Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
HEPATOMA (KARSINOMA HATI)

ANATOMI DAN FISIOLOGI HEPAR


Hati adalah organ intestinal terbesar dengan berat antara 1,2-1,8 kg atau lebih 25%
berat badan orang dewasa dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi sangat
kompleks yang terletak di bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di bawah
diafragma. Hati secara luas dilindungi iga-iga. Batas atas hati berada sejajar dengan ruangan
interkostal V kanan dan batas bawah menyerong ke atas dari iga IX kanan ke iga VIII kiri.

Hepar secara anatomis dibagi menjadi pars hepatic dexter dan sinister oleh bidang
yang melalui batas perlekatan ligamentum falciforme pada facies diaphragmatica dan oleh
fisurra atau fossa sagitalis sinistra pada facies visceralis. Lobus hepatic dexter terbagi
menjadi lobus quadratus yang terletak antara vena cava inferior dan ligamentum venosum.
Bagian kanan dan kiri hepar dipisahkan oleh bidang anteroposterior yang melalui fossa
sagitalis dextra di sebelah kanan bidang tengah ligamnetum falciforme.Hati mempunyai dua
jenis persediaan, yaitu yang datang melalui arteri hepatica dan yang melalui vena porta :
a. Vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya akan nutrisi seperti
asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air dan mineral.
b. Arteri hepatica cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.
Cabang-cabang pembuluh darah vena porta hepatica dan arteri hepatica mengalirkan
darahnya ke sinusoid. Hepatosit menyerap nutrien, oksigen dan zat racun dari darah sinusoid.
Di dalam hepatosit zat racun akan di netralkan sedangkan nutrien akan ditimbun atau di
bentuk zat baru, dimana zat tersebut akan disekresikan ke peradaran darah tubuh.

Menurut Guyton & Hall (2008), hati mempunyai beberapa fungsi yaitu:
a. Metabolisme karbohidrat
Fungsi hati dalam metabolisme karbohidrat adalah menyimpan glikogen dalam jumlah
besar, mengkonversi galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa, glukoneogenesis, dan
membentuk banyak senyawa kimia yang penting dari hasil perantara metabolisme
karbohidrat.

b. Metabolisme lemak
Fungsi hati yang berkaitan dengan metabolisme lemak, antara lain: mengoksidasi
asam lemak untuk menyuplai energi bagi fungsi tubuh yang lain, membentuk sebagian
besar kolesterol, fosfolipid dan lipoprotein, membentuk lemak dari protein dan
karbohidrat.
c. Metabolisme protein
Fungsi hati dalam metabolisme protein adalah deaminasi asam amino, pembentukan
ureum untuk mengeluarkan amonia dari cairan tubuh, pembentukan protein plasma,
dan interkonversi beragam asam amino dan membentuk senyawa lain dari asam
amino.
d. Lain-lain
Fungsi hati yang lain diantaranya hati merupakan tempat penyimpanan vitamin, hati
sebagai tempat menyimpan besi dalam bentuk feritin, hati membentuk zat-zat yang
digunakan untuk koagulasi darah dalam jumlah banyak dan hati mengeluarkan atau
mengekskresikan obat-obatan, hormon dan zat lain.

DEFINISI KARSINOMA HEPATOSELULER (HEPATOMA)


Hepatoma disebut juga kanker hati atau karsinoma hepatoseluler. Karsinoma
hepatoseluler (KHS) atau hepatoma merupakan kanker hati primer yang paling sering
ditemukan daripada tumor hati lainnya seperti limfoma maligna, fibrosarkoma dan
hemangioendotelioma(1) Dari seluruh keganasan hati, 80-90% adalah KHS.(1)
Tumor hati dapat berbentuk primer atau sekunder. Tumor hati primer dapat berbentuk jinak
atau ganas dan dapat timbul dari sel parenkim hati, epitel duktus biliaris atau dari jaringan penunjang
mesenkim atau bisa berasal lebih dari satu sel-sel tersebut Tumor hati sekunder (metastase
dihati) paling sering berasal dari metastase tumor saluran cerna, mamma atau paru.
Karsinoma hepatoseluler atau hepatoma adalah keganasan pada hepatosit dimana stem
sel dari hati berkembang menjadi massa maligna yang dipicu oleh adanya proses fibrotik
maupun proses kronik dari hati (cirrhosis). Massa tumor ini berkembang di dalam hepar, di
permukaan hepar maupun ekstrahepatik seperti pada metastase jauh.
Tumor dapat muncul sebagai massa tunggal atau sebagai suatu massa yang difus dan
sulit dibedakan dengan jaringan hati disekitarnya karena konsistensinya yang tidak dapat
dibedakan dengan jaringan hepar biasa. Massa ini dapat mengganggu jalan dari saluran

empedu maupun menyebabkan hipertensi portal sehingga gejala klinis baru akan terlihat
setelah massa menjadi besar. Tanpa pengobatan yang agresif, hepatoma dapat menyebabkan
kematian dalam 6 20 bulan.

