Anda di halaman 1dari 6

Definisi:Stratum Papilare

Lapisan papilare adalah bagian atas dari dermis tepat di bawah epidermis. Bagian ini
ditandai dengan serat kolagen tipis yang menyebar tak beraturan, serat elastis tipis dan massa
pendukung.
Stratum papilare, yang merupakan bagian utama dari papila dermis, terdiri
atas jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast, sel mast,
makrofag, dan leukosit yang keluar dari pembuluh (ekstravasasi).
Read more: http://cosmo-burn.blogspot.com/2011/03/struktur-dan-fungsikulit.html#ixzz205wesEd8

Jaringan Embrional/mesenkim
Jaringan embrional pada hewan atau sering disebut jaringan mesenkim merupakan jaringan
yang senantiasa membelah dan sering di asosiasikan dengan pembentukan embrio. Namun
demikian jaringan mesenkim tetap ada sampai hewan dewasa.

D. Vulnus Punctum (ictum)


Perlukaan yang terjadi berupa suatu luka yang kecil (luka
tusuk).
E. Vulnus Scissum
Perlukaan yang terjadi berupa suatu luka yang berbentuk
garis.Sebagai penyebabnya adalah suatu trauma tajam.
F. Vulnus Laceratum (luka compang camping)
Sebagai penyebab adalah trauma tumpul.
Luka yang terjadi dapat berupa garis (seperti pada
v.scissum) atau memang berbentuk compang camping.
Apabila berbentuk garis, maka perbedaannya dengan
v.scissum adalah adnya jembatan jaringan,tepi yang tak
rata, pinggir yang tak rata dsb.
G. Luka tembak (v.sclopetorum)
Luka tembak terbagi atas luka tembak masuk dan luka tembak
keluar.
Mansjoer (2000) menyatakan Vulnus Laseratum merupakan luka terbuka
yang terdiri dari akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui
elastisitas kulit atau otot. (p.219).
3. Vulnus Laseratum ( luka robek ) adallah luka yang terjadi akibat kekerasan
benda tumpul , robekan jaringan sering diikuti kerusakan alat di dalam seperti
patah tulang. (http://one.indoskripsi.com)

LEPTOSPIROSIS
Pengertian
Leptospirosis
pathogen.

adalah

penyakit

yang

disebabkan

oleh

Leptospira

yang

Gejala leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya seperti influensa,


meningitis, hepatitis, demam dengue, demam berdarah dengue dan demam
virus lainnya.
II.

Penularan Penyakit Leptospirosis

Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi


banjir. Keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti
banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak
timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira
berkembang biak. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh
manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung.
Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama
Leptospirosis karena bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi
tinggi. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing
dapat terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak
sebesar tikus.

Penularan leptospirosis dapat secara langsung maupun tidak langsung.


a. Penularan langsung
-

Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman leptospira
masuk kedalam tubuh

Dari hewan ke manusia merupakan penyakit akibat pekerjaan. Terjadi pada


orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan misalnya
pekerja pemotong hewan atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaan

Dari manusia ke manusia meskipun jarang. Dapat terjadi melalui hubungan


sexual pada masa konvalensi atau dari ibu penderita leptospirosis ke janin
melalui sawar plasenta dan air susu ibu
b. Penularan tidak langsung
Terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air, dan lumpur
yang tercemar urin hewan.

III.
Tanda Dan Gejala
Fase Septisemik
Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri
dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan
tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7
hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot. Gejala lain
adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut
cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran
limpa dan hati
b. Fase Imun
Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi
dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat
didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30
hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeks. Gejala tergantung organ
tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.
Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan,
dan sakit kepala. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran
hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk,
batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan
pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau
perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada
fase imun.
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis.
Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi),
muntah, lemah, dan kadang-kadang penurunan nafsu makan Kadang-kadang
terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen
pasien, dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien.
Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi. Sebanyak 83 persen
penderita infeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 persen pada
L. pomona. Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem
pencernaan. Sedangkam L. pomona atau L. canicola sering menyebabkan radang
selaput otak (meningitis).
c. Sindrom Weil
Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai jaundis, disfungsi ginjal,
nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi
pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk
setiap waktu. Kriteria penyakit Weil tidak dapat didefinisikan dengan baik.
Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah,
dan gagal napas. Disfungsi ginjal dikaitkan dengan timbulnya jaundis 4-9 hari
setelah gejala awal. Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal
ginjal, perdarahan dan kolap kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati
dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40 persen yang akan meningkat
pada lanjut usia.
IV.
Pencegahan
Manusia rawan oleh infeksi semua serovar Leptospira sehingga manusia harus
mewaspadai cemaran urin dari semua hewan. Perilaku hidup sehat dan bersih
merupakan cara utama untuk menanggulangi Leptospirosis tanpa biaya. Manusia
a.

