Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Listrik telah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia untuk menunjang
kehidupan sehari-hari, baik itu dalam perkantoran, sekolah, rumah tangga terlebih
dalam dunia industry. Telah banyak alat-alat yang diciptakan dengan menggunakan
energy listrik, misalnya mesin cuci, kulkas, rice coocker, pompa air, laptop dan masih
banyak lagi.
Dalam dunia industri, penggunaan motor listrik telah banyak digunakan
sebagai alat untuk memproduksi barang jadi. Biasanya dalam dunia indusri kita
mengenal istilah kontrol. Dalam kontrol ini kita menentukan tahap proses kerja suatu
industry menghasilkan suatu barang jadi. Menentukan urutan kerja suatu motor
dengan bantuan relay atau kontraktor, yang lebih kita kinal dengan kontrol
konvensional.
Dalam bidang industri ini penggunaan mesin otomatis dan pemrosesan secara
otomatis merupakan hal yang umum. Sistem prengontrolan dengan elektromekanik
yang menggunakan relay-relay mempunyai banyak kelemahan, diantaranya kontakkontak yang dipakai mudah aus karena panas / terbakar atau karena hubung singkat,
membutuhkan biaya yang besar saat instalasi, pemeliharaan dan modifikasi dari
sistem yang telah dibuat jika dikemudian hari dipertlukan modifikasi.
Seiring perjalanan zaman penggunaan kontrol konvensional telah mulai
ditinggalkan disebabkan karena biaya dan banyak alat yang digunakan untuk kontrol
ini. Dengan alasan itulah banyak industry yang menggunakan kontrol PLC.

Dengan menggunakan PLC hal-hal ini dapat diatasii, karena sistem PLC
mengintegrasikan berbagai macam komponen yang berdiri sendiri menjadi suatu
sistem kendali terpadu dan dengan mudah merenovasi tanpa harus mengganti semua
instrumen yang ada.
1.2. Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya praktek di bengkel listrik
semester ini dengan judul Praktek Kontrol Industri Lanjutan, adalah :
1

Mengerti suatu perencanaan instalasi proses pusat pompa, air blast, dan tanur
melalui diagram blok;

Mengubah diagram kerja menjadi uraian perencanaan kerja;

Menggambar diagram satu garis;

Membuat ladder diagram control proses pusat pompa, air blast, dan tanur;

Mampu mengoperasikan Programmable Logic Controller (PLC);

Mampu menjelaskan prinsip kerja SCADA;

Membuat aplikasi control proses pusat pompa, air blast, dan tanur yang
terintegrasi dengan system SCADA;

Membuat sebuah daftar bahan dan peralatan untuk perencanaan instalasi;

Menemukan kesalahan pada instalasi dan menganalisis serta memperbaiki


kesalahan pada rangkaian instalasi.

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah dari diadakannya praktikum bengkel ini Praktek
Kontrol Industri Lanjutan, antara lain :
1.3.1

Bagaimana cara membuat control konvensional dari Air Blast ?

1.3.2

Bagaimana cara membuat control konvensional dari Pusat Pompa ?

1.3.3

Bagaimana cara membuat control konvensional dari Tanur ?

1.3.4

Apa perbedaan Kontrol Konvensional dan Kontrol berbasis PLC?

1.3.5

Bagaimana cara membuat Ladder dan CMOND-SCADA untuk pengontrolan


Airblast, Pusat Pompa dan Tanur ?

BAB II
TEORI DASAR
2.1

PLC(PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER)

2.1.1 Pengertian PLC


Suatu industri akan membutuhkan ha sil produksi yang semaksimal dan
seefisien mungkin, sehingga untuk memenuhinya diperlukan peralatan kendali
yang menunjang proses pr oduksi maupun

pendistribusiannya. PLC

adalah

sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan relay yang
dijumpai pada sistem kontrol proses konvensional (Agfianto. 2004:1).
PLC bekerja dengan cara mengamati masukan (melalui sensor-sensor
terkait), kemudian melakukan proses dan melakukan tindakan sesuai yang
dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau mematikan keluarannya (logic , 0
atau 1, hidup atau mati). Pengguna membuat program (dengan menggunakan
ladder program atau diagram tangga) yang kemudian dijalankan oleh PLC yang
bersangkutan. PLC menentukan aksi apa yang harus dilakukan pada instrument
keluaran berkaitan dengan status suatu ukuran atau besaran yang diamati.
PLC adalah suatu piranti yang memiliki saluran masukan (input) , saluran
keluaran (output). Output yang dihasilkan ditentukan oleh status input dan
program yang dimasukkan ke dalamnya. input dapat berupa relay, limit switch,
photo switch maupun proximity switch. Input dimasukkan kedalam program
PLC

kemudian akan menghasilkan

output

berupa

relay- relay maupun

kontaktor.
PLC berisi rangkaian elektronika digital yang dapat difungsikan seperti
Normally Open ( NO) dan bentuk kontak Normally Close ( NC)

relay. Perbedaan PLC dengan relay yaitu nomor kontak relay (NC atau NO)
pada PLC

dapat digunakan berkali-kali untuk semua instruksi dasar selain

instruksi output . Jadi dengan kata lain, ba hwa dalam suatu pemrograman PLC
tidak diijinkan menggunakan output dengan nomor kontak yang sama.
2.1.2 Keuntungan dari PLC
Keuntungan PLC menurut Factory Automatic Omron (CPM 1 Training
Manual, 1998:8) adalah sebagai berikut :
a. Lama pengerjaan untuk sistem baru desain ulang lebih singkat.
b. Modifikasi sitem tanpa tambahan biaya yang masih ada input dan output.
c. Perkiraan biaya suatu sistem desain baru lebih pasti.
d. Relatif mudah untuk dipelajari.
e. Desain sistem baru mudah unt uk dimodifikasi dan aplikasi PLC sangat
luas.
f. Mudah dalam hal perawatan (maintenance) dan sangat handal.
g. Standarisasi sistem control mudah diterapkan.
2.1.3 Penerapan PLC
Penerapan PLC pada mesin konveyor adalah memanfaatkan PLC untuk
digunakan sebagai sistem pengendali otomatis pada mesin konveyor.
1.

Spesifikasi dan Karakteristik PLC


PLC bekerja dengan cara mengamati masukan (melalui sensor-sensor
terkait), kemudian melakukan proses dan melakukan tindakan sesuai yang
dibutuhkan, yang berupa menghidupkan atau mematikan keluarannya (logic ,
0 atau 1, hidup atau

mati). Pengguna membuat program (dengan


5

menggunakan ladder program atau diagram tangga yang dalam aplikasinya


di komputer menggunakan program Syswin 3.4) yang kemudian dijalankan
oleh PLC yang bersangkutan.
Spesifikasi karakteristik PLC yang akan digunakan dalam pembuatan
conveyor ini menggunakan PLC merk OMRON Sysmac series CPM 1A.
Pada pembuatan rancang bangun miniature sistem pemindah barang dengan
menggunakan PLC

ini, yang akan digunakan adalah

PLC

dengan

spesifikasi dan karakteristik sebagai berikut :


a. Spesifikasi
Merek

: OMRON Sysmac series CPM1A

Model

: 20 CDR A

Tegangan Suplai : 100 - 240 V AC


Frekuensi
Daya

: 50 -60 Hz

: 30 VA

Arus Input : 5 mA / 12 mA
Tegangan Output : 24 V DC (RCS), 250 V AC (GEN)
b. Karakteristik
Metode kontrol

: Metode penyimpan program

Bahasa pemrograman

: Ladder Diagram menggunakan program

Syswin 3.4
Panjang Instruksi : 1 set setiap instruksi (1-5) word / instruksi
Kapasitas program : 2048 words

Max I/O point


Output
Input

: 50

: 8 buah
: 12 buah

Kecepatan

: 0,72 - 16,2 Ms

Gambar 2.1 Bentuk Fisik PLC


PLC menentukan aksi apa yang harus dilakukan pada instrument
keluaran berkaitan dengan status suat u ukuran atau besaran yang diamati.
Tiap-tiap PLC pada dasarnya merupakan sebuah mikrokontroler (CPU-nya
PLC bisa berupa mikrokontroler maupun mikroprosesor) yang dilengkapi
dengan periferal yang dapat berupa masukan digital, keluaran digital atau
relay. Perangkat lunak programnya sama sekali berbeda dengan bahasa
komputer seperti pascal, Basic, C dan lain-lain, programnya menggunakan
apa yang dinamakan sebagai diagram tangga atau ladder diagram.

