Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Stress adalah masalah yang sering kita temui di kehidupan sehari-

hari. Stress merupakan fenomena yang sanga umum. Stress dapat


menimbulkan gejala-gejala penyakit tertentu dan gangguan kesehatan
fisik maupun mental. Dan pada orang yang sedang sakit fisik pun
tentunya akan mengalami stress. Setiap individu tentunya pernah
mengalami stress. Tetapi individu itu sendiri banyak yang masih tidak
mengerti tentang stress itu sendiri. Tentang apa itu stress, bagaimana
pendekatan-pendekatan

stress,

sumber-sumber

yang

menyebabkan

stress, tingakat-tingakatan stress, dan pendekatan stress perkembangan.


Karna pengetahuan individu tentang itu semua akan mempengaruh
bagaimana koping adptasi stress antar individu itu sendiri.
1.2

Pembatasan Masalah
Pembahasan tentang stress sanat luas cangkupannya. Melihat dari

latar belakang diatas, maka batasan masalah yang akan kita bahas
adalah definisi stress, pendekatan-pendekatan stress, sumber-sumber
stress,

tingakatan-tingkatan

stress,

dan

pendekatan

stress

membahas

tentang

perkembangan.
1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Tujuan

umum

dari

pembahasan

ini

adalah

pengertian stress.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui tentang definisi stress.
b. Mengetahui tentang pendekatan-pendekatan stress.
c. Mengetahui tentang sumber-sumber stress.

d. Mengetahui tentang tingkatan-tingkatan stress


e. Mengetahui tentang pendekatan stress perkembangan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Stress
Stress adalah

suatu

seorang individu dihadapkan

kondisi

anda

pada peluang,

yang
tuntutan,

dinamis

saat

atau sumber

daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang
hasilnya dipandang tidak pasti dan penting
Sumbangan pertama dalam penelitian tentang stress adalah
deskripsui dari Canon tentang respon fight ot flight tahun 1932.
Menurutnya stress adalah Ketika organisme merasakan adanya suatu
ancaman, tubuh secara cepat akan terangsang dan termotivasi melalui
system syaraf simpatik dan edokrin. Respon fisiologis ini mendorong
organisme untuk menyerang ancaman atau melarikan diri.
Sumbangan lain yang juga lebih penting adalah dari Hans Seyle
tahun 1936 tentang General Adaptation Syndrome. Ketika organisme
berhadapan dengan stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk
melakukan tindakan. Usaha iu diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikan
aktivitas system syaraf simpatik. Tanpa memperhatikan penyebab dari
ancaman pola reaksi fisiologis, yang sama individu akan merespon
dengan (non specific responses) . Teori ini yang masih menjadi dasar
pembahasan stress. Selebihnya dengan mengulangi atau memperpanjang
stress akan melicinkan dan mematahkan system saraf tersebut (wear and
tear of the system) (Taylor, 1991).
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu
kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu
kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat
batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan
penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang
mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya

tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat
mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
2.2

Pendekatan-pendekatan

Stress
Menurut
(Sarafino,
Cooper,

beberapa

1990;
1990)

penulis

Sutherland
sress

&

dapat

dikonseptualisasikan dari berbagai


titik/pandang, yaitu:
2.2.1 Stress Sebagai Stimulus
Sumber:
& Cooper
(1990,
Stress sebagai stimulus disebut
jugaShutherland
stress sebagai
variable
bebas. Dimana menitikberatkan stimulus pada ingkungan. Pada
pendekatan ini juga menggambarkan hubungan antara kesehatan
dengan penyakit pada kondisi tertentu (dikondisikan dengan)
dengan

lingkungan

eksternal.

(Shuterland

dan

Cooper,1990).

Individu bertemu secara terus-menerus dengan sumber-sumber


stressor yg potensial dr lingkungan tetapi hanya 1 yang yang tidak
berbahaya dan dapat mengubah keseimbangan yang tipis antara
koping dengan seluruh perlawanan perilaku koping
Pendekatan ini memiliki kelemahan dimana tingkat toleransi
dan harapan antar individu berbeda-beda. Erta tidak ada kriteria
objektif yang dapat mengukur sesorang dalam keadaan penuh
stress, kecuali pengalaman indiviu itu sendiri. Pendekatan ini
biasanya digunakan ketika berbicara stress dalam kehidupan seharihari. Contoh : banyak stress dilingkungan kerja. Sehingga Helman,
1990, menyebut pendekatan ini sebagai model awam tentang
stress.
Sebuah riset mencoba membedakan kejadian dalam hidup
(life events) dan pertengkaran sehari-hari (daily hassles) yang
diperkirakan mengandung stress dalam jumlah banyak maupun

sedikit bagi kelompok yg diteliti. Untuk mengungkaokan kejadiuan


hidup digunakan Skala Penilaian Penyesuaian Diri Sosial (Social
Readjustment
Thomas

