Anda di halaman 1dari 12

PENYAKIT KULIT DAN PARASIT DARAH SERTA

PENANGANANNYA PADA KUCING

Elphan Augusta (O 111 12 253) 1, Muhammad Iqbal Djamil (O 111 12 103) 2,


Hidayanti Adillah (O 111 12 006) 3, Andi Ainun Karlina (O 111 12 268) 4,
Suci Nurfitriani (O 111 12 273) 5

Bagian Bedah & Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi


Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)
Korespondensi penulis: elphanaugusta@gmail.com
Abstrak
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengenal berbagai ragam perubahan klinik dan
patologis, merumuskan diagnosis dan diagnosis banding serta rencana tindakan penanganan
penyakit seperti kasus penyakitparasit darah dan penyakit parasit kulit pada hewan kecil.
Seekor hewan dengan anamneses kucing hidupnya tidak terawat, belum memiliki catatan
vaksin, terdapat luka di beberapa bagian tubuh, seperti bawah abdomen, luka pada kaki
sebelah kanan mulai dari bagian femur hingga dorsal footpad, luka pada tibia fibula kaki kiri,
kesakitan saat buang air besar, iritasi pada bagian anus dan terdapat erithema pada bagian
abdomen. Tempratur tubuh 36,8 oC, frekuensi nafas 40 x/menit, frekuensi nadi 128 x/menit,
frekuensi jantung 128 x/menit, berat badan 3 kg. Habitus/tingkah laku yang pasiv. Hasil
pemeriksaan klinis ditemukan ekspresi kepala lemas dan malas, kucing mengalami dehidrasi,
sclera berwarna abu-abu, pada iris terdapat spot merah, terdapat luka pada mandibula kanan
pada mulut, caninus sebelah kanan patah dan sebelah kiri tanggal, terdapat alopecia pada
permukaan belakang telinga kanan dan kiri serta pada leher sebelah kiri, ritme pernafasan
yang tidak teratur dengan intensitas yang dalam, daerah sekitar anus kotor dan terdapat iritasi,
suara jantung susah terdengar dengan intensitas lemah, ginjal sebelah kiri membesar serta
inkoordinatif saat berjalan dan berlari akibat luka pada kakinya. Pemeriksaan lanjutan
sebaiknya dilakukan pemeriksaan lab urin untuk mengetahui adanya masalah pada ginjal, jika
diperlukan dilakukan X-ray, kerokan kulit untuk mendeteksi adanya infestasi parasit pada
kulit yang terdapat alopecia, erithema dan luka. Diagnosa suspect nefritis, infestasi kutu,
infeksi bakteri dan prognosa dubius. Terapi yang dapat dilakukan ialah pengobatan dan
pembersihan luka, terapi cairan, pemberian vitamin, pemberian antibiotik. Kesimpulannya
kucing tersebut didiagnosa suspect nefritis, infestasi kutu dan infeksi bakteri akan tetapi
sangat perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk hasil yang lebih akurat.
Kata kunci: kucing domestik, alopecia, erithema dan luka, kerokan kulit.
Pendahuluan

Scabies merupakan penyakit kulit


menular yang disebabkan oleh seekor

tungau
(kutu/mite)
yang
bernamaSarcoptes
scabei,
filum Arthopoda ,
kelas Arachnida,
ordo Ackarina,
superfamili Sarcoptes.
Pada manusia olehS. scabiei var homonis,
pada babi oleh S. scabiei var suis, pada
kambing oleh S. scabiei var caprae, pada
biri-biri oleh S. scabiei var ovis.
Scabies hidup didalam jaringan
kulit
penderita,
hidup
membuat
terowongan yang bentuknya memanjang
dimalam hari. Itu sebabnya rasa gatal
makin menjadi-jadi dimalam hari,
sehingga membuat orang sulit tidur.
Dibandingkan penyakit kulit gatal lainnya,
scabies merupakan penyakit kulit dengan
rasa gatal yang lebih dibandingkan dengan
penyakit kulit lain.
Sinonim dari penyakit ini adalah
kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal
agogo.
Akibatnya,
penyakit
ini
menimbulkan rasa gatal yang panas dan
edema yang disebabkan oleh garukan.
Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu
betina panjangnya 0,3 sampai 0,4
milimeter dengan empat pasang kaki, dua
pasang di depan dengan ujung alat
penghisap dan sisanya di belakang berupa
alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan,
memiliki ukuran setengah dari betinanya.
Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu
membuat terowongan dalam kulit, tak
pernah membuat jalur yang bercabang.
(Palguna, 2014).
Skabies adalah penyakit kulit
menular yang bersifat zoonosis dan
disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei.
Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia
terutama pada daerah-daerah yang erat
sekali kaitannya dengan lahan kritis,
kemiskinan, rendahnya sanitasi dan status
gizi, baik pada hewan maupun manusia.
Penularan skabies terjadi melalui kontak
langsung. Akibat infestasi tungau pada
kulit menyebabkan rasa gatal yang hebat
sampai timbulnya eritrema, papula dan
vesikula hingga terjadi kerusakan kulit,
bahkan pada kasus yang parah dapat

menyebabkan kematian hewan (50-100%)


