Anda di halaman 1dari 32

PENGELOLAAN PENDIDIKAN

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN

OLEH:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

ABU RIDLO
HIDAYATURAHMAN
LIKA ANGGRAINI
MAGFIRAH SAFITRI
MUHAMMAD NURUZZAMAN ASSHIDIQ
NOVITA APRILANI

DOSEN PENGAMPU: Dr. ALI IDRUS, M.Pd.,M.E

PROGRAM STUDI PENDDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016/2017

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang bermutu tinggi maka

di perlukan pendidikan yang bermutu, berperadaban efektif dan efesien. Karena


SDM yang bermutu hanyalah dapat di bentuk dan di kembangkan segala potensi
dan kemampuannya melalui pendidikan dalam arti yang seluas luasnya.
Manajemen pendidikan sebagai suatu disiplin iilmu memainkan peranan yang
amat penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang bermutu dan
berkelanjutan. Manajemen sisitem pendidikan amat penting karena proses
penaataan sumber daya pendidikan ( pengelolaan tenaga kependidikan, kurikulum
dan pembelajaran, keuangan, sarana dan prasana pendidikan, serta keterlibatan
secara terpadu dan simultan antara pemerintah sekolah dan masyarakat ) perlu di
menej secara profesional artinya seluruh sumber daya pendidikan yang ada, tidak
akan berpengaruh dalam pembangunan SDM yang bermutu, apabila menejemen
pendidikan yang lemah. Dengan demikian manajemen yang profesional
merupakan salah satu kunci penting dalam membangun sistem pendidikan
nasional1. Namun setelah para praktisi pendidikan mulai menyadari bahwa
pengelolaan lembaga pendidikan tidak jauh berbeda dengan pengelolaan
perusahaan, maka ilmu dan teori tentang manajemen ini pun mulai diadopsi dan
diterapkan dalam sektor pendidikan.
Sejak saat itu, perbincangan mengenai manajemen pendidikan mulai
banyak didiskusikan. Bila pada awalnya, pendidikan hanya dikelola secara
sederhana, dan dibiarkan berjalan apa adanya, tanpa ada target, tujuan dan
pengawalan bahkan evaluasi maka sejak diadopsinya manajemen dalam tata
kelola lembaga pendidikan, secara perlahan mulai didakan pembenahan guna
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia2.

1Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, ilmu dan aplikasi penddikan bagian


2 ilmu pendidikan praktis(Bandung:PT imperial bhakti utama, 2007) hal
221.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 2

1.2.

Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang ada maka dapat di tulis rumusan masalah sebagai

berikut :
1.

Apa yang di maksud dengan Kajian Filsafat dan Konsep Administrasi

2.
3.
4.

Pendidikan?2
Apa yang di maksud dengan Dasar Pengelolaan pendidikan?
Apa yang di maksud dengan Fungsi dan Prisip pengelolaan Pendidikan?4
Jelaskan Beberapa Pendekatan Dalam Pengelolaan Pendidikan ?
1.3.

Tujuan
Tujuan penulisan makalah Wawasan Dasar Pengelolaan Pendidikan adalah

Mahasiswa

memiliki

danmemahami

wawasan dasar

dalam

pengelolaan

pendidikan menyanngkut konsep dasar, fungsi dan prinsip, serta pendekatan


pendekatan dalam pengelolaan pendidikan.

2Husaini Usman, Manajemen Teori Praktik & Riset Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara,
2008)

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 3

BAB II
ISI
2.1.
Filsafat Administrasi Pendidikan
A. Filsafat Administrasi.
Beberapa pendapat yang mendasari filsafat administrasi sebagai
suatu hal penting dalam kehidupan manusia baik dalam bermasyarakat
maupun bernegara.
1. Charles a beard (ahli sejarah politik di amerika)
Mengatakan bahwa, tidak satu hal untuk abad modern sekarang ini lebih
penting dari administrasi. Kelangsungan hidup dari pemerintahan dan
bahkan keberlangsungan hidup dari peradaban itu sendiri bergantung pada
kemampuan

kita

dalam

membina

dan

mengembangkan

filsafat

administrasi.
2. Jams burnham
Mengatakan bahwa, revolusi politik Dan sosial akan timbul dan di
selesaikan, akan tetapi akan ada revolusi pada abad modern ini yang tidak
akan pernah selesai yaitu menejerial revolution yang akan menimbulkan
suatu kelas terpenting dalam suatu masyarakat yaitu the managerial class.
3. S.P Siagian
Mengemukakan pendapatnya bahwa, tegak-rubuhnya suatu negara, maju
mundurnya peradaban manusia serta tenggelamnya bangsa-bangsa di dunia
tidak di karenakan perang nuklir atau malapetaka, akan tetapi akan
tergantung pada baik buruknya administrasi yang dimiliki.
Filsafat; berasal dari kata philos berati suka, gemar atau cinta dan
shopia berarti kebijaksanaan atau bijaksana. Berfilsafat berarti, berusaha
mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya baik mengenai hakikat,
fungsi, ciri, kegunaan, masalah dan solusi dari masalah itu sendiri.
Dalam filsafat, syarat dari sesuatu yang dapat dikatakan sebagai

ilmu

ditandai dengan adanya unsur: ontology, epistemology dan aksiologi. Unsur-unsur


tersaebut dapat dijelaskan:

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 4

a. Omtology: pembahasan tentang hakikat dari administrasi pendidikan dengan


ciri-cirinya yang spesifik atau tentang apa yang di kaji oleh administrasi
pendidikan sebagai ilmu pengetahuan. Isi tentang apa itu (filsafat)
pendidikan.
b. Epistimology: pembahasan secara mendasar tentang bagaimana isi konsep
yang membedakannya dengan ilmu lain dan bagai mana caranya untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan atau metode bagaimana yang di gunakan
untuk mempereoleh ilmu pendidikan.
c. Aksiology: pembahasan tenntang kegunaanya. Untuk apa ilmu administrasi
digunakan.
Administrasi keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang
didasari atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya. Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa kandungan unsur yang
ada di dalamnya yaitu:
1. administrasi sebagai seni adalah menunjuk pada proses yang diketahui
hanya permulaan sedang akhirnya tidak ada.
2. administrasi memiliki unsur-unsur
- Adanya dua manusia atau lebih,
- Adanya tujuan yang hendak di capai,
- Adanya tugas-tugas yang harus dilaksanakan, dan
- Adanya peralatan atau perlengkapan termasuk waktu dan tempat untuk
melaksanakan tugas-tugas tersebut.
3. bahwa administrasi sebagai proses kerjasama bukan merupakan hal yang
baru, ia timbul bersama peradaban manusia.
Prinsip, dalil dan rumus ilmu eksakta bersifat pasti sedangkan ilmu sosial
bersifat adaptif karena penerapan prinsip, dalil dan rumusnya di sesuaikan
kondisi, tempat, waktu dan manusia(kepastian dalam ilmu sosial adalah ketidak
pasitan). Dalam ilmu administrasi, faktor-faktor tersebut dikenal sebagai faktor
ekologis (lingkungan) meliputi:
1. Filsafat negara; karena filsafat negara adalah tali pengikat seluruh warga
negara, maka filsafat administrasi harus selaras dengan filsafat yang berlaku
di suatu negara.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 5

