Anda di halaman 1dari 25

UAS Psikologi Bencana

Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS


Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kerukunan beragama menjadi prasyarat penting bagi bangsa
Indonesia untuk melakukan pembangunan. Pemerintah telah berusaha untuk
mencegah dan mengatasi potensi konflik antar umat beragama yang terjadi
pada saat era Orde Baru dengan memperkenalkan konsep Trilogi Kerukunan
Umat Beragama yang meliputi kerukunan intern umat seagama, kerukunan
antar umat yang berbeda agama dan kerukunan umat beragama dengan
pemerintah (Depag RI, 1989 dalam Haryanto, 2014). Namun, dengan
seiringnya waktu konsep Trilogi Kerukunan Umat Beragama ini tidak ampuh
lagi. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kerusuhan antar umat
beragama, sehingga masyarakat melalui komunitasnya sendiri mencari
bentuk kerukunan beragama yang didapatnya melalui kearifan lokal yang
dianut oleh anggota komunitasnya sendiri.
Model kerukunan beragama dapat ditemui pada kearifan lokal
masyarakat dalam berbagai bentuk tradisi dan norma sosial. Kearifan lokal
tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang

telah

berlangsung lama dan dalam perkembangannya menjadi tradisi-tradisi.


Model kerukunan beragama ini ditemukan pada masyarakat desa yang
terletak di lereng pegunungan Tengger, dimana masyarakatnya adalah
multiagama. Namun demikian, masyarakat tersebut tetap memelihara
kerukunan dan keharmonisan beragama, baik intern maupun antarumat
beragama. Hal ini karena masyarakat Tengger memiliki adat tradisi yang
mampu menyatukan dan menguatkan solidaritas di antara mereka sendiri
melampaui

ikatan-ikatan

keagamaan

dan

membuat

mereka

dapat

mengembangkan diri menuju ketangguhan desa mereka.


Dengan terciptanya suatu hubungan yang harmonis dan dinamis serta
rukun dan damai di antara sesama umat beragama akan memperkokoh
1

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

persatuan dan kesatuan bangsa serta meningkatkan amal untuk bersamasama membangun masyarakat sejahtera lahir dan batin.
1.2 Data Real Tentang Gunung Bromo

Gambar 1.1 Gunung Bromo dilihat dari Pos PGA di Desa Ngadisari
(Sumber : PVMBG, Kementerian ESDM)

Nama Gunung Bromo diambil dari bahasa Sansekerta yaitu Brahma


(salah seorang Dewa Utama Hindu). Gunung Bromo merupakan gunung api
yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur.
Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo mempunyai panorama yang
indah dengan lautan pasirnya yang sangat luas.
Gunung Bromo ini berlokasi secara goegrafi : 7 0 56 30 LS dan 1120
57 8 BT dan secara administrasi Cemoro Lawang, Desa Ngadisari
Kecamatan

Sukapura

Kabupaten

Probolinggo

Propinsi

Jawa

Timur

(www.vsi.esdm.go.id). Ketinggian Gunung Bromo ini dari muka air laut 2.329
meter di atas permukaan laut dan dari dasar kaldera adalah 200 m
(ketinggian dasar kaldera 2.100 meter di atas permukaan laut dan dikenal
sebagai daerah lautan pasir, dengan tipe gunungapi adalah kerucut sinder
dalam kaldera (www.vsi.esdm.go.id).
Dari sumber yang lain (Rendra, Nugraha: 2012) mengatakan bahwa
Gunung Bromo ini mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan
2

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

laut, Gunung Bromo juga mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah
800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah
bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.
Bentuk tubuh Gunung ini bertautan antara lembah dan ngarai dengan
lakdera atau lautan pasir seluas 10 km 2. Gunung Bromo berada dalam empat
wilayah yakni kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten
Malang dengan masyarakatnya di sebut Masyarakat Suku Tengger. Mereka
hidup di lereng dan lembah Gunung Bromo ini sangat memegang adat
istiadat nenek moyang mereka dan menjadikan kepercayaan serta aturan
tersendiri dalam bersosial dan bermasyarakat.

1.3 Peta Wilayah: Wilayah terdampak (pra dan pasca bencana)


Berdasarkan data geologi dan sejarah kegiatan Gunung Bromo, maka
potensi bahaya gunung api di kawasan Gunung Bromo dapat digambarkan
melalui Peta Kawasan Rawan Bencana. Peta ini menggambarkan daerah
dengan tingkat kerawanan yang berbeda dan petunjuk penyelamatan diri.
Menurut Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan
Gunung Api (2007) kondisi geologi dan risiko yang mungkin terjadi saat
letusan gunung api yaitu:
a. KRB III (Kawasan Rawan Bencana III)
Kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lahar dan lava,
lontaran atau guguran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan lumpur panas,

aliran panas dan gas beracun.


