Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH SISTEM NEUROBEHAVIOUR II

PSIKOSA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Sistem Neurobehaviour II

Disusun oleh :
TUTOR 4

Hardiyanti Rahayu

220110120027

Ridillah Vani Jasmia

220110120051

Masriyah Komalasari

220110120063

Nurul Fatimah

220110120075

Sammy Lazuardi Ginanjar

220110120099

Ulfathea Mulyadita

220110120135

Neng Nopi Varida

220110120159

Fakultas Keperawatan
Universitas Padjajaran
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dan kelancaran dalam pembuatan makalah ini sehingga
makalah ini dapat selesai dengan tepat waktu.
Makalah ini berjudul PSIKOSA yang membahas mengenai konsep
penyakit Psikosa , analisis kasus Psikosa serta asuhan keperawatan pada Pasien
Psikosa . Makalah

ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem

Neurobehaviour II.
Dalam pembuatan makalah ini, penyusun telah banyak menerima bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun menyampaikan ucapan terima kasih
kepada :
1. Ibu Aat Sriati, S.Kp.M.Si. selaku koodinator mata kuliah Sistem
Neurobehaviour II yang telah membimbing penyusun dalam pembuatan
makalah ini ;
2. Ibu Anita Setyawati, S.Kep.,Ners.,M.Kep. selaku Dosen Tutor Kelompok 04
pada

mata kuliah Sistem Neurobehaviour II yang telah membimbing

penyusun dalam pembuatan makalah ini ;


3. Keluarga dan teman-teman angkatan 2012 yang telah memberikan dukungan
serta semangatnya dalam pembuatan makalah ini ;
4. Berbagai pihak yang tidak dapat penyusun sebutkan satu per satu.
Penyusun memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam
makalahini. Penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
makalah ini.
Jatinangor, November 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... i


Daftar Isi ...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................4
1.3 Tujuan .........................................................................................................5
1.4 Manfaat .......................................................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI ...............................................................................6
BAB III ANALISIS KASUS ................................................................................38
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Kesimpulan .................................................................................................38
3.2 Saran ............................................................................................................39
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................40

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan bahwa


prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia adalah 1,7 per mil.
Sedangkan menurut World Health Organitation (WHO) prevalensi masalah
kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi, 25% dari penduduk dunia pernah
menderita masalah kesehatan jiwa, 1% diantaranya adalah gangguan jiwa
berat.
Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya
kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana individu tidak mampu
menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan
lingkungan. Pengertian seseorang tentang penyakit gangguan jiwa berasal
dari apa yang diyakini sebagai faktor penyebabnya yang berhubungan dengan
biopsikososial (Stuart & Sundeen, 1998).
Gangguan jiwa dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu gangguan
jiwa ringan (Neurosa) dan gangguan jiwa berat (Psikosis). Psikosis ada dua
jenis yaitu psikosis organik, dimana didapatkan kelainan pada otak dan
psikosis fungsional tidak terdapat kelainan pada otak. Psikosis salah
satu

bentuk

gangguan

jiwa merupakan ketidakmampuan untuk

berkomunikasi atau mengenali realitas yang menimbulkan kesukaran dalam


kemampuan seseorang berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan
sehari-hari. Salah satu gejala psikosis yang dialami penderita gangguan
jiwa

adalah

yang

merupakan

gangguan

persepsi

dimana pasien

mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi (Maramis, 2005).


Akibat yang ditimbulkan oleh gangguan tersebut dapat berakibat
fatal karena berisiko tinggi untuk merugikan dan merusak diri pasien
sendiri, orang lain disekitarnya dan juga lingkungan (Stuart dan Sundeen,
1995). Gangguan ini biasanya berdampak pada kemampuan kognitif dan
psikomotor pasien.

Dengan semakin bertambahnya tekanan hidup pada setiap orang


maka akan lebih memudahkan seseorang tersebut mengalami gangguan jiwa
. Pada umumnya seseorang akan mengalami gangguan jiwa ringan. Namun,
lama-kelamaan jika tidak dapat menghadapi stressor yang sering terjadi
maka akan menyebabkan terjadinya gangguan jiwa berat. Oleh karena itu,
pembahasan mengenai gangguan jiwa ini sangatlah penting dan menarik
untuk dibahas terutama jenis gangguan jiwa berat (psikosa) serta asuhan
keperawatan pada pasien yang mengalami psikosa ini.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian Psikosa ?
1.2.1

Bagaimana konsep penyakit gangguan jiwa berat (psikosa) ini ?

1.2.2

Bagaimana proses seseorang dapat mengalami Psikosa ?

1.2.3

Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien Psikosa?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.3.1

Mengetahui pengertian Psikosa.

1.3.2

Mengetahui konsep penyakit gangguan jiwa berat (Psikosa).

1.3.3

Mengetahui proses seseorang dapat mengalami Psikosa.

1.3.4

Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien Psikosa.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1.4.1

Sebagai bahan pembelajaran mengenai konsep dan hal-hal yang terkait


pada Penyakit Psikosa.

1.4.2

Dapat mengetahui asuhan keperawatan pada pasien Psikosa .

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Gangguan Jiwa Psikosa
Menurut Gunarsa (1998), psikosa atau psikosis ialah gangguan jiwa yang
meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan
diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Maramis (2000)
menyatakan bahwa psikosa adalah suatu gangguan jiwa dengan kehilangan rasa
kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan
gangguan-gangguan pada perasaan, pikiran, kemauan, motorik, dst. sedemikian
berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Perilaku
penderita psikosa tidak dapat dimengerti oleh orang normal, sehingga orang
awam menyebut penderita sebagai orang gila.
Individu disebut psikotis apabila :
1

Reality test nya terganggu lama sekali, sihingga pikiran dan tanggapanya tidak
sesuai dengan realitas, lalu di hinggapi halusinasi dan delusi-delusi (waham,
halusinasi).

Kepribadiannya disintregarasi.
Orang mengalami kekalutan organis, kekalutan fungsional, dan kekalutan
fungsi kejiwaan pada intelegensi, kemauan dan perasaannya. Hubungan
dirinya dengan dunia luar dan realitas terputus dan dia hidup dalam dunia
yang tidak riil (dalam dunia fantasi, cita-cita atau dunia imaginer). Dia
menutup diri dari realitas nyata dan tidak mampu mengenali serta menilai
realita yang ada. Sehingga dirinya menjadi tidak kompeten secara sosial dan
tidak bisa memikul tanggung jawab atas segala tingkah lakunya.

Individu mengintrepretasikan tekanan-tekanan interval serta eksternal dengan


cara yang keliru dan merugikan sehingga semakin banyak muncul gangguan
efektif yang serius, ketakutan, kecemasan-kecemasan hebat dan halusinasi.
Kehidupan psikisnya jadi kacau atau penuh kekhawatiran. Penderita tidak
berdaya dan tidak mampu meluruskan kesulitan batinnya.

2.2 Faktor Penyebab Psikosa


Adapun faktor faktor penyebab gangguan psikosa antara lain :
2.2.1

Faktor organo biologik


A. Genetik (heredity)
Adanya kromosom tertentu yang membawa sifat gangguan jiwa
(khususnya pada Schizophrenia

). Hal ini telah dipelajari pada

penelitian anak kembar, dimana pada anak kembar monozigot (satu sel
telur) kemungkinan terjadinya Schizophrenia

persentase

tertinggi

86,2%, sedangkan pada anak kembar dengan dua sel telur (heterozigot)
kemungkinannya hanya 14,5%.
B. Bentuk Tubuh (konstitusi)
Kretschmer (1925) dan Sheldon (1942), meneliti tentang adanya
hubungan antara bentuk tubuh dengan emosi, temperamen dan
kepribadian (personality). Contohnya : orang yang berbadan gemuk
emosinya cendrung meledak ledak, ia bisa lompat kegirangan ketika
mendapat hal yang menyenangkan baginya dan sebaliknya.
C. Terganggunya Otak Secara Organik
Contohnya : Tumor, trauma (bisa disebabkan karena gagar otak yang
pernah dialami karena kecelakaan), infeksi, gangguan vaskuler,
gangguan metabolisme, toksin dan gangguan cogenital dari otak.

D. Pengaruh Cacat Cogenital


Contohnya : Down Syndrome (mongoloid).
E. Pengaruh Neurotrasmiter
Yaitu suatu zat kimia yang terdapat di otak yang berfungsi sebagai
pengantar implus antar neuron (sel saraf) yang sangat terkait dengan
penelitian berbagai macam obat obatan yang bekerja pada susunan
saraf. Contohnya : perubahan aktivitas mental, emosi, dan perilaku
yang disebabkan akibat pemakaian zat psikoaktif.
2.2.2

Faktor Psikologik
A. Hubungan Intrapersonal meliputi :
1. Inteligensi.
2. Keterampilan.
3. Bakat dan minat.
4. Kepribadian.
B. Hubungan Interpersonal
1. Interaksi antara kedua orang tua dengan anaknya.
2. Orang tua yang over protektif.
3. Orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
4. Peran ayah dalam keluarga.
5. Persaingan antar saudara kandung.
6. Kelahiran anak yang tidak diharapkan.

