Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS

DENGUE SHOCK SYNDROME


Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUD dr. Soedjati Purwodadi

Disusun oleh :
Estu Septiyanto
01.211.6382

Pembimbing :
dr. Agustinawati Ulfah, Sp.A
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Oleh :
Estu Septiyanto

01.211.6382

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu prasyarat
mengikuti ujian kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Anak RSUD DR.
Soedjati Purwodadi

Purwodadi,

Maret 2016

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Agustinawati Ulfah, Sp. A

BAB I
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PENDERITA

Nama

: An. ESK

Umur

: 10 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Nama Orangtua

: Tn. N

Pekerjaan Orangtua

: Wiraswasta

Alamat

: Boloh 001/006, Toroh, Grobogan

Tanggal Masuk

: 1 Maret 2016

Ruang Perawatan

: Anggrek

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
: Kaki dan tangan dingin
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Tiga hari SMRS, penderita mengeluh demam (+), mendadak tinggi,
terus menerus, menggigil (+). Batuk (+), pilek (-), bintik-bintik merah di
tangan dan kaki(-), mimisan (-), gusi berdarah (-), sakit kepala (+), nyeri di
perut (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), BAK dan BAB seperti biasa, nafsu
makan turun (+). Penderita hanya meminum obat penurun panas, suhu sempat
turun namun naik kembali. Penderita belum berobat ke dokter.
3 hari SMRS, timbul bintik-bintik merah di tangan. Mimisan (-),
muntah (+) tidak berdarah, berlendir, frekuensi muntah 2x, jumlah 1/3 gelas
belimbing tiap kali muntah, sakit kepala (+), nyeri di perut (+), nyeri otot (-),
nyeri sendi (-), sesak napas (-), demam (-), batuk (+), pilek (-), nafsu makan
turun (+), dan BAB hitam (-), BAK seperti biasa. Penderita berobat ke klinik
dan dirawat 2 hari, dan dipulangkan setelah panasnya turun
10 jam SMRS, pasien semakin lemas, perut sakit, sesak nafas namun
panas sudah mulai turun dan kedua kaki dan tangan pasien menjadi dingin
dan tampak kebiruan. BAK mulai berkurang, 1-2x/hari, warna kuning jernih,
tidak nyeri, jumlah berkurang dari biasanya. BAB berwarna hitam seperti
petis sebanyak 1x. Nafsu makan dan minum menurun. Mual setiap kali mau
makan dan ada muntah 5x/hari, isi muntahan makanan dan minuman yg
dimakan. Teman dan tetangga pasien banyak yang mengalami penyakit

demam berdarah Kemudian oleh orang tuanya dibawa berobat lagi ke IGD
RSUD dr. R Soedjati, dan disarankan oleh dokter untuk mendapatkan
perawatan di rumah sakit
3

Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat Penyakit Dahulu
i. Riwayat Demam
: (-)
ii. Riwayat Kejang
: (-)
iii. Riwayat Batuk Pilek : (-)
iv. Riwayat Diare
: (-)
v. Riwayat Thypoid
: (-)
vi. Riwayat DBD
: (-)
b. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga tidak ada yang memiliki penyakit seperti ini.
c. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah anak ketiga dan hidup bersama kedua orangtuanya.
Ayah bekerja sebagai wiraswasta dan ibu sebagai ibu rumah tangga.
Pengobatan pasien ditanggung JKN-NPBI.
Kesan : ekonomi cukup.
d. Riwayat Prenatal Care
i. Perawatan ANC : rutin, dilakukan sebanyak 5 kali selama hamil
dan diperiksakan ke bidan.
ii. Tempat kelahiran
: klinik bidan
iii. Penolong kelahiran
: bidan
iv. Cara persalinan
: normal, usia kehamilan 38 minggu
v. Keadaan bayi
: sehat, langsung menangis
vi. BBL
: 2900 gram
vii. Kelainan bawaan
: (-)
Kesan: Neonatal Aterm
e. Riwayat Kehamilan
i. Riwayat ibu muntah berlebih (-)
ii. sakit kepala berat (-)
iii. Riwayat jatuh saat kehamilan (-)
iv. Riwayat minum jamu dan pijat perut (-)
v. selama hamil, ibu pasien hanya menerima dan mengkonsumsi
vitamin penambah darah yang diberikan oleh bidan.
Kesan : Riwayat kehamilan baik
f. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan
i. BB lahir
: 2900 gram
ii. BB saat ini
: 30 kg
iii. TB saat ini
: 119 cm
iv. BMI : BB/TB(m2) 30/(1,19)2=21,18 gizi baik
Perkembangan

