Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN APPENDISITIS

A. PENGKAJIAN
1. BIODATA
a. Identitas klien
Nama
: Tn. A
Umur
: 20 th
Jenis kelamin
: laki-laki
Pendidikan
: mahasiswa.
Tgl masuk
: 7-januari-2012
Tgl pengkajian
: 10-januari-2012
Sumber informasi
: Klien,teman dekat klien.rekamedik.
orang tua klien.
Diagnosa medis
: appendisitis.
b. Identitas penanggung jawab
Nama
: Tn.H
Jenis kelamin
: laki-laki
Umur
: 24
Pekerjaan
: PNS
Hub.dg klien
: ayah klien
2. RIWAYAT KESEHATAN
a.
Keluhan utama
a) Nyeri pada daerah epigastrium
b) Nyeri pada daerah kuadran kiri atas
c) Nyeri pada kuadran kanan bawah
d) Nyeri pada kuadran kiri bawah
b.
Riwayat penyakit sekarang
nyeri tumpul dan samar disekitar pusar, terdapat luka dan abses
pada daerah post Op. Appendisitis, mual, muntah dan tidak mau
makan, Nyeri perut kanan bawah bila penderita bernafas dalam,
berjalan, batuk oleh karena gerakan dari peritoneum.
c.
Riwayat penyakit dahulu
Tidak ada penyakit serius
d.
Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat hipertensi pada keluarga pasien.
e.
Riwayat kesehatan lingkungan klien
berada di lingkungan yang bersih, bebas dari berbagai macam
penyakit menular.

f. genogram

Keterangan dari genogram diatas adalah :


: laki-laki
: perempuan
: tinggal satu rumah
: meninggal
: klien
:memiliki riwayat penyakit yang sama dengan klien
3. POLA FUNGSI KESEHATAN
a. Presepsi terhadap kesehatan :
sehari-hari pasien pekuliah aktif, selalu kontrol darah tinggi ke
dokter dengan pola makan yang sehat sesuai dengan yang di
anjurkan oleh dokter.
b. Pola aktifitas dan latihan
sebelum terkena appendisitis Klien melakukan aktivitas seharihari secara mandiri.
Dan kemampuan perawatan diri klien selama berada di rumah
sakit adalah sbb:
Aktivitas
0
1
2
3
4
Makan atau minum
Mandi

Toeliting

Berpakaian
Mobilitas di tempat
tidur
Berpindah
Keterangan :

0
1
2
3
4
c. Pola

d.

e.

f.

g.

: mandiri
: di Bantu sebagian
: perlu bantuan orang lain
: di Bantu orang lain dan alat
: tergantung total/ tidak mampu.
istirahat dan tidur
kehilangan sensasi atau paralisis (himepligia Merasa kesulitan
untuk melakukan aktivitas karena nyeri perut bagian kanan bawah
(sekitar garis yang menghubungkan tonjolan tulang pinggang
dengan pusar) yang dikenal dengan titik Mc. Burney. Nyerinya lebih
jelas dan tajam sehingga dapat mempengaruhi aktivitasnya
misalnya kalau jalan sambil pegangan perutnya dan agak
membungkuk menahan sakit, bagian atas. Merasa mudah lelah,
susah untuk beristirahat.
Pola nutrisi dan metabolisme
Napsu makan pada klien hilang, mual dan muntah karena
tekanan darah yang rendah menyebabkan jantung mengalami
kegagalan memompa darah yang membawa oksigen dan bahan
nutrisi ke seluruh tubuh sehingga nadi lemah napas cepat dan
dangkal banyak mengeluarkan keringat dan mudah haus mual dan
muntah lemah dan pusing.
Pola eliminasi
Klien mengalami perubahan pola
berkemih, seperti
inkontensia urine, anuria.distensi pada abdomen (distensi pada
kandung kemih) bising usus negatif (ileus paralitik).akibat
penurunan peristaltik usus.feses kering dan keras akibat kekurangan
intake cairan.
pola kognitif dan perseptual
1. status mental
klien terlihat cemas,klien merasa takut dengan penyakit yang di
alaminya.
2. bicara
klien sering terlihat diam dan tidak banyak bicara
4. pendengaran.
pola pendengaran pasien normal,pasien tidak menggunakan
alat Bantu pendengaran apapun.
3. penglihatan
penglihatan pasien normal, pasien tidak menggunakan
kacamata atau kontak lensa
4. manajemen nyeri
nyeri pada dada dan perut bagian atas.
Pola konsep diri atau persepsi diri
1) Harga diri
: tidak terganggu (klien tdk merasa malu dg
penyakitnya).
2)
Ideal diri
: terganggu (klien ingin segera
sembuh, dan ingin segera pulang untuk
melakukan aktivitas seperti biasanya)
3) Gambaran diri : terganggu (klien menyadari bahwa ia sakit
karena pola hidupnya yang tidak baik)

h.

i.

j.

k.

