Anda di halaman 1dari 27

Borang Portofolio Kasus Bedah

BAB I
KASUS
Topik :
Tetanus
Tanggal (kasus) :
26 Mei 2016
Presenter :
dr. Hasra Mukhlisan
Tanggal Presentasi :
Mei 2016
Pendamping : dr. Nurweti Emida
Tempat Presentasi :
Ruang Komite Medik RSUD Lubuk Sikaping
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Anak perempuan, usia 4,5 tahun, tidak bisa membuka mulut sejak 2 hari
Deskripsi :
Tujuan :
Bahan
Bahasan :
Cara
Membahas :
Data Pasien :

sebelum masuk Rumah Sakit. Riwayat luka di kaki 1 minggu sebelumnya dan
tidak mendapat anti tetanus. Pasien didiagnosis dengan Tetanus.
Mengenali, melakukan penegakan diagnosis dan pengobatan awal pada Tetanus
Tinjauan Pustaka
Diskusi

Riset

Presentasi dan Diskusi

Nama : An. SF, Perempuan, 4,5 tahun, BB :

12 kg.
Nama RS : RSUD Lubuk Sikaping
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis : Tetanus.
2.

Telp : -

Kasus

Audit

E-mail

Pos

No. Registrasi : 09.90.37


Terdaftar sejak : 26 Mei 2016

Gambaran Klinis :

Tidak bisa membuka mulut sejak 2 hari sebelum masuk Rumah Sakit.

Satu minggu yang lalu pasien terluka di kelingking kaki kiri terkena cangkul yang biasa
digunakan untuk membersihkan kotoran sapi, dengan ukuran 4 cm. saat ini luka tampak basah dan
sedikit bernanah.

Pasien dibawa ke Puskesmas dan mendapat perawatan / penjahitan luka sebanyak 3 jahitan.
Namun tidak diberi antitetanus,

Dua hari yang lalu pasien demam dan merasa kaku di rahang sehingga tidak bisa membuka
mulut,

Satu hari yang lalu pasien kejang selama 5 menit. Ketika kejang pasien sadar, tangan dan kaki
1

kaku, mata membuka dan menutup, dan mengeluarkan buih dari mulutnya.

Sesak nafas tidak ada,

Kaku pada perut dan punggung (+),

Mual (-), muntah (-).

3.

Riwayat Pengobatan: pasien sudah mendapat perawatan luka sebelumnya di Puskesmas namun
tidak diberi antitetanus.

4.

Riwayat Kesehatan / penyakit

Riwayat kejang sebelumnya tidak ada.

Riwayat luka karena trauma 1 minggu sebelumnya.


5.

Riwayat Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan yang sama,
tidak ada riwayat anggota keluarga yang menderita epilepsy.

6.

Riwayat Kehamilan :
Prenatal : kontrol ke bidan dan puskesmas rutin setiap bulan sekali.
Natal : lahir bayi perempuan, 2900 gram, cukup bulan, di bidan, normal
Postnatal : dinyatakan sehat

7.

Riwayat Imunisasi :
Kesan; imunisasi dasar tidak lengkap.

Daftar Pustaka :
1

Soedarmo SSP, Garna H, Hardinegoro SRS, Satari HI. Tetanus. Buku Ajar Infeksi & Pediatri
Tropis. Edisi Ke-2. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2010; hal.322-9.

Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Tetanus. Nelson Textbook of Pediatrics. 17 th ed.
Jenson Publisher: Saunders. 2007; p. 951-3.

Todar K.Pathogenic Clostridia, including Botulism and Tetanus. [Cited 2016 May 28].
Available from: http://textbookofbacteriology.net/clostridia.html.

Hinfey

PB.

Tetanus.

[Cited

2016

May

28].

Available

from:

28].

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/229594-overview.
5

Alvarez

N.

Tetanus.

[Cited

2016

May

http://www.emedicinehealth.com/tetanus/article_em.htm.
6

Tolan

Jr.

RW.

Pediatric

Tetanus.

[Cited

2016

May

28].

Available

from:

2
http://emedicine.medscape.com/article/972901-overview.

Grunau BE, Olson J. An Interesting Presentation of Pediatric Tetanus. CJEM 2010;12(1):6972.

Pai PN. Tetanus in children: Treatment and prognostic factors.British Homoeopathic Journal.
2005. Vol.54, Issue 3:190-9.

Chalya PL, Mabula JB, Dass RM, Mblenge N, Mshana SE, Glyoma JM. Tetanus. WJES.
2007. Vol. 34, No. 12: 1021-1025.

10 Tim IDAI. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2010;
hal. 87-9.
Hasil Pembelajaran :
1. Mampu mengenali kasus Tetanus.
2. Penegakkan diagnosis Tetanus .
3. Mengenal faktor resiko Tetanus .
4. Tatalaksana Tetanus .
5. Edukasi untuk mencegah Tetanus .

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif :

Keluhan Utama: Tidak bisa membuka mulut sejak 2 hari sebelum masuk Rumah
Sakit.

Satu minggu yang lalu pasien terluka di kelingking kaki kiri terkena cangkul yang biasa
digunakan untuk membersihkan kotoran sapi, dengan ukuran 4 cm. saat ini luka tampak
basah dan sedikit bernanah.

Pasien dibawa ke Puskesmas dan mendapat perawatan / penjahitan luka sebanyak 3


jahitan. Namun tidak diberi antitetanus,

Dua hari yang lalu pasien demam dan merasa kaku di rahang sehingga tidak bisa
membuka mulut,

Satu hari yang lalu pasien kejang selama 5 menit. Ketika kejang pasien sadar, tangan
dan kaki kaku, mata membuka dan menutup, dan mengeluarkan buih dari mulutnya.

