Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Limbah ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai bagaimana bioteknologi

pengolahan

limbah yang baik. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sara yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.

Belitang, 13 Januari 2016

Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................
B. Rumusan Masalah......................................................................
C. Tujuan ........................................................................................

BAB II

1
1
2

PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Sejarah Bioteknologi..................................................................
Pengertian Bioteknologi.............................................................
Teknik Pengolahan Limbah........................................................
Teknologi Pengolahan Air Limbah............................................
Pengolahan Limbah Minyak......................................................
Cara Pengolahan Limbah Plastik...............................................

3
4
5
11
12
15

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ...............................................................................
B. Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

............................................18

17
17

BAB I
PENDAHUALUAN
A. Latar Belakang
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun
yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti,
maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke-19, pemuliaan tanaman untuk
menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan
reproduksi hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan
antara lain dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam
jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan
signifikan terjadi setelah penemuan bioreaktor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini,
produksi antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara
negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi
semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel
induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh
penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat
disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS.
Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga memungkinkan para
penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau
kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sediakala.. Penerapan
bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari
polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh
bakteri, dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik (racun) di sungai atau laut dengan
menggunakan bakteri jenis baru.
Kemajuan di bidang bioteknologi tak lepas dari berbagai kontroversi yang
melingkupi perkembangan teknologinya. Sebagai contoh, teknologi kloning dan
rekayasa genetika terhadap tanaman pangan mendapat kecaman dari bermacammacam golongan.Oleh karena itu, dalam makalah ini yang berjudul Peran
Bioteknologi bagi Kehidupan Manusia akan membahas lebih lanjut bagaimana
peranan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari beserta akibat yang ditimbulkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud bioteknologi?
2. Apa Dasar-dasar dalam penerapan bioteknologi?
3. Bagaimana penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui manfaat perkembangan biteknologi bagi kehidupan seharihari
2. Untuk mengetahui dampak negatif perkembangan teknologi bagi kehidupan
sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Sejarah Bioteknologi
Abad ke XXI sering disebut abad bioteknologi dan biomolekuler, yang
diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah berkaitan dengan kesejahteraan
manusia. Bioteknologi adalah teknik penggunaan makhluk hidup, atau bahan yang
didapat dari makhluk hidup, untuk membuat suatu produk dan jasa yang bermanfaat
bagi manusia. Perkembangan ilmu selanjutnya membawa manusia mengenal
kromosom. Pada awal tahun 1880-an Wilhelm Roux memperkirakan bahwa
kromosom adalah pembawa bahan hereditas. Ahli lain, Mendel mempelajari perilaku
kromosom sebagai pembawa bahan hereditas ini. Menurut Mendel, organisme
membawa dua unit hereditas bagi setiap sifat keturunan. Selanjutnya teori Mendel
sesuai juga dengan kenyataan, bahwa induk menurunkan hanya separoh separoh
kromosom melalui sel kelamin.
Pada tahun 1860-an Fredrich Miescher berhasil mengisolasi bahan dari inti sel
ini, setelah diidentifikasi diketahui mengandung protein dan asam nukleat..Untaian
DNA ini selanjutnya dikenal dengan gen. Pada pertengahan tahun 1970, ahli
Bioteknologi menemukan teknologi baru yang dikenal dengan antibodi klon tunggal.
Prinsip antibodi klon tunggal berbeda dengan antibody klon ganda. Kisah antibody
klon tunggal dimulai pada tahun 1974, ketika George Kohler dan Cecar Milstein dari
Medical Research Councils Laboratory of Molecular Biology di Cambridge, Inggris,
mengamati sesuatu yang kemudian menjadi masalah menonjol yang belum
terpecahkan dalam imunologi. Antibody adalah bagian dari pertahanan tubuh
terhadap benda asing yang ingin masuk ke dalam tubuh, termasuk organisme
penyebab penyakit. Produksi antibody dikendalikan oleh gen, Kohler dan Milstein
mempunyai ide untuk menyatukan sel penghasil antibodi normal dengan sel dari
tumor yang mengkanker, yang disebut mieloma.
Perkembangan bioteknologi telah membawa manusia untuk dapat mengobati
penyakit keturunan atau penyakit yang disebabkan adanya kelainan genetis, yaitu
dengan memasukkan gen yang baik ke dalam sumsum tulang belakang, dikenal
dengan metode transfer gen.
Metode transfer gen yang sedang dikembangkan untuk mengobati penyakit
genetic manusia tersebut diatas adalah untuk memasukkan gen baru ke dalam sel
somatic saja. Gen tersebut tidak dapat diturunkan pada anak jika tidak berada pada sel
benih yang menghasilkan sperma dan sel telur.
B. Pengertian Bioteknologi

