Anda di halaman 1dari 8

I.

TINJAUAN BOTANI
1. Klasifikasi Tumbuhan
Kingdom : Plantae
Superdivisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Order : Myrtales
Family : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Species : Syzygium polyanthum (Wight.) Walp (Van Steenis, 2003).
2. Nama Daerah
Sumatera: Maselangan, ubar serai (Melayu).

Jawa :Salam (Sunda),

Salam (Jawa) , Salam (Madura), Kastolan (Kangean). Indonesia (Daun


Salam) (Depkes RI, 2008).
3. Habitat
Terdapat di Birma ke arah selatan sampai Indonesia. Di Jawa tumbuh di
Jawa Barat sampai Jawa Timur pada ketinggian 5 m sampai 1.000 m di
atas permukaan laut. Pohon salam dapat tumbuh di dataran rendah
sampai pegunungan dengan ketinggian 1.800 m. Banyak tumbuh di
hutan maupun rimba belantara (Depkes RI, 1980).
4. Morfologi
Pohon, bertajuk rimbun, tinggi sampai 25 m. Daun bila diremas berbau
harum, berbentuk lonjong sampai elip atau bundar telur sungsang,
pangkal lancip sedangkan ujung lancip sampai tumpul, panjang 5 cm
sampai 15 cm, lebar 35 mm sampai 65 mm; terdapat 6 sampai 10 urat
daun lateral, panjang tangkai daun 5 mm sampai 12 mm. Perbungaan
berupa malai, keluar dari ranting, berbau harum. Bila musim berbunga
pohon akan dipenuhi oleh bunga bunganya. Kelopak bungan berbentuk

cangkir yang lebar, ukuran lebih kurang 1 mm. Mahkota bunga berwarna
putih, panjang 2,5 mm sampai 3,5 mm. Benang sari terbagi dalam 4
kelompok, panjang lebih kurang 3 mm berwarna kuning lembayung .
Buah buni, buah merah gelap, bentuk bulat dengan garis tengan 8 mm
sampai 9 mm, pada bagian tepi berakarlembaga yang sangat pendek
(Depkes RI, 1980).
5. Makroskopik
Berupa daun warna kecoklatan, bau aromatik lemah, rasa kelat. Daun
tunggal bertangkai pendek, panjang tangkai daun 5-10 mm. Helai daun
berbentuk jorong memanjang, panjang 7-15 cm, lebar 5-10 cm, ujung
dan pangkal daun meruncing, tepi rata; permukaan atas berwarna coklat
kehijauan, licin, mengkilat; permukaan bawah berwarna coklat tua;
tulang daun menyirip dan menonjol pada permukaan bawah, tulang
cabang halus (Depkes RI, 2008).
6. Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis bawah dengan tipe parasitis, berkas
pengangkut, serabut sklerenkim, epidermis atas dan kristal kalsium
oksalat bentuk roset, lepas (Depkes RI, 2008)
Epidermis atas terdiri atas satu lapis sel berbentuk persegi panjang,
dinding empat panjang, dinding tebal, kutikula tebal; pada pengamatan
tangensial dinding samping berkelok kelok, kutikula jelas bergaris. Sel
epidermis bawah lebih kecil daripada epidermis atas, dinding tipis,
kutikula tebal, pada pengamatan tangensial dinding samping lebih
berkelok kelok. Stomata tipe parasitik hanya terdapat pada epidermis
bawah. Mesofil : jaringan palisade terdiri dari 1 sampai 3 lapis sel,
umumnya 2 lapis, banyak terdapat sel idioblas berbentuk bulat berisi
hablus kalsium oksalat berbentuk roset dengan ukuran 10 mm sampai 40
mm. Jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel yang tersusun
mendatar; rongga udara banyak; pada daun yang sudah tua, dinding sel

bunga karang dapat agak menebal, bernoktah dan berlignin, hablur


kalsium oksalat serupa dengan warna yang terdapat di jaringan palisade.
Kelenjar lisigen berisi minyak dengan berwarna kekuningan, garis
tengah 50m sampai 80m, terdapat di jaringan palisade dan jaringan
bunga karang bagian bawah. Berkas pembuluh tipe bikolateral,
dikelilingi serabut sklerenkim, disertai serabut hablur kalsium oksalat
berbentuk roset; hablur di dalam floem berukuran lebih kecil; serabut
sklerenkim terdiri dari serabut berdinding sangat tebal, tidak berwarna,
jernih, berlignin, lumen sempit. Di dalam parenkim tulang daun utama
terdapat hablur kalsium oksalat berupa roset dengan ukuran seperti
hablur di palisade. Pembuluh kayu terutama terdiri dari pembuluh
dengan penebalan tangga dan spiral (Depkes RI, 1980).
6.1.

Mikroskopik dengan aquades

Serabut sklerenkim

Kristal Kalsium Oksalat

Berkas Pengangkut

6.2.

Epidermis bawah
dengan stomata tipe
parasitis

Mikroskopik dengan klorahidrat

Epidermis
atas

Berkas
Pengangk
ut

Serabut
sklerenki
m

II.