Sesak nafas tidak ada,

Kaku pada perut dan punggung (+),

Mual (-), muntah (-).

2. Objektif :
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : sakit sedang.
Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4M6V5 = 15.

Kooperasi

: Kooperatif.

Keadaan gizi

: Gizi cukup.

Tekanan darah :
Nadi

: 100 kali / menit.

Suhu

: 36,40C.

Pernapasan

: 30 kali / menit.

Antropometri
BB

: 12 kg.

TB

: 165 cm.

BMI

: 22, 41 = BMI Ideal.

STATUS INTERNUS
Kepala : Wajah risus sardonikus.
Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat, isokor (diameter

3mm/3mm), RC +/+.
Kulit

: Turgor kulit baik, tidak ikterik / sianosis / pucat.

Mulut : trismus cm, tidak sianosis, tidak hiperemis.


Leher

: kaku.

KGB

: tidak terdapat pembesaran di leher, axilla dan inguinal.

Thoraks
a. Paru
Inspeksi : Gerakan nafas simetris kiri dan kanan, retraksi dinding
dada tidak ada
Palpasi

: Fremitus kiri sama dengan kanan.

Perkusi

: Sonor di kedua lapangan paru.

Auskultasi : Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-.


b. Jantung

Inspeksi : Iktus jantung tidak terlihat.


Palpasi

: Iktus teraba 2 jari medial LMCS RIC V.

Perkusi

: Batas jantung dalam batas normal.

Auskultasi : Bising tidak ada, bunyi jantung tambahan tidak ada.


c. Abdomen
Inspeksi

: distensi tidak ada.

Auskultasi : Bising usus (+) normal.


Palpasi

: perut tegang dan keras, opistotonus (+),

Perkusi

: Timpani.

d. Punggung : kaku
e. Ekstremitas : Akral hangat +/+, edema -/-, tampak vulnus apertum pada digiti
ke-V pedis sinistra yang sudah dijahit 3 buah dengan panjang bekas luka 4
cm dan tampak sedikit basah serta bernanah pada bagian sekitar luka.
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
A. KESADARAN

: Compos Mentis ; GCS : E4 M6 V5.

B. TANDA RANGSANG MENINGEAL


a.

Kaku kuduk

(-)

b.

Brudzinskiy I

(-)

c.

Brudzinskiy II

(-)

d.

Kernig

(-)

C. SARAF KRANIAL
1. N. I (Olfactorius)
Kanan
baik

Daya pembau

Kiri
baik

Keterangan
normal

2. N.II (Opticus)
Daya penglihatan

Kanan
menurun

Kiri
menurun

Keterangan
menurun

Lapang pandang

luas

luas

normal

Pengenalan warna

baik

baik

normal

3. N.III (Oculomotorius)
Ptosis

Kanan
Kiri
Keterangan
Tidak ada 5Tidak ada Normal

Pupil
Bentuk

Bulat

Bulat

Normal

Ukuran

3 mm

3 mm

Normal

Gerak bola mata

Bebas

Bebas

Normal

Langsung

(+)

(+)

Normal

Tidak langsung

(+)

(+)

Normal

Kanan
Bebas

Kiri
Bebas

Refleks pupil

4. N. IV (Trokhlearis)
Gerak bola mata

Keterangan
Normal

5. N. VI (Abduscens)
Gerak bola mata

Kanan
Bebas

Kiri
Bebas

Keterangan
Normal

Strabismus

Tidak ada

Tidak ada Normal

Deviasi

Tidak ada

Tidak ada Normal

6. N. V (Trigeminus)
Motorik

Kanan
Baik

Kiri
Baik

Keterangan
normal

Sensibilitas

Baik

Baik

normal

Refleks kornea

(+)

(+)

Normal

7. N. VII (Facialis)
Kanan
(-)

Kiri
(-)

- sudut mulut

simetris

simetris

- mengerutkan

simetris

simetris

- mengangkat alis

simetris

simetris

- lipatan

simetris

simetris

Tic

Keterangan

Motorik:

dahi

nasolabial
- meringis

simetris

- kembungkan pipi

simetris

simetris

baik

baik

Sensoris

simetris

Normal

Tanda chvostek

(-)

(-)

8. N. VIII (Akustikus)
Pendengaran

Kanan
Baik

Kiri
Baik

Keterangan
Normal

9. N. IX (Glossofaringeus)
Arkus farings

Kanan
Simetris

Kiri
simetris

Keterangan
Normal

Daya perasa

baik

baik

Normal

Refleks muntah

tidak

tidak

dilakukan

dilakukan

baik

baik

Normal

Kanan
Simetris

Kiri
simetris

Keterangan
Normal

(-)

(-)

Normal

Motorik

Kanan
Baik

Kiri
baik

Keterangan
normal

Trofi

Eutrofi

Eutrofi

normal

Motorik (lidah)

Kanan
simetris

Kiri
asimetris

Keterangan
lateralisasi ke kiri

Trofi

eutrofi

eutrofi

normal

Tremor

(-)

(-)

normal

Disartri

(-)

(-)

normal

Kedudukan lidah

Simetris

asimetris

lateralisasi ke kiri

Menelan
10. N. X (Vagus)
Arkus farings
Dysfonia

11. N. XI (Assesorius)

12. N. XII (Hipoglossus)

D. SISTEM MOTORIK
Kanan

Kiri

Keterangan

555

444

Hemiparesis sinistra

Ekstremitas atas
Kekuatan

Tonus

eutonus

eutrofi

Normal

Trofi

eutrofi

eutrofi

Normal

Gerakan involunter

(-)

(-)

