Anda di halaman 1dari 19

ANALISA EKSERGI PADA STEAM POWER PLANT UNTUK BATUBARA

Disusun oleh :
Kelompok 3

Dimas M. Furqon

(0613 4041 1638)

Maya Elvisa

(0613 4041 1653)

Kelas : 6 EG B

Dosen Pembimbing : Imaniah Sriwijayasih, S.ST.,M.T.

PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. karena berkat taufik dan hidayah-Nya
sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu tugas mata
kuliah Energi dan Eksergi dimana selama pembuatan makalah ini penyusun
mendapatkan bimbingan dan arahan serta bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
berjalan dengan baik.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Imaniah selaku dosen
pembimbing mata kuliah Energi dan Eksergi. Tidak lupa penyusun juga mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak, baik yang langsung maupun tidak langsung telah
membantu penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tak luput dari
kesalahan dan kekurangan. Karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat
berguna bagi kita semua, Amin.

Palembang, April 2016

Penyusun

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pembangkit listrik tenaga uap merupakan salah satu penyuplai kebutuhan
listrik saat ini. Sebagian besar PLTU menggunakan bahan bakar fosil sebagai
sumber energi pembangkitan. Bahan bakar fosil tersebut bersifat tidak
terbarukan atau terbatas serta menghasilkan emisi gas rumah kaca sehingga
rekayasa pengoperasian sistem pembangkit menjadi penting. Hal ini dilakukan
untuk mengatasi semakin menipisnya bahan bakar fosil dan mengurangi emisi
gas rumah kaca.
Pada umumnya PLTU yang merupakan sistem pembangkit termal yang
didesain dengan kriteria unjuk kerja yang dievaluasi berdasarkan hukum
termodinamika pertama saja. Energi berguna yang hilang dari sistem tidak dapat
ditentukan dengan hukum termodinamika pertama karena hukum ini tidak
memandang perbedaan antara kualitas dan kuantitas energi sekaligus. Evaluasi
unjuk kerja eksergi berdasarkan hukum termodinamika kedua merupakan
metode yang dapat dimanfaatkan dalam desain, evaluasi, optimasi, dan
pengembangan sistem pembangkit termal. Analisis eksergi bukan hanya dapat
menentukan besar, lokasi, dan penyebab irreversibilitas pada sistem pembangkit
melainkan
merupakan

juga

mengetahui

piranti

efisiensi

yang menarik

komponen
untuk

pembangkit.

Eksergi

mengidentifikasi

lokasi

irreversibilitas atau kerugian eksergi dan tingkat ketidakefisienan dari sistem


pembangkit daya.
1.2.

1.3.

Rumusan Masalah
1.

Apa saja data-data yang diperlukan dalam analisis eksergi ?

2.

Berapa besar eksergi setiap komponen pada sistem PLTU Kolubara?

3.

Berapa besar exergy losses pada setiap komponen sistem PLTU Kolubara?

4.

Bagaimana efisiensi eksergi pada komponen sistem PLTU Kolubara?

Tujuan
1. Mengetahui data-data yang diperlukan dalam analisis eksergi.

2. Mengetahui besarnya eksergi setiap komponen pada sistem PLTU Kolubara.


3. Menghitung exergy losses pada setiap komponen sistem PLTU Kolubara.
4. Menghitung efisiensi eksergi pada komponen sistem PLTU Kolubara.

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1.

Eksergi
Eksergi adalah kata lain yang digunakan untuk menggambarkan energi
yang dapat dimanfaatkan (available energy) atau ukuran kertersediaan energi
untuk melakukan kerja. Eksergi menyajikan standar kualitas energi yang paling
mendasar dan dapat diterima secara universal dengan menggunakan parameterparameter lingkungan sebagai keadaan-keadaan referensi. Eksergi suatu sumber
daya memberikan indikasi seberapa besar kerja yang dapat dilakukan oleh
sumber daya tersebut pada suatu lingkungan tertentu. Konsep eksergi secara
eksplisit memperlihatkan kegunaan (kualitas) suatu energi dan zat sebagai
tambahan selain apa yang dikonsumsi dalam tahapan-tahapan pengkonversian
atau transfer energi. Kapan eksergi mengalami kehilangan kualitasnya, sebagai
akibat adanya eksergi yang dimusnahkan. Istilah-istilah lain yang biasa
digunakan untuk eksergi meliputi energi yang dapat dimanfaatkan (available
energy) dan availabilitas.
Kotas menyatakan bahwa eksergi suatu arus/aliran (stream) stedi dari
suatu zat adalah sama dengan jumlah kerja maksimum yang dapat diperoleh bila
arus tersebut dibawa dari keadaan awalnya ke keadaan mati (dead state) melalui
suatu proses yang mana arus tersebut hanya berinteraksi dengan lingkungan. Jadi
eksergi suatu arus adalah sifat dari keadaan arus tersebut dan keadaan
lingkungan tersebut. Sekalipun suatu sistem berada dalam kesetimbangan
dengan lingkungannya, maka sistem tersebut tidak mungkin lagi untuk
menggunakan energi dalam sistem tersebut untuk menghasilkan kerja. Pada
kondisi ini, eksergi dari suatu sistem telah dimusnahkan sepenuhnya.

