Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Energy memiliki peran penting dan tidak dapat dilepaskan dalam
kehidupan manusia. Terlebih, saat ini hampir semua aktivitas manusia sangat
tergantung pada energy. Berbagai alat pendukung, seperti motor penggerak, alat
penerangan, peralatan rumah tangga, dan mesin-mesin industry dapat difungsikan
jika ada energy. Namun, seperti yang telah diketahui terdapat dua kelompok besar
energy yang didasarkan pada pembaharuan. Dua kelompok tersebut adalah energy
yang terbarukan dan energy yang terbatas di alam. Energy terbarukan ini meliputi
energy matahari, Energi biomasa (biomass energy), Hydropower (sumber daya
air), energy dari laut (ocean energy), energy gheotermal, energy angin, Hidrogen,
Biodesel, Biotanol, dan glasifigasi batu bara (gasified coal)
Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Sumber daya alamnya sangat
melimpah. Beberapa di antaranya bisa dikembangkan menjadi energi alternatif
sebagai

pengganti

bahan

bakar

minyak

yang

terus

menurun

dan

menyusut.Sejumlah negara masih mengandalkan minyak bumi, batu bara, dan gas
alam untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya. Padahal, stok bahan
bakar fosil sebagai sumber energi saat ini terus berkurang. Dalam banyak studi,
Indonesia menyimpan ribuan energi terbarukan (renewable energy) yang tersebar
di beberapa provinsi di Indonesia. Diantaranya, Nanggroe Aceh Darussalam,
Sumatra, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka, Kalimantan, Nusa Tenggara,
Sulawesi, Gorontalo, Maluku, Papua, Bali, Jawa, dan Banten.
Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup
besar diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi
surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Untuk
mendukung

upaya

dan

program

pengebangan

EBT, pemerintah

sudah

menerbitkan serangkaian kebijakan dan regulasi yang mencakup Peraturan


Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Undang-Undang No.
30/2007 tentang Energi, Undang-undang No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan,
PP No. 10/1989 sebagaimana yang telah diubah dengan PP No. 03/2005 Tentang

Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan


Pemanfaatan Tenaga Listrik dan PP No. 26/2006 tentang Penyediaan &
Pemanfaatan Tenaga Listrik, Permen ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan
Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah, dan Kepmen
ESDM No.1122K/30/MEM/2002 tentang Pembangkit Skala Kecil tersebar. Saat
ini sedang disusun RPP Energi Baru Terbarukan yang berisi pengaturan
kewajiban penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan dan
pemberian kemudahan serta insentif.
Target capaian energi terbarukan pada perpres tersebut (yakni 15%)
cukup maju dibandingkan dengan negara tetangga seperti Australia yang hanya
6% pada tahun 2029-2030 [Australias Energy Outlook, 2006], sedangkan India
mentargetkan kontribusi tenaga air dan nuklir sebesar 11,8% pada tahun 20312032 [WEC, 2006]. Guna mencapai target penggunaan energi terbarukan tersebut,
baru-baru ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan
Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008 yang mewajibkan berbagai
sektor pengguna energi untuk menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan
persentase dan pentahapan tertentu.
Namun Perpres dan Inpres di atas masih sangat konservatif, belum ada
penekanan khusus kapan implementasi diversifikasi energy tersebut terealisir.
(bandingkan dengan AS yang pada tahun 2017 bertekad, 20 persen kebutuhan
energinya akan diperoleh dari biofuel, dan Prancis yang pada tahun 2020 bertekad
mengekspor listrik dari PLTN ke Eropa).
B.

Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian energi terbarukan.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis energi terbarukan dan lokasi di Indonesia
sebagai sumber energi terbarukan.
3. Untuk mengetahui kebijakan Pemerintah mengenai energi.
4. Untuk mengetahui strategi pencapaian energi terbarukan yang dilakukan oleh
pemerintah.

C.

Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud energy tebarukan?


2. Apa jenis-jenis energi terbarukan dan dimana lokasi yang menjadi sumber
energy terbarukan?
3. Apakah kebijakan pemerintah mengenai energy?
4. Bagaimana Strategi pencapaian energy terbarukan yang dilakukan oleh
pemerintah?
D.