i.
Mengangkat kepala
: 2 bulan
ii.
Memiringkan kepala
: 3 bulan
iii.
Tengkurap dan
: 5 bulan
iv. Duduk
: 7 bulan
v. Merangkak
: 8 bulan
vi.
Berdiri, bersuara
: 10 bulan
vii.
Berjalan
: 11 bulan
viii.
Berbicara
: 18 bulan
ix.
Mencoret pensil pada kertas
: 36 bulan
x.
Melompat kedua kaki diangkat
: 42 bulan
xi.
Mengenakan sepatu sendiri
: 48 bulan
xii.
Menggambar lingkaran
: 54 bulan
xiii.
Bicaranya mudah dimengerti
: 60 bulan
xiv. Berjalan lurus
: 66 bulan
xv. Mengenal warna-warni
: 72 bulan
Kesan: pertumbuhan dan perkembangan sesuai anak seusianya
g. Riwayat Imunisasi Dasar
i. 0-7 hari : Hb O
ii. 1 bulan : BCG dan Polio 1
iii. 2 bulan : DPT, HB, HIB, Polio 2
iv. 3 bulan : DPT, HB, HIB, Polio 3
v. 4 bulan : DPT, HB, HIB, Polio 4
vi. 9 bulan : Campak
Kesan: Imunisasi dasar lengkap
h. Riwayat Pemberian Makan dan Minum
i. ASI eksklusif sampai usia 2 tahun, lalu ditambah susu formula.
ii. Nasi, sayur, buah, dan lauk di konsumsi secara rutin.
C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum: tampak sakit berat.
b. Kesadaran

: Letargis

c. Tanda vital:
a. N

: 62 x/menit (isi /tegangan teraba lemah)

b. RR

: 31 x/menit

c. T

: 36,5oC

d. TD

: 90/60 mmHg

d. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala

: mesocephal, tidak mudah dicabut.

b. Mata

: cekung (-/-), konjungtiva anemis (-/-), edem palpebra (-/-)

c. Telinga

: sekret (-/-), hiperemis (-/-)

d. Hidung : nafas cuping hidung (-), epistaksis (-), secret ()

e. Mulut

: bibir kering (-), sianosis (-), pucat (-), perdarahan gusi (-),

mukosa hiperemis (-), tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak


hiperemis.
f. Leher

: tidak ada pembesaran KGB

g. Pulmo

Inspeksi

: simetris, retraksi costa (-/-)

Palpasi

: sterm fremitus kanan = kiri, krepitasi (-)

Perkusi

: sonor seluruh lapang paru, redup (-)

Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+), ronkhi -/-, wheezing -/-

h. Cor
-

Inspeksi

: iktus kordis tak tampak

Palpasi

: iktus kordis teraba pada ICS V linea midclavicula

sejajar papilla mamae


-

Perkusi

o Batas kanan atas

: ICS II linea parasternal kanan

o Batas kanan bawah

: ICS III, linea parasternal kanan

o batas kiri atas

: ICS II linea parasternal kiri

o batas kiri bawah

: ICS IV linea midclavicula kiri.