Normal

Kekuatan

555

4+4+4+

Hemiparesis sinistra

Tonus

eutonus

eutrofi

Normal

Trofi

eutrofi

eutrofi

Normal

Gerakan involunter
Badan

(-)

(-)

Normal

Trofi

(-)

(-)

Normal

Ger. Involunter

(-)

(-)

Normal

Ekstremitas bawah

E. SISTEM SENSORIK
Raba

Kanan
Baik

Kiri
baik

Keterangan
Normal

Nyeri

baik

baik

Normal

Suhu

baik

baik

Normal

Propioseptif

baik

baik

Normal

F. REFLEKS
Kanan

Kiri

Keterangan

Biseps

(++)

(++)

Normal

Triseps

(++)

(++)

Normal

KPR

(++)

(++)

Normal

APR

(++)

(++)

Normal

Bulbocavernosus

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Babinski

(-)

(-)

Normal

Chaddoks

(-)

(-)

Normal

Oppenheim

(-)

(-)

Normal

Gordon

(-)

(-)

Normal

Fisiologis

Kremaster
Patologis

Schaeffer

(-)

(-)

Normal

Hoffman Tromer

(-)

(-)

Normal

G. SISTEM OTONOM
Miksi

: Baik

Defekasi

: Baik

Sekresi Keringat

: Baik

LABORATORIUM IGD
Hb

: 11,7 g/dL

Leukosit : 11.400 /mm3


Ht

: 35,4 %

Trombosit : 361.000 /mm3


3. Assesment
DIAGNOSIS :
Utama

: Tetanus

Tambahan : Vulnus
4. Plan
1) Umum

IVFD RL 12 jam/kolf
Rawat Luka
Diet MC per NGT 6 x 200 cc

2) Khusus

Infus Metronidazol 3 x 250 mg (iv)

Injeksi Ranitidin 2 x 50 mg (iv)

Amlodipin tab 1 x 10 mg (po)

Candesartan tab 1 x 8 mg (po)

Klopidogrel 1 x 75 mg

Follow up
27 Mei 2016 (08.00WIB)
S :
- Lemah anggota gerak kiri (+)
- Mual (+) Muntah (-)
- Gatal-gatal kemerahan di kedua tangan
O :
Keadaan Umum : Sedang

Nadi

: 70 kali/menit

Kesadaran

: Compos Mentis

Nafas

: 18 kali/menit

: 200/90 mmHg

Suhu

: 36,5 C

Tekanan Darah

Status Internus : Cor : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)


Pulmo : vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/Status Neurologikus:
GCS 15 (E4M6V5)

Tanda rangsangan meningeal : (-)

Tanda dan gejala peningkatan intrakranial : (-)


a) Pupil isokor 3mm/3mm, reflek cahaya +/ +
b) Muntah proyektil tidak ada
c) Sakit kepala hebat tidak ada

Nervi cranialis : pupil isokor , 3mm/3mm, reflek cahaya (+/+), gerak bola mata
bebas ke segala arah, plika nasolabialis kanan = kiri, kedudukan lidah asimetris,
lateralisasi ke kiri.

Motorik

: Superior : eutrofi

kekuatan : 555 444

Inferior : eutrofi

555

Sensorik : Eksteroroseptif dan proprioseptif baik

Otonom

: Miksi
Defekasi

: baik
: baik

10

Reflek fisiologis : ++ ++

Reflek patologis : - -

++ ++

- -

A : - Cerebral Infarction

4+4+4+

- Hemiparesis sinistra tipe spastik


- Hipertensi Emergency
- Tinea Korporis
P:
1) Umum

O2 3L/menit

IVFD RL 12 jam/kolf

Diet MB rendah garam I

2) Khusus

Injeksi Citicolin 2 x 500 mg (iv)

Injeksi Ranitidin 2 x 50 mg (iv)

Amlodipin tab 1 x 10 mg (po)

Candesartan tab 1 x 8 mg (po)

Ketokonazol salp 4 x 1

Klopidogrel 1 x 75 mg

11

DISKUSI

Pasien anak perempuan berumur 4,5 tahun datang ke IGD RSUD Lubuk Sikaping
bersama keluarga pada 26 Mei 2016 dengan diagnosa awal Tetanus.
Diagnosa Tetanus ditegakkan berdasarkan anamnesis yaitu Tidak bisa membuka mulut
sejak 2 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Satu minggu yang lalu pasien terluka di
kelingking kaki kiri terkena cangkul yang biasa digunakan untuk membersihkan kotoran sapi,
dengan ukuran 4 cm. saat ini luka tampak basah dan sedikit bernanah. Pasien dibawa ke
Puskesmas dan mendapat perawatan / penjahitan luka sebanyak 3 jahitan. Namun tidak diberi
antitetanus. Dua hari yang lalu pasien demam dan merasa kaku di rahang sehingga tidak bisa
membuka mulut. Satu hari yang lalu pasien kejang selama 5 menit. Ketika kejang pasien
sadar, tangan dan kaki kaku, mata membuka dan menutup, dan mengeluarkan buih dari
mulutnya. Kaku pada perut dan punggung (+). Pada pemeriksaan generalis didapatkan, TD
210/100 mmHg, nadi 80 x/menit, RR 20 x/menit , suhu 36,5 0C. Iktus teraba 2 jari lateral
LMCS RIC V. Pada pemeriksaan neurologis didapatkan kekuatan motorik ekstremits kiri atas
444 dan bawah 4+4+4+. Kedudukan lidah asimetris, lateralisasi ke kiri.
Hari rawatan ke-1 pasien mengeluhkan gatal-gatal kemerahan di kedua tangan, dan
ditegakkan diagnosis tambahan tinea korporis. Karena lesi tidak terlalu luas diberikan salap
ketokonazol 4 x 1, terapi lain dilanjutkan. Hari rawatan kedua tekanan darah pasien mulai
stabil. Hari rawatan keempat gatal-gatal kemerahan di kedua tangan mulai berkurang, pasien
diperbolehkan pulang pada hari rawatan ke 5 dengan obat oral dan anjuran untuk rutin control
ke poli neurologi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


TETANUS
I.

