Anda di halaman 1dari 21

1.

Jelaskan konsep dasar tentang evaluasi pembelajaran yang terdiri dari:


a. Konsep dasar evaluasi, evaluasi pembelajaran, dan evaluasi pendidikan
Konsep dasar evaluasi:
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation, dalam bahasa
arab al-Taqdir, dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah
value, dalam bahasa arab al-Qimah, dalam bahasa Indonesia berarti nilai.
Konsep dasar evaluasi pembelajaran:
Evaluasi pembelajaran adalah kegiatan untuk mendapatkan informasi data
mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau
menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan
standar tertentu.
Konsep dasar evaluasi pendidikan:
Secara harfiah, evaluasi pendidikan (educational evaluation = al-Taqdir alTarbawiy) dapat diartikan sebagai penilaian dalam (bidang) pendidikan atau
penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
b. Hubungan antara pengukuran (measurement), penilaian (assessment), dan evaluasi
Pengukuran dalam bahasa inggris dikenal dengan measurement dan dalam bahasa
arabnya adalah muqayasah. Dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan
untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada hak dasar ukuran tertentu. Misalnya
mengukur suhu badan dengan thermometer hasilnya 36 Celcius.
pengukuran yang bersifat kuantitatif itu dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu. Misalnya panjang
kaki, lebar bahu, dll.
2. Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu. Misalnya uji daya tahan
nyala lampu pijar, dll.
3. Pengukuran utnuk menilai, yang dilakukan dengan menguji sesuatu. Misalnya
nilai rapor, bentuk tes, dll.
Penilaian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilasi itu mengandung arti
mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang
pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, dll. Jadi
penilaian itu sifatnya kualitataif.
Evaluasi adalah mencakup 2 kegiatan yang telah dikemukakan tadi, yaitu
mencakup pengukuran dan penilaian. Evaluasi adalah kegiatan atau proses untuk
menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai

itu, dilakukakanlah pengukuran, dan wujud dari pengukuran itu adalah pengujian,
dan pengujian inilah yang dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes.
Kesimpulannya bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif, hasil pengukuran itu
berwujud keterangan-keterangan yang berupa angka atau bilangan. Adapun
evaluasi adalah bersifat kualitatif.
c. Apa yang dimaksud dengan acuan norma dan acuan kriteria (PAN dan PAP)
Penilaian beracuan patokan atau kriterium (PAP), dimana dalam penentuan hasil
tes digunakan standar mutlak atau standar absolut. Jadi guru atau dosen
mengetahui berapa orang siswa yang tingkat penguasaannya tinggi, cukup, dan
rendah. PAP ini digunakan dalam pengolahan dan penentuan nilai hasil tes
sumatif seperti pada ulangan umum dalam rangka mengisi nilai raport. PAP dalam
penerapannya sama sekali tidak mempertimbangkan kemampuan kelompok.
Penilaian beracuan norma (PAN), sering dikenal penilaian beracuan kelompok,
atau penilaian berdasar pada standar relative. Sebab dalam penentuan hasil tes,
skor mentah hasil tes yang dicapai oleh peserta diperbandingkan dengan skor
mentah hasil tes yang dicapai oleh peserta lain, sehingga kualitas yang dimiliki
oleh seseorang akan sangat tergantung pada kualitas kelompok. PAN ini cocok
digunakan untuk tes-tes sumatif karena dianggap lebih wajar dan manusiawi.
d. Bagaimana perbedaan antara penilaian dan penelitian

Jenis indicator
Dasar berpijaknya

Penilaian (Evaluation)
Penelitian (Research)
Senantiasa mendasarkan Belum tentu mendasarkan
diri pada suatu kriteria diri pada suatu kriteria.

Tujuannya

(tolak ukur).
Bukan untuk menemukan Bertujuan
dalil

atau

teori,

atau menemukan

menarik kesimpulan yang teori,


sifatnya

berlaku

(generalisasi),

atau

utnuk (=generalisasi)
nilai

dalil

atau

menarik

umum kesimpulan yang sifatnya

melainkan berlaku

bertujuan
menentukan

untuk

dari

sesuatu, atas dasar kriteria

umum

(tolak ukur) yang telah


Temanya

ditentukan.
Tema dari penilaian adalah Temanya:
Melakukan
pengukuran
melakukan
pengukuran
dalam rangka menemukan
untuk memperoleh data
dalil,
atau
menarik
yang akan dibandingkan
kesimpulan yang bersifat
dengan kriteria yang ada.
Memberikan interpretasi umum.
Memberikan interpretasi
terhadap
data
hasil
terhadap
data
hasil
pengukuran apakah sesuai
pengukuran.
ataukah menyimpang dari
Menarik
kesimpulan
kriteria yang ada.
(condusion)
hasil
Menentukan
pendapat
penelitian dan membuat
(judgment),
dan
prediksi (prediction). Jadi
mengambil
keputusan
penelitian
lebih
sebagai tindak langsung
berorientasi
kepada
hasil penelitian.
Jadi
evaluasi
itu penyimpulan.
berorientasi
pengambilan

kepada
keputusan

(decision oriented)
e. Apa yang menjadi tujuan dan kegunaan evaluasi pendidikan
Tujuan
Tujuan umum
1. Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai
bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh
para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam
jangka waktu tertentu. Dengan kata lain, tujuan umum dari evaluasi
pendidikan adalah untuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi
petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta
didik dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler, setelah mereka menempuh
proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

