Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA MATERIAL II

Modul M-3
Pengukuran Susceptibilitas dan Permeabilitas Bahan Magnet

Semester Genap
Tahun Ajaran 2015/2016

Kelompok Praktikum
Nama
NPM
Nama Partner
NPM
Nama Partner
NPM
Hari/Tanggal Praktikum
Jam Praktikum
Asisten Praktikum
Hari/Tanggal Penyerahan Laporan

: PM-8
: Melany Putri
: 140310130029
: Sheila Sakkiyananda
: 140310300024
: Farid Latief
: 140310300006
: Selasa, 5 & 12 April 2016
: 13.00 15.00 WIB
: Ahdan
: Selasa, 12 April 2016

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

I.

Tujuan
Tujuan dari praktikum Pengukuran Suseptibilitas dan Permeabilitas Bahan Magnet

adalah:
1. Memahami prinsip pengukuran melalui rangkaian RLC
2. Menentukan nilai suseptibilitas dan permeabilitas bahan-bahan magnet
II.

Teori Dasar

2.1.

Induksi Magnet
Medan magnet adalah sebuah besaran yang muncul karena adanya pergerakan muatan

listrik (arus listrik) pada sebuah bahan magnetik. Medan magnet disimbolkan dengan H dan
satuannya adalah Ampere per meter (A.m-1). Penemuan tentang arus listrik dapat
memunculkan medan magnet pertama kali dipublikasikan oleh Hans Cristian Oersted pada
tahun 1819. Kemudian Ampere memperlihatkan bahwa kawat yang dipasang paralel
memiliki arus pada arah yang sama akan tarik menarik satu dengan lainnya. Penemuan ini
mengilhami munculnya hukum Biot-Savart yang dengan tepat memperkirakan munculnya
medan magnet di sekitar kawat berarus. Hukum Biot-Savart ini memungkinkan untuk
menghitung besarnya medan magnet H yang ditimbulkan oleh arus listrik yang dapat
dituliskan dengan persamaan:
1

H=
i l x r^
2
4 r
dengan H adalah vektor medan magnet, i adalah arus, r adalah jarak antara kawat yang dialiri
arus dengan tempat perhitungan medan magnet r vektor satuan arah radial dan

adalah

vektor yang besarnya merupakan diferensial panjang dari kawat yang dialiri arus3.
Pengertian medan magnet (H) dan induksi magnet (B) seringkali tertukar satu sama
lain. Induksi magnet merupakan respon dari bahan ketika pada bahan tersebut terdapat medan
magnet (H) yang ditimbulkan oleh arus listrik. Induksi magnet ini menggambarkan kerapatan
fluks magnetik tiap satuan luas. Sehingga satuan untuk induksi magnet ini adalah webber per
meter persegi (Wb.m-2). 1 Wb.m-2 sama dengan 1 Tesla3.

Solenoida didefinisikan sebagai sebuah kumparan dari kawat yang diameternya


sangat kecil dibanding panjangnya. Apabila dialiri arus listrik, kumparan ini akan menjadi
magnet listrik. Medan solenoida tersebut merupakan jumlah vektor dari medan-medan yang
ditimbulkan oleh semua

lilitan yang membentuk

solenoida tersebut.

Gambar 1. Kumparan Solenoida


Gambar 1. memperlihatkan adanya medan magnetik yang terbentuk pada solenoida.
Kedua ujung pada solenoida dapat dianggap sebagai kutub utara dan kutub selatan magnet,
tergantung arah arusnya. Kita dapat menentukan kutub utara pada gambar tersebut adalah di
ujung kanan, karena garis-garis medanmagnet meninggalkan kutub utara magnet.
Rumus untuk mencari induksi magnet di pusat solenoid :

2.2.

