Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PSIKIATRI

SKIZOFRENIA PARANOID

Pembimbing :
Dr. Mardi Susanto, SpKJ (K)
Dr. Tribowo T. Ginting, SpKJ (K)

Disusun Oleh :
Indranu Nanggala Pratama
1510221007

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta
2016

IDENTITAS PASIEN
NAMA
USIA
JENIS KELAMIN
AGAMA
PENDIDIKAN
STATUS
PEKERJAAN
ALAMAT
I.

:S
: 65 tahun
: Perempuan
: Islam
: SD
: Menikah
: Ibu Rumah Tangga
: Jakarta Selatan

RIWAYAT PSIKIATRI
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 15
Agustus 2016 pukul 11.00 WIB di Poliklinik Psikiatri RS Persahabatan.
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke bagian psikiatri untuk kontrol dan obat habis.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang pada tanggal 15 Agustus 2016 pukul 11.00 WIB di poliklinik psikiatri

RSUP persahabatan Jakarta dengan ditemani oleh anak pertamanya dengan mengendarai
motor. Pasien datang untuk kontrol dan meminta obat lagi karena obat yang biasa di
konsumsi oleh pasien sudah habis.
Pasien adalah seorang penderita skizofrenia, pasien mengaku sebulan belakangan ini dia
telat meminum obatnya. Pasien mengatakan ketelatan minum obat tersebut dikarenakan
habisnya obat yang telah di berikan. Pasien juga berkata untuk tidak ingin control kembali
dan merasa malas karena dirinya merassa sudah sehat dan tidak memerlukan pengobatan.
Menurut pengakuan dari anaknya, obat yang habis sudah dicari ke beberapa apotik namun
tidak mendapatkannya. Anak dari pasien juga berkata tidak sempat menemani ibunya untuk
control ke poli karena dia harus bekerja. Dia juga berkata pasien telat minum obat sekitar 1
bulan, dan dia merasakan gejala yang dialami pasien semakin bertambah sehingga dia
menyempatkan diri untuk menemani pasien ke poliklinik jiwa RSUP Persahabatan untuk
kontrol dan meminta obat yang habis.
Anak pasien bercerita keluhan pasien dialami sejak suami pasien meninggal yaitu 10
tahun yang lalu. Anak pasien bercerita bahwa pasien sering merasa gelisah, pasien sering
bolak-balik kedalam dan keluar rumah. Pasien sering bercerita hal yang aneh.
Pasien bercerita mengenai suara-suara yang mengancam pasien, pasien juga sering
melihat kakak ipar pasien, dan terdapat beberpaa makhluk gaib yang di lihat oleh pasien
seperti jin, kuntil anak bahkan melihat binatang dirumahnya seperti beruang, anjing dan ular.
Pasien merasa takut akan hal tersebut.

