Anda di halaman 1dari 13

PENGERTIAN BISNIS

PARIWISATA

I GST NGR NICO DAMARA PRADANA


1315151033

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA

Definisi Pariwisata
Beberapa ahli juga mengemukakan pengertian Pariwisata, berikut
daftar lengkap pengertian Pariwisata menurut para ahli dari luar dan
dalam negeri;
James J. Spillane (1982)
Pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan
mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu,
memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat,
menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain.
Koen Meyers (2009)
Pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh semntara
waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan
bukan untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk
memenuhi rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau
libur serta tujuan-tujuan lainnya.
Kodhyat (1998)
Pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ketempat lain,
bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai
usaha mencari keseimbangan atau keserasiaan dan kebahagiaan
dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu.
Burkart dan Medlik (1987)
Pariwisata sebagai suatu tranformasi orang untuk sementara san
dalam jangka waktu jangka pendek ketujuan-tujuan di luar tempat
dimana mereka hidupdan bekerja, dan kegiatan kegiatan mereka
selama tinggal di tempat- tempat tujuan itu.
Mathieson dan Wall (1982)
Mendefinisikan pariwisata sebagai serangkaian aktivitas berupa
aktivitas perpindahan orang untuk sementara waktu ke suatu tujuan
di luar tempat tinggal maupun tempat kerjanya yang biasa, aktivitas
yang dilakukannya selama tinggal di tempat tujuan tersebut, dan
kemudahan-kemudahan
yang
disediakan
untuk
memenuhi
kebutuhannya baik selama dalam perjalanan maupun di lokasi
tujuannya.
Prof. Salah Wahab (1975)
Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu
mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan
kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi
sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya, sebagai sektor yang
komplek, pariwisata juga merealisasi industri-industri klasik seperti

industri kerajinan tangan dan cinderamata, penginapan dan


transportasi.
Prof. Salah Wahab dalam Oka A.Yoeti (1996:116)
Pariwisata dalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara
sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orangorang dalam suatu Negara itu sendiri/ diluar negeri, meliputi
pendiaman orang-orang dari daerah lain untuk sementara waktu
mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa
yang dialaminya, dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.
Prof.K. Krapt dan Prof. Hunziker dalam Oka A.Yoeti
(1996:112)
Pariwisata adalah keseluruhan dari gejala-gejala yang ditimbulkan
dari perjalanan dan pendiaman orang-orang asing serta penyediaan
tempat tinggal sementara, asalkan orang asing itu tidak tinggal
menetap dan tidak memperoleh penghasilan dari aktivitas yang
bersifat sementara.
Mr. Herman V. Schulard dalam Oka A.Yoeti (1996:114)
Pariwisata adalah sejumlah kegiatan terutama yang ada kaitannya
dengan perekonomian secara langsung berhubungan dengan
masuknya orang-orang asing melalui lalu lintas di suatu negara
tertentu, kota dan daerah.
Menurut Robert McIntosh bersama Shaskinant Gupta dalam
Oka A.Yoeti (1992:8)
Pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari
interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah tuan rumah serta
masyarakat tuan rumah dalam proses menarik dan melayani
wisatawan-wisatawan serta para pengunjung lainnya.
E. Guyer Fleuler
Pariwisata dalam arti modern adalah fenomena dari zaman
sekarang yang pada umumnya didasarkan atas kebutuhan,
kesehatan dan pergantian hawa. Sedangkan pada khususnya
disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan
kelas masyarakat manusia sebagai hasil dari perkembangan
perniagaan, industri, perdagangan, serta penyempurnaan dari alatalat pengangkutan.
Hunziger dan krapf
Menyatakan pariwisata adalah keserluruhan jaringan dan gejalagejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang asing disuatu
tempat dengan syarat orang tersebut tidak melakukan suatu
pekerjaan yang penting (Major Activity) yang memberi keuntungan
yang bersifat permanent maupun sementara.
Richard Sihite

Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk


sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke
tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu
perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau
mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata
untuk menikmati kegiatan pertamsyaan dan rekreasi atau untuk
memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
Richardson and fluker (2004)
Pariwisata merupakan kegiatan-kegiatan atau orang-orang yang
melakukan perjalanan dan tinggal di luar lingkungan mereka selama
tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk bersantai, bisnis dan
tujuan lainnya.
Soekadijo (1996)
Pariwisata adalah gejala yang komplek dalam masyarakat,
didalamnya terdapat hotel, objek wisata, souvenir, pramuwisata,
angkutan wisata, biro perjalanan wisata, rumah makan dan banyak
lainnya.
Suwantoro (1997)
Pariwisata adalah suatu proses kepergiaan sementara dari
seseorang atau lebih menuju tempat lain dari luar tempat
tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan
kepergian yang menghasilkan uang.
Kusdianto (1996)
Pariwisata adalah suatu susunan organisasi, baik pemerintah
maupun swasta yang terkait dalam pengembangan, produksi dan
pemasaran produk suatu layanan yang memenuhi kebutuhan dari
orang yang sedang bepergian.
Gamal (2002)
Pariwisata difenisikan sebagai bentuk. Suatu proses kepergian
sementara dari seorang, lebih menuju ke tempat lain di luar tempat
tinggalnya. Dorongan kepergiaanya adalah karena berbagai
kepentingan ekonomi, sosial, budaya, politik, agama, kesehatan
maupun kepentingan lain.

Anonymous, ahli yang tidak teridentifikasi (1986)


Pariwisata adalah kegiatan seseorang dari tempat tinggalnya untuk
berkunjung ke tempat lain dengan perbedaan pada waktu
kunjungan dan motivasi kunjungan.
Ya, begitulah pariwisata, satu kata yang memiliki makna yang
sangat luas, sehingga banyak ahli yang mendefinisikannya. Dari
pendapat-pendapat diatas;
Definisi Pariwisata secara Umum yaitu:

Keseluruhan kegiatan pemerintahan, dunia usaha dan masyarakat


untuk mengatur, mengurus dan melayani kebutuhan wisatawan.
Definisi Pariwisata secara Teknis yaitu:
Rangkaian kegiatan yang dilakukan manusia baik secara perorangan
maupun berkelompok di dalam wilayah negara sendiri atau di
negara lain dengan menggunakan jasa dan faktor penunjang
lainnya yang diadakan pemerintah, badan usaha dan masyarakat.

Definisi Industri Pariwisata


Industri Pariwisata dapat diartikan sebagai sehimpunan bidang
usaha yang menghasilkan berbagai jasa dan barang yang
dibutuhkan oleh mereka yang melakukan perjalanan wisata.
Menurut S. Medlik, setiap produk, baik yang nyata maupun maya
yang disajikan untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia,
hendaknya dinilai sebagai produk industri. Jika sejemput kesatuan
produk hadir di antara berbagai perusahaan dan organisasi
sedemikian sehingga memberi ciri pada keseluruhan fungsi mereka
serta menentukan tempatnya dalam kehidupan ekonomi,
hendaknya dinilai sebuah industri.[1]
Sebagaimana yang dikemukakan UNWTO (United Nations World
Tourism Organiation) dalam the International Recommendations for
Tourism Statistics 2008, Industri Pariwisata meliputi; Akomodasi
untuk pengunjung, Kegiatan layanan makanan dan minuman,
Angkutan penumpang, Agen Perjalanan Wisata dan Kegiatan
reservasi lainnya, Kegiatan Budaya, Kegiatan olahraga dan hiburan.
UNWTO merupakan Badan Kepariwistaan Dunia dibawah
naungan PBB. Menurut Undang-Undang Pariwisatano 10 tahun 2009,
Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling
terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi
pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan
pariwisata.[2]
Pada akhir dekade 1960-an, Pemerintah DKI Jakarta sudah
menggunakan definisi Industri Pariwisata yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah No. 3, tahun 1969 (yang mungkin sekali
saat ini sudah diubah), yaitu sebagai berikut; Industri Pariwisata,
adalah usaha penyelenggaraan pelayanan untuk

lalulintas kepariwisataan dengan maksud mencari keuntungan di


bidang akomodasi/perhotelan, kebudayaan, perestoranan, rekreasi d
an hiburan, atraksi kebudayaan, biro perjalanan,
usahakepramuwisataan (guide business), usaha-usaha cenderamata
(souvenir), usaha-usaha penerbitan kepariwisataan,
penyelenggaraan tour dan perdagangan valuta(money changer).

Ruang Lingkup Industri Pariwisata


Ruang lingkup industi pariwisata menyangkut berbagai sektor
ekonomi. Adapun aspek-aspek yang tercakup dalam industri
pariwisata antara lain:

Restoran. Di dalam bidang restoran, perhatian antara lain


dapat diarahkan pada kualitas pelayanan, baik dari jenis
makanan maupun teknik pelayanannya. Disamping itu, dari segi
kandungan gizi, kesehatan makanan dan lingkungan restoran
serta penemuan makanan-makanan baru dan tradisional baik
resep, bahan maupun penyajiannya yang bias dikembangkan
secara nasional, regional bahkan internasional.

