Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

DIPLOPIA

Pembimbing:
dr. Suyatno, Sp.M

Disusun oleh:
Tyas Rahmani Fauziah, S.Ked
Erwin Imawan, S.Ked

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN MATA
RSUD SUKOHARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

REFERAT
DIPLOPIA
Disusun Oleh:
Erwin Imawan, S.Ked & Tyas Rahmani Fauziah, S.Ked
Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing
dr. Suyatno, Sp.M

( ..........................................)

Dipresentasikan dihadapan
dr. Suyatno, Sp.M

( ..........................................)

Ka. Program Pendidikan Profesi FK UMS


dr. Dona Dewi Nirlawati

( ...........................................)

BAB I
PENDAHULUAN

Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat


transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi pleura
bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu
penyakit.1Akibat adanya carian yang cukup banyak dalam rongga pleura, maka
kapasitas paru akan berkurang dan di samping itu juga menyebabkan pendorongan
organ-organ mediastinum, termasuk jantung. Hal ini mengakibatkan insufisiensi
pernafasan dan juga dapat mengakibatkan gangguan pada jantung dan sirkulasi
darah.
Di negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal
jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, danpneumonia bakteri, sementara di
negara-negara yang sedang berkembang,seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh
infeksi tuberkulosis.Efusi pleurakeganasan merupakan salah satu komplikasi yang
biasa ditemukan pada penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker
paru dan kanker payudara.Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat
dijumpai pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik.
Sementara 5% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi
pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi
pleura.
Efusi pleura dengan manifestasi pada satu sisi paru atau unilateral
merupakan hal yang sering dijumpai di Indonesia dan membutuhkan perhatian
khusus karena penyebab maupun penatalaksanaanya berbeda dengan efusi pluera
yang terjadi pada kedua lapang paru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi

Efusi pleura adalah adanya penumpukan cairan dalam rongga (kavum)


pleura yang melebihi batas normal yang dalam keadaan normal terdapat 10-20 cc
cairan.1

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam
jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura, yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura.2
Dalam konteks ini perlu di ingat bahwa pada orang normal rongga pleura
ini juga selalu ada cairannya yang berfungsi untuk mencegah melekatnya pleura
viseralis dengan pleura parietalis, sehingga dengan demikian gerakan paru
(mengembang dan mengecil) dapat berjalan dengan mulus. Dalam keadaan
normal, jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-20 ml. Cairan pleura
komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai
kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl. 1,2
B. Anatomi dan Fisiologi Pleura
Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis
dan parietalis.Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial,
jaringan ikat, dan dalam keadaan normal, berisikan lapisan cairan yang sangat
tipis.Membran serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura viseralis,
sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak, diafragma, dan
mediastinum disebut pleura parietalis.Rongga pleura terletak antara paru dan
dinding thoraks.Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi
sebagai pelumas antara kedua pleura.Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hilus

paru. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis,
diantaranya : 2,3
1. Pleura Visceralis
Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis
<30mm.Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit, di bawah sel-sel
mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit, di
bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat
elastik. Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang
banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari a. Pulmonalis dan a.
Brakhialis serta pembuluh limfemenempel kuat pada jaringan paru uang
fungsinya untuk mengabsorbsi cairan pleura.2
2. Pleura parietalis
Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat
(kolagen dan elastis). Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung
kapiler dari a. Intercostalis dan a. Mamaria interna, pembuluh limfe, dan
banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan
perbedaan temperatur. Keseluruhan berasal n. Intercostalis dinding dada
dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. Mudah menempel dan lepas
dari dinding dada di atasnya,fungsinya untuk memproduksi cairan pleura.2

Cairan pleura berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan pleura


parietalis dan pleura viseralis bergerak selama pernapasan dan untuk mencegah
pemisahan toraks dan paru yang dapat dianalogikan seperti dua buah kaca objek
yang akan saling melekat jika ada air. Kedua kaca objek tersebut dapat bergeseran
satu dengan yang lain tetapi keduanya sulit dipisahkan. 2
Cairan pleura dalam keadaan normal akan bergerak dari kapiler di dalam
pleura parietalis ke ruang pleura kemudian diserap kembali melalui pleura

viseralis. Masing-masing dari kedua pleura merupakan membran serosa mesenkim


yang berpori-pori, dimana sejumlah kecil transudat cairan intersisial dapat terus
menerus melaluinya untuk masuk kedalam ruang pleura.2
Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebih
besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan
permukaan pleura viseralis lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga dalam
keadaan normal hanya ada beberapa mililiter cairan di dalam rongga pleura.1,2