4) Peran diri
: teganggu, klien
tidak bisa melakukan
peran diri.
5) Identitas diri : terganggu (klien terlihat cemas ).
pola koping
1. Klien tidak mempunyai masalah selama berada di rumah sakit.
2. Klien tidak mengalami perubahan sebelumnya
3. Klien tidak takut terhadap kekerasan
4. Pandangan terhadap masa depan klien ingin lebih maju, klien
ingin sembuh
dari penyakitnya.
5. klien tidak pesimis terhadap penyakitnya, tidak ada penyakit di
dunia ini yang tidak ada obatnya asalkan berusaha dan ada
keinginan.
pola seksual reproduksi
terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa
pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri. Seperti anti nyeri
seperti Antasid.
pola peran hubungan
1. status perkawinan
: belum kawin.
2. pekerjaan
: wirauasaha
3. kualitas bekerja
: pekuliah aktif.
4. system dukungan
: sepenuhnya dari keluarga.
5. hub dg lingk
: sangat baik
pola nilai dan kepercayaan
klien beragama islam, klien termasuk taat beragama, klien selalu
berdoa meminta kesembuhan selam sakit.

4. PEMERIKSAAN FISIK
TD : 120/70 mmHg ; N : 84 x/mnt ; R : 24 x/mnt ; S : 37 o C
BB/TB : 55 kg / 168 cm
Kepala
: Bentuk mesochepal, rambut ikal, hidung simetris tidak terdapat
kelainan. Mata konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik kanan
dan kiri dengan fungsi penglihatan baik, reflek cahaya +/+.
Kebersihan mulut baik dan bibir terlihat lembab
Leher
: Tidak tampak peningkatan JVP dan tidak teraba pembesaran
kelenjar Limfe
Thorak
: Bentuk dada simetris, tidak terdapat retraksi dinding dada, perkusi
paru terdengar sonor, auskultasi terdengar vesikuler.
Abdomen : Supel dan terdapat nyeri tekan pada abdomen kanan bawah pada
daerah post operasi
Inguinal
: Klien terpasang kateter.
Ekstremitas : Pada tangan kanan terpasang infus RL 20 tpm. Tidak
terdapat oedema pada kedua ekstremitas. Turgor kulit baik dan
kekuatan otot baik.
5.PEMERIKSAAN PENUNJANG
SDP: leukositosis di atas 12000/mm, neutrofil meningkat sampai
75%]
Urinalis: normal, tetapi eritrosit/ leukosit mungkin ada.
Foto abdomen: dapat menyatakan adanya pengerasan material
pada apendiks (fekalit), ileus terlokalisir.

1. PENATALAKSANAAN
Melakukan pemeriksaan fisik Melakukan uji coba laboratorium
Melakukan operasi darurat, yaitu appendektomi.
Bila diagnosis sudah pasti, maka terapi yang paling tepat dengan
tindakan operatif. Operasi nya disebut apendiktomi. Penundaan
operasi dapat menimbulkan bahaya, antara lain abses atau
perforasi. Apendisitis pada awalnya dapat sembuh spontan,
namun apendiks tidak pernah kembali ke bentuk semula karena
sudah terjadi jaringan parut dan fibrosis. Risiko untuk terjadinya
serangan kembali adalah 50 %.
B.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.DATA FOKUS
a. nyeri tumpul dan samar disekitar pusar
b. biasanya disertai mual, muntah dan tidak mau makan
c. terdapat luka dan abses pada daerah post Op. Appendisitis
d. Suhu meningkat sekitar 37,5-38,5 C, 2)
e. Beberapa jam kemudian nyeri pindah ke perut bagian
kanan bawah (sekitar garis yang menghubungkan tonjolan
tulang pinggang dengan pusar) yang dikenal dengan titik
Mc. Burney. Nyerinya lebih jelas dan tajam sehingga dapat
mempengaruhi aktivitasnya misalnya kalau jalan sambil
pegangan perutnya dan agak membungkuk menahan sakit,
Nyeri tekan didaerah mc. Burney, Nyeri lepas (bila ditekan
dan kemudian dilepas tekanan itu , terasa nyeri),
f. Nyeri perut kanan bawah bila penderita bernafas dalam,
berjalan,
g. batuk oleh karena gerakan dari peritoneum.
h. Distensi pada abdomen
i. takikardia
j. Tidak mampu melakukan perawatan diri karena nyeri
disekitar abdomen.
k. Sulit tidur
l. kelemahan
m. Sembelit,feses keras
n. Perubahan tekanan darah,TD >140/90 mmHg
o. Warna kulit pucat
p. Peningkatan tekanan jantung,Nadi >100x/menit
2.ANALISIS DATA DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
Syimptom
Ds:
Do:

Ds:
Do:

Problem
Nyeri akut

Etiologi
Agen cedera biologis

Ketidak
seimbangan
nutrisi kurang dari

Tidak mampu dalam


memasukkan,
mencerna,mengabsor

- nyeri tumpul
dan samar
disekitar pusar
- nyeri tumpul
dan samar

disekitar pusar
biasanya
disertai mual,
muntah dan
tidak mau
makan
Ds:
Do:

- kelemahan
- peningkatan n
suhu tubuh
- peningkatan
nadi
- warna kulit
pucat.l
Ds: Do: - Perubahan
tekanan darah,TD
>140/90 mmH
- Peningkatan
tekanan
jantung,Nadi
>100x/menit
Ds:. Do: - demam
- suhu meningkat.
- takikardia
- warna kulit
pucat.

kebutuhan tubuh.

bsi makanan karena


factor biologi.
.

kekurangan
volume cairan/

Kehilangan volume
cairan aktif

Ansietas
(kecemasan)

Ancaman kematian

Penyakit atau truma

hipertermia

Ds: Intoleransi
Do: - Nyeri perut
aktivitas
kanan bawah bila
penderita
bernafas dalam,
berjalan,
- nyeri pindah ke
perut bagian
kanan bawah
(sekitar garis yang
menghubungkan
tonjolan tulang
pinggang dengan
pusar) yang
dikenal dengan
titik Mc. Burney.
Nyerinya lebih

Kelemahan
menyeluruh
.

secara

jelas dan tajam


sehingga dapat
mempengaruhi
aktivitasnya
misalnya kalau
jalan sambil
pegangan
perutnya dan
agak
membungkuk
menahan sakit,
Ds: Do: - Sembelit,feses
keras
Ds: Do: - Sulit tidur
- nyeri pada
abdomen.
Ds: Do: - terdapat luka dan
abses pada
daerah post Op.
Appendisitis
Ds: Do: - Tidak mampu
melakukan
perawatan diri
karena nyeri
disekitar
abdomen.

Konstipasi.

Gangguan
tidur
Resiko
infeksi

Kelemahan otot
abdomen.
pola Nyeri
.
tinggi

Trauma kerusakan
jaringan, kullit rusak.

Kurang perawatan Nyeri


diri mandi/ hygine.

PERIORITAS MASALAH DAN DIAGNOSA KEPERAWATA


a. Nyeri behubungan dengan agen cedera biologis
b. ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan Tidak mampu dalam memasukkan,
mencerna,mengabsorbsi makanan karena factor biologi
c. kekurangan volume cairan behubungan dengan Kehilangan
volume cairan aktif
d. resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan Trauma
kerusakan jaringan, kullit rusak
e. hipertermia berhubungan dengan penyakit/ trauma.
f. konstipasi berhubungan dengan Kelemahan otot abdomen
g. Kurang perawatan diri mandi/ hygine berhubungan dengan
nyeri
h. Ansietas (kecemasan) berhubungan dengan Kurang
pengetahuan informasi tentang penyakit.

i. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Nyeri pada


abdomen.
C.PERENCANAAN
N
JAM/T
O
TUJUAN /NOC
GL
DX
1. Setelah di
lakukan
tindakan
keperawatan
2x24jam di
hrapkan nyeri
dapat
berkurang
dengan
kriteria hasil:
- nyeri hilang
- tampak
rileks
- mampu
tidur dan
istirahat
dengan
tepat.

INTERVENSI/ NIC

RASIONAL

a. kaji nyeri,
catat lokasi,
karakteristik,
beratnya,
selidiki dan
laporkan nyeri
secara tepat.
b. pertahankan
istirahat dg
posisi semi
fowler.
c. dorong
ambulasi dini.
d. berikan
kantong es
pada
abdomen.
e.berikan
analgesik..

a. berguna
dalam
keefektifan
obat, kemajuan
penyembuhan.
perubahan pd
karekteristik
nyeri
menunjukkan
adanya abses.
Memerlukan
adanya
evaluasi medik
dan intervensi.
b. melokalisasi
eksudat
imflamasi
dalam
abdomen
bawah, pelvis.
Menghilangkan
tekanan bawah
abdomen.
c. meningkatkan
normalisasi
fungsi
organ,merangs
ang peristaltik,
dan kelancaran
flatus,
menurunkan
ketidak
nyamanan
abdomen.
adanya terapi
d. mengurangi
dan
menghilangkan
nyeri melalui
penghilangan
rasa ujung

saraf.