Rangkaian RLC
Rangkaian RLC merupakan rangkaian yang dapat dihubungkan dengan paralel

ataupun secara seri, namun rangkaian tersebut harus terdiri dari kapasitor, induktor, dan
resistor. Penamaan RLC sendiri juga memiliki alasan tersendiri, yaitu disebabkan nama yang
menjadi simbol listrik biasanya pada kapasitansi, induktansi, dan ketahanannya masingmasing. Rangkaian ini akan beresonansi dengan suatu cara yang sama yaitu-sebagai
Rangkaian LC, bersamaan dengan terbentuknya osilator harmonik4.
Rangkaian ini dianalogikan seperti susunan massa-pegas, maka rangkaian ini
dianggap memiliki frekuensi alami dari osilasi dan bekerja suatu pengaruh luar yang
diberikan oleh = m sin t. Respon maksimum (i-rms) terjadi apabila persis menyamai o
dan ini terjadi bila XL = XC maka L = 1/C atau = 1/(LC)1/2

Gambar 2. Rangkaian RLC yang digunakan pada percobaan5


Pada praktikum kali ini prinsip dasar yang digunakan dalam pengukuran adalah
rangkaian RLC. Besaran yang diperoleh dari rangkaian ini adalah frekuensi resonansi baik
sebelum kehadiran bahan magnetik (udara) maupun dalam kehadiran bahan magnetik (yang
dimasukkan ke dalam induktor)5.
2.3

Magnet dan Klasifikasi Bahan Magnet


Magnet adalah bahan yang memiliki medan magnet dimana medan magnet adalah

daerah di sekitar magnet yang masih merasakan gaya gerak magnet. Asal kata magnet dari
nama kota yaitu magnesia, tempat ditemukannya magnet, kota yang berada di Asia. Sekitar
4.000 tahun lalu ditemukan sejenis batu yang memiliki sifat dapat menarik besi, baja, dan
campuran logam lainnya. Batu ini selanjutnya dikenal dengan nama magnet. Gejala
kemagnetan pada atom dapat terjadi karena tiap elektron atom memiliki momen magnetik
yaitu respon suatu material terhadap medan magnet1.
Bahan-bahan yang didekatkan dengan magnet memiliki respon yang berbeda. Ada
bahan yang ditarik oleh magnet dengan sangat kuat dan ada yang lemah, dan ada yang
ditolak. Berdasarkan respon bahan terhadap suatu gaya magnet, maka kita kelompokkan
menjadi 3 jenis, yaitu bahan feromagnetik, bahan paramagnetik, dan bahan diamagnetik2.
a. Ferromagnetik merupakan bahan yang dapat termagnetisasi tanpa adanya medan
magnet aplikasi secara spontan. Feromagnetik terjadi ketika ion paramagnetik pada
padatan terkunci bersama dengan momen magnetik pada semua titik memiliki arah
yang sama. Pada suhu yang cukup, penguncian ini akan rusak dan akan berubah
menjadi paramagnetik. Dimana terjadi keadaan yang disebut Temperatur Curie. Nilai
suseptibilitasnya adalah lebih besar dari nol (>0) dan nilai permeabilitasnya ()
sangat besar (berkisar antara 10 sampai 105 Wb/Am)3.

b. Paramagnetik adalah bahan yang memiliki nilai magnetisasi yang lemah dengan nilai
suseptibilitas bernilai sangat kecil namun tidak negatif seperti bahan diamagnetik.
Bahan paramagnetik memiliki suseptibilitas positif artinya magnetisasi akan searah
dengan arah medan magnet luar yang diberikan. Nilai suseptibilitas berkisar antara 103

sampai dengan 10-5


c. Diamagnetik adalah bahan yang tidak memiliki total momen magnet permanen pada
tiap atomnya. Hal ini disebabkan karena seluruh elektron saling berpasangan.
Kemagnetan yang dimiliki berasal dari medan magnet luar. Nilai suseptibilitasnya
adalah negatif (berkisar dari -10-5 sampai dengan -10-9 )3.
2.4.

Suseptibilitas dan Permeabilitas Magnet


Suseptibilitas magnetik suatu material mewakili kecenderungan suatu material untuk

menjadi bahan magnet dalam pengaruh medan magnet luar. Pengukuran suseptibilitas
memungkinkan untuk mengidentifikasi mineral pembawa Fe dalam suatu sampel,
menghitung konsentrasi atau volume mineral tersebut, mengklasifikasi jenis-jenis mineral
yang berbeda, serta mengidentifikasi proses pembentukan dan perpindahan mineral tersebut
(Dearing,1999. op. Cit. Andreas. 2004).
Suseptibilitas magenetik dari sebuah material biasanya disimbolkan degan m, adalah
sebanding dengan rasio dari magnetisasi M dalam bahan dalam penerapan medan magnet H
atau m = M / H. Permeabilitas atau permeabilitas magnetik, adalah konstanta proporsionalitas
yang ada antara induksi magnetik dan intensitas medan magnet. Konstanta ini sama dengan
sekitar 1,257 x 10-6 henry per meter (H / m) di ruang vakum yang dilambangkan o.
Hubungan antara permeabilitas, suseptibilitas, medan magnet dan induksi magnet :
B = o (H+M)
= o (1+m) H
B=H
dimana = o (1+m)

III.

