Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. MY

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 10 Tahun

Berat Badan : 17 Kg
Pekerjaan

: Pelajar

Tanggal Periksa : 8 Agustus 2016


Alamat

: Ds. Kedungmuter Karang Tengah, Demak

ANAMNESIS (Dilengkapi Alloanamnesis dengan Ibu pasien)


Keluhan Utama : muncul benjolan benjolan dan terasa gatal di sela-sela jari tangan,
punggung tangan, lengan, ketiak, dada, perut, bagian kelamin dan kaki.
Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan dirasakan sudah 2 bulan yang lalu dimulai dari sela-sela jari, tangan dan
kaki. Gatal dirasakan lebih hebat ketika malam hari dan saat pasien berkeringat, sehingga
pasien bila berkeringat langsung mandi karena gatal. Benjolan pertama muncul di selasela jari tangan dan di punggung tangan kemudian menyebar ke lengan. Semakin lama
benjolan menyebar ke bagian ketiak, dada, perut, daerah kelamin dan paha. Benjolan terus
bertambah daripada sebelumnya. Benjolan kering, tidak terlihat basah maupun berair,
beberapa ada yang kemerah merahan karena garukan.
6 Minggu Sebelum Masuk Rumah Sakit, pasien dibawa ke Puskesmas dan sudah
diberikan obat, namun keluhan hanya berkurang ketika obat dikonsumsi, setelah obat
berhenti keluhan gatal muncul kembali disertai muncul benjolan benjolan baru. Ibu pasien
menerangkan bahwa ketika malam pasien susah tidur dan sering menggaruk badannya.
Keluhan demam sebelum dan selama sakit disangkal dan tidak ada keluhan lain yang
menyertai.
Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.


Riwayat Penyakit Keluarga
Beberapa anggota keluarga mengalami keluhan yang sama. Ibu pasien mengeluhkan hal
yang sama hampir bersamaan dengan pasien. Kedua kakak pasien juga mengeluhkan hal
yang sama, muncul benjolan benjolan hampir di seluruh tubuh dan terasa gatal. Kedua
kakak pasien mengeluhkan muncul benjolan dan gatal sekitar 1 bulan sebelum pasien dan
ibu pasien mengeluh gatal.
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, ayah pasien adalah pegawai swasta dan ibu
pasien adalah guru. Pasien bersekolah di pondok pesantren, begitu juga dengan kedua
kakaknya. Apabila di rumah, pasien tinggal berlima bersama kedua kakak dan kedua
orang tuanya. Biaya pengobatan pasien ditanggung oleh sendiri.
Kesan Sosial Ekonomi : Cukup
PEMERIKSAAN FISIK
Status generalisata :
Keadaan umum
Tekanan darah
Frekuensi Nadi
Frekuensi Pernafasan
Temperatur
Warna kulit
Thorax, abdomen, eksremitas

: Kompos Mentis
: tidak dilakukan pemeriksaan.
: tidak dilakukan pemeriksaan.
: tidak dilakukan pemeriksaan.
: afebris.
: Sawo Matang
: Dalam batas normal.

Status Dermatologi:
Lokasi : Sela-sela jari tangan, punggung tangan, lengan, ketiak, dada, perut,
UKK

bagian kelamin, paha dan kaki


: Makula eritem, papul eritem multipel, erosi, skuama

DIAGNOSIS BANDING

Skabies
Definisi : Penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi oleh Sarcoptes
Scabiei

Etiologi : Sarcoptes Scabiei


Lokasi : sela-sela jari kaki dan tangan, punggung tangan, ketiak, siku, pantat, lipat
paha dan bagian kelamin.
UKK : urtika eritem yang berbatas tegas, papula, vesikel, terowongan yang sedikit
meninggi. Erosi, ekskoriasi dan krusta bisa ditemukan apabila lesi terkena garukan.
- KOH 10% : ditemukan sarcoptes scabiei (+), atau telur (+)

Pedikulosis Korporis
Definisi : Infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh infeksi Pediculus
Humanus
Etiologi : Pediculus Humanus
Lokasi : Kepala bagian oksiput, temporal bahkan seluruh kepala, kulit badan
UKK : erosi, ekskoriasi, pus, krusta, plikapelonika
- Ditemukannya kutu atau telur terutama didaerah oksiput dan temporal, tlur
berwarna abu-abu berkilat