o Auskultasi

: BJ I dan II regular, bising jantung (-)

i. Abdomen

Inspeksi

Auskultasi

Perkusi

: datar
: BU (+) normal
: timpani seluruh lapang abdomen

Palpasi

:supel, turgor kembali cepat, nyeri tekan

epigastrium(+), hepar teraba

3 cm di bawah arcus costa,

permukaan rata, lunak

Pekak sisi, alih : (-)

Undulasi

: (-)

Kesan : Hepatomegali

Ekstremitas

Akral dingin

: Superior (+/+) Inferior (+/+)

Kulit pucat

: Superior (+/+) Inferior (+/+)

Oedem Extremitas: Superior (-/-) Inferior (-/-)

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Laboratorium darah rutin 01/03/2016
Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Hemoglobin

13,4gr/dl

12 16 gr/dl

Hematokrit

39,8 %

29-35 %

Trombosit

203.000

150 450 x 103/ul

Hasil Laboratorium darah rutin 02/03/2016


Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Hemoglobin

16,0 gr/dl

12 16 gr/dl

Hematokrit

49,5 %

29-35 %

Trombosit

47.000

150 450 x 103/ul

Kesan : Trombositopenia, hemokonsentrasi


Hasil Laboratorium darah rutin 03/03/2016
Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Hemoglobin

13,7 gr/dl

12 16 gr/dl

Hematokrit

47,7 %

Trombosit

57.000

29-35 %

150 450 x 103/ul

Kesan : Trombositopenia, hemokonsentrasi


E.

DAFTAR MASALAH
Demam tinggi
Mengigil
Batuk
Sakit kepala
Nafsu makan menurun
Muntah
Bintik merah di tangan
Kulit pucat
Gelisah
Lemas
Nyeri perut daerah epigastrium
Sesak nafas
Nadi tidak terukur
BAB hitam 1 kali
Hemokonsentrasi
Trombositopeni
Hepatomegali

F. DIAGNOSIS BANDING
- Dengue Shock Syndrome
- Syok Septik
G. DIAGNOSIS KERJA
-Dengue Shock Syndrome
H. INISIAL PLAN
Initial Plan Diagnosis
Pemeriksaan darah ( Hb, Ht, Trombo serial/6 jam)
Periksa kadar elektrolit
Tes serologis IgM dan IgG virus dengue
X-foto thoraks RLD

Initial plan Terapi


O2 2L/menit via nasal canule.

RL 20ml/kgBB/jam secepatnya ( diberikan dalam bolus selama 30


menit)

Paracetamol 3 x 125 mg (bila perlu)


Vitamin C 1x200 mg IV

Initial Plan Monitoring


Monitor keadaan umum (tanda syok), tanda tanda vital
Monitor jika terdapat perdarahan spontan
Monitor hasil laboratorium (Hb, Leukosit, Trombosit, Ht)
Monitor balance cairan

Initial Edukasi

Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang dialami,


penyebab, dan penatalaksanaan

Menjelaskan prognosis dan penyakit tersebut

Menjelaskan pada keluarga pasien dan pasien sendiri untuk merubah


gaya hidup menjadi lebih bersih. Menyarankan pasien dan keluarganya
agar melakukan kegiatan 3M: menguras bak penampungan air minimal
3 kali seminggu, mengubur barang-barang bekas yang dapat
menampung air agar tidak menjadi sarang nyamuk, dan menutup
tempat penampungan air.

Memotivasi pasien dan keluarganya agar mengkonsumsi makanan


bergizi supaya meningkatkan daya tahan tubuh.

I. PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad sanation
Quo ad functionam

: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

BAB II
Dengue Shock Syndrome
1. Definisi
Dengue Shock Syndrome
Dengue shock syndrome (DSS) adalah sindrom syok yang terjadi pada
penderita Dengue Hemorhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue.
Dengue Shock Syndrome bukan saja merupakan suatu permasalahan
kesehatan masyarakat yang menyebar dengan luas dan tiba-tiba, tetapi juga
merupakan suatu permasalahan klinis, karena 30-50% penderita demam
berdarah dengue akan mengalami renjatan dan berakhir dengan kematian
terutama bila tidak ditangani secara dini dan adekuat.
2. Etiologi
Virus Dengue grub B Arbovirus yang sekarang dikenal dengan Genus
Flavivirus Famili Flaviviridae mempunyai 4 Serotipe :
Den-1
Den-2
Den-3, paling sering di Indonesia
Den-4
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe
virus yang berbeda antigen.Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan
serotipenya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi oleh salah satu
jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup tetapi tidak
menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehingga seseorang yang
hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4 kali
seumur hidupnya.Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypti.Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit
pada siang hari.Faktor resiko penting pada DHF adalah serotipe virus, dan
faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan predisposisi genetis.
Virus dengue yang matur terdiri dari single stranded RNA genom
(ssRNA) yang mempunyai polaritas positif. Genom ini dikelilingi oleh
Nucleocapsid icosahedral dengan diameter 30 nm.Nucleocapsid ini ditutupi
oleh suatu lipid envelope yang tebalnya 10 nm.Genom virus mengandung 3

protein struktural dan 7 protein non struktural.Protein struktural termasuk


kapsul protein yang kaya arginine dan lisin serta protein prM nonglycosylated.
Sedangkan protein non struktural dikenal sebagai NS1-7 yang mempunyai
fungsi yang berbeda.13
3. Insiden
Suatu penelitian di Jakarta oleh Sumarmo (1973-1978) mendapatkan
bahwa penderita DSS terutama pada golongan umur 1-4 tahun (46,5%),
sedang wong (1973) dari singapura melaporkan pada umur 5-10 tahun dan di
Manadoterutama dijumpai pada umur 6-8 tahun kemudian pada tahun 1983
didapatkan terbanyak pada umur 4-6 tahun.Tidak terdapat perbedaan antara
jenis kelamin tetapi kematian lebih banyak ditemukan pada anak perempuan
daripada anak laki-laki.
Jumlah penderita DBD/DHF yang mengalami renjatan berkisar antara
26-65%, dimana Sumarmo dkk.(1985) mendapatkan 63%, Kho dkk. (1979)
melaporkan 50%, Rampengan (1986) melaporkan 59,4% sedangkan WHO
(1973) melaporkan 65,45% dari seluruh penderita demam berdarah dengue
yang dirawat.
4. Patofisiologi
Patofisiologi pada Dengue Shock Syndrom ialah tejadinya peninggian
permeabilitas dinding pembuluh darah yang mendadak dengan akibat
terjadinya perembesan plasma dan elekrolit melalui endotel dinding pembuluh
darah dan masuk kedalam ruang interstitial, sehingga menyebabkan hipotensi,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia dan efusi cairan ke rongga serosa.
Pada penderita dengan renjatan berat maka volume plasma dapat
berkurang sampai kurang lebih 30 % dan berlangsung selama 24-48
jam.Renjatan hipovolemi ini bila tidak segera diatasi maka dapat
mengakibatkan anoksia jaringan, asidosis metabolik, sehingga terjadi
pergeseran ion kalium intraseluler ke ekstraseluler. Mekanisme ini diikuti pula
dengan penurunan kontraksi otot jantung dan venous pooling, sehingga lebih
lanjut akan memperberat renjatan.
Sebab lain kematian penderita DSS ialah perdarahan hebat saluran
pencernaan yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak
diatasi adekuat.
Terjadinya perdarahan ini disebabkan oleh :

a. Trombositopenia hebat, dimana trombosit mulai menurun pada masa


demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan.
b. Gangguan fungsi trombosit
c. Kelainan