Kawasan yang memiliki tingkat resiko tinggi (sangat dekat dengan
sumber letusan. Pada saat terjadi aktivitas magmatis, kawasan ini akan
dengan cepat terlanda bencana, makhluk hidup yang ada di sekitarnya

tidak mungkin untuk menyelamatkan diri


b. KRB II (Kawasan Rawan Bencana II)
Kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lahar dan lava,
lontaran atau guguran batu pijar, hujan abu lebat, hujan lumpur
(panas) atau aliran panas dan gas beracun
3

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

Kawasan yang memiliki tingkat resiko sedang (berjarak cukup dekat


dengan sumber letusan, resiko manusia untuk menyelamatkan diri
saat letusan cukup sulit, kemungkinan untuk terlanda bencana sangat

besar)
c. KRB I (Kawasan Rawan Bencana I)
Kawasan yang berpotensi terlanda banjir lahar dan tidak menutup
kemungkinan dapat terkena perluasan awan panas dan aliran lava.
Selama letusan membesar, kawasan ini berpotensi tertimpa material

jatuhan berupa hujan abu lebat dan lontaran batu pijar


Kawasan yang memiliki tingkat resiko rendah (berjarak cukup jauh dari
sumber letusan, melanda kawasan sepanjang aliran sungai yang
dilaluinya untuk menyelamatkan sehingga resiko terlanda bencana
masih dapat dihindari
Berdasarkan pada kriteria tersebut diatas maka Kawasan Rawan

Bencana Gunung Bromodi Kabupaten Probolinggo dibedakan menjadi tiga


tipologi antara lain:
Tabel 1.1 KRB Erupsi Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo
Kawasan Rawan
Bencana (KRB)
KRB III

Kecamatan
Sukapura

KRB II

Sumber
Sukapura

Sumber
KRB I

Sukapura

Desa
Ngadisari
Sariwani
Ngadirejo
Ngadas
Ledokpmbo
Wonokerto
Jetak
Wonotoro
Ngadisari
Ngadirejo
Sariwani
Ledokombo
Wonokerso
Ngepung
Sapikerep
Sariwani
4

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

Kawasan Rawan
Bencana (KRB)

Kecamatan

Kuripan
Wonomerto

Desa
Sukapura
Wringinanom
Menyono
Jrebeng
Patalan

Sumber: BPBD Kabupaten Probolinggo (2015)

Gambar 1.2 Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Bromo


Sumber: BPBD Kabupaten Probolinggo (2015)

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

Gambar 1.3 Peta Kawasan Rawan Bencana Erupsi Gunung Bromo


Sumber: BPBD Kabupaten Probolinggo (2015)

Gambar 1.4 Rencana Koordinat Titik Kumpul dan Shelter


Erupsi Gunung Bromo
Sumber: BPBD Kabupaten Probolinggo (2015)
1.4 Kondisi Demografi: Perempuan dan Laki-laki
6

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

a.
b.
c.
d.

Gunung Bromo dikelilingi oleh 4 kabupaten yaitu:


Kabupaten Probolinggo dengan 24 kecamatan
Kabupaten Pasuruan dengan 24 kecamatan
Kabupaten Malang dengan 33 kecamatan
Kabupaten Lumajang dengan 21 kecamatan
Namun kabupaten yang termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana Tipe III
adalah Kabupaten probolinggo dengan pertumbuhan penduduknya 1,01%
dan kepadatan penduduknya sebagaimana tercantum di bawah ini.
Tabel 1.2 Kepadatan penduduk pada desa KRB Gunung Bromo

No

Desa

Kecamatan
Sukapura
1.
Ngadisari
2.
Sariwani
3.
Sapikerep
4.
Wonokerto
5.
Ngadirejo
6.
Ngadas
7.
Jetak
8.
Wonotoro
Kecamatan
Sumber
9.
Ledokomb
o
10.
Wonokerso

Jumlah
Pendudu
k (jiwa)

Luas
Wilaya
h
(km2)

Kepadata
n
Penduduk
(jiwa/km2)

Kela
s

Klasifikasi
Kerentana
n

1605
1543
3004
1371
1549
678
766

7,75
6,30
15,27
3,77
8,54
9,05
1,62
4,61

200
250
184
343
175
75
369
160

1
1
1
1
1
1
1
1

Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah
Rendah

2634

21,30

124

Rendah

2511

9,37

268

Rendah

Sumber: BPBD Kabupaten Probolinggo (2015)

Tabel 1.3 Data Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin


Jumlah
Jumlah
No
Desa
rumah
Jumlah Pria
wanita
Tangga
7

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

1.
Ngadisari
507
2.
Sariwarni
458
3.
Kedasih
427
4.
Pakel
434
5.
Ngepung
581
6.
Sukapura
1172
7.
Sapikerep
960
8.
Wonokerto
457
9.
Ngadirejo
532
10.
Ngadas
237
11.
Jetak
201
12.
Wonotoro
239
Sumber: BPS Kabupaten Probolinggo

751
804
771
783
874
902
861
854
1032
1058
1919
1939
1324
1467
658
661
737
762
323
328
297
307
354
350
(2015, telah diolah

kembali)