Metodologi

3.1.

Peralatan dan Bahan

1. Perangkat sinyal function generator dan osiloskop digital


2. Perangkat rangkaian RLC (R=67x104, R=67x105, R=33x102, C=220F, dan L)
3. Bahan padat ferit, alumunium, magnet, besi, kuningan
3.2.

Prosedur Percobaan

3.2.1. Dalam kondisi tanpa beban


1. Memeriksa input sinyal : rangkaian RLC dengan sinyal function generator (SFG) dan

osciloskop (OSC), pilih salah satu frekuensi (SFG) lalu crosscek frekuensi dan
amplitudo pada OSC
2. Memeriksa output sinyal : menghubungkan rangkaian RLC dengan sinyal RLC
dengan sinyal function generator (SFG) dan osiloskop (OSC), mengamati apakah ada
perubahan pada frekuensi atau pada OSC ?
3. Memeriksa lagi output sinyal jika resonansi tidak terjadi : menghubungkan rangkaian
RLC, rangkaian OP-AMP (perbesaran 10 kali) dengan sinyal function generator
(SFG) dan osiloskop (OSC). Mengatur SFG untuk menenmukan frekuensi resonansi
(mengamati perubahan amplitudo sinyal pada OSC dengan memutar ke kiri dan kanan
(amplitudo SFG) hingga terjadi perubahan amplitudo (minimum dan maksimum) di
OSC, lalu tentukan frekuensi resonansinya.
4. Kemudian menentukan frekuensi resonansi yang akan dijadikan sebagai frekuensi
acuan dengan menggunakan rumus :

f resonansi=

1
2 LC

5. Mencatat nilai frekuensi input dan frekuensi output sebanyak 5 variasi.


6. Mencatat nilai V input dan Voutput pada setiap nilai frekuensi yang didapat.
7. Membandingkan nilai Vout dari setiap variasi frekuensi.

3.2.2. Dalam kondisi dengan beban


1. Memasukkan masing-masing bahan seperti ferit, alumunium, magnet, besi, kuningan
2. Memeriksa lagi output sinyal jika resonansi tidak terjadi : menghubungkan rangkaian
RLC, rangkaian OP-AMP (perbesaran 10 kali) dengan sinyal function generator
(SFG) dan osiloskop (OSC). Mengatur SFG untuk menenmukan frekuensi resonansi
(mengamati perubahan amplitudo sinyal pada OSC dengan memutar ke kiri dan kanan
(amplitudo SFG) hingga terjadi perubahan amplitudo (minimum dan maksimum) di
OSC, lalu tentukan frekuensi resonansinya.
3. Kemudian menentukan frekuensi resonansi yang akan dijadikan sebagai frekuensi
acuan dengan menggunakan rumus :

f resonansi=

1
2 LC

4. Mencatat nilai frekuensi input dan frekuensi output sebanyak 5 variasi.


5. Mencatat nilai V input dan Voutput pada setiap nilai frekuensi yang didapat.
6. Membandingkan nilai Vout dari setiap variasi frekuensi.
Catatan : Karena pada saat praktikum kita tidak mendapatkan data primer, sebagai
gantinya praktikan menggunakan 2 buah data sekunder yang berasal dari praktikan
sebelumnya.

IV. Pengolahan Data


A. Data I
Udara ( frekuensi : 20 Hz )
f resonansiacuan=

f resonansiacuan=

1
2 LC
1
2.3,14 2,57 x 101 220 x 106

f resonansiacuan=21,2 H z
Nilai Vout minimum didapat pada saat frekuensi input = 20 Hz (disebut frekuensi
resonansi), sehingga didapat nilai induktansi dengan menggunakan rumus:
L percobaan =

1
2
4 fres C

L percobaan =

1
2
6
4.(3,14) (21,2) . 220 x 10

L percobaan=0, 257 H
Mencari nilai A (luas penampang) menggunakan rumus :
A= r 2=dl
2

