Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan di masyarakat yang tidak
pernah dapat diatasi secara tuntas dan masih menjadi penyakit utama penyebab
kematian di dunia termasuk Indonesia (Priyanto, 2009). Penyakit ini dapat
disebabkan oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, dan
jamur (Jawetz et al., 2005). Penelitian Kalalo et al. (2006) menunjukkan bahwa
bakteri Gram negatif lebih sering menyebabkan terjadinya infeksi daripada bakteri
Gram positif. Spesies bakteri utama dari kedua golongan tersebut adalah
Escherichia coli (E. coli) dan Staphylococcus aureus (S. aureus). Kondisi iklim di
Indonesia sebagai negara tropis menyebabkan suhu dan kelembabannya sesuai
untuk pertumbuhan mikroorganisme tersebut.
Penyebab infeksi selain bakteri adalah jamur, terutama jamur Candida
(Pratiwi, 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Edward (1990) dari 344.610 kasus
infeksi nosokomial yang ditemukan, 27.200 kasus (7,9%) disebabkan oleh jamur,
dan 79% disebabkan oleh candida (Edward, 1990 cit Tjampakasari, 2006).
Candidiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Candida yang bersifat
akut dan subakut yang dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, paru-paru dan
saluran pencernaan terutama jamur spesies Candida albicans (C. albicans) (8090%) (Bindusari dan Suyoso, 2001 cit Indriana, 2006). Obat antijamur saat ini

masih terbatas dalam perkembangannya, berbeda dengan obat antimikroba lain


seperti obat antibakteri yang secara luas telah dikembangkan (Pratiwi, 2001).
Pengobatan penyakit infeksi oleh masyarakat sering dilakukan dengan
antibiotik yang dengan mudah diperoleh seperti penisilin, cefotaxim atau
antibiotik jenis lainnya. Namun, pemakaian antibiotik secara berlebih dan kurang
terarah dapat mengakibatkan terjadinya resistensi dan juga dapat menimbulkan
efek samping sehingga menyebabkan kegagalan dalam pengobatan (Tjay dan
Rahardja, 2007). Keadaan tersebut mendorong para peneliti mencari terobosan
baru di bidang kesehatan untuk penemuan sumber obat-obatan antimikroba lain
dari bahan alam yang dapat berperan sebagai antijamur dan antibakteri yang lebih
poten dan relatif lebih murah (Hertiani et al., 2003). Akhir-akhir ini banyak
ditemukan berbagai macam antimikroba dari bahan alam seperti pada tanaman,
rempah-rempah atau dari mikroorganisme selain antimikroba yang diperoleh dari
bahan-bahan sintetik (Gobel et al., 2008).
Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai antimikroba adalah
lempuyang pahit (Zingiber littorale Val). Lempuyang pahit juga dikenal sebagai
lempuyang emprit, dimana diketahui mengandung berbagai komponen minyak
atsiri seperti linalool, pinena, norpinena, dan -caryophyllene (Purwanti et al.,
2003). Linalool dan -caryophyllene merupakan senyawa monoterpen dan
sesquiterpen yang mempunyai daya antimikroba yang sangat kuat pada tanaman
sirih (Yanti et al., 2000 cit Purwanti et al., 2003). Penelitian lain menunjukkan
bahwa komponen utama hasil isolasi ekstrak hexan, diklorometan, dan metanol
rimpang lempuyang pahit adalah zerumbone (Riyanto, 2007; Sukari et al., 2008).

Abdula et al. (2008) mengemukakan bahwa zerumbone dalam lempuyang gajah


memiliki aktivitas antibakteri terhadap Salmonella choleraseuis. Penelitian
Karima (2007) menunjukkan ekstrak etanol rimpang lempuyang pahit dapat
menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dengan Konsentrasi Hambat Minimum
(KHM) sebesar 25% v/v dan Konsentrasi Bunuh Minimun (KBM) 50% v/v. Hasil
pengujian terhadap pertumbuhan cendawan Fusarium oxysporum Schlecht f.sp.
cubense menunjukkan bahwa minyak atsiri lempuyang pahit mampu menghambat
pertumbuhan pada konsentrasi terendah sebesar 1%, dan ekstrak metanol
lempuyang pahit mampu menghambat pada konsentrasi 100% (Purwanti et al.,
2003). Berdasarkan data tersebut maka dilakukan penelitian tentang uji aktivitas
antimikroba ekstrak etanol rimpang lempuyang pahit terhadap S. aureus, E. coli
dan C. albicans dengan metode dilusi padat dan mengetahui golongan senyawa
kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol rimpang lempuyang pahit dengan
metode skrining fitokimia dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah dari penelitian
ini adalah
1.

Bagaimanakah aktivitas antimikroba ekstrak etanol rimpang lempuyang


pahit (Zingiber littorale Val) terhadap S. aureus, E. coli, dan C. albicans ?

