Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum III

2016
Mata Kuliah : Wisata Budaya dan Spiritual

Selasa, 04 Oktober

IDENTIFIKASI ELEMEN DAN ASPEK SPIRITUAL DI


MASYARAKAT PERKOTAAN
(Studi Kasus : Manado)
Disusun Oleh :
Kelompok 6 / P2
Muhamad Raka Adrian
Nastiti Anjani
Melsha Zaviera Mahmudia
Adam Fauzan Yogaswara

(J3B115010)
(J3B215024)
(J3B215058)
(J3B115047)

Dosen :
Rini Untari S.Hut, M.Si
Asisten Dosen :
Maulana Yusuf A.md
Rahajeng Dwi Rahmawati A.md

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR

2016
I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

B.

Tujuan

Praktikum identifikasi aspek dan elemen budaya di masyarakat perkotaan memiliki


beberapa tujuan khusus antara lain :

1. Praktikum bertujuan untuk mengenali aspek


dan elemen spiritual pada
masyarakat perkotaan di Manado.
2. Praktikum bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi aspek dan elemen
spiritual pada masyarakat perkotaan di Manado.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

a)

Identifikasi

Suharso dan Retnoningsih (2014) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia


mengartikan bahwa identifikasi adalah tanda kenal diri, bukti diri, penentu, atau
penetapan identitas seseorang, benda, dan sebagainya. Budiman (2006) menjelaskan
identifikasi adalah sebuah proses seseorang menyamakan dirinya dengan sifat-sifat
obyek luar. Obyek ini biasanya manusia tetapi dapat juga benda.
JP Chaplin yang diterjemahkan Kartini Kartono yang dikutip oleh Uttoro
(2008), identifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk
menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak
hanya terjadi melalui serangkaian proses peniruan pola perilaku saja. Proses
identifikasi juga terjadi melalui proses kejiwaaan yang sangat mendalam.
Identifikasi adalah proses pengenalan, menempatkan obyek atu individu dalam suatu
kelas sesuai dengan karakteristik tertentu.
Poerwadarminto (1976) mendefinisikan identifikasi adalah penentuan atau
penetapan identitas seseorang atau benda. Menurut ahli psikoanalisis identifikasi
adalah suatu proses yang dilakukan seseorang, secara tidak sadar, seluruhnya atau
sebagian, atas dasar ikatan emosional dengan tokoh tertentu, sehingga ia berperilaku
atau membayangkan dirinya seakan-akan ia adalah tokoh tersebut. Berdasarkan
pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa identifikasi adalah
penempatan atau penentu identitas seseorang atau benda pada suatu saat tertentu.
b) Spiritual
Burkhard (1993), berpendapat bahwa, spiritualitas meliputi aspek sebagai
berikut: (1) berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian
dalam kehidupan, (2) cara dalam menemukan suatu arti dan tujuan hidup, (3)
memiliki kemampuan dalam menyadari kekuatan dalam untuk menggunakan sumber
dan kekuatan dalam diri sendiri, (4) mempunyai perasaan terikat dengan diri sendiri
dan dengan Pencipta. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan
atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan
untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan penuh
rasa percaya dengan Tuhan.
Ellison (2002) mengemukakan bahwa, spiritual adalah suatu usaha dalam
mencari arti kehidupan, tujuan dan panduan dalam menjalani kehidupan bahkan pada
orang-orang yang tidak memercayai adanya Tuhan. Murray (1991), mendefinisikan

bahwa individual tentang spiritualitas dipengaruhi oleh kultur, perkembangan,


pengalaman hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Dimensi spiritual
berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar,
berusaha untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi
stress emosional, penyakit fisik, atau kematian, yang merupakan kekuatan yang
timbul diluar kekuatan manusia.
c)

Masyarakat Non Perkotaan

Pengertian masyarakat non perkotaan lebih ditekankan pada sifat


kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat kota,
yang lebih cenderung standar kualitas teknologi dan ilmu pengetahuanya di bawah
perkotaan dan cenderung pada suatu sistem yang di wariskan secara turun temurun
( memegang teguh tradisi). Non kota atau desa dan kampung, di indonesia
diterapkan pembagian wilayah menurut admistrasi pemerintahan yang mencakup
pengertian "town" dan "city" dalam bahasa Inggris. Selain itu, terdapat pula
kapitonim desa atau kampung " yang merupakan satuan administrasi negara di
bawa Kabupaten. "Desa atau kampung" dibedakan secara kontras dari kota dasarkan
ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum. Desa atau
kampung didominasi oleh lahan terbuka bukan pemukiman.