2. Sistem politik yang di anut suatu negara; karena administrasi merupakan


lanjutan dari politik, maka politik administrasi harus merupakan kelanjutan
dari politik negara.
3. Tingkat pembangunan ekonomi yang telah dicapai; tingkat kesejahteraan
rakyat akan sangat dalam menentukan sistem prioritas pembangunan yang
berkaitan erat dengan pengambilan keputusan dalam kegiatan administrasi.
4. Tingkat pendidikan rakyat; tingkat pendidikan akan sangat berperan dalam
proses komunikasai dalam administrasi terutama berkaitan dengan ccara
menyampaaikan instruksi, berita, pemerintah, informasi dan sebagainya.
5. Bahasa;bahasa sebagai pengikat persatuan juga merupakan hal penting
dalam usaha menciptaakan suatu frame of reference yang sama dalam
administrasi.
6. Agama; sebagai salah satu faktor yang membedakan manusia dengan
mahluk lainnya, dengan agama pola kerjasama antara atasan dengan
bawahan akan memiliki keseimbangna dalam arti perlakuan seorang atasan
akan berjalan sesuai dengan rel-rel kemanusiaan dengan bawahannya.
7. Letak (geographi)negara; letak geograpi suatu negara akan mempengaruhi
pola komunikasi dan transportasi terutama dalam pelaksanaan kegiatan
administrasi,

misalnya seperti dalam mengimplementasikan suatu

keputusan.
8. Struktur masyarakat; proses administrasi dan managemen relatif akan lebih
mudah dilaksanakan pada struktur masyarakat homogen dibandingkan
dengan masyarakat yang heterogen.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 6

B. Filsafat Pendidikan.
Filsafat pendidikan dalam arti luas dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:
(1) filsafat praktik pendidikan dan (2) filsafat ilmu pendidikan. Filsafat praktik
pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya
pendidikan diselenggarakan dan di laksanakan dalam kehidupan manusia. Filsafat
praktik pendidikan dapat di bedakan menjadi : (a) filsafat proses pendidikan
(biasanya hanya disebut filsafat pendidikan) dan (b) filsafat sosial pendidikan.
Filsafat proses pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif tentang
bagaimana seharusnya kegiatan pendidikan dilaksanakan dalam kehidupan
manusia.
Secara konsepsional filsafat ilmu pendidikan didefinisikan sebagai analisis
kritis komprehensif tentang pendidikan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan
yang dihasilkan melalui riset, baik kualitatif maupun kuantitatif. Objek filsafat
ilmu pendidikan dapat dibedakan dalam empat kategori, yaitu:
1.

Ontologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakikat substansi dan pola

2.

organisasi ilmu pendidikan.


Epistemologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakikat objek formal dan

3.

materi ilmu pendidikan.


Metodologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam

4.

menyusun ilmu pendidikan, dan


Aksiologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoritis dan
praktis ilmu pendidikan.
C. filsafat administrasi pendidikan
administrasi pendidikan merupakan ilmu yang membahas pendidikan dari
sudut pandang kerjasama dalam proses mencapai tujuan pendidikan. Administrasi
pendidikan didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang membahas pendidikan
dari sudut pandang proses kerjasama antar manusia dalam mengembangkan
potensi peserta didik melalui perubahan sikap dalam pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan, secara efektif dan efisien. (dadang suhardan, 2007
dalam Tim Dosen UPI 2013:10)

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 7

perilaku manusia dalam berorganisasi dapat di nyatakan dalam bentuk


perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sumberdaya yang meliputi; manusia,
program pendidikan dan fasilitas. Memperjelas fungsi fungsi tersebut, ruang
lingkup atau wilayah kerja administrasi pendidikan seperti dapat dilihat seperti
pada bagan berikut;

Garapa SDM
PD
G

PJ

SB (K)
SL
M

S DF
D
F

Fungsi
Perencanaa
n
Pelaksanaan
pengawasan

Bagan 1.1
Ruang lingkup administrasi pendidikan (engkoswara: 2007)
Keterangan:
PD= peserta didik

M= metode pengajaran

G= guru

A= alat/media/buku belajar

PJ=pengguna jasa pendidik

D= dana

SL=silabus

F= fasilitas

SDM= sumberdaya manusia

SDF= sumberdaya dan fasilitas

SB(K)= sumber belajar

TP= tujuan pendidikan

Sedangkan merinci hasil, produk atau output dari produktifitas lembaga


pendidik dalam hal ini kriteria keberhasilan dalam administrasi pendidikan dapat
di lihat dari efektifitas dan efisiensi terhadap produktifitas pendidikan.
Produktifitas pendidikan yang dimaksud, selanjutnya dijelaskan melalui ilustrasi
seperti yang dapat di lihat pada berikut.
1. mangkus efektifitas

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 8

a. Prestasi
1. Masukan yang merata sebagai realisasi prinsip
demokrasi pendidikan
2. Keluaran yang banyak, bermutu, dan relevan
dengan kebutuhan pembangunan
3. Nilai ekonomik yang baik bagi keluaran
khusunya tamatan
Produktifitas
pendiikan

b. Proses
1. Menggairahkan dan memberi motivasi siwa
belajar
2. Semangat dan disiplin kerja yang tinggi kepada
tenaga kependidikan
3. Memiliki tingkat kepercayaan berbagai pihak.
2. Sangkil
Menggunakan fasilitas, tenaga, dana dan waktu
seminimal mungkin tetapi

dengan hasil yang

baik atau tinggi.


Bagan 1.2
Kriteria keberhasilan produktifitas pendidikan
(ekoswara:2007)3.
2.2.

Konsep dasar pengelolaan pendidikan


Kata pengelolaan berasal dari kata manajemen. Sedangkan istilah manajemen sama

artinya dengan administrasi. Pengertian administrasi mengandung makna adanya (1)


tujuan yang mesti dapat direalisasikan guna kepentingan lembaga, individu atau pun
kelompok, (2) keterlibatan personil, material dan juga finansial dalam posisinya yang
saling mendukung dan satu sama lain saling memerlukan dan juga saling melengkapi, (3)
proses yang terus menerus dan berkesinambungan yang dimulai dari hal yang kecil dan
sederhana sampai kepada hal yang besar dan rumit, (4) pengawasan atau kontrol guna
keteraturan, keseimbangan dan keselarasan, (5) tepat guna dan berhasil guna supaya tidak
terjadi penghambur-hamburan waktu, tenaga, biaya dan juga fasilitas agar dapat
3 Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia,
manajemen Pendidikan (Bandung:ALFABETA, 2013) hal 3-12.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 9

mencapai keberhasilan dan produktivitas yang cukup memadai, (6) hubungan manusiawi
yang menempatkan manusia sebagai unsur utama dan terhormat serta memiliki
kepentingan di dalamnya.

Secara sederhana manajemen pendidikan adalah suatu lapangan dari studi


dan praktik yang terkait dengan organisasi pendidikan. Manajemen Pendidikan
adalah proses manajemen dalam pelaksanaan tugas pendidikan dengan
mendayagunakan segala sumber secara efisien untuk mencapai tujuan secara
efektif.
Pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003
dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
menciptakan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, sikap sosial, dan ketrampilan yang diperlakukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara4.