2. Untuk mengetahii yingkat efektifitas dari metode-metode pengajaran yang


telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu
tertentu.jadi tujuan umum yang kedua dari evaluasi pendidikan adalah untuk
mengukur, menilai sampai dimanakah efektifitas mengajar dan metodemetode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik, serta
kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik.
Tujuan khusus
1. Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program
pendidikan.
2. Untuk mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan
ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan,
sehingga dapat dicari cara perbaikannya.
Kegunaan
1. Terbukanya kemungkinan bagi evaluator guna memperoleh informasi tentang
hasil yang telah dicapai dalam rangka pelaksanaan program pendidikan.
2. Terbukanya kemungkinan untuk dapat diketahuainya relevansi antara program
pendidikan yang telahg dirumuskan dengan tujuan yang hendak diapai.
3. Terbukanya kemungkinan utnuk dapat dilakukanyya usaha perbaikan,
penyesuaian, dan penyempurnaan program pendidikan yang dipandang lebih
berdaya guna dan berhasil guna, sehingga tujuan yang dicita-citakan akan
dapat tercapai dengan hasil yang baik.
f. Bagaimana klasifikasi evaluasi pendidikan
Pengklasifikasian dibedakan menjadi 3:
1. Klasifikasi evaluasi pendidikan dengan mendasarkan diri pada fungsi yang
dimiliki oleh evaluasi dalam proses pendidikan.
a. Evaluasi pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka memenuhi
kebutuhan psikologis
b. Evaluasi pendidikan yang dilaksanakan dalam rangka memenuhi
kebutuhan didaktik
2. Klasifikasi evaluasi pendidikan yang didasarkan pada pemanfaatan informasi
yang bersumber dari kegiatan evaluasi untuk kepentingan pengambilan
keputusan pendidikan.
a. Evaluasi pendidikan yang mendasarkan diri pada banyaknya orang yang
terlibat dalam pengambilan keputusan pendidikan

b. Evaluasi pendidikan yang mendasrkan diri pada jenis atau macamnya


keputusan pendidikan
3. Evaluasi pendidikan yang dilatarbelakangi oleh pertanyaan: kapan, atau pada
bagian manakah evaluasi itu seharusnya dilaksanakan.
a. Evaluasi formatif
b. Evaluasi sumatif
g. Apa yang menjadi subyek dan obyek (sasaran) evaluasi pendidikan
Subyeknya adalah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi dalam bidang
pendidikan.
Obyeknya:
1. Aspek kemampuan, dengan mengevaluasi kemampuan peserta didik dengan
tes kemampuan
2. Aspek kepribadian, yaitu suatu yang terdapat pada diri seseorang, dan
menempakkan bentuknya dalam tingkah laku.
3. Aspek sikap, yang merupaka bagian dari tingkah laku manusia, sebagai gejala
atau gambaran kepribadian yang memancar keluar.
h. Ruang lingkup evaluasi pendidikan
Ruang lingkup ini mencakup 3 komponen:
1. Evaluasi mengenai program pengajaran atau penilaian terhadap program
pengajaran yang mecakup 3 hal yaitu:
a. Evaluasi terhadap tujuan pengajaran,
b. Evaluasi terhadap isi program pengajaran, dan
c. Evaluasi terhadap strategi belajar mengajar
2. Evaluasi mengenai proses pelaksanaan pengajaran yang mencakup:
a. Kesesuaian antara proses belajar mengajar yang berlangsung, dengan
garis-garis besar program pengajaran yang telah ditentukan
b. Kesiapan guru dalam melaksanakan program pengajaran
c. Kesiapan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran
d. Minat atau perhatian siswa didalam mengikuti pelajaran
e. Keaktifan atau partisipasi siswa didalam mengikuti pelajaran
f. Pernanan bimbingan dan penyuluhan terhadap siswa yang memerlukannya
g. Komunikasi 2 arah antara guru dan murid selama proses pembelajaran
h. Pemberian motivasi terhadap siswa
i. Pemberian tugas kepada siswa
3. Evaluasi mengenai hasil belajar yang mencakup:
a. Evaluasi mengenai tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan khusus yang
akan dicapai dalam unit program pengajaran yang bersifat terbatas
b. Evaluasi mengenai tingkat pencapaian peserta didik terhadap tujuan umum
pembelajaran.
2. Jelaskan pula prinsip, dan teknik evaluasi hasil belajar yang terdiri atas:
a. Prinsip-prinsip dasar evaluasi hasil belajar

Evaluasi senantiasa berpegang pada 3 prinsip dasar:


