Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

HUJAN ASAM
(MATA KULIAH : ANALISIS KOROSI DAN PENCEGAHANNYA)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Makalah Pada Setiap Kelompok Pada Mata Kuliah
Analisis Korosi Dan Pencegahannya

NAMA KELOMPOK :
ARIF ROHMAN HAKIM
(14.11.053)
HERDHIKA GIOVANI ANGGASTA (14.11.101)

TEKNIK MESIN S-1


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

DAFTAR ISI

Daftar Isi

Kata Pengantar

ii

Definisi Istilah

iii

Bab I PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan

1.2 Tujuan

Bab II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hujan Asam

2.2 Macam-macam Hujan Asam

2.3 Penyebab Terjadinya Hujan Asam

2.4 Proses Terjadinya Hujan Asam

2.5 Dampak Hujan Asam Terhadap Kehidupan Manusia dan


Lingkungan

2.6 Upaya Untuk Mengurangi dan Mencegah Dampak Dari Hujan


Asam

Bab III PENUTUP

10

3.1 Kesimpulan

10

3.2 Saran

10

Daftar Pustaka

11

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga makalah yang berjudul Hujan Asam ini
dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun berdasarkan berbagai sumber yang relevan dengan materi yang
disajikan dalam makalah ini. Adapun materi yang dipaparkan adalah mengenai apa yang
dimaksud dengan hujan asam, apa penyebab terjadinya hujan asam, bagaimana dampak hujan
asam terhadap manusia dan lingkungan, dan bagaimana upaya yang dapat ditempuh untuk
mencegah terjadinya hujan asam.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat konstruktif sangat penyusun harapkan
guna kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata penyusun ucapkan terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi
penyusun maupun bagi pembaca semua.

Malang, April 2016

Penyusun

ii

DEFINISI ISTILAH

Amoniak

: Senyawa kimia dengan rumus NH3, biasanya didapati berupa


gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia) .
merupakan senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan.

Asam Nitrat

: (HNO3)adalah sejenis cairan korosif yang tak berwarna, dan


merupakan asam beracun yang dapat menyebabkan luka bakar.
Jika kandungan asam lebih dari 86% disebut asam nitrat
berasap.

Asam Sulfat

: (H2SO4) merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat


ini larut dalam air dalam semua perbandingan.

Atmosfer

: lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi


dan permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa

Bahan Bakar Alternnatif

: bahan bakar yang dapat digunakan sebagai penggantibahan


bakar konvensional yang terutama brsumber dari bahan bakar
fosil.

Beroksidasi

: adalah interaksi antara molekul oksigen dan semua zat yang


berbeda-beda . merupakan pelepasan elektron oleh sebuah
molekul , atom atau ion.

Deposisi asam

: kata yang lebih tepat dari pada hujan asam untuk


menggambarkann jatuhnya asam yang ada di atmosfer baik
dalam bentuk gas maupun cairan ke tanah, sungai, hutan dan
tempat-tempat lainnya melalui tetes air hujan, kabut, embun,
salju, butiran butiran (aerosol) ataupun jatuh bersama angin.

Deposisi basah

: Partikel-partikel pencemar yang ada di udara ikut luruh


bersamaan dengan turunnya air hujan, dan bersifat merusak
pada ambang tertentu jika mengenai benda-benda di alam.

Deposisi kering

: Biasanya terjadi pada daerah yang dekat dengan sumber


pencemaran, dimana partikel-partikel pencemar tersebut
melekat pada benda-benda disekitarnya (daerah perkotaan yang
lalulintasnya padat atau daerah yang dekat dengan daerah
industri)

iii

Difusi

: peristiwa mengalirnya /berpindahnya suatu zat dalam pelarut


dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi
rendah.

Efek rumah kaca

: Proses pemanasan dari permukaan suatu benda langit atau


diangkasa yang disebabkan oleh komposisi serta keadaan
atmosfernya

Emisi metan

: Merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas


20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Emisi
metan dilepaskan selama produksi dan transportasi batu bara,
gas alam, dan minyak bumi. Emisi metan juga dihasilkan dari
pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah,
bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama
sapi, sebagai produk samping dari pencernaan.