2.2.1. Pengertian administrasi pendidikan


Untuk dapat memahami administrasi pendidikan

secara keseluruhan ,

maka perlu terlebih dahulu membahas titik awal pengertian tersebut, yaitu
administrasi. Secara sederhana administrasi ini berasal dari kata ad dan
ministro. Ad mempunyai arti kepada dan ministro berarti melayani. Secara
bebas dapat diartikan bahwa administrasi itu merupakan pelayanan atau
pengabdian terhadap subyek tertentu. Memang pada zaman dahulu administrasi
dikenakan kepada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian atau pelayanan
kepada raja atau mentri mentri dalam tugas mengelola pemerintahanya.
Pada dasarnya yang menjadi perhatian administrasi adalah tujuan,
manusia, sumber, dan juga waktu. Kalau keempat unsur tersebut di gabungkan
dan di lihat dari bentuk dan prilakunya,

maka akan menampakkan dirinnya

sebagai suatu satuan sosial tertentu yang disebut organisasi. Dan dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa administrasi itu adalah subsistem dari organisasi itu

4 Ibid. Hal 87

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 10

sendiri yang unsur unsurnya terdiri dari unsur organisasi yaitu tujuan, orang orang
dan waktu.
Administrasi

pendidikan

mengandung

dua

pokok

pikiran

yaitu

administrasi dan pendidikan. Pengertian administrasi telah dikemukakan dimuka


secara agak rinci. Pengertian pendidikan akan dikemukakan pada bagian beerikut.
Dalam GBHN tahun 1988 ini pedidikan dibataskan sebagai proses budaya untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Untuk lebih jelas memahami makna
pendidikan berikut ini dikemukakan kesimpulan asasi dari abdurahman annahlawi (1989; 32-33), yaitu
1. Pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan sasaran dan objek
2. Secara mutlak pendidik yang sebenarnya hanyalah allah, pencipta fitrah dan
pemberi beebagai potensi.
3. Pendidikan menurut adanya langkah langkah yang secara bertahap harus
dilalui oleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran , sesuai dengan
urutan yang telah di susun secara sistematis
4. Kerja pendidikan harus mengikuti aturan penciptaan dan pengadaan yang
dilakukan allah.
Mengacu pada batasan tersebut diatas beberapa hal bekenaan dengan
pendidikan, yaitu pendidikan adalah proses. Proses dalam hal ini dapat diartikan
bahwa pendidikan terdiri dari serangkaian tindakan yang menuju ke suatu hasil.
Dari uraian diatas dapat ditari kesimpulan, bahwa administrasi pendidikan
adalah

aktivitas-aktivitas

untuk

mencapai

suatu

tujuan

atau

proses

penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan


Berikut ini adalah beberapa pengertian administrasi pendidikan menurut
para ahli:
a. Sondang P. Siagian , MPA. PhD.
Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau
lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu , untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan
b. Drs. M. Ngalim parwanto, dalam administrasi pendidikan 1967

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 11

Administrasi

pendidikan

ialah

segenap

proses

pengarahan

dan

pengitegrasian segala sesuatu baik personel , spiritual dan material yang


bersangkutan dengan pencapaian tujuan pendidikan
c. Dr. Hadari nawawi, dalam administrasi pendidikan 1989
Administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses
pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan
pendidikan secara berencana dan sistematis

yang diselenggarakan

dilingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal


Dengan beberapa pengertian tersebut diatas , maka perlu ditegaskan bahwa :
a. Administrasi pendidikan itu merupakan proses keseluruhan dan kegiatankegiatan bersama yang harus dilakukan oleh semua pihak yang ada sengkut
pautnya dengan tugas tugas pendidikan
b. Administrasi itu mencakup kegiatan kegiatan luas , yang meliputi : kegiatan
perencanaan , pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, khususnya
dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan di sekolah sekolah.
c. Administrasi pendidikan itu bukan hanya sekedar kegiatan tata usaha
seperti yang dilakukan di kantor kantor tata usaha sekolah atau kantor
kantor inspeksi pendidikan lainya
Secara sederhana dan mudah , dapat dikatakan administrasi pendidikan
adalah suatu ilmu tentang penyelenggaraan pendidikan disekolah, agar tercapai
tujuan pendidikan di sekolah itu atau dapt juga diartikan administrasi
pendidikan ialah pembinaan pengawasan dan pelaksanaan dari segala sesuatu
yang berhubungan dengan urusan urusan sekolah.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 12

2.2.2. Dasar dan tujuan


2.2.2.1.
Dasar
Administrasi akan berhasil baik apabila di dasarkan atas dasar - dasar yang
tepat. Berikut ini akan di papar kan beberapa dasar yang perlu diperhatikan agar
administrator dapat mencapai sukses dalam tugasnya. Terdapat banyak dasar
administrasi, antara lain:
a. Prinsip efisien
Seorang administrasi akan berhasil dalam tugasnya bila mana dia efisien
dalam menggunakan semua sumber tenaga dana dan fasilitas yang ada
b. Prinsip pengelolaan
Administrator akan memperoleh hasil yang paling efektif dan efisien
melalui orang orang lain dengan jalan melakukan pekerjaan manajemen,
yakni merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengontrol.
c. Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan
Jika disertai pekerjaan manajemen dan operatif dalam waktu yang sama,
seorang administrasi cenderung untuk memberikan prioritas pertama pada
pekerjaan operatif. Administrator harus mampu menghindari kecenderungan
negatif ini, sebab bila ia terlalu sibuk dengan tugas tugas operatif, maka
pekerjaan pokoknya yaitu pengelolaan akan terbengkalai
d. Prinsip kepemimpinan yang efektif
Seorang administrator yang berhasil dalam tugasnya

apabila

ia

menggunakan gaya kepemimpinan yang efektif, yakni yang memperhatikan


dimensi dimensi hubungan antar manusia , dimensi pelaksanaan tugas dan
dimensi situasi dan kondisi yang ada.
e. Prinsip kerjasama
Seorang administrator akan berhasil baik dalam tugasnya bila iamampu
mengembangkan kejasama diantara orang orang yang terlibat, baik secara
horizontal maupun vertika5

5 Drs. H.m. daryanto, administrasi pendidikan (Jakarta:rineka cipta,


2001) hal 1 - 14

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 13

2.2.2.2.

Tujuan

Tujuan administrasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi dan


efektivitas penyelenggaraan kegiatan operasional kependidikan dalam mencapai
tujuan pendidikan. Di indonesia tujuan administrasi pendidikan pada dasarnya
bermaksud mengembangkan kepribadian dan kemampuan agar menjadi warga
negara yang memiliki kualitas sesuai dengan cita-cita bangsa berdasarkan falsafah
negara pancasila
Atau tujauan lain dari administrasi pendidikan sebagai bagian dari
administrasi negara adalah untuk mencari sistem dan mengembangkanya agar
menjadi sarana yang efektif bagi pencapaian tujuan pendidikan.
a. Ruang lingkup administrasi pendidikan
Secara umum ruang lingkup administrasi berlaku juga di dalam administrasi
pendidikan. Ruang lingkup tersebut meliputi bidang bidang kegiatan sebagai
berikut :
1. Manajemen administrasi
Bidang kegiatan ini disebut juga manajemen of administrative fuction
yakni kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengarahkan agar semua orang
dalam organisasi kerjasama mengerjakan hal-hal yang tepet sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Manajemen operatif
Bidang kegiatan ini disebut juga manajemen of operative fuction yakni
kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengarahkan dan membina agar
dalam mengerjakan pekerjaan yang menjadi beban tugas masing masing,
setiap orang melaksanakan dengan tepat dan benar6
Sementara itu menurut Drs. H. M. Daryanto , bidang bidang yang tercakup
dalam administrasi pendidikan adalah sangat banyak dan luas. Tetapi yang sangat
penting dan perlu diketahui oleh para kepala sekolah dan dan guru guru pada
umumnya ialah sebagai berikut
a. Bidang tata usaha sekolah, ini meliputi :
1. Organisasi dan struktur pegawai tata usaha.
2. Anggaran belanja keuangan sekolah
6 Dr. Hadari nawawi, administrasi pendidikan (Jakarta: cv haji
masagung, 1987) hal 12 - 23

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 14

3.
4.
5.
6.