2.2.

Lingkungan Referensi Exergi


Exergi sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan dan keadaan

sekeliling sistem. Keadaan sekeliling itu sendiri porsinya juga lebih kecil
daripada lingkungan. Pada lingkungan yang cakupannya lebih luas, sifat intensif
tidak terpengaruh akan proses yang melibatkan sistem dan keadaan sekeliling.
Lingkungan tidak berubah, dan irreversibilitas, walaupun sifat intensif,
lingkungan tidak berubah,tetapi sifat ekstensifnya dapat berubah karena interaksi
dengan sistem lain. Perubahannya meliputi: usaha dalam Ue, entropi S, dan
volume Ve dari lingkungan. Berdasar persamaan:

2.3.

Dead State
Jika suatu sistem berubah menuju ke keadaan lingkungan, maka
kesempatan untuk munculnya kerja semakin berkurang, dan akhirnya akan
didapati suatu keadaan dimana 2 keadaan setimbang dengan yang lain, ini
disebut dead state (keadaan mati). Dalam keadaan mati sistem dan lingkungan
memliki energy, sedangkan exergi adalah nol sebab tidak ada perubahan spontan
dalam sistem maupun lingkungan,dan juga tidak timbul interaksi dengan sistem
lain.

2.4.

Analisis Eksergi
Metode analisis eksergi (analisis kemanfaatan) sangat tepat digunakan
untuk mendorong tercapainya penggunaan sumber daya energi dengan lebih
efektif, karena eksergi memungkinkan untuk menentukan lokasi, penyebab, dan
besar sebenarnya dari kerugian dan pemborosan suatu sistem termal. Dengan
demikian eksergi dapat digunakan dalam sistem baru yang lebih efeisien dan
dapat meningkatkan efisiensi dari sistem yang sudah ada.
2.4.1. Exergi Fisik
Eksergi fisik sebuah sistem tertutup pada keadaan tertentu
diekspresikan sebagai:

dimana U, V, s masing-masing adalah notasi untuk energi dalam, volume


dan entropi sistem pada keadaan tertentu, U0, V0, s0 adalah nilai dari

besaran yang sama pada saat sistem berada pada batas titik mati (dead
state). Total eksergi yang ditransfer berhubungan dengan aliran zat
berdasarkan unit massa dinyatakan dengan:

Eksergi fisik berhubungan dengan tekanan dan temperatur aliran zat.


2.4.2. Eksergi Kimia Bahan Bakar
Untuk sebuah bahan bakar hidrokarbon CaHb pada T0, P0 yang bereaksi
dengan

oksigen

menghasilkan

karbondioksida

dan

air,

dengan

mengasumsi tidak terjadi irreversibilitas, penyelesaian untuk eksergi


kimia bahan bakar adalah :

2.4.3. Pemusnahan Eksergi dan Kehilangan Eksergi


a.

Pemusnahan Eksergi melalui perpindahan panas


Pada keadaan steady, laju eksergi volume kontrol diberikan oleh
persamaan:

Dari kesetimbangan laju energi, , maka laju pemusnahan eksergi


menjadi:

dimana Tha adalah temperatur termodinamika rata-rata.


b. Rasio Pemusnahan Eksergi dan Kehilangan Eksergi

Nilai laju pemusnahan eksergi dan kehilangan eksergi melengkapi


pengukuran inefisiensi sistem termodinamika. Hubungan masingmasing dengan pengukuran ini adalah rasio pemusnahan eksergi dan
serta rasio kehilangan eksergi . Laju pemusnahan eksergi dalam
sebuah komponen sistem dapat dibandingkan terhadap laju eksergi
bahan bakar terhadap keseluruhan sistem, yang memberikan rasio
pemusnahan eksergi:

Kemungkinan lain, komponen laju pemusnahan eksergi dapat


dibandingkan terhadap total laju pemusnahan eksergi dalam sistem,
yang memberikan rasio:

Rasio kehilangan eksergi yaitu dengan membandingkan kehilangan


eksergi bahan bakar yang diberikan terhadap keseluruhan sistem:

Kedua rasio pemusnahan eksergi berguna unuk membandingkan


berbagai komponen pada sistem yang sama. Rasio pemusnahan
eksergi, yD juga digunakan untuk membandingkan komponen serupa
pada sistem yang berbeda dengan menggunakan bahan bakar yang
sama.

