Anda di halaman 1dari 33

BAB I

DI DALAM OTAK ADA JIWA


Perilaku kita sehari-hari ternyata berhubungan dengan kerja otak. Otak
manusia yang mengatur kecerdasan dan emosi. Perilaku makan merupakan interaksi
antara panca indera, sistem saluran pencernaan dan otak kita. Jika mata kita melihat
makanan yang menarik atau hidung kita mencium aroma lezat makanan, maka saluran
pencernaan kita akan mengirimkan sinyal ke otak. Pusat lapar dan pusat kenyang terdapat
di bagian-bagian otak kita. Makanan lezat yang kita lihat atau kita cium baunya akan
menimbulkan rasa lapar. Otak sebagai sistem saraf pusat akan bekerja sama dengan
saluran pencernaan dalam proses makan tersebut.
Secara garis besar, otak terdiri atas tiga bagian besar, yaitu korteks serebri, sistem
limbik dan batang otak. Korteks serebri berperan penting dalam proses mengingat,
berfikir, mengingat dan menghitung. Sitem limbik berperan dalam pengaturan emosi
manusia. Kerja batang otak sangat penting dalam aktivitas organ tubuh manusia yang
sangat vital, seperti pusat pernafasan dan kerja jantung.
Pada tahun 1983 Howard Gardner yang lahir pada tanggal 11 Juli tahun 1943 di
Scranton, Pennsylvania. dalam bukunya Frames of Mind, mengemukakan teori tentang
multiple intelligence, intelejensi adalah kemampuan untuk membuat atau menghasilkan
suatu hal yang dibutuhkan oleh lingkungan seseorang, kemampuan untuk membuat
seseorang dapat mengatasi berbagai persoalan dalam hidupnya dan potensi untuk
menghasilkan pemecahan masalah atas problem yang dihadapi, yang melibatkan
pengetahuan-pengetahuan terbaru. Menurut Howard Gardner terdapat lima pokok utama
dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri
sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan
bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi
sebagai alat untuk memotivasi diri. Secara psikologi, emosi didefinisikan sebagai sautu
kondisi yang kompleks meliputi perasaan, akibat dari kondisi fisik, perubahan psikologi
yang mempengaruhi pikiran dan perilaku. Emosi tercermin dalam temperamen,
kepribadian dan motivasi seseorang.
Tidak hanya dalam hal perilaku makan, ternyata perubahan emosi manusia
berhubungan dengan aktivitas otak. Ilmu pengetahuan yang berkembang pesat saat ini

terus mengembangkan hubungan antara emosi dengan gambaran otak manusia, baik
melalui produksi zat-zat kimia yang dihasilkan oleh otak dalam keadaan sedih, marah,
panik ataupun cemas, atau perubahan kadar hormon tertentu yang dihasilkan tubuh sesuai
dengan perkembangan emosi kita. Untuk melihat lebih jelas apakah benar adanya
hubungan antara perubahan emosi dengan aktivitas otak maka ilmu kedokteran
menggambarkan anatomi otak melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Perkembangan ilmu pengetahuan neurologi dalam brain mapping (pemetaan
daerah-daerah di otak) yang menggambarkan struktur anatomi otak lebih rinci dari pada
sebelumnya ternyata memiliki peran besar pada bidang ilmu lainnya, salah satunya
adalah psikologi. Bidang neurobiologi mengembangkan sistem meditasi secara psikologi
untuk memecahkan masalah-masalah emosi dan setelah diteliti ternyata masalah
psikologi manusia memiliki hubungan dengan perubahan gambaran otaknya sebelum dan
setelah menjalankan terapi psikologi. Pada awal abab ke 20, seorang ahli neuroanatomi,
Korbinian Broadmann membagi daerah korteks otak manusia ke dalam 50 area jika
dilihat menggunakan mikroskop. Brain mapping menggambarkan struktur otak
berdasarkan fungsinya. Daerah otak yang disebut hippocampus dan amygdala berperan
dalam pengaturan emosi kita.

Bagian otak amygdala (http://images.search.yahoo.com)

Penelitian yang dilakukan oleh Smeets dkk pada tahun 2006 terhadap 12 orang
wanita dan 12 orang laki-laki usia 20 tahun dengan berat badan normal, membuktikan
bahwa efek kenyang (satiety) berada di otak manusia. Penelitian ini menerapkan
gambaran struktur otak peserta penelitian menggunakan MRI sebelum dan setelah
mengkonsumsi coklat. Coklat pahit diberikan kepada peserta pada pagi hari setelah puasa
sejak jam 10 malam. Coklat pahit dipilih karena memberikan sensari rasa yang cukup
kuat. Setelah puasa semalaman, peserta diberi coklat selama beberapa sesi sampai mereka
merasa kenyang, kemudian diambil gambaran MRI otaknya. Hasil penelitian
menunjukkan rasa kenyang setelah mengkonsumsi coklat berhubungan dengan
peningkatan aktivasi daerah otak di daerah tertentu.
Hubungan antara gangguan makan dengan masalah psikologi telah banyak diteliti.
Gangguan makan yang kita kenal seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa dan bingeeating berhubungan dengan masalah psikologi. Mengenai tepatnya prevalensi anoreksia
nervosa, bulimia nervosa dan binge-eating disorder pada kaum wanita di Indonesia
belum ditemukan angka yang tepat, tetapi kecenderungan anoreksia nervosa pada remaja
putri telah banyak diteliti. Ratnawati dan Sofiah pada tahun 2012 telah meneliti bahwa
kecenderungan untuk menjadi anoreksia nervosa pada remaja putri sebuah sekolah
kejuruan (setingkat dengan sekolah menengah atas) berhubungan dengan kepercayaan
diri dan body image (citra diri).
Dengan adanya bukti ilmiah berupa perubahan gambaran otak yang dilihat
melalui MRI yang ternyata berhubungan dengan perilaku makan maka dapat diambil
kesimpulan bahwa emosi bisa berperan dalam proses makan. Proses makan dan
pengaturan emosi tidak lepas dari aktivitas otak sehingga dapat kita katakan bahwa di
dalam otak ada jiwa!.

BAB II
NAFSU MAKAN (APPETITE)
Ketertarikan saya untuk memahami perilaku makan berawal dari suatu proses
pada saat terbangun tengah malam kemudian saya merasakan banyak sekali yang harus
dikerjakan keesokan harinya, rasa tidak nyaman, tertekan dan khawatir tugas-tugas tidak
akan selesai

tepat waktunya. Saya ingin meringankan perasaan itu, kemudian saya

menghadiahi diri saya dengan secangkir susu coklat rendah lemak tanpa gula, setelah
meminumnya sampai habis, pikiran terasa ringan dan itu sangat mempengaruhi tubuh
saya yang langsung terasa segar. Kemudian saya mencari literatur mengenai hubungan
perilaku makan dengan pikiran dan hati, ternyata saya menemukan bahwa ada keterkaitan
antara nafsu makan dengan saluran pencernaan yang berada di bawah kendali susunan
saraf pusat, dengan kata lain, perilaku makan itu merupakan perilaku yang dapat kita atur
sendiri. Pengaturan perilaku makan merupakan proses yang disadari dan meliputi
keterlibatan sistem saraf pusat, saluran pencernaan dan jaringan lemak. Rasa kenyang
atau puas (satiety) akan membatasi asupan makanan. Gambar di bawah ini akan
menjelaskan keterlibatan sistem saraf pusat, saluran pencernaan dan jaringan lemak
(adiposa) dalam pengaturan nafsu makan.