DEFINISI
12

Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan
spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein yang kuat yang dihasilkan

oleh Clostridium tetani, tanpa gangguan kesadaran. Tetanus ini biasanya akut dan
menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin.1
II.

ETIOLOGI
Kuman yang menghasilkan toksin adalah Clostridridium tetani, kuman berbentuk batang

dengan ukuran panjang 25 um dan lebar 0,30,5 um memiliki sifat:1,2,3

Basil Gram-positif dengan spora pada pada salah satu ujungnya sehingga membentuk
gambaran tongkat penabuh drum atau raket tenis.

Obligat anaerob (berbentuk vegetatif apabila berada dalam lingkungan anaerob) dan dapat
bergerak dengan menggunakan flagella.

Mampu membentuk spora (terminal spore) yang mampu bertahan dalam suhu tinggi
(dalam autoklaf pada suhu 121C selama 1015 menit), kekeringan dan desinfektans
(fenol dan lainnya). Spora dapat menyebar kemana-mana, mencemari lingkungan secara
fisik dan biologik. Spora mampu bertahan dalam keadaan yang tidak menguntungkan
selama bertahun-tahun.

Kuman hidup di tanah, debu, dan di dalam usus binatang, terutama pada tanah di daerah
pertanian/peternakan. Umumnya, spora bakteri ini terdistribusi pada tanah dan saluran
pencernaan serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam.

Clostridium tetani menghasilkan 2 eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin. Fungsi


dari tetanolisin tidak diketahui dengan pasti, namun juga dapat menyebabkan lisis dari
sel-sel darah merah. Tetanospamin yang dapat menyebabkan penyakit tetanus, merupakan
toksin yang neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.
Tetanospasmin merupakan protein dengan berat molekul 150.000 Dalton, larut dalam air,
labil pada panas dan cahaya, rusak dengan enzim proteolitik. Perkiraan dosis mematikan
minimal dari kadar toksin (tetanospamin) adalah 2,5 ng/kgBB atau 175 ng untuk 70
kilogram (154lb) manusia.

Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah protein
dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas H 2S.
Menghasilkan gelatinase dan indol positif.
13

Gambar 1. Mikroskopis Clostridium tetani


III.

EPIDEMIOLOGI
Tetanus tersebar di seluruh dunia dengan angka kejadian tergantung pada jumlah populasi

masyarakat yang tidak kebal, tingkat populasi masyarakat yang tidak kebal, tingkat pencemaran
biologi lingkungan peternakan/ pertanian, dan adanya luka pada kulit atau mukosa. Tetanus
pada anak tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah risiko tinggi dengan cakupan
imunisasi DTP yang rendah angka kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi, akibat perbedaaan
aktivitas fisiknya.1
Di negara berkembang seperti Indonesia, insiden dan angka kematian akibat tetanus
masih cukup tinggi, hal ini disebabkan karena tingkat kebersihan masih sangat kurang, mudah
terjadi kontaminasi, perawatan luka yang kurang diperhatikan, kurangnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya kebersihan dan kekebalan terhadap tetanus. Oleh karena itu
tetanus masih menjadi masalah kesehatan, terutama penyebab kematian neonatal tersering oleh
karena tetanus neonatorum. Akhir-akhir ini dengan adanya penyebarluasan program imunisasi
di seluruh dunia, maka angka kesakitan dan kematian menurun secara drastis.
Reservoir utama kuman ini adalah yang mengandung kotoran ternak, kuda dan
sebagainya, sehingga risiko penyakit ini di daerah peternakan sangat besar. Spora kuman
Clostridium tetani yang tahan terhadap kekeringan dapat bertebaran di mana-mana; misalnya
dalam debu jalanan, lampu operasi, bubuk antiseptik (dermatol), ataupun pada alat suntik dan
operasi.1
Pada dasarnya tetanus adalah penyakit akibat penyakit pencemaran lingkungan oleh
bahan biologis (spora), sehingga upaya kausal menurunkan attack rate berupa cara mengubah
lingkungan fisik atau biologis. Port dentre tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun
diduga melalui:1,2
1. Luka tusuk (paku, serpihan kaca, injeksi tidak steril, injeksi obat, tindik), patah tulang
14luka bakar yang luas.
komplikasi kecelakaan, gigitan binatang,

2. Luka operasi (benang terkontaminasi), luka yang tak dibersihkan (debridement) dengan
baik (goresan-goresan upacara, sirkumsisi wanita).

3. Otitis media, karies gigi, abses gigi, luka kronik (ulkus kronik), gangrene.
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril, pembubuhan punting tali pusat dengan kotoran
binatang, bubuk kopi, bubuk ramuan dan daun-daunan merupakan penyebab utama
masuknya spora pada punting tali pusat yang menyebabkan terjadinya kasus tetanus
neonatorum.
IV.