2.

Golongan senyawa kimia apa yang terkandung dalam ekstrak etanol


rimpang lempuyang pahit (Zingiber littorale Val)?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang ada, maka tujuan
dari penelitian ini adalah
1.

Mengetahui aktivitas antimikroba ekstrak etanol rimpang lempuyang pahit


(Zingiber littorale Val) terhadap S. aureus, E. coli, dan C. albicans dengan
menentukan nilai Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM) dengan metode dilusi
padat.

2.

Mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol


rimpang lempuyang pahit (Zingiber littorale Val) dengan metode skrining
fitokimia dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

D. Tinjauan Pustaka
1.

Tanaman Lempuyang Pahit

a.

Sistematika tanaman :
Berikut adalah sistematika tanaman lempuyang pahit:
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Bangsa : Zingiberales
Suku

: Zingiberaceae

Marga

: Zingiber

Jenis

: Zingiber littorale Val

(Anonim, 2009)

Gambar 1. Tanaman dan Rimpang Lempuyang Pahit

b.

Nama Daerah
Nama lain dari lempuyang pahit adalah lampuyang pahit (Sunda) dan

lempuyang emprit (Jawa Tengah) (Agusta, 2000; Anonim, 2009; Sastroamidjojo,


2001).
c.

Sinonim
Lempuyang pahit memiliki sinonim antara lain Zingiber americans Bl,

Zingiber speciosa, Zingiber ovoideum Bl (Anonim, 2009; Agusta, 2000;


Sudarsono et al., 2002).
d.

Kandungan Kimia
Lempuyang pahit diketahui mengandung minyak atsiri, saponin, dan

flavonoid (Karima, 2007). Rimpang lempuyang pahit mengandung minyak atsiri


sekitar 0,41% (Agusta, 2000; Sudarsono et al., 2002). Komponen minyak atsiri
lempuyang pahit antara lain golongan monoterpen seperti linalool (7,30%), pinena
(4,05%), norpinena (57,1%) dan golongan seskuiterpen seperti -caryophyllene
(4,56%) (Purwanti et al., 2003). Penelitian lain menunjukkan bahwa kandungan
utama hasil isolasi ekstrak hexan, diklorometan, dan metanol rimpang lempuyang

emprit adalah zerumbone, dan kandungan lainnya seperti fitosterol, -sitosterol,


kolesterol, kampesterol, dan stigmasterol (Riyanto, 2007; Sukari et al., 2008).
e.

Khasiat
Lempuyang pahit digunakan oleh masyarakat sebagai obat pelancar

peredaran darah, memperbaiki fungsi lambung, penambah nafsu makan, obat


disentri, malaria, sakit kepala, obat cacing dan influenza. Infus lempuyang pahit
mempunyai efek antiinflamasi dan efek analgesik (Sudarsono et al., 2002;
Pudjiastuti et al., 2000). Ekstrak etanol rimpang lempuyang emprit dapat
menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dengan KHM sebesar 25% v/v dan
KBM 50% v/v (Karima, 2007). Minyak atsiri lempuyang pahit mampu
menghambat pertumbuhan cendawan Fusarium oxysporum Schlecht f.sp.
cubense pada konsentrasi terendah sebesar 1% dan ekstrak metanol lempuyang
pahit mampu menghambat pada konsentrasi 100% (Purwanti et al., 2003).
Ekstrak air dan etanol lempuyang pahit mampu menghambat pertumbuhan
Plasmodium falciparum 2300 resisten klorokuin dengan nilai konsentrasi hambat
50% (KH50) berturut-turut 51,64 g/mL dan 0,44 g/mL (Isabella, 2008).
Lempuyang pahit juga diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang kuat
(Dyatmiko, 2005).
2.

Metode Penyarian
Penyarian atau ekstraksi adalah proses penarikan kandungan kimia yang

dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair.
Cairan penyari yang baik harus memenuhi kriteria, murah dan mudah diperoleh,
stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak

mudah terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki,
tidak mempengaruhi zat aktif, dan diperbolehkan oleh peraturan. Ada beberapa
metode dasar ekstraksi yang dapat dipakai untuk penyarian yaitu antara lain
metode infundasi, maserasi, perkolasi, dan soxhletasi. Pemilihan terhadap metode
tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik
(Anonim, 2000).
Salah satu metode ekstraksi yang umum digunakan adalah metode maserasi.
Maserasi merupakan salah satu metode sederhana yang banyak digunakan untuk
mencari bahan obat yang berupa serbuk simplisia yang halus. Serbuk simplisia
yang akan disari, dimasukkan pada wadah bejana yang bermulut besar, ditutup
rapat kemudian dikocok berulang-ulang, sehingga memungkinkan pelarut masuk
ke seluruh permukaan serbuk simplisia (Ansel, 1989). Simplisia direndam dalam
penyari sampai meresap dan melemahkan susunan sel sehingga zat-zat akan larut.
Cara penyarian tersebut akan menembus dinding sel dan akan masuk ke dalam
rongga sel, zat aktif akan larut dan dengan adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan zat aktif di dalam sel dengan yang ada di luar sel, maka larutan yang
terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar dan di dalam sel (Anonim, 1989).
3.