Gambar 1. Pengaturan nafsu makan merupakan integrasi berbagai organ dalam tubuh
Gambar 1. Kordinasi saluran pencernaan dan sistem saraf pusat pada pengaturan makan (Woods, 2009)

Otak (daerah hipotalamus, nucleus arkuatus) merupakan kunci dari pengaturan


energi (energy homeostasis). Keinginan makan ditentukan oleh faktor eksternal
(lingkungan), kondisi mental (emosi) seperti kondisi stress atau cemas. Kondisi
lingkungan bisa berupa pemilhan jenis makanan berdasarkan pengalaman makan
sebelumnya (learning), kapan akan makan dan kondisi saat itu misalnya mengikuti tren
saja. Tubuh akan mengontrol kadar glukosa (gula darah) secara ketat. Ada dua daerah
sinyal syaraf di hipotamus (otak) yang berperan dalam nafsu makan (respon makan)
yaitu daerah yang disebut dengan pusat kenyang (satiety sistem) dan daerah yang
disebut dengan pusat lapar atau pusat makan (feeding sistem). Selain kondisi eksternal
yang mempengaruhi sinyal menuju sistem saraf pusat, makanan yang masuk ke dalam
usus dua belas jari akan merangsang pengeluaran hormon kolesistokinin oleh bagian usus
yang disebut duodenum untuk membangkitkan reseptor saraf vagus di saluran
pencernaan, selanjutnya saraf vagus ini akan terhubung dengan otak. Adanya sekresi
hormon kolesistokinin menunjukkan sinyal kenyang. Hormon kolesistokinin juga dapat
menyebabkan peningkatan hormon serotonin di hipotalamus. Serotonin adalah hormon
yang berhubungan dengan perasaan tenang (nyaman), dalam hal makan akan mendukung
perasaan nyaman setelah makan. Selain kolesistokinin, saluran cerna juga akan
mengeluarkan hormon glucagon like peptide-1 (GLP-1) dan peregangan kantong saluran
pencernaan (distensi lambung) akibat masuknya makanan juga merupakan sinyal ke otak.
Organ lain yang terlibat yaitu hati akan mengatur kadar glukosa yang dikeluarkan tubuh
saat konsentrasinya turun (hepatic glucose production), yang ditandai dengan tubuh
merasa lapar, pusing, berkeringat dingin, dan sebagainya. Hati akan mengeluarkan
cadangan glukosa tubuh untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh. Organ pankreas akan
mengeluarkan hormon insulin dan jaringan lemak akan mengeluarkan hormon leptin
sebagai sinyal ke otak. Semua sinyal yang menuju otak akan membangkitkan pusat
kenyang (satiety) di otak sehingga tubuh akan merasa kenyang atau puas maka kita akan
berhenti makan. Penurunan kadar hormon insulin akan menurunkan kadar glukosa darah
sehingga merangsang pusat lapar di hipotalamus (otak) yang menyebabkan timbulnya
keinginan untuk makan. Apakah artinya bagi tubuh kita? Artinya glukosa darah harus
tersedia sebagai sumber energi bagi tubuh, terutama sistem saraf pusat sehingga proses
makan makan tadi akan membuat tubuh menyerap glukosa dari saluran pencernaan

sebagai sumber energi, maka akan muncul rasa kenyang, sebaliknya setelah selesai
penyerapan terjadi penurunan penggunaan glukosa oleh sel akan kembali membangkitkan
rasa lapar. Begitulah siklus ini terjadi secara terus-menerus selama 24 jam dalam tubuh
kita.
Sangat menarik untuk diketahui bahwa rasa kenyang (puas) setelah makan bahkan
di antara waktu makan dapat dimanipulasi berdasarkan pengalaman makan sebelumnya.
Seseorang secara sadar dapat mengatur kapan akan berhenti makan bahkan mengatur
porsi makan sehingga dapat memilih apakah ingin makan sekali saja langsung dengan
porsi besar atau dengan porsi kecil tapi frekuensinya lebih sering. Hormon leptin yang
dikeluarkan oleh jaringan lemak dan insulin yang dikeluarkan pankreas berbanding lurus
kadarnya dengan kadar lemak dalam tubuh. Jika kadar lemak dalam tubuh tinggi, makan
kadar leptn dan insulin tinggi. Tingginya kadar leptin dan insulin merupakan sinyal bagi
otak, kemudian otak akan memerintahkan tubuh untuk menghentikan asupana makanan,
begitu juga sebaliknya. Tetapi bagaimana dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh
secara berlebihan? Orang yang mengabaikan rasa puas atau kenyang itu saat makan atau
setelah berhenti makan bahkan terus-menerus memasukkan makanan ke dalam tubuhnya
akan terus-menerus memiliki kadar leptin dan insulin yang tinggi dalam tubuhnya
sehingga semakin lama kadar leptin dan insulin tidak lagi merupakan sinyal yang baik
bagi otak, sehingga terjadi kondisi yang disebut resistensi leptin dan resistensi insulin.
Biasanya ini terjadi pada orang gemuk atau orang dengan berat badan berlebih. Mereka
seperti tidak pernah merasa puas atau kenyang, meski sudah banyak sekali makanan yang
masuk ke dalam tubuh. Jadi makan merupakan perilaku yang disadari. Pusat kenyang
dan pusat lapar di otak merupakan sinyal bagi tubuh untuk memulai asupan makanan atau
sinyal untuk berhenti makan. Perilaku makan yang sudah menjadi suatu kebiasaan
merupakan perilaku berulang sehingga otak sudah memiliki memori akan sinyal berupa
banyaknya kadar zat gizi yang masuk ke dalam tubuh (karbohidrat, protein, dan lemak),
aroma makanan dan rasa makanan. Tubuh sudah mengenal bahwa makanan itu enak
untuk dikonsumsi lembali berdasarkan pengalaman makan sebelumnya. Pengaturan
waktu makanpun dapat terjadi secara berulang, jika kita biasa bangun tengah malam
kemudian makan, maka kita akan cenderung mengulang kebiasaan itu.

BAB III
EMOSI DAN PERILAKU MAKAN
Seringkah kita makan karena dorongan hati bukan karena kebutuhan? Mood and
appetite memiliki benang merah yang dapat dipelajari secara ilmiah. Ada hubungan erat
antara perubahan biologi dalam tubuh saat emosi kita berubah dengan hormon yang
dikeluarkan oleh saluran pencernaan yang merupakan sinyal menuju otak. Di otak
terdapat pusat makan dan pusat kenyang, yang mengatur kapan kita mulai makan dan
kapan kita berhenti makan. Masalahnya, kapan kita bisa mengatur hal itu secara sadar,
meskipun perut sudah terasa kenyang, bahkan sudah terasa begah tetapi keinginan makan
terus mendorong kita untuk mengambil makanan sehingga tidak berhenti makan.
Kondisi jiwa berhubungan dengan gizi melalui jalur neurohormonal (sistem saraf
dan hormon). Misalnya: seorang ibu yang menyusui dalam kondisi relaks akan
meningkatkan hormon oksitosin yang dihasilkan oleh sistem saraf pusat sehingga
produksi air susu ibu (ASI) meningkat yang akan meningkatkan berat badan bayi.
Dalam ilmu kedokteran jiwa, jika emosi tidak harmonis, maka akan mengganggu sistem
lain dalam tubuh kita seperti: sistem pernafasan, sistem endokrin (hormon), sistem imun
(kekebalan tubuh), sistem kardiovaskuler (jantung), sistem metabolik (pengaturan proses
pencernaan dalam tubuh), sistem motorik (pergerakan otot), sistem nyeri, sistem
temperatur (suhu tubuh) dan lain sebagainya
Kelainan perilaku makan yang disebut emotional eating ini penting sekali kita
ketahui karena seringkali kegagalan diet bukan karena secara sadar kita menerapkan
perhitungan kalori yang sudah dirancang oleh ahlinya, tetapi karena kita tidak dapat
menahan dorongan hati untuk makan dan terus makan. Dorongan hati ini mungkin
merupakan suatu penghiburan bagi diri kita saat kita stres, depresi, panik, bahkan cemas.
Saat perut terasa kenyang, usus akan mengeluarkan sinyal ke otak untuk
menghentikan asupan makanan. Usus merupakan organ penghasil hormon dan enzim
pengatur perilaku makan kita. Sekarang saya harus berhenti makan! Hal ini merupakan
hasil koordinasi usus dengan sistem saraf pusat (otak). Terdapat pusat kenyang dan pusat
lapar di otak kita, pada daerah yang disebut hipotalamus. Saat ini saya harus makan! Hal
ini akan dilakukan saat perut terasa lapar. Pusat kenyang terdapat di daerah ventromedial

hipotalamus dan pusat lapar di daerah ventrolateral hipotalamus. Hormon dari usus akan
diterima oleh reseptor di daerah sekelompok inti saraf yang disebut nukleus arkuatus.
Penelitian di bidang neurobiologi dan psikologi secara empiris menyatakan
adanya hubungan antara gangguan makan dan rendahnya kemampuan mengontrol emosi.
Pengontrolan emosi berhubungan dengan status mental. Gangguan makan (eating
disorder) memiliki ciri kebiasaan makan yang tidak normal, mulai dari membatasi asupan
hingga makan berlebihan. Gangguan makan bisa dalam bentuk anoreksia nervosa,
bulimia nervosa, dan makan dalam jumlah berlebihan atau memilih jenis makanan
tertentu. Penelitian Lacy (2011) menemukan bahwa pasien yang membatasi asupan
makannya secara ketat atau makan berlebihan kemudian mengeluarkannya kembali
memliki kesulitan besar dalam hal kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya, merasa
tidak diterima oleh lingkungannya, dan selalu memikirkan cara agar disenangi oleh
lingkungannya agar merasa dirinya lebih diterima lingkungan. Harrison, Sullivan,
Tchanturia, dan Treasure (2009) menemukan adanya pengaturan emosi yang buruk pada
penderita bulimia dan anoreksia nervosa. Hubungan antara asupan makanan dengan
susunan saraf pusat juga terbukti dengan asupan makanan yang kaya akan asam lemak
omega-3 terbukti dapat meningkatkan rasio massa otak dengan massa tubuh.