Penginapan. Penginapan atau home stay, yang terdiri


dari hotel, motel, resort, kondominium, time sharing, wismawisma dan bed and breakfast, merupakan aspekaspek yang
dapat diakses dalam pengembangan bidang kepariwisataan. Halhal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan penginapan
ini dapat berupa; strategi pemasaran, pelayanan saat
penginapan, integrasi dan restoran atau biro perjalanan, dan
sebagainya. Penelitian juga dapat diarahkan pada upaya
memperkecil limbah dari industry pariwisata tersebut.

Palayanan perjalanan. Meliputi biro perjalanan, paket


perjalanan (tour wholesalers), perusahaan incentive travel dan
reception service.

Transportasi. Dapat berupa sarana dan prasarana angkutan


wisata seperti mobil/bus, pesawat udara, kereta api, kapal pesiar,
dan sepeda.

Pengembangan Daerah Tujuan Wisata. Dapat berupa


penelitian pasar dan pangsa, kelayakan kawasan
wisatawan, arsitektur bangunan, dan engineering, serta lembaga
keuangan.

Fasilitas Rekreasi. Meliputi pengembangan dan pemanfaatan


taman-taman Negara, tempat perkemahan (camping ground),
ruang konser, teater, dan lain-lain.

Atraksi wisata. Meliputi taman-taman bertema, museummuseum, hutan lindung, agrowisata, keajaiban alam,
kegiatan seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Sumber Sumber Pariwisata


Potensi pengembangan pariwisata sangat terkait dengan
lingkungan hidup dan sumberdaya. Menurut Fandeli (1995:48-49),
sumberdaya pariwisata adalah unsur fisik lingkungan yang statik
seperti: hutan, air, lahan, margasatwa, tempat-tempat untuk
bermain, berenang dan lain-lain. Karena itu pariwisata sangat terkait
dengan keadaan lingkungan dan sumberdaya. Ditambahkan pula
bahwa Indonesia yang memiliki keragaman sumberdaya yang
tersebar pada ribuan pulau, dengan lautannya yang luas memiliki
potensi yang baik untuk kegiatan pariwisata.
Data dari BPS (1999) menunjukan bahwa luas lautan
Indonesia 7,9 juta km atau 81% dari luas keseluruhan, dan luas
daratannya 1,9 juta km. Daratan memiliki ratusan gunung dan
sungai, hutannya seluas 99,5 juta ha yang terdiri dari 29,7 juta
ha
hutan lindung dan 29,6 juta ha hutan produksi, serta
ratusan bahkan ribuan jenis flora dan faunanya. Unsur-unsur ini
merupakan potensi yang dapat dikembangkan bagi kegiatan
pariwisata.
Dari berbagai sumber informasi dan surat kabar, diberitakan
bahwa Indonesia memiliki banyak potensi di daerah-daerah yang
belum dikembangkan atau dijadikan daerah tujuan wisata (DTW).
Sekitar 212 obyek wisata, berupa peninggalan bersejarah, gunung,
air tejun, danau, hutan, dan lain-lain yang ada di Sumatera Selatan
yang belum dikelola (Suara Pembaruan, 11-12-1999:12). Daerah
Lampung yang kaya dengan peninggalan-peninggalan bersejarah,
gunung-gunung, pantai-pantai dan berbagai keindahan alam yang
terukir pada beberapa lokasi, belum dijadikan obyek wisata secara
optimal (Suara Pembaruan, 22-12-1999:10). NTT yang kaya akan
obyek wisata laut juga belum dikembangkan (Suara Pembaruan, 27
Juli 1999:10), dan masih banyak obyek wisata lainnya yang belum
dimanfaatkan sebagai DTW guna mendatangkan keuntungan secara
sosial ekonomi.