Rating

Holmes

Scale-

dan

SRRS)

Richard

Rahe.

yang

dikembangkan

Sedangkan

skala

oleh
untuk

mengungkapkan pertengkarang digunakan skala Pertengkarang


yang dikembangkan oleh Lazarus, dkk. (Sarafino 1990; Taylor 1991)
2.2.2 Stress Sebagai Respon
Stress
disebutkan

sebagai
sebagai

respon
variable

tergantung. Pada pendekatan


ini memfokuskan stress reaksi
seseorang

terhadap

stressor

(respon). Respon mengandung


2

komponen

yang

disebut

strain atau ketegangan :

a. Komponen

psikologis:

perilaku, pola piker, emosis dan perasaan stress.

b. Komponen fisiologis: Jantung berdebar-debar, mulut kering, perut


mules, badan berkeringat.
Ditambah juga oleh Sutherland and Cooper, 1990, Stress sebagai
suatu respon yang tidak tidak bisa dilihat, hanya akibatnya saja bisa
dilihat.
Contoh dari pendekatan ini adalah konsep General Adaption
Syndrome dari Seyle dan konsep Fight or Flight Reaction dari Canon.
Respon ini dikenal dalam ilmu medis dan sering dipandang sebagai
perpekstif fisiogis/medis.

2.2.3 Stress Sebagai Interaksi Antara Individu Dengan Lingkungan


Pendekatan ini menggambarkan stress sebagai suatu proses
yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi
hubungan antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara

manusia dengan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut


sebagai hubungan transaksional (Van Broeck, 1979; Sutherland &
Cooper, 1990; Sarafino, 1990). Didalam proses hubungan ini
termasuk juga proses penyesuaian. Individu memberikan reaksi
stress yan berbeda dengan stressor yang sama.
Pada pendekatan ini stress sebagai suatu proses dimana
seseorang sebagai agent yang aktif yang dapat mempengaruhi
stressor melalui strategi-strategi perilaku, kognitif dan emosional.
Menurut Sutherland & Cooper, 1990, pengertian stress sesuai
dengan pendekatan ini adalah suatu kondisi yang disebabkana oleh
transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan
persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi
dengan sumber-sumber daya system biologis, psikologis dan sosial
dari seseorang. Dan dari definisi tersebut dapat disimpulkan
menjadi beberapa konsep dasar yang sama, yaitu:
a. Penialaian

kognitif

(cognitive

appraisal):

Stress

adalah

pengalaman subyektif yang mungkn didasarkan atas persepsi


terhadap

situasi

yang

tidak

semata-mata

tampak

di

lingkungan.
b. Pengalaman
tergantung

(experience):
pada

tingkat

Stress

adalah

keakraban

situasi

dengan

yang
situasi,

keterbukaan semula (previous exposure), proses belajar,


kemampuan nyata dan konsep reinforcement.
c. Tuntutan (demand): Stress adalah suatu tekanan, tuntutan,
keinginan atau rangsangan-rangsangan yang segera sifatnya
yang mempengaruhi cara0cara tuntutan yang dapat diterima.
d. Pengaruh

interpersonal

(interpersonal

influence):

Stress

adalah ada tidaknya seseorang, factor situasional dan latar


belakang mempengaruhi pengalaman subyektif, respon dan
perilaku coping bisa positif atau negatif. Kehadiran seseorang
dapat mempengaruhi kegalauan, kekacauan, tetapi juga

dapat

memberikan

dukungan

meningkatkan

harga

diri,

memberikan konfirmasi nilai-nilai dan identitas personal.


Melalui

pengalaman

belajar

dapat

dicapai

peningkatan

kesadaran dan pemahaman akibat stress yang potensial.


e. Kesadaran stress ( a state of stress): Stress merupakan
ketidakseimbangan antara tuntutan yang dirasakan dengan
kemampuan

yang

dirasakan

untuk

enemukan

tuntutan

tersebut. Proses yang diikuti merupakan proses koping serta


konsekuensi dari penerapan strategi koping.
2.2.4 Penilaian Psikologi Terhadap Stress
Model stress yang sekarang, seperti model interaktif, tidak
hanya memfokuskan pada factor biomedis saja, tetapi juga factor
psikososial. Salah satu factor psikososial ini adalah representasi
atau penilaian terhadap ancaman (Johnston dkk, 1990).
Tokoh

dari

pendekatan

psikologis

ini

adalah

Richard

Lazarus( Richard Lazarus, 1976; Cohen & Lazarus, 1983; Lazarus &
Folkman, 1984. Dia mengatakan ketika individu berhadapan dengan
lingkungan yang baru atau berubah lingkungan, mereka akan
melakukan

proses

penilaian

awal

(primary

appraisal)

untuk

menentukan arti dari kejadian tersebut sebagai hal yang negative


atau positif, serta netral. Selanjutya menurut Taylor, 1991 Jika
primary appraisal memunyai potensi terjadinya stress, maka akan
muncul Penilain Sekunder (secondary appraisal), yaitu pengukuran
terhadap kemampuan koping dan sumber-sumbernya, serta bisa
tidaknya menghadapi kerusakan (kesalahan yang telah terjadi),
ancaman (kesalahan di masa akan dating), dan tantang terhadap
kejadian.
Dibawah ini merupakan model pendekatan lain oleh Howard
Leventhal yaitu Model Pengaturan Diri (Self Regulatory Model

