Anda di halaman 1dari 23

BAB I

KONSEP DASAR MEDIK


GASTROENTERITIS AKUT (GEA)
A. Pengertian
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan
manifestasi diare, dengan atau tanpa disertai muntah, serta ketidaknyamanan
abdomen (Arif dan kumala, 2011)
Gastroenteritis didefinisikan

sebagai

peningkatan

frekuensi,

volume,dan kandungan fluida dari tinja. Propulsi yang cepat dari isi usus
melalui hasil usus kecil diare dan dapat menyebabkan defisit volume cairan
serius. Penyebab umum adalah infeksi, sindrom malabsorpsi, obat, alergi, dan
penyakit sistemik (Black dan Hawks, 2010).
Berdasarkan dua literatur diatas maka dapat disimpulkan pengertian
dari gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan
manifestasi peningkatan frekuensi, volume, dan kandungan fluida dari tinja.
Yang menyebabkan ketidaknyamanan abdomen dan menyebabkan defisit
volume

cairan

serius.

Penyebab

umumnya

malabsorpsi, obat, alergi, dan penyakit sistemik.

B. Proses Terjadinya Masalah

yaitu

infeksi,

sindrom

1. Presipitasi dan Predisposisi pada gastroenteritis menurut Sujono dan


Suharsono (2010), adalah sebagai berikut :
a. Faktor presipitasi
Infeksi enternal yaitu infeksi saluran percernaan yang merupakan
penyebab utama diare. Infeksi enternal meliputi :
1) Infeksi Bakteri
: Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas,
2) Infeksi Virus

Amuba
: Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie,
Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus,

3) Infeksi Parasit

Astrovirus, dan lain-lain.


: Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris,
Strongyloides), Protozoa (Entamoeba

b.

histtolytica,

Giardia

Trichomonas

haminisis),

lamblia,
Jamur

(Candida Albicans)
Faktor predisposisi
1) Malabsorbsi lemak
2) Malabsorbsi protein
3) Makanan : makanan basi, makanan belum matang
4) Keracunan : makanan beracun (Bakteri : Clostridium
botulinum,
5) Alergi

Stafilokokus),

kecampuran racun (bahan kimia)


: alergi susu, makanan, cows milk protein
sensitive enteropathy (CMPSE)

6) Imunodefisiensi
7) Faktor lain : psikis, Lingkungan, Cuaca
2. Patofisiologi

makanan

Secara umum kondisi peradangan pada gastrointestinal disebabkan


oleh infeksi dengan melakukan invasi pada mukosa, memproduksi
enteroksin dan atau memproduksi sitotoksin. Mekanisme ini menghasilkan
peningkatan sekresi cairan atau menurunkan absorpsi cairan sehingga akan
terjadi dehidrasi dan hilangnya nutrisi dan elektrolit.
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare menurut (Diskin,
2008), meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Gangguan osmoti, kondisi ini berhubungan dengan asupan makanan
atau zat yang sukar diserap oleh mukosa intestinal dan akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi longga
usus

yang

berlebihan

ini

akan

merangsang

usus

untuk

mengeluarkannya sehingga timbul diare.


b. Respon inflamasi mukosa, terutama pada seluruh permukaan intestinal
akibat produksi enterotoksin dari agen infeksi memberikan respon
peningkatan aktivitas sekresi air dan elektrolit oleh dinding usus
kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus,

terjadinya

hiperperistaltik

akan

meningkatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap


makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Usus halus menjadi bagian absorpsi utama dan usus besar


melakukan absorpsi air yang akan membuat solid dari komponen
feses, dengan adanya gangguan dari gastroenteritis akan menyebabkan
absorpi nutrisi dan elektrolit oleh usus halus, serta absorpsi air menjadi
terganggu.
Selain itu, diare juga dapat terjadi akibat masuknya
mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati
rintangan asam lambung. Mikroorganisme tersebut berkembang biak,
kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi
hipersekresi yang akan selanjutnya akan menyebabkan diare.
Mikroorganisme memproduksi toksin. Enterotoksin yang diproduksi
agen bakteri (E. Coli dan Vibrio cholera)akan memberikan efek
langsung dalam peningkatan pengeluaran sekresi air ke dalam lumen
gastrointestinal. Beberapa agen bakteri bisa memproduksi sitotoksin
(Shigella dysenteriae, Vibrio parahaemolyticus, Clostridium difficile,
enterohemorrhagic E. Coli) yang menghasilkan kerusakan sel-sel
mukosa, serta menyebabkan feses bercampur darah dan lendir bekas
sisa sel-sel yang terinflamasi. Invasi enterosit dilakukan beberapa
mikroba seperti Shigella, organisme campylobacter, dan enterovasif E.
Coli yang menyebabkan terjadinya destruksi, serta inflamasi menurut
(Jones, 2006).
Levine (2009) mengeksplorasi pada manifestasi lanjut dari
diare dan hilangnya cairan, elektrolit memberikan manifestasi pada
ketidakseimbangan asam basa dan gangguan sirkulasi yaitu terjadinya

gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis). Hal ini


terjadi karena kehilangan Na-bikarbonat bersama feses. Metabolisme
tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh hingga
terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoreksia jaringan.
Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat
dilakukan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya
pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan
intraseluler.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa respons patologis
penting dari gastroenteritis dengan diare berat adalah dehidrasi,
pemahaman

perawat

sangatlah

penting

mengenai

bagaimna

patofisiologi dehidrasi dapat membantu dalam menyusun rencana


intervensi sesuai kondisi individu. Dehidrasi adalah suatu gangguan
dalam keseimbangan air yang disebabkan output melebihi intake
sehingga jumlah air pada tubuh berkurang. Meskipun yang hilang
adalah cairan tubuh, tetapi dehidrasi juga disertai gangguan elektrolit.
Dehidrasi dapat terjadi karena kekurangan air (water defletion),
kekurangan natrium (sodium deflection), serta kekurangan air dan
natrium secara bersama-sama (Prescilla, 2009).
Kekurangan air atau dehidrasi primer (water defletion) : pada
peradangan gastroenteritis, fungsi usus besar dalam melakukan
absorpsi cairan terganggu sehingga masuknya air sangat terbatas.
Gejala-gejala dehidrasi primer adalah haus, saliva sedikit sekali
sehingga mulut kering, oliguria ssampai anuri, sangat lemah, serta

timbulnya gangguan mental seperti halusinasi dan delirium. Pada


setadium awal kekurangan cairan, ion natrium dan klorida ikut
menghialng dengan cairan tubuh, tetapi akhirnya terjadi reabsorpsi ion
memalui tubulus ginjal yang berlebihan sehingga cairan ekstrasel
mengandung natrium dan klor berlebihan, serta terjadi hipertoni. Hal
ini menyebabkan air keluar dari sel sehingga terjadi dehidrasi intrasel,
ini lah yang menimbulkan rasa haus. Selain itu, terjadi perasngsangan
pada hipofisis yang kemudian melepaskan hormon antidiuretik
sehingga terjadi oliguria (Mansjoer, 2007).
Pendapat lain menurut Jonas (2009) pada buku Muttaqin
(2011). Selain itu, diare juga dapat terjadi akibat masuknya
mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati
rintangan asam lambung. Mikroorganisme tersebut berkembang biak,
kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi
hipersekresi

yang

selanjutnya

akan

menimbulkan

diare.

Mikroorganisme memproduksi toksin. Enterotoksin yang diproduksi


agen bakteri (E. Coli dan Vibrio Cholera) akan memberikan efek
langsung dalam peningkatan pengeluaran sekresi air ke dalam lumen
gastrointestinal.

Gambar 1.1 Patologi menurut Jones tahun 2006


3. Manifestasi Klinik
Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa tanda dan gejala yang timbul
pada penderita gastroentritis (Yuliani, 2005) :
a. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.
b. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi : turgor kulit jelek, ubun-ubun dan
mata cekung, membran mukosa kering.
c. Perut mulas dan gelisah, suhu tubuh meningkat, demam, nafsu makan
berkurang, mual, dan badan terasa lemas.
d. Perubahan tanda-tanda vital: nadi dan pernafasan cepat, tekanan darah
turun, pasien sangat lemas, dan kesadaran menurun sebagai akibat
hipovolemik.
Menurut Wong (2003), Tanda dan gejala pada keracunan makanan.
a. Agen bakteri :
1) Kelompok shigella gram negatif (masa inkubasi 1-7 hari)