Jumlah total cairan dalam setiap rongga pleura sangat sedikit, hanya
beberapa mililiter yaitu 1-5 ml. Dalam kepustakaan lain menyebutkan bahwa
jumlah cairan pleura sebanyak 12-15 ml. Kapanpun jumlah ini menjadi lebih dari
cukup untuk memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa
keluar oleh pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga
pleura kedalam mediastinum, permukaan superior dari diafragma, dan permukaan
lateral pleural parietalis. Oleh karena itu, ruang pleura (ruang antara pleura
parietalis dan pleura visceralis) disebut ruang potensial, karena ruang ini
normalnya begitu sempit sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas.1,2
C. Etiologi

Ruang pleura normal mengandung sekitar 10 mL cairan, hal ini


memperlihatkan adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatik dan tekanan
onkotik dalam pembuluh darah pleura viseral dan parietal dan drainase limfatik
luas. Efusi pleura merupakan hasil dari ketidakseimbangan tekanan hidrostatik
dan tekanan onkotik.2
Efusi pleura merupakan indikator dari suatu penyakit paru atau non
pulmonary, dapat bersifat akut atau kronis. Meskipun spektrum etiologi efusi
pleura sangat luas, efusi pleura unilateral biasanya disebabkan oleh infeksi kuman
TB dan juga akibat keganasan dari paru.4
1. Plueritis Tuberculosis
Pleuritis TB merupakan suatu penyakit TB dengan manifestasi
menumpuknya cairan di rongga paru, tepatnya di antara lapisan luar dan
lapisandalam paru.4

2. Efusi Pluera Ganas


Efusi pleura ganas

didefinisikan

sebagai

efusi

yang

terjadi

berhubungan dengan keganasan yang dibuktikan dengan penemuan sel


ganas pada pemeriksaan sitologi cairan pleura atau biopsi pleura. 11

D. Klasifikasi
Efusi pleura umumnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pembentukan
cairan dan kimiawi cairan menjadi 2 yaitu atas transudat atau eksudat. Transudat
hasil dari ketidakseimbangan antara tekanan onkotik dengan tekanan hidrostatik,
sedangkan eksudat adalah hasil dari peradangan pleura atau drainase limfatik yang
menurun. Dalam beberapa kasus mungkin terjadi kombinasi antara karakteristk
cairan transudat dan eksudat.1
a. Eksudat
Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran
kapiler yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi
tinggi dibandingkan protein transudat. Bila terjadi proses peradangan
makapermeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel
mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran
cairan ke dalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling
sering adalah karena mikobakterium tuberkulosis dan dikenal sebagai
pleuritis eksudativa tuberkulosa. Kegagalan aliran protein getah bening ini
(misalnya pada pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan
konsentasi protein cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat.1
E. Patofisiologi
Dalam keadaan normal, selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura
melalui kapiler pada pleura parietalis sehingga cairan ini segera direabsorpsi oleh
saluran limfe, maka terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi.

Kemampuan untuk reabsorpsinya dapatmeningkat sampai 20 kali. Apabila antara


produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau
reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura. 1
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara
cairan dan protein dalam rongga pleura.Dalam keadaan normal cairan pleura
dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler.Filtrasi
yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstitial
submesotelial kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga
pleura.Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar
pleura.Pergerakan cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi
karena adanya perbedaantekanan hidrostatik dan tekanan osmotik. Cairan
kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang
diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal yang memudahkan penyerapan
cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel
mesothelial.3
Pada infeksi TB efusi pleura terbentuk sebagai reaksi hipersensitivitas tipe
lambat antigenkuman TB dalam rongga pleura. Antigen ini masuk ke dalam
rongga pleura akibat pecahnya fokus subpleura. Rangsangan pembentukan cairan
oleh pleura yang terkait dengan infeksi kuman TB.4
Pleuritis TB dapat merupakan manifestasi dari tuberkulosis primer atau
tuberkulosis post primer (reaktivasi).Hipotesis terbaru mengenai pleuritis TB
primer menyatakan bahwa pada 6-12 minggu setelah infeksi primer terjadi
pecahnya fokus kaseosa subpleura ke kavitas pleura. Antigen mikobakterium TB
memasuki kavitas pleura dan berinteraksi dengan sel T yang sebelumnya telah
tersensitisasi mikobakteria, hal ini berakibat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe
lambat yang menyebabkan terjadinya eksudasi oleh karena meningkatnya
permeabilitas dan menurunnya klirens sehingga terjadi akumulasi cairan di kavitas
pleura. Cairan efusi ini secara umum adalah eksudat tapi dapat juga berupa
serosanguineous dan biasanya mengandung sedikit basilTB.4
Patofisiologi EPG belum jelas benar tetapi berkembang beberapa hipotesis
untuk menjelaskan mekanisme EPG itu. Akumulasi efusi di rongga pleura terjadi

