Anda di halaman 1dari 4

No. ID dan Nama Peserta : dr.

Adha Yulina Nurtika Sari


No. ID dan Nama Wahana: Puskesmas Pasir Belengkong
Topik: Varicella
Tanggal (kasus) : 17 Maret 2016
Nama Pasien : An. W / 13 bulan
No. RM : 30201.1.05570
Tanggal presentasi : Maret 2016
Pendamping: dr. Nelly Verawati
Tempat presentasi: Puskesmas Pasir Belengkong
Obyek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi
Anak
Remaja Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi: sejak 1 hari sebelum ke puskesmas, pasien mengeluhkan demam dan keluar plentingplenting di badan
Tujuan: memberikan penanganan pertama pada pasien dengan varicella
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus

Audit

bahasan:
Cara

Pos

membahas:

pustaka
Diskusi

Presentasi

E-mail

dan diskusi

Data Pasien: Nama: An. W / 13 bulan


No.Registrasi: 05.80.5570
Nama klinik
Puskesmas Pasir Belengkong
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/gambaran klinis: Sejak 1 hari sebelum ke puskesmas, pasien mengeluhkan
demam tinggi dan di badan keluar plenting-plenting berwarna merah berisi air. Pasien
rewel dan menggaruk plenting-plenting di badannya. Pasien diberi obat penurun demam
namun hanya beberapa jam suhu turun kemudian naik kembali. Keesokan harinya
terdapat plenting-plenting yang sama di bagian tangan dan kakinya.
2. Riwayat pengobatan: Pasien hanya diberi obat penurun demam.

3. Riwayat kesehatan/penyakit: pasien belum pernah menderita penyakit serupa


sebelumnya.
4. Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sama dengan pasien
5. Riwayat pekerjaan: pasien belum bekerja
6. Lain-lain:
Daftar Pustaka:
1. Centers for Disease Control and Prevention. 2015. Varicella dalam Epidemiology and
Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. CDC. 13th Edition.
2. Kurniawan, Martin; Norberta Dessy; Matheus Tatang. 2009. Varicela Zoster pada
Anak. Medicinus Vol. 3 No. 1 Februari 2009 Mei 2009. Fakultas
Kedokteran Universitas Pelita Harapan.

3. Lubis, Ramona Dumasari. 2008. Varicella dan Herpes Zoster. Departemen Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. USU erepository.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014. 2014. Panduan
Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Menteri Kesehatan
Republik Indonesia.
Hasil pembelajaran:
1. Menegakkan diagnosis varicella
2. Memberikan penanganan varicella

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Sejak 1 hari sebelum ke puskesmas, pasien mengeluhkan demam tinggi dan di badan
keluar plenting-plenting berwarna merah berisi air. Pasien rewel dan menggaruk plentingplenting di badannya. Pasien diberi obat penurun demam namun hanya beberapa jam
suhu turun kemudian naik kembali. Keesokan harinya terdapat plenting-plenting yang
sama di bagian tangan dan kakinya.
2. Obyektif:
Pemeriksaan fisik diperoleh :
Keadaan Umum/Kesadaran : Tampak sakit sedang/compos mentis
N = 80 kali/menit, RR = 20 kali/menit, S = 37,7 C
BB = 8,6 kg, PB = 77 cm, status gizi baik
Kepala
: bibir sianosis (-), tanda-tanda trauma (-),
Leher
: Nyeri tekan (-), Massa tumor (-), kaku kuduk (-)
Dada
: dalam batas normal
Jantung
: dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal
Genital
: tidak ada kelainan
Status Lokalis : vesikel, multipel, ukuran miliar-lentikuler, diskret di regio abdomen,
antebrachi dan cruris.
3. Assesment
Varicella dikenal di Indonesia dengan nama cacar air, sedangkan di luar negeri
terkenal dengan nama Chicken pox. Varicella merupakan penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh virus Varicella Zoster dan menyerang kulit serta mukosa berupa vesikel..
Varicella diawali dengan gejala prodormal berupa demam, malaise, nyeri kepala,
mual dan anoreksia, yang mulai terjadi 1-2 hari lesi di kulit muncul. Lesi diawali pada
daerah scalp dan wajah, kemudian akan menyebar ke tubuh secara sentripetal dan akaan
meluas ke ekstremitas. Lesi dapat menyerang di mukosa mulut dan genital. Awal mulanya
2