Gambar 2a. Massa otak orang yang mengkonsumsi asam lemak omega-3 (docosahexaenoic acid atau DHA
lebih besar dibandingkan dengan yagn tidak mengkonsumsi DHA.
Gambar 2b. Hubungan antara konsumsi ikan pertahunn dengan kejadian depresi mayor berbanding terbalik
secara bermakna (Pinilla, 2008).

Selain itu suatu penelitian yang membandingkan asupan ikan yang mengandung
asam lemak omega-3 telah terbukti memiliki hubungan dengan kejadian depresi.
Penduduk suatu negara yang banyak mengkonsumsi ikan pertahunnya ternyata memiliki
prevalensi depresi yang lebih rendah dibandingkan dengan penduduk negara lain yang
mengkonsumsi ikan dalam jumlah yang lebih sedikit. Tentu saja hal ini tidak dapat
dijadikan acuan secara umum karena angka kejadian bunuh diri akibat stress psikologik
pada suatu negara tidak semata ditentukan oleh jumlah ikan yang dikonsumsi
penduduknya, mengingat kejadian bunuh diri di Jepang cukup bermakna.

Gambar 3. Perilaku makan merupakan integrasi antara sistem saraf pusat, pusat emosi di otak dan
hormon yang dikeluarkan oleh saluran pencernaan (Adam dan Epel, 2007)

Saat tubuh kita mengalami stres yang merupakan suatu ancaman dalam diri kita,
maka tubuh akan melepaskan hormon kortisol. Tingginya kadar hormon ini akan
merangsang tubuh untuk mengeluarkan hormon insulin, leptin dan sistem neuropeptide Y

(NPY) yang akan membuat otak membangkitkan rasa lapar sehingga timbul keinginan
makan, pemilihan jenis makanan tinggi gula dan lemak, yang jika berlebihan akan
menumpuk dalam lemak tubuh. Tindakan makan ini merupakan hadiah (reward) bagi
tubuh kita sebagai respon terhadap stress yang kita hadapi. Ditambah lagi terdapat
gangguan kognitif yang merangsang otak. Gangguan kognitif ini bisa berupa perubahan
mindset dalam pikiran kita bahwa saat ini kita sah-sah saja atau dimaafkan untuk makan
tanpa memperdulikan berat badan.
Lemak di daerah perut di kenal dengan sebutan lemak viseral. Lemak ini sangat
sulit dibakar oleh tubuh, dibandingkan dengan lemak bawah kulit, seperti lemak di daerah
lengan dan paha kita. Padahal kapasitas penyimpanan lemak dalam jaringan lemak tubuh
kita tidak terbatas jumlahnya, sedangkan kapasitas penyimpanan karbohidrat dalam
bentuk glikogen dalam hati dan otot kita terbatas jumlahnya, maka tidaklah heran jika
penumpukan lemak dapat terjadi seara terus-menerus jika kita makan dalam jumlah
berlebihan padahal pembakarannya lebih sulit dibandingkan dengan pembakaran
karbohidrat.
Pada orang normal terdapat mekanisme pengendalian makan berlebihan oleh
neuropptide Y (NPY) yang akan mengirimkan sinyal ke tubuh kita untuk berhenti makan
jika kebutuhan kalori sudah cukup. Penderita obesitas memiliki gangguan pengendalian
tersebut, sinyal dari leptin dan insulin tidak dapat bekerja dengan baik sehingga terusmenerus makan meskipun perut sudah terasa kenyang, lambung sudah terisi penuh dan
kadar hormon-hormon saluran pencernaan sudah tinggi. Suatu penelitian juga
membuktikan dilepaskannya semacam zat endorfin yang menyebabkan makan itu terasa
menyenangkan pada orang gemuk sehingga penderita terus makan dengan rasa nyaman.

BAB IV
GANGGUAN MAKAN (EATING DISORDER)
Gangguan makan sering dijumpai di klinik. Sebagian besar penderitanya adalah
wanita. Diagnosis gangguan makan meliputi anoreksia nervosa, bulimia dan gangguan
makan berlebihan (binge-eating) serta diagnosis lain yang tidak termasuk ketiga
golongan tersebut. Terapi yang saat ini diterapkan untuk gangguan makan adalah
ofarmakologi dan psikoterapi.
Sangat menarik untuk dipelajari bahwa gangguan makan memiliki cirri kebiasaan
pola makan yang salah, kesalahan dalam manajemen berat badan dan gangguan perilaku
serta persepsi sudut pandang berat badan dan bentuk tubuh. Gambaran umum penderita
anoreksia nervosa adalah melakukan diet ketat karena memiliki ketakutan berlebihan
terhadap kelebihan berat badan. Sedangkan bulimia nervosa memiliki ciri

makan

berlebihan diikuti pengeluaran makanan dengan berbagai cara secara periodik, yang
mungkin saja tidak secara langsung behubungan dengan masalah berat badan, tetapi
penderita merasakan sensasi menyenangkan dengan menegeluarkan kembali makanan
yang telah dimakan dengan berbagai cara. Penampakan penderita bulimia nervosa tidak
sekurus anoreksia nervosa, bahkan beberapa penderita pernah mengalami anoreksia
nervosa sebelumnya.
Pengaruh kesehatan jangka panjang pada remaja penderita gangguan makan tidak
hanya semata-mata status gizi saat ini tetapi kelak saat kehamilan, jika mereka menjadi
calon ibu. Ibu hamil penderita gangguan makan memiliki masalah gizi dan bayi lang lahir
mungkin menderita berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur, depresi ibu pasca
melahirkan dan kesulitan dalam pemberian ASI.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV)
terdapat beberapa jenis gangguan makan, yaitu anoreksia nervosa, bulimia nervosa dan
binge-eating disorder. Diagnosis tersebut ditandai dengan berat badan di bawah standar
normal untuk usia dan tinggi badannya disertai ketakutan berlebihan akan kenaikan berat
badan padahal berat badannya saat itu tergolong kurang dan tidak mengalami menstruasi
(amenorea) selama 3 bulan berturut-turut, demikian kutipan American Psychiatric
Association. Cara pandang terhadap bentuk tubuhnya (body image) sangat buruk, mereka
memandang tubuhnya tidak ideal. Penderita anoreksia nervosa sangat membatasi asupan

makannya sehari-hari, terutama bahan makanan tinggi lemak dan karbohidrat. Sedangkan
pada tipe binge-eating disorder terdapat episode makan secara berlebihan tetapi
dimuntahkan kembali dengan segera.
Berdasarkan kriteria tersebut, sangat jelas kalau sudut pandang dan perilaku
makan yang menyimpang itu memiliki latar belakang psikologis. Efek samping terhadap
kesehatan tubuhnya seperti dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, gangguan
jantung, saluran pencernaan, organ reproduksi (sebagian besar penderita adalah remaja
yang kelak akan menjadi ibu), bahkan kematian. Aspek sosialnya adalah hubungan sosial
yang buruk bahkan kadang kala mereka mencoba untuk bunuh diri.

Sudut pandang penderita anoreksia nervosa yang selalu merasa dirinya gemuk, kenyataannya
adalah dirinya sangat kurus (http://selendangkapas.blogspot.com/2009_10_01_archive.html)

Kriteria diagnostik bulimia nervosa adalah adanya episode makan berlebihan


yang berulang dengan jumlah besar makanan dalam waktu singkat (kurang daripada 2
jam) dan perasaan untuk makan tidak terkontrol. Saat episode makan berlebihan itu,
penderita tidak merasa malu atau merasa bersalah sama sekali. Setelah kejadian makan
berlebihan maka penderita mengkompensasi makan berlebihan yang berulang tadi,
seperti memuntahkan kembali, penggunaan pencahar, berdiet keras atau berpuasa secara
berlebihan. Berdasarkan DSM-IV dan American Psychiatric Association, 1994, kejadian
makan berlebihan dan usaha mengeluarkannya kembali itu terjadi sekurang-kurangnya 2
kali seminggu selama sekurang-kurangnya 3 bulan. Penderita juga memusatkan perhatian

berlebihan terhadap bentuk tubuh (body image) dan berat badan. Efek samping serius
terhadap kesehatan selain gangguan organ yang terjadi secara kronis adalah kematian
karena seringkali penderita membutuhkan perawatan jangka panjang di rumah sakit
bersamaan dengan terapi psikologis. Seringkali pasien merasa malu dan bersalah setelah
episode mengelurkan kembali makanan yang telah dikonsumsi. Pendampingan psikologis
oleh terapis dan keluarga disertai konseling gizi sangat diperlukan untuk mengubah cara
pandang penderita tentang bentuk tubuh dan berat badannya, pemulihan gangguan
psikologis dan pengaturan pola makan yang sehat.