Manfaat Penulisan
Pengerjaan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi
dalam menambah ilmu tentang energy terbarukan di Indonesia, serta bagaimana
kebijakan Pemerintah dalam menengani sumber daya energy terbarukan yang
terdapat di Indonesia. Selain itu penulisan makalah ini bisa dijadikan tolak ukur
penulisan makalah-makalah yang akan di susun selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Energi Terbarukan
Secara sederhana energy terbarukan didefinisikan sebagai energy yang dapat
diperoleh ulang(terbarukan) seperti sinar matahari dan angin. Sumber energy
terbarukan adalah sumber energy ramah lingkungan yang tidak mencemari
lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim dan
pemanasan global seperti pada sumber-umber tradisional lain. Ini adalah alasan
utama mengapa energy terbarukan sangat terkait dengan masalah lingkungan dan
ekologi di mata orang banyak.
Energy terbarukan masih perlu meningkatkan daya saing, karena sumber
energy yang terbarukan masih membutuhkan subsidi untuk tetap kompetitif
dengan bahan bakar fosil dalam hal biaya (meskipun juga harus disebutkn bahwa
perkembangan teknologi pada energy terbarukan akan memiliki harga yang
kompetitif tanpa subsidi dibandingkan bahan bakar tradisional).
Selain dalam hal biaya, energy terbarukan juga harus meningkatkan
efisiensinya. Sebagai contoh, panel surya rata-rata memiliki efisiensi sekitar 15%
yang berarti banyak energy akan terbuang dan ditransfer menjadi panas, bukan
menjadi bentuk lain enrgi yang bermanfaat untuk digunakan. Namun, ada banyak
penelitian yang sedang berlangsung dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi
teknologi energy terbarukan , beberapa darinya benar-benar menjaminkan,
meskipun kita belum melihat solusi energy terbarukan yang sangat efisiensi dan
komersial tinggi.
Sector energy terbarukan bias memutuskan untuk wait and see karena
bahan bakar fosil pada akhirnya akan habis dan energy terbarukan kemudian akan
menjadi alternative terbaik guna memuaskan rasa dahaga dunia akan energy. Tapi
ini akan menjadi strategi yang buruk karena dua alasan: keamanan energy dan
perubahan iklim.
Sebelum bahan bakar fosil habis, sector energy terbarukan harus
dikembangkan untuk cukup menggantinkan batu bara, minyak bumi, dan gas alam
dan ini hanya dapat dilakukan jika kemajuan teknolohi energy terbarukan

berlanjut akan membahayakan keamanan energi dimasa depan kita, dan ini harus
dihindari oleh dunia.
Sebenarnya banyak alasan untuk memilih energy terbarukan dibandingkan
bahan bakar fosil, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa energy terbarukan masih
belum siap untuk sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil. Di tahun-tahun
mendatang, hal itu pasti terjadi, tetapi tidak untuk sekarang. Hal yang paling
penting untuk dilakukan sekarang adalah mengembangkan teknologi yang
berbeda bagi energy terbarukan guna memastikan datangnya hari dimana bahan
bakar fosil habis, dunia tidak perlu khawatir dan energy terbarukan sudah siap
untuk menggantikannya.
B. Jenis-Jenis Energi Terbarukan dan Lokasi Yang Menjadi Sumber Energi
Sejumlah negara masih mengandalkan minyak bumi, batu bara, dan gas alam
untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya. Padahal, stok bahan bakar
fosil sebagai sumber energi saat ini terus berkurang. Dalam banyak studi,
Indonesia menyimpan ribuan energi terbarukan (renewable energy).Berikut 10
energi terbarukan yang dimiliki Indonesia dan berpotensi besar untuk
menyediakan sumber energi berlebih.
Energi matahari
PT PLN (Persero) memanfaatkan energi ini untuk menerangi 1.000 pulau
terpencil pada 2012.
Energi biomasa (biomass energy)
Biomassa adalah jenis energi terbarukan yang mengacu pada bahan biologis
yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati. Sumber biomassa
antara lain bahan bakar kayu, limbah dan alkohol. Pembangkit listrik biomassa di
Indonesia seperti PLTBM Pulubala di Gorontalo yang memanfaatkan tongkol
jagung. Sektor perkebunan menyumbang 64 juta ton limbah untuk energi ini.
Hydropower (sumber daya air)

Energi air adalah salah satu alternatif bahan bakar fosil yang paling umum.
Sumber energi ini didapatkan dengan memanfaatkan energi potensial dan energi
kinetik yang dimiliki air. Sat ini, sekitar 20% konsumsi listrik dunia dipenuhi dari
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Di Indonesia saja terdapat puluhan PLTA,
seperti : PLTA Singkarak (Sumatera Barat), PLTA Gajah Mungkur (Jawa Tengah),
PLTA Karangkates (Jawa Timur), PLTA Riam Kanan (Kalimantan Selatan), dan
PLTA Larona (Sulawesi Selatan).Sungai-sungai dan air terjun di Indonesia sangat
potensial bagi energi ini.
Energi dari laut (ocean energy)
Masih seputar lautan. Lautan menyediakan energi terbarukan (renewable
energy), seperti energi gelombang atau pemanfaatan pasang surut air laut dapat
digunakan untuk membangkitkan energi listrik dan energi panas air laut (ocean
thermal energy)yang berasal dari panas yang tersimpan dalam air laut.
Energi angin
Sepertiga luas Indonesia adalah lautan. Potensi angin sebagai energi
terbarukan dengan menggunakan turbin angin untuk menghasilkan listrik.
Energi geothermal
Energi panas bumi atau geothermal adalah sumber energi terbarukan berupa
energi thermal (panas) yang dihasilkan dan disimpan di dalam bumi. Energi panas
bumi diyakini cukup ekonomis, berlimpah, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Namun pemanfaatannya masih terkendala pada teknologi eksploitasi yang hanya
dapat menjangkau di sekitar lempeng tektonik. Di dalam perut negeri ini,
tersimpan 40 persen cadangan panas bumi di dunia. Mayoritas masih tidur di
bumi Andalas atau Sumatra. Cadangan panas bumi di Sumatra sebesar 6.645
Megawatt electric (MWe) atau hampir 50 persen dari total cadangan nasional,
sebesar 15.882 MWe. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang
dimiliki Indonesia antara lain: PLTP Sibayak di Sumatera Utara, PLTP Salak
(Jawa Barat), PLTP Dieng (Jawa Tengah), dan PLTP Lahendong (Sulawesi Utara).