EPIDEMIOLOGI
Kanker hati adalah kanker kelima yang paling umum di dunia. Suatu kanker yang
mematikan, kanker hati akan membunuh hampir semua pasien-pasien yang menderitanya
dalam waktu satu tahun. Pada tahun 1990, organisasi kesehatan dunia (WHO)
memperkirakan bahwa ada kira-kira 430,000 kasus-kasus baru dari kanker hati diseluruh
dunia, dan suatu jumlah yang serupa dari pasien-pasien yang meninggal sebagai suatu akibat
dari penyakit ini. Sekitar tiga per empat kasus-kasus kanker hati ditemukan di Asia Tenggara
(China, Hong Kong, Taiwan, Korea, dan Japan). Kanker hati juga adalah sangat umum di
Afrika Sub-Sahara (Mozambique dan Afrika Selatan).
Frekwensi kanker hati di Asia Tenggara dan Afrika Sub-Sahara adalah lebih besar dari
20 kasus-kasus per 100,000 populasi. Berlawanan dengannya, frekwensi kanker hati di
Amerika Utara dan Eropa Barat adalah jauh lebih rendah, kurang dari lima per 100,000
populasi. Bagaimanapun, frekwensi kanker hati diantara pribumi Alaska sebanding dengan
yang dapat ditemui pada Asia Tenggara. Lebih jauh, data terakhir menunjukan bahwa
frekwensi kanker hati di Amerika secara keseluruhannya meningkat. Peningkatan ini
disebabkan terutama oleh hepatitis C kronis, suatu infeksi hati yang menyebabkan kanker
hati(4).
Di Amerika frekwensi kanker hati yang paling tinggi terjadi pada imigran-imigran
dari negara-negara Asia, dimana kanker hati adalah umum. Frekwensi kanker hati diantara
orang-orang kulit putih (Caucasians) adalah yang paling rendah, sedangkan diantara orangorang Amerika keturunan Afrika dan Hispanics, ia ada diantaranya. Frekwensi kanker hati
adalah tinggi diantara orang-orang Asia karena kanker hati dihubungkan sangat dekat dengan
infeksi hepatitis B kronis. Ini terutama begitu pada individu-individu yang telah terinfeksi
dengan hepatitis B kronis untuk kebanyakan dari hidup-hidupnya(4).

FAKTOR RISIKO
1. Virus Hepatitis B (HBV)
Hubungan antara infeksi kronik HBV dengan timbulnya HCC terbukti kuat, baik
secara epidemiologis klinis maupun eksperimental. Karsinogenisitas HBV terhadap
hati mungkin terjadi melalui proses inflamasi kronik, peningkatan proliferasi
hepatosit, integrasi HBV DNA ke dalam DNA sel pejamu, dan aktivitas protein
spesifik HBV berinteraksi dengan gen hati. Pada dasarnya perubahan hepatosit dari
kondisi inaktif (quiescent) menjadi sel yang aktif bereplikasi menentukan tingkat
karsinogenesis hati. Siklus sel dapat diaktifkan secara tidak langsung oleh kompensasi
proliferatif merespons nekroinflamasi sel hati, atau akibat dipicu oleh ekspresi
berlebihan suatu atau bebe rapa gen yang berubah akibat HBV. Koinsidensi infeksi
HBV dengan pajanan agen onkogenik lain seperti aflatoksin dapat menyebabkan
terjadinya HCC tanpa melalui sirosis hati ( HCC pada hati non sirotik). Transaktifasi
beberapa promoter selular atau viral tertentu oleh gen x HBV (HBx) dapat
mengakibatkan terjadinya HCC, mungkin karena akumulasi protein yang disandi HBx
mampu menyebabkan proliferasi hepatosit. Dalam hal ini proliferasi berlebihan
hepatosit oleh HBx melampaui mekanisme protektif di apoptosis sel.
2. Virus Hepatitis C (HCV)
Prevalensi anti HCV pada pasien HCC di Cina dan Afrika Selatan sekitar 30%
sedangkan di Eropa Selatan dan Jepang 70 -80%. Prevalensi anti HCV jauh lebih
tinggi pada kasus HCC dengan HbsAg -negatif daripada HbsAg-positif. Pada
kelompok pasien penyakit hati akibat transfusi darah dengan anti HCV positif,
interval saat transfusi hingga terjadinya HCC dapat mencapai 29 tahun.
Hepatokarsinogenesis akibat infeksi HCV diduga melalui aktivitas nekroinflamasi
kronik dan sirosis hati.
3. Sirosis Hati
Lebih dari 80% penderita karsinoma hepatoselular menderita sirosis hati.
Peningkatan pergantian sel pada nodul regeneratif sirosis di hubungkan dengan
kelainan sitologi yang dinilai sebagai perubahan displasia praganas. Semua tipe

