Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN POST OP. SC (SECTIO


CAESARIA) DENGANG KPD (KETUBAN PECAH DINI) DI RUANG
MAWAR I RSUD. Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun Oleh:
A.G FALANOE LUTFI
2412001

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN KE II


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL AHMAD YANI YOGYAKARTA
2012

Jl. Ringroad Barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta


Telp (0274) 4342000

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN POST OP. SC (SECTIO
CAESARIA) DENGANG KPD (KETUBAN PECAH DINI) DI RUANG
MAWAR I RSUD. DR. MOEWARDI SURAKARTA

Di sahkan pada tanggal :


Hari:
Tanggal:

Pembimbing Akademik

PembimbingKlinik

Mahasiswa

( A.G Falanoe Lutfi )


SECTIO SAESARIA (SC)

A. Pengertian
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding rahim (Arif Mansjoer, 2002).
Sectio Cesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat
diatas 500 gr, melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim yang
masih utuh. (Prawirro, Sarwono. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan
neonatal).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh
(Gulardi & Wiknjosastro, 2006).
Sectio caesarea atau bedah sesar adalah sebuah bentuk melahirkan anak
dengan melakukan sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen
seorang ibu (laparotomi) dan uterus (hiskotomi) untuk mengeluarkan satu
bayi atau lebih (Dewi Y, 2007). Sehingga penulis dapat menyimpulkan
bahwa sectio caesarea adalah suatu tindakan operasi yang bertujuan untuk
melahirkan bayi dengan jalan pembukaan dinding perut.
B. Sectio cesaria dibagi menjadi :
1.

Section cesaria klasik / corporal : insisi memanjang pada segmen


atas uterus

2.

Section cesaria transperineals profunda: insisi pada bawah rahim,


bisa dengan teknik melintang atau memanjang

3.

Section cesaria extra peritonilis: Rongga peritoneum tak dibuka,


dilakukan pada pasien infeksi uterin berat.

4.

Section cesaria Hysteroctomi : Setelah sectio cesaria dilakukan


hysteroktomy dengan indikasi: Atonia uteri, plasenta accrete, myoma uteri,
infeksi intra uterin berat

Yang paling banyak dilakukan saat ini adalah SC transperitoneal profunda


dengan insisi dari segmen bawah uterus.
Keunggulan dari SC transperitoneal profunda :
1. Perdarahan luka insisi tidak terlalu banyak

2. Bahaya peritonitis tidak terlalu besar


3. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya terjadi ruptur uteri di
kemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus
tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga
luka dapat sembuh lebih sempurna.
C. Etiologi / Indikasi
Para ahli kandungan atau para penyaji perawatan yang lain menganjurkan
sectio caesarea apabila kelahiran melalui vagina mungkin membawa resiko
pada ibu dan janin. Indikasi untuk sectsio caesarea antara lain meliputi:
1. Indikasi Medis
Ada 3 faktor penentu dalam proses persalinan yaitu :
a) Power
Yang memungkinkan dilakukan operasi caesar, misalnya daya mengejan
lemah, ibu berpenyakit jantung atau penyakit menahun lain yang
mempengaruhi tenaga.
b) Passanger
Diantaranya, anak terlalu besar, anak mahal dengan kelainan letak
lintang, primi gravida diatas 35 tahun dengan letak sungsang, anak
tertekan terlalu lama pada pintu atas panggul, dan anak menderita fetal
distress syndrome (denyut jantung janin kacau dan melemah).
c) Passage
Kelainan ini merupakan panggul sempit, trauma persalinan serius pada
jalan lahir atau pada anak, adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga
bisa menular ke anak, umpamanya herpes kelamin (herpes genitalis),
condyloma lota (kondiloma sifilitik yang lebar dan pipih), condyloma
acuminata (penyakit infeksi yang menimbulkan massa mirip kembang
kol di kulit luar kelamin wanita), hepatitis B dan hepatitis C.
2. Indikasi Ibu