1. Prinsip keseluruhan yang juga dikenal sebagai prinsip komprehensi. Bahwa
hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut
dilaksanakan secara bulat, utuh, atau menyeluruh.
2. Prinsip keseimbangan yang juga dikenal prinsip kontinuitasbahwa evaluasi
hasil belajar yang baik adalah evaluasi yang dilakukan secara teratur dan
sambung menyambung dari waktu ke waktu.
3. Prinsip obyektifitas yang mengandung makna bahwa evaluasi hasil belajar
dapat dikatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factorfaktor yang sifatnya subyektif.
b. Ciri-ciri hasil belajar
Diantaranya bahwa:
1. Evaluasi yang dilaksanakan dalam rangka mengukur keberhasilan belajar
peserta didik, pengukurannya dilakukan secara tidak langsung.
2. Pengukuran dalam rangka menilai keberhasilan belajar peserta didik pada
umumnya menggunakan ukuran yang bersifat kuantitatif atau sering
menggunakan symbol angka. Selanjutnya angka itu dianalisis dengan metode
statistic untuk pada akirnya diberikan interpretasi secara kualitatif.
3. Pada kegiatan evaluasi hasil belajar pada umumnya digunakan unit atau
satuan yang tetap. Penggunaan unit atau satuan yang tetap didasarkan pada
teori yang menyatakan bahwa pada setiap populasi peserta didik yang sifatnya
heterogen , jika dihadapkan pada suatu tes hasil belajar, maka prestasi belajar
yang mereka rah akan terlukis dalam bentuk kurva normal.
4. Prestasi belajar yang dicapai oleh para peserta didik dari waktu ke waktu
adalah bersifat relative, dalam arti bahwa hasil evaluasi terhadap keberhasilan
belajar pada peserta didik itu pada umumnya tidak selalu menunjukkan
kesamaan.
5. Dalam kegiatan evaluasi hasil belajar, sulit untuk dihindari terjadinya
kekeliruan pengukuran.
c. Alat-alat evaluasi hasil belajar
Berupa tes atau ujian, baik ujian tertulis maupun ujian lisan
d. Bagaimana ranah kognitif, afektif, psikomotor sebagai obyek evaluasi hasil belajar
Ranah kognitif
Adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Terdapat 6 jenjang:
1. Pengetahuan / hafalan / ingatan adalah kemampuan untuk mengingat kembali.
Pengetahuan ini adalah proses berfikir yang paling rendah.

2. Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami


sesuatu setelah suatu itu diketahui dan diingat.
3. Penerapan adalah kesanggupan seseorang

untuk

menerapkan

atau

menggunakan ide-ide umum, tata cara atau metode ke dalam situasi yang baru
dan konkrit.
4. Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu
bahan atau keadaan menurut bagian bagian yang lebih kecil dan mampu
memahami hubungan diantara bagian-bagian atau factor-faktor lainnya.
Jenjang ini lebih tinggi dari jenjang aplikasi / penerapan.
5. Sintetis adalah kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari proses
yang memadukan bagian-bagian atau unsur secara logis, sehingga menjelma
menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.
6. Penilaian adalah jenjang berfikir paling tinggi. Merupakan kemampuan
seseorang untuk membuat pertimbangan terhdap situasi, nilai atau ide.
Ranah afektif
Adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Oleh Krathwohl (1974) dkk
ditaksonomi menjadi lebih rinci menjadi 5 jenjang:
1. Receiving atau attending adalah kepekaan seseorang dalam menerima
rangsangan dari luar yang dating kepada dirinya dalam bentuk masalah,
situasi, gejala dll.
2. Responding, yang mengandung arti adanya partisipasi aktif. Jadi kemampuan
menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk
mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat
reaksi terhdapnya dengan salah satu cara.
3. Valuing atau menilai artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan
terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak
dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan
4. Organization atau mengorganisasi artinya mempertemukan perbedaan nilai
sehingga terbentuk nilai yang baru yang lebih universal, yang membawa
kepada perbaikan umum.
5. Characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai
atau kompleks nilai) yakni keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki
seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
Ranah psikomotor

Adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak


setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar kognitif
dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah
menunjukkan perilaku tertentu sesuai dengan makna yang tekandung dalam ranah
kognitif dan afektif.
e. Teknik dan langkah-langkah pokok dalam evaluasi hasil belajar
Tekniknya yaitu teknik tes dan nontes. Dengan teknik tes, maka evaluasi proses
pembelajaran di sekolah itu dilakukan dengan jalan menguji peserta
didik.sebaliknya, dengan teknik nontes maka evaluasi dilakukan tanpa menguji
peserta didik.
Langkah-langkahnya:
1. Menyusun rencana evaluasi hasil belajar, yang mencakup 6 jenis kegiatan:
a. Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi
b. Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi, misalnya aspek kognitif
dll
c. Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan didalam
pelaksanaan evaluasi
d. Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran
dan penilaian hasil belajar peserta didik, seperti butir-butir soal tes hasil
belajar.
e. Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan
atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
f. Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri.
2. Menghimpun data, adalah pelaksanaan pengukuran, misalanya dengan
menyelenggarakan tes hasil belajar.
3. Melakukan verivikasi data, atau proses penyaringan atau penelitian data untuk
memisahkan data yang baik dari data yang kurang baik.
4. Mengolah atau menganilisis data, dengan maksud untuk memberikan makna
terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi.
5. Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan, pada hakikatnya adalah
merupakan verbbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah
mengalami pengolahan dan penganalisisan.
6. Tindak lanjut hasil evaluasi dimana evaluator akan mengambil keputusan atau
merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut
dari kegiatan evaluasi tersebut.
3. Jelaskan bagaimana bentuk tes dan teknik penyusunannya