(Wardhana, 2006).
Ringworm atau dermatofitosis
adalah infeksi oleh cendawan pada bagian
kutan/superfisial atau bagian dari jaringan
lain yang mengandung keratin (bulu, kuku,
rambut dan tanduk). Penyakit kulit yang
menular ini pada ternak tidak berakibat
fatal, namun sangat mengganggu dan
dapat menurunkan produktivitas ternak,
sebagai penyakit kosmopolitan, sering
dijumpai pada hewan yang dipelihara
secara
bersama-sama.
Ringworm
menyerang
hewan
dan
manusia.
(Ainsworth and Austwick, 1973).
Selain scabies yang disebabkan
oleh Sarcoptes scabiei, ada pula tungau
lain yang menyebabkan kegatalan, yakni
Cheyletiella yasguri. Penyakit ini disebut
Cheyletiellosis.
Tungau
penyebab
Cheyletiellosis sekilas mirip dengan
penyebab scabies, tetapi mempunyai
ukuran yang lebih besar (sekitar 385
mikron) dan bentuk kepalanya berbeda. Di
samping itu, parait ini hanya ada pada
lapis atas (keratin) dari kulit dan
menimbulkan ketombe. Telur Cheyletiella
sp. Diletakkan pada rambut anjing, yang
terlihat
sebagai
bintik-bintik
kecil
berwarna putih pada pangkal bulu.
Pediculosis
(infestasi
kutu)
berbentuk sebagai insekta tanpa sayap
berukuran 1-3 mm, ditopang oleh 6 kaki,
tidak bisa bergerak cepat. Mereka adalah
ektoparasit yang bersifat host-spesific, dan
ditularkan lewat kontak antar hewan. Kutu
dewasa bertelur di batang rambut, melekat
erat, dan di dalam mencapai dewasa
mengalami perubahan bentuk beberapa
kali. Kutu yang banyak dilaporkan
menginfestasi kucing adalah
Felicola
subrostratus
(atau
F. subrostrata)
(Subronto, 2010).

Tinjauan Pustaka
Scabies

Sarcoptes scabiei termasuk famili


sarcoptidaedari
kelas
Arachnida,
berbentuk
lonjong,
punggungnya
cembung, dan bagian perutnya rata. Besar
tungau ini sangat bervariasi, yang betina
berukuran kira-kira 0,4 mm x 0,3 mm
sedangkan yang jantan ukurannya lebih
kecil 0,2 mm x 0,15 mm. Tungau ini
translusen dan bewarna putih kotor, pada
bagian dorsal terdapat bulu-bulu dan duri
serta mempunyai 4 pasang kaki, bagian
anterior 2 pasang sebagai alat untuk
melekat sedangkan 2 pasang sebagi alat
untuk melekat sedangkan 2 pasang kaki
terakhir pada betina berakhir dengan
rambut. Pada yang jantan pasangan kaki
yang ketiga berakhir dengan rambut dan
yang keempat berakhir dengan alat perekat
Patofisiologi dari scabies antara lain
hewan akan menggosokkan bagian yang
gatal ke objek-objek keras sehingga
menyebabkan lecet serta rontoknya
rambut. Akibat dari lecet inilah yang
menyebabkan keluarnya cairan serum
yang segera kering dan tampak seperti
keropeng. Selanjutnya terjadi keratinisasi
dan proliferasi jaringan ikat sehingga kulit
ikut menebal, berkerut serta permukaannya
tidak rata
Umumnya,
gejala
klinis
yang
ditimbulkan akibat infestasi S. scabiei
pada hewan hampir sama, yaitu gatalgatal, hewan menjadi tidak tenang,
menggosokgosokkan tubuhnya ke dinding
kandang dan akhirnya timbul peradangan
kulit . Bentuk eritrema dan papula akan
terlihat jelas pada daerah kulit yang tidak
ditumbuhi rambut . Apabila kondisi
tersebut tidak diobati, maka akan terjadi
penebalan dan pelipatan kulit disertai
dengan timbulnya kerak
Kerokan kulit dapat dilakukan di daerah
sekitar papula yang lama maupun yang
baru. Hasil kerokan diletakkan di atas kaca
objek dan ditetesi dengan KOH 10%
kemudian ditutup dengan kaca penutup
dan diperiksa di bawah mikroskop .
Diagnosis skabies positif jika ditemukan

tungau, nimpa, larva, telur atau kotoran S.