Karakteristik : demam, kram abdomen, sakit kepala, diare cair


disertai nanah. Penyakit dapat sembuh sendiri, pengobatan dengan
antibiotic.
2) Escherrichia Coli (inkubasi bervariasi bergantung pada strain)
Insiden banyak pada musim banas, dengan hanya pengobatan
simptomatis. Gejala kurang dalam 2-7 hari.
3) Campylobacter Jejuni (inkubasi 1-7 hari)
Kebanyakan pasien sembuh sendiri, antibiotic dapat mempercepat
penyembuhan.
4) Entamoeba histolytica (inkubasi 1-7 hari)
Karakteristik : mual, muntah, daire yang mengandung darah,
lendir atau nanah, sakit perut, perdarahan pada anus, demam dan
menggigil, kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun.
Gejala ini muncul sejak 10 hari setelah terinfeksi.
b. Rotavirus : awitan (waktu kejadian) tiba-tiba, demam, mual, muntah,
diare dapat menetap lebih dari seminggu. Terjadi pada musim dingin,
biasanya ringan dan sembuh sendiri.
c. Keracunan makanan karena :
1) Staphilococcus (inkubasi 4-6 jam)
Karakteristik : mual, muntah, kram abdomen, diare hebat, demam
rinagn, syok pada kasus berat. Ditularkan melalu makanan
terkontaminasi, sembuh sendiri, perbaikan terlihat dalam 24 jam.
2) Clostridium perfringes (inkubasi 8-24 jam)
Karakteristik : kram sedang sampai hebat, nyeri midepigastrik,
demam sembuh sendiri.
3) Clostridium Botulinum (inkubas 12-26 jam)
Karakteristik : mual, muntah, diare, mulut kering, disfagia
(kesulitan menelan).
4) Keparahan berfariasi cepat dalam beberapa jam, dapat diberikan
anti toksin.

Menurut dua literatur di atas dapat disimpulkan bahwa tanda dan gejala
diare adalah sebagai berikut :
a. Sering buang air besar dengan koinsistensi tinja cair yang mengandung
darah, lendir atau nanah.
b. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi : turgor kulit jelek (elastisitas
c.
d.
e.
f.
g.
h.

menurun,mata cekung, membran mukosa kering)


Demam dan menggigil
Mual muntah
Anoresia
Kram abdomen
Perdarahan pada anus
Kehilangan napsu makan dan berat badan menurun

Tabel 1.1 Derajat dehidrasi berdasarkan presentase kehilangan air dari berat
badan
Derajat dehidrasi
Dehidrasi Ringan
Dehidrasi Sedang
Dehidrasi Berat

Dewasa
4% dari berat badan
6% dari berat badan
8% dari berat badan

Tabel 1.2 Derajat dehidrasi berdasarkan skor WHO


Yang dinilai
A
Baik

Keadaan umum

Mata
Biasa
Mulut
Biasa
Turgor
Baik
Skor : <2 tanda di kolom B dan C

SKOR
B
Lesu /haus
Cekung
Kering
Kurang
: tanda dehideasi

C
Gelisah, lemas,
mengantuk hingga
syok
Sangat cekung
Sangat kering
Jelek

> 2 tanda di kolom B

: dehidrasi ringan sedang

2 tanda di kolom C

: dehidrasi berat

Tabel 1.3 Tanda klinis dehidrasi


Ringan

Sedang

Berat

10

Defisit cairan
Hemodinamik

3-5 %
Takikardi
Nadi lemah

Jaringan

Lidah keriput
Turgor kurang
Pekat
Mengantuk

Urin
SSP
a.

6-8 %
Takikardi
Nadi sangat
lemah
Volume kolaps
Hipotensi
ortostatik
Lidah keriput
Turgor kurang
Jumlah turun
Apatis

>10 %
Takikardi
Nadi tak teraba
Akral dingin,
sianosis
Atonia
Turgor buruk
Oliguria
Koma

Dehidrasi ringan

: berat badan menurun 3% - 5%, dengan volume

b. Dehidrasi sedang

cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kg.


: berat badan menurun 6% - 9%, dengan volume

c.

cairan yang hilang 50 90 ml/kg.