Gambar 2.2 Rangkaian Kelengkapan PLC OMRON CPM 1A


2.1.4 Perencanaan Perangkat Lunak
Perangkat lunak akan digunakan

untuk mengendalikan kerja dari

pergerakan konveyor yang berbasis PLC ini. Berikut ini program yang akan
digunakan dalam pembuatan dalam desain pembuatan konveyor (konveyor).
a.

Diagram Ladder
Diagram ini dibuat untuk rancangan atau desain sistem pengendalian

pada PLC yang kemudian diagram Ladder ini dibuat dalam data mnemonic
untuk ditransfer ke CPU PLC melalui Programing Consule atau melalui
Kabel Data komputer.
Program Ladder yang dibuat dengan menggunakan program Sywin
3.2 akan dipindahkan langsung ke

dalam memori PLC sehingga bisa

langsung digunakan tanpa harus menggunakan Programming Consule


(Programming Consule). Biasanya Ladder ini dibuat setelah dibuatnya
rangkaian konvensional dan disadur ke da lam Ladder diagram, sehingga
mempermudah dalam mendesain suatu rancangan pengendali.
Pada sistem pengendali konveyor berbasis PLC, Diagram Laddernya
menyusul setelah rangkaian telah terpasanng semua. Apabila pemrograman

PLC

yang

dilakukan

dengan

menggunakan

Programming

Consule

(Programming Consule) maka diagram Laddernya harus diteerjemahkan dulu


ke dalam tabel untuk transfer program dari Programming Consule ke CPU
PLC.
b. Memasukkan Program Cx-Programmer3.2 ke dalam PLC
Apabila mengaktifkan CX-Programmer 3.2 akan memunculkan
gambar program seperti di bawah ini:

Gambar 2.3 Tampilan awal program Cx-Programmer

Gambar 2.4 Tampilan CX-Programmer

2.2

Jenis Motor dan Penggunaannya

Pompa jenis ini merupakan alat pemindah zat (cair dan gas) dari suatu
tempat ke tempat yang lain. Dimana alat ini akan menghisap zat tersebut dan
mengeluarkan kembali melalui saluran lainnya akibat tekanan yang
ditimbulkannya.
Pompa ada beberapa macam tergantung dari jenis dan fungsinya.
Adapun jenis pompa yang digunakan dalam bengkel semester ini adalah
termasuk dalam jenis pompa sentrifugal. Suatu pompa sentrifugal pada
dasarnya terdiri dari satu atau lebih impeller yang dilengkapi dengan sudut
sudut yang dipasang pada poros yang berputar dan diselubungi dengan sebuah
rumah.
a. Prinsip Kerja Motor
Fluida memasuki impeller secara aksial disekat poros dan mempunyai
energi potensial yang diberikan padanya oleh sudu sudu. Begitu fluida
meninggalkan impeller pada kecepatan yang relatif tinggi, fluida itu
dikumpulkan didalam volute atau suatu seri laluan diffuser yang
mentransformasikan energi kinetic menjadi tekanan. Ini tentu saja diikuti oleh
pengurangan

kecepatan.

Sesudah

konversi

selesai,

fluida

kemudian

dikeluarkan dari mesin tersebut.


b. Pengoperasian Motor Pompa
Pengoperasian motor pompa sentrifugal adalah agak sederhana dan
aman. Jumlah katup relatif sedikit dan pompa tidak akan rusak walaupun bila
katup buang ditutup untuk periode waktu yang singkat.

1) Starting

10

Pompa haruslah terlebih dahulu dipancing sebelum pompa tersebut


dapat mengalirkan fluida. Jika dalam memancing pompa tersebut terjadi
peluapan maka dapat menyebabkan kemacetan pada cincin penahan aus atau
keausan pada poros yang berhubungan dengan kontak paking. Waktu starting
adalah waktu yang baik bila katup pembuang angin sedikit terbuka agar udara
yang ada dalam pompa dapat keluar.
Katup harus dibuka secara perlahan lahan untuk mencegah
terjadinya pemompaan yang sangat besar yang mengakibatkan pembebanan
yang besar pada motor penggerak atau yang dapat menyebabkan terjadinya
surging surging pada system pemipaan sisi buang.
2) Penghentian Operasi
Sewaktu hendak menghentikan operasi pompa, katup buang haruslah dalam
posisi yang sama dengan posisi sewaktu pompa hendak dioperasikan karena
dengan demikian terhindarlah penurunan daya yang tiba tiba pada jaringan
listrik pabrik (kejutan) dan terhindar pula perubahan tekanan yang tiba tiba
pada jaringan pemipaan.
Penggunaan pompa sentrifugal dapat kita lihat pada kehidupan sehari
hari, diantaranya sebagai berikut :
a)

Pompa pompa pemadam kebakaran dimana pompa ini dapat


menghasilkan tekanan kira kira 100 psi dan biasanya dibuat dengan
kapasitas yang standar yaitu sebesar 500, 700, 1000 dan 1500 rpm. Pompa ini
biasanya digerakkan oleh motor yang kecepatannya berkisar 1350 2500 rpm
dan biasanya terbuat dari brons.

b)

Pompa pompa keruk. Pompa ini digunakan untuk


memompakan pasir dan kerikil, jadi pompa ini haruslah dibuat kuat dan

11

sederhana dengan ruang bebas yang besar. Ini umumnya menyebabkan


penurunan efisiensi.
c)

Pompa slurry. Pompa sentrifugal sering digunakan untuk


memompakan slurry (slurry), yaitu cairan yang bercampur benda benda
padat yang tercampur dengan baik. Pompa ini merupakan kotak paking yang
disemprot dengan air bersih dan tidak memakai cincin penahan arus.

d)

Pompa pompa sumur dalam. Pompa ini biasanya digerakkan


dengan motor listrik, motor berada pada permukaan tanah dan dihubungkan
dengan pompa oleh poros vertikal.

e)

Pompa pompa saluran air, irigasi dan drainase (drainase).


Pompa pompa untuk keperluan tersebut beroperasi pada ketinggian tekanan
yang konstan dan memompa jumlah aliran yang besar.

f)

Pompa pompa sirkulasi. Kondisi pada pompa pompa


sirkulasi condenser beroperasi agak sama dengan pompa pompa saluran air
karena kapasitas dan tinggi tekanan praktis adalah konstan.

g)

Pompa pompa kondenset yaitu pompa yang beroperasi pada


ketinggian tekanan yang konstan atau hamper konstan. Kapasitas didasarkan
pada laju aliran uap kedalam kondensor.

h)

Pompa pompa anti sumbat. Pompa yang termasuk ke dalam


jenis ini adalah pompa pompa yang digunakan untuk air selokan, air bilga
dan fluida fluida yang mengandung bahan bahan padat seperti bubur
kertas.

12

2.3

Kontaktor
Kontaktor adalah merupakan suatu alat elektronik yang berfungsi
sebagai penyambung dan pemutus rangkaian, pergerakan kotak kontaknya
terjadi karena adanya gaya elektromagnetik. Kompenen-komponen dari
sebuah kontaktor antara lain:
1

Kumparan magnet.

Kotak kontak bantu NO (Normaly Open)

Kotak kontak bantu NC (Normaly Close)

Gambar 2.5 Kontaktor


Pada kontaktor apabila tegangan yang melewatinya terlalu besar maka
kumparan akan panas yang akan mengakibatkan berkurangnya umur dari
kontaktor tersebut. Demikian pula sebaliknya jika tegangan yang melewatinya
terlalu rendah maka tegangan pada kotak kontaknya akan berkurang sehingga
dapat menimbulkan bunga api.
Pada penggunaannya kontaktor sering kita kombinasikan dengan
saklar tekan (push button) yang dimaksudkan sebagai saklar pengoperasian
dari kontaktor.