Hidrogen
Hidrogen memiliki potensi yang amat besar sebagai bahan bakar dan sumber
energi.
Biodiesel
Saat ini, pengembangan biodiesel yang bersumber dari tanaman jarak
(Jatropha) terus dilakukan. Sayang, energi ini belum dikembangkan secara
maksimal.
Bioetanol
Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari
pengolahan tumbuhan) di samping biodiesel. Bisa berbahan baku dari singkong,
jagung, kelapa sawit.
Gasifikasi batu bara (gasified coal)
Beberapa perusahaan sudah mengembangkan dan memanfaatkan energi ini.
Biofuel
Biofuel atau bahan bakar hayati adalah sumber energi terbarukan berupa
bahan bakar (baik padat, cair, dan gas) yang dihasilkan dari bahan-bahan organik.
Sumber biofuel adalah tanaman yang memiliki kandungan gula tinggi (seperti
sorgum dan tebu) dan tanaman yang memiliki kandungan minyak nabati tinggi
(seperti jarak, ganggang, dan kelapa sawit).
Sumber Daya Terbarukan tersebut tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.
Dimana di Provinsi tersebut memiliki potensi besar untuk dapat dimanfaatkan.

1.

Nanggroe Aceh Darussalam


Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki beraneka ragam potensi

sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik terdiri dari potensi air, panas bumi,

batubara. Diperkirakan potensi sumber tenaga air mencapai 2.626 MW yang


tersebar di 15 lokasi di wilayah NAD. Salah satu dari potensi tersebut yang
sedang dalam proses pembangunan adalah PLTA Peusangan dengan daya sebesar
89 MW. Potensi tenaga air yang cukup besar terdapat di daerah Jambo Aye yang
diperkirakan mencapai 471 MW, Lawe Alas sebesar 268 MW, dan Tampur sebesar
126 MW. Potensi panas bumi juga menjadi alternatif energi selain air yang dapat
dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik yang diperkirakan sebesar 282 MW
diantaranya terdapat di Gunung Seulawah, Krueng Raya, Sabang dan di Gayo
Lesten. Disamping itu juga terdapat potensi batubara yang dapat dikembangkan
adalah sebesar 1.300 juta ton
.
2.

Sumetera Utara
Sumatera Utara memiliki potensi sumber energi yang dapat dimanfaatkan

untuk pembangkit tenaga listrik terdiri dari potensi air sebesar 12 MW tersebar di
13 lokasi, potensi panas bumi sebesar 1.627 MW yang tersebar di 4 lokasi
diantaranya terdapat di Sarulla 100 MW, Sibual-buali 150 MW dan G.SorikMerapi sebesar 150 MW serta G. Sibayak sebesar 70 MW. Selain itu juga terdapat
potensi energi biomassa yang belum dapat dihitung.
3.

Sumatera Barat
Potensi sumber energi di Propinsi Sumatera Barat terdiri dari tenaga air dan

batubara. Potensi sumber tenaga air untuk membangkitkan tenaga listrik yang
berskala besar sudah sebagian besar dimanfaatkan. Batubara hanya sebagian kecil
lagi yang dapat dimanfaatkan sedangkan pemanfaatannya sebagian besar untuk
menunjang kebutuhan industri yang ada di Propinsi ini. Dan juga potensi panas
bumi sebesar 700 MWe tersebar di wilayah Sumatera Barat. Sumber potensi untuk
pembangkit tenaga listrik baru adalah PLTM Leter W (3MW), PLTM Mangani
(1,2MW), PLTU skala kecil Pesisir Selatan (2X16MW), PLTU Sampah
(2X9MW).
4.

Riau
Potensi sumber energi di Kepulauan Riau terdiri dari minyak bumi

diperkirakan sebesar 6.107 juta barel, gas bumi sebesar 50 Miliar MSCF di

Natuna dan 300 juta MSCF di Riau daratan sedangkan potensi batubara 2.370 juta
ton, gambut 12.684 juta ton dan tenaga air sebesar 949 MW.
5.

Jambi
Potensi sumber energi Jambi terdiri dari minyak bumi 35 juta meter kubic,

gas bumi 1,3 TCF, batubara sekitar 400 juta ton. Potensi minyak bumi, gas bumi
dan batubara tersebar di Propinsi Jambi. Sedangkan potensi panas bumi yang
diperkirakan 358 MW dan tenaga air 370 MW terdapat di Kabupaten Kerinci. Dan
juga potensi panas bumi sebesar 358 MWe.
6.

Bengkulu
Potensi energi primer di Propinsi Bengkulu yang terbesar adalah batubara

yang diperkirakan cadangan terukurnya mencapai 123 juta ton. Panas bumi juga
terdapat di daerah ini yang diperkirakan potensinya mencapai 600 MW tersebar
pada 3 lokasi Gedang Hulu Lais, Tambang Sawah dan Bukit Daun. Sedangkan
tenaga air diperkirakan mencapai 1.000 MW. Salah satu potensi air yang sedang
dibangun adalah PLTA Musi sebesar 210 MW.
7.

Sumatera Selatan
Potensi sumber energi di Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari minyak bumi

diperkirakan sebesar 5.032 MMSTB, gas bumi sebesar 7,24 TSCF, dan batubara
diperkirakan sekitar 20.258 juta ton serta panas bumi sebesar 794 MWe.
8.