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Lokasi dan Waktu


Kegiatan Praktikum Identifikasi Aspek dan Elemen Spiritual di Masyarakat
Perkotaan di Manado dilakukan dengan cara mencari studi literatur dalam beberapa
waktu. Adapun masing masing dari kelompok mencari data secara individu
kemudian semua data yang sudah didapatkan digabungkan menjadi sebuah laporan
yang lengkap. Studi literatur dilakukan pada Selasa, 27 September 2016. Pukul
07.00-11.00 WIB dilaksanakan di kelas CAK 08.
B. Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang digunakan dalam Identifikasi Aspek dan Elemen Spiritual
Masyarakat Perkotaan, dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Bahan dan Alat
No
1
2
3
4
5
6

Nama Alat dan Bahan


Alat Tulis
Modem
Literatur Buku
Microsoft Word
Microsoft
Powerpoint
Printer

Kegunaan
Mencatat dan membuat konsep laporan
Mencari studi literatur
Bahan dalam pembuatan laporan
Mengerjakan laporan
Membuat bahan presentasi
Alat untuk mecetak hasil laporan

C. Teknik Pengambilan Data


Data dari Identifikasi Aspek dan Elemen Spiritual didapatkan dari studi
literatur seperti leaflet, buku, dan internet. Adapun tahapan kerja dalam pratikum ini
adalah sebagai berikut:
1. Menentukan lokasi yang akan di jadikan studi literatur.
2. Mencari studi literatur mengenai permainan tradisional yang digunakan sebagai
bahan kajian di laporan.
3. Mengolah data yang telah diperoleh sesuai dengan format laporan yang telah ada.
4. Menganalisa data yang telah diperoleh sebelum dipaparkan di dalam laporan.

5. Membuat laporan sesuai dengan format yang telah ditentukan.


6. Mengumpulkan laporan.
7. Mempresentasikan hasil laporan menggunakan power point.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Aspek dan elemen spiritual pada masyarakat perkotaan di Kota Manado yang
terdiri dari 4 aspek spiritual dan 5 elemen spiritual dapat di lihat pada Tabel 1.

Tabel 01. Aspek dan Elemen Spiritual pada Masyarakat Perkotaan di Kota
Manado.
No

Aspek dan Elemen


Spiritual

Jenis Spiritual
Ada

Deksripsi

Tidak Ada

Aspek Spiritual
a.
Merasa yakin
bahwa hidup sangat
bermakna.

b. Memiliki
sebuah
komitmen terhadap
aktualisasi potensi
potensi
positif
dalam setiap aspek
kebudayaan.

c.
Menyadari
akan keterkaitan dalam
kehidupan.

d.
Meyakini
bahwa berhubungan
dengan dimensi
trasendensi adalah
menguntungkan.
Elemen Spiritual

Perayaan hari besar umat


kristen yaitu, perayaan hari
natal dan kenaikan yesus
kristus.
Upacara tradisi pernikahan
umat kristen di perkotaan
Manado yaitu, Upacara Toki
Pintu.
Masyarakat
manado
yang
berumat
kristen
protestan
melakukan tradisi
foso
rumages upaya untuk semakin
mendekatkan
diri
denganNya,di dalamnya juga ada
wujud penghormatan terhadap
leluhur.
Upacara adat opo opo.

No

Aspek dan Elemen


Spiritual

a. Kapasitas
Trasendensi

Jenis Spiritual
Ada

Deksripsi

Tidak Ada

Upacara adat opo opo

b. Kemampuan untuk
memasuki kondisi
kesadaran spiritual
yang lebih tinggi.

c. Kemampuan untuk
menyadari
akan
kemampuan
merasakan hal hal
yang suci.
d. Kemampuan untuk
memanfaatkan
sumber sumber
spiritual
untuk
memecahkan
permasalahan dalam
kehidupan.

