Anda di halaman 1dari 7

Good Governance dan Reinventing Government

1. Good Governance
Konsep governance mulai berkembang pada awal 1990-an ditandai dengan adanya
cara pandang (point of view) yang baru terhadap peran pemerintah (government) dalam
menjalankan sistem pemerintahan. Pandangan ini muncul karena peran pemerintah dinilai
terlalu besar dan terlalu berkuasa, sehingga masyarakat tidak memiliki keleluasaan dan ruang
untuk berkembang (Basuki dan Shofwan, 2006:8). Istilah governance dalam bahasa Inggris
berarti the act, fact, manner of governing, yang berarti adalah suatu proses kegiatan.
Kooiman dalam Sedarmayanti (2004:2) mengemukakan
bahwa: Governanceialah serangkaian proses interaksi sosial politik antara pemerintah dengan
masyarakat dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan
intervensi pemerintah atas kepentingan-kepentingan tersebut.
Pada dasarnya, istilah governance bukan hanya berarti kepemerintahan sebagai suatu
kegiatan saja, melainkan juga mengacu kepada arti pengurusan, pengarahan, pengelolaan, dan
pembinaan penyelenggaraan. Berdasarkan dari apa yang diungkapkan oleh Kooiman di atas,
dapat dipahami bahwa keterlibatan masyarakat dalam sistem pemerintahan merupakan
semangat yang terdapat dalam konsep good governance.
United Nations Development Program dalam Sedarmayanti (2004:3) mendefinisikan
governance sebagai berikut : Governance is the exercise of economic, political, and
administrative authority to manage a countrys affair at all levels and means by which states
promote social cohesion, integration, and ensure the well being of their population.
(Kepemerintahan adalah pelaksanaan kewenangan di bidang ekonomi, politik, dan
administrasi untuk mengelola berbagai urusan negara pada setiap tingkatan dan merupakan
instrumen kebijakan negara untuk mendorong terciptanya kepaduan sosial, integrasi, dan
menjamin kesejahteraan masyarakat). Sedangkan kata good yang berarti baik dalam
istilah kepemerintahan memiliki dua arti, yaitu:
1. Nilai-nilai yang menjunjung tinggi kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang dapat
meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan pembangunan nasional yang
mandiri, berkelanjutan, dan berkeadilan sosial.
2. Aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya
untuk mencapai tujuan nasional tersebut.
United Nation Development Programme (UNDP) menyaratkan 10 prinsip untuk
terselenggaranya good governance, prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Akuntabilitas: meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala
bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat.
2.
Pengawasan: meningkatkan upaya pengawasan terhadap penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan dengan mengusahakan keterlibatan swasta dan masyarakat
luas.
3.
Daya tanggap: meningkatkan kepekaan para penyelenggaraan pemerintahan terhadap
aspirasi masyarakat tanpa kecuali.

4.
Profesionalisme: meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggaraan
pemerintahan agar mampu memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya
terjangkau.
5.
Efisiensi & Efektivitas: menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat
dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal & bertanggung jawab.
6.
Transparansi: menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah dan
masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh
informasi.
7.
Kesetaraan: memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk
meningkatkan kesejahteraannya.
8.
Wawasan kedepan: membangun daerah berdasarkan visi & strategis yang jelas &
mengikuti-sertakan warga dalam seluruh proses pembangunan, sehingga warga merasa
memiliki dan ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan daerahnya.
9.
Partisipasi: mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam
menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut
kepentingan masyarakat, baik secara langsung mapun tidak langsung.
10.
Penegakan hukum: mewujudkan penegakan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa
pengecualian, menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam
masyarakat.
Lembaga Administrasi Negara (2000:5) menyimpulkan bahwa wujud good
governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang efisien dan efektif, serta solid dan
bertanggung jawab, dengan menjaga kesinergisan interaksi yang konstruktif di antara
domain-domain negara, sektor swasta, dan masyarakat.
Good governance merupakan suatu upaya mengubah watak pemerintah untuk tidak
bekerja sendiri tanpa memperhatikan kepentingan atau aspirasimasyarakat. Di dalam sistem
penyelenggaraan pemerintahan yang menerapkangood governance, masyarakat tidak lagi
dipandang sebagai obyek, tetapi dipandang sebagai subyek yang turut mewarnai programprogram dan kebijakan pemerintahan.
2. Reinventing Government
Konsep reinventing government pada dasarnya merupakan representasi dari
paradigma New Public Management dimana dalam New Public Management (NPM), negara
dilihat sebagai perusahaan jasa modern yang kadang-kadang bersaing dengan pihak swasta,
tapi di lain pihak dalam bidang-bidang tertentu memonopoli layanan jasa, namun tetap
dengan kewajiban memberikan layanan dan kualitas yang maksimal. Segala hal yang tidak
bermanfaat bagi masyarakat dianggap sebagai pemborosan dalam paradigmaNew Public
Management (NPM). Warga pun tidak dilihat sebagai abdi lagi, tetapi sebagai pelanggan
layanan publik yang karena pajak yang dibayarkan memiliki hak atas layanan dalam jumlah
tertentu dan kualitas tertentu pula. Prinsip dalamNew Public Management (NPM) berbunyi,
dekat dengan warga, memiliki mentalitas melayani, dan luwes serta inovatif dalam
memberikan layanan jasa kepada warga