timbul lesi berupa makula eritematosa yang kemudian dalam waktu 12-14 jam akan
berubah menjadi papul serta berkembang menjadi vesikel-vesikel dengan dasar
eritematosa. Bentuk vesikel pada varicella sangat klasik terletak di superficial dengan
dinding tipis seperti tetesan air di kulit (tear drop), ukuran 2-3 mm dan berbentuk elips.
Cairan dalam vesikel akan menjadi cepat keruh karena masuknya sel radang sehingga
pada hari ke-2 vesikel akan berubah menjadi pustula. Lesi tersebut akan mengering pada
bagian tengah terlebih dahulu sehingga terbentuk umbilikasi (delle) dan berubah menjdai
krusta dalam waktu 2-12 hari dan akan lepas dalam waktu 1-3 minggu. Lesi varicella
jarang menjadi jaringan parut (scar) kecuali adanya infeksi sekunder.
Pemeriksaan penunjang bila diperlukan adalah pemeriksaan mikroskopis
dengan menemukan sel Tzanck yaitu sel datia berinti banyak. Pemeriksaan
penunjang lainnya adalah teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). PCR
merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi DNA virus atau protein virus
dengan cepat serta sangat sensitif dan spesifik. Selain PCR, terdapat teknik
serologi yang digunakan, yaitu pemeriksaan serum untuk mendeteksi IgM
dan IgG. Pemeriksaan IgM Virus Varicella Zoster (VZV) memiliki sensitifitas
dan spesifitas rendah karena terkadang sulit dibedakan dengan kehadiran
IgM pada infeksi primer. Salah satu kepentingan pemeriksaan IgG adalah
untuk

mengetahui

status

imun

seseorang,

dimana

riwayat

penyakit

varicelanya tidak jelas. Pemeriksaan IgG mempunyai kepentingan klinis, guna


mengetahui antibodi pasif atau pernah mendapat vaksin aktif terhadap
varicela. Keberadaan IgG, pada dasarnya merupakan petanda dari infeksi
laten terkecuali pasien telah menerima antibodi pasif dari immunoglobulin.
Penatalaksanaan varicella antaralain :
a. Hindari gesekan kulit agar tidak menimbulkan pecahnya vesikel
b. pemberian nutrisi tinggi karbohidrat tinggi protein, istirahat dan mencegah
kontak dengan orang lain
c. pemberian obat-obatan simptomatis, seperti antipiretik dan antihistamin
d. pengobatan antivirus oral selama 7-10 hari dan efektif diberikan pada 24
jam pertama setelah timbul lesi
1. Asiklovir: dewasa 5 x 800 mg/hari, anak-anak 4 x 20 mg/kgBB (dosis
maksimal 800 mg) atau
2. Valasiklovir: dewasa 3 x 1000 mg/hari. Pemberian obat tersebut selama
7-10 hari dan efektif diberikan pada 24 jam pertama setelah timbul lesi
3

e. Edukasi bahwa varicella merupakan penyakit yang self-limiting pada anak


yang imunokompeten. Komplikasi yang ringan dapat berupa infeksi bakteri
sekunder. Oleh karena itu, pasien sebaiknya menjaga kebersihan tubuh.
Penderita sebaiknya dikarantina untuk mencegah penularan.

ba

Paser, Maret 2016


Peserta

Pendamping

dr. Adha Yulina N.S

dr. Nelly Verawati


NIP.197802272006042023