Dermatitis Atopik
Definisi : Keadaan peradangan kulit rkonis dan residif disertai gatal yang umumnya
terjadi pada bayi dan anak-anak
Etiologi : Riwayat atopik, peningkatan IgE serum
Lokasi : Lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan, leher
UKK : Lesi sedikit kering, papul likenifikasi, skuama, eritema, vesikel atau bula, erosi
- Penegakan diagnosis dengan 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan kerokan kulit ditemukannya tungau, telur, potongan bagian tubuh atau
kotoran tungau (schibala) merupakan diagnose definitif

DIAGNOSIS KERJA

Skabies

PENATALAKSANAAN
Terapi Sistemik

Alegi tablet (Dexamethason 0,5 mg + Deksklorfeniramin maleat 2mg) 3 x 1 tablet

Cefila tablet (Cefixime 100mg) 2 x 1 tablet

Terapi Topikal

Sampo/sabun ketokonazol 2% untuk mandi

Permethrin krim 5% malam hari 8-12 jam


EDUKASI
Jaga kebersihan diri meliputi kebersihan kulit, genital, tangan dan kuku dengan mandi

2x sehari dengan air bersih dan sabun


Menjaga kebersihan pakaian, alat mandi, tempat tidur dan lingkungan tempat tinggal
Jangan menggaruk lesi
Hindari pemakaian handuk atau yang lainnya secara bersama.
Mengurangi aktivitas agar tidak berkeringat untuk mengurangi keluhan gatal
Konsumsi obat teratur dan sesuai petunjuk dokter.
Kontrol rutin
Pengobatan harus dilakukan pada seluruh anggota keluarga/ komunitas

PROGNOSIS
Qua ad Vitam
: Ad bonam
Qua ad Sanam
: Dubia ad bonam
Qua ad Cosmeticam : Ad bonam

KOMPLIKASI
1. Terjadinya infeksi sekunder
2. Munculnya erosi, ekskoriasi bahkan hingga ulkus apabila lesi terkena garukan
RINGKASAN
Telah dilaporkan kasus Skabies. Keluhan utama muncul benjolan benjolan dan
terasa gatal di sela-sela jari tangan, punggung tangan, lengan, ketiak, dada, perut, bagian
kelamin dan kaki, Keluhan dirasakan sudah 2 bulan yang lalu dimulai dari sela-sela jari,

tangan dan kaki. Gatal dirasakan lebih hebat ketika malam hari dan saat pasien
berkeringat, sehingga pasien bila berkeringat langsung mandi karena gatal. Benjolan
pertama muncul di sela-sela jari tangan dan di punggung tangan kemudian menyebar ke
lengan. Semakin lama benjolan menyebar ke bagian ketiak, dada, perut, daerah kelamin
dan paha. Benjolan terus bertambah daripada sebelumnya. Benjolan kering, tidak terlihat
basah maupun berair, beberapa ada yang kemerah merahan karena garukan.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan makula eritem, papul eritem, skuama, erosi di
sela-sela jari tangan, punggung tangan, lengan, ketiak, dada, perut, bagian kelamin, paha
dan kaki. Pada pemeriksaan KOH 10% diharapkan ditemukan tungau atau telur tungau.
Pasien ini diterapi dengan menggunakan terapi topikal Sampo/sabun ketokonazol 2%
digunakan saat mandi, permetrin 5% digunakan selama 10 jam kemudian dihapus, serta
terapi sist Alegi tablet (Dexamethason 0,5 mg + Deksklorfeniramin maleat 2mg) 3 x 1
tablet, Cefila tablet (Cefixime 100mg) 2 x 1 tablet. Prognosis untuk pasien tersebut adalah
Qua ad Vitam : ad bonam, Qua ad Sanam : dubia ad bonam, Qua ad Cosmeticam : ad
bonam.
Lampiran Gambar:

Gambar 1. Punggung Tangan kanan dan kiri. papul eritem multiple, erosi

Gambar 2. Dada, perut, selangkangan dan sekitar penis. Makula eritem, papul eritem
multipel, erosi