Fle Gas Desulfurization

: Adalah satu teknologi yang digunakan untuk menghilangkan


sulfur dioksida (SO
2) dari gas buang knalpot pembangkit listrik bahan bakar fosil ,
dan dari emisi memancarkan proses oksida sulfur lainnya.

Hidrologi

: suatu ilmu yang mempelajari air di bumi, kejadian, sirkulasi


dan distribusi sifat-sifat kimia dan fisika dan reaksinya dengan
lingkungan termasuk hubungannya dengan makluk hidup.

Hujan asam

: segala macam hujan dengan pH kurang dari 5,0

Karbon dioksida

: (CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang
terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen
dengan sebuah atom karbon berbentuk gas.

Lapisan Lilin Pada Daun

: Lapisan lilin berfungsi untuk melindungi daun dari penguapan


yang berlebihan dan gangguan serangga

Lime Injection in Multiple


Burners (LIMB)

: teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan Nox pada saat


pembakaran. Emisi SO2 dapat dikurangi sampai 80% dan NOx
50%. Caranya dengan menginjeksikan kapur dalam dapur
pembakaran dan suhu pembakaran diturunkan dengan alat
pembakar khusus. Kapur akan bereaksi dengan belerang dan
membentuk gipsum (kalsium sulfat dihidrat). Penurunan suhu

iv

mengakibatkan penurunan pembentukan Nox baik dari nitrogen


yang ada dalam bahan bakar maupun dari nitrogen udara.
Materi asam

: senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan


menghasilkann larutan yang pH lebih kecil dari 7. Definisi
modern, materi asam adalah suatu zat yang dapat memberi
proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa) atau dapat
menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa.

Nitrogen oxide

: (NOx) sebuah sebutan umum untuk mono-nitrogen oksida NO


dan NO2 (nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida) . gas ini
dihasilkan oleh reaksi antara nitrogen dengan oksigen di udara
saat pembakaran terutama pada suhu tinggi.

Pemanasan global

: suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan


daratan bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah
meningkat 0.74 0.18 C (1.33 0.32 F) selama seratus tahun
terakhir. Yang menyebabkan bumi kita diami iini serasa lebih
panas dan saat sing hari kita akan merasakan panas yang
berlebihan .

pH Meter

: sebuah alat elektronik yang berfungsi untuk mengukur pH


(derajat keasaman dan kebasaan) suatu cairan (ada elektroda
khusus yang berfungsi untuk mengukur pH bahan-bahan semi
padat)

Photokimia

: Fotokimia adalah ilmu yang mempelajari reaksi-reaksi kimia


yang diinduksi oleh sinar secara langsung maupun tidak
langsung.

Polusi

: masuknya atau dimasukkannnya makhluk hidup , zat energi,


dan atau komponen lain ke dalam lingkungan , atau berubahnya
tatanan lingkungan oleh manusia atau oleh proses alam
sehingga kualitas lingkungan menurun sampaii ke tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Polutan

: semua bahan yang dapat menjadi penyebab pencemar.

Prekursor

: zat atau bahan pemula, atau zat kimia tertentu yang dapat
digunakan sebagai bahan baku atau penolong untuk keperluan
proses produksi industri dan apabila di simpangkan dapat
v

digunakan dalam memproses pembuatan narkotika dan atau


psikotropika. Senyawa yng mnedahului senyawa lain dalam
proses metabolisme.
Reaksi katalitis

: Katalis menurunkan energi aktivasi reaksi dan meningkatkan


laju reaksi, melalui peningkatan konstanta laju. Oleh karena itu,
katalis sangat penting dalam industri kimia, penanganan gas
buang dan reaksi kimia lain.