akibat peningkatan permeabiliti pembuluh darah karena reaksi inflamasi yang


ditimbulkan oleh infiltrasi sel kanker pada pleura parietal dan/ atau visceral. 11

Mekanisme lain yang mungkin adalah invasi langsung tumor yang berdekatan
dengan pleura, obstruksi pada kelenjar limfe, penyebaran hematogen atau tumor
primer pleura (mesotelioma). Gangguan penyerapan cairan oleh pembuluh limfe
pada pleura parietal akibat deposit sel kanker itu menjadi penyebab akumulasi
cairan di rongga pleura.16 Teori lain menyebutkan terjadi peningkatan
permeabiliti yang disebabkan oleh gangguan fungsi beberapa sitokin antara lain
tumor necrosing factor- (TNF-), tumor growth factor- (TGF-) dan vascular
endothelial growth factor (VEGF). Penulis lain mengaitkan EPG dengan
gangguan metabolisme, menyebabkan hipoproteinemia dan penurunan tekanan
osmotik yang memudahkan perembesan cairan ke rongga pleura.11
F. Manifestasi Klinis
Pleuritis TB biasanya bermanifestasi sebagai penyakit demam akut
disertaibatuk nonproduktif (94%) dan nyeri dada (78%) tanpa peningkatan lekosit
darah tepi. Penurunan berat badan dan malaise bisa dijumpai, demikian juga
menggigil. Sebagian besar efusi pleura TB bersifat unilateral (95%), lebih sering
di sisi kanan. Jumlah cairan efusi bervariasi dari sedikit hingga banyak, meliputi
setengah

dari

hemitoraks.

Jumlah

maupun

lokasi

terjadinya

efusi

tidakmempengaruhi prognosis.4
Pada EPG anamnesis kecuali gejala klinis seperti sesak napas yang
berkaitan dengan volume cairan atau keluhan lain maka riwayat perjalanan klinis
yang mengarahkah ke penyakit keganasan rongga toraks dan organ luar toraks lain
harus dapat digali secara baik, sistematik dan tepat. Faktor risiko untuk penyakit
keganasan lain yang dipunyai pasien dapat memperkuat analisis, misalnya lakilaki

usia lebih dari 40 tahun dan perokok atau perempuan dengan riwayat
pernahdikemoterapi untuk kanker payudara.11
Adanya efusi pleura memberikan kelainan pada hemitoraks yang sakit
dengan pergerakan pernapasan yang tertinggal, cembung, ruang antar iga yang
melebar dan mendatar, getaran nafas pada perabaan menurun, trakea yang
terdorong, suara ketuk yang redup dan menghilangnya suara pernapasan pada
pemeriksaan auskultasi. Gambaran radiologik : posterior anterior (PA) terdapat
kesuraman pada hemithorax yang terkena efusi, dari foto thorax lateral dapat
diketahui efusi pleura di depan atau di belakang, sedang dengan pemeriksaan
lateral dekubitus dapat dilihat gambaran permukaan datar cairan terutama
untukefusi pleura dengan cairan yang minimal.1
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk memperkuatdiagnosa efusi pleura
unilateral antara lain :
1. Rontgen dada
Roentgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang
dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura unilateral yang hasilnya
menunjukkan adanya cairan.Foto dada juga dapat menerangkan asal
mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat jantung yang membesar,
adanya masa tumor, dan adanya lesi tulang yang destruktif pada
keganasan.1

2. USG Dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan.
Jumlahnya sedikit dalam rongga pleura. Pemeriksaan ini sangat
membantu sebagai penuntun waktu melakukan aspirasi cairan dalam
rongga pleura.6

3. CT Scan Dada
CT scan dada dapat menunjukkan adanya perbedaan densitas cairan
dengan jaringan sekitarnya sehingga sangat memudahkan dalam
menentukan adanya efusi pleura. Selain itu juga bisa menunjukkan
adanya pneumonia, abses paru atau tumor. Hanya saja pemeriksaan ini
tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.6

4. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui
dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh
melalui torakosentesis.6

Torakosentesis adalah pengambilan cairan melalui sebuah jarum


yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada di bawah
pengaruh pembiasan lokal dalam dan berguna sebagai sarana untuk
diuagnostik maupun terapeutik.8
Pelaksanaan torakosentesis sebaiknya dilakukan pada penderita
dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan toraks, pada bagian bawah
paru di sela iga v garis aksilaris mediadengan memakai jarum Abocath
nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi
1000 1500 cc pada setiap kali aspirasi. Lebih baik mengerjakan
aspirasi berulang-ulang daripada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat
menimbulkan pleural shock (hipotensi) atau edema paru.8

Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlalu


cepat. Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul, tapi diperkirakan
karena adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan
peningkatan aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal.8
5. Biopsi Pleura
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya
maka dilakukan biopsi dimana contoh lapisan pleura sebelah luar untuk
dianalisa. Pemeriksaan histologi satu atau beberapa contoh jaringan

pleura dapat menunjukkan 50 -75%

diagnosis kasus-kasus pleuritis

tuberkulosa dan tumor pleura. Bila ternaya hasil biopsi pertama tidak
memuaskan, dapat dilakukan beberapa biopsi ulangan. Pada sekitar 20%
penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab
dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. Komplikasi biopsi antara
lain pneumotoraks, hemotoraks, penyebaran infeksi atau tumor pada
dinding dada.9
6. Analisa cairan pleura
Untuk diagnostic cairan pleura, dilakukan pemeriksaan :
a. Warna Cairan
Biasanya cairan pleura berwama agak kekuning-kuningan (serousxantho-ctrorne.Bila agak kemerah-merahan, ini dapat terjadi pada
trauma, infark paru, keganasan, adanya kebocoran aneurisma aorta.
Bila kuning kehijauan dan agak purulen, ini menunjukkan adanya
empiema. Bila merah tengguli, ini menunjukkan adanya abses karena
ameba.5
b. Biokimia
Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang
perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.5
-

Perbedaan
Kadar protein dalam efusi (g/dl)

Kadar protein dalam efusi

Transudat
< 3.

Eksudat
> 3.

< 0,5

> 0,5

< 200

> 200

< 0,6

> 0,6

Kadar protein dalam serum


-

Kadar LDH dalam efusi (I.U)

Kadar LDH dalam efusi


Kadar LDH dalam Serum

Berat jenis cairan efusi

< 1,016

> 1,016

Rivalta

negatif

positif

Di. samping pemeriksaan tersebut di atas. secara biokimia


diperiksakan juga pada cairan pleura :
-

kadar pH dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakitpenyakit infeksi, artitis reumatoid dan neoplasma

kadar amilase. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan


metastasis adenokarsinoma.

c. Sitologi
Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk
diagnostik penyakit pleura, terutama bila ditemukan sel-sel patologis
atau dominasi sel-sel tertentu.5
-

Sel neutrofil : Menunjukkan adanya infeksi akut.

Sel limfosit :

Menunjukkan

adanya

infeksi

kronik

sepertipleuritis tuberkulosa atau limfomamaligna


-

Sel mesotel :

Bila

jumlahnya

meningkat,

inimenunjukkanadanyainfark paru. Biasanya juga ditemukan


banyak sel eritrosit.
-

Sel mesotel maligna : Pada mesotelioma

Sel-sel besar dengan banyak inti : Pada arthritis rheumatoid

7. Torakoskopi (Fiber-optic pleuroscopy)


Torakoskopi biasnya digunakan pada kasus dengan neoplasma atau
tuberculosis pleura.Caranya yaitu dengan dilakukan insisi pada dinding
dada (dengan resiko kecil terjadinya pneumotoraks). Cairan dikeluarkan
dengan memakai penghisap dan udara dimasukkan kamera kecil supaya
bisa melihat kedua pleura.9

H. Diagnosa
1. Anamnesis dan gejala klinis
Keluhan utama penderita adalah nyeri dada sehingga penderita
membatasi pergerakan rongga dada dengan bernapas pendek atau tidur
miring ke sisi yang sakit. Selain itu sesak napas terutama bila berbaring ke
sisi yang sehat disertai batuk batuk dengan atau tanpa dahak. Berat

ringannya sesak napas ini ditentukan oleh jumlah cairan efusi. Keluhan
yang lain adalah sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.1
2. Pemeriksaan fisis
Pada pemeriksaan fisik toraks didapatkan dada yang terkena cembung
selain melebar dan kurang bergerak pada pernapasan atau ketertinggalan
gerak nafas. Fremitus vokal melemah, redup sampai pekak pada perkusi,
dan suara dasar napas lemah atau menghilang. Jantung dan mediastinum
terdorong ke sisi yang sehat.4