a. Pengertian tes
Secara harfiah, kata tes berasal dari bahasa Perancis kuno: testum yang berarti
piring untuk menyisihkan logam logam mulia. Dalam bahasa inggris ditulis
dengan test dan diterjemahkan dengan tes atau ujian. Dalam dunia evaluasi
pendidikan, tes adalah cara atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka
pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas
atau serangkaian tugas berupa pertanyaan atau perintah oleh testee, sehingga
dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee
b. Tujuan tes
Untuk mengukur evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik,baik yang berfungsi
mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta
didik selama mereka menempuh proses belajar dalam jangka waktu tertentu, dan
mengukur keberhasilan program pengajaran.
c. Bentuk tes
Tes dapat dibedakan menjadi:
1. Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan
/ kemajuan peserta didik.
2. Penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap
3. Penggolongan lain-lain
d. Jenis penilaian
Jenis penilaian tergantung pada golongan tes mana yang hendak dicapai:
1. Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan
/ kemajuan peserta didik
a. Tes seleksi. Yang sering dikenal dengan istilah ujian saringan atau ujian
masuk. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon mahasiswa
baru, dimana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang
tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes. Materi
tes

pada

tes

seleksi

ini

merupakan

materi

prasyarat

untuk

mengikutiprogram pendidikan yang akan diikuti calon.


b. Tes awal. Yang dikenal istilah pre-test.tes jenis ini dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengetahuisejauh manakah ateri atau bahan pelajaran yang
akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh para peserta didik. Jadi tes awal
adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada
peserta didik.
c. Tes akhir. Yang dikenaldengan post-test. Test akhir dilakukan untuk
mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah

dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik. Isi dari
materi tes ini adalah bahan pelajaran yang tergolong penting yang telah
diajarkan kepada peserta didik.
d. Tes diagnostic adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara
tepat,jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu
mata pelajaran tertentu. Materi yang ditanyakan dalam tes diagnostic pada
umumnya ditekankan pada bahan-bahan tertentu yang biasanya atau
menurut pengalaman sulit dipahami siswa.
e. Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui
sudah sejauh manakah peserta didik telah terbentuk sesuai dengan tujuan
pembelajaran

yang

ditentukan.setelah

mereka

mengikuti

proses

pebelajaran dalam jangka waktu tertentu. Tes ini bisa dilaksanakan pada
pertengahan jalan program pengajaran yaitu dilaksanakan pada setiap kali
satuan pelajaran atau subpokok bahasan berakhir atau dapat diselesaikan.
f. Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan
satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah tes ini dikenal
dengan ujian umum dimana hasilnya digunakan untuk mengisi nilai rapor
atau ijazah. Dengan demikian materi tes sumatif itu jauh lebih banyak
ketimbang materi tes formatif. Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis
agar semua siswa memperoleh soal yang sama. Tes ini bertujuan untuk
menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah
menempuh proses pembelajaran.
2. Penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap.
a. Tes intelegensi yakni tes yang dilaksanakan untuk mengungkap atau
mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
b. Tes kemampuan yaitutes yang dilaksanakan

untuk mengungkap

kemampuan dasar atau bakat khusus yang dkmiliki oleh testee.


c. Tes sikap adalah satu jenis tes yang digunakan untuk mengungkap
predisposisi atau kecenderungan untuk melakukan suatu respon tertentu
terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu maupun obyek.
d. Tes kepribadian yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap
ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah.
e. Tes hasil belajar yang dikenal dengan tes pencapaianyakni tes yang biasa
digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi hasil

belajar.tes hasil belajar dapat didefinisikan sebagai cara atau prosedur


dalam rangka pengukuran dan penilaian hasil belajar.
3. Golongan lain-lain
Dari segi banyaknya orang:
a. Tes individual yakni tes dimana tester hanya berhadapan dengan 1 orang
testee.
b. Tes kelompok yakni tes dimana tester berhadaan dengan lebih dari 1
testee.
Dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes:
a. Power test yakni tes dimana waktu yang disediakan buat etstee untuk
menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi.
b. Speed test yaitu tes dimana waktu yang disediakan testee untuk
menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Dari segi bentuk responnya:
a. Verbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon yang tertuang dalam
lisan maupun tertulis.
b. Nonverbal test yakni tes yang menghendaki respon dari testee bukan
berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau
tingkah laku. Jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah
berupa perbuatan atau gerakan tertentu.
Akhirnya jika ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara
memberikan jawabannya, tes menjadi 2 golongan:
a. Tes tertulis yakni jenis tes dimana tester dalam mengajukan butir-butir
pertanyaan atau soalnya dilakukan dengan tertulis dan testee memberikan
jawabannya dengan tertulis.
b. Tes lisan yakni tes dimana tester dalam mengajukan pertanyaan atau
soalnya dalam bentuk lisan dan testee memberikan jawabannya secara
lisan pula.
e. Langkah pengembangan tes
Ada 4 langkah:
1. Pengamatan. Secara umum adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan
yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan yang sedang
dijadikan sasaran pengamatan.
Observasi sebagai alat pengamatan banyak digunakan untuk menilai tingkah
laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik
dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.