Masalah kepegawaian dan personalia sekolah


Keuangan dan pembukuanya
Korespondensi/surat menyurat
Masalah pengangkatan, pemindahan penempatan, laporan, pengisian

buku induk, raport dan sebagainya


b. Bidang personalia murid, yang meliputi antara lain:
1. Organisai murid
2. Masalah kesehatan murid
3. Masalah kesejahteraan murid
4. Evaluasi kemajuan murid
5. Bimbingan dan penyuluhan bagi murid
c. Bidang personalia guru, meliputi antara lain :
1. Pengangkatan dan penempatan tenaga guru
2. Organisasi personel guru
3. Masalah kepegawaian
4. Masalah kondite dan evaluasi kemajuan guru
5. Refresing dan up-grading guru-guru
d. Bidang pengawasan (supervisi), yang meliputi antara lain
1. Usaha membangkitkan semangat guru-guru dan pegawai tata usaha
dalam menjalankan tugasnya masing-masing sebaik baiknya
2. Mengusahakan dan mengembangkan kerja sama yang baik antara
guru, murid dan pegawai tata usaha sekolah sekolah
3. Mengusahakan dan membuat pedoman cara-cara menilai hasil-hasil
pendidikan dan pengajaran
4. Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru pada umumnya
e. Bidang pelaksanaan dan pembinaan kurikulum :
1. Berpedoman dan mengetrapkan apa yang tercantum dalam kurikulum
sekolah yang bersangkutan, dalam usaha mencapai dasar-dasar dan
tujuan pendidikan dan pengajaran
2. Melaksanakan organisasi kurikulum beserta metode metodenya,
disesuaikan dengan pembaruan pendidikan lingkungan masyarakat7

2.3. Fungsi dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan


a. Pengambilan Keputusan
Pembuatan keputusan adalah merupakan suatu tanggung jawab utama
administrator. Pembuatan keputusan adalah proses dimana keputusan dibuat dan
7 Drs. H.m. daryanto, administrasi pendidikan (Jakarta:rineka cipta,
2001) hal 24-26

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 15

dilaksanakan. Hingga keputusan diubah kedalam kegiatan, hanyalah merupakan


suatu tujuan yang baik. Proses dimulai dengan suatu keputusan dan tidak berakhir
hingga keputusan tersebut dilaksanakan (Sutaryadi,1993:93). Adapun langkahlangkah pembuatan keputusan dalam (Oteng Sutisna,1983:151-152) adalah
sebagai berikut:
1. Penentuan Masalah
Suatu perilaku yang tidak diketahui atau hasil akhir yang memerlukan
perbaikan. Penting untuk diperhatikan bahwa penentuan masalah adalah suatu
pertimbangan yang harus dibuat oleh administrator. Fungsi dari penentuan
masalah ialah menjelaskan dan menguraikan masalah. Efisiensi dalam langkahlangkah berikutnya jelas bergantung pada ketelitian yang dipakai pada kegiatan
pertama ini.
2. Analisa Situasi yang Ada
Nalisa situasi melibat suatu usaha yang sistematis untuk menyajikan fakta,
opini, ide tentang situasi yang ada bila itu diketahui, dan perkiraan-perkiraan
tentang situasi itu bila fakta, opini, ide itu sukar untuk diperoleh. Ini harus
meliputi suatu pernyataan faktual tentang nilai-nilai yang lazim terdapat bila itu
menjadi bagian dari situasi dan relevan bagi pilihan kemudian. Ada banyak teknik
yang bisa membantu administrator dalam melakukan kegiatan ini seperti analisis
pasaran, survey opini, testing produk dilapangan dan lain-lain.

3. Pengembangan Alternatif-Alternatif
Pada lngkah ini administrator diminta kesanggupan untuk mengetahui
cukup banyak alternatif yang mungkin dapat digunakan. Ia bisa menimba dari
pengalamannya pribadi dulu atau dari pengetahuannya tentang apa yang telah
dilakukan oleh orang lain dalam keadaan yang serupa.
4. Analisa Alternatif-Alternatif

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 16

Langkah ini terdiri dari kegiatan menilai denga kritis setiap alternatif atas
dasar efektivitasnya yang mungkin dalam pemecahan masalah yang telah
ditetapkan itu.
5. Pilihan Alternatif yang Paling Baik
Akhirnya, setelah alternatif-aternatif dievaluasi satu demi satu dan semua
konsekuensi yang mungkin dipertimbangkan, dipilihlah alternatif yang memberi
harapan yang paling baik.
a. Perencanaan
Perencanaan adalah persiapan yang cerdas bagi perbuatan. Ia juga memberi
arti kepada perbuatan, karena hanyalah jika maksud-maksud dan tujuan-tujuan
dipahami dengan jelas maka alasan-alasan bagi program-program dan kegiatankegiatan menjadi terang. Dua pertanyaan yang sangat pokok yang harus dijawab
oleh perencanaan ialah: Apa yang akan dicapai? Bagaimana mencapainya?.
Menurut Anderson dan bowman dalam (Oteng Sutisna,1983:162) perencanaan
adalah proses mempersiapkan seperangkat putusan bagi perbuatan dimasa datang.
Definisi ini menyarankah bahwa perencanaan itu membawa kepada dan meliputi
pembuatan keputusan.
Menurut Hadari Nawawi (1989:17-18) dalam penyusunan rencana
pendidikan dimulai dengan kegiatan orientasi untuk memperoleh data yang cukup
dan tepat. Kegiatan orientasi atau pengenalan antara lain sebagai berikut:
1. Orientasi terhadap masalah, fungsi dan tujuan lembaga/ kelompok yang
memerlukan perencanaan kegiatan.
2. Orientasi terhadap personal yang akan melaksanakan perencanaan itu, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif.
3. Orientasi terhadap bahan/peralatan termasuk keuangan .
4. Orientasi terhadap kemungkinan-kemungkinan dilingkungan seitar yang
langsung ataupun tidak langsung akan dikenai kegiatan operasional.
Data tersebut harus dianalisa dan hasil analisa daa itu disusun menjadi
perencanaan, yang dalam bidang pendidikan pada dasarnya meliputi beberapa
aspek sebagai berikut:

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 17

1. Perumusan tujuan yang hendak dicapai.


2. Penentuan bidang/fungsi/unit sebagai

bagian-bagian

yang

akan

meaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.


