Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

KEPERAWATAN REPRODUKSI I
ASUHAN KEPERAWATAN TROFOBLAS GANAS

Disusun Oleh:
Maratus Sholihah

131211131009

Ayu Dyah Pramitha Hadhi 131211131025


Nurul Azizah

131211131101

Indah Nur Rahmawati

131211132012

Handira N Aini

131211132049

Arum Rahmawati Virgin

131211133035

Aulia Farudatul Ummam 131211133021


Achmad Rifqi Fuadi

131211133038

Kelompok 5 / Kelas A-1

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah
ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Trofblas Ganas.
Dalam penyusunan makalah ini, kami banyak mendapat hambatan, akan
tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya
karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya
mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca
sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Surabaya, 08 Oktober 2014

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Tujuan.......................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Trofoblas Ganas..........................................................................3
2.2 Klasifikasi Trofoblas Ganas.....................................................................3
2.3 Etiologi Trofoblas Ganas..........................................................................4
2.4 Patofisiologi Trofoblas Ganas..................................................................5
2.5 WOC Trofoblas Ganas.............................................................................7
2.6 Manifestasi Klinis Trofoblas Ganas.........................................................8
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Serviks..............................................................9
2.8 Penatalaksanaan Kanker Trofoblas Ganas..............................................9
2.9 Komplikasi Trofoblas Ganas....................................................................11
2.10 Prognosis Trofoblas Ganas.....................................................................12
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Kasus.......................................................................................................13
3.2 Pengkajian...............................................................................................13
3.3 Analisa Data............................................................................................14
3.4 Diagnosa Keperawatan............................................................................16
3. 5 Intervensi.................................................................................................16
BAB VI PENUTUP
4.1Kesimpulan................................................................................................19
4.2 Saran.........................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................20

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Trofoblas adalah kumpulan penyakit yang berasal dari
penyimpangan pertumbuhan jaringan trofoblas yang bersifat neoplastik dan
karsinoma, pembagian klinik penyakit trofoblas ini ada dua yaitu Trofoblas
jinak atau disebut Mola hidatidosa (Hamil anggur) dan trofoblas ganas atau
disebut

kario

karsinoma

Manuaba,

2001).

Trofoblas

ganas

(Koriokarsinoma) adalah tumor ganas (maligna) dari trofoblast dan biasanya


timbul setelah kehamilan mola, kadang-kadang setelah abortus atau
persalinan.
Lima belas sampai dua puluh persen penderita mola hidatidosa dapat
berubah menjadi ganas dan dikenal sebagai tumor trofoblas gestasional.
Angka kejadian trofoblas gestasional berbeda-beda pada suatu negara
dengan negara lain. Angka kejaian di dunia adalah 0,5-2,5 per 1000
kehamilan. Angka insiden di Amerika utara adalah 0,6-1,1 per 1000
kehamilan,

dengan

kario

karsinoma

muncul

setiap

20.000-40.000

kehamilan. Secara umum didapatkan angka insiden yang lebih tinggi pada
orang Amerika tengah, Afrika, dan Asia. Untuk Indonesia sendiri,
dilaporkan angka kejadian penyakit trofoblas ganas (PTG) sebesar 11,5 per
1.000 kehamilan. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu
negara dengan angka insiden penyakit gestasional trrofoblas tertinggi di
dunia (Rasjidi, 2010).
Penyakit PTG dapat didahului oleh proses fertilisasi (Mola
hidatidosa, kehamilan biasa, abortus, kehamilan ektopik) bahkan dapat
merupakan produk langsung dari hasil konsepsi atau yang bukan didahului
oleh suatu kehamilan. Penyakit ini sering terjadi pada usia 14-49 tahun
dengan rata-rata 31,2 tahun. Resiko terjadinya PTG yang non metastase
75% didahului oleh mola hidatidosa dan sisanya oleh abortus, kehamilan
ektopik atau kehamilan aterm. Resiko terjadinya PTG yang metastase 50%
didahuluui oleh mola hidatidosa, 25% oleh abortus, 22% oleh kehamilan

aterm, dan 3% oleh kehamilan ektopik. Angka kesembuhan pada


pengobatan PTG sekarang ini lebih dari 90% (soekimin, 2005).
Prognosis dari penyakit trofoblas ganas jika makin dini diagnosa
dibuat dan makin dini pengobatan dimuali maka akan semakin baik
prognosanya.
1.2 Tujuan
1.2.1

Tujuan Umum
Setelah persentasi kelompok 5 pada mata kuliah sistem
reproduksi diharapkan mahasiswa mampu mengetahui mengenai
konsep asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami trofoblas
ganas.