Scrubbers

: alat pemisahan suatu partikel solid (debu) yang ada di gas atau
udara dengan menggunakan cairan sebagai alat bantu. Air
adalah cairan yang pada umumnya digunakan dalam proses
scrubbing, meskipun dapat juga digunakan cairan lainnya
(seperti : asam sulfat, dll).

Sulfur dioksida

: (SO2) merupakan gas yang tidak berwarna, berbau tajam,


merupapak senyawa kimia dengan rumus SO2 tersusun dari 1
atom sulfur dan dua atom ogsige yang dihasilkan terutama dari
letusan gunung berapi dan beberapa proses industri(pembakaran
minyak).

Urea

: senyawa organik yang tersusun dari unsur karbon, hidrogen,


oksigen,, dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO

vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahun dan teknologi (IPTEK), semakin

tinggi pula aktivitas kegiatan ekonomi manusia, di antaranya dengan semakin pesatnya
perkembangan sektor industri dan sistem transportasi. Sebagai konsekuensi logis, maka
semakin dampaknya akan meningkatkan pula zat-zat polutan yang dikeluarkan kegiatan
industri maupun transportasi tersebut. Keberadaan zat-zat polutan di udara ini tentu akan
berpengaruh terhadap proses-proses fisik dan kimia yang terjadi di udara. Beberapa contoh
efek negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi isu-isu global
antara lain efek rumah kaca, pemanasan global, polusi, sampah, dan hujan asam
Istilah hujan asam pertama kali digunakan Robert Angus Smith pada tahun 1972. Ia
menguraikan tentang keadaan di Manchester, sebuah kawasan industri di bagian utara
Inggris. Hujan asam ini pada dasarnya merupakan bagian dari peristiwa terjadinya deposisi
asam. Ia mengatakan bahwa bahan pencemar di udara yang bercampur dengan air hujan
bersenyawa menjadi asam dan menyebabkan kerusakan bangunan dan monumen bersejarah.
Pada dasarnya, air hujan normal memang sudah asam dengan kadar keasaman antara pH 5,66,0. Keasaman ini dihasilkan ketika karbondioksida dan materi asam alami lainnya terurai
dalam uap air yang bercampur di udara.
Masalah itu masih terjadi hingga kini dan kita tahu bahwa banyak gas polutan yang
menyebabkan pencemaran udara. Ini termasuk sulfur dioksida yang umumnya dihasilkan
oleh pembangkit tenaga listrik yang menggunakan batubara, dan nitrogen oksida dari
kendaraan bermotor serta bahan bakar fosil yang digunakan oleh industri. Kedua unsur
tersebut bersenyawa di atmosfer dengan air, oksigen, dan oksidan dari senyawa-senyawa
asam lainnya. Persenyawaan ini membentuk semacam lapisan gabungan antara asam sulfur
dan asam nitrat. Cahaya matahari mempercepat laju reaksi proses itu. Hujan asam
menyebabkan peningkatan kadar asam di tanah, danau-danau, sungai serta menyebabkan
kematian pohon. Selain itu asam juga merusak material gedung, patung-patung dan
peninggalan sejarah.
Mengingat begitu besar dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap
kehidupan manusia dan lingkungan, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai
bagaimana penyebab terjadinya hujan asam, proses terbentuknya hujan asam, dampak hujan

asam bagi lingkungan maupun manusia, beberapa macam hujan asam, serta usaha yang dapat
kita lakukan untuk mengurangi dan mencegah terjadinya hujan asam.