3. Menetapkan jangka waktu yang akan diperlukan.
4. Menetapkan metode atau cara mencapai tujuan.
5. Menetapkanalat-alat yang dapat dipegunakan untuk meningkatkan efisiensi
pencapaian tujuan.
6. Merumuskn rencana

evaluasi

(penilaian)

untuk

mengukur

tingkat

pencapaian tujuan.
7. Menetapkan jumlah dan sumber dana yang diperlukan.
Proses penyususnn rencana mengenai ketujuh bidang tersebut diatas
melalui dua jenis kegiatan sebagai berikut:
1. Kegiatan persiapan
Mengumpulkan dan mengolah informasi atau data yang telah terkumpul
melalui kegiatan orientasi berupa hasil pencatatan, penelitian dan
pengembangan data.
2. Kegiatan perumusan keputusan(decision)
Meruuskan hasil pemikiran secar tertulis sebagai keputusan mengenai
ketujuh aspek tersebut.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian ialah kegiatan menyusun struktur dan membentuk
hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha memcapai yujuan
bersama. Dimana pengorganisasian adalah hubungan antara orang-orang yang
ditetapkan agar dalam usaha mencapai tujuan-tujuan itu diperoleh penyesuaian
tindak dan langkah. Apabila kegiatan menyususn dan mengatur itu selesai, maka
hasilnya kita sebut organisasi, yakni mekanisme yang mempersatukan kegiatankegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan (Oteng Sutisna,1983:174).
Menurut Hadari Nawawi (1989:31-35) Untuk mewujudakan organisasi yang baik
dan

efektif

bagi

pencapaian

tujuan

perlu

penerapan

beberapa

asas

pengorgaisasian. Asas-asas organisasi dimaksud adalah:


1.
2.
3.
4.

Orgaisasi harus fungsional


Pengelompokan saatuan kerja harus menggambarkan pembagian kerja
Organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
Organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 18

5. Organisasi harus mengandung kesatuan perintah


6. Organisasi harus fleksibel dan seimbang
c. Komunikasi
Komunikasi ialah proses interaksi antara orang-orang atau kelompokkelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang
dan kelompok-kelompok didalam suatu organisasi (Oteng Sutisna,1983:190).
Komunikasi dalam administrasi berarti proses penyampaian informasi, idea,
pendapat dan saran-saran guna melancarkan kerjasama sekelompok orang untuk
mencapai tujuan tertentu (Hadari Nawawi,1989:46-47). Komunikasi yang efektif
mengintegrasikan tiga kriteria, yaitu memiliki kualitas yang mengarah pada
persepsi positif, pencapaian tujuan organisasi dan personal, serta dipertimbangkan
pula keefektifannya dari tinjauan jangka pendek maupun jangka panjang
(Sutaryadi,1993:110). Komunikasi pada dasarnya memiliki lima elemen pokok
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Communicator atau orang yang memberikann informasi


Channel atau saluran dalam menyampaikan informasi
Massage atau bahan informasi yang disampaikan
Communicate atau si penerima informasi yang disampaikan
Respons atau kegiatan yang timbul sebgai reaksi terhadap informasi yang
diterima

d. Koordinasi
Koordinasi ialah proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orangorang, bahan, dan sumber-sumber lain ke arah tercapainya maksud-maksud yang
telah ditetapkan. Dengan kata lain, mencapai koordinasi adalah salah satu fungsi
pokok setiap administrator. Akan tetapi koordinasi hendaknya tidak dipandang
sebagai suatu kegiatan yang terpisah dan berdiri sendiri, karena ia hanya sebagian
saja dari seluruh aspek administrasi. Perencanaan, organisasi, komunikasi,
pengawasan dan penilaian, semuanya hendakya membantu kepada koordinasi
(Oteng Sutisna,1983:199-200).
e. Pengawasan

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 19

Mengawasi ialah proses dengan mana administrasi melihat apakah apa


yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Jika tidak maka
penyesuaian yang perlu dibuatnya. Jadi, pengawasan ialah fungsi administratif
dalam mana setiap administrator emastikan bahwa apa yang dikerjakan sesuai
dengan apa yang dikehendaki. Ia meliputi pemeriksaan apakah swmua berjalan
sesuai dengan rencana yang dibuat, intruksi-intruksi yang dikeluarkan, dan
prinsip-prinsip yang ditetapkan. Ia dimaksudkan untuk menunjukkan kelemahankelemahan dan kesalhan-kesalhan, kemudian membetulkan nya dan mencegah
perulangannya (Oteng Sutisna,1983:203).
f. Evaluasi
Evaluasi atau penilaian adalah unsur lain yang sangat penting dari
keseluruhan proses admnistrasi. Ia pada umumnya ditujukan untuk meningkstkan
efektivitas dan efeisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya. Ia alah proses
yang menentukan betapa baik organisasi program-progran atau kegiatan-kegiatan
sedang

mencapai

maksud-maksud

yang

telah

ditetapkan.Jadi,

denagn

menggunakan proses penilaian itu efetivitas seluruh organiasi dan tiap-tiap


bagiannya bisa ditentukan8.
Kegiatan kontrol yang dapat dievaluasi dalam kegiatan administratif
manajemen akan sangat bermanfaat untuk:
1. Memperoleh data yang setelah diolah dapat dijadikan dasar bagi usaha
perbaikan kegiatan dimasa yang akan datang,.
2. Memperoleh cara bekerja yang paling efisien dan efektif atau yang paling
tepat dan paling berhasil sebagai cara yang terbaik untuk mencapai tujuan.
3. Memperoleh data tentang hambatan-hambatan dan kesukaran-kesukaran
yang dihadapi agar dapat dikurangi atau dihindari.
4. Memperoleh data yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan usaha
pengembangan organisasi dan personal dalam berbagai bidang.
5. Mengetahui berapa jauh tujuan telah tercapai9

8Prof. Dr. Oteng Sutina, M.Sc. Ed. Administrasi Pendidikan Dasar


Teoritis Untuk Praktek Profesional. (Bandung:Angkasa,1983) hal 212

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 20

2.4. Beberapa Pendekatan Dalam Pengelolaan Pendidikan


2.4.1. Pendekatan Organisasi Klasik
Pendekatan organisasi klasik ini sering disebut juga dengan gerakan
manajemen ilmiah yang dipelopori oleh Frederick Taylor seorang yang memiliki
latar belakang dan pengalaman sebagai buruh, juru ketik, mekanik dan akhirnya
berpengalaman sebagai kepala tekhnik yang hidup antara tahun 1856-1915.
Taylor ialah orang pertama yang mengembangkan manajemen ilmiah. Ia
seorang ahli teknik mesin yang memulai pekerjaannya di pabrik baja Midvale
Steel Company Philadelphia (USA) sebagai pekerja biasa selama enam tahun.
Setelah enam tahun bekerja diangkat menjadi Chief Enggineer.
Dasar teorinya yang sering disebut teori klasik bersifat tekhnologis.
Menurut Taylor, cara yang paling baik untuk menambah produksi ialah dengan
memperbaiki tekhnik atau metode produksi. Ia menyarankan supaya managemen
dibuat suatu ilmu didasari asas-asas tetap yang dirumuskan dengan tegas dan
jelas. Dengan memaksimumkan efesinsi produktif dari setiap pekerja, managemen
ilmiah akan juga memaksimumkan penghasilan para pekerja.
Sehubungan dengan pikiran-pikiran yang mendasari teorinya itu taylor
ditafsirkan sebagai memandang pekerja selaku alat atau mesin yang harus
dimanipulasikan oleh pemimpinnya. Atas dasar asumsi ini para ahli teori dari
aliran managemen ilmiah berpendapat bahwa suatu organisasi harus dirancang
9dan dijalankan serasional mungkin untuk terciptanya efisiensi yang lebih besar
dalam managemen dan peningkatan dalam produksi. Managemen harus
dipisahkan dari urusan manusia dan perasaan. Konsekuensinya ialah bahwa orang
atau pekerja harus dibuat cocok dengan managemen dan bukan managemen
dengan orang-orang.Untuk melaksanakan rancangan ini taylor melakukan studi
tentang gerak dan waktu untuk menganalisis tugas-tugas pekerjaan untuk
perbaikan prestasi organisasi pada setiap aspeknya10
Ia berpendapat bahwa efesiensi perusahaan rendah karna banyak waktu dan
gerak-gerak buruh yang tidak produktif. Hasil penelitiannya disajikan di depan
kogres sarjana teknik amerika, kemudian ditulis dalam bukunya yang berjudul,
9 Dr. Hadari Nawawi. Administrasi Pendidikan. (Jakarta: PT Pertja,1989)
hal 44-45
10 Prof. Dr. Oteng Sutina, M.Sc. Ed. Administrasi Pendidikan Dasar
Teoritis Untuk Praktek Profesional. (Bandung:Angkasa,1983) hal 261