3. Pemeriksaan radiologik
Pemeriksaan radiologis

mempunyai

nilai

yang

tinggi

dalam

mendiagnosis efusi pleura unilateral. Secara radiologis jumlah cairan yang


kurang dari 100 ml tidak akan tampak dan baru jelas bila jumlah cairan di
atas 300 ml.10
Foto toraks dengan posisi Posteroanterior akan memperjelas
kemungkinan adanya efusi pleura masif. Pada sisi yang sakit tampak
perselubungan masif dengan pendorongan jantung dan mediastinum ke sisi
yang sehat.10
4. Torakosentensi
Tujuan torakosentesis (punksi pleura) di samping sebagai diagnostik
juga sebagai terapeutik.8
Pleuritis TB tidak selalu mudah didiagnosis, karena tidak selalu
adagambaran khas seperti adanya eksudat yang kaya limfosit pada cairan
efusi, granuloma nekrotik kaseosa pada biopsi pleura, hasil positif dari
pewarnaan ZiehlNeelsen atau kultur Lowenstein dari cairan efusi atau jaringan

sampel dan sensitivitas kulit terhadap PPD. Diagnosis dari pleuritis TB secara
umumditegakkan dengan analisis cairan pleura dan biopsi pleura.4
Diagnosis pasti EPG adalah dengan penemuan sel ganas pada cairan
pleura (sitologi) atau jaringan pleura (histologi patologi). Jumlah cairan pleura
yang dibutuhkan untuk mendapatkan sel ganas pada EPG, hasil akurat masih
bervariasi.11
I.

Penatalaksanaan
Efusi pleura unilateral harus segera mendapatkan tindakan pengobatan

karena cairan pleura akan menimbulkan sesak nafas yang hebat dan menekan
organ-organ vital dalam rongga dada ke sisi yang sehat. Beberapa macam
pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura masif
adalah sebagai berikut
1. Obati penyakit yang mendasarinya
a. Pleuritis TB.
Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase: intensif dan lanjutan. Fase
intensifditujukan untuk membunuh sebagian besar bakteri secara cepat dan
mencegahresistensi obat. Sedangkan fase lanjutan bertujuan untuk
membunuh bakteri yangtidak aktif. Fase lanjutan menggunakan lebih
sedikit obat karena sebagian besarbakteri telah terbunuh sehingga risiko
pembentukan bakteri yang resisten terhadappengobatan menjadi kecil.4
Berdasarkan pedoman tata laksana DOTS, pasien dengan sakit
berat yangluas atau adanya efusi pleura bilateral dan sputum BTA positif,
diberikan terapikategori I (Fase Intensif dengan 4 macam obat : INH,
Rifampisin, Pirazinamid,Etambutol selama 2 bulan dan diikuti dengan fase
lanjutan selama 4 bulan dengan2 macam oabat : INH dan Rifampisin).
Pada pasien dengan pleuritis TB soliterharus diterapi dengan INH,
Rifampisin dan Pirazinamid selama 2 bulan diikutidengan terapi INH dan
rifampin selama 4 bulan.4
b. Keganasan