Konsep reinventing government, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia


konsep ini berarti menginventarisasikan lagi kegiatan pemerintah. Pada awalnya,
gerakan reinventing government diilhami oleh beban pembiayaan birokrasi yang besar,
namun dengan kinerja aparatur birokrasi yang rendah.Pressure dari publik sebagai pembayar
pajak mendesak pemerintah untuk mengefisiensikan anggarannya dan meningkatkan
kinerjanya. Pengoperasian fungsi pelayanan publik yang tidak dapat diefisiensikan lagi dan
telah membebani keuangan Negara diminta untuk dikerjakan oleh sektor non-pemerintah.
Dengan demikian, maka akan terjadi proses pereduksian peran dan fungsi pemerintah yang
semula memonopoli semua bidang pelayanan publik, kini menjadi berbagi dengan pihak
swasta, yang semula merupakan big government ingin dijadikan small government yang
efektif, efisien, responsive, dan accountable terhadap kepentingan publik.
Proses inventarisasi dan reduksi pemerintah paling tidak dilakukan melalui dua
cara. Pertama, melalui perbaikan menajemen pemerintahan darigaya birokratis
ke gaya entrepreuner yang umumnya diterapkan di sektor bisnis. Perspektif ini mereformasi
pendekatan manajemen pelayanan publik di Indonesiayang sebelumnya menggunakan
pendekatan birokratis.
Teknik-teknik manajemen yang biasa digunakan disektor bisnis telah digunakan
disektor pemerintahan, seperti penyusunan Renstra dan pengukuran kinerja untuk
pemerintahan lokal dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang tertuang dalam AKiP
(Akuntabilitas Kinerja Pemerintah). Inefisiensi unsur-unsur sektor pemerintah seperti
Departemen, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan
lain-lain, menyebabkan pendekatan ini mendapatkan tempat, apalagi didukung realita
anggaran pemerintah yang mengalami defisit dan keharusan membayar hutang luar negeri
(Wijaya, 2006:152).
Cara yang kedua yakni dengan mentransfer beberapa fungsi-fungsi pelayanan publik
ke sektor non-pemerintah, seperti penggunaan manajemen kontrak, privatisasi, dan membuka
alternatif-alternatif pelayanan sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan. Tapi dalam
melakukan privatisasi harus terlebih dahulu melalui kajian yang mendalam dan penuh kehatihatian (prudential measures).
Ada sepuluh prinsip reinventing government yang diungkapkan oleh Osborne dan
Gaebler (1996 :29-343), yaitu:
1. Pemerintahan katalis; fokus pada pemberian pengarahan, bukan produksi pelayanan
publik. Pemerintah harus menyediakan beragam pelayanan publik, tetapi tidak harus terlibat
secara langsung dengan proses produksinya. Sebaiknya pemerintah memfokuskan diri pada
pemberian arahan, sedangkan produksi pelayanan publik diserahkan pada pihak swasta
dan/atau sektor ketiga (lembaga swadaya masyarakat dan non profit lainnya).
2. Pemerintahan milik masyarakat; memberdayakan masyarakat daripada melayani.
Pemerintah sebaiknya memberikan wewenang kepada masyarakat sehingga mereka mampu
menjadi masyarakat yang dapat menolong dirinya sendirinya (self-help community).
3. Pemerintah yang kompetitif; menyuntikkan semangat kompetisi dalam pemberian
pelayanan publik. Kompetisi adalah satu-satunya cara untuk menghemat biaya sekaligus
meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan kompetisi, banyak pelayanan publik yang dapat
ditingkatkan kualitasnya tanpa harus memperbesar biaya.