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 21

The Principles of scientific Management. Begitu pentingnya buku tersebut bagi


para buru dan manajer maka pada tahun 1911 diterbitkan oleh sebuah penerbit.
Semenjak itu, taylor terkenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah (the father of
scientific managemen).
Taylors scientific management can be summarized as consisting of four
principles:
1. Scientific job analysis through observation, data gathering, and careful
measurement, management determines the one best way of performing
each job. Such job analysis would replace the old rule-of-thumb method of
doing things.
2. Selection of personnel once the job was analyzed, the next step was to
scientifically select and then train, teach, and develop workers. In the past,
workers chose their own work and trained themselves.
3. Management cooperation taylor suggestedthat managers should cooperate
with workers, to ensure that all work being done was in accordance with the
principles of the science that had been developed.
4. Functional supervising taylor recognized a division of work between
managers and workers. Managers assumed planning, organizing and
decision-making activities, whereas workers performed their jobs. In the
past, almost all work and the greather part of the responsibility were thrust
on workers11.
Tokoh pendahuluan

manajemen ilmiah ialah Watt dan Boulton (1800).

Mereka memberikan kontribusi pemikirannya bagi manajemen ilmiah berupa


penerapan pendekatan ilmiah, mengembangkan penelitian pasar, prakiraan,
perencanaan produksi, tata arus kerja, standarisasi komponen produk, dan sistem
pengendalian12.
Teori manajemen ilmiah memfokuskan kajiannya pada pentingnya
keberadaan manajer dan perannya dalam suatu organisasi. Menurut teori ini,

11Fred C. Lunenburg and Allan C. Ornstein. Educational Administration


Concept and practices(USA:WADSWORTH PUBLISHING COMPANY,1996)
hal 5
12Husaini Usman. Manajemen Teori Praktik & Riset Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara,
2008) hal 22

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 22

penciptaan iklim yang kondusif bergantung pada sumber daya manusia yang
menggerakkan organisasi.
Teori organisasi klasik atau teori tradisional menggambarkan organisasi
yang tersentralisasi dan tugas-tugasnya pun tersepasialisasi. Dengan kata lain,
setiap pekerja memikul tanggung jawab penuh sesuai dengan spesialisasinya dan
memngikuti sistem kerja yang professional. Adapun teori pelaku organisasi
memfokuskan pengaruh individu kelompok, dan struktur terhadap perilaku dalam
organisasi13.
Fungsi pemimpin dibawah managemen ilmiah ialah jelas untuk menyusun
dan menguatkan kriteria perbuatan untuk memenuhi tujuan-tujuan organisasi.
Perhatian pemimpin dipusatkan pada kebutuhan-kebutuhan organisasi dan tidak
pada kebutuhan-kebutuhan individu. Singkatnya, dalam periode ini praktek
managemen mengalami kemajuan besar dengan penerapan studi empiris untuk
menetapkan metode produksi yang lebih cepat dan lebih baik dan dengan bentuk
organisasi serta managemen yang lebih efisien. Tapi pendektan managemen
ilmiah ini cenderung untuk berat sebelah. Tekanan diberikan kepada perubahan
dalam metode dan desain organisasi untuk maksud peningkatan produksi sematamata dengan kurang memperhatikan pengaruhnya kepada kesejahteraan pekerja.
Para pekerja diasumsikan sedikit banyak sebagai unit-unit produksi baku dalam
mesin organisasi yang bisa diganti. Mereka diasumsikan seolah-olah hidup dalam
bekerja tanpa emosi dan hanya memikirkan keuntungan finansial semata-mata.
Pada akhir periode ini, kira-kira tahun 1930, saatnya telah matang suatu tekanan
pada faktor manusia dalam managemen14.
Classical organizational theories and their derived principles have many
critics. An emphasis on efficiency characterized the classical approach to
management. To these theorists, an efficiently designed job and organization were
of prime importance. Psychological and social factor in the workplace were
ignored. The critics claim that when managers ignore the social and psychological
needs of workers, organizations do not provide adequate motivation to their
13Saefullah. Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia,2002), hal. 5
14 Prof. Dr. Oteng Sutina, M.Sc. Ed. Administrasi Pendidikan Dasar
Teoritis Untuk Praktek Profesional. (Bandung:Angkasa,1987) hal 261

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 23

employees. The classicist assumed that financial incentives would ensure worker
motivation. In short the focus of classical organizational theory was on the
task,with littlw attention given to individual or group in the workplace. This flaw
was primarly responsible for emergence of the second approach to managemet
thouht: the human relation approach15.
Teori klasik berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya
rasional, berfikir logic, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Oleh karna
itu teori klasik berangkat dari premis bahwa organisasi bekerja dalam proses yang
logis

dan rasional dengan pendekata ilmiah dan berlangsung menurut

stuktur/anatomi organisasi.
Kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar sebagai berikut:
1 Teori klasik adalah teori yang terikat waktu. Teori ini cocok diterapkan pada
permulaan abad dua puluhan, karna motif pekerja waktu itu terutama
2

memenuhi kebutuhan fisiologis.