1.2

Tujuan

Tujuan dari pembuatann makalah ini adalahh sebagai berikut:


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hujan asam.
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya hujan asam
3. Untuk mengetahui proses terbentuknya hujan asam.
4. Untuk mengetahui dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap
kehidupan manusia dan lingkungan.
5. Untuk mengetahui upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan mencegah terjadinya
hujan asam.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Hujan Asam


Hujan asam adalah hujan yang bersifat asam daripada hujan biasa (Hunter BT, 2004

dalam Rahardiman, Arya. 2009).Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan
turunnya asam dari atmosfir ke bumi. Sebenarnya turunnya asam dari atmosfir ke bumi bukan
hanya dalam kondisi basah Tetapi juga kering. Sehingga dikenal pula dengan istilah
deposisi ( penurunan / pengendapan ) basah dan deposisi kering . Hujan asam dapat terjadi
ketika ada reaksi antara air, oksigen dan zat-zat asam lainnya di atmosfer. Sinar matahari
akan mempercepat terjadinya reaksi antar zat-zat tersebut.
Deposisi basah mengacu pada hujan asam , kabut dan salju. Ketika hujan asam ini
mengenai tanah, ia dapat berdampak buruk bagi tumbuhan dan hewan , tergantung dari
konsentrasi asamnya, kandungan kimia tanah , buffering capacity ( kemampuan air atau
tanah untuk menahan perubahan pH ), dan jenis tumbuhan/ hewan yang terkena. Deposisi
kering mengacu pada gas dan partikel yang mengandung asam. Sekitar 50% keasaman di
atmosfer jatuh kembali ke bumi melalui deposisi kering. Kemudian angin membawa gas dan
partikel asam tersebut mengenai bangunan, mobil, rumah dan pohon.
Ketika hujan turun ,partikel asam yang menempel di bangunan atau pohon tersebut
akan terbilas, menghasilkan air permukaan yang asam. Angin dapat membawa material asam
pada deposisi kering dan basah melintasi batas kota dan negara sampai ratusan kilometer.
Untuk mengukur keasaman hujan asam digunakan pH meter. Hujan dikatakan hujan asam
jika telah memiliki pH dibawah 5,6. Makin rendah pH air hujan tersebut , makin berat
dampaknya bagi mahluk hidup.
2.2

Macam Macam Hujan Asam


Hujan asam dikenal pertama kali pada tahun 1950, yaitu pada saat hujan asam

tersebut memberikan dampak negative berupa air yang bersifat asam di danau Skandinavia
dan Kanada (Mukono, 2000 dalam Rahardiman, Arya. 2009).Secara mudah hujan asam dapat
diartikan turunnya asam dari atmosfer ke bumi. Hujan disini tidak selalu diartikan dengan
kondisi air atau basah, karena hujan asam dapat terjadi pada kondisi kering dan kondisi basah
yang kemudian dikenal dengan deposisi (penurunan/ pengendapan) asam. Hujan asam
(deposisi asam) ada dua jenis, yaitu deposisi kering dan deposisi basah.
a) Deposisi kering ialah peristiwa terkenanya benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada
dalam udara. Ini dapat terjadi pada daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat
3

kendaraan maupun asap pabrik. Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah
perbukitan yang terkena angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya
deposisi jenis ini terjadi dekat dari sumber pencemaran.
b) Deposisi basah ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di
dalam udara larut di dalam butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air
hujan yang turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui
udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air hujan dan turun ke
bumi. Deposisi jenis ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.
2.3

Penyebab Terjadinya Hujan Asam


Ada berbagai macam penyebab hujan asam bisa terjadi. Beberapa penyebab terjadinya
hujan asam adalah sebagai berikut.

1.Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan
nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar
50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan
gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami. Sedangkan 50% lainnya berasal dari
kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran BBF ( Bahan Bakar Fosil ), peleburan logam
dan pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan
batubara 0,4% sampai 5%.Saat BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi menjadi belerang
dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang itu selanjutnya berubah menjadi asam
sulfat. Oksida nitrogen, atau NOx, dan sulfur dioksida, atau SO2, adalah dua sumber utama
hujan asam. Sulfur dioksida, yang merupakan gas tidak berwarna, dilepaskan sebagai produk
oleh-ketika bahan bakar fosil yang mengandung belerang yang terbakar.Gas ini dihasilkan
karena berbagai proses industri, seperti pengolahan minyak mentah, pabrik utilitas, dan besi
dan pabrik baja. Berarti, alam dan bencana juga dapat mengakibatkan belerang dioksida yang
dilepaskan ke atmosfer, seperti vegetasi membusuk, plankton, semprot laut, dan gunung
berapi, yang semuanya memancarkan sekitar 10% belerang dioksida. Secara keseluruhan,
pembakaran industri bertanggung jawab atas 69,4% emisi sulfur dioksida ke atmosfer, dan
transportasi kendaraan bertanggung jawab atas sekitar 3,7% (Anonim , 2009).
2. Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses
biologis di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas
manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik
pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat
terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan
terdeposit ke tanah (Anonim , 2009).
4