4. Pemerintah yang digerakkan oleh misi; mengubah organisasi yang digerakkan


oleh peraturan menjadi organisasi yang digerakkan oleh misi. Apa yang dapat dan tidak dapat
dilaksanakan oleh pemerintah diatur dalam mandatnya. Namun tujuan pemerintah bukanlah
mandatnya tetapi misinya.
5. Pemerintah yang berorientasi hasil; membiayai hasil bukan masukan. Pada
pemerintah tradisional, besarnya alokasi anggaran pada suatu unit kerja ditentukan oleh
kompleksitas masalah yang dihadapi. Semakin kompleks masalah yang dihadapi, semakin
besar pula dana yang dialokasikan. Kebijakan seperti ini kelihatannya logis dan adil, tapi
yang terjadi adalah unit kerja tidak punya insentif untuk memperbaiki kinerjanya. Justru,
mereka memiliki peluang baru, semakin lama permasalahan dapat dipecahkan, semakin
banyak dana yang dapat diperoleh. Pemerintah wirausaha berusaha mengubah bentuk
penghargaan dan insentif itu, yaitu membiayai hasil dan bukan masukan. Pemerintah
wirausaha akan mengembangkan suatu standar kinerja yang mengukur seberapa baik suatu
unit kerja mampu memecahkan permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya. Semakin
baik kinerjanya semakin banyak pula dana yang akan dialokasikan untuk mengganti semua
dana yang telah dikeluarkan oleh unit kerja tersebut.
6. Pemerintah berorientasi pada pelanggan; memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan
birokrasi. Pemerintah tradisional seringkali salah dalam mengidentifikasikan pelanggannya.
Mereka akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan birokrasi, sedangkan kepada
masyarakat seringkali menjadi arogan. Pemerintah wirausaha tidak akan seperti itu. Ia akan
mengidentifikasikan pelanggan yang sesungguhnya. Dengan cara seperti ini, tidak berarti
bahwa pemerintah tidak bertanggung jawab pada dewan legislatif; tetapi sebaliknya, ia
menciptakan sistem pertanggungjawaban ganda : kepada legislatif dan masyarakat. Dengan
cara seperti ini, pemerintah tidak akan arogan tetapi secara terus menerus akan berupaya
untuk lebih memuaskan masyarakat.
7. Pemerintahan wirausaha; mampu menciptakan pendapatan dan tidak sekedar
membelanjakan. Pemerintah tradisional cenderung tidak berbicara tentang upaya
menghasilkan pendapatan dari aktivitasnya. Padahal, banyak yang bisa dilakukan untuk
menghasilkan pendapatan dari proses penyediaan pelayanan publik. Pemerintah wirausaha
dapat mengembangkan beberapa pusat pendapatan, seperti : BPS dan Bappeda yang dapat
menjual informasi tentang daerahnya kepada pusat-pusat penelitian, pemberian hak guna
usaha kepada pengusaha dan masyarakat, penyertaan modal, dan lain-lain.
8. Pemerintah antisipatif; berupaya mencegah daripada mengobati. Pemerintah
tradisional yang birokratis memusatkan diri pada produksi pelayanan publik untuk
memecahkan masalah publik, serta cenderung bersifat reaktif. Pemerintah wirausaha tidak
reaktif tetapi proaktif. Ia tidak hanya mencoba untuk mencegah masalah, tetapi juga berupaya
keras untuk mengantisipasi masa depan. Ia menggunakan perencanaan strategis untuk
menciptakan visi.
9. Pemerintah desentralisasi; dari hierarki menuju partisipatif dan tim kerja. lima
puluh tahun yang lalu, pemerintahan yang sentralistis dan hierarkis sangat diperlukan.
Pengambilan keputusan harus berasal dari pusat, mengikuti rantai komando hingga sampai
pada staf yang paling berhubungan dengan masyarakat dan bisnis. Pada masa itu, sistem
tersebut sangat cocok, karena teknologi informasi masih sangat primitif, komunikasi antar
lokasi masih lamban, dan aparatur pemerintah masih sangat membutuhkan petunjuk