1.2.2

Tujuan Khusus
1. Menjelaskan definisi dari Trofoblas ganas.
2. Menjelaskan etiologi/ faktor pencetus dari Trofoblas ganas.
3. Menjelaskan manifestasi klinis dari Trofoblas ganas.
4. Menjelaskan klasifikasi dari Trofoblas ganas.
5. Menjelaskan patofisiologi Trofoblas ganas.
6. Menjelaskan pemeriksaan penunjang pada Trofoblas ganas.
7. Menjelaskan penatalaksanaan klien dengan Trofoblas ganas.
8. Menjelaskan komplikasi dari Trofoblas ganas.
9. Menjelaskan prognosis dari Trofoblas ganas.
10. Menjelaskan WOC dari Trofoblas ganas.
11. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan Trofoblas
ganas.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Koriokarsinoma (Penyakit Trofoblas Ganas) adalah salah satu jenis dari
Penyakit Trofoblastik Gestasional (PTG) dimana merupakan suatu tumor
ganas yang berasal dari sel-sel sitotrofoblas serta
(pembentuk plasenta)

yang

sinsitio trofloblas

menginvasi miometrium, merusak jaringan

disekitarnya termasuk pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan


(Berek, 1996).
Koriokarsinom aialah suatu keganasan, berasal dari jaringan trofoblas
dan kanker yang bersifat agresif, biasanya dari plasenta. Hal ini ditandai
dengan metastase perdarahan yang cepat ke paru-paru (Wikipedia, 2014).
Koriokarsinoma adalah tumor ganas yang berasal dari jaringan yang
mengandung trofoblas, seperti: lapisan trofoblas ovum yang sedang tumbuh,
vili dari plasenta, gelembung mola, dan emboli sel-sel trofoblas dimanapun di
dalam tubuh (Dito,2008).
Korioadalah istilah yang diambil dari vili korionik yaitu salah satu
jenis selaput pada rahim manusia. Istilah Karsinoma merupakan kanker
yang berasal dari sel-sel epithelial. Karena kanker ini merupakan kanker yang
berasal dari salah satu plasenta yaitu korion maka salah satu ciri khusus dari
kanker

ini

adalah

menghasilkan

hormon

hCG

(Human

Chorionic

Gonadothropin) yang sangat tinggi bahkan melebihi kadar hCG pada wanita
hamil. Koriokarsinoma bisa menyerang semua wanita yang pernah hamil
termasuk wanita yang pernah mengalami molahidatidosa. Tidak seperti
molahidatidosa, korikarsinoma bisa menyerang banyak organ dalam tubuh,
seperti hati, limpa, paru-paru, tulang belakang, otak juga dinding rahim.
2.2 Klasifikasi
Menurut International Union Against Cancer (IUCR) maka penyakit
trofoblastik dibedakan menjadi :

a. Berdasarkan hubungan dengan fertilisasi


1. Gestasional choriocarcinoma (didahului oleh fertilisasi)
2. Non Gestasionl choriocarcinoma ( Tanpa didahului fertilisasi,
biasanya pada kelainan ovarium )
b. Berdasarkan diagnosis klinik
1. Non metastasis choriocarcinoma ( hanya pada uterus )
2. Metastasis (sampai ke luar pelvic)
c. Berdasarkan diagnosis Hystology (villus)
1. Choriocarcinoma villosum ( terdapat villi dan hanya pada
pelvic )
2. Choriocarcinomanon villosum ( menyerang alat genital, paru,
otak, hepar,dll)
d. Stadium berdasarkan pencitraan stagging FIgo 1982 yaitu ;
1. Stadium I : Tumor terbatas pada uterus
2. Stadium II : Tumor ke adneksa atau vagina namun terbatas
pada struktur genitalia
3. Stadium III : Tumor bermetastase ke paru, dengan atau tanpa
metastase di genitalia
4. Stadium IV : Bermetastas ke tempat lain : otak, hepar, saluran
cerna, dll
2.3 Etiologi
Etiologi terjadinya koriokarsinoma belum jelas diketahui. Trofoblas
normal cenderung menjadi invasif dan erosi pembuluh darah berlebihan.
Metastase sering terjadi lebih dini dan biasanya sering melalui pembuluh
darah jarang melalui getah bening. Tempat metastase yang paling sering
adalah paru-paru (75%) dan kemudian vagina (50%). Pada beberapa kasus
metastase dapat terjadi pada vulva, ovarium, hepar, ginjal, dan otak
(Cunningham,2005).
Faktor-faktor yang menyebabkan antara lain:
1) Faktor ovum
Ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat
dikeluarkan.
2) Immunoselektif dari trofoblast
Yaitu dengan kematian fetus, pembuluh darah pada stroma villi
menjadi jarang dan stroma villi menjadi sembab dan akhirnya terjadi
hyperplasia sel-sel trofoblast.
3) Keadaan sosial ekonomi yang rendah