: berat badan menurun lebih dari 10%, dengan

Dehidrasi berat

volume cairan yang hilang sama dengan atau


lebih dari 100 ml/kg.
4. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik menurutProtter, P.A. &
Perry, A.G. (2007) adalah sebagai berikut :
a. Pemeriksaan Feses
1) Makroskopis dan mikroskopis.
2) pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet
dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.
3) Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
4) Evaluasi feses terhadap telur cacing dan parasit.
5) Kultur fese (jika anak dirawat di rumah sakit, pus dalam feses
atau diare yang berkepanjangan), untuk menentukan patogen.
6) Evaluasi volume, warna, konsistensi, adanya mukus atau pus
pada feses.
b. Pemeriksaan Darah

11

1) pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium,


Kalsium, dan Fosfor ) dalam serum untuk menentukan
keseimbangan asama basa.
2) Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
3) Darah samar feses, untuk memeriksa adanya darah (lebih
sering pada gastroenteritis yang berasal dari bakteri)
4) Hitung darah lengkap dengan diferensial
c. Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )
1) Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan
kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.
2) Aspirasi duodenum (jika diduga G.lamblia)
d. Uji antigen immunoassay enzim, untuk memastikan adanya
rotavirus
e. Urinalisis dan kultur (berat jenis bertambah karena dehidrasi;
organisme Shigella keluar melalui urine).
5. Komplikasi
Menurut Latief dkk, (2005) akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara
mendadak, dapat terjadi berbagai ancaman komplikasi seperti:
a.
b.
c.

Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, atau hipertonik)


Renjatan hipovolemik
Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,

d.
e.

bradikardia, perubahan pada elektrokardiogram)


Hipoglikemia
Intoleran laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase

f.
g.

karena kerusakan vili mukosa usus halus


Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik
Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita
juga mengalami kelaparan.

6. Penatalaksanaan Medis

12

Penatalaksanaan Medis Keperawatan menurut Arif Mansjoer, dkk.(2000)


sebagai berikut :
a. Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang
b. Memonitor tanda dehidrasi dan syok
c. Memenuhi kebutuhan nutrisi
d. Mengontrol dan mengatasi demam
e. Perawatan perineal
Pengobatan Cairan menurut Latief dkk, (2005) adalah sebagai berikut :
a. Jenis cairan :
Cairan rehidrasi oral (oral rehidration salts)
1) Formula lengkap mengandung NaCl, NaHCO3, KCl dan glukosa.
Kadar natrium 90 meEq/l untuk kolera dan diare akut pada orang
dewasa dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi
(untuk mencegah dehidrasi).
2) Formula sederhana atau tidak lengkap hanya mengandung NaCl
dan sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam,
larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam dan sebagainya
untuk pengobatan pertama di rumah.
b. Jalan Pemberian Cairan :
1) Peroral untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi.
2) Intragastrik untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi.
3) Intravena untuk dehidrasi berat.
c. Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang
dikeluarkan.
C. Diangnosa Keperawatan
1. Menurut Arif Muttaqin dan Kumala Sari, (2011) diagnosa keperawatan
gastrointeritis akut adalah :
a) Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berdasarkan diare
b) Nyeri berdasarkan iritasi saluran gastrointestinal
c) Hipertermi
berdasarkan
respons
sistemik
dari
inflamasi
gastrointestinal

13

d) Resiko kerusakan integritas anus berhubungan dengan

feses yang

encer dengan asam tinggi dan mengiritasi mukosa usus


e) Pemenuhan informasi berdasarkan ketidakadekuatan

informasi

penatalaksanaan perawatan dan pengobatan.


2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien gastroenteritis
menurut Wilkinson (2007).
a) Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan dehidrasi.
b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual, muntah dan intake inadekuat.
c) Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
d) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi rectal karena
diare
e) Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan lingkungan
f)

terhadap patogen
Defisit pengetahuan tentang penyakit dan cara perawatannya
berhubungan dengan kurang paparan sumber informasi

Berdasarkan literatur diatas maka dapat disimpulkan bahwa diagnosa


keperawatan yang mungkin muncul pada gastrointeritis akut adalah :
1. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan dehidrasi.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah dan intake inadekuat.
3. Nyeri berdasarkan iritasi saluran gastrointestinal
4. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
5. Resiko kerusakan integritas anus berhubungan dengan feses yang encer
dengan asam tinggi dan mengiritasi mukosa usus

14

6. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan lingkungan


terhadap patogen
7. Pemenuhan informasi berdasarkan ketidakadekuatan informasi
penatalaksanaan perawatan dan pengobatan.