sirosis dapat menimbulkan komplikasi karsinoma, tetapi hubungan ini paling besar
pada hemokromatosis, sirosis terinduksi virus dan sirosis alkoholik.
4. Aflaktosin
Aflaktosin B1 (AFB1) merupakan mitoksin yang di produksi oleh jamur
Aspergillus. Dari percobaan binatang diketahui bahwa AFB1 bersifat karsinogen.
Metabolit AFB1 yaitu AFB 1-2-3-epoksid merupakan karsinogen utama dari
kelompok aflatoksin yang mampu membentuk ikatan dengan DNA maupun RNA.
5. Alkohol
Meskipun alkohol tidak memiliki kemampuan mutagenik, peminum berat alkohol
( >50-70g/hari dan berlangsung lama) berisiko untuk menderita HCC melaluisirosis
hati alkoholik. Hanya sedikit bukti adanya efek karsinogenik langsung dari alkohol.
Alkoholisme juga meningkatkan risiko terjadinya sirosis hati dan HCC pada pengidap
infeksi HBV atau HCV.
6. Obesitas
Suatu penelitian kohort prospektif pada lebih dari 900.000 individu di Amerika
Serikat dengan masa pengamatan selama 16 tahun mendapat terjadinya peningkatan
angka mortalitas sebesar 5 kali akibat kanker hati pada kelompok individu dengan
berat badan tertinggi (IMT 35-40) dibandingkan dengan kelompok individu yang
IMT-nya normal. Seperti diketahui, obesitas merupakan faktor resiko utama untuk
non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), khususnya non-alcoholic steatoheptitis
(NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kemudian dapat berlanjut
menjadi kanker hati(6).
7. Diabetes Melitus (DM)
Telah lama ditengarai bahwa DM merupakan faktor risiko baik untuk penyakit
hati kronik maupun kanker hati melalui terjadinya perlemakan hati dan steatohepatitis
non-alkoholik (NASH). Disamping itu, DM dihubungkan dengan peningkatan kadar
insulin dan insulin-like growth factors (IGFs) yang merupakan factor promotif
potensial untuk kanker. Indikasi kuat asosiasi antara DM dan kanker hati terlihat dari
banyak penelitian, antara lain penelitian kasus-kelola oleh hasan dkk yang
melaporkan bahwa dari 115 kasus kanker hati dan 230 pasien non-kanker hati, rasio
odd dari DM adalah 4.3, meskipun diakui bahwa sebagian dari kasus DM sebelumnya

sudah menderita sirosis hati. Penelitian kohort besar oleh El Serag dkk yang
melibatkan 173.643 pasien DM dan 650,620 pasien bukan-DM menemukan bahwa
insidens kanker hati pada kelompok DM lebih dari 2 kali lipat dibandingkan dengan
insidens kanker hati kelompok bukan-DM. Insidens juga semakin tinggi seiring
dengan lamanya pengamatan (kurang dari 5 tahun hingga lebih dari 10 tahun). DM
merupakan faktor risiko HCC tanpa memandang umur, jenis kelamin dan ras(6).
8. Faktor risiko lain
Selain yang telah disebutkan di atas, bahan atau kondisi lain yang merupakan
faktor risiko HCC namun lebih jarang dibicarakan/ditemukan, antara lain :1) penyakit
hati autoimun( hepatitis autoimun, sirosis bilier primer), 2) penyakit hati
metabolik(hemokromatosis genetik, defisiensi antitripsin-alfa 1, penyakit Wilson), 3)
kontrasepsi oral, 4) senyawa kimia( thorotrast, vinil klorida, nitrosamin, insektisida
organoklorin, asam tanik), 5) tembakau (masih kontroversial).

PATOLOGI
Beberapa faktor patogenesis karsinoma hepatoseluler telah didefinisikan baru-baru
ini. Hampir semua tumor di hati berada dalam konteks kejadian cedera kronik (chronic
injury) dari sel hati, peradangan dan meningkatnya kecepatan perubahan hepatosit. Respons
regeneratif yang terjadi dan adanya fibrosis menyebabkan timbulnya sirosis, yang kemudian
diikuti oleh mutasi pada hepatosit dan berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler. HBV
atau HCV mungkin ikut terlibat di dalam berbagai tahapan proses onkogenik ini. Misalnya,
infeksi persisten dengan virus menimbulkan inflamasi, meningkatkan perubahan sel, dan
menyebabkan sirosis. Sirosis selalu didahului oleh beberapa perubahan patologis yang
reversibel, termasuk steatosis dan inflamasi; baru kemudian timbul suatu fibrosis yang
ireversibel dan regenerasi nodul. Lesi noduler diklasifikasikan sebagai regeneratif dan
displastik atau neoplastik. Nodul regeneratif merupakan parenkim hepatik yang membesar
sebagai respons terhadap nekrosis dan dikelilingi oleh septa fibrosis.
Selain proses di atas, pada waktu periode panjang yang tipikal dari infeksi (10-40
tahun), genom virus hepatitis dapat berintegrasi ke dalam kromosom hepatosit. Peristiwa ini
menyebabkan ketidakseimbangan (instability) genomik sebagai akibat dari mutasi, delisi,
translokasi, dan penyusunan kembali (rearrangements) pada berbagai tempat di mana genom
virus secara acak masuk ke dalam DNA hepatosit. Salah satu produk gen, protein x HBV

