyak dibandingkan N.Americanu. Gejala
klinis nekatoriasis dan ankilostomosis ditimbulkan oleh adanya larva maupun
cacing dewasa. Apabila larva menembus kulit dalam jumlah banyak, akan
menimbulkan rasa gatal-gatal dan kemungkinan terjadi infeksi sekunder.
Trichuris trichiura. Apabila manusia menelan telur yang matang, maka
telur akan menetaskan larva yang akan berpenetrasi pada mukosa usus halus
selama 3-10 hari. Selanjutnya larva akan bergerak turun dengan lambat untuk
menjadi dewasa di sekum dan kolon asendens. Siklus hidup dari telur sampai
cacing dewasa memerlukan waktu sekitar tiga bulan dan mulai memproduksi
telur. Cacing tersebut akan membenamkan bagian anteriornya di mukosa usus
dan mulai memproduksi telur sebanyak 2000-7000 butir perhari. Di dalam
27

sekum, cacing bisa hidup sampai bertahun-tahun. Cacing akan meletakkan telur
pada sekum dan telur-telur ini keluar bersama tinja. pada lingkungan yang
kondusif, telur akan matang dalam waktu 2-4 minggu (Gambar 21.4). Bila telur
berada di tempat yang mendukung perkembangannya seperti di tempat yang
lembab, bangat maka telur akan matang dan siap menginfeksi host lain. Pada
infeksi yang berat, cacing dapat pula ditemukan pada ileum, appendix, bahkan
seluruh usus besar.
Untuk lebih jelasnya, siklus hidup Trichuris trichiura dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.

GEJALA KLINIS
Ascariasis. Gejala klinik yang disebabkan infeksi Ascaris dihubungkan
dengan 1. respon imun hospes, 2. efek migrasi larva, 3. efek mekanik cacing
dewasa, 4. defisiensi gizi akibat keberadaan cacing dewasa. Dalam perjalanan
larva melalui hati dan paruparu biasanya tidak menimbulkan gejala. Bila jumlah
larvanya cukup besar dapat menimbulkan tanda-tanda pneumonitis. Ketika larva
menembus jaringan paruparu masuk ke dalam alveoli, mungkin terjadi sedikit
kerusakan pada epitel bronkhial. Dengan terjadinya reinfeksi dan migrasi larva
berikutnya, jumlah larva yang sedikitpun dapat menimbulkan reaksi jaringan
yang hebat. Reaksi jaringan yang hebat dapat terjadi di sekitar larva di dalam
hati dan paru-paru, disertai infiltrasi eosinofil, makrofag, dan sel sel epiteloid.
Keadaan ini disebut sebagai pneumonitis. Ascaris yang dapat disertai reaksi
alergi seperti dispnea, batuk kering atau produktif, mengi, demam. Terdapatnya
cacing dewasa dalam usus biasanya tidak menyebabkan kelainan kecuali bila
jumlahnya banyak sekali, meskipun demikian, karena kecenderungan cacing
dewasa untuk bermigrasi, seekor cacing pun dapat menimbulkan kelainan serius.
28

Migrasi cacing dapat terjadi karena rangsangan seperti demam, penggunaan


anestesi umum. Migrasi ini dapat menimbulkan obstruksi usus masuk ke saluran
empedu, saluran pankreas. Dapat juga bermigrasi keluar melalui anus, mulut
atau hidung. Di Jepang dilaporkan 1398 kasus migrasi Ascaris yang abnormal
meliputi organ-organ abdomen 93,5%, kepala dan leher 2,3%, urogenital 1,7%,
dada 1,6% dan lain lain 0,9%. Migrasi ke organ-organ saluran empedu, hepar,
pankreas dan apendiks meliputi 80%. Hal ini mungkin oleh karena dekatnya
organ-organ tersebut ke lumen usus.11
Oxyuriasis atau enterobiasis. Sensasi gatal di sekitar anus adalah
gejala yang khas pada infeksi ini. Gejala tersebut biasanya diikuti dengan
gangguan kurang tidur. Diagnosis dibuat berdasarkan gejala dan ditemukannya
telur dari apusan daerah anus atau adanya cacing pada daerah tersebut.
Ankilostomiasis. Manifestasi klinis ankilostomiasis berhubungan dengan
derajat infeksinya. Terdapat keluhan kulit seperti gatal akibat masuknya larva.
Siklus pada paru biasanya tidak menimbulkan gejala. Gangguan saluran
pencernaan berupa berkurang nya nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, dan
diare, berhubung dengan adanya cacing dewasa pada usus halus. Pada infeksi
kronis, anemia dapat terjadi karena penghisapan darah oleh cacing. Bila di
dalam tubuh terdapat kurang dari 50 cacing maka gejalanya akan subklinis; dan
bila terdapat 125-500 cacing maka gejalanya akan berat. Di Nigeria pernah di
temukan seorang anak dengan 800 cacing di perutnya. 11
Diagnosis
ditegakkan
berdasarkan
pemeriksaan
ditemukannya telur, larva, atau bahkan cacing dewasa.