Gambar 3. Tungkai bawah. Makula eritema , papul eritem multipel, erosi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI
Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabei varian
hominis, yang penularannya terjadi secara kontak langsung (Harahap, 2000).
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi terhadap
sarcoptes scabies var hominis dan produknya (Mansjoer, 2000)
Di Indonesia penyakit skabies sering disebut kudis, penyakit gudik wesi (jawa timur,
jawa tengah), budug (jawa barat), katala kubusu (sulawesi selatan). Disebut juga agogo atau
disko, hal ini kemungkinan karena penderita menggaruk badanya yang gatal menyerupai orang
menari (Hamzah, 1981)
Seluruh siklus hidup Sarcoptes Scabies mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8-12 hari yang jantan mati setelah kopulasi yang betina menggali
terowongan di stratum korneum dan bertelur. Setelah 3-5 hari menetas menjadi larva dan 2-3
hari kemudian menjadi nimfa berkaki 8 (jantan dan betina) waktu yang diperlukan sejak
menetasnya telur sampai menjadi bentuk dewasa adalah 7-8 hari, diluar tubuh penderita parasit
hanya dapat hidup selama 2-3 hari pada suhu kamar.

II.

ETIOLOGI
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina,
superfamily Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Kecuali itu

terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi (Handoko, 2008 dan Stone et al,
2003). Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung
dan bagian perutnya rata. Tungau ini berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya
yang betina berkisar antara 330 450 mikron x 250 350 mikron, sedangkan yang jantan
lebih kecil, yakni 200 240 mikron x 150 - 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang
kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada
betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir
dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat Handoko 2008).
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas
kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh
yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum,
dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari
sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan
lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang
mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar.
Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4
pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu
antara 812 hari (Handoko, 2008 dan Stone et al, 2003).

Telur menetas menjadi larva dalam waktu 34 hari, kemudian larva meninggalkan
terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa
yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau skabies betina membuat liang di dalam epidermis,
dan meletakkan telur-telurnya di dalam liang yang di tinggalkannya, sedangkan tungau skabies
jantan hanya mempunyai satu tugas dalam kehidupannya yaitu kawin dengan tungau betina
setelah melaksanakan tugas mereka masing-masing mereka akan mati (Graham-Brown dan
Burns, 2005).
III.

EPIDEMIOLOGI
Skabies terdapat diseluruh dunia dengan insiden yang berfluktuasi akibat pengaruh
faktor imun yang belum diketahui sepenuhnya (Sungkar, 1995). Ada dugaan bahwa epidemi
skabies dapat berulang selama 30 tahun (Juanda, 1999). Penyakit ini dapat mengenai semua
ras dan golongan seluruh dunia dan banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda tetapi
dapat mengenai semua umur.

IV.

PATOGENESIS
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita
sendiri akibat garukan. Penularan dapat terjadi karena bersalaman atau bergandengan tangan yang
lama sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kuman skabies berpindah ke lain
tangan, kuman skabies dapat menyebabkan bintil (papul, gelembung berisi air, vesikel dan kudis)
pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan
ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan
kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul,vesikel, urtikaria dan lain-lain. Dengan
garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang
terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Handoko, 2008).

V.

CARA PENULARAN
Menurut Admin (2009) di dalam Brown.T.Y. et al (1999), penyakit skabies dapat
ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. Yang paling sering adalah
kontak langsung dan erat atau dapat pula melalui alat-alat seperti tempat tidur, handuk, dan
pakaian. Bahkan penyakit ini dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara penderita
dengan orang yang sehat. Di Amerika Serikat dilaporkan, bahwa skabies dapat ditularkan
melalui hubungan seksual meskipun bukan merupakan akibat utama.
Penularan skabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang
sama di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan
pemondokan, serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Di Jerman
terjadi peningkatan insidensi, sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti
tidur bersama. Faktor lainnya adalah fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di
lingkungan padat penduduk. Pada beberapa sekolah didapatkan kasus gatal-gatal selama
beberapa bulan yang sebagian dari mereka telah mendapatkan pengobatan anti skabies (Meyer,
2000).