1.5 Kondisi Sosial Masyarakat


Masyarakat sekitar Gunung Bromo sudah dapat berinteraksi sosial
dengan dunia luar, yang artinya mereka tidak lagi mempermasalahkan
perbedaan ras, suku dan ajaran. Lebih tepatnya interaksi sosial ini mereka
nyatakan degan adanya kedekatan batin diantara mereka dalam wujud
(digilib.uinsby.ac.id):
a. Kerja Bakti, yaitu suatu aktifitas tolong menolong untuk menyelesaikan
suatu pekerjaan yang bermanfaat bagi kepentingan umum, misalnya
membangun jalan, memperbaiki saluran air, sarana desa, membersihkan
sekitar mesjid dan lain-lain
b. Sinoman, yaitu aktifitas tolong menolong dalam merayakan suatu hajat
atau pesta perkawinan, kelahiran, sunatan dan hajat lainnya
c. Sayan, yaitu aktifitas tolong menolong untuk menyelesaikan kegiatan di
sekitar rumah hajat dari salah satu penduduk seperti mendirikan rumah,
mengangkut hasil pertanian dan sebagainya
d. Nglawuh, yaitu aktifitas tolong menolong yang bersifat spontanitas
seperti adanya bencana alam, mengunjungi orang sakit, melayat orang
meninggal dan sebagainya
Adapun ciri-ciri kehidupan sosial dari Masyarakat ini adalah taat
melaksanakan tradisi setempat (seperti selamatan, perayaan hari raya besar
dan upacara adat); setiap orang selalu memakai sarung dikarenakan suhu
udara yang dingin; setiap rumah memiliki ruang perapian yang berfungsi
8

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

sebagai ruang komunikasi untuk keluarga, tetangga dan tamu-tamu;


kepercayaan yang kuat terhadap benda-benda gaib, tempat keramat dan
roh-roh halus; sabda pandita ratu (yaitu tunduk dan patuh kepada pimpinan)
(digilib.uinsby.ac.id).
1.6

Kondisi Ekonomi Masyarakat


Wilayah Kabupaten Probolinggo adalah daerah pantai yang sangat

asri seperti Kecamatan Tongas, Sumberasih, Dringu, Pajarakan, Kraksaan,


Paiton dan terdapat Wisata Pantai Pasir Putih dengan Panorama Ikan dan
Trumbu

Karang.

Sedangkan

daerah

pegunungan

berpotensi

untuk

pengembangan sektor perkebunan dengan berbagai komoditinya.


Tabel 1.5 Persentase Mata Pencaharian Penduduk Kab.Probolinggo
Pekerjaan

Persentase

Petani

46,2%

Buruh Tani

37,0%

Nelayan

0,80%

Petani Tambak

2,0%

Berdagang / Pengusaha

6,5%

Buruh Industri/Bangunan/Pertambangan

2,7%

PNS / ABRI

2,2%

Pengrajin

0,4%

Pensiun

0,6%

Lain lain

1,6%
(Sumber: Profil Kab. Probolinggo)

Mata pencaharian masyarakat Sekitar Gunung Bromo mayoritas


adalah bertani untuk ladang sendiri maupun menggarap lahan petani lain
yang membutuhkan bantuan. Hasil pertanian yang ditanam adalah kentang,
kobis (kol), bawang putih, bawang prey. Dalam menggarap lahan
pertaniannya masyarakat setempat melakukan gotong royong bersama
9

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

keluarganya maupun orang lain dan pemberian imbalan jerih payahnya


setelah panen. Bertani juga dibantu dari pihak wanitanya (istri), seperti
mencari

rumput,

mencangkul,

menanam,

mencari

kayu

bakar

dan

kebanyakan dari mereka menyukai rokok.


Pemasaran hasil sayur mayur penduduk Tengger tidak mengalami
kesulitan, ada diantara mereka yang menjual secara lokal pada pembeli
yang sengaja datang ke dusun mereka atau ada pula yang menjualnya ke
kota seperti Malang, Lumajang, bahkan ke Surabaya.
Selain bertani, sisanya mata pencaharian masyarakat tersebut adalah
pegawai negeri, menyewakan rumah atau kamar untuk para wisatawan,
pedagang seperti membuka toko, warung atau beternak ayam, kambing,
lembu sebagai upaya pemutaran kebutuhan hidup dan kepentingan lainnya.
Keadaan ekonomi masyarakat Tengger bisa dikatakan sudah cukup
baik, terbukti dengan keadaan rumahnya yang mayoritas sudah memenuhi
target kesehatan, tidak berada di daerah-daerah terpencil, dan bahkan
sebagian dari mereka sudah mempunyai mobil, sepeda motor, dan rumah
bagus yang dilengkapi dengan parabola di atasnya (digilib.uinsby.ac.id).
Disamping itu kekuatan ekonomi masyarakatnya juga bisa diukur dari
kemampuan

menyediakan

biaya-biaya

upacara

adat

yang

sering

dilaksanakan dan memerlukan biaya yang cukup besar, seperti Hari Raya
Kasado, Unan-Unan, Selamatan Pernikahan, Sunatan dan Kematian
(digilib.uinsby.ac.id) Salah satu contohnya adalah dalam memperingati
pernikahan bagi mereka yang mampu dapat menyembelih lembu sampai
empat

ekor.