a) Usia : Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usia sekitar 35 tahun,
memiliki resiko melahirkan dengan operasi. Apalagi pada wanita dengan
usia 40 tahun ke atas. Pada usia ini, biasanya seseorang memiliki penyakit
yang beresiko, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing
manis, dan preeklamsia. Eklampsia (keracunan kehamilan) dapat
menyebabkan ibu kejang sehingga dokter memutuskan persalinan dengan
sectio caesarea.
b) Tulang Panggul : Cephalopelvic diproportion (CPD) adalah ukuran lingkar
panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat
menyebabkan ibu tidak melahirkan secara alami. Tulang panggul sangat
menentukan mulus tidaknya proses persalinan.
c) Persalinan Sebelumnya dengan sectio caesarea : Sebenarnya, persalinan
melalui bedah caesar tidak mempengaruhi persalinan selanjutnya harus
berlangsung secara operasi atau tidak. Apabila memang ada indikasi yang
mengharuskan dilakukanya tindakan pembedahan, seperti bayi terlalu
besar, panggul terlalu sempit, atau jalan lahir yang tidak mau membuka,
operasi bisa saja dilakukan.
d) Faktor Hambatan Jalan Lahir : Adanya gangguan pada jalan lahir,
misalnya jalan lahir yang kaku sehingga tidak memungkinkan adanya
pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat
pendek, dan ibu sulit bernafas.
e) Kelainan Kontraksi Rahim : Jika kontraksi rahim lemah dan tidak
terkoordinasi (inkordinate uterine action) atau tidak elastisnya leher rahim
sehingga tidak dapat melebar pada proses persalinan, menyebabkan kepala
bayi tidak terdorong, tidak dapat melewati jalan lahir dengan lancar.
f) Ketuban Pecah Dini : Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat
menyebabkan bayi harus segera dilahirkan. Kondisi ini membuat air
ketuban merembes ke luar sehingga tinggal sedikit atau habis. Air ketuban
(amnion) adalah cairan yang mengelilingi janin dalam rahim. Ketuban

pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum

waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan


maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD
sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD
yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
g) Rasa Takut Kesakitan : Umumnya, seorang wanita yang melahirkan secara
alami akan mengalami proses rasa sakit, yaitu berupa rasa mulas disertai
rasa sakit di pinggang dan pangkal paha yang semakin kuat dan
menggigit. Kondisi tersebut karena keadaan yang pernah atau baru
melahirkan merasa ketakutan, khawatir, dan cemas menjalaninya. Hal ini
bisa karena alasan secara psikologis tidak tahan melahirkan dengan sakit.
Kecemasan yang berlebihan juga akan mengambat proses persalinan alami
yang berlangsung.

3. Indikasi Janin
a) Ancaman Gawat Janin (fetal distress) : Detak jantung janin melambat,
normalnya detak jantung janin berkisar 120- 160. Namun dengan CTG
(cardiotography) detak jantung janin melemah, lakukan segera sectio
caesarea segara untuk menyelematkan janin.
b) Bayi Besar (makrosemia)
c) Letak Sungsang : Letak yang demikian dapat menyebabkan poros janin
tidak sesuai dengan arah jalan lahir. Pada keadaan ini, letak kepala pada
posisi yang satu dan bokong pada posisi yang lain.
d) Faktor Plasenta
Plasenta previa : Posisi plasenta terletak dibawah rahim dan menutupi
sebagian atau selruh jalan lahir.
Plasenta lepas (Solution placenta) : Kondisi ini merupakan keadaan
plasenta yang lepas lebih cepat dari dinding rahim sebelum waktunya.
Persalinan dengan operasi dilakukan untuk menolong janin segera
lahir sebelum ia mengalami kekurangan oksigen atau keracunan air
ketuban.

Plasenta accreta : Merupakan keadaan menempelnya plasenta di otot


rahim. Pada umumnya dialami ibu yang mengalami persalinan yang
berulang kali, ibu berusia rawan untuk hamil (di atas 35 tahun), dan
ibu yang pernah operasi (operasinya meninggalkan bekas yang
menyebabkan menempelnya plasenta.
e) Kelainan Tali Pusat
prolapsus tali pusat (tali pusat menumbung) : keadaan penyembulan
sebagian atau seluruh tali pusat. Pada keadaan ini, tali pusat berada di
depan atau di samping atau tali pusat sudah berada di jalan lahir
sebelum bayi.
Terlilit tali pusat
Lilitan tali pusat ke tubuh janin tidak selalu berbahaya. Selama tali
pusat tidak terjepit atau terpelintir maka aliran oksigen dan nutrisi dari
plasenta ke tubuh janin tetap aman.