Pasien bercerita Kakak ipar pasien sering menakuti nakuti pasien, dan kakak iparnya
dikenalnya sebagai sosok yang jahat. Pasien bercerita pernah dicekik oleh hantu, pasien
bercerita bahwa dirumah pasien banyak hantu yang akan menjahati pasien. Pasien sering
mendengar bisik-bisikan yang tidak ada sumbernya pasien menyakal, kata pasien jika pasien
bercerita kakak ipar pasien akan berbuat jahat kepadanya. Pasien juga kadang-kadang
menyangkal apakah pasien sering melihat hal-hal yang aneh
Pasien merasa bahwa dirinya diguna-guna oleh kakak iparnya. Pasien merasa bahwa ada
ular yang masuk kedalam dirinya. Pasien merasa ular tersebut jalan keleher pasien dan
meililit leher pasien. Pasien tidak menyangkal mencium bau-bauan yang sumber baunya tidak
ada. Pasien menyangkal adanya sering merasa manis pada lidah walaupun tidak ada sumber
rasanya.
Pasien merasa dikejar-kejar oleh kakak iparnya dan pasien selalu merasa kakak iparnya
akan berbuat jahat kepadanya. Paseien merasa orang-orang yang disekitar tahu apa yang akan
dilakukan oleh pasien. Pasien menyangkal bahwa penyiar di TV berkomunikasi dengannya
dan menertawinya. Pasien menyangkal bahwa pasien merasa dikontrol oleh sesuatu.
Anak pasien bercerita bahwa pasien dahulu sering di olok-olok oleh kakak iparnya.
Pasien bahwa ia pernah di ketuk kepalanya dengan paku namun oleh kakak iparnya, namun
kata anaknya pasien tidak pernah dipukul kepalanya oleh kakak iparnya.
Anak pasien mengaku jika pasien meminum obat yang diberikan oleh dokter yaitu
resperidon 2x 2 mg, hexymer 1x2 mg dan cholpromazine 1x 100 mg keluhan seperti pasien
berbicara sendiri sudang berkurang, pasien sudah tidak gelisah dan pasien sudah dapat tidur
dengan nyenyak. Namun ketika pasien tidak meminum obat selama satu bulan ini keluhankeluhan tersebut timbul kembali.
Pasien bercerita bahwa dirinya tidak suka tidur, menurut pengakuan anaknya pasien tidur
diatas jam 1 malam dan hanya sebentar. Tidak ada keluahan mengenai makan.
Pasien dapat menjawab pertanyaan seputar matematik sederhana, berupa itungan angka
lima dikurangi dua, pasien dapat menjawab dengan benar dan hasilnya yaitu tiga.
Pertanyaan berikutnya yang diajukan kepada pasien adalah presiden RI saat ini, pasien
tidak dapat menjawab dengan benar, lalu pasien ditanya lagi mengenai mantan presiden RI
yang tua netra, pasien tidak dapat menjawab dengan benar, lalu pasien ditanya lagi mengenai
mantan presiden RI perempuan, pasien tidak dapat menjawab dengan benar. Pasien ditanya
mengenai presiden pertama RI pasien tidak dapat menjawab dengan benar.
Pasien dapat menjawab dengan siapa dan menggunakan kendaraan apa pasien datang
kerumah sakit. Pasien menjawab bahwa pasien datang kerumah sakit bersama dengan
anaknya dan datang kerumah sakit menggunakan motor.

Pasien ditanya mengenai pasien sedang melakukan apa dan pasien bersama dengan siapa
di ruang poliklinik jiwa. Pasien menjawab ia sedang melakukan konsultasi dan melakukan
konsultasi bersama dengan dokter.
Pasien tidak dapat menyebabkan lima nama hewan dengan cepat dan benar yaitu kucing,
anjing, kelinci, sapi dan kambing. Pasien menyelesaikan pendidikan SD kelas 2. pasien tidak
menyelesaikan pendidikan dengan lancar, pasien tidak pernah tinggal kelas. Prestasi
disekolah biasa-biasa saja. Pasien dapat bergaul dengan lingkungan sekitarnya dan
mempunyai banyak teman.
Pasien ditanya mengenai jika terdapat anak kecil dipinggir sungai dengan arus air yang
deras apa yang dilakukan oleh pasien. Pasien menjawab pasien akan menolong anak tersebut
dengan menggendong anak tersebut agar menjauhi sungai tersebut. Lalu pasien ditanya
mengenai arti pribahasa panjang tangan, pasien dapat menjawab dengan benar yaitu suka
mencuri.
Pasien datang dengan anak kandungnya ke poliklinik psikiatri RSUP persahabatan
dengan menggunakan pakaian rapih, sopan dan bersih. Pasien menggunakan gamis lengan
panjang, rambut pasien tidak begitu tertata rapih. Pada saat dilakukan tanya jawab dari awal
hingga akhir pasien dapat menjawab pertanyaan yang diberkan oleh dokter dan pasien
bersikap tidak kooperatif.
Pasien tidak mempunyai riwayat sakit sebelumnya. Pasien tidak mempunyai riwayat
trauma kepala. Pembicaraan pasien sewaktu ditanyakan oleh dokter sering tidak nyambung,
pemeriksa tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh pasien. Namun kadang-kadang pasien
dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa. Kadang pasien sering berbicara
yang diulang-ulang.
Pemeriksa menyanyakan mengenai 3 keinginan pasien namun pasien tidak dapat
menjawab apa yang ditanyakan oleh pemeriksa. Pasien selalu menyangkal keluhan yang
ditanyakan oleh pasien, pasien selalu berbicara bahwa dirinya sehat, dirinya tidak sakit.
Pasien menginkan pergi dari ruang pemeriksaan. Pasien tidak mau menceritakan apa yang
dirasakan olehnya. Kitika pemeriksa menyanyakan mengenai apakah penyakit yang diderita
oleh pasien pasien selalu merasa dirinya sehat. Anak pasien bercerita bahwa tidak ada
dianggota keluarga yang mengalami sakit seperti ini.
Sewaktu sedang melakukan pemeriksaan pasien masih sering berbicara sendiri, sewaktu
ditanya oleh pemeriksa sedang berbicara dengan siapa pasien tidak mau menjawab, pasien
sering tiba-tiba membloking saat diajak berbicara oleh pemeriksa dikarenkan pasien diajak
bicara oleh halusinasinya.