Kemapanan

ekonomi

penduduknya

juga

terlihat

dari

kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersiernya seperti radio, televisi,


parabola, sepeda motor, mobil Jeep dan truck.
1.7

Kondisi Kehidupan Budaya Masyarakat


Masyarakat Tengger memiliki sifat khas, beragama Hindu-Budha yang

terpadu dalam adat kepercayaan tradisional dan mampu mempertahankan


nilai-nilai tradisionalnya hingga sekarang. Kehidupan yang sederhana, penuh
dengan suasana kedamaian sebagai rakyat petani di lereng-lereng
10

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

pegunungan yang curam, namun secara bertahap telah ikut menikmati hasil
kemajuan teknologi modern dala batas-batas tertentu.
Mayoritas penduduknya beragama Islam 95.4%, Kristen/Protestan 1,46%,
Katolik

1,45%,

Budha

0.08%,

serta

1,5%

beragama Hindu

tersebar

di

kecamatan Sumber dan Sukapura. Hal menarik yang jarang terjadi di daerah

lain diluar masyarakat tengger lebih-lebih di perkotaan, yaitu kebiasaan


penduduknya mempercayakan segala sesuatu kepada Kepala desanya, atau
Aparat Desa yang lain (kamitua/kampung). Apa yang dikatakan kampung
itulah yang harus dilakukan (sabda pandita ratu). Penyerahan masalah
bukan hanya pada masalah desa saja, tetapi terhadap masalah pribadi
(pertikaian keluarga), sehingga jarang sekali terjadi perselisihan antar
keluarga dan tetangga atau bahkan harus dilarikan ke Pengadilan Agama
maupun ditangani oleh pihak berwajib.
Diantara budaya yang dimiliki oleh masyarakat suku Tengger sebagai
masyarakat dominan sekitar Gunung Bromo dan menjadikannya berbeda
dengan budaya masyarakat lain adalah yang berkaitan dengan upacara adat
(ketaatan beragama) baik yang berbentuk hari raya atau upacara lainnya.
Upacara-upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Tengger pada
hakekatnya adalah untuk memohon keselamatan di dunia termasuk
kelangsungan hidup dalam perkawinan, bertetangga, menempati rumah,
keberhasilan dalam bertani, pembersihan dosa dan sebagainya. Sedangkan
keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan
negara untuk dapat masuk surga atau moksa (digilib.uinsby.ac.id).
Berbagai upacara adat di Tengger (Sutarto, Ayu: 2006):
a. Upacara Kasada. Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau
Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada adalah hari raya kurban
orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14,15 atau 16 bulan
Kasada yakni pada saat bulan purnama. Hari raya kurban ini merupakan
pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma
alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan
Jaka Seger yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi
kesejahteraan ayah, ibu serta para saudaranya. Kasodoan merupakan
11

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

sarana komunikasi antara orang Tengger dengan Hyang widi Wasa dan
roh-roh halus yang menjaga Tengger.
b. Upacara Karo. Perayaan Karo atau hari raya Karo pada bulan ke-2
kalender Tengger (bulan Karo) sangat mirip dengan perayaan Lebaran
yang dirayakan umat Islam. Perayaan yang berlangsung selama satu
sampai dua minggu ini dilakukan orang Tengger dengan saling
berkunjung, baik ke rumah sanak saudara maupun tetangga, untuk
memberikan ucapan selamat Karo dan bermaaf-maafan.
Upacara Karo ini diyakini sebagai hasil kesepakatan Kanjeng Nabi dan
Ajisaka untuk mengenang gugurnya dua abdi bernama Setya atau Alif dan
Satuhu atau Hana
c. Upacara Unan-Unan. Upacara ini diselenggarakan sekali dalam sewindu
(5 tahun) dengan maksud untuk membersihkan desa dari gangguan
makhluk halus dan menyucikan para arwah yang belum sempurna agar
dapat kembali ke alam asal yang sempurna. Dalam upacara ini orang
Tengger menyembelih kerbau sebagai kurban
d. Upacara Entas-Entas. Upacara ini dimaksudkan untuk menyucikan roh
orang yang telah meninggal dunia pada hari ke-1000 agar masuk surga.
Upacara ini memerlukan biaya sangat mahal karena harus menyembelih
kerbau dengan sebagian di makan dan sebagian lainnya dikurbankan
e. Upacara Pujan Muben. Upacara ini diselenggarakan pada bulan ke-9
sesudah bulan purnama, dirayakan oleh semua masyarakat Tengger
sambil memukul ketipung mulai dari batas desa bagian timur menggeliling
empat penjuru desa di akhiri dengan makan bersama di rumah dukun.
Makanan yang dihidangkan berasal dari sumbangan wagra desa dan
maksud upacara ini adalah untuk membersihkan desa dari gangguan dan
bencana
f. Upacara Kelahiran. Terdapat rangkaian dari enam macam upacara yang
berkait, yaitu mulai dari bayi masih berada dalam kandungan telah
berumur tujuh bulan, diadakan upacara nyayut atau sesayut, upacara
sekul brokohan (setelah lahir dengan selamat), upacara cuplak puser
(puput pusat), selamatan jenang abang dan jenang putih (pemberian
nama), upacara kekerik (setelah bayi berumur 40 hari), upacara among12