scabiei.
Dermatitis yang disebabkan oleh jamur,
dan kadang sulit dibedakan dengan
demodecosis tipe skuamosa( pada anjng).
Beberapa obat untuk skabies pada
hewan telah banyak diuji dan dilaporkan.
Pemberian salep Asuntol 50 WP 2%
mampu mengatasi skabies pada kerbau.
Kambing yang terserang skabies dapat
diobati menggunakan ivermectin dengan
dosis 0,2 mg/kg bobot badan secara
subkutan. Penggunaan ivermectin secara
subkutan untuk pengobatan anjing yang
terserang
skabies
dilaporkan
oleh
(Jagannath dan Yathiraj, 1999).
Pisahkan hewan yang sakit dengan
hewan yang sehat, sanitasi kandang,
biosekuriti, memperhatikan asupan nutrisi
pada hewan.
Dengan memperhatikan pemilihan dan
cara pemakaian obat, serta syarat
pengobatan, dan menghilangkan faktor
predisposisi, penyakit ini dapat diberantas
dan memberi prognosis yang baik (fausta).
(Budiantono, 2004).
Ringworm
Cendawan penyebab penyakit ini
termasuk dalam kelompok Dermatophyta.
Terdapat empat genus, yaitu Trichopyton,
Microsporum,
Epidermophyton,
Keratinomyces, namun yang meyebabkan
penyakit pada hewan adalah Trichopyton
dan spesies Trichopyton verrucusom, T.
mentagrophytes dan
T. megninii dan
Microsporum. Lebih dari 90% kasus pada
kucing disebabkan oleh M. canis.
Cara penularan jamur dapat secara
langsung dan secara tidak langsung.
Penularan langsung dapat secara fomitis,
epitel, rambut-rambut yang mengandung
jamur baik dari manusia, binatang atau
dari tanah. Penularan tak langsung dapat
melalui tanaman, kayu yang dihinggapi
jamur, barang-barang atau pakaian, debu
atau air. Disamping cara penularan

tersebut diatas, untuk timbulnya kelainankelainan di kulit tergantung dari beberapa


faktor seperti faktor virulensi dari
dermatofita, faktor trauma, kulit yang utuh
tanpa lesi-lesi kecil, factor suhu dan
kelembaban, kurangnya kebersihan dan
faktor umur dan jenis kelamin.
Pada anjing sering terjadi kerusakan
bulu di seluruh muka, hidung dan telinga.
Perubahan yang tampak pada kulit berupa
lingkaran atau cincin dengan batas jelas
dan umumnya dijumpai di daerah leher,
muka terutama sekitar mulut, pada kaki
dan perut bagian bawah. Selanjutnya
terjadi keropeng, lepuh dan kerak, dan
dibagian keropeng biasanya bagian
tengahnya kurang aktif, sedangkan
pertumbuhan aktif terdapat pada bulu
berupa kekusutan, rapuh dan akhirnya
patah, ditemukan pula kegatalan.
Untuk
mendiagnosa
melalui
pemeriksaan laboratorium diperlukan
sampel kerokan kulit, serpihan kuku,
rambut. Kemudian dapat diperiksa dengan
Wood light, atau pemeriksaan langsung
dengan mikroskop dengan KOH, atau
pewarnaan, atau dengan membuat biakan
pada media
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan lesi
yang
diperlihatkan
seperti
gigitan
serangga, urtikaria, infeksi bakteri dan
dermatitis lainnya, namun dengan adanya
bentuk cincin pada derah yang terinfeksi
dan
peneguhan
diagnose
dengan
pemeriksaan
laboratorium
akan
memastikan bahwa hewan tersebut
menderita penyakit
Ringworm
sering
dikelirukan
dengan perubahan kulit yang lain seperti
penyakit kudis, gigitan serangga, infeksi
bakteri dan radang kulit yang lain.
Diagnosa dapat dibuat dengan menemukan
cendawan baik langsung maupun tidak
langsung.
Pengobatan dapat dilakukan secara
sistemik dan topikal. Secara sistemik
dengan preparat Griseofulvin, Natamycin,