2.4

Proses Terjadinya Hujan Asam


sulfat, asam nitrat yang ada di atmosfer baik sebagai gas maupun cair terdeposisikan

ke tanah, sungai, danau, hutan, lahan pertanian, atau bangunan melalui tetes hujan, kabut,
embun, salju, atau butiran-butiran cairan (aerosol), ataupun jatuh bersama angin.
Asam-asam tersebut berasal dari prekursor hujan asam dari kegiatan manusia
(anthropogenic) seperti emisi pembakaran batu bara dan minyak bumi, serta emisi dari
kendaraan bermotor. Kegiatan alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjadi salah
satu penyebab deposisi asam. Reaksi pembentukan asam di atmosfer dari prekursor hujan
asamnya melalui reaksi katalitis dan photokimia.
Didaerah peternakan dan pertanian akan cocok menghasilkan asam pada tanahnya
mengingat kotoran hewan banyak mengandung NH3 dan tanah pertanian mengandung urea.
Amoniak di tanah semula akan menetralkan asam, namun garam-garam ammonia yang
terbentuk akan teroksidasi menjadi asam nitrat dan asam sulfat. HNO3 sangat asam dan larut
dengan baik sekali. Selain itu juga merupakan asam keras dan reaktif terhadap benda-benda
lain yang menyebabkan korosif. HNO3 sangat asam dan larut dengan baik sekali. Selain itu
juga merupakan asam keras dan reaktif terhadap benda-benda lain yang menyebabkan
korosif. Oleh sebab itu, presipitasinya akan merusak tanaman terutama daun. (Manahan, 1994
dalam Rahmawaty, 2002)
2.5

Dampak Hujan Asam Terhadap Kehidupan Manusia dan Lingkungan


Banyak dampak negatif yang disebebkan oleh hujan asam, baik terhadap manusia

maupun terhadap lingkungan. Berikut akan dijelaskan dampak dari terjadinnya hujan asam :
a) Dampak Hujan Asam bagi Kesehatan Manusia
Pada dasarnya gas sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) bersifat
membahayakan bagi kesehatan manusia. Kedua gas tersebut akan bereaksi di udara
membentuk sulfat dan nitrat yang berupa partikel halus yang dapat masuk terhirup ke saluran
pernapasan manusia, bahkan partikel halus sulfat dan nitrat tersebut dapat masuk ke dalam
ruangan indoor. Menurut berbagai studi yang dilakukan, kedua partikulat halus tersebut dapat
menyebabkan seseorang sakit yang berhubungan dengan kelainan jantung dan paru-paru,
seperti asma dan bronchitis. Sumber zat SO2 dan Nox itu sendiri dapat berasal dari alam dan
dapat juga karena aktifitas manusia. Berikut ini adalah berbagai aktifitas manusia yang turut
andil dalam proses terbentuknya polutan (zat) pencemar pada proses deposisi asam :
1. Pembangkit Listrik dengan Batubara sebagai Pemasok SO2
2. Kendaraan Bermotor Sebagai Pemasok Zat NOx