Penderita bulimia memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsinya


(http://kleponlegi.blogspot.com/2013/05/heran-anoreksia-dan-bulimia.htm)

Bulimia merupakan suatu siklus patologik dengan suasana psikologis yang buruk
sebagai pencetus keinginan makan. Hal ini cenderugn terjadi secara berulang sehingga
para ahli diharapkan dapat memutuskan siklus tersebut.

Depresi, merasa malu, menyalahkan diri sendiri, takut, tertekan mendorong penderita untuk makan
kemudian mengeluarkan kembali makanannya sehingga timbul sikap memilih makanan tertentu saja yang
menyenangkan perasaannya (http://motivatsiooniallikas.blogspot.com/2013_08_01_archive.html)

Binge-eating disorder merupakan perilaku makan berlebihan tanpa usaha


mengeluarkan kembali apa yang sudah dikonsumsi. Episode makan berlebihan yang
berulang, seperti binge eating terjadi dengan cepat, makan hingga perut terasa terlalu
penuh, makan sejumlah besar makanan walaupun tidak merasa lapar, makan sendirian
karena merasa malu dengan jumlah makanan yang dikonsumsinya, dan/atau merasa jelek
terhadap diri sendiri, depresi, dan rasa bersalah selepas makan. Penderita merasa tertekan
terhadap perbuatan makan yang berlebihan. Perilaku makan tersebut berlaku sekurangkurangnya 2 hari/minggu selama 6 bulan. Perilaku makan tersebut tidak diikuti dengan
usaha untuk memuntahkan kembali makanan yang telah masuk ke dalam tubuhnya

Tipe Binge mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar untuk menyenangkan perasaannya
(http://monarcaresblog.com/2012/10/05/caregivers-beware-of-compulsive-overeating/)

Ternyata

mengkonsumsi

makanan

dalam

jumlah

besar

hanya

untuk

menyenangkan perasaan dan pikiran sesaat saja, setelah itu penderita binge-eating akan
merasa bersalah setelahnya.

Masalah psikologi seperti merasa sendiri, kesedihan mendalam, sedih dan terbuang merupakan
dorongan kuat untuk makan dalam jumlah besar; setelahnya merasa bersalah
(http://fashionsunrise.com/binge-eating-inforation/)

Perbedaan antara bulimia dan binge-eating adalah pada tipe bulimia akan mengeluarkan
kembali makanan yang telah dikonsumsinya tetapi diikuti perasaan bersalah karena telah
melanggar diet.

Siklus yang harus diputuskan karena merupakan mata rantai yang menyebabkan kejadian terus berulang.
Diet secara ketat akan dilanggar karena perasaan gagal, tidak berguna. Setelah makan timbullah perasaan
bersalah, depresi, malu dan tidak dapat mengontrol dirinya (http://fashionsunrise.com/binge-eatinginforation/binge-eating-and-bulimia-cycles/)

Contoh Kasus Anoreksia Nervosa


Seorang gadis berusia 17 tahun datang ke dokter bersama kedua orang tuanya
yang sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya itu. Sepanjang hidupnya gadis itu tidak
pernah mengalami masalah dengan peningkatan berat badan, tetapi 6 bulan yang lalu
gadis itu memutuskan untuk menurunkan berat badannya. Berat badannya semula 59,1 kg
kemudian turun sebesar 13,6 kg. Dengan tinggi badan 170 cm, maka berat badannya saat
ini jauh dari berat badan idealnya yang berada di atas 60 kg. Saat ini berat badannya bera
di bawah 85% dari berat badan idealnya. Setelah melakukan diet dan olah raga yagn
sangat ketat, gadis itupun mulai mengalami gangguan menstruasi bahkan sampai terhenti
sama sekali. Jika orang tuanya, gurunya, teman-teman orang tuanya

menanyakan

mengapa gadis itu menjadi semakin kurus dari hari ke hari, putrinya itu tidak pernah
menanggapinya bahkan mengatakan bahwa ia tidak sedang dalam masalah apapun.
Selama menjalani masa remajanya, gadis itu selalu khawatir akan bentuk tubuhnya dan
sangat takut menjadi gemuk.
Dokter menemukan masalah terhentinya menstruasi gadis itu karena cadangan
lemak tubuhnya yang sangat sedikit, penderita tampak sangat kurus, lapisan lemak
tubuhnya tidak terlihat lagi, yang membuat penampilan gadis itu lebih tua dari remaja
seusianya. Masalah medis lainnya adalah gadis itu memiliki tekan darah rendah yang
sebenarnya sehari-hari sering dirasakannya pusing tetapi gadis itu tidak pernah
mengeluhkannya kepada kedua orang tuanya. Selain itu dokter mendeteksi denyut
nadinya sangat rendah yang berarti terdapat gangguan dalam pasokan aliran darah ke
seluruh tubuhnya dan perabaaan kulitnya oleh dokter terasa dingin. Jika terus berlanjut
penderita dapat mengalami kekurangan cairan dan elektrolit bahkan terancam kematian.
Kemudian dokter juga melakukan tes untuk penderita kurang gizi, yaitu rambut gadis itu
yang sangat mudah dicabut. Rupanya selama ini gadis itu mengalami kerontokan rambut
yang cukup parah, tetapi tidak pernah dikeluhkannya.
Dokter menjelaskan bahwa jika asupan makanan sangat kurang dalam jangka
lama, suatu saat gadis itu akan mengalami gangguan pertumbuhan tulang, penurunan
massa tulang,

mungkin osteoporosis dini, gangguan kecerdasan, bahkan masalah-

masalah kehamilan dan persalinan jika suatu saat nanti gadis itu menjadi seorang ibu.

Dokter melakukan terapi yang melibatkan beberapa disiplin ilmu yaitu ahli gizi
untuk pemulihan status gizi dan konseling pola makan yang baik, dokter spesialis ilmu
penyakit dalam untuk masalah medisnya, dokter spesialis kandungan untuk mengatasi
gangguan menstruasinya, dokter spesialis psikiatri dan psikolog untuk mengatasi
permasalahan psikologinya. Selama ini gadis tersebut memiliki prestasi belajar biasabiasa saja. Bahkan tergolong sedikit di bawah rata-rata. Untuk meningkatkan
kepercayaan dirinya, gadis itu berusaha masuk ke dalam pergaulan dunia modeling yang
sedang tren saat itu di sekolahnya. Tuntutan untuk memiliki tubuh langsing merupakan
syarat mutlak penerimaan dirinya dalam lingkungan tersebut. Agar lingkungannya
bangga bahkan kedua orang tuanya lebih menghargai dirinya, jika prestasi belajar di
sekolahnya tidak memuaskan, gadis itu berfikir untuk memulai kariernya di dunia
modeling. Dengan tampilnya dirinya dalam berbagai peragaan busana, tentu saja kedua
orang tuanya akan bangga terhadap dirinya.
Dokter ahli gizi memberikan diet rendah kaloris seimbang. Pasien diberikan
asupan makanan yang perlahan-lahan ditingkatkan sampai mencapai berat badan
idealnya. Mula-mula diberikan diet dengan gizi seimbang sekitar 1200-1500 kalori/hari,
yang ditingkatkan secara bertahap. Target peningkatan berat badan cukup besar, sekitar 23 kg perminggu, untuk kasus-kasus tertentu mungkin diperlukan rawat inap karena pada
penderita yagn sudah sangat lemah, pemberian makanan harus dimonitor dengan ketat
karena dapat memebebani jantungnya. Penderita dianjurkan untuk menjalankan 50 kalis
esi psikoterapi untuk menyelesaikan masalah psikologisnya. Psikoterapi, family therapy
dan cognitive behavioral therapy diberikan oleh psikolog untuk mengatasi masalah
depresi, distorsi pencitraan dirinya yang negatif, menekan perasaan dan pikiran-pikiran
negatif dalam dirinya. Selama menjalankan sesi terapi, pasien diberikan tugas untuk
mencatat setiap hari pikiran, perasaan dan perilakunya dalam sebuah buku. Dengan
teknik wawancara dan pengembangan kuesioner, psikolog dapat menemukan
permasalahan yang dihadapi pasien dan membantu untuk mengatasinya. Psikolog
mengembangkan hubungan yang nyaman antara dirinya dengan pasien agar pasien
percaya menceritakan hal apapun yang dialaminya selama proses terapi, termasuk
peristiwa traumatik masa lalu. Mereka bersama-sama menetapkan target pencapaian
dalam hidup pasien, membuat daftar kelebihan dan potensi diri gadis itu untuk