dan azole peroral maupun intravena,


dengan cara topikal menggunakan
fungisida topikal dengan berulang kali,
setelah itu kulit hewan penderita tersebut
disikat sampai kerak nya bersih; setelah itu
dioles atau digosokpada tempat yang
terinfeksi. Selain itu dapat pula dengan
obat tradisional seperti daun ketepeng
(Cassia alata), Euphorbia prostate dan E.
thyophylia.
Pencegahan yang dapat dilakukan
dengan biaya murah adalah sanitasi
kesehatan lingkungan maupun hewannya,
hewan yang bersih umumnya akan sehat.
Vaksinasi adalah pencegahan yang baik
pula, namun relatif mahal.
Dengan memperhatikan pemilihan dan
cara pemakaian obat, serta syarat
pengobatan, dan menghilangkan faktor
predisposisi, penyakit ini dapat diberantas
dan memberi prognosis yang baik.
(Anonim, 1996).
Cheyletiellosis
Cheyletiella merupakan tungau
yang memiliki panjang kira-kira 1/3 mm,
memiliki rambut berbulu banyak pada
tubuhnya serta pada tarsus terdapat cakar
yang berbentuk seperti sisir. Cheyletiella
parasitivorax merupakan tungau yang
menyerang kelinci, namun dikatakan pula
tungau tersebut terdapat pada kucing. Jenis
lainnya yaitu Cheyletiella yasguri yang
terdapat pada anjing. Cheyletiella dulu
pernah diduga hanya sebagai pemangsa
tungau lain, tetapi sekarang diakui dapat
menyebabkan dermatitis. Hewan yang
terinfeksi menunjukkan adanya erupsi
papula, dermatitis bersisik yang kering
atau ketombe (Levine, 1990).
Cheyletiellosis merupakan penyakit
kulit yang menyebabkan rasa gatal yang
disebabkan oleh tungau Cheyletiella dan
sering disebut sebagai walking dandruf
atau ketombe berjalan karena bentuknya

yang menyerupai ketombe. Cheyletiellosis


sangat menular dan bersifat zoonosis, yang
berarti dapat ditularkan ke manusia juga
dari kucing maupun anjing.
Hewan
yang
tertular
memperlihatkan lesi mirip scabies,
beberapa mengalami alopecia dan rasa
gatalnya tidak begitu terlihat. Rambut
terlihat tidak mengkilap, kering dan kasar.
Kadang penyakit diketahui setelah pemilik
menceritakan adanya rasa gatal yang
sangat dan terbentuknya radang kulit
papular oleh parasit, disertai gejala
urtikaria di berbagai bagian tubuh
(Subronto, 2010).
Spesies
tungau
dari
genus
Cheyletiella
yang
kadang-kadang
ditemukan menginfestasi anjing adalah
C.parasitovorax. Pada dasarnya, tungau
tersebut adalah tungau kelinci liar dan
kadang menginfestasi anjing, kucing, dan
manusia. Kelinci liar banyak ditemukan
hidup di padangan di Amerika Serikat dan
Australia, dan biasa dijadikan obyek
perburuan. Manusia tertular parasit
C.Parasitovorax dari anjing yang tertular
(Subronto, 2010).

Spesies yang dekat dengan


C.parasitovorax adalah C. Yasguri, yang
dilaporkan selain menginfestasi anjing di
Selandia Baru, juga menyerang manusia
yang
dikenal
sebagai
prurigo
parasitica, karena rasa gatal yang sangat.
Pada spesies kucing diketahui ada spesies
tungau yaitu C.blakei, C.parasitovorax,
dan C. Yasguri. Tungau C.blakei yang
pertama paling sering ditemukan pada
kucing.
Seperti
halnya
ringworm,
cheyletiella memakan protein kulit,
keratin, yang berbeda pada tungau tersebut
hanya terdapat permukaan kulit saja dan
tidak sampai masuk ke folikel rambut
(Subronto, 2010).
Tungau berukuran panjang 700 ,
dan telurnya berukuran 230 x 110 , biasa
ditemukan bersama rambut atau ketombe
yang rontok (Subronto, 2010).
Pediculosis
Kutu yang banyak dilaporkan
menginfestasi kucing adalah Felicola
subrostrata. Felicola bersifat host spesifik
hingga tidak merupakan ancaman bagi
hewan lain. Infestasi kutu (lice) pada
anjing paling banyak dilakukan oleh kutu
menggigit, yang termasuk subordo
Mallophaga, dan kutu pengisap, yang
termasuk subordo Anopleura. Dari
subordo pertama yang terbanyak dilakukan
oleh
kutu
Heterodoxus
sp
dan
Trichodectes sp, sedang dari yang kedua
oleh Linognathus sp (Subronto, 2010).
Kutu dapat dijumpai di berbagai
bagian kulit tubuh, terutama pada bagian
tubuh yang ada lipatannya. Infestasi yang
bersifat sedang hanya mengakibatkan rasa
gatal dan ketidaktenangan. Pada infestasi
yang bersifat berat terjadi erithema kulit,
exkoriasi dan rontoknya rambut. Pada