b) Dampak Hujan Asam bagi Tumbuhan


Hujan asam juga membawa dampak buruk bagi berbagai macam tumbuhan. Air yang
bersifat asam yang jatuh ke tanah dapat melarutkan berbagai macam nutrient dan juga
mineral yang sangat diperlukan oleh tumbuhan. Nutrien dan mineral tersebut akan terbawa
jauh sebelum tumbuhan sempat mengambilnya. Ditambah lagi, air yang sifatnya asam, akibat
dari hujan asam, akan menyebabkan meningkatnya kandungan elemen toksik, seperti
Aluminium, di tanah. Akibat dari dampak tersebut adalah daun-daun akan berubah warna
menjadi coklat hingga akhirnya tumbuhan mati.
Dampak yang lebih parah akan dirasakan oleh tumbuh-tumbuhan yang terdapat di
area pegunungan yang tinggi. Tumbuhan tersebut akan lebih sering terpapar oleh awan atau
kabut yang sifatnya asam, karena terbentuk akibat hujan asam yang terjadi. Paparan tersebut
akan membuat tumbuhan kehilangan nutriennya, sehingga tumbuhan akan lebih rentan
terserang berbagai ancaman lainnya, seperti cuaca. Tanaman kemudian mulai mati, karena
kekurangan air. Adanya pelapukan dalam batang menandakan terjadinya kerusakan sistem
transportasi air pada tanaman. Ulrich dari Universitas Gottingen (Jerman) menyimpulkan
bahwa hujan asam menghambat beberapa pohon spruce dan beech mencapai umur lebih dari
30 40 tahun (Nandika, Dodi.,2004).

c) Dampak Hujan Asam bagi Perairan


Seperti telah dijelaskan di atas bahwa hujan asam dapat mengubah pH lingkungan,
termasuk lingkungan perairan. Adanya hujan asam dapat menyebabkan meningkatnya
konsentrasi aluminium dan magnesium di lingkungan air yang akan membuat pH perairan
menjadi turun hingga mencapai 5 atau bahkan di bawah 4.8. Pada kondisi pH 5 akan banyak
hewan perairan yang mati karena ketidakmampuan dirinya untuk beradaptasi pada
lingkungan asam. Alga, ikan, plankton-plankton, amfibi, siput, kerang-kerangan dan yang
lainnya akan menerima dampak yang buruk akibat terjadinya hujan asam pada lingkungan
tempat tinggal mereka. Secara keseluruhan, hujan asam dapat mengurangi keragaman hayati
pada suatu ekosistem yang pada akhirnya dapat mengganggu rantai makanan dan
keseimbangan alam.

d) Dampak Hujan Asam bagi Bangunan


Hujan asam akan menyebabkan timbulnya karat pada logam, seperti perunggu,
ataupun rusaknya cat bangunan atau kendaraan serta rusaknya berbagai monumen, patung,
ataupun makam yang terbuat dari batu. Dampak tersebut secara signifikan akan mengurangi
6

ilai dari bangunan atau objek itu sendiri. Kerugian secara finansial pun akan terasa manakala
perbaikan akan kerusakan bangunan diperlukan. Jika sudah begini, Kita pun harus mulai
berbenah untuk mengurangi emisi gas SO2 dan NOx ke udara.

e) Dampak Hujan Asam bagi Industri Otomotif (Cat Kendaraan)


Hujan asam juga membawa dampak buruk bagi industri otomotif, yaitu rusaknya cat
kendaraan secara permanen. Hujan asam membuat selaput cat mobil menjadi rusak dan
menurut para ahli kerusakan yang terjadi tidak bisa dipulihkan. Satu-satunya cara adalah
dengan mengecatnya kembali. Hal tersebut menimbulkan masalah tersendiri bagi industri
otomotif, biaya pemulihan cat kendaraan akibat hujan asam.

f) Dampak Hujan Asam pada Jarak Pandang


Ternyata hujan asam berdampak luas di berbagai sector kehidupan. 50 % nitrogen
oksida terdapat di atmosfer secara alami, dan 50 % lagi juga terbentuk akibat kegiatan
manusia, terutama akibat pembakaran Bahan Bakar Fosil. ( Soemarwoto O, 1992). Partikulat
sulfur yang diemisikan ke udara juga mempengaruhi jarak pandang seseorang. Pengaruh
menurunnya jarak pandang tersebut bisa mencapai 50% hingga 70%.