PAHTWAY :
Insufisiensi plasenta

Sirkulasi uteroplasenta menurun


Tidak timbul HIS

Cemas pada janin

Tidak ada perubahan


pada serviks

Faktor predisposisi :
Ketidak seimbangan
sepalo pelvic
Kehamilan kembar
Distress janin
Presentsi janin
Preeklampsi
/

Kelahiran terhambat

Kadar kortisol menurun


(merupakan
metabolisme
karbohidrat, protein dan
lemak)

Post date

SC
Persalinan tidak
normal

Kurang
pengetahuan
Ansietas

Nifas
(post pembedahan)

Nyeri
Imobilisasi
Resti
Infeksi
Ansietas

Estrogen
meningkat
Penurunan laktasi

Pembendungan
laktasi

D. Pemerisaan Penunjang
1. Elektroensefalogram (EEG) : Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus
dari kejang.
2. Pemindaian CT : Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.

3. Magneti resonance imaging (MRI) : Menghasilkan bayangan dengan


menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah-daerah otak yang tidak jelas terlihat bila
menggunakan pemindaian CT.
4. Pemindaian positron emission tomography (PET) : untuk mengevaluasi
kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan
metabolik atau alirann darah dalam otak.
5. Uji laboratorium
Fungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
Panel elektrolit
Skrining toksik dari serum dan urin
AGD
Kadar kalsium darah
Kadar natrium darah
Kadar magnesium darah

E. Hal-hal yang harus diperhatikan pada SC


1. SC elektif : pembedahan direncanakan terlebih dahulu , karena segala
persiapan dapat dilakukan dengan baik.
2. Anestesia : anestesia umum akan mempengaruhi defensif pada pusat
pernafasan janin, anestesi spinal aman buat janin tetapi ada kemungkinan
tekanan darah ibu menurun yang bisa berakibat bagi ibu dan janin sehingga
cara yang paling aman adalah anestesi local, tetapi sering tidak dilakukan
karena mengingat sikap mental penderita.
3. Transfusi darah : pada umumnya SC perdarahannya lebih banyak
disbanding persalinan pervaginam, sehingga perlu dipersiapkan.
4. Pemberioan antibiotik : pemberian antibiotik sangat dianjurkan mengingat
adanya resiko infeksi pada ibu.
F. Komplikasi
Yang sering terjadi pada ibu SC adalah :
1. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas
(ringan), atau sedang, yang berat bisa berupa peritonitis, sepsis.

2. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan


cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
3. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing,
embolisme paru yang sangat jarang terjadi.
4. Kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya bisa terjadi ruptur uteri.

G. TEKHNIK PENATALAKSANAAN (SC)


1. Bedah Caesar klasik /corporal.
a. Buatlah insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah
korpus uteri diatas segmen bawah rahim. Perlebar insisi dengan gunting
sampai sepanjang kurang lebih 12 cm saat menggunting lindungi janin
dengan dua jari operator.
b. Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah. Janin dilahirkan
dengan meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut.
c. Setelah janin lahir sepenuhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan
dipotong diantara kedua klem tersebut.
d. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan
uterotonika kedalam miometrium dan intravena.
e. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :
Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang
dengan menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur
horizontal ( lambert) dengan benang yang sama.
Lapisan III : Dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum
dijahit secara jelujur menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2
f. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah
dan air ketuban
g. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.
2. Bedah Caesar transperitoneal profunda

a. Plika vesiko uterina diatas segmen bawah rahim dilepaskan secara


melintang, kemudian secar tumpul disisihkan kearah bawah dan samping.
b. Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang
lebih 1 cm dibawah irisan plika vesikouterina. Irisan kemudian diperlebar
dengan gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm saat menggunting
lindungi janin dengan dua jari operator.
c. Stetlah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan
dengan cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut.
d. Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya.
e. Setelah janin dilahirkan seluruhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan
dipotong diantara kedua klem tersebut.
f. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan
uterotonika kedalam miometrium dan intravena.
g. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :
Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang
dengan menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur
horizontal (lambert) dengan benang yang sama.
Lapisan III: Peritoneum plika vesikouterina dijahit