(Hbx), mengaktifkan transkripsi, dan pada periode infeksi kronik, produk ini meningkatkan
ekspresi gen pengatur pertumbuhan (growthregulating genes) yang ikut terlibat di dalam
transformasi malignan dari hepatosit.
Gambaran klinis berupa rasa nyeri tumpul umumnya dirasakan oleh penderita dan
mengenai perut bagian kanan atas, di epigastrium atau pada kedua tempat epigastrium dan
hipokondrium kanan. Rasa nyeri tersebut tidak berkurang dengan pengobatan apapun juga.
Nyeri yang terjadi terus menerus sering menjadi lebih hebat bila bergerak. Nyeri terjadi
sebagai akibat pembesaran hati, peregangan glison dan rangsangan peritoneum. Terdapat
benjolan di daerah perut bagian kanan atas atau di epigastrium. Perut membesar karena
adanya asites yang disebabkan oleh sirosis atau karena adanya penyebaran karsinoma hati ke
peritoneum.
Umumnya terdapat keluhan mual dan muntah, perut terasa penuh, nafsu makan
berkurang dan berat badan menurun dengan cepat. Yang paling penting dari manifestasi klinis
sirosis adalah gejala-gejala yang berkaitan dengan terjadinya hipertensi portal yang meliputi
asites, perdarahan karena varises esofagus, dan ensefalopati.
Secara makroskopis biasanya tumor berwarna putih, padat kadang nekrotik kehijauan
atau hemoragik. Acap kali ditemukan trombus tumor di dalam vena hepatika atau porta
intrahepatik. Pembagian atas tipe morfologisnya adalah: 1. ekspansif, dengan batas yang
jelas, 2. infilt menyebar/menjalar; 3. multifokal. Menurut WHO secara histologik HCC dapat
diklasifikasikan berdasa organisasi struktural sel tumor sebagai berikut: 1). Trabekuli
(sinusoidal), 2). Pseudoglandular (asiner), 3). Kompak (padat), 4. Sirous.
Karakteristik terpenting untuk memastikan HCC pada tumor; diameternya lebih kecil
dari 1,5 cm adalah bahwa sebagian besar tumor terdiri semata-mata dari karsinoma yang
berdiferensiasi baik, deng sedikit atipia selular atau struktural. Bila tumor ini berproliferasi,
berbagai variasi histologik beserta de-diferensiasinya dapat terlihat di dalam nodul yang
sama. Nodul kanker yang berdiameter kurang dari satu cm seluruhnya terdiri dari jaringan
kanker yang berdiferensiasi baik. Bila diameter tumor antara 1 dan 3 cm, 40% dari nodulnya
terdiri atas lebih;| dari 2 jaringan kanker dengan derajat diferensiasi yang berbeda-beda.
STADIUM PENYAKIT
Stadium I

: Satu fokal tumor berdiametes < 3cm yang terbatas hanya pada salah
satu segment tetapi bukan di segment I hati.

Stadium II

: Satu fokal tumor berdiameter > 3 cm. Tumor terbatas pada segement

I atau multi-fokal terbatas pada lobus kanan/kiri


Stadium III : Tumor pada segment I meluas ke lobus kiri (segment IV) atas ke
lobus kanan segment V dan VIII atau tumor dengan invasi peripheral
ke sistem pembuluh darah (vascular) atau pembuluh empedu (billiary
Stadium IV

duct) tetapi hanya terbatas pada lobus kanan atau lobus kiri hati.
: Multi-fokal atau diffuse tumor yang mengenai lobus kanan dan lobus
kiri hati.
atau tumor dengan invasi ke dalam pembuluh darah hati (intra

hepaticvaskuler) ataupun pembuluh empedu (biliary duct)


atau tumor dengan invasi ke pembuluh darah di luar hati (extra
hepatic vessel) seperti pembuluh darah vena limpa (vena

lienalis)
atau vena cava inferior
atau adanya metastase keluar dari hati (extra hepatic
metastase).

DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Sebagian besar penderita yang datang berobat sudah dalam fase lanjut dengan
keluhan nyeri perut kanan atas. Sifat nyeri ialah nyeri tumpul, terus-menerus, kadangkadang terasa hebat apabila bergerak. Di samping keluhan nyeri perut ada pula
keluhan seperti benjolan di perut kanan atas tanpa atau dengan nyeri, perut
membuncit karena adanya asites dan keluhan yang paling umum yaitu merasa badan
semakin lemah, anoreksa, perasaan lekas kenyang, feses hitam, demam, bengkak kaki,
perdarahan dari dubur.
Tabel . Gejala dan tanda karsinoma hepatoseluler
Gejala dan tanda