VI.

KLASIFIKASI
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal, sehingga
dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain (Harahap,
2000):
1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated).
Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga
sangat sukar ditemukan.
2. Skabies incognito.
Bentuk ini timbul pada skabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga gejala dan tanda
klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito
sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip
penyakit lain.
3. Skabies nodular
Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat
didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul
sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau skabies. Pada nodus yang berumur lebih dari
satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan
sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti skabies dan kortikosteroid.
4. Skabies yang ditularkan melalui hewan.
Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan skabies
manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi
biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya
yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah.
Kelainan ini bersifat sementara (48 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var.
binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.

5. Skabies Norwegia.
Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta, skuama
generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang
berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi
kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak
menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi sangat
banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun
tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembang biak dengan mudah.
6. Skabies pada bayi dan anak.
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak
tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga
terowongan jarang ditemukan, sedangkan pada bayi lesi di muka sering terjadi.
7. Skabies terbaring di tempat tidur (bed ridden).
Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat
menderita skabies yang lesinya terbatas.

VII.

GEJALA KLINIS
Ada 4 tanda cardinal (Handoko, 2008) :

1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau
ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.

2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga
biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah
perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan

diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota
keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala.
Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).

3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok dengan rata-rata panjang 1 cm, pada
ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam
kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi dan lainlain). Tempat predileksinya biasanya
merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan,
pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola
mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah.
Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.

4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostic. Dapat ditemukan satu atau
lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal tersebut.
Terdapat dua tipe utama lesi kulit pada skabies, yaitu terowongan dan ruam (Graham-Brown
dan Burn, 2005), yaitu:
1. Terowongan terutama ditemukan pada tangan dan kaki bagian samping jari tangan dan jari
kaki, sela-sela jari, pergelangan tangan dan punggung kaki
2. Ruam skabies berupa erupsi papula kecil yang meradang, yang terutama terdapat di aksila,
umbilikus, dan paha. Ruam adalah reaksi alergi dari tubuh terhadap tungau.

VIII.

TERAPI
Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati termasuk pasangan
hidupnya. Beberapa macam obat yang dapat dipakai pada pengobatan skabies yaitu:

1. Permetrin 5%
Merupakan obat pilihan untuk saat ini, tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah
pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia
kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam
kemudian dicuci bersih (Harahap, 2000).
2. Malation.
Malation 0,5 % dengan daasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya
diberikan beberapa hari kemudian (Harahap, 2000).

3. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %).


Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi
iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai (Handoko, 2001).
4. Sulfur.
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan.
Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari
selama 3 malam (Harahap, 2000).
5. Monosulfiran.
Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 23 bagian
dari air dan digunakan selama 23 hari (Harahap, 2000).
6. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan).
Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap
semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di
bawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup
sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian (Handoko, 2001). Krotamiton

10 % dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies
dan antigatal (Handoko, 2008).
7. Krotamiton 10%
Dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan yang mempunyai efek anti scabies
dan anti gatal, namun harus dihindari kontak dengan mata, mulut dan urethra.
IX.

PROGNOSIS
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta syarat pengobatan dan
menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dan memberikan prognosis
yang baik (Harahap, 2000).

DAFTAR PUSTAKA
1. Kuswadji. Kandidosis. Dalam : Djuanda A., Hamzah M., Aishah S., Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi V, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta,
2008. Pp:103-6
2. SMF Ilmu Kulit Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Atlas Penyakit Kulit
dan Kelamin. Airlangga University Press, 2007. Pp:86-92
3. Siregar, R.S. Atlas Berwana Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2004. Pp: 279280.
4. Arnold, H.L; Odom, R.B., James, W.D.: Andrews Disease of The Skin. Clinical
Dermatology; 8th edition., pp.513-527 (W.B. Saunders Company, Philadelphia, London,
Toronto 1990).
5. Moh. Usman Atmaprawira : Penelitian Skabies pada sebuah pesantren di Jakarta, Skripsi
(FKUI Bag. 1. Penyakit Kulit dan Kelamin, Jakarta 1982)