Keadaan sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap pemenuhan gizi


ibu yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan ovum
abnormal yang mengarah pada terbentuknya mola hidatidosa.
4) Paritas tinggi
Ibu dengan paritas tinggi, memiliki kemungkinan terjadinya
abnormalitas pada kehamilan berikutnya, sehingga ada kemungkinan
kehamilan berkembang menjadi molahidatidosa dan berikutnya
menjadi koriokarsinoma.
5) Kekurangan protein
6) Infeksi virus dan faktor kromosom

2.4 Patofisiologi
Bentuk tumor trofoblas yang sangat ganas ini dapat dianggap sebagai
suatu karsinoma dari epitel korion, walaupun perilaku pertumbuhan dan
metastasisnya mirip dengan sarkoma. Faktor-faktor yang berperan dalam
transformasi keganasan korion tidak diketahui. Pada koriokarsinoma,
kecenderungan trofoblas normal untuk tumbuh secara invasif dan
menyebabkan erosi pembuluh darah sangatlah besar. Apabila mengenai
endometrium, akan terjadi perdarahan, kerontokan dan infeksi permukaan.
Masa jaringan yang terbenam di miometrium dapat meluas keluar, muncul
di uterus sebagai nodul-nodul gelap irreguler yang akhirnya menembus
peritoneum (Cunningham, 2005).
Gambaran diagnostik yang penting pada koriokarsinoma, berbeda
dengan molahidatidosa atau mola invasif adalah tidak adanya pola vilus.
Baik unsur sitotrofoblas maupun sinsitium terlibat, walaupun salah satunya
mungkin predominan. Dijumpai anplasia sel, sering mencolok, tetapi
kurang bermanfaat sebagai kriteria diagnostik pada keganasan trofoblas
dibandingkan dengan pada tumor lain. Pada pemeriksaan hasil kuretase
uterus, kesulitan evaluasi sitologis adalah salah satu faktor penyebab
kesalahan diagnosis koriokarsinoma. Sel-sel trofoblas normal ditempat
plasenta secara salah didiagnosis sebagai koriokarsinoma. Metastasis
sering berlangsung dini dan umumnya hematogen karena afinitas trofoblas
terhadap pembuluh darah.

Koriokarsinoma dapat terjadi setelah molahidatidosa, abortus,


kehamilan ektopik atau kehamilan normal. Tanda tersering, walaupun
tidak selalu ada, adalah perdarahan irreguler setelah masa nifas dini
disertai subinvolusi uterus. Perdarahan dapat kontinyu atau intermitten,
dengan perdarahan mendadak dan kadang-kadang masif. Perforasi uterus
akibat pertumbuhan tumor dapat menyebabkan perdarahan intraperitonium
(Cunningham, 2005).
Kehamilan mola dan neoplasma trofoblastik gestasional semuanya
berasal dari trofoblas

plasenta. Trofoblas normal tersusun dari

sitotrofoblas, sinsitiotrofoblas, dan trofoblas intermediet. Sinsitiotrofoblas


menginvasi stroma endometrium dengan implantasi dari blastokista dan
merupakan sebuah tipe sel yang memproduksi human chorionic
gonadotropin (hCG). Fungsi sitotrofoblas adalah untuk menyuplai
sinsitium dengan sel-sel sebagai tambahan untuk pembentukan kantong
luar yang menjadi vili korion sebagai pelindung kantung korion. Vili
korion berbatasan dengan endometrium dan lamina basalis dari
endometrium membentuk plasenta fungsional untuk nutrisi fetal-maternal
dan membuang sisa-sisa metabolisme. Trofoblas intermediet terletak di
dalam vili, tempat implantasi, dan kantong korion. Semua tipe dari
trofoblas dapat mengakibatkan penyakit trofoblas gestasional ketika
mereka berproliferasi

2.5 WOC
Etiologi

Faktor predisposisi

Trofoblas normal

Tumbuh infasif

Mola hidatidosa
Abortus
Kehamilan aterm
Kehamilan ektopik

Umur
Kekurangan protein
Keadaan sosial
ekonomi

Penyakit Trofoblas Ganas


(PTG)