13

Prinsip Kerja
Sebuah kontaktor terdiri dari koil, beberapa kontak Normally Open
(NO) dan beberapa Normally Close (NC). Pada saat satu kontaktor normal,
NO akan membuka dan pada saat kontaktor bekerja, NO akan menutup.
Sedangkan kontak NC sebaliknya yaitu ketika dalam keadaan normal kontak
NC akan menutup dan dalam keadaan bekerja kontak NC akan membuka.
Koil adalah lilitan yang apabila diberi tegangan akan terjadi magnetisasi dan
menarik kontak-kontaknya sehingga terjadi perubahan atau bekerja. Kontaktor
yang dioperasikan secara elektromagnetis adalah salah satu mekanisme yang
paling bermanfaat yang pernah dirancang untuk penutupan dan pembukaan
rangkaian listrik maka gambar prinsip kerja kontaktor magnet dapat dilihat
pada gambar berikut :

Gambar 2.6 Simbol Kontaktor


Kontaktor termasuk jenis saklar motor yang digerakkan oleh magnet
seperti yang telah dijelaskan di atas. Bila pada jepitan a dan b kumparan
magnet diberi tegangan, maka magnet akan menarik jangkar sehingga kontakkontak bergerak yang berhubungan dengan jangkar tersebut ikut tertarik.
Tegangan yang harus dipasangkan dapat tegangan bolak balik ( AC ) (AC)
maupun tegangan searah ( DC ) (DC), tergantung dari bagaimana magnet
tersebut dirancangkan. Untuk beberapa keperluan digunakan juga kumparan
arus ( bukan tegangan ), akan tetapi dari segi produksi lebih disukai kumparan

14

tegangan karena besarnya tegangan umumnya sudah dinormalisasi dan tidak


tergantung dari keperluan alat pemakai tertentu.
2.4

Miniatur Circuit Breaker


(MCB)
Miniature Circuit Breaker atau lebih umum disingkat MCB
merupakan komponen instalasi listrik yang berfungsi sebagai pengaman
terhadap daya lebih. Dengan memasang MCB gangguan karena hubung
singkat, beban lebih pada rangkaian akan dapat dicegah. Secara umum fungsi
MCB antara lain :
1
2

Membatasi Penggunaan daya Listrik.


Mematikan listrik secara otomatis apabila terjadi hubungan singkat

3
4

(Korslet).
Mengamankan Instalasi Listrik baik penerangan maupun instalasi tenaga.
Membagi daya pada instalasi rumah menjadi beberapa bagian, sehingga
lebih mudah untuk mendeteksi kerusakan instalasi listrik.

Gambar 2.7Miniatur Circuit Breaker (MCB)

2.5

Thermal Overload Relay (TOR)

15

Gambar 2.8 Thermal Overload Relay (TOR)


Thermal Overload Relay (TOR) digunakan untuk mengamankan
motor listrik terhadap beban lebih. Relay ini bekerja berdasarkan efek thermal
dari arus listrik. Jika arus yang mengalir dalam TOR ini melebihi nilai
setelannya akan terjadi pemutusan yang waktunya tergantung kepada arus.
Makin besar arus ini, makin singkat waktu pemutusannya. Pemutusan
diperlambat secara thermis, misalnya dengan menggunakan elemen
dwilogam. Elemen-elemen dwilogam tersebut dipasang di dalam TOR. Kalau
arus melalui TOR ini terlalu besar, elemen-elemen tersebut akan menjadi
bengkok sehingga saklarnya akan membuka.
Pengaman ini digunakan sebagai pengaman motor yang dirakit dengan
kontaktor. Dimana alat ini di pasang setelah kontaktor sebelum ke motor
listrik. Alat ini terdiri dari tiga buah kontak utama dan kontak bantu yang
terdiri dari NO dan NC.
Beberapa faktor yang menjadi dasar mengapa menggunakan TOR
dalam perlindungan beban lebih motor yakni :
1
2
3
4

Arus starting yang terlalu besar atau motor berhenti secara mendadak,
Terlalu besarnya beban mekanik dari motor,
Terbukanya salah satu fasa dari motor tiga fasa.
Terjadi hubung singkat.

16

Gambar 2.9 Simbol Thermal Overload Relay (TOR)


2.6

Time Delay
Timer adalah saklar waktu yang bekerja berdasarkan magnetisasi yang
akan memutuskan rangkaian beban secara otomatis, dengan batasan waktu
yang telah ditentukan. Pada penggunaan Timer dalam rangkaian control ada
juga berbeda pengunaan, sehingga ada beberapa jenis Timer yang dapat
dihubungkan langsung dengan kontaktor yaitu : timer on delay yang berfungsi
menunggu untuk on, selama batas waktu yang telah di tentukan atau di atur,
dan timer off delay yang berfungsi menunggu untuk off selasa batas waktu
yang ditentukan atau diatur sebelumnya.

Gambar 2.10 Simbol Time Delay


2.7

Relay

17

Gambar 2.11 Relay


Relay merupakan sebuah saklar elektrik yang dapat mengubah kontakkontak dari NO (Normally Open) menjadi NC (Normally close) sewaktu
mendapat supply aliran listrik. Untuk mengendalikan suatu sistem dengan
beban keadaan AC/DC.
Prinsip kerja dari relay adalah berdasarkan gejala elektromagnetik di
mana terdiri dari lilitan kawat/kumparan, coil, yang dililitkan pada sebuah inti
dari besi baja yang bersifat lunak. Apabila pada kumparan tersebut kita alirkan
arus maka inti baja tersebut akan menarik jangkar dan relay dinamis

Gambar 2.12 Simbol Pengawatan Relay


Adapun jenis relay ada dua, yaitu :
1

Relay yang bekerja dengan arus searah (DC)

Relay yang bekerja dengan arus bolak-balik (AC)

18

2.8

Impuls
Impuls

adalah

suatu

jenis

saklar

yang

bekerja

berdasarkan

elektromagnetik, di mana posisi saklarnya akan berubah pada settingimpuls.


Saklar impuls mempunyai dua posisi yaitu kontak on pada impuls pertama
dan kontak off pada impuls kedua. Pada pengoperasiannya saklar ini harus
dikombinasikan dengan saklar tekan satu atau lebih sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 2.13 Simbol Impuls)


2.9

Jenis Saklar

2.9.1 Saklar Pilih (Selector Switch)

Gambar 2.14 Selector Switch


Saklar ini lebih dikenal dengan nama selektor yang merupakan jenis
saklar putar. Saklar ini sering digunakan dalam rangkaian pengaturan,
misalnya untuk dua posisi pengaturan (pengaturan manual dan otomatis).

19

Gambar 2.15 Simbol Saklar Pilih


2.9.2 Saklar Aliran
Saklar

aliran

cairan

mempunyai

sensor

seperti

lidah

yang

harusdimasukan kedalam pipa untuk mengukur besar laju aliran pada pipa.
Saklar ini bisa dipasang pada pipa yang horizontal maupun vertikal, apabila
dipasang vertikal cairan harus mengalir dari bawah ke atas.

Gambar 2.16 Simbol Saklar Aliran


2.9.3 Saklar Tekan
Saklar tekan atau push button umumnya digunakan pada rangkaian
kontrol kontak sebagai pengunci secara elektrik. Saklar ini beroperasi ketika
ditekan saja, jika dilepas maka akan kembali menjadi seperti semula. Jadi
saklar ini memberikan daya yang sifatnya sementara, apabila dikombinasi
dengan saklar impuls maka pada saat saklar dilepas hubungannnya dengan
beban tetap ada karena saklar tersebut terkunci oleh impuls.

20

Gambar 2.17 Simbol Saklar Tekan


2.9.4 Saklar Pelampung
Penggunaan saklar ini digunakan dalam suatu penampungan air atau
bak untuk mengontrol tinggi rendahnya suatu permukaan air dalam suatu bak
atau penampungan.
2.10

Lampu Indikator

Gambar 2.18 Lampu indikator


Lampu indikator berfungsi sebagai isyarat atau indikator dalam sebuah
panel untuk mengetahui apakah sebuah panel bekerja dengan baik ataukah
terjadi sebuah gangguan. Lampu indicator dipakai pada instalasi tenaga
karena untuk mengoperasikan suatu control listrik, perlu adanya penandaan
untuk kondisi-kondisi tertentu, misalnya kondisi beban lebih (over load),
kondisi manual maupun kondisi otomatis.