A=3,14 .2,54 x 10 . 1,51 x 10


A=1,2 x 103 m2

Dari nilai induktansi percobaan (Lpercobaan) yang didapat maka dapat ditentukan nilai
permeabilitas bahan dengan menggunakan rumus:

percobaan=

L percobaan. l
N2 A

Dengan l adalah panjang kumparan, A adalah luas kumparan (bentuknya lingkaran),


nilai r kumparan adalah = 1,51 x 10-2 m, sehingga didapat:
2

percobaan=

0,257 .1,51 x 10
2
3 2
(50) .3,14 (1,2 x 10 )

percobaan=1,87 x 109 Wb / Am
percobaan

Nilai

dapat digunakan untuk menentukan nilai suseptibilitas bahan,

digunakan rumus:
=

percobaan
1
0

Dengan

adalah permebilitas di ruang hampa yang nilainya 12,56 x 10-7 Wb/Am

1,87 x 109
1
12,56 x 107

=0,99
Tabel hasil perhitungan

Grafik V out terhadap f out di udara


10

V out (V)

f(x) = 0.02x + 4.32


R = 0.05

Linear ()

15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
F out(Hz)

Grafik V out terhadap f out di Ferit


10
V out (V)

f(x) = - 0.04x + 5.46


R = 0.25

0
5

10 15 20 25 30 35 40
F out(Hz)

Linear ()

Grafik V out terhadap f out di Alumunium


8
6
V out (V)

f(x) = - 0.02x + 5.5


R = 0.2

Linear ()

0
10

20

30

40

50

60

70

f out (hz)

Grafik V out terhadap f out di magnet


20
V out

10

Linear ()

f(x) = - 0x + 5.08
0
R =40
0 50 60 70 80 90 100
20 30
f out(Hz)

B. Data II
Udara ( frekuensi : 40 Hz )

f resonansiacuan=

f resonansiacuan=

1
2 LC
1
2.3,14 7,46 x 102 220 x 106

f resonansiacuan=0,025 H z
Nilai Vout minimum didapat pada saat frekuensi input = 40 Hz (disebut frekuensi
resonansi), sehingga didapat nilai induktansi dengan menggunakan rumus:
L percobaan =

1
2
4 fres C

L percobaan =

1
4.(3,14) (0,025)2 . 220 x 106

L percobaan =0,0746 H
Mencari nilai A (luas penampang) menggunakan rumus :
A= r 2=dl
A=3,14 .2,54 x 102 . 1,51 x 102
A=1,2 x 103 m2
Dari nilai induktansi percobaan (Lpercobaan) yang didapat maka dapat ditentukan nilai
permeabilitas bahan dengan menggunakan rumus:
percobaan=

L percobaan. l
N2 A

Dengan l adalah panjang kumparan, A adalah luas kumparan (bentuknya lingkaran),


nilai r kumparan adalah = 1,51 x 10-2 m, sehingga didapat:

percobaan=

0,0746 .1,51 x 10
2
3 2
(50) .3,14 (1,2 x 10 )

percobaan=5,425 x 1010 Wb/ Am


percobaan

Nilai

dapat digunakan untuk menentukan nilai suseptibilitas bahan,

digunakan rumus:
=

percobaan
1
0

Dengan

adalah permebilitas di ruang hampa yang nilainya 12,56 x 10-7 Wb/Am

5,425 x 1010
1
12,56 x 107

=1 00

Tabel hasil perhitungan

Grafik V out terhadap f out pada Udara


15
10
V out (V)

f(x) = 0.13x + 0.7


R = 0.74

Linear ()

0
35404550556065707580
F out(Hz)

Grafik V out terhadap f out pada Alumunium


4.3
4.2
V out (V)

4.1
4

f(x) = - 0x + 4.28
R = 0.52

3.9
30 40 50 60 70 80
f out(Hz)

Linear ()

Grafik V out terhadap f out pada magnet


4.6
4.4
V out(V) 4.2

f(x) = 0x + 4.06
R = 0.34

4
30 40 50 60 70 80 90
fout(Hz)

Linear ()

Grafik V out terhadap f out pada besi


4.6
4.4
4.2
V out (V)

f(x) = - 0.01x + 4.52


R = 0.34

Linear ()

3.8
3.6
35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
f out(Hz)

Grafik V out terhadap f out pada kuningan


f(x) = 0x + 4.32
R = 0.5
V out (V)

Linear ()

35 40 45 50 55 60 65 70 75 80
f out(Hz)

V.