2.2.3

Faktor Sosio Agama


A. Pengaruh Rasial
Contohnya : adanya pengucilan pada warga berkulit hitam di negara
Eropa.
B. Golongan Minoritas

Contohnya :pengucilan terhadap seseorang atau sekelompok orang


yang menderita penyakit HIV.
C. Masalah Nilai Nilai yang Ada dalam Masyarakat.
1. Masalah Ekonomi misalnya karena selalu hidup dalam kekurangan
seorang ibu menganiaya anaknya.
2. Masalah Pekerjaan.
3. Bencana Alam.
4. Perang misalnya karena perang yang berkepanjangan seorang anak
menjadi stress.
5. Faktor Agama atau religius baik masalah intra agama ataupun inter
agama misalnya saat

perasaan bingung dalam keyakinan yang

dialami seorang anak karena perbedaan keyakinan dari orang


tuanya.
2.3 Ciri Ciri Gangguan Psikosa
Adapun ciri ciri gangguan psikosa antara lain :
1. Memiliki labilitas emosional.
2. Menarik diri dari interaksi sosial.
3. Tidak mmpu bekerja sesuai fungsinya.
4. Mengabaikan penampilan dan kebersihan diri.
5. Mengalami penurunan daya ingat dan kognitif parah.
6. Berpikir aneh, dangkal, berbicara tidak sesuai keadaan.
7. Mengalami kesulitan mengorientasikan waktu, orang dan tempat.
8. Sulit tidur dalam beberapa hari atau bisa tidur yang terlihat oleh keluarganya,
tetapi pasien mesrasa sulit atau tidak bisa tidur.
9. Memiliki keengganan melakukan segala hal, mereka berusaha untuk tidak
melakukan apa apa bahkan marah jika diminta untuk melakukan apa apa.

10

10. Memiliki perilaku yang aneh misalnya, mengurung diri di kamar, berbicara
sendiri, tertawa sendiri, marah berlebihan dengan stimulus ringan, tiba tiba
menangis, berjalan mondar mandir, berjalan tanpa arah dan tujuan yang
jelas.

2.4 Jenis Jenis Psikosa


Gangguan jiwa berat atau Psikosa ini dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu
psikosa organic dan psikosa fungsional (non-organik). Berikut adalah
penjelasannya :
2.4.1 Psikosa organik
Psikosa organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktorfaktor fisik atau organik yaitu pada fungsi jaringan otak, sehingga penderita
mengalami inkompeten secara sosial, tidak mampu bertanggung jawab, dan
gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas.
Psikosa organik dibedakan menjadi beberapa jenis dengan sebutan
atau nama mengacu pada faktor penyabab terjadinya. Jenis psikosa yang
tergolong psikosa organik menurut kartono (2000) adalah :
1

Alcoholic psychosis, terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau


rusak akibat terlalu banyak minum minuman keras.

11

Drug psychose atau psikosa akibat obat-obat terlarang (mariyuana,


LSD, kokain, sabu-sabu, dst.).

Traumatic psychosis, yaitu psikosa yang terjadi akibat luka atau trauma
pada kepala karena kena pukul, tertembak, kecelakaan, dst.

Dementia paralytica, yaitu psikosa yang terjadi akibat infeksi syphilis


yang kemudian menyebabkan kerusakan sel-sel otak.

2.4.2 Psikosa fungsional


Psikosa fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang
bersifat non-organik, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan
ketidakmampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Kartono (2000)
membedakan psikosa ini menjadi beberapa, yaitu: schizophrenia, psikosa
mania-depresif, dan psikosis paranoid.
Selain berdasarkan pengklasifikasian diatas ada juga yang membagi
menjadi psikosa akut dan psikosa kronik. Berikut adalah penjelasannya :
2.4.3 Gangguan Psikosa Akut
Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :
1. Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya
2. Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal
3. Kebingungan atau disorientasi
4. Perubahan

perilaku;

menjadi

aneh

atau

menakutkan

seperti

menyendiri, kecurigaan berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain


atau lingkungan, bicara dan tertawa serta marah-marah atau memukul
tanpa alasan.
2.4.4 Gangguan Psikosa Kronik

12

Gambaran perilaku :
1. Penarikan diri secara sosial
2. Minat atau motivasi rendah, pengabaian diri
3. Gangguan berpikir (tampak dari pembicaraan yang tidak nyambung atau
aneh)
4. Perilaku aneh seperti apatis, menarik diri, tidak memperhatikan
kebersihan yang dilaporkan keluarga
2.5 Gangguan gangguan jiwa yang termasuk Psikosa
2.5.1 Psikosa Fungsional
Berdasarkan jenis psikosa fungsional maka gangguan jiwa yang
termasuk psikosa adalah schizophrenia, psikosa mania-depresif, dan psikosis
paranoid. Berikut ini adalah penjelasannya :

2.5.1.1 Schizophrenia
A. Pengertian
Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split ofpersonality).
Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit
ini, yaitu adanya jiwa yang terpecah belah. Antara pikiran, perasaan, dan
perbuatan terjadi disharmoni.
Kata Schizophrenia

terdiri dari dua kata, yaitu skhizein = spilit =

pecah dan phrenia = mind = pikiran. Jadi Schizophrenia adalah gangguan


psikosa yang sifatnya merusak, melibatkan gangguan berfikir, persepsi,
pembicaraan, emosional, dan gangguan perilaku.

13

Selain itu ada yang menjelaskan bahawa Schizophrenia merupakan


suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit
yang luas, serta sejumlah akibat tergantung pada perimbangan pengaruh
genetik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 2000 : 46).
B. Faktor - Faktor Penyebab Schizophrenia
Adapun faktor faktor penyebab skozofrenia antara lain :
1. Faktor Biologis yaitu faktor gen yang melibatkan Schizophrenia, obatobatan, anak keturunan dari ibu Schizophrenia, anak kembar yang
indentik ataupun frental dan abnormalitas cara kerja otak.
2. Faktor Psikologis yaitu faktor faktor yang berhubungan dengan
gangguan pikiran, keyakinan, opini yang salah, ketidakmampuan
membina, mempertahankan hubungan sosial, adanya delusi dan
halusinasi yang abnormal dan gangguan afektif.
3. Faktor Lingkungan yaitu pola asuh yang cenderung Schizophrenia,
adopsi keluarga Schizophrenia dan tuntunan hidup yang tinggi.
4. Faktor Organis yaitu ada perubahan atau kerusakkan pada sistem syaraf
sentral juga terdapat gangguan gangguan pada sistem kelenjar
adrenalin dan piluitari (kelenjar dibawah otak). Kadang kala kelenjar
thyroid dan adrenal mengalami atrofi berat. Dapat juga disebabkan oleh
proses klimakterik dan gangguan menstruasi. Semua ganguan tadi
menyebabkan degenerasi pada energi fisik dan energi mentalnya.
C. Gejala-gejala Schizophrenia
Gejala pada penderita Schizophrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua
kelas yaitu :
1

Gejala-Gejala Positif

14

Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala


ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati
oleh orang lain.
2

Gejala-Gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan
dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak
mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku,
kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatankegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan berbicara.
D. Ciri Ciri Schizophrenia
Ciri ciri klinis Schizophrenia antara lain :
1.

Mengalami delusi dan halusinasi


Gangguan delusi disebut juga sebagai disorder of thought content atau the
basic characteristic of madness adalah gejala gangguan psikosa penderita
Schizophrenia yang ditandai gangguan pikiran, keyakinan kuat yang
sebenarnya misrespresentation dari keyakinannya.
Ciri ciri klinis dari gangguan delusi yaitu :
a)

Keyakinan yang persisten dan berlawanan dengan kenyataan tetapi tidak


disertai dengan keberadaan sebenarnya.

b)

Terisolasi secara sosial dan bersikap curiga pada orang lain.