infestasi kutu pengisap dapat terjadi


anemia. Pada kucing perubahan patologi
kulit kurang signifikan. Rasa gatal yang
timbul juga tidak sangat mengganggu
(Subronto, 2010).
Pemeriksaan Lanjutan. Untuk
kasus skabies, pemeriksaan lanjutan yang
sebaiknya
dilakukan
untuk
lebih
menegakkan diagnosis penyakit apa yang
sedang dialami oleh kucing ialah kerokan
kuit untuk menentukan ada tidaknya
tungau Sarcoptes scabiei.
Pemeriksaan lanjutan untuk kasus
ringworm dapat dilakukan dengan
pemeriksaan laboratorium untuk melihat
adanya jamur penyebab ringworm.
Pemeriksaan lanjutan untuk kasus
Cheyletiellosis adalah pengambilan dan
pemeriksaan ketombe di bawah mikroskop
untuk menemukan tungau penyebab
cheyletiellosis.
Pemeriksaan lanjutan untuk kasus
pediculosis adalah pengambilan sampel
kutu pada tubuh kucing untuk di uji di
bawah mikroskop.
Diagnosa dan Diagnosa Banding.
Untuk skabies, penegakan diagnosis
skabies dapat dilakukan dengan melihat
gejala klinis dan dikonfirmasi dengan
pemeriksaan laboratorium. Umumnya,
gejala klinis skabies berupa rasa gatal yang
hebat terasa pada malam hari. Kegatalan
tersebut mengakibatkan timbulnya bintikbintik merah, papula dan vesikula. Jarak
antara papula berdekatan dan terlihat
seperti
gambaran
alur
yang
menghubungkan kedua papula tersebut.
Lokasi kemerahan, papula dan vesikula
sebagai akibat aktivitas tungau yang
terdapat pada tempat-tempat predileksinya.
Kerokan kulit dapat dilakukan di daerah

sekitar papula yang lama maupun yang


baru. Hasil kerokan diletakkan di atas kaca
objek dan ditetesi dengan KOH 10%
kemudian ditutup dengan kaca penutup
dan diperiksa di bawah mikroskop.
Diagnosis skabies positif jika ditemukan
tungau, nimpa, larva, telur atau kotoran S.
scabiei. Cara lain yaitu dengan tes tinta
pada terowongan di dalam kulit dilakukan
dengan
cara
menggosok
papula
menggunakan ujung pena yang berisi tinta.
Papula yang telah tertutup dengan tinta
didiamkan selama dua puluh sampai tiga
puluh
menit,
kemudian
tinta
diusap/dihapus dengan kapas yang
dibasahi alkohol. Tes dinyatakan positif
bila tinta masuk ke dalam terowongan dan
membentuk gambaran khas berupa garis
zig-zag. Visualisasi terowongan yang
dibuat tungau juga dapat dilihat
menggunakan
mineral
oil
atau
flourescence tetracycline test (Wardhana,
2006). Diagnosa banding untuk skabies
yaitu dermatitis yang disebabkan oleh
jamur dan kadang sulit dibedakan dengan
demodecosis tipe skuamosa (pada anjing).
Pada penyakit ringworm diagnosa
dapat dilakukan dengan melihat gejala
klinis, isolasi dan identifikasi jamur
melalui pengambilan dan penanaman
sampel pada media agar Sabouraud
(Gholib, 2010). Untuk mendiagnosa
melalui
pemeriksaan
laboratorium
diperlukan sampel kerokan kulit, serpihan
kuku, rambut. Kemudian dapat diperiksa
dengan Wood light, atau pemeriksaan
langsung dengan mikroskop dengan KOH,
atau pewarnaan, atau dengan membuat
biakan pada media (Ahmad, 2005).
Diagnosa banding, penyakit ini dapat
dikelirukan dengan lesi yang diperlihatkan
seperti gigitan serangga, kudis, urtikaria,
infeksi bakteri dan dermatitis lainnya.