Sumberdaya alam hayati, seperti Taman Nasional Tanjung


Puting (Kaltim), Taman Nasional Ujung Kulon (Jabar), Taman Nasional
Komodo (NTT) dan berbagai sumberdaya alam hayati lainnya,
merupakan potensi bagi sasaran kunjungan pariwisata (Suara
Pembaharuan, 17 Sept. 1999:8).
Selain itu, Indonesia dengan keragaman suku, agama dan ras
(SARA) yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, berupa taritarian dan upacara-upacara adat juga merupakan hal yang sangat
potensial bagi pengembangan pariwisata. Memang diakui bahwa
dengan keragaman SARA tersebut juga mengandung potensi konflik
yang seringkali dapat menimbulkan kerusuhan sosial. Karena itu
dalam rangka pengembangan pariwisata, selain terdapat sejumlah
potensi yang dapat diandalkan, juga terdapat sejumlah hal yang
dapat menjadi kendala.
Adapun kendala-kendala yang akan dihadapi dalam
pengembangan pariwisata, antara lain adalah: pertama, sering
timbulnya konflik dan kerusuhan sosial serta situasi dan konsisi
politik yang masih memanas, berakibat pada kurang terjaminnya
keamanan bagi para wisatawan. Menurut Menteri Pariwisata, Seni
dan Budaya, Marzuki Usman bahwa akibat berbagai kerusuhan yang
sering terjadi selama tahun 1998, terjadi penurunan jumlah
wisatawan asing yang datang ke Indonesia sekitar 16,35%
dibanding tahun 1997, yaitu pada tahun 1997 wisatawan asing yang
datang sejumlah 5,1 juta orang, pada tahun 1998 hanya 4,3 juta
orang (Kompas, 28 April 1999:3). Disebutkan pula bahwa banyak
biro perjalanan yang membatalkan perjalanan wisatanya ke Indoesia
karena alasan keamanan. Melihat akan adanya penurunan tersebut,
dapat dibayangkan berapa besar kerugian yang dialami, apalagi bila
dikaitkan dengan biaya-biaya promosi yang telah dikeluarkan.
Kedua, rendahnya mutu pelayanan dari para penyelenggara
pariwisata, persaingan yang tidak sehat di antara para
penyelenggara pariwisata serta kurangnya pemahaman terhadap
pentingnya pelindungan konsumen yang sangat ditekankan di
Eropa, Amerika dan Australia, merupakan kendala yang sangat
menghambat pariwisata di Indonesia (Suara Pembaruan, 17 Sept.
1999:8)
Ketiga, rendanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya
pengembangan pariwisata merupakan kendala. Sebab banyak
rencana pengembangan yang gagal karena kurang mendapat
dukungan dari masyarakat akibat rendahnya kesadaran tersebut.
Hal ini dapat dilihat pada contoh kasus pengembangan pariwisata di
Sungai Barito, Banjarmasin dengan Program Pasar Apung (PPA).
Dalam pelaksanaan PPA masyarakat diberi dana untuk pengecetan

sampan-sampan miliknya, tetapi dana tersebut tidak digunakan


untuk mengecet sampannya tetapi untuk hal yang lain (Kompas, 23
Januari 1999).
Keempat, kurangnya modal dan rendahya sumberdaya
manusia, terutama tenaga yang terampil dan profesional dalam hal
manajerial di bidang pariwisata merupakan kendala yang seringkali
muncul terutama pada negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia (Suara Pembaruan, 5 Peb. 1999:10). Sumberdaya manusia
merupakan komponen utama dan penentu, terutama dalam
menjalan pekerjaan pada jajaran frontlinters, yakni mereka yang
bertugas memberikan pelayanan langsung kapada para wisatwan
(Suara Karya, 25 Pebruari 1998:8).
Kelima, sistem transportasi yang belum memadai seringkali
menjadi kendala dalam pariwisata yang perlu ditinjau kembali,
untuk meningkatkan pelayannya dari segi kualitas maupun
kuantitasnya (Suara Pembaruan, 17 Sept. 1999:8).
Keenam,
pengelolaan
pariwisata
yang
bersifat topdown merupakan salah satu kendala yang banyak menghambat
pariwisata, terutama pada masa Orde Baru yang terlalu otoriter dan
sentralistis (Kompas, 23 Januari 1999:2). Selama ini, banyak DTW
yang tidak dikembangkan karena berbagai keterbatasan dari
pemerintah pusat, sementara itu pihak swasta dan pemerintah
daerah harus menunggu petunjuk dari pemerintah pusat.