2.4.4. Efisiensi Eksergeik


Sebuah sistem pada keadaan stedi, laju eksergi dimana bahan bakar
disuplai dan produk dihasilkan masing-masing dan , kesetimbangan laju
eksergi sistem tersebut adalah:

Efisiensi eksergetik adalah rasio antara eksergi produk dan bahan bakar:

Efisiensi eksergetik menunjukkan persentase eksergi bahan bakar yang


diberikan terhadap sistem yang didapatkan dalam eksergi produk.
Kegunaan penting efisiensi eksergeik adalah untuk mengakses performa
termodinamika sebuah komponen, pembangkit atau industri relatif
terhadap performa komponen, pembangkit atau industri serupa.

BAB 3
PEMBAHASAN
3.1.

Deskripsi Proses pada PLTU Kolubara A5-110 MW


Pembangkit listrik ini menggunakan bahan bakar batubara jenis Lignite.
Batubara tersebut ditambang langsung dari daerah terdekat dengan Pembangkit.
Berikut ini merupakan diagram alir proses dari pembangkit Kolubara.

Gambar 3.1Diagram Alir PLTU Kolubara


Berdasarkan diagram alir tersebut, steam diproduksi di Boiler (B),
diregulasi oleh dua buah valve utama. Setelah mengalir melalui katup utama ke
turbin tekanan tinggi (HPT) untuk diekspansi, steam dikirim kembali ke boiler
untuk dilakukan pemanasan ulang. Setelah pemanasan kembali, steam tersebut
dikirim melalui katup utama ke turbin tekanan medium (IPT) dan dua turbin
tekanan rendah, untuk dilakukan ekspansi lanjut. Boiler juga memperoleh umpan
dari kondensat yang dipanaskan oleh dua buah heat exchanger tekanan tinggi
(HPH1, HPH2) yang di supply dengan uap yang diekstraksi dari High Pressure

Extraction Turbine, dua buah Medium Pressure Regenerative Heat Exchanger


(LPH5, LPH4) yang disupply oleh steam dari Medium Pressure Turbine (IPT),
dan tiga buah Low Pressure Regenerative Heat Exchanger (LPH3, LPH2, LPH1)
yang disupplay dengan steam dari Low Pressure Turbine. Steam dan gas yang
tidak terkondensasi dipisahkan di unit Deaerator (DA). Gas buang dari Low
Pressure Turbine (LPT) secara lengkap dikondensasi di Round Cooled
Condenser (CN), setelah kondensat dipompa dan dipanaskan dalam perjalanan
menuju Deaerator dan Boiler tersebut. Perlu dicatat bahwa dua buah Low
Pressure Regenerative Heat Exchanger (LPH1, LPH2) tidak beroperasi, seperti
ditunjukkan dalam gambar 1.
3.2.

Peralatan Utama pada PLTU Kolubara


a.

Boiler

Pada dasarnya boiler adalah alat yang berfungsi untuk memanaskan air
dengan menggunakan panas dari hasil pembakaran bahan bakar, panas hasil
pembakaran selanjutnya panas hasil pembakaran dialirkan ke air sehingga
menghasilkan steam (uap air yang memiliki temperatur tinggi). Boiler
berfungsi untuk memproduksi steam (uap) yang dapat digunakan untuk
proses/kebutuhan selanjutnya.
b. Turbin

Turbin adalah suatu perangkat yang mengkonversikan energi uap yang


bertemperatur tinggi dan tekanan tinggi menjadi energi mekanik (putaran).
Ekspansi uap yang dihasilkan tergantung dari sudu-sudu (nozzle) pengarah dan
sudu-sudu putar. Ukuran nozzle pengarah dan nozzle putar adalah sebagai
pengatur distribusi tekanan dan kecepatan uap yang masuk ke Turbin. Turbin
uap berkapasitas besar memiliki lebih dari satu silinder cashing.
c.