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

among (setelah bayi berumur 44 hari). Yang kesemuanya dimaksudkan


agar bayi terbebas dari gangguan roh jahat
g. Upacara Tugel Kuncung atau tugel gombak. Adalah upacara yang
diadakan ketika anak mereka berusia 4 tahun dengan memotong rambut
bagian depan agar mendapat keselamatan dari Hyang Widhi Wasa
h. Upacara Perkawinan. Perkawinan masyarakat Tengger dilaksanakan
berdasarkan perhitungan waktu yang ditentukan oleh dukun yang harus
sesuai dengan saptawara, pancawara dan sandang (pakaian), pangan
(makanan), lara (sakit), dan pati (kematian) kedua calon pegantin
i. Upacara Kematian. Diselenggarakan secara gotong royong. Para
tetangga memberi bantuan perlengkapan dan keperluan untuk upacara
penguburan
j. Upacara Barikan. Upacara yang diadakan setelah terjadi bencana alam
yang mempengaruhi kehidupan orang Tengger. Jika kejadian-kejadian
alam tersebut adalah pertanda buruk maka upacara barikan diadakan
dengan maksud untuk keselamatan dan menolak bahaya yang akan
datang, namun jika adalah pertanda baik, maka upacara barikan juga
tetap diadakan sebagai tanda terima kasih kepada Hyang Maha Agung.
1.8 Fakta Tentang Erupsi Gunung Bromo Dan Dampaknya
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Bromo terjadi sejak tanggal 30
Oktober 2015, penutupan kawasan puncak dilakukan pada tanggal 13
November 2015 setelah terjadi aktivitas kegempaan yang terus meningkat.
Aktivitas erupsi Gunung Bromo mengalami fluktuasi dan ditetapkan menjadi
level III / Siaga sejak tanggal 4 Desember 2015 oleh Badan Geologi dan
radius aman ditetapkan di luar jarak 2,5 km dari pusat erupsi Gunung Bromo
dan kegiatan wisata di Bromo resmi ditutup. Selama peningkatan status
tersebut Gunung Bromo terus mengalami tremor dan menyemburkan
material vulkanik pekat dengan ketinggian 200 meter dari kawah (Faisol &
Hardoko, 4 Desember 2015).
Namun beberapa bulan kemudian tepatnya pada tanggal 26 Februari
2016, berdasarkan data pengamatan dan analisis data kegempaan, Gunung
13

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

Bromo diturunkan dari level III / Siaga menjadi level II / Waspada. Dengan
diturunkannya status aktivitas erupsi, maka penduduk dan wisatawan
diizinkan beraktivitas di luar radius 1 km dari kawah aktif.
Dampak dialami selama erupsi Gunung Bromo ini adalah (Rencana
Kontijensi Gunung Bromo 2014 dalam BPBD Kabupaten Probolinggo, 2015):
a. Terhadap Sarana dan Prasarana
No
.
1.

Sarana dan
Prasarana
Jaringan jalan
dan jembatan
Sumber dan

2.

jaringan air
bersih

3.

4.
5.

Listrik
Rumah
penduduk
Jaringan irigasi

Kerusakan
Tertutup abu vulkanik

Tingkat
Kerusakan
Ringan

Sumber mata air tertutup


material vulkanik dan pipa
distribusi air bersih mengalami
kerusakan
Kerusakan jaringan listrik
ataupun tiang listrik
Kerusakan pada material atap

Sedang

Sedang

rumah dikarenakan material

Sedang

vulkanik
Tertutup material vulkanik

Sedang

b. Terhadap Sektor Ekonomi


No
.

Kegiatan

Kerusakan

Tingkat
Kerusakan

Tertutupnya kegiatan wisata


1.

Kegiatan wisata

pada lokasi Gunung Bromo di

Tinggi

desa Ngadisari Kec.Sukapura


Terhentinya kegiatan jasa
2.

3.

Jasa akomodasi

akomodasi dikarenakan

pariwisata

ditutupnya kegiatan wisata di

Pertanian

kawasan rawan bencana


Terhentinya kegiatan pertanian

Sedang

Tinggi
14

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

dikarenakan material vulkanik


termasuk

dari Gunung Bromo yang

perkebunan dan

tersebar di seluruh 10 desa

peternakan

yang berisiko terdampak erupsi


Gunung Bromo

BAB II
KONSEP COMMUNITY DEVELOPMENT DAN LOCAL WISDOM
2.1

Konsep Community Development


Konsep

community

development

atau

yang

dikenal

dengan

pengembangan masyarakat telah banyak dirumuskan dalam berbagai


definisi. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa community development
didefisinikan sebagai berikut:
as the process by which the efforts of the people themselves are
united with those governmental authorities to improve the economic,
social, and cultural condition of communities, to intergrades these
communities into the life of nations and the enable them to contribute
fully to national progress (Mangatas dalam Harefa, 2010)
Dalam definisi tersebut ditegaskan bahwa suatu pembangunan masyarakat
merupakan suatu proses, dimana segala potensi yang dimiliki masyarakat
diintergrasikan dengan sumberdaya yang dimiliki oleh pemerintah untuk
memperbaiki kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan mengintergasikan
masyarakat dalam konteks berkehidupan berbangsa serta memberdayakan
mereka agar mampu memberikan kontribusi secara penuh untuk mencapai
15