Perforasi uterus

Peningkatan
kadar -HCG

Perdarahan iregular
pada dinding uterus

Perdarahan
intraperitoneum

Mual dan
muntah
Nafsu makan
menurun

Kadar Hb
menurun

MK. ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

MK. Gangguan Perfusi


Jaringan (Anemia)
Bermetastase

Paru-paru
Pengobatan /
terapi

Vagina

Jumlah sel trofoblas


meningkat

Nyeri di daerah
perianal

Jumlah sel trofoblas


meningkat
Emboli paru
akut

Kecemasan pada
penyakitnya
Iskemik
Nekrosis

Cemas dalam
berhubungan
seksual

Hemaptoe
(Batuk darah)

MK. nyeri

MK. Gangguan pola napas

MK. Ansietas

2.6 Manifestasi Klinis


Gambaran klinis yang harus diketahui adalah:
1. Trias acosta sison
a. Riwayat mola hidatidosa 50%, hamil aterm 15%, abortus 25%
b. Perdarahan setelah dilakukan terapi
c. Pelunakan uterus
d. Pembesaran uterus asimetris, terjadi perforasi dan perdarahan
intraabdominal
2. Metastase jauh karena sifat metastasenya hematogen
a. Paru 60-95%
b. Vagina 40-50%
c. Vulva, serviks 10-15%
d. Otak 5-15%
e. Hati 5-15%
f. Ginjal 0-5%
g. Limpa 0-5%
h. Usus 0-5%
3. Metastase pada hati dan otak tergolong mempunyai resiko tinggi
karena kemoterapi tidak mampu mencapainya.
4. Metastase vagina dianggap patognomonis untuk koriokarsinoma,
sekalipun masih dalam bentuk mola hidatidosa.
5. Konsentrasi beta hCG tinggi, di atas 100.000 mIU/ml dalam urin 24
jam dan dalam serum lebih dari 40.000 mIU/ml.
Gejala Klinis:
a.Perdarahan yang tidak teratur setelah berkhirnya suatu kehamilan dan
dimana terdapat subinvolusi uteri, perdarahan dapat terjadi terus
menerus atau intermiten bahkan massif
b.Pada pemeriksaan ginekologi ditemukan uterus membesar dan lembek,
kista teka lutein, lesi metastase di vagina atau organ lain
c.Kadar hCG pasca molanaik turun
d.Pada foto thorax dapat terlighat lesi metasase, missal pada paru-paru
e.Pada sediaan gispatology dapat ditemukan villus
Perdarahan karena perforasi usus/ lesi metastase dapat menimbulkan
gejala : nyeri perut, batuk berdahak, melena, peninggian tekanan
intracranial berupa sakit kepala, kejang, dan hemiplegia.
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
Beberpa hal yang akan didapatkan dari hasil pemeriksaan pada pasien
dengan trofoblas ganas, yakni :

1) Didapati perdarahan pervaginam yang menetap


2) Titer hCG yang tetap atau meninggi setelah terminasi melahirkan
Kadar hCG dalam beberapa minggu setelah periode menstruasi terakhir:
a. 3 minggu LMP: 5 - 50 mIU/ml
b. 4 minggu LMP: 5 - 426 mIU/ml
c. 5 minggu LMP: 18 - 7,340 mIU/ml
d. 6 minggu LMP: 1,080 - 56,500 mIU/ml
e. 7 - 8 minggu LMP: 7, 650 - 229,000 mIU/ml
f. 9 - 12 minggu LMP: 25,700 - 288,000 mIU/ml
g. 13 - 16 minggu LMP: 13,300 - 254,000 mIU/ml
h. 17 - 24 minggu LMP: 4,060 - 165,400 mIU/ml
i. 25 - 40 minggu LMP: 3,640 - 117,000 mIU/ml
3) Pemeriksaan USG, karena sensitivitas titer -hCG yang kurang akurat
4) Bisa juga dilakukan Foto Thorax karena adanya kemungkinan kanker
bermetastasis di vagina, serviks, paru-paru atau otak. Pada pemeriksaan
foto thorax dapat ditemukan adanya lesi yang metastase.
Alat diagnosis terpenting adalah pemeriksaan fisik yang seksama,
karena tumor itu biasanya solid, transiluminasi. Tomografi koputasi (CT)
digunakan untuk menilai adanya penyakit metastasis. Pemeriksaan ini diikuti
segera tindakan bedah (bisanya orkhidektomi inguinal) dan pemeriksaan
histology. Pemeriksaan USG untuk memastikan keberadaan dan lokasi suatu
massa harus diikuti dengan CT dada, perut, dan pelvis untuk menentukan
stadium tumor. Pemeriksaan pencitraan setiap penderita dengan tanda dan
gejala tumor sel benih harus meliputi radiografi polos, CT scan dada, dan
scan tulang radionuklida untuk mengenali penyakit metastasis. Untuk
penderita dengan tumor sakrokosigeal, MRI lebih jitu daripada CT scan
9