Diagnosa untuk Cheyletiellosis


dapat ditentukan jika menemukan parasit
dan telur dari rambut atau reruntuhan kulit
di badan maupun sekitarnya, misalnya
tempat tidur, karpet, dan lantai. Diagnosa
banding Cheyletiellosis adalah scabies,
yang menunjukkan gejala yang lebih
serius. Temuan parasit akan menentukan
diagnosis secara pasti (Subronto, 2010).
Diagnosis
untuk
pediculosis
didasarkan pada ditemukannya kutu
Felicola subrostrata pada tubuh kucing
yang tidak begitu sulit, dan untuk
identifikasi perlu diperhatikan morfologi,
warna, anatomi kutu (Subronto, 2010).
Diagnosa banding untuk pediculosis
adalah infeksi bakteri dan dermatitis
lainnya.
Prognosa. Pada scabies, prognosa
baik jika ditangani lebih cepat.
Ringworm
umumnya
bersifat
sembuh sendiri (self limiting disease),
tetapi hal ini akan berjalan lama yaitu
sekitar 9 bulan, bila tidak diobati (Gholib,
2010).
Pada Cheyletiellosis, prognosa baik
jika ditangani lebih cepat, begitupun
dengan pediculosis, prognosa baik jika
pemberantassan
kutu
lebih
cepat
dilakukan.
Terapi. Pengobatan standar skabies
yang sering dilakukan adalah bensil
bensoat, crotamiton, lindan, permetrin,
dan ivermectin.
Terapi untuk ringworm, pemakaian
spray atau cairan pembersih seperti
senyawa bensuldazic acid 0,5 1%,
berguna untuk sterilisasi permukaan tubuh
hewan dan lingkungan kandang serta
penggunaan sikat dalam pemberian larutan

pemutih juga efektif. Diantara zat-zat


kimia sebagai obat topikal untuk
pengobatan ringworm, diantaranya adalah
senyawa sulfur, kalium sulfat, senyawa
mercury (mercury chloride/ sublimat),
mercury ammonia, phenyl mercuric
nitrate), copper (sebagai sulfat, asetat,
oleat dan sebagainya), silver nitrate,
aluminiun nitrat, senyawa antimon,
selenium sulphide, iodine (elemen atau
iodides), kalium permanganat, dan boraks.
Sedangkan senyawa organic adalah
alkohol, asam asetat, asam propionat, asam
caprilat, asam undesilenat, asam oleinat,
asam benzoat, dan salisilat, tanin, ter
(dalam air atau salep), chrysarobin,
podophyllin, dan zat warna gentiana violet
dan carbolfuchsin. Di bidang veteriner zat
yang sama digunakan, seperti oli, lard
(lemak babi), sabun (soft soap) dicampur
sulfur, iodine, atau copper oleate
dianjurkan
penggunaannya,
mercury
biniodide (HgI2), silver nitrate di dalam
paraffin lunak. Obat-obat baru terdiri dari
ketokonazol, mikonazol dalam bentuk krim
digunakan sebagai obat ringworm, baik
untuk manusia atau hewan (Gholib, 2010).
Terapi untuk Cheyletiellosis adalah
dengan cara memandikan kucing Anda
dengan sampo pyrethrin dan merawat
daerah yang terkena kudis dengan 2%
sulfur limau untuk perendaman akan
secara aktif membunuh tungau yang
menyebabkan cheyletiella. Anda perlu
melakukan perawatan ini sekitar 6 hingga
8 minggu. Bersihkan tempat tidur kucing
dengan menggunakan insektisida. Terapi
juga dapat dilakukan dengan dipping
seminggu
sekali,
selemectin
dan
ivermectin juga akan membawa hasil dan
pencegahan dengan tempat sekitar di
semprotkan sisa cairan dipping (Subronto,
2010).

Pengobatan untuk pediculosis


dilakukan
dengan
menggunakan
insektisida. Untuk kucing, pengobatan
dengan salamectin secara topikal 6 mg/kg
dan injeksi ivermectin 250 g/kg injeksi
subkutan
memberikan
hasil
baik
(Subronto, 2010).