Patologi

Yang lazim ditemukan


- nyeri perut
- distensi perut
- rasa lelah
-penurunan berat badan
-anoreksia

Rangsangan permukaan peritoneum


Tumor dan/asites
Malaise/keganasan
Gangguan sistemik
Gangguan faal hepar

Yang kadang ditemukan


- Ikterus
- Gawat abdomen
- Nyeri tulang
- Dispnea
- Hematemesis
atau
melena

Bendungan sirosis intrahepatik


Ruptur/nekrosis tumor
Metastase ke tulang
Metastase keparu, letak diafragma tinggi
Perdarahan varises esophagus

2. Pemeriksaan Fisik
Umumnya ditemukan pembesaran hati yang berbenjol, keras, kadang nyeri
tekan. Palpasi menunjukan adanya gesekan permukaan peritoneum viserale yang
kasar akibat rangsang dan infiltrasi tumor ke permukaan hepar dan dinding perut.
Gesekan ini dapat didengarkan juga melalui stetoskop . Pada auskultasi diatas
benjolan kadang ditemukan suara bising aliran darah karena hipervaskularisasi tumor.
Gejala ini menunjukan fase lanjut karsinoma hepatoseluler.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium Alfa-fetoprotein (AFP)
Karsinoma hati dapat menyebabkan terjadinya obstruksi saluran empedu atau
merusak sel-sel hati oleh karena penekanan massa tumor atau karena invasi sel
tumor hingga terjadi gangguan hati yang tampak pada kelainan SGOT, SGPT,
alkali fosfatase, laktat dehidrogenase. Gangguan faal hati ini tidak spesifik sebagai
petanda tumor. Alfafetoprotein (AFP) adalah suatu glikoprotein dengan berat
molekul sebesar 70,000. AFP disintesis oleh hati, usus dan yolk sac janin. Pada
manusia, AFP mulai terdeteksi pada fetus umur 6-7 minggu kehamilan dan
mencapai puncaknya pada minggu ke-13. Pada bayi yang baru lahir, kadarnya
adalah sebesar 10,000 - 100,000 ng/ml, kemudian menurun dan pada usia 250-300
hari kelahiran kadarnya sama dengan kadar pada orang dewasa. Adanya
peningkatan kadar AFP diduga karena sel-sel hati mengalami diferensiasi
menyerupai sel hati pada janin. AFP merupakan petanda karsinoma hati.
Penderita sirosis atau penderita dengan antigen HBs positif serta SGOT dan
SGPOT meningkat dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin alfa-fetoprotein
(AFO). Rentang normal AFP serum adalah 0-20 ng/mL. Kadar AFP meningkat
pada 60% sampai 70% dari pasien KHS, dan kadar lebih dari 400ng/mL adalah
diagnostik atau sugestifuntuk HCC. Nilai normal dapat ditemukan juga pada KHS
stadium lanjut. Hasil positif palsu dapat juga ditemukan oleh hepatitis akut atau
kronik danpada kehamilan.. penanda tumor lain pada KHS adalah des-gamma
carboxy prothrombin ((DCP) PIVKA-2, yang kadarnya meningkat hingga 90%
pasien KHS, namun juga dapat meningkat pada defisiensi vitamin K, hepatitis
kronik aktif atau metastasis karsinoma.
b. Pemeriksaan Pencitraan

Untuk

menegakkan

diagnosis

karsinoma

hati

diperlukan

beberapa

pemeriksaan seperti misalnya pemeriksaan radiologi, ultrasonografi, computerized


tomography (CT) scan, peritoneoskopi dan pemeriksaan laboratorium. Deteksi lesi
noduler hati dengan imaging tergantung pada perbedaan yang kontras antara
parenkim hati normal dan lesi noduler. Adanya fibrosis dapat mempengaruhi
sensitivitas dari modalitas imaging sehingga dapat mengganggu deteksi dan
karakterisasi tumor hati.(8)
Ultrasonografi
Dengan ultrasonografi, gambaran khas dari KHS adalah pola mosaik,
sonolusensi perifer, bayangan lateral yang disebabkan pseudokapsul fibrotik,
dan peningkatan akustik posterior.(5) KHS yang masih berupa nodul kecil
cenderung bersifat homogen dan hipoekoik, sedangkan nodul yang besar
biasanya heterogen. Penggunaan ultrasonografi sebagai sarana screening untuk
mendeteksi tumor hati pada penderita dengan sirosis yang lanjut memberikan
hasil bahwa 34 dari 80 penderita yang diperiksa menunjukkan tanda-tanda
tumor ganas dan 28 di antaranya adalah KHS.(5) Ultrasonografi memberikan
sensitivitas sebesar 45% dan spesifisitas 98%.(5) Oleh karena sensitivitas tes
ini maka setiap massa yang terdeteksi oleh ultrasonografi harus dianggap
sebagai keganasan. (5) Karsinoma hati sekunder memberikan gambaran
berupa nodul yang diameternya kecil mempunyai densitas tinggi dan
dikelilingi oleh gema berdensitas rendah. Gambaran ini berbentuk seperti mata
sapi.
CT-scan dan angiografi
KHS dapat bermanifestasi sebagai massa yang soliter, massa yang
dominan dengan lesi satelit di sekelilingnya, massa multifokal, atau suatu
infltrasi neoplasma yang sifatnya difus. CT-scan telah banyak digunakan untuk
melakukan karakterisasi lebih lanjut dari tumor hati yang dideteksi melalui
ultrasonografi. CT-scan dan angiografi dapat mendeteksi tumor hati yang
berdiameter 2 cm. Walaupun ultrasonografi lebih sensitif dari angiografi
dalam mendeteksi karsinoma hati, tetapi angiografi dapat lebih memberikan
kepastian diagnostik oleh karena adanya hipervaskularisasi tumor yang
tampak pada angiografi. Dengan media kontras lipoidol yang disuntikkan ke
dalam arteria hepatika, zat kontras ini dapat masuk ke dalam nodul tumor hati.
Dengan melakukan arteriografi yang dilanjutkan dengan CT-scan, ketepatan
diagnostik tumor akan menjadi lebih tinggi.