dalam mengidentifikasi ekstensi tumor local ke dalam tulang yang berdekatan


satau saluran intraspinal. Diagnosis pasti dikonfirmasikan secara histology
setelah eksisi bedah atau biopsy. Kadar AFP dan -HCG serum harus diukur
waktu penderita ditemukan dan dipantau selama terapi. Petanda biologic ini
amat berguna dalam proses diagnosis dan pada evaluasi efektivitas terapi.
2.8 Penatalaksanaan
Prinsip

dasar

penanganan

penyakit

trofoblas

ganas

adalah

Kemoterapi dan Operasi serta Follow Up.


a. Indikasi Kemoterapi :
1) Meningkatnya hCG setelah evakuasi
2) Titer hCG sangat tinggi setelah evakuasi
3) hCG tidak turun selama 4 bulan setelah evakuasi
4) Meningginya hCG setelah 6 bulan pasca evakuasi atau turun
tetapi terlambat
5) Apabila sudah terjadi metastase ke paru-paru,vulva, vagina
kecuali jika hCG turun.
6) Metastase ke organ tubuh lainya (hepar, otak)
7) Perdarahan vaginal yang berat atau adanya

perdarahan

gastrointestinal
8) Gambaran histology koriokarsinoma
b. Operatif
Operatif merupakan tindakan utama dalam penanganan dini penyakit
trofoblas ganas (PTG), walaupun tumor sudah lama bila masih
terlokalisir di uterus tindakan histerektomi baik dilakuukan. Pasienpasien dengan pervaginam yang normal dengan uterus menerus,
setelah abortus mola dan persalinan yang normal dengan uterus
sebesar kehamilan 12 minggu dan tidak ruptur operasinya
diutamakan histerektomi pervaginam. Bila penyakit telah meluas
diluar uterus, histerektomi dilakukan hanya atas dasar perdarahan dari
uterus yang hebat atau resisten terhadap kemoterapi.
c. Follow up
Standar follow up dari sebagian literatur adalah sebagai berikut:
1) Pemeriksaan -hCG serum/urin
Diperiksakan setiap minggu sampai dinyatakan negatif selama 3
kali pemeriksaan, selanjutnya setiap bulan selama 12 bulan
10

kemudian setiap 2 bulan selama 12 bulan dan selanjutnya setiap 6


bulan. Setelah kemoterapi titer -hCG akan turun pada batas yang
tidak dapat dideteksi selama 2 bulan awal pengobatan.
2) Pemeriksaan pelvic dilakukan setiap minggu, setelah evakuasi
suatu kehamilan sampai batas normal. Selanjutnya setiap 4
minggu mengevaluasi perubahan-perubahan besar uterus dan
munculnya kista teka lutein.
3) Thorax foto
Jika terapi sempurna telah selesai, ternyata masih tampak sisa
tumor di paru-paru diperlukan pemeriksaan radiographis selama 2
tahun, untuk melihat bukti apakah sisa tumor hilang.
2.9 Komplikasi
Komplikasi yang terjadi biasanya metastase jauh ke organ tubuh
yang lain karena sifatnya metastasis hematogen. Contoh metastasis ke paruparu, otak, hepar, vagina.
Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi akibat penyakit trofoblas
ganas antara lain:
a. Perforasi uterus saat melakukan tindakan kuretase (suction curettage)
terkadang terjadi karena uterus luas dan lembek (boggy). Jika terjadi
perforasi, harus segera diambil tindakan dengan bantuan laparoskop.
b. Perdarahan (hemorrhage) merupakan komplikasi yang sering terjadi saat
pengangkatan (evacuation) mola. Oleh karena itu, oksitosin intravena
harus diberikan sebelum evakuasi mola. Methergine dan atau Hemabate
juga harus tersedia. Selain itu, darah yang sesuai dan cocok dengan
pasien juga harus tersedia.
c. Penyakit trofoblas ganas (malignant trophoblastic disease) berkembang
pada 20% kehamilan mola. Oleh karena itu, quantitative HCG sebaiknya
dimonitor

terus-menerus

selama

satu

tahun

setelah

evakuasi

(postevacuation) mola sampai hasilnya negatif.