Hasil Praktikum
Data dalam bentuk tabel (salinan
kartu rekam medis).
Diskusi
Kucing dalam praktikum ini adalah
kucing yang ditemukan dipinggir jalan dan
tidak memiliki pemilik. Adapun hasil
anamneses, yaitu kucing hidupnya tidak
terawat, belum memiliki catatan vaksin,
terdapat luka di beberapa bagian tubuh,
seperti bawah abdomen, luka pada kaki
sebelah kanan mulai dari bagian femur
hingga dorsal footpad, luka pada tibia
fibula kaki kiri, kesakitan saat buang air
besar, iritasi pada bagian anus dan terdapat
erithema
pada
bagian
abdomen.
Signalment dari pasien, yaitu kucing
dengan nama Alicia, spesiesnya kucing,
termasuk dalam rass/breed local/domestik,
warna bulu dan kulit yaitu campuran putih
dan abu-abu, memiliki jenis kelamin
betina, berumur 4 tahun, memiliki berat
badan 3 kg, dan memiliki tanda khusus
yaitu gigi sebelah kiri tanggal. Adapun
keadaan umum dari pasien, yaitu tidak
pernah melakukan perawatan apapun,
memiliki tingkah laku pasif, gizi yang
didapatkan termasuk dalam kategori
buruk, pertumbuhan badan berdasarkan
kriteria penilaian BCS adalah buruk, sikap
berdirinya normal, memiliki suhu tubuh
36,8C (normal: 37,6-39,4), yang artinya
suhu tubuh kucing tersebut di bawah

normal, memiliki frekuensi nadi 128


x/menit (normal: 92-150/menit) yang
artinya normal, dan frekuensi nafas 40
x/menit (normal: 26-48/menit) frekuensi
nafas normal. Pada pemeriksaan secara
inspeksi di bagian kepala dan leher
didapatkan hasil pemeriksaan, yaitu
ekspresi kepala terlihat lesu dan malas,
pertulangan kepala terlihat normal, posisi
tegak telinga terlihat normal, dan posisi
kepala terlihat normal. Pada pemeriksaan
turgor kulit, turgor kembali setelah 3 detik
sehingga dapat dinyatakan bahwa kucing
tersebut mengalami dehidrasi. Pada
pemeriksaan mata dan orbita kiri dan
kanan didapatkan hasil pemeriksaan, yaitu
pada palpebrae terdapat kotoran, cilia,
conjunctiva dan membrana nictitans
normal. Pada bola mata kanan dan kiri,
didapatkan sclera berwarna abu-abu dan
pada iris terdapat spot merah. Pada
pemeriksaan mulut dan rongga mulut
didapatkan hasil yaitu adanya luka pada
bibir tepatnya pada mandibula sebelah
kiri, mukosa mulut pucat, gigi geligi pada
caninus sebelah kanan patah dan sebelah
kiri tanggal dan lidah terlihat normal. Pada
pemeriksaan hidung dan sinus-sinus
didapatkan sedikit kotoran namun dalam
tahap masih normal. Pada pemeriksaan
telinga didapatkan hasil, yaitu posisi
telinga normal, terdapat sedikit bau pada
lubang telinga, pada permukaan bagian
dalam telinga kotor dan pada permukaan
luarnya terdapat alopecia, namun tidak
ditemukan
adanya
krepitasi.
Pada
pemeriksaan leher didapatkan hasil, yaitu
perototan leher normal, trachea dipalpasi
pada permukaan leher kucing tidak
mengalami reaksi sakit, dan esophagus
yang dipalpasi pada permukaan leher
terasa normal, namun terdapat alopecia
pada leher sebelah kiri.

Pada pemeriksaan sistem pernapasan


secara inspeksi didapatkan hasil, yaitu
kucing
memiliki
tipe
pernapasan
thoracoabdominal, aritmis, intensitas
penapasan dalam dan memiliki frekuensi
pernapasan 40 x/menit. Pada saat
pemeriksaan secara auskultasi di bagian
sistem pernapasan didapatkan hasil yaitu
suara pernapasan berderik. Suara ikutan
tidak ada serta suara antara inspirasi dan
ekspirasi, pada ekspirasi terdengar suara
dipercepat. Pada pemeriksaan auskultasi
jantung, didapatkan intensitas yang cukup
lemah. Pada saat pemeriksaan auskultasi di
bagian abdomen dan organ pencernaan
yang berkaitan didapatkan hasil, yaitu
hasil auskultasi peristaltik usus tidak
terdengar akibat pengaruh perutnya dalam
kondisi kosong. Pada palpasi daerah
epigastricus didapatkan pembesaran ginjal
sebelah kiri dan terdapat erithema pada
abdomen.
Kemudian
dilakukan
pemeriksaan inspeksi di sekitar anus
didapatkan bahwa daerah sekitar anus
kotor
dan
terdapat
iritasi.
Pada
pemeriksaan alat gerak yang dilakukan
secara inspeksi didapatkan hasil, yaitu
perototan kaki depan dan kaki belakang
normal, kucing tidak mengalami tremor,
cara bergerak/berjalan inkoordinatif, dan
cara
bergerak/berlari
inkoordinatif
dikarenakan luka pada kakinya. Pada saat
pemeriksaan alat gerak yang dilakukan
secara palpasi didapatkan hasil, yaitu
struktur pertulangan pada kaki kiri depan
normal, struktur pertulangan kaki kanan
depan normal, struktur pertulangan kaki
kiri belakang normal, struktur pertulangan
kaki kanan belakang normal, konsistensi
pertulangan normal, tidak terjadi reaksi
saat palpasi, dan letak reaksi sakit hanya
terdapat jika luka pada kakinya disentuh.
Pada pemeriksaan palpasi lymphonodus
popliteus didapatkan hasil, yaitu ukuran