Pasien berbicara kepada pemeriksa bahwa halusinasi

yang dilihat oleh pasien mempunyai niat jahat kepada pemeriksa, lalu pasien berbicara

kepada halusinyasinya untuk pergi. Pasien berbicara bahwa pasien melihat kakak ipar pasien
diruang pemeriksaan, walaupun di ruang pemeriksaan tidak terdapat kakak ipar pasien.
Pasien tinggal bersama dengan anak pertama dan anak kedua serta istri anak kedua dan 2
cucu pasien. Pasien tinggal dirumah milik sediri Anak pertama pasien belum menikah dan
berkerja sebagai ojek online. Anak pertam pasien bercerita bahwa pasien sering dimarahin
oleh menantu pasien dan anak pasien. Menurut anak pasien keluarga pasien tidak ada
masalah mengenai ekonomi.
Pasien tidak pernah merokok, mengkonsumsi alkohol dan menggunakan zat psikoaktif
(NAPZA). sewaktu sehari-hari pasien pasien dapat mengurus dirinya sendiri. Dirumah pasien
mempunyai kegiatan masaka, mengepel, menyapu. Pasien masih dapat menonton tv.
Anak nya juga menceritakan bahwa pasien masih dapat bersosialisasi dengan
tetangganya. Pasien masih sering keluar rumah untuk membeli sayuran, pasien juga kadang
mengobrol dengan tetangganya.
C. Riwayat Sakit Sebelumnya
Pasien masih sering mendengar suara- suara yang sumber suaranya tidak ada.
1. Riwayat Gangguan Psikiatri sebelumnya
10 tahun yang lalu pasien sudah mengalami halusinasi seperti mendengar
bisikan-bisikan, selalu melihat sosok kakak iparnya dimana-mana, pasien
sering melihat hantu. Pasien merasa bahwa ada ular yang melilit lehernya dan
masuk kedalam tubuh pasien.
2. Riwayat Gangguan Medik
Tidak ada
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol
Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat psikoaktif, alkohol maupun rokok
D. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Pasien perempuan, usia 65 tahun datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP
Persahabatan untuk kontrol karena obat habis.
b. Saat ini pasien mengeluhkan mendengar bisikan, melihat hal-hal aneh, dan
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

kadang ada seseorang yang mengganggunya.