langsung. Tetapi pada saat sekarang, keadaan sudah berubah, perkembangan teknologi sudah
sangat maju dan keinginan masyarakat sudah semakin kompleks, sehingga pengambilan
keputusan harus digeser ke tangan masyarakat, asosiasi-asosiasi, pelanggan, dan lembaga
swadaya masyarakat.
10. Pemerintah berorientasi pada mekanisme pasar; mengadakan perubahan dengan
mekanisme pasar (sistem insentif ) dan bukan dengan mekanisme administratif (sistem
prosedur dan pemaksaan). Manajemen pemerintahan yang mengimplementasikan pemikiran
New Public Management ini sangat berorientasi pada jiwa dan semangat kewirausahaan,
maka manajemen publik baru di tubuh pemerintah dapat disebut sebagai Manajemen
Kewirausahaan. Di dalam doktrin Reinventing Government, pemerintah dianjurkan untuk
meninggalkan paradigma administrasi tradisional yang cenderung mengutamakan sistem dan
prosedur, dan menggantikannya dengan orientasi pada kinerja atau hasil kerja.
Selanjutnya, bagaimana konsep birokrasi entrepreneurial ini dapat diterapkan di
Indonesia, terutama dalam konteks otonomi daerah? Dengan kata lain, apa yang dapat kita
lakukan untuk menumbuhkan birokrasi yang mempunyai semangat wirausaha ini dalam
birokrasi pemerintahan daerah sehingga tujuan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi
daerah dapat dicapai dengan baik.
Untuk menjawab permasalahan ini, Osborne dan Plastrik menyatakan bahwa
setidaknya terdapat lima strategi yang dapat digunakan untuk melakukan perubahan yang
mendasar dalam rangka mendorong peningkatan kemampuan birokrasi yang efektif dan
efisien, ataupun kemampuan menyesuaikan atau adaptability, dan kapasitas untuk
memperbarui sistem dan organisasi publik.
1. Strategi inti (the core strategy)
Strategi ini menentukan tujuan (the purpose) sebuah sistem dan organisasi publik. Jika
sebuah organisasi tidak mempunyai tujuan yang jelas atau mempunyai tujuan yang banyak
atau saling bertentangan, maka organisasi itu tidak dapat mencapai kinerja yang tinggi.
Dengan kata lain, sebuah organisasi publik akan mampu bekerja secara efektif jika ia
mempunyai tujuan yang spesifik. Oleh karena itu, adalah penting bagi para pemimpin
organisasi-organisasi publik untuk menetapkan terlebih dahulu tujuan organisasinya secara
spesifik.
Jadi dengan demikian penetapan visi dan misi organisasi juga mempunyai peran yang
sama pentingnya dalam melengkapi tujuan organisasi publik. Hal ini penting sebagai usaha
agar karyawan atau pegawai mempunyai arah dan pegangan yang jelas. Di luar itu, strategi
ini terutama berkaitan dengan usaha-usaha memperbaiki pengarahan (steering).
2. Strategi konsekuensi (the consequences strategy)
Strategi ini menentukan insentif-insentif yang dibangun ke dalam sistem publik.
Birokrasi memberikan para pegawainya insentif yang kuat untuk mengikuti peraturanperaturan, dan sekaligus, mematuhinya. Pada model birokrasi lama, para pegawai atau
karyawan memperoleh gaji yang sama terlepas dari yang mereka hasilkan.
Dalam rangka reinventing government, seperti diungkapkan oleh Osborne dan
Plastrik, mengubah insentif adalah penting dengan cara menciptakan konsekuensikonsekuensi bagi kinerja. Jika perlu, organisasi-organisasi publik perlu ditempatkan dalam

dunia usaha (market place), dan membuat organisasi tergantung pada konsumennya untuk
memperoleh penghasilan. Namun, jika hal ini tidak layak untuk dilakukan, maka perlu dibuat
kontrak atau perjanjian guna menciptakan persaingan antara organisasi-organisasi publik dan
swasta (atau persaingan antar organisasi publik).
Hal ini karena pasar dan persaingan menciptakan insentif-insentif yang jauh lebih
kuat sehingga organisasi publik terdorong untuk memberikan perbaikan-perbaikan kinerja
yang lebih besar. Insentif dan persaingan ini dapat mempunyai bentuk yang beragam, seperti
tunjangan kesehatan, kenaikan gaji, atau memberikan penghargaan bagi organisasi-organisasi
publik yang mempunyai kinerja yang lebih tinggi.