MR imaging
Magnetic resonance (MR) imaging umum digunakan secara rutin
untuk screening penderita-penderita dengan sirosis. Pada studi yang dilakukan
oleh Krinsky dkk(8) menguji sensitivitas dan spesifisitas dari sarana tes ini
untuk KHS dan nodul displastik pada sirosis hati. Hasil studi menunjukkan
sensitivitas untuk diagnosis KHS dilaporkan hanya sebesar 53% saja. Hal ini
disebabkan karena lesi-lesi yang tidak terdeteksi tersebut kebanyakan
mempunyai diameter kecil yaitu rata-rata 1,3 cm. Sebaliknya, nodul displastik
derajat tinggi meskipun dapat dideteksi namun terdiagnosis sebagai KHS
karena adanya arterial phase enhancement. Dengan demikian, diperlukan
kriteria lain selain arterial phase enhancement untuk membedakan nodul
displastik dari KHS yang kecil.
Biopsi
Untuk pemastian diagnosis karsinoma hati, diperlukan biopsi dan
pemeriksaan histopatologi. Biopasi dilakukan terhadap massa yang terlihat
pada ultrasonografi, CTscan atau melalui angiografi. Biopsi aspirasi jarum
halus dapat dilakukan secara buta (blind). Ada kalanya dibutuhkan tindakan
laparoskopi atau laparatomi untuk melakukan biopsi.
DIAGNOSIS BANDING
Massa yang besar didaerah perut kanan atas tidak selalu merupakan tumor primer hati,
mungkin juga metastasis. Keadaan lain yang serupa tumor hati antara lain abses, hematoma
dan kista hati.
PENATALAKSANAAN
Banyak faktor memegang peranan dalam penanganan KHS. Pertama, adanya sirosis
hati dalam berbagai tingkatan yang mengikuti KHS sedikit banyak mempengaruhi
pilihanpilihan pengobatan.(10) Fungsi hati pada penderita-penderita KHS dapat sangat
bervariasi dari normal sampai dekompensasi. Sirosis dapat dijumpai pada sekitar 90% dari
semua kasus KHS. (11) Kedua, KHS menunjukkan perangai biologis yang sangat bervariasi
dari satu daerah dan daerah yang lain. Misalnya, di daerah pedesaan Afrika Selatan, KHS
mengenai penderita-penderita dalam usia yang lebih muda dan sering baru terdiagnosis
setelah tahap lanjut dan mempunyai durasi gejala-gejala yang lebih singkat dibanding kasuskasus di Amerika Utara.(10) Manifestasi klinis pada penderitapenderita ini didominasi oleh
gejala-gejala yang disebabkan oleh tumornya sedangkan di Amerika Utara gejala-gejala

sirosis tampil secara dominan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, protokol pengobatan
yang dikembangkan di suatu daerah atau negara mungkin tidak sesuai dan tidak optimal
untuk daerah lainnya.
Secara umum, Tatalaksana Bedah (surgical management) seperti reseksi dan
transplantasi dianggap pengobatan yang ideal untuk KHS. Kemajuan teknik bedah dan
perawatan perioperatif telah mampu untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat
operasi, bahkan pada penderita-penderita sirosis. Dengan seleksi yang baik terhadap
penderita-penderita, 5-year survival rate pasca-reseksi dilaporkan dapat mencapai sedikitnya
35%.(12) Namun demikian, 70% dari penderita-penderita ini mengalami rekurensi setelah
reseksi kuratif ini, biasanya antara 18-24 bulan.(12)
Meskipun penanganan terhadap karsinoma hepatoseluler secara operatif dianggap
ideal, tetapi banyak kesulitan dijumpai karena penderita-penderita umumnya datang pada
stadium yang sudah lanjut sehingga tidak dapat dilakukan reseksi dan transplantasi. Selain
itu, biaya operasi yang mahal, pemberian imunosupresi sepanjang hidup serta sulitnya
mendapatkan donor transplantasi merupakan suatu kendala yang besar terutama di negaranegara berkembang. Oleh karena itu, yang paling baik adalah melakukan usaha-usaha
pencegahan, terutama pencegahan terhadap penularan virus hepatitis dan bila telah terjadi
infeksi, mencegah kemungkinan terjadinya sirosis postnecrotic sehingga dapat dicegah
terjadinya karsinoma hati.