Epidermis atas

TINJAUAN KIMIA
1. Senyawa Identitas
Kuersitrin
Struktur Kimia :

Epidermis
bawah

Kristal
kalsium
oksalat

2. Kandungan senyawa kimia


Kadar flavonoid total tidak kurang dari 0,40 %
dihitung sebagai kursetin.
Minyak atsiri mengandung sitral dan eugenol; tanin; flavonoida.
3. Biosintesis senyawa identitas

(Muhtadi, 2012).
III.

TINJAUAN FARMAKOLOGI
1. Empiris

Secaraempirisdaunsalamdigunakansebagaiobatkencingmanis,
tekanan

darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol dan

menurunkankadarasamuratdarah yangdibuatdalambentukair
rebusandaunsalam (Agoes, 2008).
2. Pengujian pra klinis
3. Pengujian klinis

IV.

TINJAUAN FARMAKOGNOSI
1. Parameter spesifik
1. 1. Penetapan kadar senyawa larut air.
Sebanyak 1,0 g ekstrak direndam 25,0 mL air-kloroform LP selama 24
jam, disaring. Kemudian filtrat diuapkan, residu dipanaskan pada suhu
105oC hingga bobot tetap. Kadar sari larut air dihitung dalam persen
terhadap ekstrak awal.
1.2 Penetapan kadar kandungan total kimia (Chang et al, 2002)
a. Kadar kandungan flavonoid total
Penetapan kandungan total flavonoid dilakukan secara kolorimetri
dengan spektrofotometri visibel. Kurva kalibrasi quercetin dibuat dengan
seri kadar 4; 6; 8; 10; 12; 14 g/ml. Absorbansi larutan standar dibaca
pada spektrofotometer yang sebelumnya direaksikan dengan 0,1 ml
alumunium klorida 10% dan 0,1 ml kalium asetat 1 M. Inkubasi
dilakukan pada ruang gelap selama 85 menit pada suhu kamar,
absorbansi diukur pada panjang gelombang 437 nm.
b. Kadar kandungan fenolat total
Penetapan kadar fenolik total dihitung sebagai Gallic Acid Equivalent
(%). Kurva kalibrasi dibuat dengan menggunakan seri konsentrasi 2, 4, 6,
8, dan 10 g/ml. Reagen yang dipakai adalah folin ciocalteu. Absorbansi
diukur

pada

panjang

gelombang

spektrofotometer.
Hasil parameter spesifik literatur

(Muhtadi, 2012).

maksimum

745

nm

dengan

2. Parameter non spesifik


2.1 Penetapan bobot penyusutan
Lebih kurang timbang 2,0 g ekstrak dalam botol timbang dangkal bertutup
yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105 0C selama 30 menit dan
hingga bobot tetap.
2.2 Penetepan kadar air
Penetapan kadar air ditetapkan dengan cara distilasi toluene. Labu
dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluene mulai mendidih,
penyulingan diatur 2 tetes/detik, lalu 4 tetes/detik. Setelah semua toluene
mendidih. Setelah lapisan air dan toluene memisah sempurna, volume air
dibaca dan dihitung kadar air dalam persen terhadap berat ekstrak semula.
2.3. Penetapan kadar abu total
Lebih kurang 2,0 g ekstrak ditimbang seksama dimasukkan ke dalam krus
silikat yang telah dipijarkan, hingga bobot tetap dan ditimbang.
2.4. Penetapan kadar abu tidak larut asam
Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah
dikeringkan.
2.5. Penetapan cemaran aflatoksin
Menggunakan

metode

KLT

(Kromatografi

Lapis

Tipis)

dengan

membandingkan baku aflatoksin campuran.


2.6. Penetapan kadar cemaran logam berat (Pb dan Cd)
Dengan metode digesti basah menggunakan asam nitrat dan asam perklorat
sebagai katalisator. Kadar Pb dan Cd dibaca dengan metode spektrofotometri
Serapan Atom.
Hasil parameter non spesifik

(Muhtadi, 2012).

V.

TINJAUAN METODE
1. Ekstraksi
Ekstraksi dilakukan dengan cara serbuk daun salam direbus dengan air
sampai volume menjadi separoh dari volume awal, kemudian disaring
dan filtrat dievaporasi dengan rotary evaporator (RE) sehingga diperoleh
ekstrak kental. Kemudian ekstrak kental yang diperoleh dikeringkan
dalam Vaccum Dryer dan Vaccum Oven sampai kering (Muhtadi, 2012).
2. Pemeriksaan parameter standar simplisia

3. Pemeriksaan parameter standar ekstrak


DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan.
Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Muhtadi, Andi S.,Nurcahyanti W., dan EM. Sutrisna. 2012. The Potential of Salam
Leaves and Black Cumin Seed as a Candidate Standarized Herbal Medicine of
Uric Acid. Jurnal Pharmacon Vol. (13) No (1).
Van Steenis, C.G.G.J. 2003. Flora. Jakarta: P.T. Pradya Paramita.