2.3

Sumber-sumber Stress
Sumber-sumber stress disebut juga stressor. Sumber stress dapat

berubah-ubah, sejalan dengan perkembangan manusia tetapi kondisi


stress juga dapat terjadi disetiap saat sepanjang kehidupan. Darimanakah
stress berasal? Apa sajakah sumber-sumber stress itu? Sarafino, 1990,
membedakan sumber-sumber stress, yaitu dalam diri individu, keluarga,
komunitas dan masyarakat.

2.3.1. Sumber-sumber stress di dalam diri seseorang


Kadang-kadang sumber tress muncul dari daladiri seseorang,
salah satunya melalui kesakitan. Stress juga akan muncul dari
dalam diri seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional
yang melawan, bila seseorang mengalami konflik yang merupakan
sumber stress yang utama. Menurut teori Kurt Lewin, Kekuatan
motivasional yang melawan menyebabkan dua kecenderungan
yang

melawan:

perdekatan

dan

penghindaran.

Cenderungan

tersebut menggolongkan tiga jenis pokok dari konflik, yaitu konflik


perdekatan/perdekatan; konflik penghindaranpenghindaran; konflik
perdekatan/penghindaran.
2.3.2. Sumber-sumber stress dari keluarga
Stress di sini dapat bersumber dari interaksi di antara para anggota
keluarga.

Contohnya:

perselisihan

dalam

masalah

keuangan,

perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda,


dll.
2.3.3. Sumber-sumber stress dari komunitas dan lingkungan
Interaksi sumber-sumber di luar keluarga melengkapi sumbersumber stress. Sedangkan beberapa pe.ngalaman stress orang tua
bersumber dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressful.
2.3.4. Sumber-sumber stress dari pekerjaan
Tuntutan pekerjaan dapat menimbulkan stress dalam 2 cara.
Pertama,

pekerjaan

iu

mungkin

terlalu

banyak.

Penelitian

menemuka bahwa muatan kerja, dapat mempengaruhi terjadinya


peningkatan kecelakaan dan masalah (Sarafino,1990). Kedua, jenis
pekerjaan itu sendiri sudah lebih stressful daripada jenis pekerjaan
lainnya.

Contoh:

pekerjaan

yang

memberikan

penilaian

atas

pekerjaan bawahannya (supervise), guru atau dosen. Pekerjaan

yang memerlukan tanggung jawab abgi kehidupan manusia juga


dapat mengakibatkan stress, contoh tenaga medis.
Beberapa aspek kerja yang lain dapat meningkatkan stress pekerja.
Menurut Sarafino (1990) stress kerja dapat disebabkan:
a. Lingkungan fisik: kebisingan, temperatur ruangan yang panas,
udara yang lembab, penerangan kurang, dll.
b. Kurangnya control yang dirasakan.
c. Kurangnya ubungan interpersonal.
d. Kurangnya reward.
Sedangkan menurut Sutherland &Cooper (1990) stressor dari
pekerjaan meliputi:
a. Stressor dari pekerjaan itu sendiri: beban kerja fasilitas kerja
yang kurang, proses pengambilan keputusan yang lama.
b. Konflik peran di dalam kerja, tanggung jawab yang tidak jelas
c. Hubungan dengan orang lain dalam pekerjaan
d. Pengembangan karir
e. Iklim

dan

struktur

organisasi:

pembatasan

perilaku,

bagaimana iklim budaya di organisasi


f. Adanya

konflik

antara

tuntutan

kerja

dengan

tuntutan

keluarga
Stress kerja juga dapat diperoleh darikombinasi antara
tinggi/rendahnya

tuntutan

pekerjaan

dengan

tinggirendahnya

kebebasan pengambilan keputusan. Sebuah penelitian di swedia


mengatakan bahwa seseorang dengan tuntutan pekerjaa yang
tinggi tetapi kebebasan pengambilan keputusannya rendah akan
lebih mudah mengalami stress.
Stress kerja lainnya yang juga tak luput dari perhatian adalah
pengangguran dan pensiun. Tidak memiliki pekerjaan berhubungan
dengan tingginya kadar hormone stress (adar catecholamine) dan
ketidak berdayaan yang di pelajari. Resiko kesehatan dari para

pengangguran juga sudah dibuktikan kebenarannya. (Van den


Bergh, 1991)
2.3.5. Sumber-sumber stress yang berasal dari lingkungan
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik , seperti:
kebisingan, suhu, yang terlalu panas, kesesakan, dan angina badai
(tornado, tsunami). Stressor lingkungan mencakup juga stressor
secara makro seperti migrasi, kerugian akibat teknologi modern
seperti kecelakaan lalu-lintas, bencana nuklir (Peterson dkk. 1991)
dan factor sekolah (Graham, 1989).