tinja

dengan

Trichuriasis.Perkembangan larva Trichuris di dalam usus biasanya tidak


memberikan gejala klinik yang berarti walaupun dalam sebagian masa
perkembangannya larva
memasuki mukosa intestinum tenue.Proses yang
berperan dalam menimbulkan gejala yaitu trauma oleh cacing dan dampak
toksik. Trauma pada dinding usus terjadi karena cacing ini membenamkan
kepalanya pada dinding usus. Cacing ini biasanya menetap pada sekum. Pada
infeksi yang ringan kerusakan dinding mukosa usus hanya sedikit. Infeksi cacing
ini memperlihatkan adanya respon imunitas humoral yang ditunjukkan dengan
adanya reaksi anafilaksis lokal yang dimediasi oleh Ig E, akan tetapi peran
imunitas seluler tidak dijumpai. Terlihat adanya infiltrasi lokal eosinofil di sub
mukosa dan pada infeksi berat ditemukan edem. Pada keadaan ini mukosa akan
mudah berdarah, namun cacing tidak aktif menghisap darah. Gejala pada infeksi
ringan dan sedang anak menjadi gugup, susah tidur, nafsu makan menurun, bisa
dijumpai nyeri epigastrik, muntah, kontipasi, perut kembung. Pada infeksi berat
dijumpai mencret yang mengandung darah, lendir, nyeri perut, tenesmus,
anoreksia, anemia dan penurunan berat badan. Pada infeksi sangat berat bisa
terjadi prolapsus rekti.11,12

TATALAKSANA3,5,11

29

Ascaris lumbricoides
Obat pilihan adalah albendazol 400mg, atau mebendazol 500mg dosis
tunggal. Obat alternatif adalah levamisol 2,5 mg/kg atau piranteal pamoat
10mg/kg dosis tunggal. Oksantel-pirantel pamoat adalah obat yang dapat
digunakan untuk infeksi campuran A.lumbricoides dan T.trichiura. Untuk
penanganan komplikasi meliputi pemberian prednisolon pada Lofflers syndrome;
pada obstruksi intestinal dilakukan pemasangan nasogastric tube, cairan
intravena, analgesik, dan bila gagal diperlukan intervensi bedah.
Ancylostoma duodenale
Penatalaksanaan ditujukan untuk eliminasi parasit dan mengatasi anemia.
Albendazol 400 mg dosis tunggal menghasilkan kesembuhan 80% dan dosis 200
mg/hari selama 3 hari memberi kesembuhan 100%. Alternatif lain adalah
mebendazol 500 mg dosis tunggal pirantel pamoat 10 mg/kg selama 3 hari.
Penanganan anemia adalah pemberian ferous sulfat atau ferous glukonat peroral
200 mg tiga kali sehari dan dilanjutkan sampai 3 bulan setelah kadar hemoglobin
normal dicapai untuk mempertahankan cadangan besi. Pada kasus, kadar Hb
meningkat 1 gram perminggu. Perlu juga diberikan asam folat 5 mg per hari
selama 1 bulan. Pilihan lain adalah besi parenteral (iron-dextran atau iron-poly
sorbitol gluconic acid) pada pasien yang tidak dapat mentoleransi besi per oral.
Trichuris trichiura
Terapi pilihan adalah albendazol 400 mg atau mebendazol 500 mg dosis tunggal.
Alternatif lain yang sama efektifnya adalah kombinasi albendazol 400 mg dan
ivermectin 200 g/kg.
Enterobius vermicularis
Obat pilihan adalah albendazol 400 mg dosis tunggal. Dapat pula diberikan
mebendazol 100 mg atau pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan dosis tunggal.
Terapi diulang setiap 6 minggu sampai lingkungan bersih dan semua anggota
keluarga sebaiknya diterapi untuk mecegah reinfeksi.
KOMPLIKASI11,12
Trichuris trichura
-infeksi ringan tidak menimbulkan gejala
- infeksi berat: nyeri perut, muntah, sulit BAB, kembung, s/d prolapsus recti

Ascarisiasis
a. Akibat migrasi ascaris lumbricoides :

Ikterus obstruktif
30

b.

Kolangitis

Kolesistitis

Pankreatitis

Abses hepar piogenik

Apendisitis

Perforasi usus

Akibat massa ascaris :

Ileus obstruktif

Volvulus

Intususepsi

c.

Dapat terjadi Pneumonia

d.