Bioteknologi adalah terapan biologi yang melibatkan displin ilmu


mikrobilogi, biokimia, genetika, dan biologi monokuler. Definisi bioteknologi secara
klasik atau konvensional adalah teknologi yang memanfaatkan agen hayati atau
bagian-bagiannya untuk menghasilkan barang dan jasa dalam skala industri untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan jika ditinjau secara modern , bioteknolofi
adalah pamanfaatan agen hayati atau bagian-bagian yang sudah direkayasa secara in
vitro untuk menghasilkan barang dan jasa pada skala industri.
Bioteknologi dikembangkan untuk meningkatkan nalai bahan mentah dgn
memanfaatkan kemampuan mikroorganisme atau bagian-bagiannya misalnya bakteri
dan kapang. Selain itu bioteknologi juga memanfaatkan sel tumbuhan atau sel hewan
yang dibiakkan sebagai bahan dasar sebagai proses industri.
Penerapan bioteknologi pada umumnya mencakup produksi sel atau biomassa dan
perubahan atau transformasi kimia yang diinginkan. Transformasi kimia itu lebih
lanjut dapat dibagi menjadi dua bagian , yakni :
1. Pembentukan suatu produk akhir yang diinginkan , contohnya enzim
antibiotik , asam organik dan steroid.
2. Penguraian bahan sisa produksi , contohnya buangan air limbah , destruksi
buangan industri , atau tumpahan minyak.
Dewasa ini , penerapan bioteknologi sangat penting diberbagai bidang , misalnya di
bidang pengolahan bahan pangan , farmasi , kedokteran pengolahan limbah ,
pertanian perlindungan alam dan pertambangan.
Bioteknologi dapat diartikan sebagai pemanfaatan prinsip-prinsip ilmiah dan
teknologi dengan menggunakan mekhluk hidup sebagai alat bantu untuk
menghasilkan produk atau jasa guna kepentingan manusia. Bioteknologi bukanlah
suatu disiplin ilmu melainkan peranan ilmu (suatu teknik dalam biologi). Dalam
bioteknologi , makhluk hidup digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa
dengan alasan karena makhluk hidup :
Senantiasa berkembangbiak dan dapat dibiakkan (terbaharukan).
Mudah diperoleh.
Sifatnya dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan
Dapat menghasilkan berbagai macam produk yang dibutuhkan.
Bioteknologi Konvensional yaitu pemanfaatan makhluk hidup untuk menghasilkan
produk atau jasa sudah banyak dilakukan sejak dulu. Di Indonesia , orang telah lama
mengenal proses pembuatan tape , tuak dan tempe dengan menggunakan
mikroorganisme.

C. Teknik Pengolahan Limbah


a. Pengelolaan Limbah Padat
Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu
pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah.
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan
bahan yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet.
Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem

Balistik.

Adalah

sistem

pemisahan

untuk

mendapatkan

keseragaman ukuran / berat / volume.


Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat
misalnya Syarat barang yang ringan / terapung dan barang yang berat /
tenggelam.
Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang
bersifat magnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan
campuran logam dan non logam.
2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil
agar pengolahannya menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah
membusuk, sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur
pabrik. Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan
disamakan ukurannya atau volumenya.
4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah
yang dibagi menjadi dua yaitu :
a)

Pembuangan Di Laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang

tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke
laut. Hal ini disebabkan :
1)
2)
3)
4)

Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.


Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
Laut menjadi dangkal.
Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya
dapat membunuh biota laut.

b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah


Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)

Pengaruh iklim, temperatur dan angin.


Struktur tanah.
Jaraknya jauh dengan permukiman.
Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan, peternakan, flora
atau fauna. Pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk
kepentingan apapun.

b. Pengelolaan Limbah Cair


Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani
pengolahan terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air limbah
yang efektif diperlukan rencana pengelolaan yang baik. Pengelolaan air limbah
dapat dilakukan secara alamiah maupun dengan bantuan peralatan. Pengolahan air
limbah secara alamiah biasanya dilakukan dengan bantuan kolam stabilisasi
sedangkan pengolahan air dengan bantuan peralatan misalnya dilakukan pada
Instalasi PengolahanAir Limbah/ IPAL (Waste Water Treatment Plant / WWTP).
Dalam pengolahan air limbah bertujuan untuk mencegah pencemaran pada
sumber air rumah tangga, melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air,
menghindari

pencemaran

tanah

permukaa

dan

menghilangkan

tempat

berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit. Sedangkan syarat Sistem


Pengelolaan Air Limbah adalah Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap
sumber-sumber air minum,tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan, tidak
menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di dalam
penggunaannya sehari-hari, tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang
mengakibatkan penyakit, tidak terbuka dan harus tertutup, tidak menimbulkan
bau atau aroma tidak sedap.
Metode Pengelolaan Air Limbah.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengelolah air
limbah,diantaranya :

a. Pengenceran (disposal by dilution)


Air limbah dibuang ke sungai, danau, atau laut agar mengalami
pengenceran. Dengan cara ini air limbah akan mengalami purifikasi alami.
Namun, cara semacam ini dapat mencemari air permukaan dengan bakteri
pathogen, larva dan telur cacing, serta bibit penyakit lain yang ada didalam air

limbah itu. Apabila hanya cara ini yang dapat diterapkan, maka persyaratan
berikutharus dipenuhi:
Air sungai atau danau tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.
Volume air mencukupi sehingga pengenceran berlangsung kurang dari 30-40
kali. Air harus cukup mengandung oksigen. Dengan kata lain air harus
mengalir (tidak boleh stagnan) agar tidak menimmbulkan bau.
b. Cesspool
Bentuk cesspool ini menyerupai sumur tetapi digunakan untuk
pembuangan air limbah. Dibuat pada tanah yang berpasir agar air buangan
mudah meresap kedalam tanah. Bagian atas ditembok agar tidak tembus air.
Apabila ceespool sudah penuh (60bulan), lumpur didalamnya dapat dihisap
keluar atau dari semula dibuat cesspool secara berangkai, sehingga bila yang
satu penuh, air akan mengalir ke cesspool berikutnya. Jarak cesspool dengan
sumur air bersih adalah 45 meter dan minimal 6 meter dari pondasi rumah.
c. Sumur resapan (seepage pit)
Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah yang
telah mengalami pengolahan dalam system lain, misalnya dari aqua privy atau
septic tank. Dengan cara ini, air hanya tinggal mengalami peresapan ke dalam
tanah. Sumur resapan ini dibuat pada tanah yang berpasir, dengan diameter 12,5 meter dan kedalaman 2,5 meter. Lama pemakaian dapat mencapai 6-10
tahun.
d. Septic tank
Septic tank, menurut WHO, merupakan metode terbaik untuk
mengelolah air limbah walau biayanya mahal, rumit, dan memerlukan tanah
yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian, antara lain:
a) Ruang pembusukan
Dalam ruang ini, air kotor akan tertahan 13 hari dan akan
mengalami penguraian oleh bakteri pembusuk yang akan menghasilkan
gas, cairan, dan lumpur. Gas dan cairan akan masuk kedalam dosing
chamber melalui pipa. Lumpur akan masuk ke ruang lumpur.

b) Ruang lumpur.
Ruang lumpur merupakan tempat penampungan lumpur. Apabila
ruang sudah penuh, lumpur dapat dipompa keluar.
c) Dosing chamber.
Dalam dosing chamber terdapat siphon McDonald yang berfungsi
untuk mengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang resapan agar
merata.
d) Bidang resapan.