Bentuk bentuk delusi yang berkaitan dengan Schizophrenia yaitu :


a)

Delusions of persecution adalah penderita Schizophrenia yang mengalami


gangguan psikosa ditandai waham kebesaran, tersohor, sebagai tokoh
tokoh penting atau merasa hebat.

b)

Delusions of persecution adalah pasien Schizophrenia yang mengalami


gangguan psikosa ditandai adanya waham prasangka buruk terhadap

15

dirinya atuapun orang lain yang tidak realitas. Merasa orang lain sangat
dengki dengan dirinya.
c)

Cotards syndrome (somatic) adalah penderita Schizophrenia yang


mengalami gangguan psikosa atau ketakuatan yang tidak real. Penderita
memiliki waham bahwa kondisi fisiknya sakit atau di bagian bagian
tubuh tertentu rusak. Perasaan bagian tubuh yang terganggu atau sakit
secara medis tidak ditemukan.

d)

Cogras syndrome yaitu penderita Schizophrenia

yang

mengalami

gangguan psikosa ditandai adanya waham pengganti yang tidak real


terhadap dirinya. Merasa curiga bahwa selain dirinya ada yang sangat
sama dengan dirinya.
e)

Erotomatic adalah keyakinan penderita Schizophrenia mencari membututi


orang orang tersohor ataupun pada orang orang yang dicintainya.
Penderita merasa dirinya dicintai.

f)

Jealous yaitu keyakinan penderita Schizophrenia bahwa pasangan


seksualnya melakukan selingkuh atau tidak setia pada dirinya.
Sedangkan halusinasi adalah gejala gangguan psikosa penderita

Schizophrenia yang ditandai gangguan persepsi pada berbagai hal yang


dianggap dapat dilihat, didengar ataupun adanya perasaan dihina meskipun
sebenarnya tidak realitas.
Adapun ciri ciri klinis dari penderita halusinasi yaitu :
a)

Tidak memiliki insight yang jelas dan kesalahan dalam persepsi.

b)

Adanya associative spilitting dan cognitive splitting.


Bentuk

bentuk

halusinasi

yang

berkaitan

dengan

penderita

Schizophrenia yaitu :
a) Halusinasi pendengaran (audiotory hallucination) adalah penderita
Schizophrenia

yang mengalami gangguan psikosa melalui adanya

16

pendengaran terhadap objek suara suara tertentu. Keadaan ini sering


terjadi ketika penderita Schizophrenia

tida melakukan aktivitas. Terjadi

pada bagian wernickes area.


b) Halusinasi pada bagian otak (brain imaging) yaitu gangguan daerah otak
terutama bagian brocas area adalah daerah pada bagian otak yang selalu
memberikan halusinasi pada penderita Schizophrenia
2.

Disorganisasi dan pendataran afektif.


Disorganisasi adalah gangguan psikosa dari penderita Schizophrenia
yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam mengatur arah bicara, reaksi
emosional dan perilaku motoriknya.
Bentuk bentuk dari gangguan pikiran disorganisasi yaitu :
a)

Tangentialty adalah ketidakmampuan dari penderita Schizophrenia


untuk mengikuti arah pembicaraan. Topik dan arah pembicaraan.
Pembicaraan penderita ini selalu menyimpang jauh dari setiap arah
pembicaraannya.

b)

Loose association adalah penderita Schizophrenia yang mengalami


gangguan

dalaam

topik

pembicaraaan.

Topik

dan

arah

pembicaraan penderita Schizophrenia ini sama sekali tidak berkaitan


dengan apa yang dibicarakan.
c)

Derailment adalah pola pembicaraan penderita Schizophrenia

sama

sekali keluar dari alur pembicaraan.


Sedangkan Pendataran Afek adalah gejala gangguan psikosa dari
penderita Schizophrenia yang ditandai dengan ketidakmampuannya dalam
mengatur antara reaksi emosional dan pola perilaku (inappropriate affect)
atau afektif yang tidak sesuai dengan perilaku. Misalnya, reaksi emosi yang
tidak sesuai dengan cara menimbun barang yang tidak lazim.
Adapun ciri ciri klinis pendataran afek yaitu :

17

3.

a)

Tidak adanya reaksi emosional dalam komunikasi.

b)

Selalu menatap kosong dalam pandangannya.

c)

Berbicara datar tanpa ada nada pembicaraan.

Pendataran alogia, avolusi dan anhedonia.


Alogia adalah gejala gangguan psikosa dari penderita Schizophrenia
yang ditandai dengan adanya disefisiensi dalam jumlah atau isi
pembicaraan.
Adapun ciri ciri klinis dari penderita alogia yaitu :
a)

Jawaban yang diberikan penderia singakat atau pendek.

b)

Cendrung kurang tertarik untuk berbicara.

c)

Lebih banyak berdiam diri dan komonikasi yang tidak adekuat.

d)

Adanya gangguan pikiran negatif dan berkomunikasi.

e)

Kesulitan dalam memformulasikan kata.

f)

Kalimat (kata kata) selalu tidak sesuai dengan formulasi pikiran.


Avolisi yaitu gejala gangguan psikosa dari penderita Schizophrenia

yang ditandai ketidakmampuan memulai ataupun mempertahankan


kegiatan kegiatan penting.
Ciri ciri klinis gangguan avolisi yaitu :
a)

Tidak menunjukkan minat pada aktivitas atau fungsi kehidupannya


sehari hari dan tidak berminat merawat kesehatan tubuhnya.

b)

Cenderung menjadi pemalas dan kotor.


Anhedonia

yaitu

gejala

gangguan

psikosa

dari

penderita

Schizophrenia yang ditandai dengan ketidakadaan perasaan senang, sikap


tidak peduli terhadap kegiatan sehari hari, cenderung tidak suka makan
dan ketidakpedulian terhadap hubungan interaksi sosial atau seks.
4.

Disfungsi sosial, okupasional, tidak peduli pa perawatan diri dan


persistensinya berlangsung selama enam bulan.

18

5.

Mengalami kesulitan dalam hubungan sosial atau masyarakat.

6.

Cenderung tidak membangun, membina, dan mempertahankan hubungan


sosial.

7.

Harapan hidup yang sangat rendah, cendrung untuk bunuh diri.

8.

Reaksi emosional yangt abnormal.

9.

Adanya kerusakan bagian otak terutama pada neurotransmiter.

E. Symptom-symptom umum schizofrenia


Berikut adalah symptom-symptom umum penderita
1. Simptom fisik
Ada gangguan motorik berupa retardasi jasmaniah, lamban gerak
geriknya . tingkah lakunya jadi streotipis, yaiti kadang-kadang ada gerakgerak motorik lamban, tidak teratur, dan kaku ;atau tingkah lakunya
menjadi aneh-aneh eksentrik.
2. Simptom psikis
a

Intelek dan ingatanya jadi sangat mundur. Ia jadi sangat introvert dan
pemimpi siang atau daydreamer. Tidak ada sedikit sekali berkontak
dengan lingkungannya. Tendensi menjadi autistis sangat kuat.

Penderita mengalami regresi atau degenerasi mental, sehingga menjadi


acuh tak acuh dan apatis, tanpa minat pada dunia sekitarnya, tanpa
kontak sosial.

Afeksi dan perasaan kemesraannya menipis. Menjadi jorok dan kotor;


tidak tau malu, suka memperlihatkan alat kelaminya;dan sering
bertingkah laku moral.

Dia dihinggapi bermacam-macam angan-angan dan pikiran yang


keliru, halusinasi, delusi, dan ilusi yang salah.

Ia suka mengarang kata-kata atau istilah-istilah baru, tanpa


mengandung arti sesuatupun atau kata-kata yang diperpendek.

19

Emosinya banyak terganggu. Dia menjadi acuh tak acuh sama sekali
terhadap diri sendiri dan lingkungannya, apatis dan introvert sekali.

Gangguan keperibadian berupa breakdown mental yang secara total. Tibatiba ia bisa dihinggapi perasaan kebencian dan dendam yang meluap-luap.

F. Fase Schizophrenia
Perjalanan penyakit Schizophrenia dapat dibagi menjadi 3 fase
yaitu fase prodmoral, fase aktif dan fase residual. Berikut penjelasannya :
1. Fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang
lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum
onset psikosa menjadi

jelas.

Gejala

tersebut

meliputi

gangguan fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan


waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan-perubahan
ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan
teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang
dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya.
2. Fase aktif gejala positif / psikosa menjadi jelas seperti
tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai
gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase
ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala tersebut dapat hilang
spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan.
Fase aktif akan diikuti oleh fase residual.
3. Fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase
prodromal tetapi gejala positif / psikosanya sudah berkurang.
Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas,
penderita Schizophrenia juga mengalami gangguan kognitif
berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa,
kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan

20

sosia

21

G. Tipe Schizophrenia
Tipe Schizophrenia dikelompokkan atas lima bagian yaitu :
a

Tipe paranoid.

Tipe katatonik.

Tipe tak terperinci atau tak terbedakan.

Tipe disorganisasi.

Tipe residual.

Berikut adalah perbedaanya :

Tipe Schizophrenia
Paranoid

Gejala - Gejala Umum


1

Gangguan psikomotor, seperti adanya stupor,


negativisme, rigiditas, postur aneh, agitasi
dan mutisme (bisu).

Cenderung mengalami waham kebesaran.

Ansietas, marah dan agumentatif.

Hubungan interpesonal menguat.

Berpotensi berperilaku agresif pada diri


sendiri atau orang lain.

Katatonik

6
1

Keterampilan kognitif dan afektif tetap utuh.


Gangguan psikomotor, seperti adanya stupor,
negativisme rigiditas, postur aneh, agitasi,
dan mutisme (bisu).

Respon motorik tidak lazim dalam bentuk


diam dan pada posisi di tempat (waxy
flexibelity) atau posisi kegiatan eksesif.