Observasi dapat dilakukan baik secara partisipatif maupun nonpartisipatif.


Pencatatan hasil observasi itu pada umumnya jauh lebih sukar daripada
mencatat jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap pertanyaan yang
diberikan dalam suatu tes, sebab respon yang diperoleh dalam observasi
adalah tingkah laku.
2. Wawancara, adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang
dilaksanakan dengan melakukan tany ajawab lisan secara sepihak,berhadapan
muka, dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Ada 2 jenis wawancara:
a. Wawancara terpimpin yaitu wawancara berstruktur atau sistematis.
b. Wawancara tidak terpimpin yaitu wawancara sederhana atau bebas.
3. Angket, yaitu pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajarjauh
lebih praktis, menghemat waktudan tenaga. Hanya saja jawaban yang
diberikan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan. Angket dapat diberikan
kepada peserta didik ataupun orang tuanya.
4. Pemeriksaan dokumen, yaitu mengumpulkan berbagai informasi baik
mengenai peserta didik, orang tua dan lingkungannya.
4. Jelaskan bagaimana teknik penyusunan dan pelaksanaan hasil belajar
Bentuk-bentuk tes hasil belajar dan teknik penyusunannya:
1. Tes hasil belajar bentuk uraian yang juga dikenal dengan tes subyektif adalah
salah satu jenis tes hasil belajar yang memiliki karakteristik :
a. Berbentuk pertanyaan berupa uraian yang cukup panjang
b. Bentuk pertanyaannya menuntut kepada testee untuk memberikan penjelasan,
komentar, membandingkan dll
c. Jumlah butir soalnya berkisar antara 5 sampai 10 butir
d. Butir soal diawali dengan kata jelaskan, uraikan, dll
Petunjuk oprasional dalam penyusunan tes uraian:
a. Dalam menyusun butir soal tes uraian, sejauh mungkin diusahakan agar butir
soal tersebut mengandung ide-ide pokok dari materi yang telah diberikan.
b. Untuk menghindari timbulnya perbuatan curang oleh testee, hendaknya
diusahakan agar susunan kalimat soal dibuat berlainan dengan susunan
kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran.
c. Sesaat setelah butir soaldibuat, hendaknya segera disusun dan dirumuskan
secara tegas, bagaimana seharusnya jawaban yang dikehendaki oleh tester
sebagai jawaban yang betul.
d. Hendaknya diusahakan agar pertanyaan jangan dibuat seragam, melainkan
secara bervariasi.

e. Kalimat soal hendaknya disusun secara ringkas, padat, dan jelas sehingga
cepat difahami dan tidak menimbulkan keraguan dalam memberikan
jawaban.
f. Dalam menyusun butir soal uraian, hendaknya dikemukakan pedoman
tentang cara pengerjaannya.
2. Tes obyektif
a. Tes obyektif bentuk benar-salah, yang dikenal juga dengan tes obyektif
bentuk ya-tidak. Adalah salah satu bentuk tes obyektif dimana butir soal yang
diajukan dalam tes hasil belajar itu berupa pernyataan ada yang benar dan
salah.
Teknik penyusunanannya:
1. Tuliskanlah huruf B-S di depan masing-masing pertanyaan, bukan
dibelakangnya.
2. Jumlah butir berkisar antara 10-20 butir.
3. Jumlah butir soal yang jwabannya benar atau salah, hendaknya seimbang.
4. Urutan soal yang jawabannya benar atau salah hendaknya berselangseling
5. Butir soal hendaknya tidak memiliki corak yang berbeda.
6. Hindarilah pernyataan yang kalimatnya persis.
7. Hindari membuat butir soal yang jawabannya relative, yang ada
kemungkinan benar, ada kemungkinan salah.
b. Tes obyektif bentuk matching dikenal dengan tes menjodohkan, mencari
pasangan atau tes mencocokkan.
Teknik penyusunannya:
1. Butir item yang dituangkan jumlahnya tidak krang dari 10 dan jangan
lebih dari 15 butir.
2. Dalam tiap butir, hedaknya diberikan 20% kemungkinan jawab
3. Daftar yang berada di sebelah kiri lebih panjang ketimbang daftar di
kanan.
4. Diatur sedemikian rupa sehingga semua butir soal berada dalam satu
halaman.
5. Petunjuk cara pengerjaannya dibuat seringkas dan setegas mungkin.
c. Tes obyektif bentuk fill in, yang biasanya berbentuk cerita atau karangan.
Kata-kta penting dalam cerita atau karangan itu beberapa diantaranya
dikosongkan, sehingga tugas testee adalah mengisi kekosongan pada bagian
itu.
Teknik penyusunannya:
1. Jawaban yang harus diisikan, ditulis pada tempat yang terpisah.