2.4.

Tingkat Keseriusan Stressor


Pendekatan terhadap stres menekankan pada kejadian hidup
utama sebagai sumber stres. Pendekatan yang cukup baru adalah
perhatian untuk kejadian-kejadian traumatis yang ekstrem, baik
buatan manusia (seperti perang) maupun bencana alam (seperti
tsunami dan tornado).
Pengalaman traumatis yang paling mengerikan, yang sering
diselidiki, adalah perang. Stres yang berhubungan dengan perang
dapat disebabkan karena kematian anak, saudara, dan perpisahan
dengan keluarga. Pengalaman stres ini, efeknya dapat berlangsung
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Reaksi panjang seperti ini
dinamakanPost

Traumatic

Stres

Disorder (PTSD).

Orang

yang

menderita PTSD mempunyai ciri khas, yaitu mengalami stresor yang


sangat ekstrem. Salah satu reaksi terhadap kejadian yang penuh stres
adalah tidak responsif, seperti berkurangnya minat untuk melakukan
aktivitas, menarik diri, dan penyempitan emosi. Gejala lainnya adalah
takut berpisah dan kehilangan, takut akan kematian, disorientasi,
depresi, dan agresi.

2.5.

Pendekatan Stress Perkembangan


Menurut Goodyer (1998): manusia menemukan kejadian hidup

yang penuh stress dari waktu kehamilan. Pada tahap perkembangan


yang berbeda, stressor yang sama dapat mempunyai arti yang
berbeda. Kemampuan tubuh memerangi sakit sudah ada pada masa
anak-anak, tapi kemampuan ini turun saat masa tua ( Sarafino,1990).
Alasan lain pada anak mempunyai keterbatasan pengetahuan tentang
penyakit dan kematian, rasa sakit hanya di persepsikan hanya pada
saat kejadian, sedang pada orang lanjut usia penafsiran stress selain
tertuju pada saat itu juga tetapi tertuju juga pada antisipasi masa
datang seperti pemikiran kemungkinan mati atau cacat.
Sejak individu dilahirkan , dan sepanjang tahun pertama
kehidupannya, banyak hal yang terjadi dalam perkembangannya,
yang jelas penuh ketegangan (Lipsitt, 1983), seperti:
a. Pada pertengahan masa kanak-kanak pengaruh lingkungan,
khususnya keluarga, terus memainkan peranan penting baik
dalam meindungi anak dari kondisi stress ataupun menjadi
penyebab terjadinya stress. Dalam tahap perkembangan ini
anak-anak mengalami peningkatan jumlah respond an strategi
koping terhadap pengalaman yang penuh stress (Goodyear,
1988)
b. Pada masa remaja, mereka juga diekspos untuk kejadian hidup
yang penuh stress. Bedanya adalah jenis kejadiannya, lebih
pribadi dan tidak terlalu melibatkan anggota keluarga. Bagi
remaja,

meningkatnya

perkembangan

social

merubah

keseimbangan orientasi individu dan keluarga dengan kelompok


sebaya (Goodyear, 1988)
c.

Orang dewasa, mereka mempunyai tugas yang bebeda yang


harus mereka hadapi. Tugas menjadi orang tua (Kehamilan,
kelahiran,pertumbuhan

anak-anak),

bekerja

dan

kemudan

pension, kematian pasangan dan teman, adalah beberapa


contoh yang ukup menonjol.
Contoh-contoh pengalaman (factor) yang dapat menimbulkan
situasi kritis bagi anak-anak menurut Hurrelman, 1990, yaitu:
a.

Kematian orang tua

b.

Tidak naik kelas

c.

Kekerasan fisik antara orang tua

d.

Ketahuan mencuri

e.

Dicurigai berbohong

f.

Dihukum oleh guru

g.

Mengalami operasi

h.

Kehilangan

i.

Ditertawakan di muka kelas

j.

Pindah kelas

k.

Mimpi buruk

l.

Tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah

m.

Dipilih sebagai anggota terakhir dalam suatu tim

n.

Anggota tim mengalami kekalahan dalam suatu pertandingan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. KESIMPULAN
3.2. SARAN