2.

Setelah di
lakukan
tindakan
keperawatan
2x24jam di
hrapkan
kebutuhan
nutrisi dpt
terpenuhi dg
kriteria hasil:
Mempertahan
kan berat
badan dan
keseimbanga
n nitrogen.

3.

Setelah di
lakukan
tindakan
keperawatan
2x24jam di
harapkan
dapat
mempetahan
kan
keseimbanga
n cairan dg
kriteria hsil:
kelembapan
membran
mukosa turor
kulit baik, ttv
stabil, dan
keluaran
urine

e.
menghilangkan
nyeri
mempermudah
kerja sama dg
intervensi terapi
lain contoh
ambulasi.
a. catat adanya a. muntah di
muntah/ diare.
duga terjadi
b. ukur lingkar
obstruksi pada
abdomen.
usus,
c. timbang berat
memerlukan
badan dengan
evaluasi lanjut.
teratur.
b. membuktikan
adanya
perubahan
distensi gaster/
usus/ atau
akumulasi
asites.
c. kehilangan dini
menunjukkan
perubahan
hidrasi tetapi
kehilangan
lanjut di duga
ada defisit
nutrisi.
a. awasi td, dan
a. tanda yg
nadi.
membantu
b. lihat membran
mengidentifika
,mukosa kaji
si fluktuasi
turgor kulit dan
volume
pengisian kapiler.
intravaskuler.
c.awasi masukan b. indikator
dan haluaran.
kedekuatan
Catat warna
sirkulasi perifer
urine,
dan hidrasi
konsentrasi,
seluler.
berat jenis.
c. penurunan
d. auskultasi
haluaran urine
bising usus,
pekat dg
catat
peningkatan
kelancaran
berat jenis di
flatus, gerakan
duga
usus.
dehidrasi /
e. berikan
kebutuhan

adekuat.

4.

sejumlah kecil
peningkatan
minuman
cairan.
jernih, bila
d. indikator
pemasukan per
kembalinya
oral di mulai,
peristaltik,
dan lanjutkan
kesiapan untuk
dg diet sesuai
pemasukan
dg intoleransi.
peroral.
f. berikan
e. menurunkan
perawatan
iritasi gaster/
mulut sering
muntah untuk
dg perhatian
meminimalkan
khusus pad
kehilangan
prlindungan
cairan.
bibir.
f. dehidrasi
mengakibatkan
bibir dan mulut
kering dan
pecah-pecah.

- Setelah di
a. awasi
a. dugaan
lakukan
ttv.perhatiklan
adanya infeksi/
tindakan
demam,
terjadinya
keperawata
menggigil,
sepsis abses,
n 2x24jam
berkeringat, per
peritonitis.
di hrapkan
mental,
b. menurunkan
infeksi dpt
meningkatnya
resiko
teratasi dg
nyeri pd
penyebaran
kriteria hasil
abdomen.
infeksi.
sbb:
b. lakukan
c. memberikan
- Meningkatk
pencucian
deteksi dini
an
tangan yang
terjadinya
penyembuh
baik dan
proses infeksi/
an luka dg
perawatan luka
pengawasan
benar
aseptik.berikan
penyembuhan
- Bebas tanda
perawatan
d. untuk
infeksi
paripurna.
menurunkan
- Draenase
c. lihat insisi dan
jumlah
purulen
balutan, catat
mikroorganism
- Eritema
karakteristik
e dan
- Dan demam
draenase luka/
penyebaran
drein (bila di
pertumbuhann
masukkan)
ya pd rongga
adanya
abdomen.
eritema.
d.berikan
antibiotk sesuai
dengan
indikasi..

5.

6.

7.

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
.x24 jam
didapatkan
criteria hasil:
-Suhu tubuh
dalam
rentang
normal
-Nadi dan RR
dalam
rentang
normal
-Tidak ada
perubahan
warna kulit
dan tidak
ada pusing
Setelah di
lakukan
tindakan
2x24jam
diharapkan
feces pada
klien normal
dengan
criteria hasil
sbb:
- feses
lembek
- tidak
sembelit

Setelah di
lakukan
tindakan
keperawatan

a. monitir ttv
a. . untuk
b.monitor warna
mengetahui
kulit.
perubahan TD,
c. monitor tingkat
R, T, N.
kesadaran.
b. perubahan
warna kulit
indikasi adanya
infeksi yang
menyebabkan
sushu
meningkat.
c. untuk
intervensi
selanjutnya.