Tingkah laku ganjil dengan tubuh dan wajah


yang menyeringai (grimering).

Sering mengulang atau meniru kata kata


orang lain (echolalia).

Senang

meniru

gerakan

oang

lain

22

(echopraxia).
6

Catatonic

immobility,

yaitu

gangguan

perilaku motorik dimana orang itu tetap diam


tanpa bergerak dalam kurun waktu lama
Tak Terbebanan

Disorganisasi

dengan postur tubuh yang ganjil.


Waham dan halusinasi.

Inkoheren.

Perilaku tidak terorganisasi yang tidak dapat

digolongkan kedalam salah satu tipe.


Perilaku kacau balau, bingung ataupun ganjil
yang menyebabkan gangguan berat dalam
aktivitas sehari hari.

Residual

Kurang memiliki hubungan.

Kehilangan asosiasi.

Bicara tidak teratur.

Afek datar dan tidak sesuai.

6
1

Gangguan kognitif.
Minimal pernah mengalami satu episode
skizofrenik dengan gejala psikosa yang
menonjol diikuti oleh episode lain tanpa
gejala psiotik.

Emosi tumpul.

Menarik diri dari dunia realita.

Pengalaman persepsi tidak biasa.

Perilaku eksentrik.

Pemikiran tidak logis.

Kehilangan asosiasi.

Adanya

delusi

dan

halusinasi

yang

aneh aneh dan salah, ide ide yang tidak


wajar, pemalas dan memiliki afek yang
datar.

H. Prognosa dan penyembuhan

23

Prognosa dan penyembuhan bagi schizophrenia pada umumnya sedikit


sekali kemungkinan bias sembuh, terutama jika keadaanya sudah parah.
Penderita Schizophrenia dapat diobati dengan pengobatan antipsikosa. Cara
Mengatasi Schizophrenia antara lain dengan :
1) Menciptakan kontak sosial yang baik.
2) Terapi ECT (electrocompulsive therapy) dan (insulin comma therapy).
3) Menghindarkan dari frustrasi dan kesulitan psikis lainnya.
4) Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif dan mau melihat hari
depan dengan rasa berani.
5) Memberi obat neuroleptik yaitu obat yang dapat mengendalian saraf
delusi, halusinasi dan agitasi, clozapine serta olanzapine.
Usaha usaha preventif untuk mencegah Scizophrenia adalah:
1

Menghindari frustasi-frustasi dan kesulitan-kesulitan psikisnya.

Menciptakan kontak-kontak social yang sehat dan baik

Membiasakan pasien memikiki sikap hidup (attitude) pusitif , dan mau


melihat hari depan dengan rasa keberanian.

Beranikan klien mengambil sikap tegas dalam menghadapi realitas


dengan rasa positif

Usahakan agar penderita bisa menjadi extrovert

2.5.1.2 Psikosa Mania-Depresif


A. Pengertian
Psikosa mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat, berbentuk
gangguan emosi yang ekstrim yaitu berubah-ubahnya kegembiraan yang
berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan
sebaliknya. Gejala-gejalanya antara lain :

euphoria (kegembiraan secara

berlebihan); waham kebesaran; hiperaktivitas; pikiran melayang. Gejala-gejala


depresi antara lain : kecemasan; pesimis; hipoaktivitas; insomnia;anorexia.

24

70% dari semua penderitanya adalah wanita. Psikosa manis-despresif ini


merupakan kekalutan mental yang serius berbetuk gangguan emisionsl yang
ekstrim, yaitu terus menerus bergerak antara gembira ria tertawa-tawa (elation)
sampai dengan rasa defresif sedih putus asa penderitanya selalu dihinggapi
ketegangan-ketegangan afektif dan agresi yang terhambat-hambat. Implusimplusnya kuat, tetapi pendek [enfek, dan tidak bias dikontrol atau dikendalikan
. misalnya pikiran kacau dan ingatanya jadi semakin mundur. Pasien menjadi
sangat egosentris, dan tingkah-lakunya jadi kekanak-kanakan. Dia merasa selalu
gelisah, dan tidak pernah merasa puas.
Pada umumnya pasien dihinggapi maniamania kompensasi untuk mereduksi
pikiran-pikiran dan ide-ide yang tidak menyenangkan (dijadikan mekanisme
untuk meluapkan kesedihan dan kekecewaan hidup) dalam bentuk aktifitasaktifitas

yang

ekstrim.

Sedangkan

depresinya

merupakan

reaksi untukmeluapkan atau melampiaskan kegagalan-kegagalanya. Pada


umumnya ada rasa rasa penyesalan hebat, dan ada usaha untuk melarikan diri
dari kenyataan hidup. Lalu munculah kemudian rasa putus asa.
B. Sebab-sebab Timbulnya Psikosa Mania-Depresif
Penyebab timbulnya Psikosa Mania-Depresif antara lain :
1. Sebab Organik
a

Gangguan glanduler pada kelenjar-kelenjar thyroid, gonadal, parathyroid

Infeksi-infeksi, trauma atau luka-luka, dan keracunan.

Tipe-tipe jasmani yang piknis / pycnis mempunyai kecendrungan mendapat


gangguan penyakit ini.

2. Sebab-sebab hederiter
Banyak pasian yang mempunyai sanak keluarga yang sakit jiwanya, atau
mempunyai gangguan mental yang serius.
3. Sebab-sebab non herediter
Ada mania-mania kompensasi untuk meredusir pikiran-pikiran dan ide-ide
yang tidak menyenangkan, yang dijadikan mekanisme kompensatoris untuk

25

meluapkan kesedian dan kekecewaan-kekecewaan hidup, dalm bentuk aktivitasaktivitas yang ekstrim, sibuk, dan kacau tidak beraturan. Sedang unsur
depresinya merupakan kanalisasi pelepasan untuk melupakan kegagalankegagalan. Pada umumnya ada rasa-rasa penyesalan. Lalu timbul usaha untuk
melarikan diri dari kenyataan hidup, kemudian muncul perasaan putus asa.
C . Simptom-simptom Psikosa Mania-Depresif
Simptom-simptom pada saat mania antara lain:
1

Penderitanya sangat aktif, hiperaktif dan lari kesana kemari. Banyak bicara,
bicara sangat cepat dan ketawa-tawa riang, suka bernyanyi-nyanyi dan
mengeluarkan kata-kata atau bahasa yang kotor.

Ia sangat tidak sabaran dan tidak toleran. Menjadi iritable dan gelisah.

Kesadarannya kabur, idenya campuraduk. Ia tidak lagi mengenal larangan


dan pantangan-pantangan (inhibition)

Ada disorientasi total terhadap ruang, tempat, dan waktu.

Emosinya pendek-pendek dan meledak-ledak. Dalam keadaan excited ini


sering melakukan kekerasan, membanting-banting dan merusak segala sesustu
yang dapat dijangkaunya. Dia menjadi ribut melakukan hal-hal gila.

Penderita merasa selalu dikejar-kejar oleh ilusi-ilusi serta halusinasi


halusinasi visual dan aural ; juga delusi-delusi person.

Pada stadium berat, disaat pasien mengalami mania, dia bisa melakukan
serangan-serangan , kekerasan dan usaha-usaha untuk membunuh orang lain
atau bunuh diri.
Simptom-simptom pada saat depresif antara lain :

Penderita menjadi melankoni, depresif, sangat sedih, banyak menangis ,


dihinggapi ketakutan dan kegelisahan.

Perasaanya tidak pernah merasa puas. Merasa tidak berguna dan sia-siakan
dalam hidupnya. Ia merasa sebatang kara didunia, menjadi positif, acuh tak
acuh, dan apatis.

26

Dihinggapi halusinasi-halusinasi dan delusi-delusi yang menakutkan atau


menimbulkan kepedihan hati. Ada penyesalan penyesalan atas kesalahan dan
dosa-dosa di masa lampau.

Merasa jemu hidup dan berputus asa. Merasa ngin mati dan melakukan usahausaha untuk bunuh diri. Kadang-kadang dibarengi dengan gejala stupor
komplit, atau dihinggapi epilepsi (seluruh badan menjadi kaku dan tidak bias
digerakkan atau dibengkokkan) dia berdiam diri saja dalam waktu yang lama,
tidak mau berbicara, serta menolak makan dan minum.

Kesadaran jadi kabur, biasanya disertai redertasi motorik, dan redertasi mental
yang semakin memburu.

Tipe-tipe kepribadian cylcothym atau ekstrovert juga mempunyai kolerasi


dengan gangguan manis depresif ini.

Tidak ada control emosi. Tidak ada integrasi antara rasa-rasa penurut tunduktunduk dengan tendens-tendens harga diri yang ekstrim.

D. Derajat mania
1

Tingkatan hypomania (hypo kurang, maniakegilaan).


