Anda di halaman 1dari 3

Se (l-k) uler Desember 15, 2002

Seseorang pernah berkata, ada hubungan erat antara telepon seluler dan pemikiran
sekuler. Teknologi modern, katanya, tak bisa diciptakan, disebarkan dan dinikmati,
seandainya manusia tak pernah lepas dari ketakutan kepada Tuhan. Kemal Attaturk
akan memimpin Turki yang kalah perang seandainya ia mengikuti fatwa ulama
bahwa mortir dan mitraliyur adalah senjata yang haram, benda orang kafir.

Memang aneh bila Tuhan dibayangkan mengatur mortir. Hari ini dunia pengalaman
telah mekar dan manusia membuka aneka laku dan kerja. Agaknya itulah yang
dimaksudkan Iqbal, ketika ia bicara di depan Tuhan:

Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu,

Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cupu

Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung,

Kuhasilkan taman, sawah dan kebun

Membuat lampu, membentuk cupu, mengolah kebun di situlah teknologi


ditemukan, dan untuk itu akal dikerahkan.. Di depan Tuhan, Iqbal ingin
menunjukkan bahwa imannya tak mendorongnya tenggelam ke dalam rasa gentar
yang kronis. Meskipun ia bukan Attaturk, dengan mantap ia pisahkan mana yang
wilayah Tuhan (malam, lempung, dst.) dan mana yang wilayah manusia (lampu,
cawan, dst.). Ia akui daya kreatif Yang Suci, tapi ia tampilkan penciptaan yang
terlepas dari yang sakral. Buahnya adalah benda-benda peradaban yang
independen, sebuah dunia sekuler dalam sejarah. Tentu, Iqbal tak menggunakan
kata sekuler, tapi sajaknya, seperti terungkap dalam Asrar-e khudi yang
menggarisbawahi kemerdekaan ego insani, mengandung iman yang mengakui
kebesaran Tuhan tapi menegaskan otonomi manusia.

Di situlah sekuler tak sama dengan murtad. Tentu saja murtad atau bidah
pada akhirnya keputusan manusia juga yang karena satu dan lain hal
menganggap diri penjaga akidah. Tapi kita tahu tiap keputusannya diambil dengan
Hakim yang in absentia. Tuhan tak hadir dalam sidang. Hanya para penjaga akidah
sering tak sadar bahwa atas Nama-Nya pun mereka bisa keliru.

Seabad lebih sebelum sekularisme diberlakukan dengan sengit oleh Revolusi


Prancis, di Italia sudah ada kecemasan besar bahwa wilayah Tuhan akan direbut
wilayah manusia. Pada musim gugur 1624, dalam kuliah pembukaan di Collegio
Romano, Pater Spinola, padri Jesuit dari Genoa, mengutarakan dengan fasih
pendirian ordonya, yang saat itu tengah menghadapi polemik yang ditembakkan
seorang ilmuwan yang tak begitu patuh, Galileo. Suasana memang panas. Setahun
sebelumnya di Roma terbit Il Saggiatore, sebuah kombinasi yang asyik antara teori
fisika dan cemooh ke kaum Jesuit. Dalam Galileo Heretico, sebuah buku yang secara
mendalam menguraikan konflik Galileo dengan Gereja, Pietro Redondi menunjukkan
bahwa di hari-hari itu Il Saggiatore, tulisan Galileo yang bermula dengan sebuah
teori tentang cahaya dijadikan penyambung suara yang menuntut kebebasan
intelektuil: agar pemikiran manusia bertolak dari bobot akal budi, dan bukan dari
otoritas.

Tapi Gereja berdiri tegak: ia Sang Otoritas. Sejak theologi Thomas Aquinas, otoritas
agama dikukuhkan di atas apapun, dan bagi kaum Jesuit di Collegio Romano, iman
adalah panglima bagi akal. Kata-kata Pater Spinola tegas: Satu-satunya hal yang
penting bagi filosof, agar mengetahui kebenaran yang satu dan sederhana, adalah
untuk menentang apa saja yang melawan Iman dan menerima apa yang termaktub
dalam Iman.

Dengan kata lain, di zaman itu filsafat tak boleh berada di wilayah yang mandiri.
Iman menguasai hidup. Filsafat, buah pikiran manusia, bukan untuk menjelaskan
segalanya. Hari itu seakan-akan bergema sebuah argumen yang menghabisi peran
filsafat dalam kehidupan beragama, bahkan ketika filsafat itu mencoba menjelaskan
Tuhan gema dari Tahfut al-Falsifah Al Ghazali di abad ke-11, suara yang
kemudian melumpuhkan pemikiran di dunia Timur.

Tapi dalam bentuk apa Tuhan hadir, selain dalam tafsir? Dan bukankah tafsir kukuh
karena kekuasaan? Sebelum terbit Il Saggiatore, di awal 1616 Vatikan telah
memaklumkan bahwa teori Kopernikus adalah bidah. Galileo, seorang pengikut
Kopernikus, waktu itu telah jadi sasaran, meskipun baru 17 tahun kemudian ia jadi

korban. Ia dianggap menafsirkan Injil dengan gagasan yang sesat bahwa bumi
bergerak dan langit berhenti.

Ketika Kardinal Bellarmino menyampaikan keputusan itu, ilmuwan itu tahu apa yang
mengancam dirinya. Empatbelas tahun sebelum hari itu Bellarmino membungkam
Giordano Bruno dengan ganas. Pembangkang itu dihukum bakar. Dengan kekuatan
telah kutaklukkan otak mereka yang angkuh itulah epigraf yang tertulis di makam
sang Kardinal. Galileo pun merunduk.

Tapi kekuatan tak menyelesaikan segala-galanya. Pada 1992, tiga setengah abad
setelah Galileo dihukum, Vatikan mengakui bahwa Tahta Suci telah salah
memutuskan. Betapa terlambat, betapa percuma. Selama itu orang toh bergerak
dengan teori Kopernikus, Uni Soviet yang tak ber-Tuhan meluncurkan Sputnik, dan
Neil Armstrong mendarat di bulan tanpa kitab suci.Yang sekuler meluas. Tapi lebih
dari itu, ia membentuk kesadaran kita tentang yang baik dan yang buruk. Nilai-nilai
tak dikonfirmasikan lagi kepada Yang Suci, melainkan dengan hakim dan polisi.

Anda mungkin cemas akan tendensi itu, tapi lihatlah: bahkan di abad ke-20
sekularisasi itu ditiru, dengan arah terbalik, oleh para penjaga akidah. Arab Saudi,
contohnya. Ketika keimanan diatur oleh undang-undang dan dijaga polisi, Yang Suci
akhirnya diwakili oleh sebuah birokrasi. Ketika dosa diperlakukan sama seperti
tindak kriminil, Yang Suci pun kehilangan aura, seperti pemilik toko yang dirampok.
Ia jadi rutin, banal, tanpa keagungan. Akhirnya Negara berjela jadi berhala, dan
Tuhan dipasang di fotokopi.