d. Pembebasan faktor-faktor pembekuan darah oleh jaringan mola memiliki
aktivitas fibrinolisis. Oleh karena itu, semua pasien harus diskrining
untuk disseminated intravascular coagulopathy (DIC).
e. Emboli trofoblas dipercaya menyebabkan acute respiratory insufficiency.
Faktor risiko terbesar adalah ukuran uterus yang lebih besar

11

dibandingkan usia kehamilan (gestational age) 16 minggu. Kondisi ini


dapat menyebabkan kematian.
2.10 Prognosis
Prognosis bergantung kepada luasnya penyakit pada waktu diagnosis
dan kepada tempat primer (gonad vs ekstragonad). Dengan terapi modern,
70-80% dari semua penderita dengan tumor sel benih yang ganas akan
hidup tanpa oenyakit 5 tahun setelah diagnosis. Untuk penderita dengan
penyakit yang terlokalisasi dan prognosis amat baik, percobaan mutakhir
difokuskan pada meminimalkan toksisitas. Hasil terapi kurang baik (angka
ketahanan hidup 5-tahun adalah 40-70%) untuk penderita dengan penyakit
lanjut dan penelitian difokuskan pada pengintesifan terapi. Beberapa
penderita dengan penyakit berulang dapat mencapai remisi atau sembuh
dengan terapi penyelamatan (salvage therapy).
Ada beberapa hal yang bisa digunakan untuk menentukan prognosis
dari trofobalas ganas termasuk baik atau jelak yakni :
1. Prognosis baik resiko rendah
a. hCG < 100,000 IU/24 jam urine atau <40,000 ml IU/ml serum
b. Metastase terdapat pada uterus atau paru-paru, pelvic dan vagina
c. Belum pernah di kemoterapi
d. Bukan dari fertilisasi uterus
2. Prognosis jelek resiko tinggi
a. hCG > 100,000 IU/24 jam urine atau > 40,000 ml IU/ml serum
b. Tidak saja metastase di paru adan genitalia melainkan juga pada
otah, hati, saluaran pencernaan
c. Pernah kemoterapi
d. Kehamilan uterus ada sebelumnya.

12

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1

Kasus
Seorang perempuan berusia 36 tahun mempunyai 3 orang anak yang
termuda berusia 2 bulan. Datang ke Rumah Sakit, pasien mengeluh dalam 4
bulan terakhir klien merasa mual-mual berlebihan, hilang selera makan,
sedikit nyeri di daerah perianal dan sering terjadi perdarahan berlebihan di
vagina (skala nyeri 4). Hasil TTV, TD: 100/70 mmHg, N: 105x/mnt, RR:
20x/mnt, S: 365C. Klien tampak pucat dan lemas, setelah dilakukan
pemeriksaan uterus mengalami pembesaran, lembek, dan terdapat massa
sebesar 5 cm di dinding posterior dari vagina dekat pintu keluar. Klien
pernah terdiagnosa mola hidatidosa pada tahun pertama setelah kelahiran
anak kedua. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan ada peningkatan
kadar -hCG dalam darah. Setelah dilakukan 4 kali pemeriksaan dalam 3
minggu kadar -hCG menunjukkan angka > 100.000 IU/urin dalam 24jam,
Hb : 7 gr/dl. Dokter mendiagnosa perempuan tersebut menderita
koriokarsinoma. Sekarang merupakan hari ke 8 pasien dirawat dan telah
mengalami 2 kali kemoterapi.

3.2

Pengkajian
I.

II.

Identitas
Nama
: Seorang perempuan
Umur
: 36 tahun
Alamat
: Trenggalek
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Keadaan Umum
TD : 100/70 mmHg N : 105x/menit RR : 20x/menit S : 36,5 C

III.
IV.

Keluhan Utama : mual-mual berlebihan, nyeri di daerah perianal.


Riwayat Penyakit Sekarang : klien merasa mual-mual berlebihan,
hilang selera makan, sedikit nyeri di daerah perianal dan sering terjadi

V.

perdarahan berlebihan di vagina.


Riwayat Menstruasi : selama 4 bulan terakhir mengalami menoraghi
dan perdarahan yang berlebihan pada vagina.

13

VI.

Riwayat Penyakit Dahulu : klien pernah terdiagnosa mola hidatidosa

VII.

pada tahun pertama setelah kelahiran anak kedua.


Riwayat Penyakit Keluarga : tidak ada keluarga yang pernah mengalami
penyakit seperti ini.
Riwayat Alergi : tidak ada riwayat alergi.
Review Of System
B1 : tidak ada sesak napas
B2 : Suara jantung normal, CRT < 2 detik
B3 : GCS 456
B4 : Tidak ditemukan masalah
B5 : Makan 2x/hari porsi, intake cairan 1 liter/hari, dan mengeluh

VIII.
IX.

nyeri pada daerah perianal dengan skala nyeri 4.