21

Gambar 2.19 Simbol lampu indikator

22

BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1

NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

3.2

Daftar Alat yang Digunakan

ALAT
OBENG BUNGA
OBENG PLAT
OBENG
TERMINAL
OBENG TESPEN
TANG POTONG
TANG LANCIP
TANG KUPAS
TANG KOMBINASI
TESTER
GERGAJI
PALU

JUMLAH
1
1
1

SATUAN
BUAH
BUAH
BUAH

1
1
1
1
1
1
1
1

BUAH
BUAH
BUAH
BUAH
BUAH
BUAH
BUAH
BUAH

Air Blast
23

KETERANGAN

N
O.
1.

KOD
E
F2
F3

DISKRIPSI

SPESIFIKASI

MCB

3 PHASA 1O
A

2.

F5

FUSE
dengan
pemutus
NETRAL

1 PHASA 6 A

BUA
H

3.

F6
F13

OVER
LOAD

LR1-D09307
1,6 S/D 2,5 A

BUA
H

TELEMENIQ
UE LC1D173 A65
NO: 4 NC:4

BUA
H

TELEMENIQ
UE CA2DN1319 A65
NO:4 NC:4

BUA
H

DALA
M
PANEL

BUA
H

BUA
H

BUA
H

DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL

BUA
H

DALA
M
PANEL

4.

5.

6.

K6M KONTAKTO
K7M
R
K8M
K13
M
K22 KONTAKTO
K9T
R
K14T
RELAY
KONTAKTO
R
K9T
TIME ON
K14T
DELAY

SAT.

KET.

BUA
H

DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL

8.

K11T

TIME ON
DELAY

9.

K8M
K6M
K13
M

KONTAK
BANTU
KONTAKTO
R

COMET
:A6CH-3076
WORB
TELEMENIQ
UE
LA2D22 A65
MULTICOME
T
CX35/ATX22
0-240V
TELEMENIQ
UE
LA1D11 A65
NO:4 NC:4

10.

K22
K7M

KONTAK
BANTU
KONTAKTO
R

TELEMENIQ
UE
LA1D1111 A65
NO:4 NC:4

BUA
H

DALA
M
PANEL

11.

K22
K16

SOKET
RELAY

COMET : C11

BUA
H

DALA
M

7.

K16
K26

JU
M.
2

24

PANEL
K11T
N KOD
O.
E
12. H24

DISKRIP
SI
BUZZER

SPESIFIK
ASI
220-240 V

JU
M.
1

SAT.

KET.

BUAH

13.

DIODE

IN 4005 PX

BUAH

14.

ABU-ABU
8mm
BIRU 8mm

BUAH

BUAH

ABU-ABU
4mm
BESI 4mm

17

BUAH

BUAH

18.

LINE UP
TERMIN.
LINE UP
TERMIN.
LINE UP
TERMIN.
LINE UP
TERMIN.
PROFIL E

19.

PROFIL C

METE
R

20.

PROFIL G

METE
R

21.

MUR
GESER

BUAH

22.

MUR+BA
UT

BUAH

23.

END
PLATE

8mm

BUAH

24.

END
PLATE

4mm

BUAH

DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
RANG
KA
PANEL
RANG
KA
PANEL
RANG
KA
PANEL
RANG
KA
PANEL
RANG
KA
PANEL
RANG
KA
PANEL
RANG
KA
PANEL

15.
16.
17.

METE
R

25

25.

END
PEACE

NO
.
26.

KOD
E

27.

S7

28.

32.

S8B
S14B
S6B
S14
S14A
S6A
S8A
H12
H17
H19
H23
H25
H27
H29
M1

33.

M2

29.
30.
31.

34.

S16

35.

S13

4mm

METE
R

DISKRIPSI SPESIFIKASI JUM


.
WIRE
40x40mm
1
DUCT

RANG
KA
PANEL

SAT.

KET.

METE
R

RANGKA
PANEL

SELECTO
R
SWITCH
TOMBOL
TEKAN

XBCD29314
C12

BUAH

PINTU
PANEL

ZB2-BE 101
(N.O)

BUAH

PINTU
PANEL

TOMBOL
TEKAN

ZB2-BE 102
(N.O)

BUAH

PINTU
PANEL

LAMPU
TANDA

Z-BV.6.380V
(HIJAU)

BUAH

PINTU
PANEL

LAMPU
TANDA

Z-BV.6.380V
(MERAH)

BUAH

PINTU
PANEL

FAN
MOTOR

380/660 V
2,4/1,4 A
1,5 HP.50 HZ
220/380V

BUAH

LUAR
PANEL

BUAH

LUAR

VIBRATO
R
MOTOR
LIGHT
BARRIER
FLOW
SWITCH

4,2/2,4 A
1,1KW.50 HZ
L6/LK6-GA

BUAH

TYPE. CR.25

BUAH

MVS.NR:11/8
8

26

PANEL
LUAR
PANEL
LUAR
PANEL

36.

KABEL
NYAF

1,5 mm^2

METE
R

37.

KABEL
NYY

5 x 2,5 mm^2

METE
R

N
O.
38.

KOD
E

39.

40

3.3
NO
.
1.
2.

3.
4.

DISKRIP
SI
KABEL
NYY
KABEL
NYY

SPESIFIKA
SI
4 x 1,5
mm^2
3 x 1,5
mm^2

USB to
serial

SAT.

KET.

METE
R
METE
R

M1+M2

Buah

LIGHT
BARRI
ER
FLOW
SWITC
H

Pusat Pompa
KOD
E
E 04
E 05
E 06
E 07
E 08
e21
e23
c21

DISKRIPSI

SPESIFIKASI

MCB

3 PHASA 10
A
1 PHASA 6 A

FUSE
dengan
pemutus
NETRAL
OVER
LOAD
CONTACTO
R

c23
5.

JU
M.

RANG.
KONTRO
L
SUPLY
PANEL

c21
c23

KONTAK
BANTU
CONTACTO
R

JUM SAT.
.
2
BUAH
3

BUAH

KET.
DALAM
PANEL
DALAM
PANEL

LR1-D09307
1.6 S/D 2,5 A
TELEMECA...
LC1-D173
A65
NO: 4 NC:4
TELEMECA...
LA1-D1111
A65
NO: 4 NC:4

27

BUAH

BUAH

DALAM
PANEL
DALAM
PANEL

BUAH

DALAM
PANEL

6.

d11

RELAY

d12

CONTACTO
R

COMET :
A6CH3076 WORB

10

BUAH

DALAM
PANEL

d15
d16
d17
d27
d30
d32
d35
d37
NO
.
7.

KOD
E
d11

DISKRIPSI

SPESIFIKASI

TIME ON

TELEMECA...

8.

d16
d32

9.

d14

DELAY
TIME OFF
DELAY
IMPULS

LA2-D22 A65
TELEMECANIQU
E
TELERUPTEUR
16A

10.

b11

SAKLAR

b16

PELAMPUN
G
SAKLAR

11.

b10.1

12.

b15.1
b37

13.

S10

14.

S15
S31
S32
S38

JUM
.
2
1
1
2

SAT.

KET.

BUA
H

DALAM

BUA
H
BUA
H
BUA
H

PANEL
DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
LUAR
PANEL

ALIRAN
SAKLAR
TEKAN (NC)
SAKLAR

BUA
H

BUA
H
BUA
H

LUAR
PANEL

SELEKTOR

PINTU
PANEL

XB7-NA.1
(MERAH)
XB2-EA 131
(MERAH)
XB7-EA.2P
(MERAH)
28

15.

g22

16.

g24
h26

17.
18.

PENGHITUN
G
DEBIT AIR
XB7-EV0.MP
(KUNING)
XB7-EV0.MP
(MERAH)
AD16-22DS
(BIRU)

h18
h28
h13
h25
h29
h39

19.

DIODA

IN 4005 PX

20.

LINE UP

ABU-ABU

21.