Bakteri
Bakteri merupakan golongan prokariot yang umumnya berdiameter

0,2-2,0 mm. Ciri yang membedakan prokariotik dengan eukariotik adalah inti sel
dimana sel prokariotik tidak mempunyai membran inti sel atau nukleus yang jelas.
Dinding sel bakteri merupakan struktur kompleks yang berfungsi sebagai

pelindung sel dari perubahan lingkungan di luar sel. Dinding sel bakteri tersusun
atas peptidoglikan yang menyebabkan kakunya dinding sel. Dinding sel bakteri
Gram positif mengandung banyak lapisan peptidoglikan dan asam teikoat.
Berbeda dengan dinding sel bakteri Gram negatif yakni mengandung satu atau
beberapa lapis peptidoglikan dan membran luar (Pratiwi, 2008).

Gambar 2. Struktur Sel Bakteri

a.

Staphylococcus aureus
Klasifikasi bakteri S. aureus adalah sebagai berikut:

Divisi

: Protophyta

Kelas

: Schizomycetes

Bangsa

: Eubacteriales

Suku

: Micrococcaceae

Marga

: Staphylococcus

Jenis

: Staphylococcus aureus

(Salle, 1961)

Staphylococcus merupakan anggota famili micrococcaceae, tidak bergerak,


tidak berspora, dan termasuk Gram positif. Bakteri berbentuk bulat dengan
diameter 0,8-1 mm. S. aureus dapat tumbuh paling cepat pada suhu 37C, tapi
paling baik membentuk pigmen pada suhu kamar (20C) dan pada media dengan
pH 7,2-7,4. Bakteri ini dapat memfermentasikan beberapa karbohidrat dan dapat
menghasilkan pigmen yang berwarna, tidak dapat larut air (Jawetz et al., 2005).
S. aureus dapat ditemukan pada kulit, saluran nafas, saluran pencernaan,
udara, makanan, air, dan pakaian yang terkontaminasi. Bakteri ini menyebabkan
timbulnya beberapa penyakit yang hampir setiap orang pernah mengalami infeksi
selama hidupnya, dari keracunan makanan yang berat atau infeksi kulit yang kecil,
sampai infeksi yang tidak dapat disembuhkan (Brooks et al., 2007).
b.

Escherichia coli
Klasifikasi bakteri E. coli adalah sebagai berikut :

Kingdom

: Prokaryotae

Divisio

: Protophyta

Sub divisi

: Schizomycetea

Classis

: Schizomycetes

Ordo

: Eubacterials

Famili

: Enterobacteriaceae

Genus

: Escherichia

Spesies

: Escherichia coli

(Salle, 1961)

E. coli merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang yang banyak


ditemukan di usus besar manusia sebagai flora normal. Bakteri E. coli pada

10

umumnya tidak menyebabkan penyakit bila masih berada dalam usus, tetapi dapat
menyebabkan penyakit pada saluran kencing, paru-paru, saluran empedu,
peritonium dan saluran otak bila mencapai jaringan di luar saluran pencernaan,
pada keadaan yang kurang baik seperti prematur, usia tua, terserang penyakit lain,
setelah imunisasi (Jawetz et al., 2005). E. coli juga diketahui sebagai penyebab
infeksi saluran kemih yang paling sering pada sekitar 90% infeksi saluran kemih
pertama pada wanita muda. Infeksi saluran kemih dapat mengakibatkan
bakterimia dengan tanda-tanda klinis sepsis (Brooks et al., 2007).
4.

Jamur
Jamur terdiri dari kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang

berfilamen dan multiseluler, khamir berupa sel tunggal dengan pembelahan sel
melalui pertunasan. Jamur berbeda dengan bakteri dilihat dari kondisi lingkungan
tempat hidupnya dan karakteristik nutrisinya. Jamur tumbuh baik pada pH 5
yang terlalu asam bagi bakteri, lebih tahan terhadap tekanan osmotik sehingga
dapat tumbuh baik pada kadar garam atau kadar gula yang tinggi. Dinding sel
jamur terdiri dari glikan, manan, dan kitin (Pratiwi, 2008).

Gambar 3. Struktur Sel Jamur

11

a.