15

D. Interve nsi Keperawatan

Intervensi keperawatan menurut Arif Muttaqin dan Kumala Sari dalam buku
Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah
(2011) pada pasien dengan gastroenteritis adalah :
1. Resiko ketidak seimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
diare
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan waktu 1 x 24 jam tidak
terjadi ketidak seimbangan cairan dan elektrolit.
Kriteria evaluasi :
a) Pasien tidak mengeluh pusing, TTV dalam batas normal, kesadaran
optimal.
b) Membran mukosa lembap, turgor kulit normal, CRT > 3 detik.
c) Keluhan diare, mual, dan muntah berkurang.
d) Laboratorium: nilai elektrolit normal, analis gas darah normal.
Tabel 1.4 tabel Resiko ketidak seimbangan cairan dan elektrolit berhubungan
dengan diare
Intervensi
1. Identifikasi faktor penyebab, awitan
(onset), spesifikasi usia dan adanya
riwayat penyakit lain.
2. Kolaborasi skor dehidrasi.
3. Beri cairan secara oral.
4. Jelaskan tentang hodrasi oral.
5. Berikan cairan oral sedikit demi
sedikit.
6. Lakukan
pemasangan
(intravenous fluid drops)

Rasional

7. Dokumentasi

cairan.

2. Menentukan jumlah cairan yang akan


diberikan sesuai dengan derajat
dehidrasi dari individu.

IVFD

Intervensi

mengenai

Rasional
1. Parameter
dalam
menentukan
intervensi kedaruratan. Adanaya
riwayat keracunan dan usia anak atau
lanjut usia memberikan tingkat
keparahan
dari
kondisi
ketidakseimbangan
cairan
dan
elektrolit.

secara

intake

dan

akurat
output

3. Pemberian
cairan
oral
dapat
diberikan apabila tingkat toleransi
pasien
masih
baik.
WHO
memberikan rekomendasi tentang
cairan oral yang berisikan 90 mEq/L
Na+, 20 mEq/L K +, 80 mEq/L Cl, 20
g/L glukosa; osmolaritas 310; CHO:
Na = 1,2 :1; diberikan 250 mL.
Setiap
15
menit
sampai

16

keseimbangan
cairan
terpenuhi
dengan tanda klinik yang optimal
atau pemberian 1 liter air pada
setiap 1 liter feses (Diskin, 2009).
4. Penting perawat disampaikan pada
pasien dan keluarga bahwa rehidrasi
oral tidak menurunkan durasi dan
volume diare.
5. Pemberian cairan oral sedikit demi
sedikit untuk mencegah terjadinya
respons muntah apabila diberikan
secara simultan.
6. Apabila kondisi diare dan muntah
berlanjut, maka lakukan pemasangan
IVFD. Pemberian 1-2 L cairan
Ringer Laktat secara tetesan cepat
sebagai kompensasi awal hidrasi
cairan diberikan untuk mencegah
syok hipovelemik ( lihat intervensi
kedaruratan syok hipovelemik ).
7. Sebagai evaluasi penting dari
intervensi hidrasi dan mencegah
terjadinya over hidrasi.

2. Nyeri berhubungan dengan iritasi saluran gastrointestinal


Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam
nyeri berkurang / hilang atau teradaptasi dengan kriteria hasil :
a)
Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi.
b)
Skala nyeri 0 1.
c)
Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri
d)
Pasien tidak gelisah.
Tabel 1.5 tabel nyeri berhubungan dengan iritasi saluran gastrointestinal
Intervensi
1.

Istirahatkan pasien pada saat nyeri


muncul.

2.

Ajarkan teknik relaksasi pernapasan

Rasional
1. Istirahat secara fisiologis akan
menurunkan kebutuhan oksigen yang
diperlukan
untuk
memenuhi
kebutuhan metabolisme basal.

17

dalam pada saat nyeri muncul.


3.

Ajarkan teknik distraksi pada saat


nyeri.

4.

Manajemen lingkungan :
lingkungan tenag, batasi
pengunjung, dan istirahatkan
pasien.

5.

Tingkatkan pengetahuan tentang :


sebab sebab nyeri, dan
menghubungakan berapa lama nyeri
akan berlangsung

Intervensi

2. Meningkatkan
asupan
oksigen
sehingga akan menurunkan nyeri
sekunder dari iskemia spina.
3. Distraksi (pengalihan perhatian)
dapat menurunkan stimulus internal.
4. Lingkungan tenang akan menurunkan
stimulus
nyeri
eksternal
dan
pembatasan
pengunjung
akan
membantu meningkatkan kondisi
oksigen
ruangan
yang
akan
berkurang
apabila
banyak
pengunjung di berada di ruangan.
Istirahat akan menurunkan kebutuhan
oksigen jaringan perifer.