TERMIN.
LINE UP

8 mm
BIRU

TERMIN.

8 mm

NO
.
22.

DISKRIPSI

SPESIFIKASI
ABU-ABU
4 mm
BIRU
4 mm

24.

LINE UP
TERMIN.
LINE UP
TERMIN.
PROFIL E

25.

PROFIL C

26.

PROFIL G

27.

MUR
GESER
MUR +
BAUT

23.

28.

KOD
E

BUA
H
BUA
H
BUA
H

PANEL
DALAM
PANEL

JUM
.
17

SAT.

KET.

BUAH

BUAH

DALAM
PANEL
DALAM
PANEL
RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL

METE
R
METE
R
METE
R
BUAH
BUAH

29

DALAM
PANEL
DALAM

29.

END PLATE

8 mm

BUAH

30.

END PLATE

4 mm

BUAH

31.

END PEACE

4 mm

BUAH

32.

WIRE DUCT

40 x 40 mm

33.

MOTOR
1 PHASA
KABEL
NYAF

METE
R
BUAH

34.

1,5 mm^2

METE
R
METE
R
METE
R
METE
R

35.

KABEL NYY

5 x 2,5 mm^2

36.

KABEL NYY

4 X 1,5 mm^2

37.

KABEL NYY

3 x 1,5 mm^2

3.4

LIGHT
BARRIE
R

Tanur

NO
.
1.

KOD
E
F1

DISKRIP
SI
MCB

SPESIFIKASI

2.

F5
F6
F7

MCB

1 PHASA 6 A

3.

K11F

OVER

K11M

4.

RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL
RANGKA
PANEL
LUAR
PANEL
RANG.
KONTRO
L
SUPLY
PANEL
M1 + M2

K14M
K18M

SAT.

KET.

BUA
H

DALA
M
PANEL

BUA
H

TH-N12

BUA
H

LOAD
KONTAK-

1.6 S/D 2,5 A


TELEMECA-

BUA
H

TOR

NIQUE
LC1-D173
A65

DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL
DALA
M
PANEL

3 PHASA 10
A

30

JUM
.
3

5.

K19M
K20M
K13 KONTAKK16
K17

6.

7.

TOR

K22
K21T

KONTAK-

K23T

TOR

Y15

KONTAK-

Y16

TOR

Y24

NO KOD
.
E
8. K21T

NO:4

NC:4

TELEMECA-

BUA
H

NIQUE
LC1-D173
A65
NO:4 NC:4
TELEMECA...

DALA
M
PANEL

BUA
H

LC1-D173
A65
NO:4 NC:4
TELEMECA...

DALA
M
PANEL

BUA
H

DALA
M
PANEL

CA2DN131A65
NO:4 NC:4

DISKRIPSI

SPESIFIKASI

TIME

SCNEIDER

JU
M.
1

SAT.

KET.

BUAH

DALAM

ON
DELAY

9.

K23T

10. K11M

TIME
ON
DELAY
KONTAK

PANEL

TELEMECANIQUE
LA2-D22 A65
TELEMECA31

BUAH

DALAM
PANEL

BUAH

DALAM

11.

K13
K14
M
K16
K17
K18
M
K19
M
K20
M
K22

12.

BANTU
KONTAKTO
R

NIQUE
LA1-D22 A65
NO:4

PANEL

NC:4

KONTAK
BANTU

TELEMECA...
LA1D1111A65
KONTAKTO NO:4 NC:4
R
LINE UP
ABU-ABU
TERMIN.
8mm

BUAH

DALAM
PANEL

13

BUAH

DALAM
PANEL

13.

LINE UP
TERMIN.

ABU-ABU
4mm

19

BUAH

DALAM
PANEL

14.

LINE UP
TERMIN.

BIRU 4mm

BUAH

DALAM
PANEL

15.

PROFIL E

METE
R

16.

PROFIL C

METE
R

17.

PROFIL G

METE
R

RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL

N
O.

KODE

DISKRIPS SPESIFIKASI
I

32

JU
M.

SAT.

KET.

18.

MUR
GESER

BUAH

19.

MUR+BA
UT

BUAH

20.

END
PLATE

8mm

BUAH

21.

END
PLATE

4mm

BUAH

22.

END
PEACE

4mm

BUAH

23.

WIRE
DUCT

40 x 40mm

24. S12AE
S25AE

SENSOR

25. S12AE
S25AE
S11
26. S17AE
1
S17AE
2
27.
S16
S17

TOMBOL
TEKAN
TOMBOL

28.

S23
H26
H27
H28

METE
R
2

BUAH

XB7-NA.1

BUAH

XB2-EA1.2

BUAH

TEKAN

RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL
RANGK
A
PANEL
LIGHT
BARRIE
R
PINTU
PANEL
PINTU
PANEL

SAKLAR
TUNGGA
L

756.. BS
10A 250V

BUAH

LUAR
PANEL

LAMPU
TANDA

ZB7-EV0-MP
(MERAH)
ZB7-EV0-MP
(PUTIH)
ZB7-EV0-MP
(HIJAU)

BUAH

PINTU
PANEL

BUAH

BUAH

33

sN
O.
29.

KOD
E
M1

30.

M2

31.

32.
33.
34.

DISKRIPS
I
MOTOR
CONVEY
OR
BELT
MOTOR
HEATER
KABEL
NYAF

SPESIFIKAS
I

1,5 mm^2

METE
R

KABEL
NYY
KABEL
NYY
KABEL
NYY

5 x 2,5 mm^2

METE
R
METE
R
METE
R

4 X 1,5
mm^2
3 x 1,5 mm^2

34

JU
M.
1

SAT.

KET.

BUAH

LUAR
PANEL

BUAH

LUAR
PANEL
RANG.
KONTR
OL
SUPLY
PANEL
M1 + M2
LIGHT
BARRIE
R

BAB IV
LANGKAH KERJA
4.1 Persiapan
4.1.1
4.1.2

Mendengarkan penjelasan singkat dari dosen pembimbing dan penggung jawab.


Membaca dan memahami job sheet yang digunakan dalam kegiatan bengkel

4.1.3

sebagai penuntun dalam mengerjakan praktikum.


Meminjam bahan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan praktek pada

4.1.4

teknisi.
Memiliki semua bahan dan peralatan sebelum digunakan dalam praktek.

4.2 Rangkaian Air Blast


Sebelum melakukan praktek / mengerjakan rangkaian Air Blast langkah pertama
yang harus dilakukan adalah mempelajari dan memahami job sheet yang akan
dikerjakan.
4.2.1 Memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan,
4.2.2. Kemudian mengambil panel yang telah disediakan lengkap dengan PLC
sebagai pengganti rangkaian kontrol yang begitu rumit dan menggunakan
4.2.3
4.2.4

banyak kabel.
Melakukan pengawatan sesuai dengan gambar yang ada pada job sheet.
Memeriksa kebenaran rangkaian dengan memakai tester sebelum mensuplai

4.2.5
4.2.6

tegangan.
Melakukan pengecekan apabila dalam pengoperasian terjadi kesalahan.
Membuat ladder diagram PLC melalui program Siswyn (Siswyn)

Dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:


-

Membuka terlebih dahulu Program Syswin 3.4 melalui menu all program,
mengklik File lalu New project (New project) sehignga muncul layout berikut,

35

4.2.7

Gambar 4.1 Tampilan new project (new project) airlast


- Melengkapi semua dialog sesuai dengan plc yang digunakan.
Menggambar ladder (ladder) diagram sesuai apa yang ada pada jobsheet :

Gambar 4.2 Membuat Ladder (ladder) airblast


4.2.8

Setelah ladder diagram telah selesai digambar ,selanjutnya menghubungkan


komputer ke modul PLC, lalu memilih menu Online pada menubar dan pilih
connect, setelah berhasil selanjutnya memilih download program pada menu
yang sama, setelah terdownload memilih PLC MODE (PLC MODE) pada
menu gambar lalu memilih mode RUN (RUN), dan untuk melihat simulasinya

4.2.9

pilih MONITORING (MONITORING).