Candida albicans
Klasifikasi jamur C. albicans adalah sebagai berikut :

Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Subphylum

: Saccharomycotina

Class

: Saccharomycetes

Ordo

: Saccharomycetales

Family

: Saccharomycetaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans

(Salle, 1961)

C. albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk


tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan
berkembang menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan
membentuk hifa semu, spesies ini juga dapat menghasilkan hifa sejati. Spesies ini
menghasilkan koloni lunak berwarna krem dengan bau seperti ragi pada medium
agar atau dalam 24 jam pada suhu 370C (Brooks et al., 2007). C. albicans
menyebabkan mikosis yang menyerang kulit yang biasa dikenal dengan
candidiasis. Jamur ini terdapat pada mukosa kulit, oroparing, dan traktus
gastrointestinal orang sehat (Entjang, 2003).
5.

Antimikroba
Antimikroba adalah golongan obat yang digunakan untuk terapi infeksi atau

pencegahan infeksi terhadap mikroba khususnya mikroba yang merugikan


manusia (Gunawan et al., 2007). Antimikroba digunakan jika ada infeksi atau
untuk kepentingan profilaksis. Antimikroba memiliki cara kerja yang berbeda-

12

beda dalam membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme.


Klasifikasi berbagai antimikroba dibuat berdasarkan mekanisme kerja tersebut,
yaitu:
a. Antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba. Intensitas efek
yang ditimbulkan terhadap bakteri adalah bakterisidal
b. Antimikroba yang bekerja dengan merusak membran sel mikroorganisme.
c. Antimikroba yang menghambat sintesis protein mikroorganisme dengan
mengikat ribosom 30S dan 50S.
d. Antimikroba yang mengikat ribosom sub unit 30S, antimikroba ini
menghambat sintesis protein dan mengakibatkan kematian sel.
e. Antimikroba yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba.
f. Antimikroba yang menghambat enzim yang berperan dalam metabolisme
folat ( Priyanto, 2009).
Uji penentuan kerentanan patogen bakteri terhadap obat-obatan antimikroba
dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode utama yakni dilusi dan difusi.
Metode-metode tersebut dapat dilakukan untuk memperkirakan baik potensi
antibiotik

dalam

sampel

maupun

kerentanan

mikroorganisme

dengan

menggunakan organisme uji standar yang tepat dan sampel obat tertentu untuk
perbandingan (Brooks et al., 2007).
Metode pengujian terhadap aktivitas antimikroba dapat dilakukan dengan
salah satu dari dua metode ini yaitu:

13

a.

Metode dilusi
Metode dilusi mengukur MIC (Minimum Inhibitory Concentration atau

Konsentrasi Hambat Minimum, KHM) dan MBC (Minimum Bacteridal


Concentration atau Konsentrasi Bunuh Minimum, KBM) (Pratiwi, 2008). Metode
ini menggunakan antimikroba dengan konsentrasi yang menurun secara bertahap,
baik dengan media cair atau padat. Media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan.
Keuntungan metode ini adalah bahwa uji tersebut memungkinkan adanya hasil
kuantitatif, dimana menunjukkan jumlah obat tertentu yang diperlukan untuk
menghambat atau membunuh mikroorganisme yang diuji (Brooks et al., 2007).
b.

Metode difusi
Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Metode

dengan menggunakan cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat


ditempatkan pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi
bakteri uji pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar
cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji.
Metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara
obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran
molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standarisasi faktor-faktor
tersebut memungkinkan dapat melakukan uji kepekaan dengan baik (Brooks et
al., 2007).
6.

Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif untuk

memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran

14

(Clark, 2007). Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan
bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara
menaik (ascending). Kromatografi lapis tipis dalam pelaksanaannya lebih mudah
dan lebih murah dibandingkan dengan kromatografi kolom. Demikian juga
peralatan yang digunakan, lebih sederhana dan dapat dikatakan hampir semua
laboratorium dapat melaksanakan setiap saat secara cepat (Gandjar dan Rohman,
2007). Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :
a.

Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.

b.

Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,


fluorosensi atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.

c.

Ketepatan penentuan konsentrasi akan lebih baik karena komponen yang


akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak (Gandjar dan
Rohman, 2007).
Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk

identifikasi senyawa. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh


oleh senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari
titik asal. Oleh karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0.
Rf = Jarak titik pusat bercak dari titik awal

(1)

Jarak pengembangan
Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak
bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat
membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang
sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi
dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat dijadikan
bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai

15

yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang
sama atau mirip. Sedangkan bila nilai Rf berbeda, senyawa tersebut dapat
dikatakan merupakan senyawa yang berbeda (Feist, 2010).

E. Keterangan Empiris
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil berupa data ilmiah
aktivitas antimikroba ekstrak etanolik rimpang lempuyang pahit (Zingiber
littorale Val) terhadap S. aureus, E. coli dan C. albicans dengan metode dilusi
padat serta mengetahui senyawa-senyawa yang terkandung dalam ekstrak etanol
lempuyang pahit dengan metode skrining fitokimia dan KLT.