Jenis Jenis Pariwisata


menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif
wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Wisata Budaya
Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk
memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan
kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri,
mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara
hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa
ini disatukan dengan kesempatankesempatan mengambil bagian
dalam kegiatankegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari,
seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang
bermotif kesejarahan dan sebagainya.
2. Wisata Maritim atau Bahari

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air,
lebihlebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing,
berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi
berselancar, balapan mendayung, melihatlihat taman laut dengan
pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai
rekreasi perairan yang banyak dilakukan didaerahdaerah atau
negaranegara maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan
sebagainya. Di Indonesia banyak tempat dan daerah yang memiliki
potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulaupulau Seribu di
Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulaupulau kecil
disekitarnya, taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis
ini disebut pula wisata tirta.
3. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)
Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen
atau biro perjalanan yang mengkhususkan usahausaha dengan
jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman
lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang
kelestariannya dilindungi oleh undangundang. Wisata cagar alam
ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam
kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa
serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang
mendapat perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini
banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam,
kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang
dan marga satwa yang langka serta tumbuhtumbuhan yang jarang
terdapat di tempattempat lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang
telah berkembang seperti Taman Nasional Bali Barat dan Kebun
Raya Eka Karya
4. Wisata Konvensi
Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan
wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa ini membangun
wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan
ruanganruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu
konfrensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang
bersifat nasional maupun internasional. Jerman Barat misalnya
memiliki Pusat Kongres Internasiona (International Convention
Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine International
Convention Center) di Manila dan Indonesia mempunyai Balai
Sidang Senayan di Jakarta untuk tempat penyelenggaraan sidang
sidang pertemuan besar dengan perlengkapan modern. Biro
konvensi, baik yang ada di Berlin, Manila, atau Jakarta berusaha

dengan keras untuk menarik organisasi atau badanbadan nasional


maupun internasional untuk mengadakan persidangan mereka di
pusat konvensi ini dengan menyediakan fasilitas akomodasi dan
sarana pengangkutan dengan harga reduksi yang menarik serta
menyajikan programprogram atraksi yang menggiurkan.
5. Wisata Pertanian (Agrowisata)
Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah
pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyekproyek
pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana
wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan
peninjauan untuk tujuan studi maupun melihatlihat keliling sambil
menikmati segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya
pembibitan berbagai jenis sayurmayur dan palawija di sekitar
perkebunan yang dikunjungi.
6. Wisata Buru
Jenis ini banyak dilakukan di negerinegeri yang memang memiliki
daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh
pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan.
Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau
hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang
bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk berburu gajah,
singa, ziraf, dan sebagainya. Di India, ada daerahdaerah yang
memang disediakan untuk berburu macan, badak dan sebagainya,
sedangkan di Indonesia, pemerintah membuka wisata buru untuk
daerah Baluran di Jawa Timur dimana wisatawan boleh menembak
banteng atau babi hutan.
7. Wisata Ziarah
Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah,
adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam
masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau
rombongan ke tempattempat suci, ke makammakam orang besar
atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang
dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin
sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak
dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk
memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan tidak jarang
pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah.
Dalam hubungan ini, orangorang Khatolik misalnya melakukan
wisata ziarah ini ke Istana Vatikan di Roma, orangorang Islam ke
tanah suci, orangorang Budha ke tempattempat suci agama

Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia banyak


tempattempat suci atau keramat yang dikunjungi oleh umat-umat
beragama tertentu, misalnya seperti Candi Borobudur, Prambanan,
Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa Tengah, makam Wali
Songo, Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan sebagainya.
Banyak agen atau biro perjalanan menawarkan wisata ziarah ini
pada waktuwaktu tertentu dengan fasilitas akomodasi dan sarana
angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempattempat tersebut
di atas.
Sesungguhnya daftar jenisjenis wisata lain dapat saja ditambahkan
di sini, tergantung kapada kondisi dan situasi perkembangan dunia
kepariwisataan di suatu daerah atau negeri yang memang
mendambakan industri pariwisatanya dapat meju berkembang.
Pada hakekatnya semua ini tergantung kepada selera atau daya
kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung dalam bisnis
industri pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasangagasan
yang dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka bagi
perkembangan dunia kepariwisataan di dunia ini, makin bertambah
pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi kemajuan
industri ini, karena industri pariwisata pada hakikatnya kalau
ditangani dengan kesungguhan hati mempunyai prospektif dan
kemungkinan sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia
yang melahirkan gagasangagasan baru dari waktukewaktu.
Termasuk gagasangagasan untuk menciptakan bentuk dan jenis
wisata baru tentunya

DAFTAR PUSTAKA
https://limamarga.blogspot.co.id/2012/0
4/jenis-jenis-pariwisata.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata_
di_Indonesia
http://23tourism.blogspot.co.id/2015/01/
definisi-pariwisata.html