a. anjurkan klien
untuk minum
paling sedikit
2000ml/ hari
(tentunya jika
pasien dapat
menelan.).
b. tingkatkan
diet makanan
yang berserat/
perubahan
kecepatan dan
jenis dari
makanan
sonde jika ada
kebutuhan
c. beri obat
pelembek
feses
supositoria,
laksatif/
penggunaan
selang rektal
sesuai dengan
kebutuhan.
a. evaluasi
tingkat
kecemasan,
catat respon

a. dapat
melembekkan
dan memfasilitasi
eliminasi
b. membantu
dalam mengatur
konsistensi fekal
dan dapat
menurunkan
konstipasi.
c. mencegah
konstipasi,
menurunkan
distensi
abdomen, dan
membantu
keteraturan
dalam defekasi.

a.ketakutan
dapat terjadi
karena adanya
nyeri yang

8.

9.

2x24jam di
hrapkan
cemas pada
pasien dapat
berkurang.

verbal dan
non-verbal
pasien.dorong
ekspresi bebas
akan emosi.
b.jadwalkan
istirahat yang
adekuat dan
periode
menghentikan
tidur.
c. berikan
informasi
tentang proses
penyakit dan
antisipasi
tindakan.

Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
.x24 jam
didapatkan
criteria hasil:
-Mampu
makan sendiri
-berpakaian
-Toileting
-Hygiene

a. Monitor
kemampuan
klien untuk
perawatan diri
yang mandiri.

Setelah di
lakukan
tindakan
keperawatan

a. evaluasi
tingkat
kecemasan,
catat respon

b. Monitor
Sediakan
bantuan
sampai klien
mampu secara
utuh untuk
melakukan self
care.
c.Dorong klien
untuk
melakukan
aktivitas
sehari-hari
yang normal
sesuai
kemampuan
yang dimiliki.

hebat,
meningkatkan
peraan sakit,
penting pada
prosedur
diagnostik dan
kemungkinan
pembedahan.
b. membatasi
kelemahan,
menghemat
energi, dan
dapat
meningkatkan
kemampuan
koping.
c. mengetahui
apa yang di
harapkan dapat
menurunkan
kecemasan.
a. membantu
dala
mengantisipasi
/
merencanakan
pemenuhan
kebutuhan
secara
individual.
b. dapat melatih
kemampuan
klien secara
mandiri.
c. untuk melatih
kemampuan
klien dalam
melakukan self
care.

Ketakutan dapat
terjadi karena
adanya nyeri
yang hebat,

10
.

2x24jam di
hrapkan
cemas pada
pasien dapat
berkurang.

verbal dan
non-verbal
pasien.dorong
ekspresi bebas
akan emosi.
b.jadwalkan
istirahat yang
adekuat dan
periode
menghentikan
tidur.
c. berikan
informasi
tentang proses
penyakit dan
antisipasi
tindakan

Setelah di
lakukan
tindakan
keperawatan
2x24jam di
hrapkan
kebutuhan
tidur pada
pasien dapat
terpenuhi dg
kriteria hasil
- pasien tidur
dengan
nyenyek
- klien tidak
terbangun
dlm tidurnya
- klien dapat
tidur dengan
tepat waktu

a. berikan
suasana yang
tenang dan
rileks
b. kurangi
pengunjung
c. batasi
masukan
makan/
minuman
mengandung
kafein
d. brikan
analgesic,
sedatif,saat
tidur sesuai dg
indikasi

meningkatkan
peraan sakit,
penting pada
prosedur
diagnostik dan
kemungkinan
pembedahan.
b. membatasi
kelemahan,
menghemat
energi, dan
dapat
meningkatkan
kemampuan
koping.
c. mengetahui
apa yang di
harapkan
dapat
menurunkan
kecemasan.
a.
dengansuasan
a yang tenang
klien dapat
rileks dan
dengan
suasana rileks
akan
meningkatkan
rasa nyaman
dan
mengurangi
rasa nyeri.
b. mengetahui
berapa lama
pasien tidur
c. menambah
jam tidur pada
pasien.
d. kafein dapat
memperlambat
pasien
untuktidur dan
mempengaruhi
tidur tahap
REM.mengakib
atkan pasien
tidak merasa

segar saat
bangun.
e. Nyeri
mempengaruhi
kemampuan
pasien untuk
jatuh/ tetap
tidur.obat yg
tepat waktu
dpt
meningkatkan
istirahat/
tidur.nyeri
pada otak ada
di dekat pusat
tidur dan dapat
mempengaruhi
pasien mnjadi
terbangun.