3. Strategi pelanggan (the customers strategy)


Strategi ini terutama memfokuskan pada pertanggungjawaban (accountability).
Berbeda dengan birokrasi lama, dalam birokrasi model baru, tanggung jawab para pelaksana
birokrasi publik hendaknya ditempatkan pada masyarakat, atau dalam konteks ini dianggap
sebagai pelanggan. Dengan demikian, tanggung jawab tidak lagi semata-mata ditempatkan
pada pejabat birokratis di atasnya, tetapi lebih didiversifikan kepada publik yang lebih luas.
Model pertanggungjawaban seperti ini diharapkan dapat meningkatkan tekanan
terhadap organisasi-organisasi publik untuk memperbaiki kinerja ataupun pengelolaan
sumber-sumber organisasi. Selanjutnya, dengan memberikan pertanggungjawaban kepada
masyarakat/konsumen, akan dapat menciptakan informasi, yaitu tentang kepuasan para
konsumen terhadap hasil-hasil dan pelayanan pemerintahan tertentu. Dengan kata lain,
penyerahan pertanggungan jawab kepada para konsumen berarti bahwa organisasi-organisasi
publik harus mempunyai sasaran yang harus dicapai, yaitu meningkatkan kepuasan
konsumen (customers satisfaction).
4. Strategi Pengawasan (the control strategy)
Strategi ini menentukan di mana letak kekuasaan membuat keputusan itu diberikan.
Dalam sistem birokrasi lama, sebagian besar kekuasaan tetap berada di dekat puncak
hierarkhi. Dengan kata lain, wewenang tertinggi untuk membuat keputusan berada pada
puncak hierarkhi.
Perkembangan birokrasi modern yang semakin kompleks telah membuat organisasi
menjadi tidak efektif. Hal ini karena proses pengambilan keputusan harus melalui jenjang
hierakhi yang panjang sehingga membuat proses pengambilan keputusan cenderung lamban,
dan jika hal ini dipaksakan, maka jika dilewati akan membawa dampak
terjadinya bureaucracy barierrs. Pada akhirnya, secara keseluruhan, sistem kinerja birokrasi
dalam menangani masalah dan memberikan pelayanan kepada masyarakat akan berlangsung
lamban karena bawahan tidak diberi ruang yang cukup untuk mengambil inisiatif dalam
memecahkan masalah.
Lebih lanjut, dalam model birokrasi lama, para pengelola atau manajer mempunyai
pilihan-pilihan yang terbatas, dan keleluasan atau fleksibilitas mereka dihimpit oleh
ketentuan-ketentuan anggaran yang terinci, peraturan-peraturan perorangan, sistem
pengadaan (procurement systems), praktek-praktek audit, dan sebagainya. Karyawan hampir
tidak mempunyai kekuasaan untuk membuat keputusan. Akibatnya, organisasi-organisasi

pemerintah lebih menanggapi perintah-perintah baru dibandingkan dengan situasi yang


berubah atau kebutuhan-kebutuhan pelanggan.
Oleh karena itu, adalah penting mendesentralisasikan pembuatan keputusan kepada
pejabat-pejabat dan karyawan atau pegawai birokrasi di bawahnya karena hal ini akan
mendorong timbulnya rasa tanggung jawab dikalangan para pegawai birokrasi, dan dalam
konteks yang luas mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses implementasi kebijakan.
5. Strategi budaya (the culture strategy)
Strategi ini menentukan budaya organisasi publik yang menyangkut nilai, norma,
tingkah laku, dan harapan-harapan para karyawan. Budaya ini akan dibentuk secara kuat oleh
tujuan organisasi, insentif, sistem pertanggungjawaban, dan struktur kekuasaan organisasi.
Dengan kata lain, mengubah tujuan, insentif, sistem pertanggungan jawab, dan struktur
kekuasaan organisasi akan mengubah budaya.