Pengobatan non-bedah
Meskipun pendekatan multidispliner terhadap KHS dapat meningkatkan hasil reseksi dan
orthotopic liver transplantation, tetapi kebanyakan penderita tidak memenuhi persyaratan
untuk terapi operasi karena stadium tumor yang telah lanjut, derajat sirosis yang berat, atau
keduanya. Oleh karena itu, terapi non-bedah merupakan pilihan untuk pengobatan penyakit
ini. Beberapa alternatif pengobatan non-bedah karsinoma hati meliputi:
a. Percutaneous ethanol injection (PEI)
PEI pertama kali diperkenalkan pada tahun 1986.(11) Teknik terapi PEI
dilaporkan memberikan hasil sebaik reseksi untuk KHS yang kecil. Kerugian dari cara
ini adalah tingkat rekurensi lokal yang tinggi dan kebutuhan akan sesi terapi berulang
kali (multipel) agar didapatkan ablasi lengkap dari lesi. (10) PEI dilakukan dengan
cara menyuntikkan per kutan etanol murni (95%) ke dalam tumor dengan panduan
radiologis untuk mendapatkan efek nekrosis dari tumor. Tindakan ini efektif untuk

tumor berukuran kecil (<3 cm). Untuk penderita-penderita dengan asites, koagulopati
sedang atau berat dan lesi permukaan, PEI tidak dianjurkan. Efek PEI adalah demam,
sakit di daerah suntikan, perdarahan intrahepatik dan perdarahan peritoneal.
b. Chemoembolism
Transcatheter arterial chemoembolism dapat digunakan sebagai terapi lokal
(targeted chemoembolism) atau regional (segmental, lobar chemoembolism)
tergantung dari ukuran, jumlah dan distribusi lesi. Kemoembolisme dianggap terapi
baku untuk KHS yang tidak dapat dilakukan reseksi. Lipoidol diberikan dengan obat
kemoterapi yang kemudian akan terkonsentrasi di dalam sel tumor tetapi secara aktif
dibersihkan dari sel-sel yang non-maligna. Pada cara ini, terjadi devaskularisasi
terhadap tumor sehingga menghentikan suplai nutrisi dan oksigen ke jaringan tumor
dan mengakibatkan terjadinya nekrosis tumor akibat vasokonstriksi arteri hepatika.
Dengan teknik ini didapatkan respon yang lebih baik dibandingkan kemoterapi
arterial atau sistemik. Selain lipoidol dapat juga digunakan gelfoam dan kolagen. Efek
samping yang sering terjadi antara lain adalah demam, nausea, vomitus, sakit di
daerah abdominal. Kemoembolisasi pada penderita-penderita dengan karsinoma
hepatoseluler yang tidak dapat direseksi dilaporkan menunjukkan reduksi dari
pertumbuhan tumor tetapi tidak memberikan peningkatan survival. Efikasi yang
terbatas dari kemoembolisasi pada penderita KHS dengan tumor yang besar dan tidak
dapat direseksi dapat dijelaskan oleh adanya sel-sel tumor yang tetap hidup setelah
terapi, terutama dengan adanya invasi vaskuler, adanya anak nodul kecil-kecil, dan
adanya trombi tumor. Kemoembolisasi efektif untuk tumor kecil tunggal dengan
hipervaskularisasi. Respons yang lebih besar dan derajat survival yang lebih tinggi
diperoleh bilamana kemoembolism diikuti dengan PEI.(11)
c. Kemoterapi sistemik
Pemberian terapi dengan anti-tumor ternyata dapat memperpanjang hidup
penderita. Sitostatika yang sering dipakai sampai saat ini adalah 5-fluoro uracil (5FU). Zat ini dapat diberikan secara sistematik atau secara lokal (intra-arteri).
Sitostatika lain yang sering digunakan adalah adriamisin (doxorubicin HCl) atau
adriblastina. Dosis yang diberikan adalah 60-70 mg/m2 luas badan yang diberikan
secara intra-vena setiap 3 minggu sekali atau dapat juga diberikan dengan dosis 20-25
mg/m2 luas badan selama 3 hari berturut-turut dan diberikan setiap 3 minggu sekali.

Adriamisin sebagai obat tunggal sangat efektif dengan peningkatan survival rate
sebesar 25% dibandingkan bila tidak diberi terapi. Penggunaan kombinasi sisplatin,
IFN-2B, adriamisin dan 5-FU yang diberikan secara sistematik pada penderita KHS
memberikan rerspon yang sangat baik untuk tumor hati dan ekstrahepatik. Dengan
rejimen seperti ini ternyata 18% penderita yang awalnya tidak dapat dieseksi dapat
direseksi dan 50% menunjukkan remisi histologis yang sempurna. Namun demikian,
kombinasi di atas tidak dapat ditoleransi penderita-penderita sirosis lanjut.
d.