Pembahasan Hasil
Pada praktikum kali ini digunakan beberapa medium yang ditentukan nilai

permeabilitas dan suseptibiltasnya. Medium yang digunakan adalah udara, magnet,


aluminium, dan ferrite, kuningan, besi. Dilakukan variasi pemberian beban pada kumparan
selenoida dengan jumlah N lilitan dimana pengaruh beban ini diibaratkan sebagai inti dari
selenoida yang

akan mempengaruhi mekanisme fluk magnetik yang terjadi diantara

kumparan selenoida tersebut. Pertama-tama selenoida tidak diberi beban artinya medan
magnet B yang terdapat pada selenoida merupakan medan magnet selenoida (Bo) tanpada
adanya beban. Namun ketika diberi beban, beban ini akan berkontribusi dalam penambahan
nilai medan magnetik B pada selenoida, sehingga kehadiran beban ini, medan magnet total B T
pada selenoida menjadi BT = Bo + Binti dimana Binti adalah medan magnet material inti yang
besarnya adalah Binti = 0 . M. Dimana M adalah magnetisasi, untuk bahan paramagnetik dan
feromagnetik magnetisasi mempunyai arah yang sama dengan Bo. Sehingga menyearahkan
dipol magnetik pada material inti.

Dengan didapatnya nilai induktansi hasil percobaan maka didapat pula nilai
permeabilitas dan suseptibiltasnya sehingga akan diketahui termasuk jenis bahan magnet apa
medium tersebut. Namun sebelum menentukan nilai induktansi masing-masing medium harus
ditentukan terlebih dahulu nilai frekuensi resonansinya (ditentukan berdasarkan nilai Vout
minimum yang dihasilkan). Berdasarkan rumus yang digunakan pada pengolahan data, nilai
frekuensi resonansi adalah berbanding terbalik dengan nilai induktansi dari suatu bahan,
dalam artian semakin besar nilai frekuensi resonansinya maka semakin kecil nilai
induktansinya. Nilai induktansi ini kemudian digunakan untuk menentukan nilai
permeabilitas, dimana antara induktansi dan permeabilitas nilainya adalah berbanding lurus.
Berarti semakin besar nilai induktansi maka semakin besar nilai permeabilitasnya, dan nilai
permeabilitas bahan juga berbanding lurus dengan nilai suseptibilitas bahan itu sendiru. Dari
hubungan ini dapat diketahui bahwa suatu bahan yang memiliki nilai permeabilitas dan
suseptibilitas yang besar berarti memiliki nilai frekuensi resonansi yang kecil. Berarti untuk
bahan ferromagnetik nilai frekuensi resonansi nya adalah kecil karena bahan ferromagnetik
memiliki nilai permeabilitas yang cukup besar.

Pada bahan ferromagnetik diketahui nilai permeabilitasnya adalah 10 sampai 10 5


Wb/Am dan nilai suseptibilitasnya adalah lebih dari 1 karena banyak spin elektron yang tidak
berpasangan dan masing-masing spin elektron akan menimbulkan medan magnetik sehingga
magnet total akan total. Pada bahan paramagnetik nilai suseptibilitasnya adalah 10 -3 sampai
dengan 10-5 sedangkan untuk bahan diamagnetik nilai suseptibilitasnya adalah -10-5 sampai
dengan -10-9 . Berdasarkan hasil percobaan data I bahan udara pada frekuensi 20Hz nilai
permeanilitasnya adalah 1,87x10-9 Wb / Am dengan nilai susceptibilitasnya 0,99. Pada bahan
ferit frekuensi 17 Hz nilai permeabilitasnya adalah 5,8x10 -9 Wb / Am dengan nilai
susceptibilitasnya 0,95 . Pada bahan alumunium frekuensi 18 Hz nilai permeabilitasnya
adalah 2,3x10-9 Wb / Am dengan nilai susceptibilitasnya 0,98. Pada bahan magnet frekuensi
24 Hz nilai permeabilitasnya adalah 1,37x10-9 Wb / Am dengan nilai susceptibilitasnya 0,99.
Sedangkan pada data II

bahan

udara

frekuensi 40 Hz nilai permeabilitasnya adalah

5,42x10-10 Wb / Am dengan nilai susceptibilitasnya 100. Pada bahan alumunium frekuensi 40