Kegelisahan yang berlebih-lebihan. Pasien menjadi aktif sekali, tidak
mengenal jemu. Bicaranya cepat, gembira dan penuh gairah. Dia menjadi
sangat irritable, tidak toleran mania dan tidak sabaran.

Tingkatan mania akut


Pikiran dan ide-idenya begitu cepat bergerak atau berganti-ganti,
sehinggah bicaranya tidak jelas dan ketinggalan (ketinggalan dari
pikiran). hilang kemampuan beriontasi, dan kesadaranya jadi kabur

Mania hyperakut
Ada dorongan melakukan kekerasan dan ska berkelahi. Bersifat destruktif
diikuti dengan kecapaian yang luar biasa. Terjadi disortentasi total
terhadap waktu, tempat dan orang diikuti delirium, halusinasi dan hilang
insightnya.

27

E. Derajat depresif
1

Keterbatasan retardasi biasa :


Ada perasaan murung dan putus asa. Hilang ambisinya. Ada prosses
rentaldasi mental, dan respon-respon motoriknya menjadi sangat lambat.
Orientasi dan ingatannya belum banyak terganggu.

Melancholia akut (Acute Melancholia)


Hilang aktivitasnya. Pribadinya cenderung megasingkan diri secara total.
Dalam status hypochondria, ia dipenuhi delusi-delusi menyalahkan diri
sendiri. Ada rasa-rasa berdosa, pikiran-pikiran tidak riil, dan delusi-delusi
merasa hina, sengsara serta miskin sekali.

Stupor Depresif (Depressive Stupor)


Dirinya sama sekali jadi membeku, diam mematung. Ia menolak untuk
berbicara, makan atau bergerak. Pasien mengasingkan diri secara total dari
lingkungannya. Kesadarannya menjadi kabur karena banyak di hinggapi
delusi-delusi yang campur-aduk. Banyak penderita psikosa jenis ini sellalu
bergerak dari status depresi / melankholis beralih pada status mania
(axited).

F. Prognosa dan penyembuhan


Ada kemungkinan disembuhkan, khususnya bila treatment diberikan pada
stadium permulaan dari penyakit. Usaha preventif untuk mencegah ManiaDepresif yaitu:
1) Mengajar anak-anak dan orang muda untuk mengepresikan emosinya
dengan mekanisme yang positifnya
2) Menghindari

penekanan-penekanan

terhadap luapan emosinya


2.5.1.3 Psikosa Paranoid
A. Pengertian

yang

berlebihan-berlebihan

28

Psikosa paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai


dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang
salah yang bersifat menetap. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh
Kahlbaum pada tahun 1863, untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan
kebesaran yang berlebihan (Maramis, 2000).
Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai
dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang
salah yang bersifat menetap. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh
Kahlbaum pada tahun 1863, untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan
kebesaran yang berlebihan (W.,F. Maramis, 2005 : 241).
Orang dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan adanya
perasaan curiga yang berlebihan pada orang lain. Mereka menolak tanggung
jawab atas perasaan mereka sendiri dan melemparkan tanggung jawab pada
orang lain. Mereka seringkali bersikap bermusuhan, mudah tersinggung dan
marah termasuk pasangan yang cemburu secara patologis. Mereka seringkali
bertanya tanpa pertimbangan, tentang loyalitas dan kejujuran teman atau teman
kerjanya. Atau cemburu dengan bertanya-tanya tanpa pertimbangan tentang
kesetiaan pasangan atau mitra seksualnya. Gangguan ini lebih sering terdapat
pada laki-laki dibandingkan wanita. Berdasarkan suatu penelitian menunjukkan
bahwa paranoid personality disorder banyak terdapat pada pasien dengan
Schizophrenia dan gangguan delusi (Nida UI Hasanat, 2004 : 11).
Menurut teori psikodinamika, gangguan ini merupakan mekanisme
pertahanan ego proyeksi, orang tersebut melihat orang lain mempunyai motif
merusak dan negatif, bukan dirinya. Ada kecenderungan untuk membanggakan
dirinya sendiri karena menganggap dirinya mampu berfikir secara rasional dan
objektif, padahal sebenarnya tidak. Dalam situasi sosial, orang dengan
kepribadian paranoid mungkin tampak sibuk dan efisisen, tetapi mereka
seringkali menciptakan ketakutan dan konflik bagi orang lain. Dan berdasarkan
teori kognitif-behavioral, orang dengan gangguan ini akan selalu dalam keadaan

29

waspada, karena tidak mampu membedakan antara orang yang membahayakan


dan yang tidak (Martaniah, 1999 : 74).
B. Faktor Penyebab
Faktor penyebab psikosa paranoid antara lain : kebiasaan berpikir yang
salah, terlalu sensitif dan seringkali dihinggapi rasa curiga, adanya rasa
percaya diri yang berlebihan (over confidence), adanya kompensasi terhadap
kegagalan dan kompleks inferioritas.
C. Karakteristik Paranoid
Dalam DSM-IV (buku pedoman klasifikasi gangguan psikologis), ada
beberapa

karakteristik

yang

dimunculkan

oleh

penderita

gangguan

kepribadian paranoid, yaitu sebagai berikut :


1. Bukti ketidakpercayaan atau kecurigaan terhadap orang

lain yang hadir

setidaknya 4 dari cara berikut:


a) Kecurigaan ditipu, dirugikan, atau dieksploitasi
b) Keraguan yang tidak beralasan tentang kesetiaan atau kepercayaan
dari teman-teman atau rekannya
c) Keengganan

curhat

pada

orang

lain

karena

keraguan loyalitas atau kepercayaan


d) Merendahkan orang lain yang disembunyikan atau mengancam orang
lain yangditunjukkan dalam pernyataan jinak atau kejadian
e) Menyimpandendam; tidak memaafkan penghinaan, luka, atau sikap
yang meremehkan

30

f)

Reaksi marah terhadap serangan yang dirasakan pada karakter atau


reputasinya

g) Curiga yang berulang tentang kesetiaan pasangan


2. Tidak terjadi secara

eksklusif selama

Schizophrenia,gangguan

mood, dengan fitur psikosa atau gangguan psikosa lainnya


D. Terapi
Terapi yang dapat diberikan yaitu (Kaplan & Saddock, 1997 : 249) :
1

Psikoterapi. Pasien paranoid tidak bekerja baik dalam psikoterapi


kelompok, karena itu ahli terapi harus berhadapan langsung dalam
menghadapi pasien, dan harus diingat bahwa kejujuran merupakan hal yang
sangat penting bagi pasien. Ahli terapi yang terlalu banyak menggunakan
interpretasi mengenai perasaan ketergantungan yang dalam, masalah
seksual

dan

keinginan

untuk

keintiman

dapat

meningkatkan

ketidakpercayaan pasien.
Farmakoterapi. Farmakoterapi berguna dalam menghadapi agitasi dan
kecemasan. Pada sebagian besar kasus, obat antiansietas seperti diazepam
(Valium) dapat digunakan. Atau mungkin perlu untuk menggunakan anti
psikosa, seperti thioridazine (Mellaril) atau haloperidol (Haldol), dalam
dosis kecil dan dalam periode singkat untuk menangani agitasi parah atau
pikiran yang sangat delusional. Obat anti psikosa pimozide (Orap) bisa
digunakan untuk menurunkan gagasan paranoid.

E. Pencegahan
1

Pencegahan Primer

31

Usaha pencegahan pada gangguan kepribadian paranoid sebenarnya jarang.


Tetapi peneliti telah memfokuskan pada dua faktor resiko utama yang perlu
menjadi fokus pada pencegahan gangguan kepribadian paranoid, yang
pertama adalah penganiayaan anak. Usaha pencegahan penganiayaan anak
dapat membantu mempengaruhi perkembangan gangguan kepribadian
paranoid. Keberhasilan pencegahan penganiayaan anak sering melibatkan
seringnya kunjungan ke rumah, mengurangi stress ibu, meningkatkan
dukungan sosial, dukungan keluarga dan pelatihan bagi orang tua.
2

Pencegahan Sekunder
Faktor resiko utama lain yang perlu menjadi fokus pencegahan adalah

kurangnya kemampuan interpersonal. Kebanyakan orang dengan gangguan


kepribadian paranoid mengalami kesulitan interpersonal dalam konteks
hubungan keluarga, pertemanan, dan situasi kerja. Usaha untuk meningkatkan
kemampuan sosial seseorang dengan gangguan kepribadian paranoid dapat
membantu mencegah masalah gaya interpersonal yang menjadi karakteristik
gangguan kepribadian paranoid.
3

Pencegahan Tersier
Beberapa dokter telah memberikan ECT (Electro Convulsif Therapy)

kepada individu gangguan kepribadian paranoid, mungkin dari gagasan bahwa


paranoid akan melupakan isi dari delusi mereka. Electro Convulsif
Therapy adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini
adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui
elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang
grandmall. Selain itu juga Cognitive Therapy dapat diberikan kepada individu
dengan

gangguan

kepribadian

paranoid,

dimana

terapi

32

ini difokuskanpada keterampilan belajar untuk


kecemasan

dengan lebih

efektif

mengatasi stress

dan ketakutan pada

dan

pemeriksaan.