Pasien sering merasa dijelek-jelekan oleh saudara ipar atau tetangga.
Dari status mental terdapat halusinasi.
Dikeluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang sama.
Orientasi waktu, tempat, orang, dan situasi baik.
Fungsi kognitif pasien baik, pengendalian impuls baik.
Tidak terdapat riwayat penggunaan zat psikoaktif dan mengkonsumsi alcohol.
Pasien tidak memiliki penyakit sistemik seperti darah tinggi, kencing manis,

dan lain sebagainya. Pemeriksaan fisik, status generalis, status nerologik baik.
j. Pasien lahir secara normal tanpa ada penyulit ketika pada masa kehamilan dan
proses kelahiran.

k. Pasien dapat menyelesaikan pendidikan SD, SMP, SMA, dan D3 dengan baik.
Pasien tidak pernah tinggal kelas dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
l. Axis III pada pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan adanya
kelainan pada pasien
m. Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan orang lain.
n. Hubungan pasien dengan keluarga kurang baik, terutama dengan kakak
iparnya yang dikatakan selalu menjelekannya. Tidak terdapat kendala
perekonomian keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
o. Pasien saat ini tinggal dirumah dengan satu orang anaknya.
p. Selama ini pasien berobat dengan KJS.
q. Pasien masih dapat melakukan aktivitas dasar setiap hari seperti makan,
mencuci baju, dan mencuci piring sendiri.
r. Pada pasien didapatkan gejala sedang, berfungsi baik, dan tidak lebih dari
masalah harian serta disabilitas sedang.
E. Riwayat Keluarga
Pada pasien ini tidak terdapat riwayat dengan keluhan yang sama.
F. Hubungan dengan Keluarga
Pasien tinggal di rumah milik pribadi bersama dengan anak pertama dan kedua
serta istri anak kedua beserta dua cucunya . Hubungan pasien dengan
keluarganya tidak harmonis, keadaan tidak harmonis ini dikarenakan adanya
konflik dengan kakaknya
G. Riwayat Situasi Sosial Sekarang
Pasien seorang perempuan berumur 65 tahun. Status pernikahan sudah pernah
menikah. Sehari-hari masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pasien
masih bisa bersosialisasi dengan tetangga. Pasien berobat dengan ASKES,
perekonomian dirasa cukup karena perekonomian pasien dibantu oleh anakanaknya.
H. Persepsi Pasien Tentang Dirinya Dan Kehidupannya
Pasien tidak menjawab pertanyaan tentang tiga keinginan yang ingin dicapai oleh
pasien.
III. STATUS MENTAL
A. DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Perempuan 65 tahun. Datang bersama kedua anaknya dan menggunakan
kendaraan umum. Usia sesuai dengan penampilan, rapi, ekspresi normal dan
tenang dan pasien masih terlihat sopan.

Kesadaran umum
Kontak psikis

: compos mentis
: dapat dilakukan dengan baik oleh pasien,

dapat berkomunikasi dengan baik


2. Perilaku Dan Aktivitas Psikomotor
Cara berpakaian
: baik
Aktivitas psikomotor : pasien kooperatif, tenang, kontak mata tidak
begitu baik serta pasien tidak dapat menjawab pertanyaan
pertanyaan dengan baik dan tidak terdapat gerakan gerakan
involunter.
3. Pembicaraan
Kuantitas: sebagian pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksaan ada
yang dijawab ada yang tidak dijawab oleh pasien. Jawaban pasien

kadang tidak cocok dengan pertanyaan yang diajukan


Kualitas: baik, bicara spontan, artikulasi jelas, isi pembicaraan sulit
dapat dimengerti

4. Sikap Terhadap Pemeriksa


Pasien kooperatif
B. KEADAAN AFEKTIF
Mood
: normal
Afek
: luas
Keserasian
: sesuai
Empati : pemeriksa tidak dapat merasakan apa yang dirasakan
pasien
C. FUNGSI INTELEKTUAL / KOGNITIF
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pendidikan terakhir pasien adalah SD Kelas 2. Pengetahuan umum pasien
terbatas.
2. Daya kosentrasi
Daya konsentrasi pasien tidak baik. Pasien dapat mengikuti proses tanya
jawab dari awal hingga selesai, namun pasien sering berbicara yang aneh
saat dilakukan pemeriksaan, pasien tidak fokus dengan pertanyaan yang
diajukan oleh pemeriksa. Pasien dapat menjawab pertanyaan hitunghitungan seperti 5 3 = 3
3. Orientasi