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

kemajuan pada level national. Sementara US international Coorperation


Administration mendeskripsikan community development sebagai :
Process of social action in which the people of community organized
themselves for planing action, define their common and individual
needs and probblems; make group and individual plans with maximum
of reliance upon communities resources and supplement the resources
when necessary with sevices and material from goverment and non
goverment agiencies outside from communities
Konsep ini lebih menekankan bahwa konsep pembangunan masyarakat
merupakan aksi sosial dimana masyarakat mengorganisir diri untuk
merencanakan apa yang akan dilaksanakan, merumuskan masalah dan
kebutuhankebutuhanbaik

secara

individu

maupun

dalam

kelompok

masyarakat. Segala rencana yang telah dirumuskan tersebut didasari atas


kepercayaan yang tinggi untuk memanfaatkan segala sumber daya yang
dimiliki dan memanfaatkan bantuan teknis dari pemerintah maupun di
lembaga lembaga non pemerintah di luar masyarakat itu sendri.
Community Development adalah kegiatanpembangunan komunitas yang
dilakukan secara sistematis, terencana dandiarahkan untuk memperbesar
akses komunitas gunamencapaikondisi sosial,ekonomi, lingkungan dan
kualitas kehidupan yang lebih baik (Rudito dan Famiola, 2007)
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa community
development adalah :
a. Pembangunan

masyarakat

merupakan

suatu

proses

yang

berkesinambungan. Artinya kegiatan dilaksanakan secara terorganisir dan


dilaksanakan tahap demi tahap . Dimulai dari tahap perencanaan, sampai
kepada tindakan tindak lanjut dan evaluasi (follow up activity and
evaluation).
b. Pembangunan masyarakat untuk memperbaiki (improve) kondisi sosial,
ekonomi dan kebudayaan masyarakat untuk mencapai kwalitas hidup
yang lebih baik.
16

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

c. Pembangunan

masyarakat

memfokuskan

kegiatannya

melalui

pemberdayaan potensi yang dimiliki masyarakat untuk memenuhi


kebutuhan mereka sehingga terwujud prinsip to help community for
themselves.
d. Pembangunan masyarakat yang berdasarkan pada prinsip kemandirian.
Artinya partisipasi aktif dalam bentuk aksi bersama sama untuk
memecahkan

permasalahan

dan

memenuhi

kebutuhan

dilakukan

berdasarkan pada segala potensi yang dimiliki masyarakat.


e. Pembangunan masyarakat yang berdasarkan pada musyawarah dan
mufakat masyarakat. Artinya masyarakatlah yang merupakan aktor utama
dalam melaksanakan setiap kegiatan pembangunan sekaligus sebagai
penerima manfaat dari kegiatan tersebut.
1 Dalam wacana pembangunan konsep Communiy Development selalu
terhubung dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan
keadilan. Pada dasarnya pemberdayaan diletakan pada tataran
individu. Sehubungan dengan hal itu, Craig dan Mayo (dalam Hafera,
2010) menyebutkan bahwa partisipasi merupakan unsur yang sangat
penting dalam pembangkitan kemandirian dan proses pemberdayaan
dimana orangorang harus terlibat secara aktif dalam proses
sehingga lebih dapat memperhatikan perkembangan yang dialami
untuk memperoleh rasa percaya diri, memiliki harga diri, pengetahuan
untuk memiliki dan mengembangkan pengetahuan baru.
2
2.2

Konsep Local Wisdom


Secara etimologis, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata:

kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M.
Echols dan Hassan Syadily, lokal berarti setempat, sedangkan wisdom
(kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom
(kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat
(local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam
dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal atau sering disebut
local wisdom dapat juga dipahami sebagai usaha manusia dengan
17

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap


sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu (Ernawi
2009:7). Pengertian di atas, disusun secara etimologi, dimana wisdom
dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal
pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap
sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi.
Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman
Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai
keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam
arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut
secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal
tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Secara
konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan
manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku
yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang
dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama
dan bahkan melembaga.
2.3

Konsep Kerukunan Umat Beragama


Menurut Departemen Agama RI, 1989 (dalam Haryanto, 2014)

mengatakan kerukunan umat beragama adalah terciptanya suatu hubungan


yang harmonis dan dinamis serta rukun dan damai di antara sesama umat
beragama di Indonesia, yakni hubungan harmonis antar umat beragama,
antara umat yang berlainan agama dan antara umat beragama dengan
pemerintah dalam usaha memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa
serta meningkatkan amal untuk bersama-sama membangun masyarakat
sejahtera lahir dan batin. Prinsip kerukunan umat beragama ini dalam
konteks keIndonesiaan dipakai sebagai kerangka untuk menjaga stabilitas
pembangunan nasional.
Kerukunan hidup beragama menunjukkan pola hubungan antar
berbagai kelompok umat beragama yang rukun, saling menghormati, saling
18

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

menghargai dan damai, tidak bertengkar dan semua persoalan dapat


diselesaikan sebaik-baiknya dan tidak mengganggu kerukunan hubungan
antar umat beragama pada suatu daerah tertentu.