PATOGENESIS
Biasanya penyakit ini terjadi setelah luka yang dalam misalnya luka yang disebabkan

tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan
keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor, luka bakar dan patah tulang
juga akan mengakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan C. tetani ini.
Walaupun demikian luka-luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata, telinga, atau tonsil dan
traktus digestivus serta gigitan serangga dapat pula merupakan port dentr (tempat masuk)
dari C. tetani.
Spora yang masuk ke dalam tubuh dan berada dalam lingkungan anerobik, berubah
menjadi vegetatif dan berbiak cepat sambil menghasilkan toksin. Dalam jaringan yang
anaerobik ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan
oksigen jaringan akibat adanya benda asing, seperti bambu, pecahan kaca dan sebagainya.1,2
Hipotesis mengenai cara absorbsi dan bekerjanya toksin:1,2,4
1. Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawa ke
kornu anterior susunan saraf pusat.
2. Toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri
kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat.
Hipotesis bahwa toksin pada awalnya merambat dari tempat luka lewat motor
endplate dan aksis silinder saraf tepi ke kornu anterior sumsum tulang belakang dan menyebar
ke seluruh susunan saraf pusat, lebih banyak dianut daripada lewat pembuluh limfe dan darah.
Pengangkutan toksin ini melewati saraf motorik, terutama serabut motor. Reseptor khusus pada
ganglion menyebabkan fragmen C toksin tetanus menempel erat dan kemudian melalui proses
perlekatan dan internalisasi, toksin diangkut ke arah sel secara ekstra aksional dan
menimbulkan perubahan potensial membrane dan gangguan enzim yang menyebabkan kolinesterase tidak aktif, sehingga kadar asetilkolin menjadi
sangat tinggi pada sinaps yang terkena.
15
Toksin menyebabkan blokade pada simpul yang menyalurkan impuls pada tonus otot, sehingga
tonus otot meningkat dan menimbulkan kekakuan. Bila tonus makin meningkat akan timbul
kejang, terutama pada otot yang besar.

Tempat kerja utama toksin adalah pada sinaps inhibisi dari susunan saraf pusat, yaitu
dengan jalan mencegah pelepasan neurotransmitter inhibisi seperti glisin, Gamma Amino
Butyric Acid (GABA), dopamine, dan noradrenalin. GABA adalah neuroinhibitor yang paling
utama pada susunan saraf pusat, yang berfungsi mencegah pelepasan impuls saraf yang eksesif.
Toksin tetanus tidak mencegah sintesis atau penyimpanan glisin maupun GABA, namun secara
spesifik menghambat pelepasan kedua neurotransmitter tersebut di daerah sinaps dangan cara
mempengaruhi sensitifitas terhadap kalsium dan proses eksositosis.4
Efek terhadap inhibisi presinap menimbulkan keadaan terjadinya letupan listrik yang
terus-menerus yang disebut sebagai Generator of pathological enhance excitation.Keadaan ini
menimbulkan aliran impuls dengan frekuensi tinggi dari SSP ke perifer, sehingga terjadi
kekakuan otot dan kejang. Semakin banyak saraf inhibisi yang terkena makin berat kejang yang
terjadi. Stimulus seperti suara, emosi, raba, dan cahaya dapat menjadi pencetus kejang karena
motorneuron di daerah medula spinalis berhubungan dengan jaringan saraf lain seperti
retikulospinalis. Kadang kala ditemukan saat bebas kejang (interval), hal ini mungkin karena
tidak semua saraf inhibisi dipengaruhi toksin, ada beberapa yang resisten terhadap toksin.4
Dampak Toksin
1. Dampak pada ganglion pra sumsum tulang belakang disebabkan oleh karena
eksotoksin memblok sinaps jalur antagonis, mengubah keseimbangan dan koordinasi
impuls sehingga tonus otot meningkat dan otot menjadi kaku.
2. Dampak pada otak, diakibatkan oleh toksin yang menempel pada cerebral
gangliosides diduga menyebabkan kekakuan dan kejang yang khas pada tetanus.
3. Dampak pada saraf autonom, terutama mengenai saraf simpatis dan menimbulkan
gaya keringat yang berlebihan, hipertermia, hipotensi, hipertensi, aritmia, heart block
atau takikardia.
V.

MANIFESTASI KLINIS
Variasi masa inkubasi sangat lebar, biasanya berkisar anatara 5-14 hari. Makin lama masa

inkubasi, gejala yang timbul makin ringan. Derajat berat penyakit selain berdasarkan gejala
klinis yang tampak juga dapat diramalkan dari lama masa inkubasi atau lama period of onset.
Kekakuan dimulai pada otot setempat atau trismus, kemudian menjalar ke seluruh tubuh,
tanpa disertai gangguan kesadaran. Kekakuan tetanus sangat khas, yaitu fleksi kedua lengan
16

dan ekstensi pada kedua kaki, fleksi pada kedua kaki, tubuh kaku melengkung bagai busur.
Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri anggota badan sering merupakan gejala
dini.1,2,4-7

Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah
terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan:1

Trismus
Adalah kekakuan otot maseter sehingga sukar membuka mulut. Pada neonates
kekakuan ini menyebabkan mulut mencucu seperti mulut ikan sehingga bayi tidak
dapat menetek. Secara klinis untuk menilai kemajuan kesembuhan, lebar bukaan mulut
diukur setiap hari.

Risus sardonikus
Akibat spasme otot muka, sehingga tampak dahi mengkerut, alis tertarik ke atas, mata
agak tertutup, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi.

Opistotonus
Adalah kekakuan otot yang menunjang tubuh seperti otot punggung, otot leher (kaku
kuduk), otot badan, dan trunk muscles. Kekakuan yang sangat berat dapat
menyebabkan tubuh melengkung seperti busur.
Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi
dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Kadang-kadang terjadi perdarahan
intramusculus karena kontraksi yang kuat.

Ketegangan otot dinding perut sehingga dinding perut seperti papan.

Kejang umum
Bila kekakuan semakin berat, akan timbul kejang umum yang awalnya hanya terjadi
setelah dirangsang (karena toksin terdapat di kornu anterior), misalnya dicubit,
digerakkan dengan kasar, atau terkena sinar yang kuat. Lambat laun masa istirahat
kejang semakin pendek sehingga anak jatuh dalam status konvulsivus.