dikembangkan secara maksimal, membuat gadis itu merasa bahwa dirinya sangat
berharga dan membangun kepercayaan diri agar dirinya dapat diterima oleh
lingkungannya. Dokter psikiatri juga memberikan obat antidepresi pada pasien.
Setelah menjalankan sesi terapi selama beberapa bulan, gadis itu perlahan-lahan
mengalami peningkatan berat badan, haidnya mulai teratur, tidak lagi sering merasa
lemas, cepat lelah dan pusing, serta tidak nampak terlalu kurus karena jaringan lemak
tubuhnya mulai terlihat. Untuk mengatasi terulangnya kejadian itu, dokter menekankan
perlunya family therapy agar orang tuanya bisa menjadi tempat gadis itu untuk
menceritakan permasalahan psikologinya sebelum datang ke dokter dalam kondisi yang
sudah parah.
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang biasanya ditemukan pada
remaja. Pada beberapa kasus selain diet yang sangat ketat, daapt disertai dengan perilaku
makan yang sering dengna porsi kescil sampai sangat besar tetapi kemudian makanannya
itu dikeluarkannya kembali dengan berbagai cara, bisa melaui muntah, penggunaan obat
pencahar sehingga penderita akan mengalami diare, bahkan dengan sengaja melakukan
olah raga berlebihan. Mereka memiliki tekad ang sangat kuat untuk memiliki berat badan
yang sangat kurus, karena mereka memiliki gangguan dalam pencitraan diri (body
image), yaitu cara pandang terhadap tubuhnya. Biasanya penderita mengalami masalah
psikologi dalam hidupnya. Mungkin kecemasan akan hal tertentu dalam hidupnya,
perasaan sedih yang dalam, tidak diterima oleh lingkungannya, bahkan tekanan karena
tuntutan untuk tampil langsing dari lingkungannya.
Anoreksia jenis food restricting akan mengurangi asupan makanannya, biasanya
hanya mengkonsumsi 300-700 kalori/hari, itupun masih diikuti dengan olah raga yang
sangat ketat. Dengan asupan kaloris terendah itu tentu saja berat badan akan mudah
turun. Sedangkan jenis binging akan mengkonsumsi makanan secara bervariasi, ada yang
sangat sedikit bahkan dapat mencapai ribuan kalori, tetapi dikeluarkan kemabali dengan
berbagai cara yang tidak sehat.

BAB V
SAYA MAKAN, KARENA SAYA STRES!
Sebenarnya saat ini saya sedang dalam program diet. Definisi diet menurut saya adalah
mengurangi jumlah dan jenis makanan, meskipun menurut dokter ahli gizi saya diet
adalah pengaturan pola makan. Ternyata yang namanya pola meliputi pengaturan jumlah
makanan, jenis makanan, cara memasak, frekuensi makan dan termasuk cara penyajian
makan. Bisa saja makanan yang sudah disajikan mengandung banyak serat, tetapi
porsinya, yang tentu saja berhubungan dengan jumlah kalori yang dikonsumsi masih big
size. Piringnya jangan yang besar ukurannya, minumnya harus banyak, minimal 8 gelas
sehari, sebaiknya minum air putih dulu sebelum makan agar sebelum makan perut sudah
terasa kenyang sehingga saat makan tidak banyak lagi makanan yang bisa masuk ke
perut, dan serangkaian nasehat bla bla bla lainnya. Belum lagi olah raga yang harus
dilakukan minimal 150 menit dalam seminggu. Akhirnya terbentur dengan aktivitas saya
sebagai ibu bekerja, program diet inipun buyar!. Sia-sia saja berat badan yang telah turun
5-6 kg selama 2 bulan ini dengan rajin mengunjungi dokter ahli gizi setiap minggunya.
Sebenarnya terganggunya kunci kedisiplinan saya karena masalah keluarga yang sedang
saya hadapi saat ini. Suami jarang pulang, memang kami masih tinggal satu kota tetapi
akhir-akhir ini seringkali suami pulang malam dengan alasan klise, lembur. Jadilah saya
seorang insomnia karbitan yang rajin menenggak bercangkir-cangkir kopi dalam malammalam panjang selama menunggu suami pulang dari kantor.
Program diet sebesar 1300 kalori yang sudah saya jalankan saat ini dengan
mengkonsumsi setangkup roti bakar dan putih telur rebus pada pagi hari, kemudian
sebuah apel pada jam 10 pagi, diikuti seporsi nasi putih lengkap dengan protein hewani
dan nabati dengan aturan main hanya boleh dikonsmsi masing-masing sebanyak 1 potong
ukuran sedang dengan pengolahan hanya boleh menggunakan 1 sendok minyak, sayurmayur 1 mangkok dan buah 1 potong ukuran sedang dan camilan sore sepotong agar-agar
tanpa santan lalu sebagai pamungkas di bawah jam 6 sore hanya mengkonsumsi nasi 5
sendok makan lengkap dengan 1 potong protein hewani, sayur dan sepotong buah ukuran
sedang ternyata membuat saya bosan. Selain beberapa cangkir kopi, perasaan depresi
yang sedang saya rasakan ini akan berkurang setelah mengkonsumsi sebatang coklat dan

sepiring kecil kue saat tengah malam menunggu suami pulang sambil menonton televisi
atau sekedar mendengarkan musik dan membaca buku di kamar.

Makanan manis dan berlemak dipercaya dapat mengurangi stres (http://allpsych.com/wpcontent/uploads/2014/08/eating.jpg)

Saya berpikir keras bahwa masalah rumah tangga seharusnya tidak boleh
mengganggu diet saya apalagi setelah cek laboratorium minggu lalu saya terkejut karena
ternyata saya memiliki gula darah dan kolesterol melebihi normal. Wah, kesehatan saya
terganggu, tidak saja masalah berat badan, bahkan risiko diabetes dan penyakit jantung
semakin tinggi dengan pola makan seperti ini. Jika saya sakit, tentu suami akan semakin
senang, demikian pikiran buruk saya. Saya harus bangkit dan tidak boleh terpuruk dalam
perasaan dan pikiran-pikiran negatif yang ada dalam diri saya selama ini. Perasaan sedih,
kehilangan, tidak berharga harus dilawan dan harus dibangkitkan citra diri yang baik
dalam diri saya bahwa saya adalah seorang wanita yang berbahagia, memiliki karier
cemerlang, anak yang sehat dan tidak memiliki masalah keuangan yang cukup berarti
sampai saat ini. Bagaimana cara saya agar dapat mensyukuri semua anugerah Tuhan itu?
Sesuai dengan saran dokter ahli gizi saya, maka saya segera mendatangi psikolog yang
dapat memberikan pencerahan bagi jiwa saya, agar saya termotivasi untuk disiplin dalam
menjalankan program diet ini. Benar kata dokter ahli gizi saya, setelah 3 bulan
menjalankan sesi terapi psikologi, perasaan saya menjadi lebih positif, saya lebih
menghargai diri saya sendiri dan dengan senang hati saya menjalankan program diet dan
tidak lagi tidur di atas jam 10 malam serta dapat bangun pagi dengan kepala ringan. Saart
ini saya kembali rajin mengunjungi dokter ahli gizi saya untuk bertahap mencapai target
berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan saya.

BAB VI
LANGKAH PSIKOLOGI
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Terapi kognitif adalah sistem yang dikembangkan oleh Aaron Beck. Metode ini
mengembangkan sistem pemikiran dan kepercayaan dalam menghadapi perasaan yang
salah. Cognitive behavioral therapy (CBT) adalah perlakuan berupa penilaian yang
menghubungkan pikiran, perasaan dan perilaku. Dalam hal ini dieksplorasi hal-hal
negatif yang ada dalam pikiran, dan keyakinan yang secara langsung berhubungan
dengan pikiran dan perasaan negatif tersebut. CBT merupakan suatu pendekatan
psikologi yang menekankan pentingnya hubungan antara pasien dengan terapis sehingga
pasien merasakan dirinya terlibat langsung sehingga tercipta suatu model kerja sama
yang baik antara pasien dengan terapis yang pada akhirnya pasien merasakan bahwa
keberhasilan terapi sangat tergantung pada diri pasien itu sendiri. CBT dilakukan
berdasarkan suatu tujuan tertentu dan pasien secara aktif dapat melakukan terapi di luar
sesi bersama terapis untuk membantu keberhasilan gangguan mentalnya. Bersama
terapis, pasien diajak untuk mematahkan keyakinan dan pikiran yang salah dalam dirinya.
Seseorang yang sedang merasa depresi akan meyakini bahwa dirinya tidak berguna,
sedangkan dalam situasi panik akan percaya bahwa dirinay dalam bahaya. Semua hal
yang dapat membangkitkan ketakutan, panik dan depresi dicatat bersama-sama,
kemucian dibuat suatu pola dan kegiatan yang menyenangkan bagi pasien untuk
menghadapi keyakinan dan pikiran salah yang selama ini tertanam kuat dalam diri
mereka. Hal-hal logis yang melibatkan keterlibatan susunan saraf pusat ditanamkan
sebagai suatu cara untuk menghadapi gangguan mental yang ada, seperti melihat
penyebab ketakitan, depresi atau kecemasan secara nyata dengan membangun hipotesis
dan membangkitkan potensi yang ada dalam diri pasien untuk mengatasi berbagai bentuk
ketakutan, ancaman, depresi dan kepanikan . Pasien diberikan berbagai macam tes, jadual
kegiatan dan waktu tidur yang efisien untuk mendukung terapi farmakologik yang
diberikan sesuai gangguan mental yang ada. CBT terbukti efektif dalam mencegah
episode berulang (relaps) gangguan mental yang ada. Untuk gangguan makan, CBT
sudah pernah diteliti dan terbukti cukup efektif. CBT harus dilakukan oleh terapis yang
mendapat pendidikan khusus, sekitar 4-6 tahun. Selain tu pengembangan CBT