Kondenser

Kondensor adalah salah satu jenis mesin penukar kalor (heat exchanger)
yang berfungsi untuk mengkondensasikan fluida kerja. Pada sistem tenaga uap,
fungsi utama kondensor adalah untuk mengembalikan exhaust steam dari turbin

ke fase cairnya agar dapat dipompakan kembali ke boiler dan digunakan


kembali. Selain itu, kondensor juga berfungsi untuk menciptakan back pressure
yang rendah (vacuum) pada exhaust turbin . Dengan back pressure yang rendah,
maka efisiensi siklus dan kerja turbin akan meningkat.
d. Feed Water Heater

Feedwater heater adalah sejenis heat exchanger yang dapat dibedakan


menjadi dua macam yaitu closed dan open feedwater heater. Closed feedwater
heater merupakan shell and tube heat exchager yang diklasifikasikan menjadi
dua macam yaitu LPH (Low Pressure Heater) dan HPH (High Pressure Heater).
LPH dan HPH memiliki fungsi utama yang sama yaitu memanaskan air sebelum
masuk boiler agar kerja boiler tidak terlalu berat sehingga tidak membutuhkan
bahan bakar lebih banyak atau dengan kata lain akan meningkatkan efisiensi
siklus secara keseluruhan. Yang membedakan antara LPH dengan HPH adalah
ekstraksi uapnya. Ekstraksi uap pada LPH berasal dari LP (Low Pressure) turbin
sedangkan pada HPH ekstraksi uapnya berasal dari HP (High Pressure) turbin
dan IP (Intermediate Pressure) turbin. Sedangkan open feedwater heater atau
yang disebut deaerator merupakan heat exchanger direct contact type yang
berfungsi untuk memanaskan air setelah dari LPH dan memisahkan antara
oksigen dengan air.
e.

Deaerator

Deaerator adalah alat yang bekerja untuk membuang gas-gas yang


terkandung dalam air umpan boiler, setelah melalui proses pemurnian air (Water
treatment). Selain itu juga Deaerator berfungsi sebagai pemanas awal air pengisi
ketel sebelum disalurkan ke dalam boiler. Deaerator ini bekerja berdasarkan sifat
dari oksigen yang kelarutanya pada air akan berkurang dengan adanya kenaikan
suhu.
Deaerator terdiri dari dua drum dimana drum yang lebih kecil merupakan
tempat pemanasan pendahuluan yang berfungsi membuang gas-gas dari bahan
air ketel sedangkan drum yang lebih besar merupakan tempat penampungan
bahan air ketel yang jatuh dalam drum yang lebih kecil di atasnya. Pada drum
yang lebih kecil terdapat spray nozle yang berfungsi untuk menyemprotkan
bahan air ketel menjadi butiran-butiran halus agar proses pemanasan dan
pembuangan gas-gas dari bahan air ketel lebih sempurna. Selain itu pada drum
yang lebih kecil disediakan satu saluran vent agar gas-gas dapat terbuang
(bersama steam) ke atmosfir.

3.3.

Perhitungan
Berikut ini data analisis eksergi dari PLTU Kolubara.

Tabel 3.1 Properti termodinamika per point pada PLTU Kolubara

Perhitungan Exergy Losses pada tiap alat

Boiler

EIn = E27 + E3 + EFuel


EIn = (25552,18 + 114624,18 + 361764,8) kW
Ein = 501941 kW
Eout = E1 + E4 + EFlue Gas
Eout = (157243,68 + 135296,77 + 13200) kW
Eout = 305740 kW
Ed = Ein - Eout
Ed = (501941 305740) kW
Ed = 196201 kW

Turbin

EIn = E1 + E4 + E10
EIn = (157243,68 + 135296,77 + 56551,93) kW
Ein = 349092 kW
Eout = E2 + E3 + E9 + E8 + E7 + E6 + E11 + E12 + E5
Eout = (8705,77 + 114624,18 + 6195,48 + 1864,92 + 4061,52 + 2949,96 +
2445,76 + 13447,11 +

56551,93) kW

Eout = 210837 kW
Ed = Ein - Eout
Ed = (349092 210837) kW
Ed = 138256 kW

Kondenser

EIn = E13 + E15


EIn = (13447,11 + 160,59) kW
Ein = 13607,7 kW
Eout = E16 + E14
Eout = (6777,18 + 258,34) kW
Eout = 7035,52 kW
Ed = Ein - Eout
Ed = (13607,7 7035,52) kW
Ed = 6572,18 kW

Low Pressure Heater

Deaerator

High Pressure Heater

DAFTAR PUSTAKA
Anindita. 2010. Analisis Exergi. (online); (http://aninditz.blogspot.co.id/2010/12/sedikit
-tentang-exergi.html), diakses tanggal 7 April 2016.
Palamba, Pither. 2011. Analisis Eksergi. (online); https://pitherpalamba.wordpress.com /
2011/04/30/analisis-eksergy/), diakses tanggal 7 April 2016.