BAB III
PENERAPAN PENGELOLAAN KEARIFAN LOKAL KERUKUNAN UMAT
BERAGAMA BERBASIS PENGEMBANGAN KOMUNITAS
PADA MASYARAKAT GUNUNG BROMO

Kerukunan beragama terwujud dalam praktik-praktik keseharian di


masyarakat Gunung Bromo. Pola hunian pemukiman pada desa-desa
tersebut tidak ada pembagian khusus berdasarkan agama, mereka hidup
berbaur, berdampingan dan saling mendukung walau di kanan kiri rumah
mereka berbeda agama.
Praktik kerukunan umat beragama ini mereka tunjukkan dengan
kesediaan memenuhi undangan dari orang lain, tradisi membagi makanan
pada saat hari raya, melakukan kegiatan urusan kemasyarakatan seperti
gotong royong dan kerja bakti untuk pembangunan sarana umum, rumah
ibadah, jalan dan sebagainya. Juga termasuk musibah, maka seluruh
masyarakat turut membantu tanpa ada penggantian, bahkan mereka
menghentikan semua bentuk kegiatan seperti tidak ada yang pergi ke
ladang.
Kerjasama juga dilakukan dalam bidang usaha seperti pertanian dan
peternakan. Bagi mereka yang tidak memiliki lahan maka membantu
menggarap lahan mereka yang memilikinya dengan sistem bagi hasil atau
dikenal dengan istilah paron (setengahan) atau pertigan (sepertiga) tanpa
19

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

perjanjian tertulis, karena antar masyarakat saling percaya dan berupaya


untuk jujur. Hal ini dilakukan karena masing-masing masyarakat saling
menjaga agar ucapan dan perjanjiannya dapat dijadikan pegangan.
Pola kerukunan hidup beragama ini menjadikan masyarakat mudah
untuk dikembangkan menuju masyarakat desa yang tangguh. Ketangguhan
suatu desa atau masyarakat menunjukkan bahwa masayrakat tersebut
mampu mengatasi masalah yang terjadi tanpa memerlukan bantuan pihak
luar. Ketangguhan ini juga tercermin dari mayoritas perbedaan agama yang
terjadi mampu menjadikan masyarakat Gunung Bromo mampu pengurangan
risiko bencana melalui gotong royong, pembelajaran melalui pengalaman
dan kebersamaan membantu apabila bencana terjadi.
Pandangan

hidup

masyarakat

desa

Gunung

Bromo

sangat

dipengaruhi oleh budaya Tengger, sehingga keanekaragaman agama yang


dianut mereka tidak menjadi penghalang untuk mereka pengembangkan diri.
Interaksi antar umat beragama bagi masyarakat Gunung Bromo juga
mencerminkan bagaimana agama difungsionalkan dalam konteks sosial,
yaitu walaupun berbeda agama namun berbagai ritual upacara masih terus
dilakukan, karena bagi masyarakat Gunung Bromo tradisi inilah yang
memperkuat identitas ke-Tengger-an serta mempererat kehidupan beragama
mereka.
Hal tersebutlah yang membuat Suku Tengger menjadi semakin unik.
Pengembangan

komunitas

masyarakat

lebih

menekankan

pada

mempertahankan tradisi yang ada, yaitu dengan memisahkan antara tradisi


dan agama. Tidak mengherankan jika diadakan tradisi ritual seperti upacara
Karo, Pujan dan Galunggan, maka semua masyarakat Gunung Bromo wajib
mengikutinya baik itu beragama Budha, Islam maupun Hindu.
Dengan keanekaragaman agama yang dianut Masyarakat Gunung
Bromo makin membuat kehidupan beragama disana makin dinamis. Dengan
memisahkan identitas adat serta agama dalam kehidupan bermasyarakat,
masyarakat Gunung Bromo masih dapat mempertahankan tradisi mereka
sampai sekarang. Selain untuk mempererat kerukunan umat beragama di
20

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

Gunung Bromo, kewajiban untuk mengikuti tradisi upacara juga digunakan


sebagai parameter untuk menentukan apakah orang yang bersangkutan
masih suku Tengger atau bukan (Alfatih, 2010), yaitu salah satunya dengan
wajib mengikuti upacara Kasodo di Gunung Bromo. Hal tersebut dilakukan
untuk menjaga kelestarian tradisi Tengger agar tidak hilang ditelan arus
modernisasi. Tradisi lainnya

yang

turut

mengembangkan

komunitas

masyarakat Gunung Bromo adalah adanya pantangan untuk berpologami


(Alfatih, 2010). Hal tersebut dilakukan untuk mencegah ada sesuatu yang
hilang maka ditakutkan akan menjadi tertuduh.
Hakikat pengembangan masyarakat pada dasarnya adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan manusia atau masyarakat melalui sebuah
metode untuk mencapai tujuan dengan melibatkan emosi dan keyakinan.
Dalam mencapai tujuannya, pengembangan masyarakat harus dilakukan
secara holistic atau dengan multidisipliner untuk meningkatkan derajat
kerukunan beragama antar masyarakat.
Langkah-langkah