Asfiksia dan sianosis


Terjadi akibat kejang yang terus menerus atau serangan pada otot pernapasan dan
laring (spasme laring). Retensi urin dapat terjadi karena spasme otot sfingter uretra.
Fraktur tulang panjang dan kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot
yang sangat kuat.

Gangguan saraf autonom

17

Pengaruh toksin terhadap saraf autonom menyebabkan gangguan irama jantung atau
kelainan pembuluh darah, suhu tubuh yang tinggi (febris) atau keringat banyak.

Gambar 2. Opistotonus
Ada 4 bentuk klinik dari tetanus, yaitu:
1. Localized tetanus
Pada tetanus lokal dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah
tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fiksator). Hal ini merupakan tanda
dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam
beberapa bulan tanpa progres dan biasanya menghilang secara bertahap.
Tetanus lokal ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam
bentuk yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisa juga lokal tetanus ini
dijumpai sebagai prodromal dari tetanus klasik atau dijumpai secara terpisah. Hal ini
terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin.
2. Chepalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi
berkisar 1-2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India),
luka pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga
hidung. Tetanus sefalik dicirikan oleh lumpuhnya saraf kranial VII yang paling sering
terlibat. Tetanus Ophthalmoplegic ialah tetanus yang berkembang setelah menembus
luka mata dan luka dalam dengan kelumpuhan dari saraf kranial III dan adanya ptosis.
Selain itu bisa juga kelumpuhan dari N. IV, IX, X, XI, dapat sendiri-sendiri maupun
kombinasi dan menetap dalam beberapa hari bahkan berbulan-bulan.
Tetanus sefalik dapat berkembang menjadi tetanus umum. Pada umumnya
prognosisnya buruk.
3. Generalized tetanus

18

Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang
tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam.
Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50 %), bersamaan dengan
kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan.
Gejala lain berupa risus sardonicus (Sardonic grin), opistotonus, dan kejang dinding
perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan
saluran nafas, sianosis, dan asfiksia.
Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi dapat mencapai 40o C. Bila
dijumpai hipertermi atau hipotermi, tekanan darah tidak stabil, dan dijumpai
takikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan
gejala klinis.
Klasifikasi tetanus umum berdasarkan derajat panyakit menurut modifikasi
dari klasifikasi Abletts dapat dibagi menjadi 4 diantaranya, yaitu(8):

Derajat I (tetanus ringan)

Trismus ringan sampai sedang (3cm)

Kekakuan umum: kaku kuduk, opistotonus, perut papan

Tidak dijumpai disfagia atau ringan

Tidak dijumpai kejang

Tidak dijumpai gangguan respirasi

Derajat II (tetanus sedang)

Trismus sedang (3cm atau lebih kecil)

Kekakuan jelas

Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan

Takipneu

Disfagia ringan

Derajat III (tetanus berat)

19

Trismus berat (1cm)

Otot spastis, kejang spontan

Takipne, takikardia

Serangan apne (apneic spell)

Disfagia berat

Aktivitas sistem autonom meningkat

Derajat IV (stadium terminal), derajat III ditambah dengan :

Gangguan autonom berat

Hipertensi berat dan takikardi, atau

Hipotensi dan bradikardi

Hipertensi berat atau hipotensi berat

4. Tetanus neonatorum
Tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir, disebabkan adanya infeksi tali pusat,
umumnya karena teknik pemotongan tali pusat yang aseptik dan ibu yang tidak
mendapat imunisasi yang adekuat. Gejala yang sering timbul adalah ketidakmampuan
untuk menetek, kelemahan, irritable diikuti oleh kekakuan dan spasme. Posisi tubuh
klasik: trismus, opistotonus yang berat dengan lordosis lumbal. Bayi mempertahankan
ekstremitas atas fleksi pada siku dengan tangan mendekap dada, pergelangan tangan
fleksi, jari mengepal, ekstremitas bawah hiperekstensi dengan dorsofleksi pada
pergelangan dan fleksi jari-jari kaki. Kematian biasanya disebabkan henti nafas,
hipoksia, pneumonia, kolaps sirkulasi, dan kegagalan jantung paru.
VI.

DIAGNOSIS
Biasanya tidak sukar. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas terutama

pada rahang sangat membantu. Anamnesis yang teliti dan terarah selain membantu menjelaskan
20

gejala klinis yang kita hadapi juga mempunyai arti diagnostik dan prognostik.
Anamnesis yang dapat membantu diagnosis antara lain:1

Apakah dijumpai luka tusuk, luka kecelakaan/patah tulang terbuka, luka dengan nanah
atau gigitan binatang
Apakah pernah keluar nanah dari telinga
Apakah menderita gigi berlobang
Apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT, kapan imunisasi yang terakhir
Selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau spasme lokal) dengan
kejang yang pertama (period of onset)
Hasil pemeriksaan laboratorium tidak khas. Temuan laboratorium:1
- Leukosit normal atau leukositosis ringan
- Glukosa dan kalsium darah normal
- Cairan serebrospinal normal tetapi tekanan dapat meningkat
- Enzim otot serum, SGOT, serum aldolase mungkin meningkat
- EKG dan EEG biasanya normal
- Kultur anaerob dan pemeriksaan mikroskopis nanah yang diambil dari luka dapat
membantu, tetapi Clostridium tetani sulit tumbuh dan batang gram positif berbentuk
tongkat penabuh drum seringnya tidak ditemukan.
- Kreatinin fosfokinase dapat meningkat karena aktivitas kejang (> 3U/ml)
Phillips Score untuk Menilai Grade Tetanus
Masa inkubasi
5

< 48 jam

2 5 hari

6 10 hari

11 14 hari

> 14 hari

Lokalisasi nyeri / port dentri


21

internal / umbilikal

leher, kepala, dinding tubuh

ekstremitas proksimal

ekstremitas distal

tidak diketahui

Imunisasi
10

tidak ada

mungkin ada / ibu mendapat

> 10 tahun yang lalu

< 10 tahun

proteksi lengkap

Faktor yang memberatkan


10

penyakit / trauma yg membahayakan jiwa

kead yg tdk lgs membahayakan jiwa

kead yg tidak membahayakan jiwa

trauma / penyakit ringan

1 ASA derajat status fisik penderita


Interpretasi

VII.