menekankan pada pemikiran mengenai pola makan yang benar, memonitor diri sendiri
terhadap pola makan yang benar, pemecahan masalah psikologis dan pencegahan
kekambuhan penyakit.
Beberapa riset menerapkan prinsip meditasi yang dikenal dengan mindfulness
therapy pada bidang psikologi untuk mengatasi rasa cemas, panik, dan nyeri
berkepanjangan. Pada awal tahun 2005, saat banyak sekali peneliti yang menerapkan
aplikasi pencitraan struktur anatomi otak dengan bantuan alat MRI pada penelitian
dengan meditasi, ditemukan peningkatan massa otak berwarna abu-abu pada gambaran
MRI. Peningkatan daerah otak berwarna abu-abu ini berhubungan dengan peningkatan
kemampuan motorik, kecerdasan dan penampilan secara keseluruhan. Konferensi para
ahli yang terlibat pada penerapan mindfulness therapy pertama kali diadakan di Roma
Italia tahun 2013 oleh American Health and Wellness Institute. Para peneliti tertarik
untuk mempelajari bagaimana perubahan neurobiologi pada otak dapat mempengaruhi
emosi dan kecerdasan. Terapi meditasi selama beberapa minggu yang dilakukan oleh
ahlinya terhadap pasien mereka membuktikan bahwa di daerah kortekes prefrontal otak
(amigdala, girus cinguli) dapat dirangsang dengan meditasi sehingga terjadi peningkatan
konsentrasi, penurunan stimulus-stimulus negatif dalam diri pasien dan pemulihan emosi
ke arah positif.
Penelitian yang telah terbukti pada konferensi itu adalah meditasi dapat merubah
sudut pandang orangtua terhadap interaksi dengan anak mereka setelah diterapi beberapa
sesi oleh ahlinya. Peningkatan perhatian dan penurunan perilaku agresif juga pernah
dibuktikan pada anak-anak dengan autisme dan ADHD yang menjalani meditasi.

BAB VII
STRES DAN NAFSU MAKAN
Mekanisme Biologi Saat Stres
Stres yang terjadi secara terus-menerus akan merubah nafsu makan melalui jalur
imunologi (daya tahan tubuh) dan hormon. Keberhasilan penanganan stres memerlukan
terapi psikologi seperti terapi meditasi seperti mindfullness, selain pengobatan
farmakologik.

Keberhasilan diet ditentukan oleh perubahan perilaku. Cognitive

behavioral therapy dilakukan untuk mempertahankan berat badan yang telah turun dalam
jangka panjang. Respon tubuh saat stres melibatkan kondisi terjaga (fight or flight
response) yang melibatkan interaksi sistem saraf autonom, yang mengandung saraf
simpatis dan parasimpatis, sistem saraf pusat daerah hipotalamus dan pituitari juga
kelenjar adrenal dan sistem hormon. Mekanisme ini sangat efektif saat stress terjadi
dalam kondisi akut, tetapi saat stres terjadi secara terus-menerus, jalur ini akan terganggu,
tubuh melepaskan banyak hormone kortisol. Hormon kortisol akan merubah metabolism
tubuh sehingga terjadi peningkatan obesitas pada tbuuh bagian atas (upper-body obesity).
Lebih jauh lagi, hormon seperti leptin dan ghrelein serta neuropeptide Y dapat
mempengaruhi nafsu makan dan menyebabkan perubahan cadangan lemak tubuh.

Gambar 4. Hubungan antara stress dan obesitas. Stres berkepanjangan merusak jalur hipotalamus di otak
dan kelenjar adrenal (anak ginjal). Banyak hormon kortisol dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Peningkatan
kortisol akan meningkatkan penumpukan lemak tubuh bagian atas (lemak perut), penurunan hormone leptin
dan peningkatan ghreleinyang meningkatkan sinyal lapar serta eningkatkan produksi insulin dan
neuropeptide Y yang menyebabkan peningkatan asupan makanan terutama makanan tinggi gula dan lemak
untuk menyenangkan diri (Sojcher dkk, 2012).

Kejadian yang sering dihadapi adalah menghubungkan stres dengan penyakit


pada lambung,yang secara awam dikenal dengan sakit maag atau gastritis. Lambung yang
sehat memiliki mekanisme pertahanan yang mencegah paparan langsung zat asam
lambung pada dinding lambung. Banyak sekali cairan dan kelenjar dalam dinding
lambung yang menghasilkan lender untuk mencegah terkikisnya dinding lambung akibat
zat asam. Pada penyakit gastritis (dikenal dengan sakit maag), terjadi kontak antara zat
asam dengan dindingn lambung, bahkan dinding lambung dapat terkikis hingga terbentuk
luka di daerah lambung. Penyebabnya dapat berupa reaksi peradangan pada dinding
lambung akibat zat asam. Penyebab secara umum adalah terganggungnya mekanisme
pertahanan antara penurunan produksi cairan yang melindungi dinding lambung (mukus)
dan peningkatan produksi zat asam yang kontak langsung dengan dinding lambung.
Beberapa penyebab gangguan kesimbangan tersebut adalah alkohol, obat-obat anti
inflamasi non-steroid seperti obat penghilang rasa sakit, beberapa jenis antibiotik, zat-zat
dalam rokok, infeksi kuman Helicobacter pylori (H.pylori) dan penyakit tertentu yang
menurunkan pertahanan mukosa dinding lambung. Selain diberikan obat penetral asam
lambung yang dapat dibeli secara bebas di apotek, penderita juga diberikan penghambat
pompa untuk memblokir asam agar produksi asam lambung menurun.
Bukan rahasia lagi jika faktor stres turut berperan pada kekambuhan penyakit ini.
Terminologi stress berhubungan dengan hilangnya perasaan menyenangkan dan
peningkatan ketegangan dalam hidup yang bermanifestas pada rasa cemas, bingung dan
tegang.
Bagaimana dengan obesitas? Penanganan obesitas saat ini tidak hanya
menekankan diet, olahraga dan obat-obatan tetapi memerlukan faktor psikososial. Pada
obesitas tipe binge-eating yang makan dalam jumlah berlebihan dalam waktu singkat
ternyata terjadi hambatan pada kontrol pengendalian diri, Dampak psikososial menjadi
makan berlebihan merupakan respon akan perasaan rendahnya pengaturan emosi diri,
kontrol diri yang rendah dan tekanan sosial yang tinggi.
Perlunya Pemusatan Terapi Pikiran dan Tubuh
Konsep body and mind therapy perlu diterapkan pada penanganan stres. Terdapat
teori emotional freedom technique (EFT) yang melibatkan dua elemen utama yaitu terapi