secara jelujur

menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2


h. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah
dan air ketuban
i. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.
3. Bedah Caesar ekstraperitoneal
a. Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. Peritoneum kemudia
digeser kekranial agar terbebas dari dinding cranial vesika urinaria.
b. Segmen bawah rahim diris melintang seperti pada bedah Caesar
transperitoneal profunda demikian juga cara menutupnya.
4. Histerektomi Caersarian ( Caesarian hysterectomy)
a. Irisan uterus dilakukan seperti pada bedah Caesar klasik/corporal
demikian juga cara melahirkan janinnya.

b. Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan


menggunakan klem secukupnya.
c. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus.
d. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2)
pada tepi segmen bawah rahim. Satu klem juga ditempatkan diatas kedua
klem tersebut.
e. Uterus kemudian diangkat diatas kedua klem yang pertama. Perdarahan
pada tunggul serviks uteri diatasi.
f. Jahit cabang arteria uterine yang diklem dengan menggunakan benang
sutera no. 2.
g. Tunggul serviks uteri ditutup dengan jahitan ( menggunakan chromic
catgut ( no.1 atau 2 ) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptic.
h. Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul
serviks uteri.
i. Dilakukan reperitonealisasi sertya eksplorasi daerah panggul dan visera
abdominis.
j. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis

H. Penatalaksaan post SC
1. Pemberian cairan :
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian
cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar
tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya.
Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL
secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb
rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
2. Diet :
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6-10 jam pasca
operasi, berupa air putih dan air teh.

3. Mobilisasi :
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
a) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
b) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang
sedini mungkin setelah sadar
c) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
d) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah
duduk (semifowler)
e) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan
sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
4. Kateterisasi :
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan.
Kateter biasanya terpasang 24-48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis
operasi dan keadaan penderita.
5. Pemberian Obat-obatan
a) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap
institusi
b) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
c) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C
6. Perawatan Luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti.

I. Asuhan Keperawatan
Pengkajian Fokus
a.

Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml

b.

Integritas ego
Memperlihatkan ketidakmampuan menghadapi sesuatu
Menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan,
marah atau menarik diri
Klien / pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima dalam
pengalaman kelahiran

c.

Eliminasi
Adanya kateter urinary
Bising usus

d.

Makanan / Cairan
Abdomen lunak / tak ada distensi awal (diet ditentukan)

e.

Neuro sensori
Kerusakan gerakan dan sensori dibawah tingkat anastesi spinal epidural

f.

Nyeri / ketidaknyamanan
Mulut mungkin kering
Menunjukkan sikap tak nyaman pasca oprasi, nyeri penyerta
Distensi kandung kemih / abdomen

g.

Pernafasan
Bunyi paru jelas dan vesicular

h.

Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh
Jalur parenteral, bila digunakan, paten dan sisi bekas eritema bengkak /
nyeri tekan

i.

Seksualiatas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus
Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan / banyak

KETUBAN PECAH DINI


A. Pengertian
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda-tanda

persalinan (Manuaba, 2009).


Pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan yang
dimana selaput ketuban pecah 1 jam, kemudian tidak diikuti tanda-tanda

awal persalinan (tanpa melihat usia kehamilan).


Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban
sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan
maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD
sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD
yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

Gambar 1. Ketuban Pecah


B. Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang
disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur,
merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD :
1. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
2. Riwayat KPD sebelumya
3. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
4. Kehamilan kembar
5. Trauma : tekanan intra uterine mendadak meningkat.
6. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu
7. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis
8. Koria amniolitis; selaput ketuban menjadi rapuh.
9. Inkompeten serviks; kanalis servikalis yang selalu terbuka karena kelainan
serviks (kongenital, fisiologis)
10. Kelainan letak; tidak ada bagian terendah janin yg menutup PAP, yg dapat
mengurangi tekanan terhadap selaput bagian bawah.

Gambar 2. Inkompetensi leher Rahim


C. Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui
vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak,
mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan
bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus
diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin
yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat"
kebocoran untuk sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin
bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan
dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari
vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut
dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan
trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan
melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah
air ketuban yang terdapat di dalam rahim.