2. Ungkapan cerita yang dijadikan bahan, hendaknya disusun secara singkat


dan padat.
3. Butir soal yang diajukan dalam tes dapat mengungkapkan taraf
kompetensi lain yang sifatnya lebih mendalam.
4. Penyajian soal juga dapat dituangkan dalam bentuk gambar, sehingga
kalimat cerita dapat dipersingkat.
d. Tes obyektif bentuk completion atau menyempurnakan. Letak perbedaan
dengan bentuk fill in adalah, jika dalam bentuk fill in bahan yang diteskan itu
berupa satu kesatuan cerita, sedangkan dalam bentuk ini tidak harus.
Melainkan bisa dibuat berlainan antara yang satu dengan yang lain.
Teknik penyusunannya sama dengan bentuk fill in.
e. Tes obyektif bentuk multiple choice item atau bentuk pilihan ganda yaitu
bentuk tes obyektif yang terdiri dari pertanyaan yang sifatnya belum selesai
dan untuk menyelesaikannya harus dipilih salah satu jawaban yang telah
disediakan dengan butir soal yang bersangkutan.
Petunjuk oprasional penyusunan tes obyektif:
a. Untuk menyusun butir soal yang bermutu tinggi, pembuat soal harus sering
berlatih.
b. Setiap kali alat pengukur hasil belajar selesai digunakan, hendaknya
dilakukan penganalisisan item, butir soal mana yang baik, kurang baik, dan
tidak baik.
c. Siapkan dulu norma yang memperhitungkan factor tebakan.
d. Selain mengungkap aspek ingatan, dapat juga mengungkap aspek berfikir
lebih dalam.
e. Istilah yang digunakan hendaknya sederhana.
f. Usahakan agar setiap butir tidak ada yang mengandung penafsiran yang
sama pada jawabannya.
g. Usahakan tidak terjadi kesalahan ketik dengan memerhatikan penempatan
tanda baca.
h. Berikan pedoman pengerjaannya dengan singkat dan jelas.
Teknik pelaksanaan tes hasil belajar
1. Teknik pelaksanaan tes tertulis
a. Dalam mengerjakan soal tes, peserta mendapat ketenangan
b. Ruangan tes harus cukup longgar.
c. Ruangan tes baiknya memiliki system pencahaan dan pertukaran udara yang
baik.
d. Sediakan perlengkapan meja dengan baik.

e. Lembar soal diletakkan terbalik sehingga tidak memungkinkan ada yang


mengerjakan soal lebih awal.
f. Dalam mengawasi tes, pengawas hendaknya berlaku wajar.
g. Sebelum mengerjakan tes, tentukan dulu sanksi yang dikenakan kepada testee
yang berlaku curang.
h. Siapkan daftar hadiruntuk peserta.
i. Jika waktu yang ditentukan telah habis, testee harus meninggalkan ruangan.
j. Berita acara pelaksanaan tes dituliskan secara lengkap.
2. Teknik pelaksanaan tes lisan
a. Tester sudah melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diberikan.
b. Setiap butir soal telah ditetapkan untuk diajukan dalam tes lisan itu.
c. Skor nilai lisan sudah harus ditentukan saat masing-masing testee selesai
dites.
d. Hendaknya jangan menyimpang ata berubah arah dari evaluasi yang menjadi
diskusi.
e. Tester jangan memberikan kode tertentu yang sifatnya menolong testee.
f. Tes lisan harus berlangsung secara wajar.
g. Tester harus memiliki pedoman berapa waktu yang disediakan untuk setiap
testee.
h. Pertanyaan yang diajukan dalam tes lisan dibuat bervariasi.
i. Usahakan tes lisan berlangsung secara individual.
3. Teknik pelaksanaan tes perbuatan
a. Tester mengamati secara teliti.
b. Tester jangan berbicara atau berbuat sesuatu yang mempengaruhi testee yang
sedang bertugas.
c. Tester menyiapkan lembar penilaian.
5. Jelaskan bagaimana teknik pengujian validitas dan reliabilitas tes hasil belajar
Teknik pengujian validitas tes hasil belajar
1. Pengujian validitas tes secara rasional, dilakukan penganalisisan yang diperoleh
atas dasar hasil pemikiran, dan diperoleh dengan berfikir dengan logis. Jadi
tingkat validitas rasional diukur setalah dilakukan penganalisisan secara rasional
bahwa tes hasil belajar itu memang telah dapat mengukur apa yang seharusnya
diukur. Untuk menentukannya, dapat dilakukan penelusurusan dari 2 sisi:
a. Validitas isi, yaitu validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganilisisan
terhadap isi yang terkandung dalam tes tersebut.
b. Validitas konstruksi, mengandung arti susunan atau kerangka. Jadi dapat
diartikan validitas konstruksi adalah validitas yang ditilik dari segi
susunannya dengan melakukan penganilisisan pencocokan antara aspek