Teori klasik mempunyai cirri-ciri deterministic. Teori sangat menekankan
pada prinsip-prinsip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai
dimensi dalam manajemen seperti motivasi pengambilan keputusan, dan

hubungan informal.
Teori ini merumuskan asumsinya secara sksplisit. Malahan banyak asumsi
yang lemah dan tidak lengkap secara implicit terdapat dalam teori klasik itu,
antara lain: efisien hanya diukur oleh tingkat produktivitas yang hanya
menyangkut penggunaan sumber secara ekonomis tanpa memperhitungkan

faktor manusiawi.16
2.4.2. Teori Hubungan Manusia
The human relations approach is considered to have started with a series of
studies conducted at the hawthorne Plant of Western Electric near Chicago by

15 Fred C. Lunenburg and Allan C. Ornstein. Educational Administration


Concept and practices(USA:1996;WADSWORTH PUBLISHING COMPANY)
hal 5-6
16 Nanang Fattah. Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya), hal 22

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 24

Elton Mayo and his associates between 1927 and 1933. These studies, widely
known as the hawthorne studies, have strongly influenced administrative theory.17
Teori ini timbul sebagian karena pada para manajer terdapat berbagai
kelemahan dengan pendekatan klasik. Pada kenyataannya manajer ada kesulitan
dan menjadi frustasi karena orang tidak selalu mengikuti pola tingkah laku yang
rasional. Disini perlu upaya untuk membantu para manajer dalam menghadapi
manusia, agar organisasi lebih efektif. Beberapa ahli berusaha memperkuat teori
klasik dengan wawasan sosiologis dan psikologis. Dengan adanya peralihan yang
lebih berorientasi pada manusia dikenal dengan pendekatan perilaku sebagai ciri
utama teori Neo-Klasik (hubungan manusia).
Teori ini berasumsi bahwa manusia itu makhluk sosial dengan
mengaktualisasikan dirinya. Beberapa pelopor aliran neo-klasik ini antara lain:
Elton Mayo dengan studi hubungan antar-manusia, atau tingkah laku manusia
dalam situasi kerja terkenal dengan studi Hawthorne. Berdasarkan hasil studi ini
ternyata kelompok kerja informal lingkungan sosial pekerja mempunyai pengaruh
yang besar terhadap produktivitas18.
Sumbangan kepada teori managemen yang paling penting barangkali dibuat
dalam periode 1930-1950 oleh aliran hubungan manusia yang diprakarsai oleh
Elton Mayo dan kawan-kawannya. Para ahli teori ini mengemukakan bahwa
sebagai tambahan kepada menemukan metode-metode tekhnologis yang paling
baik untuk meningkatkan produksi, akan lebih bermanfaat bagi managemen bila
memperhatikan persoalan-persoalan manusia. Menurut mereka, pusat-pusat
kekuatan yang sesungguhnya didalam suatu organisasi ialah hubungan-hubungan
antar pribadi yang berkembang didalam unit-unit bekerja. Studi tentang
hubungan-hubungan ini merupakan pertimbangan yang paling penting bagi
managemen dan analisis organisasi. Organisasi hendaknya dibangun disekeliling
para pekerja dan harus memperhitungkan perasaan-perasaan dan sikap-sikap dari
pekerjaan.
17 Fred C. Lunenburg and Allan C. Ornstein. Educational Administration
Concept and practices(USA:1996;WADSWORTH PUBLISHING COMPANY)
hal 8
18Ibid,hal 26.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 25

Seperti diungkapkan oleh eksperimen-eksperimen hwawthonr, suatu


organisasi adalah lebih dari suatu struktur formal atau susunan fungsi-fungsi; ia
adalah suatu sistem sosial. Menurut Mayo managemen efektif melibati orangorang, bukan manipulasi robot-robot. Karenanya, produktifitas yang lebih tinggi
tidak harus dicapai dengan sekedar insentif finansial yang positif atau kondusif
bekerja yang lebih baik. Eksperimen-eksperimen yang hawthorn itu telah
mendemonstrasikan bahwa tidak kemerosotan maupun perbaikan dalam kondisi
fisik bekerja mesti membawa pengaruh berarti kepada produktifitas. Sebabnya
ialah karena tuntunan-tuntunan sosial didalam kelompok mengkibatkan sedikit
banyak persetujuan yang tak diucapkan diantara para pekerja atas standar-standar
perbuatan bekerja.
Taylor memandang pekerja sebagai indiviu yang mengejar keuntungan
finansial dalam isolasi; yang penting untuk dipertimbangkan ialah sikapnya
terhadap pekerjaan, bukan hubungannya dengan teman-teman sekerja. Mayo ,
sebaliknya, dengan tegas mengatakan bahwa pekerjaan bertindak dalam
keseetiakawanan yang kodrati dengan sesama pekerjaaan. Orang tidak harus
responsif terhdap insentif ekonomi semata-mata, tapi juga produk dari perasaanperasaan pribadi dan keterlibatan emosional. Orang sering tak logis dalam
berfikir, dengan satu motif yang sangat kuat: keinginan untuk diterima dan
dihargai oleh kawan-kawan sekerja.
Mayo menasehatkan supaya masalah managemen didekati dari perspektif
pengetahuan apapun tentang sifat manusia yang telah kita miliki. Ia menyarankan
penggunaan semua disiplin ilmu sosial untuk dipusatkan kepada pemahaman dan
pemencahan konfik-konflik di dalam sistem industri. Pendekatan hubungan
manusia yang berhasil, menurut mayo, pada gilirannya akan menciptakan
keselarasan organisasi, kepuasan yang lebih besara dari pegawai, dan efisiensi
pelaksanaan yang lebih tinggi.
Fungsi pemimpin dibawah hubungan manusia ialah untuk memperlancar
pencapaia tujuan secara kooperatif di antara para pengikut sambil menyediakan
kesempatan-kesempatan bagi pertumbuhan dan berkembang pribadi mereka.
Pusat perhatian yang pokok berlawanan dengan teori managemen ilmiah ialah
kepada kebutuhan-kebutuhan individu dan tidak kepada kebutuhan organisasi.

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 26

Jadi, pada hakikatnya pendekatan managemen ilmiah menekan kan


perhatian terhadap tugas pekerjaan ( hasil; produksi); sedangkan pendekatan
hubungan manusia menekankan perhatian kepada hubungan-hubungan ( orangorang)19.
Menurut musaazih (1988) menyatakan bahwa pendekatan hubungan
manusiawi dalam manajemen pendidikan menekankan pada Hal hal sebagai
berikut :
1. Paraf administrator bekerja dengan dan melalui orang-orang agar
melakukan tujuan tujuan organisasi dan sensitifitas terhadap faktor
manusia adalah langkah pertama yang penting dalam kerja langkah ini di
perlukan untuk memberikan motivasi kepada para guru dan staf lain di
sekolah
2. Organisasi formal dan informal yang ada di sekolah berdiri di sekolah saling
berdampingan sebagai sebuah yang integral, tidak dapat di pisahkan dan
saling melengkapi. Struktur sosial informal kenyataannya mempengaruhi
performasi guru dalam hal norma, nilai dan sentimen sentimen lainnya.
3. Administrasi adalah tanggung jawab yang di bagi dengan demikian struktur
organisasi semestinya memberikan peluang untuk saling memberikan
gagasan untuk meminimalkan kekakuan struktur hirarki
4. Imbalan (gaji) bukan satu-satunya pendorong motivasi yang signifikan.
Sanksi sosial yang bukan berupa ekonomi membatasi keefektifan insentif
ekonomi. Sebagai contoh, guru yang di tunjuk sebagai kepala bagian akan
rela untuk meluangkan waktu dan energinya untuk mengembangkan bagia
tersebut walaupun posisinya tersebut tidak di sertai dengan imbala ekonomi
yang memadai.
5. Taraf pekerja menggunakan organisasi informal untuk melindungi dari
keputusan yang semenang menang dari pimpnan.
6. Para pemimpin informal sama penting nya dengan para pengawas formal
7. Individu-individu adalah manusia yang aktif bukan tenaga gerak mesin yang
pasif.