E. Komplikasi KPD
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37
minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi
baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil
dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya
korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps
atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm.
Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm.
Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 23 minggu.

F. Penanganan Ketuban Pecah di Rumah


1. Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi
dokter atau petugas kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit.
2. Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang
keluar.
3. Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan
berhubungan seksual atau mandi berendam

4. Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari


infeksi dari dubur.
5. Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri.
G. Terapi
Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit.
Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan
dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan
tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah
risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini.
Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan
terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan

janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.


Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah
kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum
waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik.
Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian

KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.


Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan
kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta
tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin.
Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko

sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak.


Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama
adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian
KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD
dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat
menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan
KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat
hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta sepsis neonatal
(infeksi pada bayi baru lahir).

Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila
kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi
maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika
tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan
menginduksi

persalinan

dengan

pemberian

oksitosin

(perangsang

kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika


memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu
selama itu untuk
memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan
resiko infeksi.
H. Pencegahan
Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup
efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal
triwulan ketiga dianjurkan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN :
1. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu
tentang cara menyusui yang bernar.
2. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir.
3. Defisit pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal atau familiar
dengan sumber informasi tentang cara perawatan bayi.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi

RENCANA KEPERAWATAN :
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NO
1.

DIAGNOSA

PERENCANAAN
TUJUAN

KEPERAWATAN
Menyusui tidak

Setelah diberikan tindakan keperawatan

efektif berhubungan selama 3x24 jam klien menunjukkan

INTERVENSI
Health education:
1. Berikan informasi mengenai :

dengan kurangnya

respon breast feeding adekuat dengan

Fisiologi menyusui

pengetahuan ibu

indikator:

Keuntungan menyusui

klien mengungkapkan puas dengan

Perawatan payudara

kebutuhan untuk menyusui

Kebutuhan diit khusus

klien mampu mendemonstrasikan

Faktor-faktor yang menghambat proses menyusui

tentang cara

menyusui yang
bernar

perawatan payudara

2.

Demonstrasikan breast care dan pantau kemampuan klien


untuk melakukan secara teratur

3.

Ajarkan cara mengeluarkan ASI dengan benar, cara


menyimpan, cara transportasi sehingga bisa diterima oleh bayi

4.

Berikan

dukungan

dan

semangat

pada

ibu

untuk

melaksanakan pemberian Asi eksklusif


5.

Berikan penjelasan tentang tanda dan gejala bendungan


payudara, infeksi payudara

6.

Anjurkan keluarga untuk memfasilitasi dan mendukung klien


dalam pemberian ASI

7.
2.

Nyeri akut b.d agen

Diskusikan tentang sumber-sumber yang dapat memberikan

informasi/memberikan pelayanan KIA


Setelah dilakukan asuhan keperawatan Pain Management

injuri fisik (luka

selama

3x24

jam

diharapkan

insisi operasi)

berkurang dengan indicator:

nteri

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

NOC :
Pain Level,

Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui

Pain control,

pengalaman nyeri pasien

Comfort level
Kriteria Hasil :
Mampu mengontrol nyeri (tahu
penyebab

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

nyeri,

menggunakan

Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri

Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang

mampu
tehnik

ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau

nonfarmakologi untuk mengurangi


nyeri, mencari bantuan)

dukungan

Melaporkan bahwa nyeri berkurang


dengan menggunakan manajemen

Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan


Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan

Kurangi faktor presipitasi nyeri

nyeri

Mampu mengenali nyeri (skala,

Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non


farmakologi dan inter personal)

intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

Menyatakan rasa nyaman setelah

Ajarkan tentang teknik non farmakologi

Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

Tingkatkan istirahat

Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan

nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal

nyeri tidak berhasil

Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration

Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri


sebelum pemberian obat

Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi

Cek riwayat alergi

Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik

ketika pemberian lebih dari satu

Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri

Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal

Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri


secara teratur

Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik


pertama kali

Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat

Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

3.