B6 : Tidak ditemukan masalah
3.3

Analisa Data

Data
DS : klien mengatakan
sering terjadi perdarahan
berlebihan pada vagina.
DO : Klien tampak pucat
dan lemas.

Etiologi
Perforasi uterus

Perdarahan berlebih

MK
Gangguan Perfusi Jaringan
(Anemia)

Kadar Hb menurun

Anemia

Hb = 7 gr/dl

Merasa lemas

Gangguan Perfusi Jaringan


(Anemia)
Villus membesar dg isi air
bukan janin
sedikit nyeri di daerah

perianal dan sering terjadi


Sel-sel trofoblast
berproliferasi
perdarahan berlebihan di

vagina.
Kadar -HCG

DO : setelah dilakukan
Pembesaran uterus & vagina
pemeriksaan
uterus

Nyeri di daerah perianal


mengalami pembesaran,
DS

lembek,

klien

dan

mengeluh

terdapat

massa sebesar 5 cm di
14

Nyeri akut

dinding

posterior

dari

vagina dekat pintu keluar.


Skala nyeri : 4
DS : klien mengeluh
merasa

mual

Kadar -HCG

Mual berlebihan

Nafsu makan

Asupan nutrisi

mual

berlebihan, hilang selera


makan.
DO : klien tampak pucat,
makan 2x/hari porsi.
DS : klien mengeluh
merasakan nyeri daerah
perianal saat melakukan
hubungan seksual, pasien
menyatakan

ketakutan

keharmonisan

rumah

tangganya terganggu.

Ketidakseimbangan nutrisi :
kurang dari kebutuhan tubuh

Ansietas
Perdarahan pervagina

Ketidaktahuan tentang
penyakitnya

Cemas dalam hal


berhubungan seksual

Ansietas

DO :
-

klien

terus

menanyakan

apakah

masih
melakukan
-

boleh
hubungan

seksual.
suami
klien
menanyakan

terus
tentang

penyakit istrinya.
3.4

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan (anemia) berhubungan dengan Perdarahan
berlebih.
2. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran uterus dan vagina.
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual yang berlebihan.
4. Ansietas berhubungan dengan ketidakefektifan pola seksualitas
terhadap kondisi penyakit.

15

3.5

Intervensi
1. Ganggsuan perfusi jaringan (anemia) berhubungan dengan perdarahan
berlebih.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam perdarahan
dapat berkurang atau teratasi.
Kriteria Hasil : Perdarahan tidak ada, TTV dalam batas normal.
Intervensi :
1) Mengatasi perdarahan dengan pemberian cairan dan transfusi
2)
3)
4)
5)

darah.
Monitor intake dan output
Tingkatkan dan monitor keseimbangan cairan dan elektrolit
Monitor tanda-tanda vital klien dalam batas normal.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi, bertujuan

untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan lebih lanjut.


2. Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran uterus dan vagina.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil : skala nyeri berkurang, TTV dalam batas normal.
Intervensi :
1) Bantu px untuk mendapatkan posisi tubuh yang nyaman dan
rubah posisi tiap 2 jam.
2) Pertahankan px dalam keadaan tirah baring.
3) Berikan preparat antikolinergik dan analgetik sesuai resep
dokter.
4) Evalusi intensitas, frekuensi, skala dan pemberat nyeri.
5) Monitoring tanda-tanda vital.
3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual yang berlebihan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
nutrisi klien dapat terpenuhi.
Kriteria Hasil : makan 3x/hari dan porsi makan habis.
Intervensi :
1) Jelaskan pentingnya nutrisi adekuat bagi proses penyembuhan
penyakit.
2) Beri dorongan klien agar meningkatkan selera makannya,
seperti menanyakan makanan yang disukai klien.
3) Beri suasana makan yang rileks.

16

4) Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering untuk mengurangi


perasaan tegang pada lambung.
5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penetapan asupan nutrisi
klien.
6) Pantau kadar -hCG pasien secara berkala.
7) Pantau porsi makan yang dihabiskan klien.
4. Ansietas berhubungan dengan ketidakefektifan pola seksualitas
terhadap kondisi penyakit.
Tujuan : klien mengetahui kapan saja dia bisa melakukan hubungan
seksual.
Kriteria Hasil :
Pola seksualitas klien normal
Klien terlihat tidak cemas terhadap aktifitas seksualnya
Klien mampu menggunakan mekanisme koping yang efektif.
Intervensi :
1) Identifikasi penyebab ketidakefektifan pola seksualitas.
2) Kaji tingkat kecemasan klien.
3) Jelaskan pada klien waktu untuk melakukan hubungan seksual
sesuai
kondisinya.
4) Beri edukasi tentang keadaan klien apabila berhubungan
seksual.
5) Pantau keadaan umum klien.