Rasional
5. Pengetahuan yang akan dirasakan
membantu mengurangi nyerinya dan
dapat membantu mengembangkan
kepatuhan pasien terhadap rencana
terapeutik

18

3. Hipertermi berhubungan dengan respons sistemik dari inflamasi


gastrointestinal
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1 x 24 jam
terjadi penurunan suhu tubuh dengan kriteria hasil :
a) Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang
diberikan, pasien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan
yang telah diberikan.
Tabel 1.6 Tabel Hipertermi berhubungan dengan respons sistemik dari inflamasi
gastrointestinal
Intervensi
1.

Kaji pengetahuan pasien dan


keluarga tentang cara menurunkan
suhu tubuh

2.

Lakukan tirah baring pada fase akut

3.

Atur lingkungan yang kondusif

4.

Beri kompres dengan air hangat


pada daerah aksila, lipat paha, dan
temporal bila terjadi panas

5.

Beri dan anjurkan keluarga untuk


memakaikan pakaian yang dapat
menyerap keringat seperti katun

6.

Kolaborasi dengan dokter dalam


memberikan obat antiperitik

Rasional
1. Sebagai
data
dasar
untuk
memberikan intervensi selanjutnya
2. Penurunan
aktifitas
akan
menurunkaan laju metabolisme yang
tinggi pada fase akut, dengan
demikian membantu menurunkan
suhu tubuh.
3. Kondisi ruang kamar yang tidak
panas, tidak bising, dan sedikit
pnegunjung memberikan efektifitas
terhadap proses penyembuhan. Pada
suhu ruangan kamar yang tidak
panas,
maka
akan
terjadi
perpindahan suhu tubuh dari tubuh
pasien ke ruangan
4. Kompres air hangat di area yang

19

ditepat adalah tempat dimana


pembuluh darah arteri besar berada
sehingga meningkatkan efektifitas
dari konduksi.
5. Antipiretik bertujuan untuk memblok
respons panas sehingga suhu tubuh
pasien dapat lebih cepat menurun

4. resiko kerusakan integritas jaringan anus b.d. feses yang encer dengan
asam tinggi dan mengiritasi mukosa anus
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam
jadi peningkatan mukosa anus dengan kriteria hasil :
a) Anus lembab atau tidak kering, bersih , tidak ada tanda inflamasi pada
anus.
Tabel 1.7 tabel resiko kerusakan integritas jaringan anus b.d. feses yang encer
dengan asam tinggi dan mengiritasi mukosa anus
Intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien
tentang cara dan teknik peningkatan
kondisi membran mukosa.
2. Lakukan perawatan kulit

Rasional
1. Tingkat pengetahuan dipengaruhi
oleh kondisi sosial ekonomi pasien.
Perawat menggunakan pendekatan
yang sesuai dengan kondisi individu
pasien. Dengan mengetahui tingkat
pengetahuan tersebut perawat dapat
lebih terarah dalam memberikan
pendidikan yang sesuai dengan
pengetahuan pasien secara efisien dan
efektif.
2. Area perianal mengalami ekskoriasi
akibat feses diare yang mengandung
enzim yang dapat mengiritasi kulit.
Perawat menginstruksikan pasien
untuk mengikuti rutinitas perawatan
kulit seperti : mengelap atau
mengeringkan area setelah defekasi,
membersihkan dengan bola kapas,
dan memberikan pelindung kulit dan
barier pelembap sesuai kebutuhan.

20

5. pemenuhan informasi b.d. ketidakadekuatan informasi penatalaksanaan


perawatan dan pengobatan
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam
pasien mampu melaksanakan apa yang telah di informasikan dengan
kriteria hasil :
a) Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,kondisi,
prognosis dan program pengobatan
b) Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan
secara benar
c) Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat
Tabel 1.8 tabel pemenuhan informasi b.d. ketidakadekuatan informasi
penatalaksanaan perawatan dan pengobatan
Intervensi
1. Kaji kemampuan pasien untuk
mengikuti
pembelajaran
(tingkat kecemasan, kelelahan
umum, pengetahuan pasien
sebelumnya, suasana yang
tepat )
2. Jelaskan dan dorong pasien
untuk menghindari faktor
penyebab gastrointeritis.