2.6

Upaya Untuk Mengurangi dan Mencegah Dampak Dari Hujan Asam


Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang

mengandung sedikit zat pencemaran, menghindari terbentuknya zat pencemar saat terjadinya
pembakaran, dan penghematan energi.
a) Menggunakan Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah
Kandungan belerang dalam bahan bakar bervariasi. Penggunaan gas alam akan
mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan tetapi kebocoran gas ini dapat menambah emisi
metan. Usaha lain yaitu dengan menggunakan bahan bakar non-belerang atau bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan, misalnya metanol, etanol dan hidrogen.
b) Pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran

Beberapa teknologi untuk mengurangi emisi SO2 dan Nox pada waktu pembakaran
telah dikembangkan. Salah satu teknologi ialah lime injection in multiple burners (LIMB).
Selain itu, bisa juga dilakukan dengan penggunaan Scrubbers. Alat ini mampu mengurangi
emisi sulfur okida hingga 80-95 % (Ophardt, C.O., 2003).
c) Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)
7

Hendaknya prinsip ini dijadikan landasan saat memproduksi suatu barang, dimana
produk itu harus dapat digunakan kembali atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah
atau limbah yang dihasilkan dapat dikurangi.

1. Reuse
Reuse yaitu menggunakan sisa sampah yang masih bisa dipakai.
pemanfaatan kembali botol botol bekas menjadi wadah
pemanfaatan kantong plastik bekas menjadi kemasan belanja untuk pembungkus
pemanfaatan pakaian atau kain kain bekas menjadi bahan kerajinan tangan, perangkat
pembersih maupun berbagai keperluan lainnya.

2. Recycle
Recycle yaitu mendaur ulang sampah, mendaur ulang sampah memang tidak mudah
karena kadang dibutuhkan teknologi dan penanganan khusus. Ada beberapa cara yang bisa
dilakukan yaitu :
Mengumpulkan kertas, majalah, dan surat kabar
Mengumpulkan sisa sisa kaleng atau botol gelas
Menggunakan berbagai produk kertas maupun barang lainnya hasil daur ulang.
3. Reduce
Reduce yaitu mengurangi sampah, ada beberapa cara untuk mengurangi sampah yaitu :
Membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah kantong plastik pembungkus
barang belanjaan
Membeli susu, makanan kering, deterjen, dan lain lain dalam paket yang besar daripada
membeli beberapa paket kecil untuk volume yang sama
Membeli kemasan isi ulang untuk shampoo dan sabun daripada membeli botol baru setiap
kali habis

d) Penambahan kapur kedalam tanah


Untuk mengurangi dampak buruk yang muncul dari hujan asam terhadap tanah
ataupun danau dapat dilakukan dengan menambahkan zat kapur kedalam tanah atau kedalam
danau karena dapat menetralkan sifat asam.

e) Melakukan Reboisasi atau penanaman kembali.


Keberhasilan program reboisasi dan rehabilitasi lahan akan dapat meningkatkan
produktivitas lahan dan kualitas lingkungan terutama dalam aspek:
1.

Penghasil O2, dan penyerap gas-gas pencemar udara

2.

Pelestarian sumberdaya plasma nutfah

3.

Perkembangbiakan ternak dan satwa liar

4.

Pengembangan kepariwisataan dan rekreasi.

5.

Penyediaan fasilitas pendidikan dan penelitian.

f) Pengendalian Setelah Pembakaran


Zat pencemar juga dapat dikurangi dengan gas ilmiah hasil pembakaran. Teknologi
yang sudah banyak dipakai ialah fle gas desulfurization (FGD). Cara lain ialah dengan
menggunakan amonia sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat
dipergunakan sebagi pupuk.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Dari pembahasan di atas mengenai hujan asam dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :
1. Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan
secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida di udara yang larut
dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah.
2. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan
bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida
dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk
membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan.
3. Secara sedehana, proses pembentukan hujan asam sebagai berikut: Pada dasarnya Hujan
asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang
keduanya dihasilkan melalui pembakaran.
4. Adapun beberapa dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam antara lain Kelebihan zat
asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan, hujan asam yang
larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon
dapat menggunakannya untuk tumbuh, korosi dan menyebabkan terganggunya kesehatan
manusia.
5. Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang
mengandung sedikit zat pencemar, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya
pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi serta
penambahan zat kapur.
1.2.