Ketika ingin melakukan perbaikan pada ladder, memilih PLC MODE pada
menu gambar lalu memilih mode STOP (STOP). Setelah selesai melakukan

36

perbaikan, memilih kembali download program pada menu Online, setelah


terdownload memilih PLC MODE pada menu gambar lalu memilih mode
RUN, dan untuk melihat simulasinya pilih MONITORING (MONITORING).
4.2.10 Setelah program plc selesai, beralilah membuat program CIMON SCADA.
4.2.11 Setelah semua beroperasi dengan benar , selanjutnya melapor ke instruktur
dalam hal ini dosen pembimbing.
4.2.12 Melakukan tanya jawab dan pengujian dengan instruktur dalam hal ini dosen
penanggungjawab tentang instalasi kontrol yang dipasang oleh praktikan.
4.3 Rangkaian Pusat Pompa
Sebelum melakukan praktek / mengerjakan rangkaian Air Blast langkah pertama
yang harus dilakukan adalah mempelajari dan memahami job sheet (job sheet) yang
akan dikerjakan.
4.3.1
4.3.2

Memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan,


Kemudian mengambil panel yang telah disediakan lengkap dengan PLC
sebagai pengganti rangkaian kontrol yang begitu rumit dan menggunakan

4.3.4

banyak kabel.
Melakukan pengawatan sesuai dengan gambar yang ada pada job sheet (job

4.3.5

sheet).
Memeriksa kebenaran rangkaian dengan memakai tester sebelum mensuplai

4.3.6
4.3.7

tegangan.
Melakukan pengecekan apabila dalam pengoperasian terjadi kesalahan.
Membuat ladder diagram PLC melalui program Siswyn (Siswyn)
Dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
-

Membuka terlebih dahulu Program Syswin 3.4 melalui menu all


program, mengklik File lalu New project (New project) sehignga
muncul layout berikut,

37

4.3.8

Gambar 4.3 Tampilan new project (new project) pompa


- Melengkapi semua dialog sesuai dengan plc yang digunakan.
Menggambar ladder diagram sesuai apa yang ada pada jobsheet :

Gambar 4.4 Membuat Ladder pompa


4.3.9

Setelah ladder (ladder) diagram telah selesai digambar ,selanjutnya


menghubungkan komputer ke modul PLC, lalu memilih menu Online pada
menubar dan pilih connect, setelah berhasil selanjutnya memilih download
program pada menu yang sama, setelah terdownload memilih PLC MODE
(PLC MODE) pada menu gambar lalu memilih mode RUN (RUN), dan untuk

melihat simulasinya pilih MONITORING (MONITORING).


4.3.10 Ketika ingin melakukan perbaikan pada ladder, memilih PLC MODE (PLC
MODE) pada menu gambar lalu memilih mode STOP. Setelah selesai

38

melakukan perbaikan, memilih kembali download program pada menu Online,


setelah terdownload memilih PLC MODE (PLC MODE) pada menu gambar
lalu memilih mode RUN (RUN), dan untuk melihat simulasinya pilih
MONITORING (MONITORING).
4.3.11 Setelah program plc selesai, beralilah membuat program CIMON SCADA.
4.3.12 Setelah semua beroperasi dengan benar , selanjutnya melapor ke instruktur
dalam hal ini dosen pembimbing.
4.3.13 Melakukan tanya jawab dan pengujian dengan instruktur dalam hal ini dosen
penanggungjawab tentang instalasi kontrol yang dipasang oleh praktikan.
4.4 Rangkaian Tanur
4.4.1

Sebelum melakukan praktek langkah pertama yang harus dilakukan adalah

4.4.2
4.4.3
4.4.4

mempelajari dan memahami job sheet yang akan dikerjakan,


Memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan
Mengambil panel lengkap dengan PLC yang telah disediakan
Melakukan pengawatan sesuai dengan gambar diagram kontrol yang ada pada

4.4.5

job sheet.
Memeriksa kebenaran rangkaian dengan memakai tester sebelum mensuplai

4.4.6
4.4.7

tegangan.
Melakukan pengecekan apabila dalam pengoperasian terjadi kesalahan.
Membuat ladder diagram PLC melalui program Siswyn
Dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
-

Membuka terlebih dahulu Program Syswin 3.4 melalui menu all


program, mengklik File lalu New project sehignga muncul layout
berikut,

39

Gambar 4.5 Tampilan new project (new project) tanur

4.4.8

- Melengkapi semua dialog sesuai dengan plc yang digunakan.


Menggambar ladder (ladder) diagram sesuai dengan prinsip kerja tanur :

Gambar 4.6 Membuat ladder (ladder) tanur


4.4.9 Setelah ladder diagram telah selesai digambar ,selanjutnya menghubungkan
komputer ke modul PLC, lalu memilih menu Online pada menubar dan pilih
connect, setelah berhasil selanjutnya memilih download program pada menu
yang sama, setelah terdownload memilih PLC MODE (PLC MODE) pada
menu gambar lalu memilih mode RUN (RUN), dan untuk melihat simulasinya
pilih MONITORING (MONITORING).
4.4.10 Ketika ingin melakukan perbaikan pada ladder, memilih PLC MODE (PLC
MODE) pada menu gambar lalu memilih mode STOP (STOP). Setelah selesai
melakukan perbaikan, memilih kembali download (download) program pada
menu Online, setelah terdownload memilih PLC MODE pada menu gambar
lalu memilih mode RUN (RUN), dan untuk melihat simulasinya pilih
MONITORING (MONITORING).
4.4.11 Setelah program plc selesai, beralilah membuat program CIMON SCADA.
4.4.12 Setelah semua beroperasi dengan benar , selanjutnya melapor ke instruktur
dalam hal ini dosen pembimbing.
4.4.13 Melakukan tanya jawab dan pengujian dengan instruktur dalam hal ini dosen
penanggungjawab tentang instalasi kontrol yang dipasang oleh praktikan.

40

4.5

CIMON SCADA

4.5.1 Membuka aplikasi cimon scada, akan muncul halaman seperti dibawah in.

Gambar 4.7 Tampilan aplikasi CIMON

4.5.2

Memilih File kemudian New Project (New Project), maka akan muncul
halaman seperti di bawah ini.

41

Gambar 4.8 Project window dari cimon


4.5.3

Memilih Next (Next), kemudian klik finish (finish), dan akan muncul halaman
seperti dibawah ini,

Gambar 4.9 Penamaan project (project)


4.5.4

Mengklik double pada I/O Device, maka akan muncul form I/O Device
Configuration (Device Configuration). Klik New Device (New Device), ketik
merek

PLC dan pilih type (type) PLC. Untuk lebih jelasnya liat gambar

dibawah ini.

Gambar 4.10 Setting konfigurasi I/O device (Setting konfigurasi I/O device)
4.5.5

Klik OK, maka akan muncul halaman seperti dibawah ini. Klik Add Station
(Add Station), form station (form station) akan muncul, isi kolom Station Name
(Station Name), Station (Station) No pada angka 0. Klilk OK.

42

Gambar 4.11 Pengisian nama station (station)


4.5.6

Klik menu COM Port, COM Port berada pada COM 1, Baud Rate (Baud Rate)
pada 9600, Parity pada even (even), Data Bits berada pada 7 Bits dan Stop
(Stop) Bit(s) berada pada 2 Stop (Stop) Bits, Klik Save (Save).

Gambar 4.12 Setting konfigurasi komunikasi serial


4.5.7

Gambar tombol, pilih menu draw User Button (User Button). Klik double
(double) pada tombol maka akan muncul form Object Config (form Object
Config). Klik button definition, pada mode Action pilih Write Digital Value
(Action pilih Write Digital Value), isi Tagname (Tagname) cotohnya start, Write
Value (start, Write Value) pada mode Toggle (Toggle), klik OK.

43

Gambar 4.13 Object config (Object config) Pompa


4.5.8

Sistem akan meminta pengisian Tagname (Tagname) seperti gambar dibawah


ini, segera klik yes (yes). Pada form Edit Tag, pada Real Tag isi kolom I/O
Device (Device) dan I/O Address. I/O Address (Address) harus sesuai dengan

4.5.9

alamat yang tertera pada ladder diagram di PLC.