Ringan

<9

Sedang

9 16

Berat

> 16

DIAGNOSIS BANDING4

22

PENYAKIT
INFEKSI

GAMBARAN DIFFERENTIAL

Meningoencephalitis

Demam, trismus tidak ada, sensorium depresi, abnormal CSF

Polio

Trismus tidak ada, paralisa tipe flasid, abnormal CSF

Rabies

Gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya oropharingeal spasm

Lesi oropharyngeal

Hanya lokal, rigiditas seluruh tubuh atau spasme tidak ada

Peritonitis

Trismus atau spasme seluruh tubuh tidak ada

KELAINAN METABOLIK
Tetani

Hanya carpopedal dan laryngeal spasm, hipokalsemia

Keracunan strihnin

Relaksasi komplit diantara spasme

Relaksasi phenothiazine
PENYAKIT CNS

Distonia, respons dengan diphenhydramine

Stastus epilepticus

Sensorium depressi

Hemorrhage atau tumor


KELAINAN PSIKIATRIK

Trismus tidak ada, sensorium depressi

Hysteria
KELAINAN

Trismus inkonstan, relaksasi komplet diantara spasme

MUSKULOSKLETAL
Trauma
VIII.

Hanya lokal

KOMPLIKASI
Komplikasi dapat terjadi pada:4,5
-

Sistem saluran pernafasan


Oleh arena spasme otot-otot pernapasan dan spasme otot laring dan seringnya kejang
menyebabkan terjadinya asfiksia. Karena akumulasi sekresi saliva serta sukar menelan
air liur, makanan, dan minuman sehingga sering terjadi pneumonia aspirasi dan
atelektasis akibat obstruksi oleh sekret. Pneumotoraks dan emfisema mediastinal

biasanya terjadi akibat dilakukannya trakeostomi.


Sistem kardiovaskular
Komplikasi berupa aktivitas simpatis meningkat antara lain berupa takikardia, hipertensi,
vasokonstriksi perifer, dan ransangan miokardium.

Sistem muskuloskeletal

23

Pada otot karena spasme yang berkepanjangan bisa terjadi perdarahan dalam otot. Pada
tulang dapat terjadi fraktur columna vertebralis akibat kejang yang terus menerus
terutama pada anak dan orang dewasa, beberapa peneliti melaporkan dapat terjadi
miositis ossifikans sirkumskripta.
-

Komplikasi yang lain :

Laserasi lidah akibat kejang

Dekubitus karena penderita berbaring satu posisi saja

Panas yang tinggi karena infeksi sekunder atau toksin yang menyebar luas dan
mengganggu pusat pengatur suhu.
Penyebab kematian pada tetanus ialah akibat komplikasi berupa bronkopneumonia,

cardiac arrest, septikemia, dan pneumotoraks.


IX.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan pada tetanus terdiri dari penatalaksanaan umum yang terdiri dari kebutuhan

cairan dan nutrisi, menjaga kelancaran jalan nafas, oksigenasi, mengatasi kejang, perawatan
luka atau portd entre lain. Sedangkan penatalaksanaan khusus terdiri dari pemberian antibiotik
dan serum anti tetanus.1
Penatalaksanaan umum
-

Penderita perlu dirawat dirumah sakit, diletakkan pada ruang yang tenang pada unit

perawatan intensif dengan stimulasi yang minimal.


Pada hari pertama perlu pemberian cairan secara intravena, sekaligus memberikan obatobatan dan bila sampai hari ke-3 infus belum dapat dilepas sebaiknya dipertimbangkan
pemberian secara parenteral. Setelah kejang mereda dapat dipasang sonde lambung untuk

makanan dan obat-obatan dengan perhatian khusus pada kemungkinan terjadinya aspirasi.
Menjaga saluran nafas tetap bebas, kalau berat perlu trakeostomi
Memberikan tambahan oksigen dengan sungkup
Mengurangi spasme dan mengatasi kejang
Diazepam merupakan golongan benzodiazepin yang sering digunakan.Obat ini
mempunyai aktivitas sebagai penenang, anti kejang, dan pelemas otot yang kuat tanpa
menekan pusat kortikal. Dosis diazepam yang
24 direkomendasikan adalah 0,1-0,3 mg/kgBB
dengan interval 2-4 jam sesuai gejala klinis atau dosis yang direkomendasikan untuk usia
< 2 tahun adalah 8 mg/kgBB/hari diberikan oral dalam dosis 2-3 mg/3 jam. Kejang harus