system

koagulasi,

masa

tromboplastin

partial,

masa

protrombin memanjang sedangkan sebagian besar penderita didapatkan


masa thrombin norma. Beberapa factor pembekuan menurun, termasuk
factor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen.
d. Pembekuan intravaskuler yang meluas (Disseminated Intravascular
Coagulation-DIC).
5. Manifestasi Klinis
Dengue Shock Syndrome (DSS) menurut klasifikasi WHO (1975)
merupakan demam berdarah dengue derajat III dan IV atau demam berdarah
dengue dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai tingkat renjatan.
Renjatan :
Terjadinya renjatan pada DBD biasanya terjadinya pada saat atau
setelah demam menurun yaitu antara hari ke-3 dan ke-7, bahkan renjatan dapat
terjadi pada hari ke-10.
Manifestasi klinik renjatan pada anak terdiri atas :
a. Kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, tangan
dan hidung.
b. Anak semula rewel, cengeng dan gelisah lambat-laun ksadaran
menurun menjadi apati, spoor dan koma.
c. Perubahan nadi baik frekuensi maupun amplitudonya.
d. Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang.
e. Tekanan sistolik menurun menjadi 80 mmHg atau kurang.
f. Oligouri sampai anuria.
6. Diagnosis
Hingga kini diagnosis DBD/DSS masih berdasarkan atas patokan yang
telah dirumuskan oleh WHO pada tahun 1975 yang terdiri dari 4 kriteria klinik
dan 2 kriteria laboratorik dengan syarat bila criteria laboratorik terpenuhi
ditambah minimal 2 kriteria klinik (satu diantaranya ialah panas) seperti yang
telah diuraikan diatas.

Derajat I dan II disebut DHF/DBD tanpa renjatan sedang derajat III


dan IV disebut DHF/DBD dengan renjatan atau DSS.Wong dkk. (1973) juga
mengemukakan beberapa tanda dan gejala yang perlu diperhatikan dalam
diagnosis klinik penderita dengue shock syndrome, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Clouding of sensorium
Tanda-tanda hipovolemia, seperti akral dingin, tekanan darah menurun
Nyeri perut
Tanda-tanda perdarahan diluar kulit, dalam hal ini seperti epistaksis,

hematemesis, melena, hematuri, dan hemoptisis


5. Trombositopenia berat
6. Adanya pleural efosion pada toraks foto
7. Tanda-tanda miokarditis pada EKG
Diagnosa (Kriteria WHO) :
Klinis :
1.
2.
3.
4.

Panas 2 7 hari
Tanda-tanda perdarahan, paling tidak tes RL yang positif
Adanya pembesaran hepar
Gangguan sirkulasi yang ditandai dengan penurunan tekanan darah, nadi
meningkat dan lemah serta akral dingin

Laboratorium :
1. Terjadi hemokonsentrasi (PCV meningkat > 20 %)\
2. Thrombocytopenia (Thrombocyte <100.000/cmm)
Dengan merujuk kepada pengertian dari DHF Shock (DSS), yaitu demam
berdarah dengue yang disertai dengan gangguan sirkulasi, terdiri dari, maka
dapat diperoleh pula kriteria klinis DSS sebagai berikut
DHF grade III :
1.
2.
3.
4.

Tekanan darah sistolik < 80 mmHg


Tekanan nadi < 20 mmHg
Nadi cepat dan lemah
Akral dingin

DHF grade IV :
1. Shock berat
2. Tekanan darah tidak terukur, nadi tidak teraba
7. Penatalaksanaan