17

BAB 4
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Trofoblas ganas (Koriokarsinoma) adalah tumor ganas (maligna)
dari trofoblast dan biasanya timbul setelah kehamilan mola hidatidosa,
kadang-kadang setelah abortus atau persalinan. Etiologi terjadinya
koriokarsinoma belum jelas diketahui. Trofoblas normal cenderung
menjadi invasive dan erosi pembuluh darah berlebih-lebihan. Metastase
sering terjadi lebih dini dan biasanya sering melalui pembuluh darah
jarang melalui getah bening. Tempat metastase yang paling sering adalah
paru- paru 75% dan kemudian vagina 50%. Pada beberapa kasus
metastase dapat terjadi pada vulva, ovarium, hepar, ginjal, dan otak
Cunningham,

1990.

Wikipedia,

2009

menyebutkan

bahwa

koriokarsinoma selama kehamilan bisa didahului oleh:Mola hidatidosa


( 50% kasus ), Aborsi spontan ( 20% kasus ), Kehamilan ektopik ( 2%
kasus ), Kehamilan normal ( 20-30% kasus).
Faktor yang paling penting yang

memastikan penderita ini

menghidap koriokarsinoma adalah kandungan hormon HCG (Human


Chorionic Gonadotrophin) di dalam badan mereka. Pada penatalaksanaan
kemoterapi, Koriokarsinoma merupakan tumor yang sensitif terhadap
obat-obatan kemoterapi, dari hasil survey menunjukkan bahwa dengan
kemoterapi pasien dengan koriokarsinoma mengalami kesembuhan 9095%. Pasien dengan penyakit trofoblas ganas, jika makin dini diagnosa
dibuat dan makin dini pengobatan dimulai maka akan semakin baik
prognosisnya.
4.2

Saran
Penulis

mengharapkan sebagai seorang perawat kita harus

mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan dari Penyakit


trofoblas ganas (PTG), dan perawat juga harus dapat mengatasi atau
mencegah terjadinya penyebab terjadinya Penyakit trofoblas ganas (PTG).
Agar resiko kematian atau prognosis buruk lainnya dapat terhindarkan.

18

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC.
Rasjidi, Imam. 2010. 100 Questions & Answer: Kanker pada Wanita. Jakarta : Pt
Elex Media Komputindo.
Soekimin.

2005.

related:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/2042/1/

patologi-soekimin3.pdf trofoblas ganas. Di akses pada tgl 28 september


2014.
http://www.indocancer.com/cancer/article_detail.asp?cat=14&id=12, diakses pada
tanggal 27 September 2014 pukul 19.45.
Cunningham, F. Gary,Gant. 2005. Obstetri williams vol2. Jakarta: EGC
Price, Sylvia. 2006.Patofisiologi (Vol 1 & 2) ed-6.Jakarta:EGC
Wikipedia

(2014).

Choriocarsinoma.

From

Choriocarcinoma, diakses pada tanggal 04

http://en.wikipedia.org/wiki/
Oktober 2014 pukul 17.05.

Cunningham, MacDonald, Gant. Gestattional trophoblastic disease, Willm


Obstetric 9th. 1990
Fadjir. Karakteristik penderita penyakit trofoblas ganas di RS. Dr. Pirngadi Medan
1985-1994, Tesis Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU, 1996
Berek S, Jonethan. Novaks Gynecology International Education, cetakan ke 12.
1996
Pernoll. Gestational Trophoblastic disease, Current obstetric and Gynecology
Diagnosis and Treatment edisi ke 7. A Lange Medical Book
Prawirohardjo SP. Penyakit trofoblas ganas, Ilmu Kebidanan dan Penyakit
Kandungan Yayasan Bina Pustaka edisi ke 2. 1981
Morrow CP, Curtin JP Towsend DE. Tumors of the placental trofoblas. In
Synopsis of Gynecology Oncology edisi ke 4. International Edition Churcill,
Livingstone Inc. 1993
https://www.womenonweb.org/id/page/1682/what-are-hcg-levels-duringpregnancy diakses pada tanggal 14 Oktober 2014.

19

Anda mungkin juga menyukai