Rasional
1. Keberhasilan proses pembelajaran
dipengaruhi oleh kesiapan fisik,
dan lingkungan yang kondusif.
2. Pasien
dibantu
untuk
mengindentifikasi
makanan
pengiritasi dan stresor yang
mencetuskan
episode
diare.
Menghilangkan atau mengurangi
faktor ini membantu mengontrol
defekasi. Pasien di dorong untuk
sensitif terhadap petunjuk tubuh
tentang adanya dorongan untuk
defekasi ( kram abdomen, bising
usus hiperaktif )

Intervensi keperawatan menurut Linda Juall Carpenito-Moyet dalam buku


saku Diagnosa Keperawatan edisi 13 adalah

21

1. Resiko infeksi berhubungan dengan Tempat masuknya organisme


sekunder akibat adanya jalur invasis, melemahnya daya tahan pasien
sekunder akibat diare.
Tujuan

setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

tidak

terjadi

penyebaran/aktivitas ulang infeksi, dengan kriteria hasil :


a) Leukosit 4,00-11,00
b) Tidak ada tanda-tanda infeksi kemerahan, bengkak, nyeri, panas.
Suhu tubuh dalam rentang normal 36,5oC- 37,5o C, Nadi dalam rentang
normal, N: 60-100x/menit RR: 20-24x/menit
Tabel 1.9 Resiko infeksi berhubungan dengan Tempat masuknya organisme
sekunder akibat adanya jalur invasis, melemahnya daya tahan pasien sekunder
akibat diare
Intervensi

Rasional

1. Batasi pengunjung

1. Agar pasien tidak tetapar infeksi

2. Ajarkan pasien dan keluarga cuci


tangan 6 langkah

2. Mencegah
organisme

3. Monitor tanda dan gejala infeksi

3. Untuk mengetahui tanda dan gejala


infeksi

4. Lakukan perawatan sekitar tusukan


infuse secara aseptic
5. Edukasi keluarga mengenai tandatanda infeksi
6. Kolaborasi pemberian Ciprofloxacion
(drip) 60 tpm dosis 200 mg (jam 9 dan
jam 21)

tepaparnya

mikro

4. Agar sekitar tusukan infus tetap


bersih dan tidak terpapar infeksi
5. Agar keluarga mengetahui tanda
dan gejala infeksi
6. Untuk membunuh atau mencegah
berkembangnya
bakteri
yang
menjadi penyebab infeksi

Intervensi keperawatan menurut T. Heather Herdman dan Shigemi Kamitsuru


dalam buku Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 edisi
10 adalah
1. Defisit perawatan diri eliminasi berhubungan dengan kelemahan

22

Tujuan setelah di lakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien


mampu toileting mandiri dengan kriteria hasil :
a) Pasien mampu melakukan eliminasi secara mandiri atau dengan
bantuan
Tabel 1.10 Defisit perawatan diri eliminasi berhubungan dengan kelemahan
Intervensi

Rasional

1. Kaji
tingkat
kemampuan
ambulasi secara mandiri
2. Bantu pasien
eliminasi

untuk

3. Ajarkan pasien tentang


eliminasi secara mandiri

dalam

pemenuhan

pentingnya

4. Libatkan keluarga dalam pemenuhan


eliminasi

1. Untuk mengetahui kemampuan


pasien mobilisasi kemandirian
2. Membantu pasien
memenuhi eliminasi
3. Agar pasien dapat
secara mandiri

agar

dapat

melakukan

4. Membantu pasien untuk memenuhi


kebutuhan eliminasi

2. Defisit perawatan diri mandi berhubungan dengan Kelemahan


Tujuan setelah di lakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dapat
mandi mandiri dengan kriteria hasil :
a) Kulit pasien tampak bersih
b) Pasien lebih segar dan nyaman
c) Pasien mampu melakukan mandi dengan bantuan minimaldi tempat
tidur
Tabel 1.11 Defisit perawatan diri mandi berhubungan dengan Kelemahan

23

Intervensi

Rasional

1. Kaji kemampuan perawatan diri


mandi

1. untuk
mengetahui
kemampuan
pasien dalam kemandirian

2. Bantu pasien untuk perawatan diri


mandi

2.Memberikan pembelajaran
langsung kepada pasien

3. Ajarkan pasien tentang pentingnya


mandi

3.agar pasien dapat melakukan secara


mandiri

4. Libatkan
keluarga
pemenuhan kebersihan

secara

dalam 4.membantu pasien untuk melakukan


kebersihan badan

Anda mungkin juga menyukai