Lampung
Potensi sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik yang terdapat di

daerah ini terdiri tenaga air, panas bumi, batubara dan potensi biomass. Potensi
tenaga air untuk skala besar adalah 524 MW dan telah dimanfaatkan adalah PLTA
Besai 90 MW dan Batu Tegi 28 MW. Potensi tenaga air yang belum dimanfaatkan
adalah Danau Ranau diperkirakan 250 MW, Way Semangka Upper dan Way
Semangka Lower diperkirakan mencapai 152 MW. Potensi panas bumi
diperkirakan juga sangat besar yaitu mencapai 1.072 MW yang terdapat di Ulu

Belu, Suoh, Sekicau, Gunung Rajabasa dan Gunung Ratai. Kapasitas terbukti
tahap pertama yaitu 110 MW.
9.

Bangka Belitung
Provinsi Bangka Belitung sangat bergantung dengan pembangkit diesel milik

PT PLN (Persero) maka pengembangan sumber potensi energi yang dimiliki


sangat penting.
10. Kalimantan Timur
Propinsi Kalimantan Timur memiliki beranekaragam potensi sumber energi
primer yang dapat digunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik
baik itu minyak bumi, gas bumi, batubara, tenaga air, biomasa, tenaga surya,
tenaga angin. Adapun potensi sumber daya energi primer yang tersedia adalah
minyak bumi yang diperkirakan 1,3 Milliar barrel, gas bumi 50 Trilliun SCF,
batubara 5.000 juta ton dan tenaga air 5.916,3 MW. Disamping energi terbarukan
seperti biomassa, tenaga surya dan angin terdapat di pantai Tarakan
11. Kalimantan Tengah
Propinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang
memiliki sumber daya energi yang banyak dan beragam. Potensi energi yang
potensial untuk dikembangkan di Kalimantan Tengah khususnya bagi desa-desa
tertinggal yang sulit dijangkau oleh jaringan PT PLN (Persero) adalah batubara,
mikrohidro, biomasa dan angin. Potensi batubara diperkirakan mencapai 520 juta
ton.
12. Kalimantan Selatan
Daerah Propinsi Kalimantan Selatan memiliki beranekaragam potensi sumber
energi primer yang dapat digunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga
listrik baik itu minyak bumi, gas bumi, batubara, tenaga air, biomasa, tenaga
surya, tenaga angin. Adapun potensi sumber daya energi primer yang tersedia
yaitu untuk Minyak & Gas Bumi 160 Juta Barrel, Batubara 5000 Juta Ton,

Biomassa 133,201 kW, Sekam padi 1.345.680 Ton, Sekam sawit 1.295.505 Ton,
Penyinaran Tenaga Surya 23-69% dan Tenaga Angin Kecepatan 20-24 Knot.
13. Kalimantan Barat
Potensi sumber energi di Propinsi Kalimantan Barat terdiri dari batubara,
tenaga air dan gambut. Diperkirakan bahwa potensi batubara sebesar 180 juta ton
yang tersebar di perbagai tempat. Disamping itu, potensi tenaga air yang dapat
dikembangkan adalah PLTA Ng. Pinoh sebesar 138 MW, PLTA Pade Kembayung
40 MW, PLTA Sibat 21 MW.
14. Nusa Tenggara Barat
Potensi energi yang tersedia di NTB relatif kecil. Panas bumi terdapat di 3
lokasi dengan total daya 300 MW dan potensi air sebesar 70 MW.
15. Nusa tenggara timur
Sepanjang daratan Flores Alor terdapat potensi panas bumi sebesar 575
MW. PLTP Ulumbu rencana pembangunan awal 2004 dengan kapasitas sebesar
6,5 MW. PLTP Mataloko dalam proses pengeboran 4 sumur. Total potensi hidro
sebesar 143 MW. Potensi energi angin yang sudah disurvei adalah di Desa
Nangalili, sebesar 0,1 MW. Potensi angin yang belum di survei adalah di Pulau
Sumba, Pulau Rote dan Pulau Timor.
16. Sulawesi Selatan
Daerah Propinsi Sulawesi Selatan memiliki beranekaragam potensi sumber
energi primer yang dapat digunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga
listrik, yaitu gas bumi, batubara, air (PLTA, Minihidro, dan mikro hidro), dan
panas bumi. Cadangan gas alam yang sudah ditemukan berlokasi di Kabupaten
Wajo dengan besarnya cadangan 603,7 BSCF atau setara 425 MW. Dari besarnya
cadangan tersebut baru dimanfaatkan untuk pembangkit sebesar 85 MW atau
sebesar 20%. Cadangan batubara sebesar 36,6 juta ton. Batubara baru digunakan
untuk bahan bakar keperluan rumah tangga dan industri kecil dalam bentuk briket
batubara. Potensi sumber daya air (PLTA) yang tersebar di berbagai Kabupaten,