Pada dasarnya bersifat suportif,yaitu mengatasi kehilangan cairan


plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
perdarahan. Pasien DB dapat berobat jalan,sedangkan pasien DBD dirawat di
ruang perawatan biasa, tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan
perawatan intensif. Fase kritis pada umunya terjadi pada hari ke-3.
Rasa haus dan keadaan dehidrasi dapat timbul akibat demam
tinggi,anoreksia dan muntah. Pasien perlu diberi minum banyak,50ml/kgBB
dalam 4-6 jam pertama berupa air teh dengan gula,sirup,susu,sari buah atau
oralit. Setelah keadaan dehidrasi dapat diatasi,berikan cairan rumatan 80100ml/kgBB dalam 24 jam berikutnya. Hipererksi dapat diatasi dengan
antipiretik,dan bila perlu surface cooling dengan kompres es dan alkohol
70%.Parasetanol direkomendasikan untuk mengatasi demam dengan dosis 1015mg/kgBB/kali.
Segera beri infus kristaloid (Ringer Laktat atau NaCl 0,9% ) 20
ml/kgBB secepatnya( diberikan dalam lobus selama 30 menit) dan oksigen 2
liter/menit. Untuk DSS berat (DBD derajat IV, nadi tidak teraba dan tensi tidak
terukur, diberikan ringer laktat 20 mg/kgBB bersama koloid). Observasi tensi
dan nadi tiap 15 menit, hematokrit dan trombosit tiap 4-6 jam. Periksa
elektrolit dan gula darah.
Apabila dalam waktu 3 menit syok belum teratasi, tetesan ringer laktat
belum dilanjutkan 20 ml/kgBB, ditambah plasma (fresh frozen plasma) atau
koloid (dekstran 40) sebanyak 10-20 ml/kgBB, maksimal 30 ml/kgBB (koloid
diberikan pada jalur infus yang sama dengan kristaloid, diberikan secepatnya.
Observasi keadaan umum, tekanan darah,keadaan nadi tiap 15 menit, dan
periksa hematokrit tiap 4-6 jam. Koreksi asidosis,elektrolit dan gula darah.
1. DBD Tanpa Syok (Derajat I dan II)
a. Medikamentosa
Antipiretik
Kortikosteroid dan Antibiotik diberikan pada Ensefalopati Dengue
b. Suportif
Mengatasi kehilangan cairan plasma karena peningkatan permeabilitas

kapiler pembuluh darah


Cairan intravena diberikan apabila
Anak muntah terus menerus
Anak tidak mau minum
Demam tinggi

Dehidrasi
Pada pemriksaan darah tepi terdapat peningkatan hematokrit

2. DBD Disertai Syok (Dengue Syok Sindrom(DSS)/Derajat III, IV)


Penggantian Volume plasma segera
Cairan IV Bolus RL 10-20 ml/KgBB dalam 30 menit
Bila Syok belum teratasi berikan
RL 20 ml/KgBB + Koloid 20-30 ml/KgBB/Jam Max 1500 ml/hari

Pemberian cairan 10 ml/KgBB/Jam tetap diberikan ! Jam Paska


Syokditurunkan 7 ml/KgBB/Jam diturunkan 5ml/KgBB/Jam

sampai 3 ml/KgBB/Jam apabila TTV dan Diuresis baik


Monitoring Urin 1 ml/KgBB/Jam
Bcairan tidak perlu diberikan 48 pasca syok teratasi
Oksigen 2-4 L/Menit
Koreksi Asidosis Metabolik
Tranfusi Darah

e. Penanganan perdarahan klinis


Setelah pemberian kristaloid + Koloid, syok menetap dan Ht turun

Curuga terdapat perdarahanBerikan darah segar 10 ml/KgBB


Apabila Hematokrit tetap >40% berikan darah dalam volume

kecil
Fresh Frozen Plasma + Trombosit untuk gangguan koagulasi /
Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID) pada syok berat dengan

perdarahan masif.
f. Trasfusi Darah
Whole blood
Indikasi pemberian trombosit

Klinis terdapat perdarahan


Jumlah trombosit rendah bukan indikasi
Suspensi trombosit tidak pernah diberikan sebagai
profilaksis