Radiasi
Terapi radiasi jarang digunakan sebagai terapi tunggal dan tidak banyak
perannya sebab karsinoma hati tidak sensitif terhadap radiasi dan sel-sel hati yang
normal sangat peka terhadap radiasi. Terapi radiasi dengan menggunakan 50 Gy untuk
membunuh sel-sel kanker hati dapat menyebabkan radiation induced hepatitis. Dosis
yang diberikan umumnya berkisar antara 30-35 Gy dan diberikan selama 3-4 minggu.
Meskipun demikian, penderita biasanya meninggal dalam kurun waktu 6 bulan.
karena survival-nya pendek. Teknik baru yang dengan proton therapy adalah teknik
yang menggunakan partikel bermuatan positif untuk menghantar energi membunuh
sel-sel tumor dengan cedera minimal pada jaringan hati yang nonneoplastik. Dengan
proton therapy dosis 7080 Gy sangat aman karena sel target adalah hanya sel tumor.
Ukuran tumor dapat berkurang sampai 50% dari sebelumnya, dan efek samping yang
terjadi sangat minimal sehingga memberikan kualitas hidup yang lebih baik.

e. Tamofixen
Tamofixen digunakan pada penderitapenderita KHS dengan sirosis lanjut,
tetapi tidak meningkatkan survival. Tamofixen dapat dikombinasikan dengan
etoposide dan menunjukkan perbaikan serta memberikan toksisitas rendah dan
bermanfaat sebagai terapi paliatif. Secara in vitro, tamofixen bermakna meningkatkan
efek sitotoksik doxorubisin pada KHS. Kombinasi antara tamofixen dengan
doxorubisin ternyata tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan
tamofixen tunggal.

f. Injeksi asam asetat perkutaneus

Prinsip dan cara kerja metode ini sama dengan injeksi etanol perkutan, hanya
saja zat yang disuntikkan adalah larutan asam asetat 15-50%. Pemberian pada
penderita KHS dengan tumor yang berdiameter <3 cm menunjukkan survival rate 1
tahun sebesar 93%, 2 tahun sebesar 86%, 3 tahun sebesar 83% dan 4 tahun sebesar
64%. Efek samping tidak dijumpai.
PROGNOSIS
Pada umumnya prognosis karsinoma hati adalah jelek.(1,6) Tanpa pengobatan,
kematian rata-rata terjadi sesudah 6-7 bulan setelah timbul keluhan pertama. Dengan
pengobatan, hidup penderita dapat diperpanjang sekitar 1112 bulan. Bila karsinoma hati dapat
dideteksi secara dini, usaha-usaha pengobatan seperti pembedahan dapat segera dilakukan
misalnya dengan cara sub-segmenektomi, maka masa hidup penderita dapat menjadi lebih
panjang lagi. Sebaliknya, penderita karsinoma hati fase lanjut mempunyai masa hidup yang
lebih singkat. Kematian umumnya disebabkan oleh karena koma hepatik, hematemesis dan
melena, syok yang sebelumnya didahului dengan rasa sakit hebat karena pecahnya karsinoma
hati. Oleh karena itu langkahlangkah terhadap pencegahan karsinoma hati haruslah
dilakukan. Pencegahan yang paling utama adalah menghindarkan infeksi terhadap HBV dan
HCV serta menghindari konsumsi alkohol untuk mencegah terjadinya sirosis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rasyad. 2006. Pentingnya Peranan Radiologi Dalam Deteksi Dini dan
Pengobatan Kanker Hati Primer. USU Press. Sumatra.
Kim TK, Kim AY, Choi BI. 2002. Hepatocellular carcinoma: harmonic ultrasound and
contrast agent. Abdom Imaging.
Siregar, G. (2011). Penatalaksanaan non bedah dari karsinoma hati. Universa
Medicina Vo. 24 No 1 , 35-42.
Sjamsuhidayat R, De jong W. Saluran empedu dan hati pada buku ajar ilmu bedah.
Edisi ke-dua. Jakarta: EGC; 2005. Hal.590-593
Sudoyo S, Alwi I, Setiati S, Simadibrata MK, Setiyohadi B dan Syam AF. 2014. Buku
Ajar Ilmu Penyakit dalam Jilid II Edisi VI. Jakarta. Interna Publishing.
Tariq Parvez., Babar Parvez., and Khurram Parvaiz et al. Screening for Hepatocellular
Carcinoma. Jounal JCPSP September 2004 Volume 14 No. 09.
Wu CG, Salvay DM, Forgues M, Valerie K, Farnsworth J, Markin RS, et al.
Distinctive gene expression profiles associated with Hepatitis B virus x protein.
Oncogene 2001; 20:3674-82.