dengan daya terpasang besarnya 3.094,1 MW. Potensi Pembangkit Listrik Tenaga
Minihidro (PLTM) besarnya 102.097 kW, tersebar di 21 lokasi yang terletak di
berbagai Kabupaten. Sedangkan potensi mikrohidro (PLTMH) sebesar 3.037,3
kW, tersebar di 51 lokasi yang terletak di berbagai Kabupaten. Potensi panas bumi
diperkirakan sebesar 49 MW yang tersebar di sembilan Kabupaten.
17. Sulawesi Utara
Propinsi Sulawesi Utara memiliki potensi sumber energi primer yang dapat
digunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik, yaitu panas bumi, dan
tenaga air. Potensi panas bumi yang ada diperkirakan 540 MW, dan potensi air
160,7 MW. Disamping itu ditemukan cekungan minyak bumi yang perlu disurvey
lebih lanjut besar potensinya.
18. Sulawesi Tengah
Propinsi Sulawesi Tengah memiliki potensi sumber energi primer yang dapat
digunakan sebagai sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik, yaitu air
(PLTA, Minihidro, dan mikro hidro), dan panas bumi. Potensi air untuk PLTA
yang mempunyai skala cukup besar antara lain di Kabupaten Donggala, Palu
besarnya 74,8 MW, di Kabupaten Poso mempunyai total potensinya sebesar 684
MW. Sedangkan potensi air skala kecil (minihidro) dengan kapasitas antara 0,5
3 MW banyak tersebar di berbagai kabupaten, secara total kapasitasnya mencapai
sekitar 26,45 MW. Potensi panas bumi yang ada tidak terlalu besar terletak di desa
Bora Donggala sebesar 5 MW. Dan potensi panas bumi diperkirakan sebesar 66
MWe tersebar di wilayah ini.
19. Sulawesi Tenggara
Propinsi Sulawesi Tenggara memiliki beranekaragam potensi sumber energi
primer yang dapat digunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik,
yaitu air (PLTA Mikrohidro) dan panas bumi. Potensi sumber daya air (PLTA)
yang tersebar di beberapa Kabupaten, dengan daya terpasang yang dapat
dikembangkan sekitar 239 MW. Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
(PLTMH) besarnya 30,33 MW, tersebar di 15 lokasi yang terletak di berbagai

Kabupaten. Potensi panas bumi cukup besar, dengan total kapasitas diperkirakan
sebesar 51 MWe yang tersebar di 35 Kabupaten.
20. Gorontalo
Provinsi Gorontalo memiliki potensi sumber energi air sebesar 78 MW di
Sungai Bone 1,2 dan 3 dan Randagan, mikrohidro di 14 lokasi sebesar 514 kW,
energi angin sebesar 15 20 knot, panas bumi di 3 lokasi sebesar 15 MWe
diantaranya Sumawa, Telaga Biru, dan Limbodo.
21. Maluku
Maluku memiliki potensi energi air yang tersebar di 27 lokasi di P. Seram
dengan diperkirakan dapat membangkitkan daya sebesar 217 MW selain itu ada
panas bumi sebesar 142 MWe, batubara dan minyak bumi yang belum terukur.
22. Papua
Propinsi Papua memiliki potensi sumber energi yang cukup besar, dengan
batubara cadangan terbukti 177 juta ton, minyak bumi sebesar 18 Juta Barrel, gas
bumi sebesar 22.280 BSCF, dan sumber potensi air sebesar 24.974 MW.
23. Bali
Potensi energi yang dapat dikembangkan untuk pembangkit tenaga listrik
terdiri dari tenaga air, panas bumi sebesar 226 MWe, biomass dan tenaga surya.
Tenaga air yang berpotensi untuk dikembangkan adalah PLTA Ayung sebesar 20
MW dan PLTP Bedugul yang diperkirakan mencapai 200 MW.
24. Jawa Timur
Propinsi Jawa Timur memiliki potensi sumber energi yang terdiri dari gas
alam, minyak bumi dan tenaga air. Adapun potensi gas bumi yang dapat
dikembangkan adalah sebesar 5.48 TSCF, minyak bumi 270 juta barel dan tenaga
air 10 MW serta panas bumi yang diperkirakan mencapai 654 Mwe.
25. Jawa Tengah

Propinsi ini memiliki potensi tenaga air yang dapat dikembangkan adalah
diperkirakan mencapai 24 MW dan panas bumi yang diperkirakan mencapai 614
MWe.
26. Jawa Barat
Propinsi Jawa Barat memiliki bermacam sumber energi untuk pembangkit
tenaga listrik yang terdiri dari tenaga air yang sebagian besar sudah
dikembangkan, panas bumi, minyak bumi, dan gas alam. Potensi panas bumi yang
dapat dikembangkan diperkirakan sebesar 1.297 MWe, minyak bumi 222 MW dan
gas alam sebesar 1,27 TSCF.
27. Banten
Propinsi Banten memiliki potensi panas bumi yang dapat dikembangkan
untuk tenaga listrik yang diperkirakan mencapai 285 MWe, sedangkan potensi
batubara hanya diperkirakan mencapai 10 juta ton.
C. Kebijakan Pemerintahan Mengenai Energi
Pasal 2
Kebijakan Energi Nasional merupakan kebijakan pengelolaan energi yang
berdasarkan prinsip berkeadilan,berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna
terciptanya kemandirian energi dan ketahanan energi nasional.
Pasal 3
1) Kebijakan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 terdiri dari
kebijakan utama dan kebijakan pendukung.
2) Kebijakan utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. ketersediaan energi untuk kebutuhan nasional.
b. prioritas pengembangan energi
c. pemanfaatan sumber daya energi nasional cadangan energi nasional.
3) Kebijakan pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.

konservasi dan diversifikasi energi 3 / 22

b.

lingkungan dan keselamatan.

c.

harga, subsidi, dan insentif energi.

d.

infrastruktur, akses masyarakat dan industri energi.

e.

penelitian dan pengembangan energi.

f.

kelembagaan dan pendanaan.