Kemoteapi intrapleura dan pleurodesis adalah terapi paliatif pada


kasus EPG dengan keluhan (simptomatik) dan/ atau berulang. Kemoterapi
intrapleura pada dasarnya istilah yang tidak terlalu tepat karena
mekanisme kerjanya tidak sama dengan kemoterapi sistemik yaitu
membunuh sel kanker melalui proses`apoptosis. Pemberian obat
antikanker intrapleura mengharapkan terjadi penyumbatan pada vena atau
limphe di pleura parietalis sehingga produksi cairan dapat berkurang.
Penggunaan obat antikanker (kemoterapi ) dengan prinsip pleurodesis
dilakukan bila paru sudah mengembang dan tidak ditemukan obstruksi
bronkus atau fibrosis yang luas, dan sebaiknya segera dilakukan setelah
jumlah cairan minimal (<150 ml/ hari) dan paru mengembang.11
2. Torakosentesis
keluarkan cairan seperlunya hingga sesak - berkurang (lega);
jangan lebih 1-1,5 liter pada setiap kali aspirasi. Zangelbaum dan Pare
menganjurkan jangan lebih 1.500 ml dengan waktu antara 20-30 menit.
Torakosentesis ulang dapat dilakukan pada hari berikutnya. Torakosentesis
untuk tujuan diagnosis setiap waktu dapat dikerjakan, sedangkan untuk
tujuan terapeutik pada efusi pleura tuberkulosis dilakukan atas beberapa
indikasi.7
a. Adanya keluhan subjektif yang berat misalnya nyeri dada, perasaan
tertekan pada dada.
b. Cairan sudah mencapai sela iga ke-2 atau lebih, sehingga akan
mendorong dan menekan jantung dan alat mediastinum lainnya,
yang dapat menyebabkan kematian secara tiba-tiba.
c. Suhu badan dan keluhan subjektif masih ada, walaupun sudah
melewati masa 3 minggu. Dalam hal seperti ini biasanya cairan
sudah berubah menjadi pyotoraks.
d. Penyerapan cairan yang terlambat dan waktu sudah mendekati 6
minggu, namun cairan masih tetap banyak.
3. Chest tube
jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak, lebih baik
dipasang selang dada (chest tube), sehingga cairan dapat dialirkan dengan
lambat tapi sempurna. Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml

cairan sekaligus. Selang dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500
ml lainnya dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan
distres pada pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru.1

J.

Komplikasi

1. Infeksi.
Pengumpulan cairan dalam ruang pleura dapat mengakibatkan
infeksi (empiema primer), dan efusi pleura dapat menjadi terinfeksi setelah
tindakan torakosentesis (empiema sekunder).Empiema primer dan
sekunder harus didrainase dan diterapi dengan antibiotika untuk mencegah
reaksi fibrotik. Antibiotika awal dipilih

gambaran klinik. Pilihan

antibiotika dapat diubah setelah hasil biakan diketahui.1


2. Fibrosis
Fibrosis pada sebagian paru-paru

dapat mengurangi ventilasi

dengan membatasi pengembangan paru. Pleura yang fibrotik juga dapat


menjadi sumber infeksi kronis, menyebabkan sedikit demam. Dekortikasireseksipleura lewat pembedahan mungkin diperlukan untuk membasmi
infeksidan mengembalikan fungsi paru-paru. Dekortikasi paling baik
dilakukandalam 6 minggu setelah diagnosis empiema ditegakkan, karena

selamajangka waktu ini lapisan pleura masih belum terorganisasi dengan


baik(fibrotik) sehingga pengangkatannya lebih mudah.1
K. Prognosis
Prognosis pada efusi pleura unilateral bervariasi sesuai dengan etiologi
yang mendasari kondisi itu. Namun pasien yang memperoleh diagnosis dan
pengobantan lebih dini akan lebih jauh terhindar dari komplikasi daripada pasien
yang tidak memedapatkan pengobatan dini.1
Efusi ganas menyampaikan prognosis yang sangat buruk, dengan
kelangsungan hidup rata-rata 4 bulan dan berarti kelangsungan hidup kurang dari
1 tahun.Efusi dari kanker yang lebih responsif terhadap kemoterapi, seperti
limfoma atau kanker payudara, lebih mungkin untuk dihubungkan dengan
berkepanjangan kelangsungan hidup, dibandingkan dengan mereka dari kanker
paru-paru atau mesothelioma.1

DAFTAR PUSTAKA
1. Firdaus, Denny. 2012. Efusi Pleura. RSUD Dr.H.Abdul Moeloek. Bandar
Lampung.
2. Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit.Vol 2. Ed. 6. Jakarta EGC.
3. Halim H. Penyakit-penyakit pleura, dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam,
Jilid II, edisi ke-3, Gaya Baru.Jakarta.2001; 927-38
4. Faradilla, Nova. 2009. Plueritis Tuberculosis. Universitas Riau. Riau.
5. Hanley, S. Welsch, M. 2003. Current diagnosis & treatment in pulmonary
medicine. [New York]: McGraw-Hill Companies.
6. Rofiqahmad. 2001. Thorax. http://emedicine.medscape.com/article/299959overview
7. Bahar, Asril. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Ed. 3. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI
8. Halim, Hadi. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Ed. 3. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI

9. Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit.Vol 2. Ed. 6. Jakarta EGC.
10. Rofiqahmad. 2008. Thorax. http://www.efusi
pleura/080308/thorax/weblog.htm.
11. Syahruddin, E. Hudoyo, A. Arief, N. 2010. Efusi Pluera Ganas pada Kanker
Paru. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI:
Jakarta