33

2.6 Penatalaksanaan Psikosa


2.6.1 Psikosa Akut
Penatalaksanaan yang dilakukan adalah :
1

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang psikosa akut


berikut hak dan kewajibannya. Informasi yang perlu untuk pasien dan
keluarga :
a

Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tetapi lama


perjalanan penyakit sukar diramalkan hanya dengan melihat dari satu
episode akut saja.

Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga atau masyarakat,


memerlukan hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu tempat yang
aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin diperlukan tindakan
dengan bantuan perawat kesehatan jiwa masyarakat dan perangkat desa
serta keamanan setempat

Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya:


1) Keluarga atau teman harus mendampingi pasien.
2) Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, makan, minum, eliminasi
dan kebersihan).
3) Hati hati agar pasien tidak mengalami cedera.

Konseling pasien dan keluarga


a Membantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan
pengobatan psikiatrik antara lain hak pasien, kewajiban dan tanggung
jawab keluarga dalam pengobatan pasien.
b Mendampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak
dengan stresor.
c Memotivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari hari setelah gejala
membaik.

34

Program pengobatan untuk psikosa akut :


1.

Berikan obat antipsikosa untuk mengurangi gejala psikosa, haloperidol 2


5 mg, 1 3 kali sehari, atau Chlorpromazine 100 200 mg 1 3 kali
sehari.

2.

Dosis harus diberikan serendah mungkin untuk mengurangi efek samping,


walaupun beberapa pasien mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi.

3.

Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan neuroleptika untuk


mengendalikan agitasi akut (misalnya : lorazepam 1 2 mg, 1 3 kali
sehari).

4.

Obat antipsikosa selama sekurang kurangnya 3 bulan sesudah gejala


hilang.
Apabila menemukan pasien gangguan jiwa di rumah dengan perilaku

di bawah ini, lakukan kolaborasi dengan tim untuk mengatasinya.


1.

Kekakuan otot (distonia atau spasme akut), bisa ditanggulangi dengan


suntikan benzodiazepine atau obat antiparkinson.

2.

Kegelisahan motorik berat (akatisia), bisa ditanggulangi dengan


pengurangan dosis terapi atau pemberian beta bloker.

3.

Gejala parkinson (tremor atau gemetar, akinesia), bisa ditanggulangi


dengan obat antiparkinson oral (misalnya, trihexyphenidil 2 mg 3 kali
sehari).

2.6.2 Psikosa Kronik


Penatalaksanaan yang dilakukan adalah :
1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang asuhan
keperawatan pada pasien halusinasi, waham, isolasi sosial, defisit
perawatan diri. Beberapa informasi yang dapat disampaikan pada pasien
dan keluarga antara lain :
a) Gejala penyakit jiwa (perilaku aneh dan agitasi).

35

b) Antisipasi kekambuhan.
c) Penanganan psikosis akut.
d) Pengobatan

yang

akan

mengurangi

gejala

dan

mencegah

kekambuhan.
e) Perlunya dukungan keluarga terhadap pengobatan dan rehabililtasi
pasien.
f)

Perlunya organisasi kemasyarakatan sebagai dukungan yang berarti


bagi pasien dan keluarga.

2. Konseling pasien dan keluarga mengenai :


a) Pengobatan dan dukungan keluarga terhadap pasien.
b) Membantu pasien untuk berfungsi pada taraf yang optimal dalam
pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.
c) Kurangi stress dan kontak dengan stres.
Program pengobatan untuk psikosa kronik :
1

Antipsikosa yang mengurangi gejala psikosa :


a. Haloperidol 2-5 mg 1 3 kali sehari
b

Chlorpromazine 100-200 mg 1 3 kali sehari. Dosis harus serendah


mungkin hanya untuk menghilangkan gejala, walaupun beberapa
pasien mungkin membutuhkan dosis yang lebih tinggi.

Obat anti psikosa diberikan sekurang kurangnya 3 bulan sesudah episode


pertama penyakitnya dan lebih lama sesudah episode berikutnya.

Obat antipsikosa mempunyai efek jangka panjang yang disuntikkan jika


pasien gagal untuk minum obat oral.

Berikan terapi untuk mengatasi efek samping yang mungkin timbul :


a. Kekakuan otot (distonis dan spasme akut) yang dapat diatasi dengan
obat anti parkinson atau benzodiazepine yang disuntikkan.
b. Kegelisahan motorik yang berat (akatisia) yang dapat diatasi dengan
pengurangan dosis terapi atau pemberian beta bloker.

36

c. Obat anti Parkinson yang dapat mengatasi gejala parkinson (antara lain
trihexyphenidil 2 mg sampai 3 kali sehari, ekstrak belladonna 10 20
mg 3 X sehari, diphenhydramine 50 mg 3 X sehari).
BAB III
ANALISIS KASUS
A. Pemeran Film
Sutradara

: Ron Howard

Produser

: Ron Howard dan Brian Grazer

Penulis

: Akiva Goldsman dan Sylvia Nasar

Pemeran

1. Russell Crowe sebagai John Forbes Nash


Karakter : Pemalu, Introvert, Penyendiri, Rendah Diri (merasa dalam dirinya
tidak disukai orang lain), Kaku, Tidak Suka Bergaul (tidak menyukai orang lain),
Penarikan Diri dari lingkungan sosial.
2. Jennifer Conelly sebagai Alicia Larde
Karakter : Setia, penyabar, penuh kasih sayang, baik hati, tegar, cerdas, elegan
dan tenang dalam menghadapi situasi se-pelik apapun.
3. Ed Harris sebagai William Parcher
Karakter : Tegas, Kaku, Otoriter, Pemarah.
4. Paul Bettany sebagai Charles Herman
Karakter : Santai, Riang, Asyik untuk diajak berdiskusi, slengean.
5. Christopher Plummer sebagai Dr. Rossen
Karakter : Tegas, Pintar, Bijaksana.
6. Josh Lucas sebagai Martin Hansen
Karakter : Cerdas, Baik Hati (mau menolong teman), Setia (sahabat yang baik).
7. Adam Goldberg sebagai Sol
Karakter : Cerdas, Baik Hati (mau menolong teman), Setia (sahabat yang baik).
8. Anthony Rapp sebagai Bender

37

Karakter : Cerdas, Baik Hati (mau menolong teman), Setia

(sahabat yang

baik).
9. Vivien Cardone sebagai Marcee
Karakter : Polos, Lugu, Selalu Riang Gembira (sebagaimana karakter anak
kecil)
B. Sinopsis Film
Film A Beautiful Mind menggambarkan kisah perjuangan seorang ahli
matematika yang bernama John Forbes Nash peraih hadiah Nobel di tahun 1994. Film
ini dibuka dengan Nash muda di tahun 1984 yang berkuliah di Princeton University.
Sejak awal, Nash digambarkan sebagai seseorang yang senang menyendiri, pemalu,
rendah diri, introvert, dan aneh. Dibalik sikapnya tersebut, Nash juga digambarkan
sebagai seseorang yang bangga akan kepandaiannya. Bahkan dirinya menolak
mengikuti kuliah yang ia anggap hanya menghabiskan waktu dan membuat otak
tumpul. Nash terobsesi dengan matematika sampai menulis berbagai rumus di kaca
jendela kamar dan perpustakaan. Nash mempunyai teman sekamar bernama Charles
Herman yang amat memakluminya dan Charles mempunyai keponakan yang
bernama Marcee. Karena obsesinya dengan matematika, Nash sampai menemukan
konsep baru bernama teori keseimbangan yang bertentangan dengan bapak ekonomi
dunia, Adam Smith. Kosep inilah yang membuatnya meraih gelar doktor dan berhasil
sebagai peneliti dan pengajar di MIT. Disanalah ia bertemu dengan Alicia Larde,
seorang mahasiswanya yang cantik yang membuatnya sadar bahwa selama ini ia juga
membutuhkan cinta.
Hidup Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon untuk memecahkan
kode rahasia yang dikirim tentara Sovyet. Disana ia bertemu dengan agen rahasia
William Parcher dan memberinya pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan ini
semakin membuatnya terobsesi hingga lupa waktu dan tenggelam dengan hidupnya
sendiri. Ketika Nash telah menikah dengan Alicia Larde, Nash justru semakin parah