exposure (paparan), pasien dikondisikan untuk mengingat kembali trauma dari ketakutan
yang terjadi atau kejadian psikologi yang membuat pasien stres. Trauma psikologi yang
pernah terjadi dihadirkan kembali pada memori pasien dalam waktu singkat kemudian
diberikan terapi berupa penerimaan diri akan kondisi itu serta melibatkan pikiran yang
logik. Elemen berikutnya adalah menstimulasi titik-titik stres pada tubuh disertai
relaksasi dan pelatihan pernafasan dan meditasi. Teknik EFT ini dipercaya dapat
melepaskan emosi dan melahirkan energi psikologi. Perasaan negatif diendapkan dalam
ambang bawah taks adar dan setelah diperiksa rekaman listrik otak ternyata terjadi
perubahan gelombang listrik otak setelah terapi EFT juga perubahan kadar hormon
kortisol yang diperiksa pada air liutr pasien. Beberapa penelitian membuktikan
keberhasilan teknik EFT yang dilakukan selama 3 bulan, 6 bulan bahkan lebih lama lagi
untuk penatalaksanaan gangguan makan food craving. Teknik ini diterapkan selama 50
menit sampai satu setengah jam selama beberapa kali pertemuan. Terdapat penurunan
gejala psikologi seperti obsesif kompulsif, cemas, dan depresi.
Stres dan Pemilihan Jenis Makanan
Stres memiliki dampak pada nafsu makan dan pemilihan jenis makanan, berupa
penurunan nafsu makan atau kebalikannya. Saat stres, tubuh akan melepaskan hormon
sehingga keinginan untuk memilih jenis makanan tertentu seperti makanan tinggi lemak,
banyak gula dan jenis makanan yang terasa enak akan mendorong keinginan untuk
makan berlebihan.
Hipotalamus di otak akan memproduksi corticotropin-releasing hormone (CRH),
substansi ini akan menekan nafsu makan. CRH merupakan sinyal ke kelenjar adrenal
yang terletak di atas ginjal untuk memproduksi hormon epinefrin (yang dikenal dengan
adrenalin). Kita mengenal dalam keseharian bahwa adrenalin memacu tubuh dalam
kondisi siaga atau terjaga. Tetapi saat stres, kelenjar adrenal akan melepaskan hormon
yang berbeda, yaitu kortisol. Hormon kortisol akan meningkatkan nafsu makan., bahkan
motivasi untuk makan berlebihan. Jika kondisi stres berlalu, kadar kortisol akan turun dan
keinginan makanpun menurun, tetapi jika kondisi stres menetap bahkan meningakt, maka
keinginan makan berlebihanpun akan menetap.

Pemilihan jenis makanan kaya gula dan lemak akan terjadi saat stres. Hal ini
berada di bawah pengaruh kortisol, dan hormon insulin serta grelein (disebut juga hunger
hormone). Makanan yang kaya lemak dan gula akan menimbulkan umpan balik negatif
ke bagian otak yang berhubungan dengan pusat emosi. Jenis makanan ini akan terasa
menyenangkan dan dapat menurunkan kadar stres.
Stres yang terjadi secara terus-menerus dapat mengubah struktur anatomi daerah
otak yaitu hipokampus. Penelitian pada tikus yagn dibuat dalam kondisi stres ternyata
menimbulkan perubahan degeneratif (kemunduran) sel-sel saraf dan percabangan sel-sel
saraf di daerah hipokampusnya.
Pemilihan jenis makanan ke arah makanan yang terasa lebih enak di lidah tebukti
karena stress akan mengubah selera makan dengan meninggalkan makanan sehat
(healthy food) dan memilih makanan enak (comfortable food). Makanan enak itu rata-rata
tinggi kalori, gula, lemak, garam dan rendah serat. Tergantung tipe kepribadian seorang
individu yang mengalami stres, dapat saja menjadi lebih banyak makan (hiperfagia) atau
bahkan mengurangi makannya saat stres (hipofagia). Tetapi, makanan yang dipilih tetap
yang lebih terasa menyenangkan di lidah, meskipun lebih sedikit yang dikonsumsi. Hal
itu digambarkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 5. Stres menyebabkan obesitas dan pusat emosi di otak (Dallman, 2010)

Meditasi mindfulness adalah suatu langkah yang membuat seseorang memiliki


kesadaran yang tinggi dan lebih fokus pada realita hidup yang ada pada suatu saat, dapat
menerima kondisi yang ada, melibatkan pengetahuan tanpa keterlibatan pikiran negatif
dan reaksi emosional. Terdapat metode Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) dan
Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT). MBSR dikembangkan oleh John KabatZinn selama 8 minggu dengan pertemuan tiap sesi selama 2 jam. Peserta mendapatkan
pengetahuan tentang obesitas dan gangguan makan, latihan fisik, relaksasi dan berdiskusi
dengan kelompoknya serta melakukan yoga.
Meditasi akan menenangkan pikiran dan dapat memperbaiki keinginan untuk
makan dan pemilihan jenis makanan. Kombinasi meditasi dan olah raga sangat baik
untuk meredam keinginan makan berlebihan saat stres. Dukungan sosial dari kawan dan
keluarga sangat membantu mengatasi stres sehingga makan berlebihan dapat dicegah.

BAB VIII
BEHAVIORAL THERAPY (TERAPI PERILAKU) UNTUK DIET
Seorang individu dapat mengontrol perilakunya sendiri untuk mencapai tujuan yang
diinginkannya. Sumber mekanisme pengontrolan diri ini secara umum melibatkan
mekanisme adaptasi yang berpusat pada ego diri sendiri, yang dilakukan secara
sadar. Dari sudut pandang perilaku, respon yang dapat diamati berdasarkan suatu
alasan yang membuat seseorang terlibat dalam pengambilan suatu keputusan melalui
pertimbangan yang logis, yang menjadi prioritas dalam hidupnya dapat membuat
seseorang mengontrol diri sendiri. Langkah pertama dalam pengontrolan diri (selfcontrol) adalah melakukan analisis dengan tepat terhadap respon suatu hal sebelum
dan setelah kondisi tertentu. Analisis terjadinya penyebab makan berlebihan
(overeating)

harus

dilakukan

secara

tepat.

Langkah

berikutnya

adalah

mengidentifikasi perilaku yang memudahkan terjadinya makan berlebihan. Langkah


selanjutnya adalah mengidentifikasi sumber kekuatan setiap keinginan makan
berlebihan itu muncul. Langkah berikutnya adalah mengalihkan setiap munculnya
keinginan kuat untuk makan berlebihan itu menjadi bentuk perilaku lain yang lebih
positif. Terapi ini dilakukan 3 kali seminggu dengan lama pertemuan sekitar 30
menit yang dilakukan selama 4-5 minggu. Tergantung dari tujuan yang telah dicapai,
biasanya sesi berikutnya dapat diulangi dengan interval 2 minggu setelah tiap sesi
selesai selama 12 minggu.

Kontrol diri secara ketat saat diet (Sumber: http://www.apa.org/helpcenter/understandingpsychotherapy.aspx)

Prinsip terapi perilaku yang pernah diteliti adalah mengidentifikasikan hal-hal


yang dapat meredam keinginan untuk makan. Kontrol keinginan untuk makan (stimulus

control) dapat timbul kapan saja. Biasanya keinginan untuk makan timbul saat kita
bepergian, misalnya saat belanja ke mall. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berbelanja
makanan setelah sebelumnya makan di rumah, sehingga saat belanja perut sudah terasa
kenyang, atau belanja hanya dilakukan berdasarkan daftar kebutuhan yang telah dibuat
sebelum pergi ke supermarket atau mall, atau mendisiplinkan diri siap untuk tidak makan
selama berbelanja. Selanjutnya adalah jangan membawa uang tunai secara berlebihan
melebihi kebutuhan berdasarkan anggaran yang telah dibuat sebelumnya. Perlu dibuat
perencanaan untuk membatasi asupan makanan bersama terapis dan ahli gizi melalui sesi
konseling diet, berolah raga saat munculnya keinginan untuk ngemil dan berusaha kuat
secara sadar untuk hanya makan dan mengkonsumsi camilan sesuai jadual agn telah
ditentukan, dan jangan menerima makanan apapun yang ditawarkan orang lain kepada
kita di luar jadual makan yang telah kita buat. Langkah selanjutnya yang juga perlu
dilakukan di rumah adalah jangan meletakkan tempat penyimpanan bahan makanan di
tempat yagn mudah terlihat oleh kita, letakkan semua jenis bahan makanan dalam satu
lokasi yang sama di rumah kita, singkirkan makanan dari tempat-tempat seperti meja
kerja, ruang keluarga, ruang santai, semua meja di dalam rumah, masukkan bahan
makanan ke wadah-wadah kecil dan dikeluarkan sesuai keperluan, tidak perlu semua
bahan makanan dikeluarkan dari wadahnya saat makan tiba, jangan berlama-lama berada
di dekat tempat penyimpanan dalam rumah dan tingalkan segera meja makan setelah saat
waktu makan selesai serta habiskan makanan setiap aktivitas makan, jangan bersisa.
Suatu artikel menyarankan perilaku yang ganjil menurut kita, sebenarnya hanya
semata-mata hal ini dilakukan untuk mendisiplinkan diri sendiri secara sadar di bawah
kontrol diri sendiri. Perilaku yang dapat dilakukan saat keinginan makan berlebihan itu
muncul adalah meletakkan sebuah sendok garpu di antara

bibir, kemudian kunyah

makanan secara perlahan sebelum menelannya, jadi ada sendok garpu yang menghalangi
kita untuk menikmati makanan tersebut. Perilaku makan lain yang dapat dilatih adalah
mempersiapkan makanan hanya untuk satu porsi ntuk satu kali makan, hanya meletakkan
makanan dalam porsi kecil pada piring kita, beri jeda waktu antara dua waktu makan dan
jangan lakukan kegiatan seperti membaca dan nonton televise saat makan.
Kita tidak hanya perlu melatih diri sendiri secara disiplin untuk mengontrol
perilaku makan kita, tetapi kita perlu juga memberi penghargaan atau hadiah (reward)

jika kita berhasil mencapai tujuan yang kita inginkan, misalnya berhasil menurnkan berat
badan sesuai target, 2-4 kg dalam sebulan. Kita dapat menghibur diri dengan bersenangsenang bersama keluarga dan teman, juga menghadiahi diri sendiri dengan barang
kesayangan yag sudah lama diinginkan dan gunakan kartu monitoring untuk memantau
keberhasilan program diet.