segera dihentikan dengan pemberian diazepam 5 mg per rektal untuk BB < 10 kg dan 10
mg untuk BB > 10 kg, atau dosis diazepam intravena untuk anak 0,3 mg/kgBB/kali.
Setelah kejang berhenti, pemberian diazepam dilanjutkan dengan dosis rumatan sesuai
dengan klinis pasien. Alternatif lain untuk bayi diberikan dosis inisial 0,1-0,2
mg/kgBB/hari untuk menghilangkan spasme akut, diikuti infuse kontinu 15-40
mg/kgBB/hari. Setelah 5-7 hari dosis diazepam diturunkan bertahap 5-10 mg/hari dan
dapat diberikan melalui OGT. Tanda klinis membaik bila tidak dijumpai kejang spontan,
badan masih kaku, kesadaran membaik, tidak dijumpai gangguan nafas. Bila dosis
diazepam maksimal telah tercapai namun anak masih kejang atau mengalami spasme
laringm sebaiknya dipertimbangkan untuk dirawat di ruang perawatan intensif sehingga
otot dapat dilumpuhkan dan mendapat bantuan pernafasan mekanik. Apabila dengan
terapi antikonvulsan dengan dosis rumatan telah memberikan respon klinis yang
diharapkan, dosis dipertahankan 3-5 hari. Selanjutnya pengurangan dosis secara bertahap
(sekitar 20 % dari dosis setiap 2 hari)

Penatalaksanaan khusus
Antibiotik
Antibiotik ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk
toksin yang dihasilkannya. Antibiotik lini pertama yang diberikan adalah metronidazole
IV/oral dengan dosis awal secara loading dose 15 mg/kgBB dalam 1 jam dilanjutkan 30
mg/kgBB/hari selama 1 jam perinfus setiap 6 jam selama 7-10 hari. Lini kedua dapat
diberikan penisilin prokain 50.000-100.000/kgBB/hari selama 7-10 hari, jika terdapat
hipersensitif terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin 50 mg/kgBB/hari (untuk anak

usia> 8 tahun). Penyulit yang ada diberikan antibiotik yang sesuai.


Anti serum
Dosis ATS yang dianjurkan adalah 100.000 IU dengan 50.000 IU IM dan 50.000 IU IV.
Pemberian ATS harus berhati-hati akan terjadinya reaksi anafilaksis. Pada tetanus anak
pemberian anti serum dapat disertai imunisasi aktif DT setelah anak pulang dari rumah
sakit.Bila fasilitas tersedia dapat diberikan HTIG (Human Tetanus Immune Globulin)
3.000-6000 IU IM, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara
intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ", yang
mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius.

Tetanus toksoid

25

Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama, dilakukan bersamaan dengan pemberian
antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda. Pemberian

dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap
tetanus selesai. Berikut ini petunjuk pencegahan terhadap tetanus pada keadaan luka:
1. Mencegah terjadinya luka
2. Perawatan luka yang adekuat
3. Pemberian anti tetanus (ATS) dalam beberapa jam setelah luka yaitu untuk
memberikan kekebalan pasif, sehingga dapat dicegah terjadinya tetanus gejalanya ringan.
Umumnya diberikan 1.500 U intramuskulus dengan didahului oleh uji kulit dan mata.
Profilaksis dengan pemberian ATS hanya efektif pada luka baru (kurang dari 6 jam) dan
harus segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif.
4. Pemberian toksoid tetanus pada anak yang belum pernah mendapat imunisasi aktif
pada minggu-minggu berikutnya setelah pemberian ATS, kemudian diulangi lagi dengan
jarak waktu 1 bulan 2 kali berturut-turut.
5. Pemberian penisilin prokain selama 2-3 hari setelah mendapat luka berat (dosis 50.000
U/kgBB/hari).
6. Imunisasi aktif. Toksoid tetanus diberikan agar anak membentuk kekebalan secara
aktif. Sebagai vaksinasi dasar diberikan bersama vaksinasi terhadap pertusis dan difteria,
dimulai pada umur 3 bulan. Vaksinasi ulangan (booster) diberikan 1 tahun kemudian dan
pada usia 5 tahun serta selanjutnya setiap 5 tahun diberikan hanya bersama toksoid
difteria (tanpa vaksin pertusis).
Bila terjadi luka berat pada seseorang anak yang telah mendapat imunisasi atau toksoid
tetanus 4 tahun yang lalu, maka kepadanya wajib diberikan pencegahan dengan suntikan
sekaligus antioksin dan toksoid pada kedua ekstremitas (berlainan tempat suntikan).
Imunisasi DPT (Diphteri Pertussis Tetanus)10
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang
dari 7 tahun. Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada
otot lengan atau paha. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak
berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang
dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia
prasekolah (5-6 tahun).

26

DPT merupakan salah satu jenis vaksin combo. Terdapat 2 jenis vaksin DPT, yaitu DTwP
dan DTaP. DTwP adalah vaksin yang mengandung seluruh sel kuman pertusis, sedangkan

DTap mengandung komponen spesifik toksin dari kuman pertusis. Keuntungan DTaP adalah
angka kejadian komplikasi yang kecil dibandingkan DTwP. Kerugiannya DTaP lebih mahal.
DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di
tempat penyuntikan (42,9 % kasus) selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi
karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT
menyebabkan komplikasi berikut:

Demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius) pada 2,2 % kasus

Kejang demam terjadi sebanyak 0,06 %. Risiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya
pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya.

X.

Reaksi alergi dan ensefalopati sangat jarang.


PROGNOSIS
Prognosis tetanus pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jika masa inkubasi pendek

(kurang dari 7 hari), usia yang sangat muda (neonatus), period of onset yang pendek (jarak
antara trismus dan timbulnya kejang kurang dari 48 jam), frekuensi kejang yang tinggi,
pengobatan terlambat, adanya komplikasi terutama spasme otot pernapasan dan obstruksi jalan
napas, semua ini prognosisnya buruk.1,8,9
Mortalitas tetanus masih tinggi, di bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta
didapatkan angka 80 % untuk tetanus neonatorum dan 30 % untuk tetanus anak.1

27