Waktu : Baik, mengetahui waktu saat dilakuka tanya jawab yaitu


pada pagi hari.
Tempat
: Baik, mengetahui tempat saat dilakukan tanya jawab yaitu
di RSUP persahabatan
Orang : Baik, mengetahui sedang berbicara dengan siapa yaitu
dengan dokter.
Situasi : Baik, Pasien menyadari bahwa ia sedang konsultasi
dengan dokter.
4. Daya Ingat
a. Daya ingat jangka panjang
Baik, pasien masih dapat mengingat jenjang pendidikan saat SD kelas
b. Daya ingat jangka pendek
Baik, pasien datang ke RSUP bersama dengan anak pertamanya dengan
menggunakan motor.
c. Daya ingat segera
Pasien tidak dapat menyebutkan dengan cepat 5 nama hewan yang
disebutkan oleh pemeriksa
d. Tidak terdapat hendaya daya ingat pada pasien ini
5. Pikiran abstrak
Baik, pasien dapat mengartikan arti pribahasa panjang tangan.
6. Kemampuan menolong diri sendiri
Baik, karena pasien dapat mengerjakan seggala sesuatunya tanpa disuruh
dan mampu mengurus dirinya sendiri.
e. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi
Halusinasi auditorik
Halusinasi visual
Halusinasi Olfaktori
Halusinasi Gustatori
Halusinasi Taktil

: ada
: ada
: tidak ada
: Tidak ada
: ada

2. Depersonalisasi dan derealisasi


Depersonalisasi : Tidak ada.
Derealisasi
: Tidak ada
f. PROSES PIKIR
1. Arus pikir
a. Produktivitas
b. Kontinuitas
c. Hendaya
2. Isi pikiran

: pada pasien terdapat inkoheren dan blocking.


: Baik, namun terdapat sirkumstansial dan
tangensial
: tidak terdapat hendaya berbahasa

a. Preokupasi
Tidak terdapat preokupasi.
b. Gangguan pikiran
Pada pasien ini terdapat tought broadcasting yaitu orang-orang yang
disekitar pasien tau apa yang akan dilakukan oleh pasien. Pasien
merasa kakak ipar pasien selalu mengejar-ngejar pasien untuk berniat
jahat kepada pasien.
g. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, pasien tampak tenang pada saat proses tanya jawab yang dilakuakn dan
tidak terdapat gerakan gerakan involunter.
h. DAYA NILAI
a. Norma sosial
baik, karena pasien dapat bergaul dengan lingkungan sekitarnya, namun
hanya sebentar saja.
b.
Uji daya nilai
Baik, ketika pasien diberikan sautu permasalahan mengenai apa yang akan
dilakukan pasien apabila menemukan seorang anak yang ingin menyebrang,
pasien menjawab akan membantu anak tersebut untuk menyebrang jalan.
c.Penilaian realitas
Terdapat gangguan dalam menilai realitas berupa waham dan halusinasi
i. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN KEHIDUPAN PASIEN
Pasien masih mengalami halusinasi visual, auditorik, taktil, terdapat waham
kejar dan terdapat tought broadcasting. Pasien menyangkal menganai sakit
yang diderita pasien namun pasien masih mau minum obat walaupun pasien
tidak mengetahui tujuan dari minum obat tersebut.
j. TILIKAN/INSIGHT
Tilikan derajat 1 yaitu penyangkalan total terhadap penyakitnya.
k. TARAF DAPAT DIPERCAYA
Pemeriksa memperoleh kesan secara menyuluruh bahwa jawaban pasien
dapat dipercaya karena konsistensi jawaban pasien dari pertanyaan
pertanyaan yang diberikan dari awal proses tanya jawab hingga akhir tanya
jawab.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalis
i. Keadaan umum: baik, compos mentis

ii. Tanda vital:


Tekanan darah : 120/80 mmHg
Frekuensi nadi: 80 x/menit
Frekuensi nafas: tidak diperiksa
Suhu : tidak diperiksa
iii. Sistem kardiovaskuler
iv. Sistem muskuloskeletal
v. Sistem gastrointestinal
vi. Sistem urogenital
vii. Gangguan khusus
b. Status Neurologis
i. Saraf kranial
ii. Saraf motorik
iii. Sensibilitas
iv. Susunan saraf vegetatif
v. Fungsi luhur
vi. Gangguan khusus
II.

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: dalam batas normal
: normal
: normal
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


a. Pasien usia 65 tahun datang untuk kontrol dan obat habis. Pasien tidak
meminum obat selama 1 bulan
b. Pasien menyangkal dirinya sakit
c. Pasien tidak memiliki masalah pada kesadaran, daya ingat, fungsi kognitif
dan orientasi pada pasien ini baik
d. Mood pada pasien eutim dan afeknya luas
e. Pasien mengingat jenjang pendidikannya yaitu sekolah hingga SD kelas 2.
f. Pasien juga tidak memiliki masalah terhadap orientasi waktu, tempat, orang
g. Pasien tidak pernah mengkonsumsi NAPZA, alkohol maupun rokok.
h. Pasien tidak mengaku suka mendengar bisikan-bisikan namun pasien
i.

berbicara sendiri.
Pasien mengaku suka melihat hantu, kakak ipar pasien, dan hewan-hewan

j.

didalam kamar pasien


Pasien merasa terdapat ular yang masuk kedalam diri pasien dan menjerat

leher pasien.
k. Pasien merasa bahwa orang-orang disekitar pasien mengetahui apa yang
l.

ingin dilakukan oleh pasien.


Pasien merasa bahwa kakak ipar pasien selalu mengejar-mengejar dia dan

akan berniat jahat kepadanya.


m. Tumbuh kembang pasien baik dan pasien dapat bersosialisasi dengan baik
shingga tidak terdapat gangguan kepribadian
n. Suami pasien sudah meninggal sejak 10 tahun yang lalu, pasien mempunyai
masalalu bahwa kakak ipar pasien sering mengolok-olok pasien
o. Pasien mempunyai masalah keluarga, pasien sering dimarahi oleh menantu
dan anak pasien.

10

p. Pasien lahir dengan proses kelahiran normal


q. Pasien bersosialisasi dengan tetangga namun tidak terlalu sering.
r. Pada pasien ini mengalami gejala sedang dan disabilitas sedang
III.

Formulasi Diagnostik
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien,
terdapat gejala atau perilaku yang secara klinis ditemukan bermakna sehingga
menimbulkan penderitaan (distress) dan yang berkaitan dengan terganggunya fungsi
(disfungsi). Berdasarkan hasil tersebut, maka pasien dikatakan menderita gangguan
jiwa.
Diagnostik Aksis I
- Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan
tidak terdapat penyakit yang menyebabkan disfungsi otak. Hail ini
dapat dinilai dari tingkat kesadaran, daya ingat atau daya
konsentrasi, orientasi yang masih baik, sehingga pasien ini bukan
-

penderita Gangguan Mental Organik (F.0).


Dari anamnesis didapatkan tidak ada riwayat penggunaan NAPZA
dan alkohol . Maka dari itu kita dapat simpulkan bahwa pasien ini
bukan penderita Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat

Psikoaktif atau Alkohol (F.1)


Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita
maka pasien ini penderita Gangguan Psikotik (F.2) sejak 10 tahun

yang lalu, sehingga sudah termasuk ke dalam Skizofrenia (F.20).