g. Pengawasan
TANDA KLINIS
- Syok teratasi dengan baik
- Pembesaran Hati membaik
- Perdarahan Saluran cerna membaik
- Menilai Hasil pengobatan
LABOLATORIUM
- Monitoring kadar Ht, Hemoglobin, Trombosit,
- Balans cairan (jumlah cairan yang masuk disesuaikan dengan
diuresis)
- Cross match bila diperlukan Transfusi darah
h. Factor Risiko Komplikasi
- Ensefalopati dengue dengan atau tanpa syok
- Kelainan ginjal akibat Syok berkepanjangan
- Edema Paru Akibat Overloading cairan
i. Komplikasi terjadi karena :
- Keterlambatan datang berobat
- Keterlambatan/ kesalahan diagnosis
- Kurang mengenal tanda DBD yang tidak lazim
- Kurang mengenal tanda kegawatan
8. Komplikasi
1. Perdarahan massif
2. Kegagalan pernapasan akibat udema parau atau kolaps paru
3. Ensefalopati dengue
4. Kegagalan jantung
9. Indikasi Memulangkan Pasien
1. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
2. Nafsu makan membaik
3. Tampak perbaikan secara klinis
4. Hematokrit stabil
5. Tiga hari setelah syok teratasi
6. Jumlah trombosit >50.000/ml
7. Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau
asidosis)
10. Pencegahan
Pengembangan vaksin untuk dengue sangat sulit karena
keempat

jenis

serotipe

virus

bisa

mengakibatkan

penyakit.Perlindungan terhadap satu atau dua jenis serotipe ternyata


meningkatkan resiko terjadinya penyakit yang serius.

Saat ini sedang dicoba dikembangkan vaksin terhadap keempat


serotipe sekaligus.sampai sekarang satu-satunya usaha pencegahan
atau pengendalian dengue dan dhf adalah dengan memerangi nyamuk
yang mengakibatkan penularan. A. aegypti berkembang biak terutama
di tempat-tempat buatan manusia, seperti wadah plastik, ban mobil
bekas dan tempat-tempat lain yang menampung air hujan. nyamuk ini
menggigit pada siang hari, beristirahat di dalam rumah dan meletakkan
telurnya pada tempat-tempat air bersih tergenang.
Pencegahan dilakukan dengan langkah 3M :
1. menguras bak air
2. menutup tempat-tempat

yang

mungkin

menjadi

tempat

berkembang biak nyamuk


3. mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air.
Di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan
insektisida yang membunuh larva nyamuk seperti abate. Hal ini bisa
mencegah perkembangbiakan nyamuk selama beberapa minggu, tapi
pemberiannya harus diulang setiap beberapa waktu tertentu.di tempat
yang sudah terjangkit dhf dilakukan penyemprotan insektisida secara
fogging, tapi efeknya hanya bersifat sesaat dan sangat tergantung pada
jenis insektisida yang dipakai. Di Samping itu partikel obat ini tidak
dapat masuk ke dalam rumah tempat ditemukannya nyamuk
dewasa.Untuk perlindungan yang lebih intensif, orang-orang yang tidur
di siang hari sebaiknya menggunakan kelambu, memasang kasa
nyamuk di pintu dan jendela, menggunakan semprotan nyamuk di
dalam rumah dan obat-obat nyamuk yang dioleskan.
11 Prognosis
Prognosa penderita tergantung dari beberapa faktor :
1. Sangat erat kaitannya dengan lama dan beratnya renjatan, waktu,
metode, adekuat tidaknya penanganan
2. Ada tidaknya rekuren syok yang terutama terjadi dalam 6 jam pertama
pemberian infuse dimulai
3. Panas selama renjatan

4. Tanda-tanda serebral

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilmu kesehatan anak FK UI jilid 2
2. Buku saku Pelayanan kesehatan anak dirumah sakit WHO
3. WHO. 2011. Dengue in the Western Pacific Region.
4. Hasan, Rusepno. 2000, Buku Kuliah 2, Ilmu Kesehatan Anak, Infomedika,
Jakarta.
5. Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI 2008
6. Pedoman Pelayanan Medis 2010