Bidang ini akan menyerap cairan keluar dari dosing chamber dan
menyaring bakteri pathogen maupun bibit penyakit lain. Panjang minimal
bidang resapan ini 10meter dan dibuat pada tanah berpasir.
e) System Riool (sewage).
System riool menampung semua air kotor dari rumah maupun
perusahaan, dan terkadang menampung kotoran dari lingkungan. Apabila
dipakai untuk menampung air hujan, sistem riool ini disebut combined
system, sedangkan jika bak penampung air hujannya dipisahkan maka
disebut separated system. Agar tidak merugikan kepentingan lain, air kotor
dialirkan ke ujung kota, misalnya ke daerah peternakan, pertanian, atau
perikanan darat. Air kotor itu masih memerlukan pengolahan.
Proses pengolahan yang dilakukan, antara lain:
a. Penyaringan (screening)
Penyaringan ditujukan untuk menangkap benda-benda yang terapung diatas
permukaan air.
b. Pengendapan (sedimentation).
Pada proses ini, air limbah dialirkan ke dalam bak besar (sand trap) sehingga
aliran menjadi lambat dan lumpur serta pasir mengendap.
c. Proses biologis
Proses ini menggunakan mikroba untuk memusnahkan zat organic di dalam
limbah baik secara aerob maupun anaerob.
d. Disaring dengan saringan pasir (sand filter).
e. Desinfeksi Desinfeksi dengan kaporit (10kg/1 juta air limbah) untuk membunuh
mikroba patogen.
f. Pengenceran Terakhir, air limbah dibuang ke sungai, danau atau laut sehingga
mengalami pengenceran. Semua proses pengolahan air limbah ini dilakukan dalan
suatu instalasi khusus yang dibangun diujung kota.

c. Pengelolaan Limbah Gas


Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari limbah berupa gas atau
materi partikulat yang terbawah bersama gas tersebut. Berikut akan dijelaskan
beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat
yang terbawah bersamanya.
1)

Mengontrol Emisi Gas Buang


a) Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon
monoksida, dan hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui
beberapa metode. Gas sulfur oksida dapat dihilangkan dari udara hasil
pembakaran bahan bakar dengan cara desulfurisasi menggunakan filter
basah (wet scrubber).

b) Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada
pembahasan berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan
materi partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk
menghilangkan materi partikulat.
c) Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran. Produksi gas
karbon monoksida dan hidrokarbon dari hasil pembakaran kendaraan
bermotor dapat dikurangi dengan cara memasang alat pengubah
katalitik (catalytic converter) untuk menyempurnakan pembakaran.
d) Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang juga dapat
dikurangi kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai menggunakan
sumber bahan bakar alternatif yang lebih sedikit menghasilkan gas
buang yang merupakan polutan.
2)

Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan


a. Filter Udara
Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong atau
stack, agar tidak ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya udara bersih
yang saja yang keluar dari cerobong. Filter udara yang dipasang ini harus
secara tetap diamati (dikontrol), kalau sudah jenuh (sudah penuh dengan
abu/ debu) harus segera diganti dengan yang baru.
Jenis filter udara yang digunakan tergantung pada sifat gas buangan
yang keluar dari proses industri, apakah berdebu banyak, apakah bersifat
asam, atau bersifat alkalis dan lain sebagainya

b. Pengendap Siklon
Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu /
abu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang
berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal
dari udara / gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding
tabung siklon sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh ke bawah.
Ukuran partikel / debu / abu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah
antara 5 u 40 u. Makin besar ukuran debu makin cepat partikel tersebut
diendapkan.
c. Filter Basah

Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors.
Prinsip kerja filter basah adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara
menyemprotkan air dari bagian atas alt, sedangkan udara yang kotor dari
bagian bawah alat. Pada saat udara yang berdebu kontak dengan air, maka
debu akan ikut semprotkan air turun ke bawah.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dapat juga prinsip kerja
pengendap siklon dan filter basah digabungkan menjadi satu. Penggabungan
kedua macam prinsip kerja tersebut menghasilkan suatu alat penangkap debu
yang dinamakan.
d. Pegendap Sistem Gravitasi
Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara kotor
yang ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 u atau lebih. Cara kerja
alat ini sederhana sekali, yaitu dengan mengalirkan udara yang kotor ke dalam
alat yang dibuat sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan
kecepatan secara tiba-tiba (speed drop), zarah akan jatuh terkumpul di bawah
akibat gaya beratnya sendiri (gravitasi). Kecepatan pengendapan tergantung
pada dimensi alatnya.
e. Pengendap Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara
yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor udaranya
adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan udara secara cepat
dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif bersih.
Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah (DC) yang
mempunyai tegangan antara 25 100 kv. Alat pengendap ini berupa tabung
silinder di mana dindingnya diberi muatan positif, sedangkan di tengah ada
sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi
muatan negatif. Adanya perbedaan tegangan yang cukup besar akan
menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini
menyebabkan udara kotor seolah olah mengalami ionisasi. Kotoran udara
menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion positif dan masingmasing akan menuju ke elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion
negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada
di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus keluar.

D. Teknologi Pengolahan Air Limbah

Selain melakukan pencegahan perlu adapun cara/teknik pengolahan Air


Limbah.Tujuan utama pengolahan air limbah ini ialah untuk mengurai kandungan
bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba
patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang
terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:
1. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah.
Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and
grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang
sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang
berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah
neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan
filtration.
3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut
dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan
pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated
sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin,
rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga
ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange,
membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan
sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet

combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or


drying bed, incineration, atau landfill.

E. Pengolahan Limbah minyak


Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi
minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan
tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah
meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat
korosif. Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena
sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan
lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.
Tumpahan minyak
Tumpahan minyak di laut berasal dari kecelakaan kapal tanker.
Contohnya tumpahan minyak terbesar yang terjadi pada tahun
2006 di lepas pantai Libanon.Selain itu, terjadi kecelakaan Prestige
pada tahun 2002 di lepas pantai Spanyol.

Bencana alam seperti

badai atau banjir juga dapat menyebabkan tumpahan minyak.


Sebagai contoh pada tahun 2007, banjir di Kansas menyebabkan
lebih dari 40.000 galon minyak mentah dari kilang tumpah ke
perairan itu.

Penanganan di laut
Pemantauan
Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu
dengan melakukan pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi
tumpahan. Ada 2 jenis pemantauan yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara
visual dan penginderaan jauh (remote sensing).

Pengamatan secara visual


Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan

pesawat. Teknik ini melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang

diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan dengan teknik ini


kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan
akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga menjadi lapisan sangat tipis di
laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun,
penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari,
sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat
dipercaya.

Pengamatan penginderaan jauh


Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam

teknik, seperti Side-looking Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan


setiap waktu dan cuaca, sehingga menjangkau wilayah yang lebih luas dengan
hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik ini hanya bisa mendeteksi lapisan
minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi minyak yang berada dibawah
air dalam kondisi laut yang tenang. Selain SLAR digunakan juga teknik
Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner, dan Landsat Satellite
System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat
dan akurat.

Penanggulangan
Booms digunakan untuk menghambat perluasan limbah minyak di laut.
Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning,
penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent, penggunaan bahan
kimia dispersan, dan washing oil.

In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga


mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan
dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini
membutuhkan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau
barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam
jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu,
penyebaran api sering tidak terkontrol.

Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir


tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak

ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut


skimmer.

Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri


pengurai spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang
terkontaminasi. Selain itu, teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi
dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan.

Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui


mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan sorbent) dan
absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi
mengubah fase minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan
dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik,
mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan
digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami,
rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir)
dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon).

Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi


tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya
hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia
dengan zat aktif yang disebut surfaktan.

Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.

Peralatan
Pembersihan limbah minyak di kawasan pantai.
Alat-alat yang digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak:[6]

Booms merupakan alat untuk menghambat perluasan hambatan minyak.

Skimmers yaitu kapal yang mengangkat minyak dari permukaan air.