Hz nilai permeabilitasnya adalah 6,10x10 -10 Wb / Am dengan nilai susceptibilitasnya 100.
Pada bahan magnet frekuensi 70 Hz nilai permeabilitasnya adalah 1,83x10 -10 Wb / Am

dengan nilai susceptibilitasnya 100. Pada bahan besi frekuensi 80 Hz nilai permeabilitasnya
adalah 1,42x10-10 Wb / Am dengan nilai susceptibilitasnya 100. Pada bahan kuningan
frekuensi

80 Hz nilai permeabilitasnya adalah 1,42x10-10 Wb / Am dengan nilai

susceptibilitasnya 100. Hasil yang didapat tidak sesuai dengan teori disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu terjadinya kesalahan pada rangkaian baik dari segi komponen maupun
penyusunannya dan kurang tepatnya praktikan pada saat menentukan nilai Vout minimum.
VI.

Tugas Akhir
1. Tentukan suseptibilitas (

) bahan atau medium yang digunakan dalam percobaan.

Jawab:
Berdasarkan pengolahan data, didapat nilai suseptibilitas masing-masing medium
adalah sebagai berikut:
Medium

Suseptibilitas
)

Udara
Ferrite
Aluminium
Magnet

0,99
0,95
0,98
0,99

2. Tentukan nilai permeabilitas (m) bahan atau medium yang digunakan dalam
percobaan!
Jawab:
Berdasarkan pengolahan data, didapat nilai permeabilitas masing-masing medium
adalah sebagai berikut
Medium
Udara
Magnet
Aluminium
Ferrite

Permeabilitas
(Wb/Am)
1,8x10-9 Wb / Am
5,8x10-9 Wb / Am
2,3x10-9 Wb / Am
1,3x10-9 Wb / Am

3. Jelaskan metode lain dalam menentukan suseptibilitas bahan magnet!


Jawab:
SQUID atau superconducting quantum interference devisces adalah alat yang
digunakan untuk mengukur medan magnet dengan tingkat ketelitian yang sangat
tinggi. SQUID memiliki ring superkonduktor dengan lapisan tipis isolator yang
dikenal dengan sambungan Josephson. Keberadaan ring superkonduktor dan

sambungan Josephson menyebabkan fluks magnetik dapat terkuantisasi. Hal ini


menyebabkan SQUID dapat mengukur perubahan fluks magnetik yang sangat kecil.
Keistimewaan ini menyebabkan alat ini dapat mengukur medan magnet yang lemah
sekalipun.

Perumusan

matematis

fluks

magnetik

pada

SQUID

harus

memperhitungkan beberapa faktor, yaitu jumlah fluks magnetik yang disebabkan oleh
medan aplikasi dan fluks yang disebabkan oleh arus pada ring superkonduktor3.

VII. Kesimpulan
1. Prinsip pengukuran menggunakan rangkaian RLC pada percobaan ini adalah
dengan menentukan frekuensi resonansi (fo) yang kemudian dapat dihitung nilai
induktansi L sehingga dari nilai L ini di dapat nilai susceptibilitas dan permeabilitas
bahan.
2. Nilai susceptibilitas dan permeabilitas bahan bahan magnet diperoleh :
Udara
: 1,8x10-9 Wb / Am m : 0,99
Ferit
: 5,8x10-9 Wb / Am
m : 0,95
-9
Alumunium
: 2,3x10 Wb / Am
m : 0,98
-9
Magnet
: 1,3x10 Wb / Am
m : 0,99

Daftar Pustaka
[1] Rachmantio, Honorius. 2004. Pengantar Material Sains I. Yogyakarta :
Penerbit Tabernakelindo
[2] Syakir, Norman dan Fitrilawati. 2015. Modul Praktikum Fisika Material II.
Prodi Fisika Fakultas Mipa. Universitas Padjadjaran. Jatinangor
[3] Risdiana. 2013. Diktat Kuliah Bahan Magnet dan Superkonduktor. Bandung:
Jurusan Fisika. Fakultas MIPA. Universitas Padjadjaran.
[4] http://elektronikadasar.info/rangkaian-rlc.htm (diakses pada: 10 April 2016
pukul 15.13 WIB)