berfikir yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan aspek berfikir yang
dikehendaki.
2. Pengujian validitas secara empiric, adalah ketepatan mengukur yang didasarkan
pada hasil analsisi yang bersifat empiric atau bersumber pada pengamatan di
lapangan. Untuk menentukannya, dapat dilakukan penelusuran dari 2 sisi:
a. Validitas ramalan, dimana suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah
sebuah tes telah tepat menunjukkan kemampuannya untuk dapat meramalkan
apa yang bakal terjadi di masa mendatang.
b. Validitas bandingan, yang didapat apabila tes tersebut dalam kurun waktu
yang sama telah tepat mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah,
antara tes pertama dengan tes berikutnya.
Teknik pengujian reliabilitas tes hasil belajar
1. Teknik pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk uraian, yang disusun oleh
staf pengajar telah memiliki daya keajegan mengukur atau reliabilitas yang tinggi
ataukah belum.
2. Teknik pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif, yang penentuan
reliabilitas tesnya, dilakukan dengan menggunakn 3 macam pendekatan:
a. Pendekatan single test-single trial, maka penentuan reliabilitas tes tersebut
dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap suatu kelompok subyek,
dimana pengukuran itu dilakukan dengan hanya menggunakan satu jenis alat
pengukur dan dilakukan satu kali saja. Dengan kata lain, pendekatan single
test-single trial adalah pendekatan serba single, yaitu satu kelompok subyek,
satu jenis pengukur, satu kali pengukuran, satu kelompok testee, satu jenis
tes, dan satu kali testing. Menggunakan pendekatan ini, maka tinggi
reliabilitas tes hasil belajar benuk obyektif dapat diketahui dengan melihat
besar kecilnya koefisien reliabilitas tes.
b. Pendekatan test retest (single test-double trial), sering dikatakan dengan
pendekatan bentuk ulangan, dimana tester hanya menggunakan satu seri tes,
tetapi percobaannya dilakukan dua kali.
c. Pendekatan alternate form (double test-double trial), atau bentuk parallel.
Pendekatan ini baik karena:
1. Kedua tes dilaksanakan berbarengan maka dihindarkan timbulnya
perbedaan kondisi dan situasi yang diperkirakan mempengaruhi
penyelenggaran tes baik bersifat social maupun alami.

2. Butir item dibuat sejenis tetapi tidak sama maka tes hasil belajar dapat
terhindar dari kemungkinan timbulnya pengaruh yang datang dari testee,
yakni pengaruh berupa latihan atau menghafal.
6. Jelaskan bagaimana teknik pemeriksaan, pemberian skor, dan pengolahan hasil
Teknik pemeriksaan
a. Teknik pemeriksaan hasil tes tertulis, yaitu tes hasil belajar (tertulis) bentuk
uraian, dan tes hasil belajar (tertulis) bentuk obyektif. Kedua bentuk tersebut
memiliki karakteristik yang berbeda.
1. Teknik pemeriksaan hasil tes belajar bentuk uraian, pemeriksaannya adalah
dengan jalan membandingkan antara jawaban yang diberikan oleh testee
dengan pedoman atau ancar jawaban betul yang sebelumnya telah disusun
oleh tester.
2. Teknik pemeriksaan hasil tes belajar bentuk obyektif, dilakukan dengan jalan
menggunakan kunci jawaban
b. Teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes lisan, pada umumnya bersifat
subyektif, jadi hendaknya tester dikendalikan oleh pedoman yang pasti:
1. Kelengkapan jawaban yang diberikan oleh testee.
2. Kelancaran testee dalam mengemukakan jawaban.
3. Kebenaran jawaban yang dikemukakan.
4. Kemampuan testee dalam mempertahankan pendapatnya.
5. Berapa persen kira-kira pertanyaan yang termasuk kategori sukar, sedang, dan
mudah dijawab oleh testee.
c. Teknik pemeriksaan dalam rangka menilai hasil tes pebuatan, dilakukan dengan
observasi. Sasaran yang diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap, dll.
Diperlukan instrument tertentu dan setiap gejla yang muncul diberi skor tertentu
pula.
Pemberian skor
a. Pemberian skor pada tes uraian, umumnya berdasarkan diri apda bobot yang
diberikan untuk setiap butir soal atas tingkat kesukarannya, atau atas banyak
sedikitnya unsur yang terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik.
b. Pemberian skor pada tes obyektif, umumnya digunakan rumus correction for
guessing atau system ganda.
Pengolahan hasil
a. Pengolahan dan pengubahan skor mentah hasil tes belajar menjadi nilai standar.
Ada 2 hal penting, bahwa:

1. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dapat dilakukan


dengan mengacu pada PAN dan PAP.
2. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat
menggunakan berbagai macam skala.
b. Pengolahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar berskala sebelas, adalah
nilai rentangan standar mulai dari 0-10. Jadi akan kita dapati 11 butir nilai
standar. Di Indonesia, nilai standar berskala sebelas ini umumnya diguankan pada
lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah.
c. Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar Z, umumnya
dipergunakan untuk mengubah skor-skor mentah yang diperoleh dari berbagai
jenis pengukuran yang berbeda-beda.
d. Pengubahan skor mentah hasil tes menjadi nilai standar T, adalah angka skala
yang menggunakan mean sebesar 50 (M=50) dandeviasi standar sebesar 10
(SD=10). Diperoleh dengan mengalikan Zscore dengan angka 10 kemudian
ditambah dengan 50.
7. Jelaskan bagaimana teknik penganalisisan item tes hasil belajar
Dapat dilakukan dari 3 segi:
a. Teknik analisis derajat kesukaran item, yaitu bermutu atau tidaknya butir-butir
item tes hasil belajar dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan
yang dimiliki oleh masing-masing butir item tersebut. Butir item tes hasil belajar
dapat dikatakan baik apabila butir tersebut tidak terlalu sukar dan tidak terlalu
mudah dengan kata lain, derajat kesukarannya cukup.
b. Teknik analisis daya pembeda item, adalah kemampuan suatu butir item tes hasil
belajar untuk dapat membedakan antara testee yang berkemampuan tinggi
dengan testee yang kemampuannya rendah sedemikian rupa, sehingga sebagian
besar testee yang memiliki kemampuan tinggi menjawab lebih banyak betul,
daripada testee yang memiliki kemampuan rendah.
c. Teknik analisis fungsi distractor, yang terkandung dalam bentuk multiple choice.
Dimana ada jawaban yang betul dan salah, jawaban yang salah itulah yang
disebut distractor = pengecoh. Tujuan distraktor ini agar dari sekian banyak testee
yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk
memilihnya karna menyangka distractor yang mereka pilih adalah betul. Dapat
dikatakan distractor yang baik apabila menimbulkan rangsangan atau daya tarik.

8. Jelaskan bagaimana teknik penentuan nilai akhir, penyusunan ranking dan pembuatan

profil prestasi belajar


Teknik penentuan nilai akhir
Ada 2 macam yang sering digunakan:
a. Nilai akhir diperoleh dari memerhitungkan nilai hasil tes formatif, yaitu nilai
rata-rata hasil ulangan harian, dengan nilai hasil tes sumatif, yaitu nilai hasil
ulangan umum.
b. Nilai akhir diperoleh dari nilai rata-rata hasil ulangan harian diberi bobot 1,
ditambah dengan nilai hasilevaluasi tahap akhir diberi bobot 2.
Teknik penyusunan ranking
Ada beberapa jenis ranking:
a. Ranking sederhana, adalah urutan yang menunjukkan posisi atau kedudukan
seorang peserta didik ditengah kelompoknya yang dinyatakan dengan nomor atau
angka biasa.
b. Ranking presentase, adalah angka yang menunjukkan urutan kedudukan seorang
peserta didik di tengah kelompoknya, dimana angka tersebut menunjukkan
presentase dari peserta didik yang berada di bawahnya.
c. Penyusunan ranking berdasarkan mean dan deviasi standar, ada 5 jenis:
1. Penyusunan urutan kedudukan atas 3 ranking, dilakukan

dengan

mengelompokkan peserta tang menjadi 3 tingkatan yaitu ranking atas,


ranking tengah, dan ranking bawah. Penentuan ini berlandaskan konsep
bahwa distribusi skor hasil belajar peserta didik pada umumnya membentuk
kurva normal, dimana sebagian peserta didik berada pada cuku, sedang, dan
tinggi, dan rendah.
2. Penyusunan urutan kedudukan atas 5 ranking, disusun menjadi 5 kelompok
yaitu: ranking 1 (amat baik), ranking 2 (baik), ranking 3 (cukup), ranking 4
(kurang), ranking 5 (kurang sekali).
3. Penyusunan urutan kedudukan atas 11 ranking, disusun menjadi 11 urutan
kedudukan, dimana:
Ranking 1 = memiliki nilai stanel sebesar 10
Ranking 2 = memiliki stanel 9
Ranking 3 = memiliki stanel 8
Ranking 4 = memiliki stanel 7
Ranking 5 = memiliki stanel 6
Ranking 6 = memiliki stanel 5
Ranking 7 = memliki stanel 4
Ranking 8 = memiliki stanel 3

Ranking 9 = memiliki stanel 2


Ranking 10 = memiliki stanel 1
Ranking 11 = memiliki stanel 0
4. Penyusunan urutan kedudukan berdasarkan z score, mengurutkan z score
testee yang berkemampuan tinggi sampai ke testee yang berkemampuan
rendah.
5. Penyusunan urutan kedudukan berdasarkan t score, tentukan dulu skor hasil
tesnya kemudian tentukan ranking menggunakan T score.
Pembuatan profil prestasi belajar
Profil prestasi belajar peserta didik pada umumnya dituangkan dalam bentuk diagram
batang atau dalam bentuk diagram garis. Dalam hubungan ini, pada sumbu horizontal
grafik ditempatka gejala yang akan dilukiskan grafiknya, seperti mata pelajaran atau
bidang studi tertentu, atau gejala-gejala psikologis lainnya. Sedangkan pada sumbu
vertical dicantumkan angka yang melambangkan frekuensi, presentase, angka ratarata, dll.

TUGAS MID SEMESTER


MATA KULIAH: EVALUASI PEMBELAJARAN

OLEH:
AISYAH FITRI R
1228040022
KELAS A PKK/S1