Dapat terjadi Peritonitis

e. Abses hepatis pada anak-anak


Oxyuris atau enterobiasis

Salpingitis (peradangan saluran indung telur)

Vaginitis (peradangan vagina)

Infeksi ulang.

EDUKASI12
Anchylostoma duodenale / cacing tambang
-

Awasi ketika anak bermain diluar rumah terutama main di tanah

Menggunakan alas kaki ketika berada diluar ruangan

Membiasakan diri dan keluarga untuk selalu mencuci tangan

Menjaga kebersihan jamban

Potong kuku dan memakai celana panjang

Kebersihan anak dan keluarga selalu dijaga

Berikan obat cacing kepada seluruh anggota keluarga

31

Askaris lumbricodes/ cacing gelang


-

Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman terutama sayuran

Perbaiki sanitasi lingkungan terutama jamban keluarga yang memenuhi


standar kesehatan

Menjaga kebersihan diri dan menggunakan alas kaki

Enterobius vermicularis/ cacing kremi


-

Biasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan

Lakukan perawatan atau pemotongan kuku jari anak

Trichuris trichiura / cacing cambuk


-

Sebagaimana infeksi cacing lainnya perbaiki sanitasi dan hygiene pribadi


dapat menurukan prevalensi secara signifikan

PROGNOSIS5,11
Askariasis
Prognosis baik selama tidak terjadi obstruksi oleh cacing dewasa yang
bermigrasi. Dalam waktu 1,2 tahun, infeksi cacing ini dapat sembuh dengan
sendirinya Kesembuhan askariasis dengan pengobatan mencapai 70% hingga
99%. (Ismid et al., 2008).
Trichuriasis
Dengan pengobatan yang adekuat, prognosisnya akan baik.
Infeksi Cacing Tambang (Ankilostomiasis)
Prognosis dari penyakit ankilostomiasis adalah baik, walaupun pasien
datang dengan komplikasi ankilostoma dapat disembuhkan asalkan dengan
pengobatan yang adekuat.
Enterobiasis
Infeksi cacing ini biasanya tidak begitu berat, dan dengan pemberian
obat-obat yang efektif maka komplikasi dapat dihindari. Pengobatan yang secara
periodik akan memberikan prognosis yang baik. Yang sering menimbulkan
masalah adalah infeksi intra familiar, apalagi dengan keadaan higienik yang
buruk.
Baik dan biasanya tidak menimbulkan bahaya, terutama dengan
pengobatan yang baik. Yang perlu diperhatikan adalah kebersihan dan
pencegahan auto atau hetero-infection kembali.
32

Daftar Pustaka
1. Dorland, W. M. Newman. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. Jakarta:
EGC Medical Publisher.2012
2. Price, Sylvia A., Lorraine M. Wilson.Patofisiologi Konsep Klinis Proses
Proses Penyakit Edisi 6 Jilid 1. Jakarta : EGC. 2006
3. Sudoyo, Aru W, Dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI Jilid I.
Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran UI.
2006
4. Diakses Dari Jurnal Digilib.Unimus.Ac.Id/Download.Php?Id=4837 Pada
17 September 2016 Pukul 20.31 Wib.
5. Widoyono. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, &
Pemberantasannya. Edisi II. Jakarta : Penerbit Erlangga, 2011. Hal. :
174-186
6. Diakses
Dari
Jurnal
Http://Www.Who.Int/Water_Sanitation_Health/Diseases/Ascariasis/En/
Pada 15 September 2016.
7. KARYADI, D., TARWOTJO, 1., BASTA, S., SUKIRMAN, HUSAINI, ENOCH, H.,
MARGONO, S.S. And SALIM, A., : Nutritionand Health Status Of

33

Construcrion Workers At Three Selected Sitesin West Java, Indonesia.


Bull. Penel. Keseh. (Bull. Hlth. Studies In Indon.) No. 2, 1: 47 77, 1974.
8. Behrman, Kliegman Dan Arvin. 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak.
Edisi 15 Vol 2. Jakarta : ECG
9. Sutanto I, Ismid S, Sjariffudin KP, Sungkar S. Parasitologi Kedokteran
Dalam Nematoda. Edisi 4. 2008. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
10.Panduan Praktikum Patologi Klinik Kedokteran Universitas Jambi
11.KNOWLES, J.H. : Other Disorders Of The Lung, Dalam Wintrobe,M.M.,
Thorn, G.W., Adams, R.D. (Eds) : Harrison S Principles Of Internal
Medicine Ed. 6, New York, Mc Graw-Hill Book Co Inc., 1970, Pp. 1370
1371
12.Staf

Pengajar

Departemen

Parasitologi

FKUI.

2009.

Buku

Ajar

Parasitologi Kedokteran, Edisi Keempat.Jakarta:Balai Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia

34