Sorbent merupakan spons besar yang digunakan untuk menyerap minyak.

Vacuums yang khusus untuk mengangkat minyak berlumpur dari pantai atau
permukaan laut.

Sekop yang khusus digunakan untuk memindahkan pasir dan kerikil dari
minyak di pantai.

Penanganan di darat
Pemulihan lahan tercemar oleh minyak bumi dapat dilakukan secara biologi
dengan

menggunakan

kapasitas

kemampuan

mikroorganisme.

Fungsi

dari

mikroorganisme ini dapat mendegradasi struktur hidrokarbon yang ada dalam tanah,
sehingga minyak bumi menjadi mineral-mineral yang lebih sederhana dan tidak
membahayakan lingkungan. Teknik seperti ini disebut bioremediasi. Teknik
bioremediasi dapat dilaksanakan secara in-situ maupun cara ex-situ.

Pada umumnya, teknik bioremediasi in-situ diaplikasikan pada lokasi


tercemar ringan, lokasi yang tidak dapat dipindahkan, atau karakteristik
kontaminan yang volatil.

Bioremediasi ex-situ merupakan teknik bioremediasi di mana lahan atau air


yang terkontaminasi diangkat, kemudian diolah dan diproses pada lahan
khusus yang disiapkan untuk proses bioremediasi.

Penanganan lahan yang tercemar minyak bumi dilakukan dengan cara memanfatkan
mikroorganisme untuk menurunkan konsentrasi atau daya racun bahan pencemar.
Penanganan semacam ini lebih aman terhadap lingkungan karena agen pendegradasi
yang dipergunakan adalah mikroorganisme yang dapat terurai secara alami. Ruang
lingkup pelaksanaan proses bioremediasi tanah yang terkontaminasi minyak bumi
meliputi beberapa tahap yaitu:

Treatibility study merupakan studi pendahuluan terhadap kemampuan jenis


mikroorganisme pendegradasi dalam menguraikan minyak bumi yang
terdapat di lokasi tanah terkontaminasi.

Site characteristic merupakan studi untuk mengetahui kondisi lingkungan


awal di lokasi tanah yang terkontaminasi minyak bumi. Kondisi ini meliputi
kualitas fisik, kimia, dan biologi.

Persiapan proses bioremediasi yang meliputi persiapan alat, bahan,


administrasi serta tenaga manusia.

Proses bioremediasi yang meliputi serangkaian proses penggalian tanah


tercemar, pencampuran dengan tanah segar, penambahan bulking agent,
penambahan inert material, penambahan bakteri, nutrisi, dan proses
pencampuran semua bahan.

Sampling dan monitoring meliputi pengambilan gambar tanah dan air selama
proses bioremediasi. Kemudian, gambar itu dibawa ke laboratorium
independen untuk dianalisa konsentrasi TPH dan TCLP.

Revegetasi yaitu pemerataan, penutupan kembali drainase dan perapihan


lahan sehingga lahan kembali seperti semula.

F. Cara Pengolahan Limbah Plastik


Cara pengolahan limbah plastik masih menjadi pembahasan hangat dalam
setiap pertemuan tentang lingkungan hidup. Dimana limbah plastik merupakan
sampah yang tidak bisa diurai oleh tanah. Sehingga akan selalu memiliki ancaman
terhadap pencemaran lingkungan. Banyak seminar-seminar yang membahasa tentang
betapa seriusnya kekhawatiran tentang limbah plastik ini. Dan harapan kami, generasi
yang sekarang dan yang akan datang dapat lebih memahami tentang pengolahan
limbah plastik ini.
Ada beberapa ide untuk menangani limbah plastik, yaitu diantaranya :
1. Melakukan daur ulang sampah plastik dengan cara memisahkan partikelpartikel plastik hingga terciptanya produk baru. Plastik daur ulang biasanya
akan dirubah bentuk menjadi biji plastik, botol minuman, dan produk baru
dengan bentuk baru yang lainnya. Hampir disetiap negara selalu berupaya
melakukan proyek besar dalam melakukan daur ulang sampah plastik.
2. Dengan menggunakan mesin incinerators untuk mendaur ulang limbah
plastik. Sebagian negara menggunakan mesin ini untuk mengolah sampah
plastik yang tidak teruarai. Semua limbah plastik dibakar menggunakan
incinerators. Namun ada dampak buruk jika menggunakan metode ini. Yaitu,
timbulnya pencemaran atau polusi udara. Namun seiring berjalannya waktu,
para developer telah bekerja keras untuk mengurangi dampak pulusi udara
yang ditimbulkan.
3. Untuk mengurangi dampak dari limbah plastik, sebagian besar negara di
dunia telah melarang penggunaan produk plastik tertentu. Hal ini untuk
mengurangi