lymphonodus sebelah kanan membesar,


serta memiliki konsistensi yang padat.
Pemeriksaan lanjutan sebaiknya
dilakukan pemeriksaan lab urin untuk
mengetahui adanya masalah pada ginjal,
jika diperlukan dilakukan X-ray, kerokan
kulit untuk mendeteksi adanya infestasi
parasit atau menemukan kutu yang diduga
terdapat pada tubuh kucing pada kulit yang
terdapat alopecia, erithema dan luka.
Diagnosa suspect nefritis, infestasi kutu,
infeksi bakteri dan prognosa dubius. Terapi
yang dapat dilakukan ialah pengobatan dan
pembersihan luka, terapi cairan, pemberian
vitamin, pemberian antibiotik serta
perbaikan nutrisi.
Kesimpulan
Pada kucing yang ditemukan dapat
didiagnosa berdasarkan gejala klinis yang
ditemukan di mana terdapat alopecia pada
daerah permukaan bagian belakang telinga
dan leher, bulu kusam dan dehidrasi,
kemungkinan kucing tersebut terkena
pediculosis atau infetasi kutu. Selain itu,
kucing tersebut didiagnosis suspect
nefritis dilihat dari adanya pembesaran
ginjal sebelah kiri. Infestasi bakteri juga
dapat dipastikan terdapat pada luka di
bagian kaki kanan dan kiri kucing juga
pada anus yang mengalami iritasi sehingga
luka semakin melebar.
Pustaka Acuan
Ahmad,

Riza
Zainuddin.
2005.
Permasalahan dan Penanggulangan Ringworm pada Hewan.
Bogor: Balai Penelitian Veteriner.

Ainsworth,
G.C.
and
P.K.C.
Austwick. 1973. Fungal
Diseases
of
Animals,
Second
Edition.

Commonwealth
Agricultural
Bureaux,
Farnham Royal, Slough,
England. 216 p.
Anonim. 1996. Pedoman Pengendalian
Penyakit Hewan Menular. Bogor:
Fakultas Kedokteran Hewan, IPB.
Budiantono. 2004. Kerugian Ekonomi
Akibat Scabies dan Kesulitan
dalam
Pemberantasannya.
Denpasar: Balai Penyidikan dan
Pengujian Veteriner Regional VI.
Gholib, Djaenudin dan S. Rachmawati.
2010.
Kapang
Dermatofit
Trichophyton
Verrucosum
Penyebab Penyakit Ringworm
Pada Sapi. Bogor: Wartazoa Vol.
20 No. 1.
Larone, D.H. 1993. Medically Important
Fung, A Guide to Identification.
American
Society
for
Microbiology, Washington, D,C.

2nd. Ed, pp. 12-13, 125-127, 130136.


Levine,
Norman
D.
1990.
Parasitologi
Veteriner.
Yogyakarta: UGM.
Palguna, David, dkk. 2014. Sistem
Pakar Diagnosis Penyakit
Kulit
Pada
Kucing
Menggunakan
Metode
Certainty Factor. Surabaya:
JSIKA Vol 3, No 1. ISSN
2338-137X.
Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit
dan Mikroba Pada Anjing dan
Kucing. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Wardhana, April H. 2006. Skabies:
Tantangan Penyakit Zoonosis
Masa Kini.dan Masa Datang.
Bogor: Wartazoa Vol. 16 No. I.

LAMPIRAN

Pemeriksaan suhu tubuh

Pemeriksaan nafas

Pemeriksaan pulsus kitten

Pemeriksaan Trakea
dan esofagus

Pemeriksaan telinga

Auskultasi suara jantung


dan paru-paru

perkusi lapangan jantung


dan paru-paru

Pemeriksaan Mata

Pemeriksaan Mulut

Pemeriksaan anus

Pemeriksaan abdomen