Pasal 4
Kebijakan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3
dilaksanakan untuk periode 2013-2050.
Pasal 5
Kebijakan energi nasional disusun sebagai pedoman untuk memberi arah
pengelolaan energi nasional guna mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan
energi untuk mendukung pembangunan nasional berkelanjuta.
Pasal 6
Kemandirian energi dan ketahanan energi nasional sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5, dicapai dengan mewujudkan:
1. sumber daya energi tidak dijadikan sebagai komoditas ekspor semata
tetapi sebagai modal pembangunan nasional.
2. kemandirian pengelolaan energi.
3. ketersediaan energi dan terpenuhinya kebutuhan sumber energi dalam
negeri.
4. pengelolaan

sumber

daya

energi

secara

optimal,

terpadu,

dan

berkelanjutan.
5. pemanfaatan energi secara efisien di semua sektor.
6. akses masyarakat terhadap energi secara adil dan merata.
7. pengembangan kemampuan teknologi, industri dan jasa energi dalam
negeri agar mandiri dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
8. terciptanya lapangan kerja.
9. terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Pasal 7
Sumber energi dan/atau sumber daya energi ditujukan untuk modal
pembangunan
mengoptimalkan

guna

sebesar

besar

pemanfaatannya

kemakmuran
bagi

rakyat,

pembangunan

dengan

cara

ekonomi

nasional,penciptaan nilai tambah di dalam negeri dan penyerapan tenaga kerja.

Pasal 8
Sasaran penyediaan dan pemanfaatan energi primer dan energi final adalah
sebagai berikut:
a. terpenuhinya penyediaan energi primer pada tahun 2025 sekitar 400
MTOE, dan pada tahun 2050 sekitar 1.000 MTOE.
b. tercapainya pemanfaatan energi primer per kapita pada tahun 2025 sekitar
1,4 TOE, dan pada tahun 2050 sekitar 3,2 TOE.
c. terpenuhinya penyediaan kapasitas pembangkit listrik pada tahun 2025
sekitar 115 GW, dan pada tahun 2050 sekitar 430 GW
d. tercapainya pemanfaatan listrik per kapita pada tahun 2025 sekitar 2.500
KWh, dan pada tahun 2050 sekitar 7.000 KWh.
Pasal 11
1. Prioritas pengembangan energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat
(2) huruf b dilakukan melalui:
a. pengembangan energi dengan mempertimbangkan keseimbangan
keekonomian energi, keamanan pasokan energi, dan pelestarian fungsi
lingkungan.
b. memprioritaskan penyediaan energi bagi masyarakat yang belum
memiliki akses terhadap energi listrik, gas rumah tangga, dan energi
untuk transportasi, industri, dan pertanian.
c. pengembangan energi dengan mengutamakan sumber daya energi
setempat.
d. pengembangan energi dan sumber daya energi diprioritaskan untuk
memenuhi kebutuhan energi 6 / 22 dalam negeri.
e. pengembangan industri dengan kebutuhan energi yang tinggi
diprioritaskan di daerah yang kaya sumber daya energi.
2. Untuk mewujudkan keseimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a, prioritas pengembangan energi nasional didasarkan pada prinsip:
a. memaksimalkan penggunaan energi terbarukan dengan memperhatikan
tingkat keekonomian.
b. meminimalkan penggunaan minyak bumi.
c. mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dan energi baru.
d. menggunakan batubara sebagai andalan pasokan energi nasional.

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikecualikan bagi energi


nuklir yang dimanfaatkan dengan mempertimbangkan keamanan pasokan
energi nasional dalam skala besar, mengurangi emisi karbon dan tetap
mendahulukan

potensi

energi

baru

dan

terbarukan

sesuai

nilai

keekonomiannya, serta mempertimbangkannya sebagai pilihan terakhir


dengan memperhatikan faktor keselamatan secara ketat.
Pasal 12
1. Pemanfaatan sumber daya energi nasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (2) huruf c dilaksanakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah
i.

Daerah mengacu pada strategi sebagai berikut:


pemanfaatan sumber energi terbarukan dari jenis energi air, energi
panas bumi, energi laut, dan energi angin diarahkan untuk

ii.

ketenagalistrikan.
pemanfaatan sumber energi terbarukan dari jenis energi matahari
diarahkan untuk ketenagalistrikan, dan energi non listrik untuk

iii.

industri, rumah tangga, dan transportasi.


pemanfaatan sumber energi terbarukan dari jenis bahan bakar nabati
diarahkan untuk menggantikan bahan bakar minyak terutama untuk

iv.

transportasi dan industri.


pemanfaatan sumber energi terbarukan dari jenis bahan bakar nabati

v.

dilakukan dengan tetap menjaga ketahanan pangan.


pemanfaatan energi terbarukan dari jenis biomassa dan sampah

vi.

diarahkan untuk ketenagalistrikan dan transportasi.


bumi hanya untuk transportasi dan komersial, yang memang tidak
dan/atau belum bisa digantikan dengan energi atau sumber energi

vii.

lainnya.
pemanfaatan sumber energi gas bumi untuk industri, ketenagalistrikan,
rumah tangga, dan transportasi, diutamakan untuk pemanfaatan yang

viii.

memiliki nilai tambah paling tinggi.


pemanfaatan sumber energi batubara untuk ketenagalistrikan dan

ix.

industri.
pemanfaatan sumber energi baru berbentuk cair, yaitu batubara

x.

tercairkan dan hidrogen, untuk transportasi.


pemanfaatan sumber energi baru berbentuk padat dan gas untuk
ketenagalistrikan.