38

dan merasa dalam keadaan bahaya akibat dari pekerjaannya sebagai agen rahasia.
Ketika ia sedang menyampaikan makalahnya di sebuah seminar di Harvard, seorang
ahli jiwa bernama Dr. Rosen menangkap dan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa.
Dari sanalah terungkap bahwa Nash mengidap schizophrenia. Merasa tidak percaya,
Alicia pun mencari tahu tentang suaminya. Ternyata selama ini, beberapa kejadian
yang dialami Nash hanya khayalan. Tidak pernah ada teman sekamar bernama
Charles ataupun keponakannya Marcee. Tidak ada William Parcher, dengan proyek
rahasia ataupun dirinya yang dipekerjakan di pentagon. Disaat Nash merasa lelah
dengan penyakitnya, Alicia lah yang tidak pernah lelah menyemangati Nash untuk
berjuang melawan penyakitnya sehingga pada akhirnya, Nash meraih hadiah Nobel di
tahun 1994.
C. Analisis Film
Dari film tersebut, diketahui bahwa Nash mengidap penyakit jiwa yang
dinamakan Schizophrenia, yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor
predisposisi dan faktor presispitasi.
Faktor presdisposisinya yaitu sifat Nash yang sombong, terlalu pintar, apatis
dan penyendiri yang terakumulasi didalam dirinya, menyebabkan dirinya mengalami
gangguan jiwa.
Sedangkan faktor presipitasinya yaitu saat Nash melihat orang lain bersamasama pindah ke asrama. Dia merasa kesepian, sendiri, sehingga munculah gangguan
jiwa pertama halusinasi teman sekamar.
Symptom Schizophrenia yang dialami oleh John Nash antara lain :
a. Halusinasi
Halusinasi yaitu persepsi palsu atau menganggap sesuatu ada dan nyata
padahal sebenarnya hanya khayalan.
John Nash berhalusiasi bertemu dengan tidak orang yang secara nyata tidak
ada yaitu Charles, Marcee, dan William Parcher. Selain itu juga laboratorium dan
kode rahasia yang diimplan ditangannya pun tidak pernah ada.

39

Tahap-tahap halusinasi yang ada film ini adalah sebagi berikut :


1. Tahap Comforting adalah pada saat halusinasi menyenangkan.
Pada film terlihat ketika Nash akrab dengan Charles dan menikmati
pertemanannya dengan Charles.
2. Tahap Comdemning adalah pada saat tidak mampu membedakan realita dan
halusinasi dan perhatiannya menyempit hanya pada halusinasinya.
Pada film terlihat pada saat Nash sudah mulai percaya dengan khayalannya.
Ditandai dengan pada saat Nash mengalami kegagalan, dapat langsung tenang
dengan kata-kata teman khayalannya.
3. Tahap Controlling adalah pada tahap lebih mengikuti halusinasi.
Pada film terlihat pada saat Nash mulai menikmati kehidupannya sebagai agen
rahasia dan dia mengikui perintah William untuk memecahkan kode melalui
membaca majalah dan mengirimkannya ke kotak rahasia yang sebenarnya
hanya kotak biasa.
4. Tahap Conquering adalah tahap ketika melebur dalam pengaruh halusinasi
dan berprilaku terror.
Pada film terlihat pada saat Nash mencoba menyelamatkan istrinya yang dalam
khayalannya sedang diancam akan dibunuh oleh William. Pada kenyataannya,
Nash membuat istri dan anaknya terjatuh.
b. Waham
Adanya delusi atau waham yaitu keyakinan palsu yang dipertahankan. Macammacan waham yang terjadi pada film ini adalah :
1. Waham kejar (delusion of persecution) yaitu keyakinan bahwa orang atau
kelompok tertentu sedang mengancam atau membahayakan dirinya.
Terlihat ketika Nash yakin bahwa ia menjadi agen rahasia yang menjadikannya
paranoid yang selalu curiga terhadap segala sesuatu dan berada dalam
ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, dan diawasi.

40

2. Waham kebesaran (delusion of grandeur) yaitu keyakinan bahwa dirinya


mempunyai suatu kelebihan dan kekuatan.
Nash menganggap bahwa dirinya adalah pemecah kode rahasia terbaik dan
termasuk agen rahasia.
3. Waham pengaruh (delusion of influence) yaitu keyakianan bahwa kekuatan
dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya.
Adegan yang menunjukkan waham ini adalah ketika Nash disuruh membunuh
istrinya, ketika disuruh menunjukkan bahwa dirinya jenius, dan ketika
diyakinkan bahwa dirinya tidak berarti oleh teman-teman halusinasinya.
c. Gejala motorik dapat dilihat dari ekspresi wajahnya yang aneh dan khas diikuti
dengan gerkan jari, tangan, dan lengan yang aneh. Hal ini sangat jelas ketika Nash
berkenalan dengan teman-temannya dan dari cara berjalannya yang khas
(membungkuk lalu berjalan seperti robot).
d. Adanya gangguan emosi yang terlihat saat Nash menggendong anaknya tanpa
ekspresi sedikitpun (afek datar).
e. Social Withdrawl (penarikan sosial), Nash tidak bisa berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya seperti orang-orang pada umumnya. Dia tidak menyukai
orang lain, menganggap orang lain tidak lebih baik dan dirinya menganggap orang
lain pun tidak menyukai dirinya. Jhon Nash menarik diri dari lingkungan dan
hanya mempunyai beberapa teman.
PENATALAKSANAAN
Dalam film tersebut John Nash dibawa ke rumah sakit jiwa dan mendapatkan
perawatan ECT (Electroshock Therapy) atau terapi elektrokonvulsif 5 kali seminggu
selama 10 minggu. ECT merupakan terapi yang sering digunakan pada tahun 1940
1960 sebelum obat antipsikosa dan anti depresan mudah diperoleh. Cara kerja terapi
ini yaitu mengalirkan arus listrik berdaya sangat rendah ke otak yang cukup untuk
menghasilkan kejang yang mirip dengan kejang epileptik. Kejang inilah yang menjadi
terapetik bukan arus listriknya. Sebelum dilakukan ECT pasien disuntikkan insulin

41

sebagai pelemas otot yang akan mencegah spasme konvulsif otot-otot tubuh dan
kemungkinan cedera. Efek samping penggunaan ECT adalah kelupaan atau gangguan
memori. Efek samping ini dapat dihindari dengan menjaga rendahnya arus listrik
yang dialirkan.
Setelah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, John Nash menjalani perawatan di
rumah dengan Obat Psikoterapetik. Obat ini harus terus diminum secara teratur oleh
penderita Schizophrenia

. Meskipun obat ini tidak dapat menyembuhkan

Schizophrenia , namun obat obat antipsikosa akan membantu penderita untuk


menghilangkan halusinasi dan konfusi, serta memulihkan proses berpikir rasional.
Cara kerja obat obat antipsikosa yaitu menghambat reseptor dopamin dalam otak.
Efek dari pemakaian obat tersebut yaitu : Sulit berkosentrasi, menghambat proses
berpikir, tidak memiliki gairah seksual.
Selain terapi biologis, John Nash juga mendapat terapi dari isterinya yaitu berupa
dukungan sosial yang diberikan kepadanya, rasa empati, penerimaan, mendorong
untuk mulai berinteraksi sosial (dengan tukang sampah), dan dorongan untuk tidak
berputus asa dan terus berusaha. Terapi Sosial ini sangat membantu penderita
Schizophrenia dalam menghadapi peristiwa peristiwa yang menjadi stressor bagi
penderita.

42

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PSIKOSA
A Pengkajian keperawatan kesehatan jiwa
1

Identifikasi klien (biodata klien lengkap)

Alasan masuk

Faktor predsisposisi (pengalaman traumatik masa lalu)

Faktor presipitasi (faktor pencetus awal mulanya terjadi gangguan jiwa)

Persepsi dan harapan klien dan keluarga


- persepsi klien atas masalahnya
-persepsi keluarga atas masalahnya
-harapan klien sehubungan dengan pemecahan masalah
-harapan keluarga sehubungan dengan pemecah masalah

Koping dan harapan klien atau keluarga


-koping klien dan keluarga terhadap masalah klien yang dihadapi

Pemfis (TTV, BB, dan keluhan fisik)

Riwayat Keluarga
-pola pengambil keputusan
-persepsi peran dalam keluarga
-persepsi kemampuan keluarga

Psikososial
-konsep diri
- hubungan sosial
-pendidikan dan pekerjaan
-gaya hidup

43

-budaya
-spiritual
10 Status mental
-penampilan
-aktifitas motorik
-alam perasaan
-afek
-interaksi selama wawancara
-persepi ; halusinasi
-isi pikir
-tingkat kesadaran
- memori dll
11 Kebutuhan perencanaan pulang ( kemampuan klien memenuhi kebutuhan,
kegiatan bidup sehari hari)
12 Aspek medik (diagnosa medik dan terapi medik)
B Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1

Gangguan proses pikir


Intervensi
Tentukan keparahan gangguan proses

Rasional
Identifikasi sifat komunikasi atau pikiran

pikir klien, catat bentuk (dereistik,

simbolik

austistik, simbolik, asosiasi konkret dan

pemahaman tentang proses piker klien dan

kehilangan asosiasi); isi (delusi)

memungkinkan perencanaan untervensi yang

Ciptakan hubungan perawat-klien yang

tepat
Menyediakan lingkungan emosi yang aman,

terapeutik

memungkinkan interaksi interpersonal dan

Gunakan komunikasi terapeutik (mis.