Kurang

Setelah dilakukan asuhan keperawatan

pengetahuan

selama 3x24 jam diharapkan pengetahuan Teaching : disease Process

tentang
ibu

perawatan klien meningkat dengan indicator:


nifas

perawatan
operasi

dan

1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang


proses penyakit yang spesifik

post NOC :

2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini

b/d

Kowlwdge : disease process

berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang

kurangnya sumber

Kowledge : health Behavior

tepat.

informasi

Kriteria Hasil :
Pasien dan keluarga menyatakan

3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,


dengan cara yang tepat

pemahaman tentang penyakit,

4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat

kondisi, prognosis dan program

5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat

pengobatan

6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara

Pasien dan keluarga mampu

yang tepat

melaksanakan prosedur yang

7. Hindari jaminan yang kosong

dijelaskan secara benar

8. Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan

Pasien dan keluarga mampu


menjelaskan kembali apa yang

pasien dengan cara yang tepat


9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan

dijelaskan perawat/tim kesehatan

untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau

lainnya.

proses pengontrolan penyakit


10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second
opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara
yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
14. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan
pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

4.

Defisit

perawatan Setelah dilakukan asuhan keperawatan NIC :

diri b.d. Kelelahan.

selama 3x24 jam ADLs klien meningkat Self Care assistane : ADLs
dengan indicator:

Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.

Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan

NOC :
Self care : Activity of Daily Living

diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.

(ADLs)
Kriteria Hasil :

melakukan self-care.

Klien terbebas dari bau badan


Menyatakan kenyamanan terhadap

Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal


sesuai kemampuan yang dimiliki.

kemampuan untuk melakukan ADLs


Dapat melakukan ADLS dengan

Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk

Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan


ketika klien tidak mampu melakukannya.

bantuan

Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk


memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk
melakukannya.

Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.

Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas


sehari-hari.

5.

Risiko infeksi b.d


tindakan

Setelah dilakuakan asuhan keperawatan

invasif, selama 3x24 jam diharapkan resiko infeksi

NIC :
Infection Control (Kontrol infeksi)

paparan lingkungan terkontrol dengan indicator:

Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain

patogen

Pertahankan teknik isolasi

Batasi pengunjung bila perlu

Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat

NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control

berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien

Kriteria Hasil :
Klien bebas dari tanda dan gejala
infeksi
Mendeskripsikan proses penularan
penyakit, factor yang mempengaruhi
penularan serta penatalaksanaannya,
Menunjukkan

kemampuan

Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan

Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan

Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung

Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat

Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum

untuk

mencegah timbulnya infeksi

kencing

Jumlah leukosit dalam batas normal


Menunjukkan perilaku hidup sehat

Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung

Tingktkan intake nutrisi

Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)

Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal

Monitor hitung granulosit, WBC

Monitor kerentanan terhadap infeksi

Batasi pengunjung

Saring pengunjung terhadap penyakit menular

Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko

Pertahankan teknik isolasi k/p

Berikan perawatan kuliat pada area epidema

Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas,


drainase

Ispeksi kondisi luka / insisi bedah

Dorong masukkan nutrisi yang cukup

Dorong masukan cairan

Dorong istirahat

Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep

Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi

Ajarkan cara menghindari infeksi

Laporkan kecurigaan infeksi

Laporkan kultur positif

DAFTAR PUSTAKA

Abdul bari saifuddin,Prof Dr, 2002 , Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta.
Abdul Bari Saifuddin,, 2002 , Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal, Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Arif Mansjoer. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Salemba Medika. Jakarta
Manuaba, I.B. 2002. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB.
Jakarta : EGC
Nurjannah Intansari. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta :
mocaMedia
Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT Gramedi
Manuaba, I.B.G., 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : Arcan.
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Mansjoer, Arif. Dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarata : EGC.
NANDA, 2007. Nursing Diagnoses : Definition and Clssification 2007 2008, NANDA
Sarwono P. 2006. Ilmu Kebidanan edisi 3. Bina Pustaka : Jakarta.
Widiastuti. (2010). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Preeklampsia.
Diakses pada tanggal 11 Februari 2012.
Winknjosastro, Hanifa. (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Meidian, JM. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC).United States of
America:Mosby.
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Cunningham FG et al.(2005). Normal Labor and Delivery in Williams Obstetrics , 22nd
ed, McGraw-Hill.

Anda mungkin juga menyukai