rasa

ketergantungan

terhadap

produk

palstik.

Dan

menggantikannya dengan produk yang lebih ramah lingkungan.


4. Menggunakan tas dari bahan kertas atau dari bahan lainnya untuk berbelanja.
Sehingga dapat mengurangi pemakaian plastik di dalam kehidupan seharihari.
5. Untuk mengurangi dampak limbah plastik, dari pihak pemerintah dan diri
pribadi perorangan harus saling menyadari. Pemerintah harus membuat
tempat sampah di setiap sisi kota. Dan setiap individu juga harus mempunyai
kesadaran tentang membuang sampah. Jangan campur sampah plastik dengan
sampah yang bisa di daur ulang. Tempatkan sampah plastik pada tempat
sampah yang telah ditentukan. Dan jangan membuang sampah plastik di

tempat umum seperti di jalan, di sungai, di selokan, di parit, dan dimana


sampah itu akan sangat berpotensi buruk bagi lingkungan.
6. Meningkatkan kegiatan seminar atau pertemuan yang membahas tentang daur
ulang sampah plastik. Tentang metode cara pengolahan limbah plastik yang
terbaru. Dan harapan kami, pemerintah ikut terlibat dalam sosialisasi daur
ulang limbah plastik. Dan lembaga-lembaga negara atau swasta kami harap
juga semakin gencar dalam membahas ancaman limbah plastik terhadap
lingkungan hidup.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan makalah yang telah disusun , maka dapat diketahui bahwa
bioteknologi adalah penerapan ilmu(suatu teknik dalam biologi).
Bioteknologi dapat diartikan sebagai pemanfaatan prinsip-prinsip ilmah dan
teknologi dengan menggunakan makhluk hidup sebagai alat bantu untuk
menghasilkan produk atau jasa guna kepentingan manusia. Bioteknologi bukanlah
suatu disiplin ilmu melainkan penerapan ilmu..
Dengan perkembangan bioteknologi , maka manusia dapat memanfaatkan
suatu bahan yang sederhana menjadi barang atau bahan yang lebih bermanfaat. Selain
mempunyai kelebihan bioteknologi juga mempunyai kekurangan atau efek negatif.
Efek berpengaruh pada berbagai bidang , antara lainnya :

Bidang Kesehatan
Bidang lingkungan
Bidang etika dan moral
Bidang ekonomi

B. Saran

Dalam menerapkan bioteknologi, kita sebagai manusia yang memiliki naluri


seyogiannya dapat menerapkannya sesuai dengan norma-norma agar dampak
negative dari penerapan bioteknologi dapat kita netralisir. Semoga dengan adanya
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca mengenai bioteknologi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim .2008. Kemasan Polystirena Foam (Styrofoam) . Info POM(Vol 9 No. 5,


September 2008). Jakarta. (Diaskes pada hari Rabu tanggal 13 Januari 2016
pukul 17.00 WIB)
A. Suwanto. 1998. Bioteknologi molekuler: Mengoptimalkan manfaat keanekaan
hayati melalui teknologi DNA rekombinan (in Indonesian). Bogor: IPB.
(Diaskes pada hari Rabu tanggal 13 Januari 2016 pukul 17.00 WIB)
Fumento, Michael. 2003. Bioevolution: How Biotechnology Is Changing Our World .
United State of America : Encounter Books. (Diaskes pada hari Rabu tanggal 13
Januari 2016 pukul 17.00 WIB)