Untuk pengaturan tombol-tombol berikutnya, sama halnya dengan langkah-

langkah-langkah yang telah dilakukan diatas.


4.5.10 Menyimpan program yang telah dibuat pada tempat yang dikehendaki.
4.5.11 Klik CimonX Setup (CimonX Setup) pada Toolbar yang tersedia, maka akan
muncul form CimonX Configuraion (form CimonX Configuraion). Ganti none
(none) pada Starting Page (Starting Page) dengan nama file yang telah
disimpan. Klik OK

Gambar 4.14 CimonX Configuration (CimonX Configuration)


4.5.12 Menjalankan program dengan mengklik icon Run CimonX yang tersedia pada
menu toolbar.

44

BAB VI
ANALISA RANGKAIAN
6.1 DIAGRAM LADDER
Berdasarkan gambar rangkaian di atas kami membuat diagram ladder sebagai
berikut:
6.1.1 AIR BLAST

45

46

47

Gambar 6.1 Diagram Ladder Air Blast

6.1.2 PUSAT POMPA

48

49

50

Gambar 6.2 diagram ladder pusat pompa

6.1.3 TANUR

51

Gambar 6.3 Diagram Ladder Tanur


6.2 ANALISA RANGKAIAN
6.2.1 AIRBLAST
Pada diagram ladder airblast kami memberikan address (address) terhadap
input, memori dan output sebagai berikut:
INPUT
S6A

000.00

S7A

000.01

S6B

000.02

S13

000.03

S8A

000.04

S8B

000.05

S14

000.06

S16

000.07

S13

000.08

S14A

000.09

S14B

000.10

K14T

200.01

K22

200.03

MEMORI

52

K97

200.04

K11T

200.07

K16

200.09

K8M

010.00

K7M

010.01

K6M

010.02

K3M

010.03

OUTPUT

Pada airblast terdiri dari dua posisi yaitu auto dan repair, jika kami
ingin menggunakan posisi auto terlebih dahulu menekan tombol auto,
kemudian selanjutnya menekan tombol star auto maka K6M akan bekerja
pada posisi star (K8M), kemudian ketika timer K9T telah bekerja maka posisi
star tersebut akan berganti menjadi delta. Pada saat material telah
distribusikan maka S13 akan bekerja sebagai flow switch, jika terjadi
pengosongan jalur maka vibrator (K13M) akan bekerja. Hal ini sebagai
penggetar pada silo 1 untuk mempercepat pendistribusian material.
Sebaliknya jika terjadi penumpukan material maka vibrator akan berhenti
bekerja. Ketika silo 2 telah terisi penuh maka, S16 akan bekerja hal ini akan
menyebabkan K14T bekerja sehingga vibrator berhenti bekerja karena NC
K14 dihubungkan secara seri terhadapat vibrator, kemudian selang beberapa
waktu kemudian ketika K14T telah mencapai waktu maka K6M akan berhenti
bekerja karena NC K14T dihubungkan secara seri dengan K6M.
Sedangkan jika kami ingin menggunakan posisi repair, maka terlebih
dahulu kami menekan saklar repair, kemudian menekan start fan jika ingin
mengoperasikan K6M, kemudian K6M akan bekerja dalam posisi star (K8M)
kemudian berganti menjadi delta (K7M), kemudian menekan stop fan jika
ingin menghentikan K6M. Sedangkan jika ingin mengoperasikan vibrator,
dengan menekan on vibrator, maka K13M akan bekerja, jika ingin
menghentikannya, dengan menekan off vibrator.
53

Dengan kata lain pada posisi repair kami mengoperasikan airblast


secara terpisah antara fan dan vibrator. Dalam posisi seperti ini biasa
digunakan apabila ada pemeliharaan (maintenece) atau ingin membersihkan
airblast dari sisa-sisa material
6.2.2 Pusat Pompa
Pada diagram ladder pusat pompa di atas kami memberikan addres
untuk setiap input, memori, dan output sebagai berikut:
Input
Selektor 1

000.00

Selektor 2

000.01

B11

000.02

B16

000.03

B10

000.04

B15

000.05

POMPA 1

200.00

POMPA 2

200.01

D15

200.02

D14

200.03

D16

200.06

D11

200.11

Memori

Sedangkan memori yang lain digunakan sebagai sambungan rangkaian


dan control khusus terhadap implus tangan.
Output
C21

(POMPA 1)

010.00

C23

(POMPA 2)

010.04

Dalam sistem simulasi pompa merupakan pemindahan air dari bak 1


ke bak 2 yaitu dari bak yang lebih rendah ke bak yang lebih tinggiu, dengan
menggunakan 2 buah pompa yang diputar oleh motor induksi satu fasa dan
54

bekerja secara otomatis dan manual dimana diatur oleh kerja rangkaian
kontrol. Adapun sistem kerja kedua pompa ini adalah sebagai berikut :
1
2

Apabila air berada pada level 1 maka kedua pompa tidak akan bekerja
Apabila air berada pada level 2 maka hanya pompa satu yang akan
bekerja, dimana pompa satu dan pompa dua akan bekerja bergantian

3
4

kerjanya jika air pada level 2 ini terjadi secara berulang-ulang.


Apabila air berada pada level 3 maka kedua pompa akan bekerja bersama.
Apabila air berada pada level 4 maka kedua pompa akan bekerja bersama
dengan dibantu oleh lampu tanda yang bekerja sebagai isyarat bahwa air
berada lebih dari pada maksimum.
Untuk pengoperasikan rangkaian ini dapat dilakukan dengan cara

berikut:

Penggunaan saklar impuls tangan (manual)


Penggunaan secara otomatis
Penggunaan saklar impuls tangan (manual)
Pada posisi ini pompa operasikan secara terpisah atau secara
tersendiri. Awalnya menentukan posisi dengan menekan SELEKTOR 1 dalam
keadaan manual. Dalam posisi manual akan mengaktifkan D11 sehingga anak
kontak D11 NO akan tertutup, hal ini menyebabkan pompa 1 (C21) akan
beroperasi, tetapi selang beberapa waktu pompa 1 akan berhenti disebabkan
D11T telah aktif (NC menjadi terbuka), jadi untuk kembali mengoperasikan
pompa 1, digunakan saklar aliran B10.
Seperti halnya pada SELEKTOR 1, pada pompa 2 awalnya kita
menekan SELEKTOR 2 agar berada pada posisi manual, jika telah berada
pada posisi manual maka pompa 2 akan beroperasi, hal ini disebabkan anak
kontak D16 yang awalnya NO akan tertutup karena D16 aktif. Selang
beberapa saat motor 2 akan berhenti bekerja sebab anak kontak D16T yang
awalnya NC akan terbuka. Jadi untuk mengoperasikan kembali pompa 2
digunakan saklar aliran B15.

55

Posisi Automatis
Pada posisi ini sebelumnya kita menekan saklar SELEKTOR 1 dan
SELEKTOR 2 dan memastikan posisinya berada pada keadaan automatis.
Awalnya kita menekan saklar B11 yang akan mengaktifkan saklar impuls
(dalam diagram ladder kami menggunakan counter), jika impuls aktif maka
D15 akan aktif, sehingga anak kontak pada D15 akan bertukar posisi yang
awalnya NO akan tertutup. Sehingga bila B11 tetap dialiri maka aliran akan
melalui anak kontak (9 dan 11) yang akan mengoperasikan pompa 2,
sedangkan jika kami menekan saklar B16 maka pompa 1 akan beroperasi
dimana aliran melalui D15 pada anak kontak (1 dan 3). Senjutnya jika kita
kembali menekan B11 maka impuls akan berhenti aktif, hal ini menyebabkan
D15 akan berhenti aktif sehingga anak kontaknya akan kembali pada posisi
semula, sehingga pada saat B11 dialiri akan mengoperasikan pompa 1 dan
B16 akan mengoperasikan pompa 2. Jadi pada posisi automatis ini, B11 akan
mengoperasikan motor secara bergantian sedangkan B16 menyesuaikan kerja
pompa sesuai dengan yang dioperasikan oleh B11 dalam artian jika B11
mengoperasikan pompa 1 maka B16 akan mengoperasikan pompa 2,
sebaliknya

jika

B11

mengoperasikan

pompa

maka

B16

akan

mengoperasikan pompa 1.
Pada diagram ladder kami mengunakan counter untuk mengganti
impuls. Dengan menggunakan dua counter seperti pada gambar di bawah ini:

56

Gambar 6.4 Diagram ladder menggunakan counter sebagai pengganti impuls


6.2.3 Tanur
Pada diagram ladder pada tanur di atas kami menggunakan addres untuk
masing-masing input, memori dan output sebagai berikut:
INPUT
S25E

000.01

S17

000.04

S17AE1

000.05

S12AE

000.08

S17AE2

000.10

S11

010.00

S16

010.01

L23

010.02

K13

200.00

K14

200.01

K17

200.03

K22

200.05

K23T

200.06

K21T

200.07

K11M

010.00

K18M

010.01

K19M

010.02

K20

010.03

Y16

010.05

Y15

010.06

MEMORI

OUTPUT

57

Y24

010.07

Proses awal dari sistem tanur dimulai dengan menekan saklar S11 yang
kemudian akan menyebabkan K11M tersupplay tegangan sehingga K11M bekerja.
Bekerjanya K11M ini akan menggerakkan motor yang akan menjalankan konveyor
belt atau ban berjalan yang digunakan sebagai pengangkut material yang akan
dipanaskan. Material yang dibawa oleh konveyor belt menuju keruang pemanasan,
sebelum memasuki ruang tersebut akan melewati sebuah sensor (light barrier 1).
Dengan terlewatinya light barrier 1 tersebut maka kontaktor akan menutup
dan akan mengalirkan arus pada K13 sehingga K13 bekerja. Kerja dari K13 ini akan
memutuskan arus yang mengalir pada K11M sehingga K11M ini mati atau dengan
kata lain konveyor belt berhenti berjalan. Selain itu, K13 ini akan mengalir arus K14
sehingga K14M dan Y15 bekerja. Namun kerja dari K13 tadi hanya sesaat karena
tidak memiliki pengunci. Dengan bekerjanya Y15 maka selenoid 1 akan aktif yang
menyebabkan valve 1 menjadi aktif.
Untuk menggerakkan pintu pertama dari ruang pemanas (pintu pertama
menutup) sampai menekan limit switch LS1. Limit Switch 1 yang tertekan tadi akan
menggerakkan selenoid dari valve 2 dan menyebabkan pintu dari ruang pemanas
bergerak menutup sampai menekan LS2.
Dengan tertekannya LS2 ini akan berfungsi menjalankan proses pemanasan di
dalam tanur yang dimulai dengan bekerjanya K17, K18M dan K19M yang terhubung
secara delta. Proses pemanasan yang pertama dilakukan dengan hubung delta dengan
tujuan yaitu untuk menghasilkan panas yang langsung tinggi yaitu 800C, jika suhu
800C itu rendah dan sudah mencapai batas tertentu maka rheostat 1 (S17AE2)
yang berfungsi sebagai kontrol dari proses pemanasan akan terlepas yang
mengakibatkan K17 akan berhenti bekerja sebab kontak thermostat 1 (S17AE2) ini
diserikan dengan K17. Dengan matinya K17 maka proses delta telah selesai dan
seketika itu pula arus akan mengalir ke K16 dan K20 dengan hubung bintang, ini
berarti proses pemanasan yang kedua telah berjalan, proses kedua ini dilakukan

58

dengan hubung bintang karena hanya ingin mempertahankan suhu pemanasan hingga
820C. Jika suhu 820C sudah tercapai maka thermostat 2 (S17AE2) )akan
bekerja, atau dengan kata lain sewaktu K16 dan K20 bekerja maka K21 sebagai timer
untuk waktu pemanasan juga bekerja, sehingga jika telah sampai pada setting waktu,
maka K22 akan bekerja untuk menutuskan arus ke K16, K15, K18M dan K20, atau
dengan kata lain keseluruhan dari proses pemanasan telah selesai.
Dengan selesainya proses pemanasan maka pintu 1 dan pintu 2 dari ruang
pemanas akan membuka (selonoid 1 dan 2 sudah tidak dialiri arus karena K22 telah
bekerja). Ketika pintu 2 membuka maka pada akhirnya limit switch 3 (LS3) akan
tertekan yang akan menyebabkan selenoid 3 akan bertegangan dan selanjutnya
mengaktifkan valve 3 bekerja mendorong lengannya atau tuasnya masuk delam ruang
pemanas untuk mengait material yang telah dipanaskan. Valve 3 ini mundur ke
tempatnya semula apabila supplay arusnya terputus. Pada saat pemutusan arus dari
valve 3 ini dikontrol oleh relay penunda waktu K23T, jadi apabila waktu tunda dari
K23T ini habis, maka supplay untuk selenoid dari valve 3 terputus sehingga
lengannya akan bergerak mundur bersama dengan material yang telah dipanaskan
dalam tungku pemanas.
Material yang tertarik mundur oleh valve 3 tersebut selanjutnya dijatuhkan
kedalam penampungan (kontainer/silo). Namun saat material tersebut jatuh maka
material tersebut akan memotong sensor (light barrier 2) yang berada pada bagian
atas silo. Light barrier 2 ini dikontrol oleh S25AE, dimana saat S25AE tersebut
dilewati maka anak kontak dari S25AE tersebut akan menghubungkan supplay
tegangan masuk ke K11 sehingga K11 bekerja atau dengan kata lain konveyor belt
pengangkutan material kembali berjalan, sehingga proses tersebut kembali terulang
dan K22 akan kembali OFF sehingga anak kontak pada selonoid 1, selonoid 2, K16,
K15, K18M dan K20 kembali pada posisi NC . Begitulah kerja dari sistem tanur
secara otomatis namun jika dalam proses tersebut sedang berjalan dan terdapat
gangguan secara tiba-tiba maka kita dapat menghentikan proses secara keseluruhan

59

dengan menekan Stop. tetapi dalam pengaplikasiannya kita mengganti sensor dengan
menggunakan saklar, sedangkan pada sensor light berrier 2 kita menggunakan timer
sebagai pengganti sensor tersebut untuk kembali mengulang kerja tanur tersebut.

BAB VII
PENUTUP
7.1 KESIMPULAN
Setelah melakukan praktek ini dapat ditarik beberapa kesimpulan,
diantaranya:

60

PLC adalah sebuah alat yang digunakan untuk mempermudah rangkaian yang

diaplikasikan pada industry.


Untuk running PLC diperlukan komunikasi serial pada PLC Omron CPM1A

untuk koneksi ke PC.


Untuk mengoperasikan pusat pompa dapat dilakukan dengan dua cara:
- Secara manual pompa dioperasikan secara terpisah.
- Secara automatis, pompa dapat dengan caraapabila B11 mengoperasikan
pompa 1 maka B16 akan menyesuaikan dengan mengoperasikan pompa 2,
begitu pula jika saklar B11 mengoperasikan motor 2 maka B16 akan

mengoperasikan motor 1.
Untuk mengoperasikan airblast dapat dilakukan dengan dua cara
- Secara auto yaitu proses kerja airblast dioperasikan secara beberurutan.
- Secara repair yaitu proses kerja airblast dapat dikontrol secara terpisah
pada fan dan vibrator.
Cimon SCADA merupakan software visual, untuk menampilkan dan
mengontol alat melalui PC, dengan syarat alamat yang diberikan pada Cimon
SCADA harus sesuai dengan alamat yang telah di download pada PLC.

7.2 SARAN
a Dalam praktek sebaiknya alat yang digunakan dalam kondisi baik sehingga
praktikan lancar dalam mengerjakan semua job yang diberikan, selain itu
diharapkan instruktur selalu berada di tempat sehingga praktek dapat dilakukan
dengan efisien dan mencegah terjadinya kesalahan maupun kerusakan
peralatan.
b Sebelum mengerjakan instalasi sebaiknya praktikan dibekali dengan teori-teori,
selain itu praktikan sendiri diharapkan memahami terlebih dahulu diagram

61

rangkaian yang diberikan pada job sheet, sehingga pada saat pelaksanaan
kegiatan ini praktikan tidak mengalami kesulitan yang berarti.

62