19 Prof. DR. Oteng Sutisna, M.Sc. Ed. Administrasi Pendidikan Dasar


Teoritis untuk Praktek Profesional (Bandung:Angkasa ,1987) hal 262263

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 27

8. Suatu jangka pengawasan yang sempit bukan suatu syarat bagi pengawasan
yang efektif
Pendekatan manusiawi menekankan pentingnya motivasi dan kepuasan
kerja manusia. Manusia akan bekerja secara produktif apabila ia memiliki
motivasi dan merasa puas dalam melaksanakan pekerjaannya. Struktur organisasi
yang menggambarkan tugas dan wewenang pekerjaan seseorang dan mendapatkan
perhatian karena akan melahirkan tanggung jawab dalam pekerjaan. Tanggung
jawab ini di dorong oleh motivasi untuk bekerja secara produktif sehingga
memperoleh kepuasan kerja
4.3. Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku dipelopori oleh Chester I. Barnard (1886-1961) yang
menulis buku: Function of the Executive (1938). Dalam bukunya ia menulis
tentang teori perlaku yang kooperatif dalam organisasi formal. Ia berpendapat
bahwa kontribusi kerjanya berkaitan dengan konsep struktur yang dinamis.
Konsep struktur yang dianggap dinamis adalah individu, sistem kerja sama,
organisasi formal, organisasi formal yang kompleks dan juga organisasi informal.
Konsep-konsep dinamis yang penting adalah kerelaan, kerjasama komunikasi
otoritas, proses keputusan, dan keseimbangan dinamik.
Dalam perkembangan selanjutnya pendekatan perilaku ini dipelopori oleh
Herbert Simon (1947) ia menulis buku berjudul:Administrative Behaviour yang
mengemukakan pentingnya keseimbangan dalam organisasi. Dalam sebuah
organisasi manusia memiliki motivasi untuk berprestasi dan bekerja secara baik.
Hasil pekerjaan akan dihargai dengan imbalan yang memadai sehingga tumbuh
perilaku yang positif dalam membangun dan memajukan organisasi. Motivasi dan
imbalan kerja memberikan pengaruh yang signifikan dalam perwujudan perilaku
anggota organisasi. Perilaku orang dalam organisasi dalam pandangan simon
mendapat perhatian yang sungguh-sungguh20.

20 Tim Pegembang Ilmu pendidikan FIP-UPI,ilmu &aplikasi pendidikan bagian


1 (Bandung:PT. Impherial Bhakti Utama, 2007) hal 153-154

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 28

Suatu perluasan dari pendekatan hubungan dengan manusia ialah


pendekatan

ilmu

perilaku

(behavioral-science).

Dengan

menggunakan

eksperimentasi yang terkontrol pada ahli perilaku mengambil pandangan yang


lebih luas tentang perilaku manusia dalam organisasi dengan menggunakan
disiplin-disiplin seperti psikologi, sosial, psikiatri dan antropologi dalam
penelitian mereka itu.
Para penelitian mengarahkan studi mereka kepada perilaku pemimpinpemimpin. Jika tidak ada satu sifat tertentu atau situasi tertentu bisa
mengidentifikasikan pemimpin-pemimpin atau meramalkan eektifitas mereka,
apakah barangkali ada suatu gaya kepemimpinann tertentu yang membuat
kelompok-kelompok oraganisasi efektif?.
Dengan istilah gaya (style) dimaksudkan suatu cara berfikir laku yang
khas dari seorang pemimpin terhadap para anggota kelompoknya. Jadi, apa yang
dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, kapan ia mengerjakannya dan caranya ia
bertindak

membentuk

gaya

kepemimpinannya.

Cara

administrator

atau

managemen pemimpin, jelas, penting bagi para karyawan dan bagi organisasi
secara keseluruhan. Bagaimana administrator atau managemen berbuat terhadap
bawahannya memperngaruhi kepuasan para bawahan dan sudah tentu prestasi
mereka.
Jelas, pemimpin-pemimpin memperlihatkan gaya yang berbeda-beda.
Karenanya ada kecondongan di kalangan para ahli dibidang ini untuk menyususn
berbagai stereotip atau klise pemimpin. Akan tetapi hendaknya diingat untuk tidak
melakukan kesalahan umum dengan menciptakan suatu stereotip administratif dan
berbuat seolah-oah ia benar-benar ada. Ada deretan panjang tentang gaya-gaya
kepemimpinan itu, dan adalah sangat mungkin bahwa seorang administrator
managemen memakai kombinasi beberapa gaya jika saat dan situasi berbeda.
Lagipula tidak ada yang sederhana tentang kepemimpinan itu, dan
pemahaman tentang perilaku pemimpin tidak terkecuali. Seorang administrator
melakukan banyak hal. Beberapa-beberapa diantaranya terutama melibat fungsi
kepemimpinan, yaitu membimbing para bawahan. Ia bisa juga memiliki fungsi-

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 29

fungsi tidak membimbing , dan ia ini bila sering tidak kurang penting sejauh yang
mengenai perbuatan organisional. Tapi disini perhatikan kita yang pokok ialah
mengenai perilaku kepemimpinan21.

21Prof. DR. Oteng Sutisna, M.Sc. Ed. Administrasi Pendidikan Dasar


Teoritis untuk Praktek Profesional (Bandung:Angkasa ,1987) hal 263264

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 30

BAB III
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Filsafat; berasal dari kata philos berati suka, gemar atau cinta dan
shopia berarti kebijaksanaan atau bijaksana. Berfilsafat berarti, berusaha
mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya baik mengenai hakikat,
fungsi, ciri, kegunaan, masalah dan solusi dari masalah itu sendiri.
administrasi pendidikan adalah suatu ilmu tentang penyelenggaraan
pendidikan disekolah, agar tercapai tujuan pendidikan di sekolah itu atau dapt
juga diartikan administrasi pendidikan ialah pembinaan pengawasan dan
pelaksanaan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan urusan
sekolah
Fungsi dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pengambilan Keputusan
Perencanaan
Pengorganisasian
Komunikasi
Koordinasi
Pengawasan
Evaluasi

Ada beberapa pendekatan dalam pengelolaan pendidikan yaitu:


a. Pendekatan organisasi klasik
b. Pendekatan hubungan manusia
c. Pendekatan perilaku

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 31

Daftar Pustaka
Daryanto, m. 2001.administrasi pendidikan.Jakarta:rineka cipta
Fattah, Nanang.1999.Landasan Manajemen

Pendidikan.Bandung: PT Remaja

Rosdakarya
Lunenburg, c. Fred and Allan C. Ornstein.1996. Educational Administration
Concept and practices.USA:WADSWORTH PUBLISHING COMPANY
Nawawi, Hadari.1987.administrasi pendidikan .Jakarta: cv haji masagung
Saefullah.2002.Manajemen Pendidikan Islam.Bandung:CV Pustaka Setia
Sutisna, Oteng. 1983.Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek
Profesional. Bandung:Angkasa
Tim

Dosen

Administrasi

Pendidikan

Universitas

Pendidikan

Indonesia.2013.manajemen Pendidikan Bandung:ALFABETA, 2013


Tim Pengembang ilmu Pendidikan.2007.Ilmu dan Aplikasi Pendidikan bagian 2
ilmu pendidikan praktis .Bandung:PT. Imperial Bhakti Utama
Usman,

Husaini.2008.

Manajemen

Teori

Praktik

&

Riset

Pendidikan.

Jakarta:Bumi Aksara

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN| 32