Saran
Hujan asam bersifat merusak merupakan salah satu dari aktifitas manusia yang

berlebihan. Kerugian dan kerusakannya sangat bervariasai mulai dari rusaknya lingkungan
disekitar kita hingga kesehatan manusia itu sendiri yang terancam. Ekosistem di alam sekitar
kita saling berkait dan saling ada timbal balik didalamnya, dengan rusaknya salah satu mata
rantai dari ekosistem, dengan sendirinya alam akan mengalami kerusakan juga.
Sekarang saatnya kita jaga alam dan lingkungan kita untuk anak cucu kita kelak.
Pemerintah dan masyarakat baik dari kalangan industri maupun umum, untuk bekerja sama
dalam menjalankan peraturan yang berkaitan dengan upaya penurunan polusi udara agar
dapat terlaksana dan diterapkan dengan baik dan seksama.
10

Daftar Pustaka
Anonim . 2009. Cause and Effects of Acid Rain. http://www.buzzle.com/ articles/ causes
and effects of acid rain.html. Diakses pada: 22 Januari 2014
Arfa, Rizdela. ( 2012 ). Penyebab Terjadinya Hujan Asam. Diperoleh dari :
http://younggeomorphologys.wordpress.com/2011/01/15/hujan-asam-peny ebab-dan-prosespembentukannya/ . Diakses pada : 16 Januari 2014.
Hariyanto. 2012. Upaya Pencegahan dan Dampak hujan asam.
http://prodiipa.wordpress.com/kelas-vii/hujan-asam/upaya-pencegahan-dampak-hujan-asam/ .
Diakses pada : 20 Januari 2014.
Kurniawan, Anas. 2011 . Hujan Asam ( Acid Rain ).
http://annaskurniawan.wordpress.com/2011/06/01/hujan-asam-acid-rain / . Diakses pada : 16
Januari 2014.
Maulana, Moh. 2012 . Hujan Asam Menghancurkan Bumi.
http://maulanusantara.wordpress.com/2012/01/05/mengenal-macam-macam-hujan/ . Diakses
pada : 16 Januari 2014.
Nandika, Dodi.,2004. Hujan Asam Suatu Fenomena yang Mengancam Kelestarian Hutan.
Staf
Pengajar
Jurusan
Teknologi
Hasil
Hutan-IPB.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/. Diakses pada : 22 Januari 2014
Ophardt, C.O. 2003. AcidRain. http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook. Diakses pada :
16 Januari 2014.
Prasetyo, Anam. 2013. Dampak Hujan Asam dan Penyebab Terjadinya Hujan Asam.
http://prasetyomanan.blogspot.com/2013/10/penyebab-dan-dampak-hujan-asam.html .
Diakses pada : 22 Januari 2014.
Rahardiman, Arya. 2009. HujanAsam. http://keslingbanget.blogspot.com/2009/03/ hujan asam. html. Diakses pada: 20 Januari 2014
Rahmawaty, ( 2002 ). Dampak Pencemaran Udara Terhadap Tumbuhan. Fakultas Pertanian
Program Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream
/123456789/857/1/ hutan-rahmawaty2.pdf. Diakses pada : 20 Januari 2014
Sumahamijaya,I.
2009.
Hujan
Asam
Menghancurkan
Bumi.
http://majarimagazine.com/2009/03/ hujan asam mencegah global warmingmenghancurkan- bumi/. Diakses pada : 20 Januari 2014

11

Anda mungkin juga menyukai