Letakkan benda yang menghalangi proses menelan dan mengunyah saat keinginan makan timbul
(http://images.search.yahoo.com)

Keberhasilan program melibatkan diri sendiri untuk mengetahui secara sadar


kandungan gizi setiap makanan yang masuk ke mulut kita dan kemampuan kita untuk
memilih makanan rendah lemak dan karbohidrat yang mudah dicerna. Jangan dilupakan
untk rutin mencatat olah raga yang dilakukan setiap hari di rumah. Kita juga harus
memperkaya pengetahuan kita tentang diet, jangan hanya bersikap pasif menunggu
instruksi dari ahli gizi mengenai makanan yang kita santap. Ingatlah bahwa terapi
perilaku melibatkan pasien dan terapis secara sadar untuk mencapai tujuan tertentu dalam
jangka waktu tertentu. Peningkatan pengetahuan kita akan bahan makanan, termasuk
kandungan kalori dan zat gizinya, serta bahaya dari makanan yang dilarang untuk kita
makan akan meningkatkan semangat dalam melakukan diet dan melakukan kontrol diri
sendiri (self-control). Setiap timbul keinginan negatif untuk melakukan hal-hal di luar

hal-hal yang telah disepakati antara kita dan terapis, usahakan redam keinginan itu dalam
bentuk kegiatan positif lain, misalnya kita ingin sekali mengemil coklat saat menonton
televisi, maka kita dapat bersepeda santai dengan sepeda statis di depan televisi. Hal itu
tentu lebih baik dibandingkan mengemil coklat saat menonton televisi. Langkah terakhir
adalah evaluasi setiap kemajuan diet yang kita capai apakah sudah memnuhi target yang
telah ditetapkan dalam jangka waktu yang telah disepakati oleh kita dengan terapis?

Referensi
Adams CE, et al. "Lifestyle Factors and Ghrelin: Critical Review and Implications for
Weight Loss Maintenance," Obesity Review .2011, Vol. 12, No. 5.
Adam, Epel. Theoretical model of reward based stress eating. Stress, eating and the
reward system. Physiology and Behavior. 2007, Vol 91, issue 4:2007449 458.
American Psychiatric Association.Diagnostic and statistical manual of mental disorders,
4th ed., DSM-IV-TR. Washington DC;; 2000.
Amygdala,
Pengatur
Emosi
Anda.
Diunduh
dari
http://www.apakabardunia.com/2013/10/amygdala-pengatur-emosi-anda.html.
Cherry
K.
Howard
Gardner
Biography.
Diunduh
dari
http://psychology.about.com/od/educationalpsychology/ss/multiple-intell_7.htm
Cherry
K.
Theories
of
Emotion.
Diunduh
dari
http://psychology.about.com/od/psychologytopics/a/theories-of-emotion.htm
Courbasson CM, Nishikawa Y, Shapira LB. Mindfulness-action based cognitive
behavioral therapy for concurrent binge eating disorder and substance use disorders. Eat
Disord. 2011;19:17-33.
Dallman MF. Stress-induced obesity and the emotional nervous system. Trends
Endocrinol Metab. Mar 2010; 21(3): 159165.
Dalen J, Smith BW, Shelley BM, Sloan AL, Leahigh L, Begay D.Pilot study: mindful
eating and living (MEAL): weight, eating behavior,and psychological outcomes
associated with a mindfulnessbased intervention for people with obesity. Complement
Ther Med.2010;18:260-264.
Heffer C. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSMIV). Diunduh dari http://allpsych.com/disorders/eating/#.VOQTQleRH1V
Kristeller JL, Wolever RQ. Mindfulness-based eating awareness training for treating
binge eating disorder: the conceptual foundation. Eat Disord. 2011;19:49-61.
Manzoni GM, et al. "Can Relaxation Training Reduce Emotional Eating in Women with
Obesity?" Journal of the American Dietetic Association (Aug. 2009): Vol. 109, No. 8:
14271432.
Mathes WF, et al. "The Biology of Binge Eating," Appetite (June 2009): Vol. 52, No.
3:54553.
Pinilla FG. Brain foods: the effects of nutrients on brain function. Nat Rev Neurosci.2008.

Ratnawati V. Percaya diri, body image dan kecenderungan anoreksia nervosa pada remaja
putri. Jurnal Psikologi Indonesia.2012, Vol. 1, No. 2:130-142. Universitas PGRI
Nusantara Kediri.
Smeets PAM, Graaf C, Stafleu A, Osch MJP, Nievelstein RAJ, Grond J. Effect of satiety
on brain activation during chocolate tasting in men and women. Am J Clin
Nutr. June 2006 vol. 83 no. 6 1297-1305
Sojher R, Fogerite SG, Perlman A. Evidence and potential mechanisms for mindfulness
practices and energy psychology for obesity and binge-eating disorder. Explore 2012;
8:271-276.
Spencer SJ, et al. "The Glucocorticoid Contribution to Obesity," Stress (Feb. 6, 2011):
Vol. 14, No. 3:23346.
Striegel-Moore. Cognitive Behavioral Guided Self Help for the Treatment of Binge
Eating Striegel-Moore dkk. J Consult Clin Psychol.2010, Juni 78(3):312-321.
Stuart RB. Behavioral control of overeating. Obesity Research. 1996.Vol 4, issue 4: 411417.
Stunkard AJ, Berthold HC. What is behavior therapy? A very short Special Article
description of behavioral weight control. The American Journal of Clinical
Nutrition.1985, 4: 821-823.
Tapper K, Shaw C, Ilsley J, Hill AJ, Bond FW, Moore L. Exploratory randomised
controlled trial of a mindfulness-based eight loss intervention for women. Appetite.
2009;52:396-404.
Vicennati V, et al. "Stress-Related Development of Obesity and Cortisol in
Women," Obesity.2009,Vol. 17, No. 9:16781683.
Wanden-Berghe RG, Sanz-Valero J, Wanden-Berghe C. The application of mindfulness to
eating disorders treatment: a systematic review. Eat Disord. 2011;19:34-48.
Woods SC. Journal Cell Metab. The Control of Food Intake: Behavioral versus Molecular
Perspectives. Cell Metab. 2009, Juni vol 6: 489-498.
Yager J, Andersen AE, Anorexia Nervosa. N Engl J Med 2005;353:1481-8

Riwayat Hidup Penulis


Dr. Nur Asiah MS, SpGK adalah seorang dosen ilmu gizi klinik di Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI Jakarta. Lahir pada tgl 10 Mei 1971 di Jakarta dan saat ini aktif
berpraktek sebagai dokter spesialis gizi klinik di RS Hermina Depok dan RSUD Pasar
Rebo Jakarta. Ketertarikannya dalam menulis buku ini adalah karena kenyataan yang
ditemui sehari-hari dalam prakteknya bahwa keberhasilan terapi diet pada pasienpasiennya sangat didukung oleh kondisi emosi mereka. Pasien datang dengan berbagai
masalah psikologi sehingga terjadi kembali peningkatan berat badan setelah berhasil
menurunkan 1-5 kg, atau sindrom yoyo dengan peningkatan kembali berat badan 2-3 kg
setelah berhasil menurunkan berat badan sebesar 2-5 kg. Hal ini memerlukan motivasi
kuat dari diri pasien dan kondisi depresi, stres, panik, cemas, rendah diri dan problem
psikologi lainnya juga harus didengar dan diatasi oleh pakarnya yaitu seorang psikolog.
Buku ini memuat secara praktis hubungan antara kondisi jiwa dengan perilaku makan dan

peran psikologi, tentu saja juga dengan bantuan seorang ahli gizi untuk keberhasilan
program diet.