yang memelihara hewan kesayangan hendaknya selalu membersihkan diri


dengan antiseptik setelah kontak dengan hewan kesayangan, kandang, maupun
lingkungan di mana hewan berada.
Manusia harus mewaspadai tikus sebagai pembawa utama dan alami penyakit
ini.Pemberantasan tikus terkait langsung dengan pemberantasan Leptospirosis.
Selain itu, para peternak babi dihimbau untuk mengandangkan ternaknya jauh
dari sumber air. Feses ternak perlu diarahkan ke suatu sumber khusus sehingga
tidak mencemari lingkungan terutama sumber air.

DAFTAR PUSTAKA

Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Pedoman Tatalaksana Kasus dan
Pemeriksaan Laboratorium Leptospirosis di Rumah Sakit, Departemen
kesehatan RI, 2003

Leptospirosis di "Musim" Banjir

Musim penghujan kerap identikkan dengan banjir, serta penyakit leptospirosis.


Penyebabnya adalah bakteri leptospira, yang biasanya menyerang binatang. Hati-hati
kini, bakteri ini "menyerang" manusia.
Bakteri ini dapat hidup dalam air tawar selama kira-kira satu bulan. Tetapi dalam air selokan,
air laut dan air kemih (urin), bakteri itu malah cepat mati. Bakteri leptospira biasanya masuk
ke tubuh manusia melalui selaput lendir di mata, hidung, kulit yang terluka (lecet), atau
makan dari makanan yang terkontaminasi urin (kencing) hewan yang terinfeksi leptospirosis.
Masa inkubasi: 4-19 hari.
Gejala:

Demam atau panas tinggi, menggigil.

Sakit kepala.

Lesu, lemah.

Muntah-muntah.

Radang mata (tampak kemerahan).

Nyeri otot betis dan punggung.

Komplikasi: Selain gejala di atas, jika terjadi komplikasi pada beberapa bagian tubuh berikut
ini akan muncul gejala tambahan, antara lain:

Jika ada komplikasi di hati, maka kulit tampak kekuningan pada hari ke-4 sampai ke6.

Jika pada jantung, maka jantung berdebar tidak teratur, jantung membengkak, dan
gagal jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak.

Jika pada paru-paru, maka muncul batuk darah, nyeri dada, dan sesak napas.

Jika pada ibu hamil, dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir cacat dan meninggal,
atau lahir prematur.

Jika ada komplikasi pada pembuluh darah di organ dalam (misalnya ginjal, saluran
pernapasan, dan saluran genitalia), maka dapat terjadi perdarahan.

Penanganan: Pada gejala yang masih dini, pengobatan dengan antibiotik akan sangat
membantu. Namun jika sudah terjadi komplikasi, maka angka kematian bisa mencapai 20%.
Oleh karena itu, jika muncul gejala seperti di atas dan ada kemungkinan lingkungan Anda
rentan terhadap bakteri leptospira, segeralah ke dokter dan jelaskan gejala yang terlihat pada
si kecil.
Pencegahan:

Biasakan berperilaku hidup bersih dan sehat.

Simpan makanan dan minuman dengan baik, agar terhindar dari tikus (yang
membawa bakteri tersebut).

Selalu bersihkan botol atau kaleng minuman sebelum berkontak dengan mulut atau
sedotan, yang memungkinkan bakteri masuk ke tubuh.

Cuci tangan dengan sabun sebelum makan.

Cuci tangan, kaki serta bagian tubuh lain dengan sabun setelah terkena banjir.

Jaga kebersihan lingkungan.

Sediakan dan tutup rapat tempat sampah.

Bersihkan tempat air dan kolam renang secara rutin.

Hindari adanya tikus dalam rumah atau gedung.

Bersihkan tempat-tempat yang kemungkinan tercemar oleh tikus dengan desinfektan.