2. Pemanfaatan sumber energi berbentuk cair di luar LPG diarahkan untuk


sektor transportasi.
3. Pemanfaatan sumber Jaya energi diutamakan untuk memenuhi kebutuhan
energi dan bahan Baku.
4. Prioritas pemanfaatan sumber energi dilakukan berdasarkan pertimbangan
menyeluruh atas kapasitas,kontinuitas, dan keekonomian serta dampak
lingkungan hidup.
5. Peningkatan pemanfaatan sumber energi matahari melalui penggunaan sel
surya pada transportasi,industri, gedung komersial dan rumah tangga.
6. Pemaksimalan dan kewajiban pemanfaatan sumber energi matahari
dilakukan dengan syarat seluruh komponen dan sistem pembangkit energi
matahari dari hulu sampai hilir diproduksi di dalam negeri secara bertahap.
7. Pemanfaatan sumber energi laut didorong dengan membangun
percontohan sebagai langkah awal yang tersambung ke jaringan listrik.
Pasal 25
1. Kegiatan penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi energi
diarahkan untuk mendukung industri energi nasional.
2. Dana kegiatan penelitian, pengembangan dan penerapan teknologi energi
difasilitasi oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Badan Usaha sesuai
dengan kewenangannya sampai kepada tahap komersial.
3. Pemerintah mendorong terciptanya iklim pemanfaatan dan keberpihakan
terhadap hasil penelitian dan pengembangan teknologi energi nasional.
4. Pemerintah melakukan penguatan bidang penelitian dan pengembangan
energi antara lain melalui:
a. menyiapkan dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia
dalam penguasaan dan penerapan teknologi, serta keselamatan di
bidang energi.
b. meningkatkan penguasaan teknologi energi dalam negeri melalui
penelitian dan pengembangan, dan penerapan teknologi energi, serta
teknologi efisiensi energi.
D. Strategi

Pencapaian

Pemerintah

Energy

Terbarukan

yang

Dilakukan

oleh

Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar
diantaranya, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya
4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Data potensi
EBT terbaru disampaikan Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi
Energi dalam acara Focus Group Discussion tentang Supply-Demand Energi Baru
Terbarukan yang belum lama ini diselenggarakan Pusdatin ESDM.
Saat ini pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006
tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam Perpres disebutkan kontribusi EBT
dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan
komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir,
Air, Surya, dan Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%. Untuk itu
langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas
terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2,846 MW pada tahun 2025,
kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin
(PLT Bayu) sebesar 0,97 GW pada tahun 2025, surya 0,87 GW pada tahun 2024,
dan nuklir 4,2 GW pada tahun 2024. Total investasi yang diserap pengembangan
EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13,197 juta USD.
Upaya untuk mengembangkan energi angin mencakup pengembangan energi
angin untuk listrik dan non listrik (pemompaan air untuk irigasi dan air bersih),
pengembangkan teknologi energi angin yang sederhana untuk skala kecil (10 kW)
dan skala menengah (50 - 100 kW) dan mendorong pabrikan memproduksi SKEA
skala kecil dan menengah secara massal.
Pengembangan energi surya mencakup pemanfaatan PLTS di perdesaan dan
perkotaan, mendorong komersialisasi PLTS dengan memaksimalkan keterlibatan
swasta, mengembangkan industri PLTS dalam negeri, dan mendorong terciptanya
sistem

dan

pola

pendanaan

yang

efisien

dengan

melibatkan

dunia

perbankan.Untuk mengembangkan energi nuklir, langkah-langkah yang dambil


pemerintah adalah melakukan sosialisasi untuk mendapatkan dukungan
masyarakat

dan

melakukan

kerjasama

dengan

berbagai

negara

untuk

meningkatkan penguasaan teknologi.


Sedang langkah-langkah yang dilakukan untuk pengebangan mikrohidro
adalah dengan mengintegrasikan program pengembangan PLTMH dengan

kegiatan ekonomi masyarakat, memaksimalkan potensi saluran irigasi untuk


PLTMH, mendorong industri mikrohidro dalam negeri, dan mengembangkan
berbagai pola kemitraan dan pendanaan yang efektif.
Untuk mendukung upaya dan program pengebangan EBT, pemerintah sudah
menerbitkan serangkaian kebijakan dan regulasi yang mencakup Peraturan
Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Undang-Undang No.
30/2007 tentang Energi, Undang-undang No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan,
PP No. 10/1989 sebagaimana yang telah diubah dengan PP No. 03/2005 Tentang
Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan
Pemanfaatan Tenaga Listrik dan PP No. 26/2006 tentang Penyediaan &
Pemanfaatan Tenaga Listrik, Permen ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan
Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah, dan Kepmen
ESDM No.1122K/30/MEM/2002 tentang Pembangkit Skala Kecil tersebar. Saat
ini sedang disusun RPP Energi Baru Terbarukan yang berisi pengaturan
kewajiban penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan dan
pemberian kemudahan serta insentif.
Indonesia sebenarnya telah merencanakan terwujudnya energi primer mix
yang optimal pada tahun 2025. Masing-masing sumber energi sudah dibagi
peranannya terhadap konsumsi energi nasional:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Minyak bumi menjadi kurang dari 20%