dalam

pengelolaan

kearifan

lokal

berbasis

pengembangan komunitas kerukunan umat beragama dapat ditingkatkan


melalui sebagai berikut:
1. Ciptakan kondisi agar potensi setempat dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan
2. Pertinggi mutu potensi yang ada
3. Usahakan kelangsungan kegiatan yang sudah ada
4. Tingkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan
Penjabaran

secara operasional dari bentuk program pengembnagan

masyarakat adalah:
1. Berikan kesempatan agar masyarakat sendiri yang menentukan masalah
keagamaan maupun masalah kemasyarakatan, baik yang dihadapi
secara individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
2. Berikan kesempatan agar masyarakat sendiri yang membuat analisis
kemudian menyusun perencanaan penanggulangan masalah
3. Berikan kesempatan agar masyarakat sendiri yang mengorganisir diri
untuk melaksanakan usaha perbaikan
21

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

4. Dalam prosesnya sedapat mungkin digali dari sumber-sumber yang ada


dalam masyarakat itu sendiri dan kalau betul-betul diperlukan dimintakan
bantuan dari luar
Pengelolaan kearifan lokal berupa kerukunan antar umat beragama
yang menunjukkan bahwa masyarakat melalui pengembangan komunitasnya
terlibat dalam proses yang bertujuan untuk meningkatkan sosial, ekonomi
dan situasi lingkungan masyarakat. Juga dalam pengembangan masyarakat
juga meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bersama membuat
keputusan tentang penggunaan sumber daya, seperti infrastruktur, tenaga
kerja, dan pengetahuan.
Penerapan pengelolaan kearifan lokal kerukunan umat beragama
berbasis pengembangan komunitas pada masyarakat Gunung Bromo ini
dipandang sebagai strategi yang tepat untuk memberdayakan dan
meningkatkan taraf hidup masyarakat. Juga untuk membantu percepatan
pemulihan masyarakat pasca erupsi Gunung Bromo khususnya di bidang
sosial dan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan serta
kemandirian masyarakat.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana yaitu untuk melindungi masyarakat dari
ancaman bencana, maka masyarakat Gunung Bromo dapat dikategorikan
sebagai desa tangguh bencana. Berdasarkan Perka BNPB Nomor 1 tahun
2012

tentang

Pedoman

Umum

Desa/Kelurahan

Tangguh

Bencana

disebutkan bahwa tujuan pedoman ini adalah memberikan panduan bagi


pemerintah dan/atau pemerintah daerah dalam pengembangan Desa
Tangguh Bencana sebagai bagian upaya pengurangan risiko bencana
berbasis komunitas dan memberikan acuan pelaksanaan pengembangan
Desa

Tangguh

Bencana

bagi

aparatur

pelaksana

dan

pemangku

kepentingan pengurangan risiko bencana. Karena melalui kearifan lokal dan


pengembangan

komunitas

masyarakatnya

sudah

mampu

melakukan

pengurangan risiko bencana secara terpadu. Berdasarkan kearifan lokalnya,


masyarakat sudah memiliki ikatan hukum dan solidaritas yang kuat karena
22

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

memiliki satu atau dua kesamaan tujuan, lokalitas atau kebutuhan bersama,
misalnya tinggal di lingkungan yang sama-sama terpapar pada risiko bahaya
yang serupa, atau sama-sama telah terkena bencana, yang pada akhirnya
mempunyai kekhawatiran dan harapan yang sama tentang risiko bencana.
Melalui kerukunan umat beragama yang tercipta, masyarakat terlibat
aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi
dan mengurangi risiko-risiko bencana yang ada di wilayah mereka, terutama
dengan memanfaatkan sumberdaya lokal demi menjamin keberlanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
SUMBER BUKU
Bambang Rudito & Melia Famiola, Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan, Bandung: Rekayasa Sains, 2007, Hlm. 234
BPBD Probolinggo, Power Point Paparan Kesiapsiagaan Menghadapi Erupsi
Gunung Bromo Tahun 2015
Gary Craig and Marjorie Mayo, (ed.) , Community Empowerment A Reader in
Participation and Development, London & New Jersy: Zed Books Ltd.
1995 dalam Mayus Helviyanti Harefa, Evaluasi Program......., FISIP UI,
2010
Mangatas Tampubolon, Jurnal, Pendidikan dan pola pemberdayaan
masyarakat dan pemberdayaan pada masyarakat dalam pembangunan
sesuai tuntuntutan otonomi daerah, 2005

dalam Mayus Helviyanti

Harefa, Evaluasi Program......., FISIP UI, 2010


Sutarto, Ayu, Masyarakat Tengger, Makalah disampaikan pada acara
pembekalan Jelajah Budaya 2006, Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional, Universitas Jember Jawa Timur, 2006
SUMBER INTERNET
http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/532-gbromo
http://nugraharendra.blogspot.co.id/p/tentang-rendra.html
23

UAS Psikologi Bencana


Dosen : Brigjen TNI Dr. Arief Budiarto, DESS
Nama Mahasiswa : Eka Varin Rasfianty (1 2015 0203 011)

http://digilib.uinsby.ac.id/1934/8/Bab%204.pdf

24