menurunkan autism.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi

atau

primitip

meningkatkan

44

Refleksi,

paraphrase)

untuk

yang jelas, terbuka, konsisten, ringkasi, dan

mengintervensi secara efektif

memerlukan partisipasi dari diri sendiri. Hal

Ekspresikan keinginan untuk memahami

ini akan menurunkan pikiran autistik


Klien sering tidak mampu mengorganisasikan

pikiran klien dengan mengklarifkasi apa

pikiran dan aliran pikiran sering terlihat seperti

yang tidak jelas, pusatkan pada perasaan

berlomba, khayalan, atau kemunduran.

bukan isi
Kolaborasi pengobatan sesuai petunjuk

Digunakan untuk mengurangi gejala psikosa


dapat diberikan secara oral atau injeksi

Gangguan persepsi atau sensori (halusinasi)

Kaji

Intervensi
adanya

perubahan

Memberikan

Rasional
informasi tentang

potensial

persepsi/keparahan klien, catat factor

prilaku klien dalam aktifitas hidup sehari-hari,

penyebab atau peranan (mis. Ket. Obat,

potensial kekerasan, prilaku verbal dan non

demam, trauma atau enyakit atau kondisi

verbal

organic lain
Sediakan waktu bersama klien, dengarkan

Dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan

dengan baik dan dukung setiap perubahan

serta memampukan klien untuk mengurangi

yang klien lakukan


Orientasikan kenyataan berkomunikasi

persepsi yang terganggu


Distorsi klien tentang kenyataan merupakan

secara efekif, kuatkan kenyataan tentang

pertahanan klien melawan realitas actual,

perubahan persepsi klien, dan klarifikasi

yang lebih menakutkan klien. Orientasi

waktu, tempat, dan orang.

realitas

membimbing

klien

untuk

menginterpretasi secara tepat rangsangan


Kolaborasi pemberian control eksternal

dalam lingkungan pergaulan


Batasan eksternal dan control harus diberikan

(ruang yang sunyi, pengasingan, restrein)

untuk melindungi klien dan orang lain sampai


klien dapat mengontrol secara internal dan
mampu menyangkal perubahan persepsi

45

Hambatan verbal komunikasi


Intervensi
Evaluasi derajat atau jenis kerusakan

Rasional
Derajat kerusakan komunikasi verbal atau non

lingkungan

verbal dapat berdampak pada kemampuan

Tunjukan

sikap

menyimak

dalam

hubungan perawat klien

klien untuk berinteraksi


Memungkinkan perawat mendengar dengan
cermat,

mengobservasi

mengantisipasi

serta

klien,

memperhatikan

dan
pola

Identifikasi komunikasi klien secara

komunikasi klien yang mungkin muncul


Memampukan perawat untuk lebih mengerti

simbolik dan primitif


Beri lingkungan yang tidak mengancam

kemampuan klien
Situasi ketika seseorang merasa bebas untuk

dan aman untuk komunikasi klien

mengekspresikan diri tanpa takut dikritik,


membantu memenuhi kebutuhan keamanan,
rasa saling percaya meningkat.

Resiko membahayakan diri dan orang lain.


Intervensi
Berikan lingkungan yang tenang dan

Rasional
Mempertahankan rangsangan lingkungan yang

aman, katakana pada klien anda aman

minimal dan pemberian keyakinan membantu


mencegah agitasi

Bantu klien mengidentifikasi situasi yang

Memberi

memicu ansietas atau prilaku agresif

ansietas berat dan situasi yang mengakibatkan


perasaan

pemahaman
destrukif

tindakan agresif

hubungan
yang

antara

menimbulkan

46

Waspada

terhadap

memunculkan
peningkatan

tanda-tanda

perilaku
aktivitas

yang

kekerasan,
psikomotor,

Meningkatkan intervensi tepat waktu karena


teknik

terapeutik

lebih

efektif

sebelum

menurunkan

gejala,

perilaku menjadi berbahaya

intensitas afek, pengungkapan pikiran


delusi,

terutama

ekspresi

adanya

ancaman
Kolaborasi pemberian pengobatan sesuai

Digunakan

indikasi

mengurangi pikiran delusi, dan bantu klien

untuk

mencapai pengendalian diri


5

Ansietas atau ketakutan

klien,

Rasional
Ego scizofrenia yang melemah menyebabkan

kebutuhan

penurunan kemampuan untuk membedakan

yang tidak terpenuhi dan keterampilan

realita dan kemampuan untuk memecahkan

koping
Anjurkan klien untuk mengungkapkan

masalah
Mengurangi

rasa takut
Pantau keefektifan atau efek samping

perilaku berbahaya
Pencegahan efek

obat

mengurangi

Catat

Intervensi
tingkat
kecemasan

pertimbangkan

keparahan,

penarika

diri

samping

pengalaman

atau

potensi

obat

dapat

fisiologis

menakutkan yang dapat meningkat asietas


6

Koping individu tidak efektif


Intervensi
Rasional
Tentukan
adanya/derajat Memberi informasi tentang kemampan
kerusakan kemampuan koping koping aktual dan yang dirasakan, bagian
klien.

kehidupan yang berubah, tingkat ansietas,


stress,

tingkat

perkembangan

fungsi,

penggunaan mekanisme pertahanan, dan


Bantu

klien

kemampuan pemecahan masalah.


untuk Klien
mampu
melihat
bagaimna

47

mengidentifikasi/mendiskusika
n

pikiran,

persepsi,

persepsi/pikiran/afek

dan menguatkan

diproses

orientasi

dan

realita

dan

perasaan.
keterampilan koping.
Dorong klien mengekspresikan Gangguan ini pertama dimanifestasikan
kekhawatiran.

Dukung pada usia dini, sebelum klien mempunyai

menyusun tujuan yang realistis kesempatan

untuk

mempelajari

dan belajar teknik pemecahan keterampilan koping yang efektif. Dalam


masalah yang tepat.

hubungan

saling

percaya

(kondisi

menerima), klien dapat mulai beajar


keterampilan ini, tanpa takut dihakimi.
Bantu klien mengidentifikasi Pengetahuan tentang stressor yang telah
pencetus
koping

yang
tidak

menimbulkan dicetuskan
efektif,

jika koping

mungkin.

memperburuk

klien

untuk

kemampuan

mengenal

dan

menghadapi faktor-faktor ini sebelum

masalah terjadi.
Bantu klien mengenali dan Pemecahan masalah atau perilaku koping
mengembangkan keterampilan yang meningkat/lebih fleksibel mecegah
koping efektif/tepat.

dekompensasi (kenyataan yang terganggu,


sistem delusi)

Isolasi sosial

Kaji

Intervensi
adanya/derajat isolasi

dengan Perasaan

mendegarkan pandangan klien tentang mengarah


kesendirian.

Rasional
tidak percaya
ke

kesulitan

dapat
dalam

membina hubungan, dan klien


dapat menarik diri dari kontak

tertutup dengan orang lain.


Sediakan waktu bersama klien. Buat Membina
hubungan
saling
intreraksi yang singkat, tetapi yang percaya.

Kontak

yang

jujur,

48

mengkomunikasikan

minat, singkat,

kekhawatiran, dan perhatian.

konsisten

dengan

perawata dapat membantu klien


membina kembali interaksi penuh

Bantu

klien

aktivitas

berpartisipasi

pengalih

dan

percaya dengan orang lain.


dalam Dengan toleransi hubungan 1:1

rencanakan dan penguatan batasan ego, klien

pertemuan dengan orang lain pada dapat


pertemuan kelompok.

meningkatkan

sosialisasi

dan masuk ke situasi kelompok


kecil.

Interaksi

singkat

dapat

membantu klien menjadi lebih


nyaman di antara orang lain dan
memberi
Kaji

hubungan

keluarga,

kesempatan

untuk

mencoba keterampilan sosial baru.


pola Masalah
dalam
keluarga

komunikasi, dan pengetahuan tentang (keterampilan sosial yang kurang,


kondisi klien.

ekspresi

emosi

tinggi)

dapat

mengganggu perkembangan klien


dan menunjukkan perlunya terapi
keluarga.
Catat perasaan makna-diri klien dan Ketika klien merasa dirinya lebih
keyakinan

tentang

identitas baik

dan

mempunyai

makna,

individu/peran dalam pergaulan dan inetraksi keluarga dengan orang


lingkungan.

lain ditingkatkan.

49

DAFTAR PUSTAKA
Kartini, Kartono. 2003. Patologi Sosial. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Kartini, Kartono. 2003. Hygene Mental. Bandung : CV. Mandar Maju
http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2006/09/skizofrenia-antara-fantasidan-realita
http://www.resep.web.id/kesehatan/mengenal-penyakit-skizofrenia-salah-satugangguan-psikosis-fungsional.htm
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1617336-seputar-duniaskizofrenia/
http://id.wikipedia.org/wiki/Skizofrenia