Gas bumi menjadi lebih dari 30%
Batubara menjadi lebih dari 33%
Bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5%
Panas bumi menjadi lebih dari 5%
Energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir,

tenaga air, tenaga surya dan tenaga angin menjadi lebih dari 5%
7. Batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2
Pembagian tersebut diatur dalam Perpres No 5 tahun 2006. Target capaian
energi terbarukan pada perpres tersebut (yakni 15%) cukup maju dibandingkan
dengan negara tetangga seperti Australia yang hanya 6% pada tahun 2029-2030
[Australias Energy Outlook, 2006], sedangkan India mentargetkan kontribusi
tenaga air dan nuklir sebesar 11,8% pada tahun 2031-2032 [WEC, 2006]. Guna
mencapai target penggunaan energi terbarukan tersebut, baru-baru ini Menteri

Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM
Nomor 32 Tahun 2008 yang mewajibkan berbagai sektor pengguna energi untuk
menggunakan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan persentase dan pentahapan
tertentu.
Namun Perpres dan Inpres di atas masih sangat konservatif, belum ada
penekanan khusus kapan implementasi diversifikasi energy tersebut terealisir.
(bandingkan dengan AS yang pada tahun 2017 bertekad, 20 persen kebutuhan
energinya akan diperoleh dari biofuel, dan Prancis yang pada tahun 2020 bertekad
mengekspor listrik dari PLTN ke Eropa)
Target pencapaian energi terbarukan pada tahun 2025 tersebut harus didukung
kebijakan utama yang meliputi:
1. Penyediaan energi melalui:
a. Penjaminan ketersediaan pasokan energi dalam negeri.
b. Pengoptimalan produksi energi.
c. Pelaksanaan konservasi energi.
2. Pemanfaatan energi melalui
a. Efisiensi pemanfaatan energi.
b. Diversifikasi energi
3. Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan
tetap mempertimbangkan kemampuan usaha kecil, dan bantuan bagi
masyarakat tidak mampu dalam jangka waktu tertentu.
4. Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip

pembangunan

berkelanjutan
Kebijakan utama tersebut perlu diikuti kebijakan pendukung meliputi:
a. Pengembangan infrastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen
terhadap energi.
b. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha.
c. Pemberdayaan masyarakat.
d. Pengembangan penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan
pelatihan
Agar target pencapaian energi terbarukan 17% pada tahun 2025, maka perlu
disempurnakan dengan strategi pencapaian sasaran, yaitu:
1. Perubahan

paradigma

pengelolaan

energi

yang

berbasis

energi

berkelanjutan.
2. Penyempurnaan peraturan peraturan untuk mempercepat penyediaan dan
pemanfaatan Energi Terbarukan.
3. Mendorong diversifikasi pemanfaatan energi.

4. Menetapkan insentif bagi energi terbarukan agar dapat bersaing dalam


mekanisme pasar.
5. Mendorong investasi swasta.
6. Peningkatan kemandirian desa dibidang energi.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
energy terbarukan didefinisikan sebagai energy yang dapat diperoleh
ulang(terbarukan) seperti sinar matahari dan angin.
Sumber energy terbarukan adalah sumber energy ramah lingkungan yang
tidak mencemari lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan
iklim dan pemanasan global seperti pada sumber-umber tradisional lain. Ini adalah
alas an utama mengapa energy terbarukan sangat terkait dengan masalah
lingkungan dan ekologi di mata orang banyak. Jenis-jenis energy terbarukan
meliputi Energi matahari, Energi biomasa (biomass energy), Hydropower (sumber
daya

air), Energi

dari

laut

(ocean

energy), Energi

geothermal, Hidrogen, Biodiesel, Bioetanol,Gasifikasi

batu

angin, Energi
bara

(gasified

coal), Biofuel yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia yaitu Nanggroe


Aceh

Darussalam, Sumetera

Utara,

Sumatera

Barat,Riau,

Jambi,

Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Timur,


Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara
Barat, Nusa tenggara timur, Sulawesi Selatan,Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Papua, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah,
Jawa Barat, Banten.
Untuk mendukung upaya dan program pengebangan EBT, pemerintah sudah
menerbitkan serangkaian kebijakan dan regulasi yang mencakup Peraturan
Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, Undang-Undang No.
30/2007 tentang Energi, Undang-undang No. 15/1985 tentang Ketenagalistrikan,
PP No. 10/1989 sebagaimana yang telah diubah dengan PP No. 03/2005 Tentang
Perubahan Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan

Pemanfaatan Tenaga Listrik dan PP No. 26/2006 tentang Penyediaan &


Pemanfaatan Tenaga Listrik, Permen ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan
Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah, dan Kepmen
ESDM No.1122K/30/MEM/2002 tentang Pembangkit Skala Kecil tersebar. Saat
ini sedang disusun RPP Energi Baru Terbarukan yang berisi pengaturan
kewajiban penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan dan
pemberian kemudahan serta insentif.

DAFTAR PUSTAKA
https://kerendanunik.wordpress.com/2012/05/18/10-energi-terbarukan-diindonesia/
http://www.indoenergi.com/2012/04/pengertian-energi-terbarukan.html
http://web.mit.edu/ais-mit/www/seminar/files/pp_kebijakan-energi-nasional.pdf
https://indone5ia.wordpress.com/2011/12/20/potensi-sumber-energi-lokal-disetiap-propinsi-di-indonesia/