Pada pasien ini terdapat halusinasi visual, auditorik, waham kejar
dan tought broadasting sehingga pasien termasuk ke dalam
Skizofrenia Paranoid (F.20).

Diagnosis Aksis II
- Pada masa kanak-kanak hingga dewasa pasien tumbuh dengan baik
dapat berkomunikasi dengan baik dengan sekitarnya. Pasien
mempunyai
kepribadian.

banyak
Pasien

teman

tidak

dapat

menjawab

menderita

gangguan

pernyaan

matematik

sederhana dan fungsi kognitif baik sehingga pasien tidak terdapat


gangguan retardasi mental. Karena tidak terdapat gangguan
kepribadian dan tidak teradapat gangguan retardasi mental, maka
diagnosis pasien pada Axis II adalah tidak ada diagnosis
Diagnosis Aksis III

11

Pada pemeriksaan fisik dan neurologis pada pasien ini tidak


ditemukan adanya kelainan Maka pada aksis III tidak ada
diagnosis.

Diagnosis Aksis IV
- Pasien berusia 66 tahun. Pasien tinggal bersama kedua anaknya.
Perekonomian tidak terganggu. Hubungan interpersonal ke saudara
dan anaknya tidak baik. Maka pada aksis IV adalah terdapat
masalah keluarga.
Diagnosis Aksis V
Beberapa gejala sedang, disabilitas sedang dalam fungsi secara umum masih
baik. Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 60-51
IV.

Evaluasi multiaksial
Aksis I : Skizofrenia Paranoid.
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : masalah keluarga
Aksis V : GAF Scale 60- 51

V.
Daftar Problem
1. Organobiologik: tidak terdapat masalah
2. Masalah psikologis: pasien menyangkal dirinya sakit. Pasien sering berbicara sendiri.
Pasien sering melihat hantu dan hewan seperti beruang, anjing dan ular dikamar
pasien. Pasien merasa terdapat ular yang masuk kedalam dirinya dan melilit
lehernya. Masih terdapat keluhan waham kejar dan tought of boardcasting.
3. Sosioekonomi: pasien mempunyai masalah keluarga.
VI.

Prognosis
Prognosis Ke Arah Baik
Pasien mau minum obat.
Pasien masih mau datang untuk kontrol
Mendapat dukungan dari anaknya

Prognosis Ke Arah Buruk

Perjalanan penyakitnya sudah berlangsung 10 tahun


Pasien putus obat selama 1 bulan
Pasien menyangkal dirinya sakit

12

Pasien terdapat masalah dengan kakak iparnya dan suka dimarahi


oleh menantu yang tinggal serumah dengan pasien.

Berdasarkan data data diatas dapat disimpulkan prognosis pasien ini adalah
Ad vitam
: ad bonam
Ad functionam
: ad bonam
Ad sanationam
: dubia
X. Terapi
Psikofarmaka
Risperidon 2x2mg
Hexymer 2x2 mg
Chlorpromazine 1 x 100 mg
Psikoterapi
Minum obat teratur
Dekatkan diri keapda ALLAH SWT dengan cara shalat, berdzikir, dan berdoa

serta meningkatkan ibadah.


Memberitahu anak mengenai kondisi pasien sehingga anak dapat mengerti

dan menerima.
Mengabaikan jika mendengar bisikan-bisikan atau melihat bayangan.
Kontrol lagi berikutnya jika obat habis.
Menyuruh pasien untuk curhat tentang apa yang dilihat atau apa yang

dirasakan oleh pasien kepada anaknya


Anaknya selalu mendampingi ibunya agar pasien tidak takut merasa sendiri
Mengedukasi untuk meminum obat secara rutin.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Cetakan Kedua. PT Nuh Jaya.
Jakarta; 2013
2. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. PT Nuh Jaya.
Jakarta; 2007
3. Elvira, Sylvia D, dkk. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit FK UI. Jakarta; 2015

13