Rambu Solyaitu, upacara adat


kematian masyarakat Manado
yang bertujuan untuk menghormati
dan menghantarkan arwah orang
yang meninggal dunia menuju
alam roh,yaitu kembali kepada
keabadian bersama para leluhur
mereka
di
sebuah
tempat
peristirahatan

e. Kemampuan untuk
bertingkah
laku
yang baik.

Upacara adat opo opo yang


dilakukan untuk mendapatkan
kesaktian dari opo-opo untuk
tujuan tertentu yang dianggap
baik melalui perantara tonaas,
Selain sebagai perantara dalam
memanggil opo-opo, tonaas
juga berperan sebagai dukun
untuk mengobati orang-orang
sakit
dengan
teknik-teknik
tradisional.

Ritual Gofeca yang dilakukan


setiap tanggal 27 mei untuk
memanjatkan
doa
bagi
kelangsungan hidup masyarakat
daerah pesisir.
Upacara wailan wongko.

Berdasarkan hasil literatur yang didapat mengenai aspek dan elemen spiritual
umat kriten protestan di masyarakat perkotaan manado yang terdiri dari dua bagian
yaitu aspek dan elemen spiritual. Aspek spiritual terdiri dari, 4 aspek dan elemen
spiritual yang terdiri dari 5 elemen yang terdapat di dalam tabel 01. sebagai berikut
a. Aspek Spiritual (Melsha Zaviera Mahmudia J3B215058)
a) Merasa Yakin Bahwa Hidup Sangat Bermakna.
Masyarakat Kota Manado dalam mengimplementasi diri bermakna bagi
kehidupan yaitu, perayaan hari hari besar bagi umat kristen protestan, seperti
Perayaan hari Natal dan Kenaikan yesus kristus. Hari hari besar tersebut dilakukan
setiap tanggal tanggal yang sudah di berlakukan dan diyakini oleh umat kristen
protestan.

Umat kristen protestan di perkotaan Manado perayaan hari natal memiliki pra
natal yang dimulai tanggal 1 desember. Masyarakat manado melakukan safari natal.
Kegiatan safari natal yaitu, mengikuti ibadah setiap kecamatan yang setiap harinya
berbeda. Masyarakat manado melakukan tradisi pawai keliling, dan mengunjungi
makam kerabat atau keluarga dan membersihkan nya. Perayaan natal di masyarakat
manado akan diakhiri di awal bulan januari dan melakukan perayaan yang disebut
kunci taon. Tradisi Taon Kunci adalah tradisi parade dengan berjalan mengelilingi
kampung dengan menggunakan kostum-kostum unik dan menghibur masyarakat
manado. Sejarah tradisi taon kunci sudah dilakukan turun temurun dari nenek
moyang masyarakat perkotaan manado. Tradisi taon kunci bertujuan untuk
merekatkan persaudaraan antar warga masyarakat perkotaan Manado yang dilakukan
secara meriah untuk menyambut hari raya besar natal dan tahun baru. Tradisi taon
kunci dilakukan untuk semua kalangan umur dan masyarakat manado dimulai dari
anak anak, remaja, dewasan, dan kalangan lanjut usia. Tradisi kunci taon terdapat
kegiatan inti dalam tradisi tersebut, yaitu warga atau perserta yang hadir dalam
festival tersebut harus mengenakan berbagai kostum unik dan lucu untuk berpawai di
sepanjang jalan raya perkotaan yang ditentukan. Biasanya, tradisi taon kunci
memiliki tema hari raya natal, maka warga harus mengenakan kostum seperti
sinterklas, pohon natal, dan kue jahe serta para peserta akan berpawai berkeliling di
jalan raya. Tradisi kunci taon juga mengadakan doa bersama dan pertujukan tari dan
musik tradisional khas manado. Kegiatan doa bersama yang dipimpin oleh seorang
pendeta. Seorang pendeta akan memberi siraman rohani pada semua warga
masyarakat yang hadir. Tradisi kunci taon yang dilakukan oleh masyarakat kota
manado beragama kristen protestan untuk menambahkan jiwa spritual di dalam diri
dengan suasana keceriaan dan bercampur kesyukuran kepada tuhan-Nya.
Gambar 01. Tradisi Kunci Taon di Manado

Sumber, Cermati.com
b) Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi potensi positif
dalam setiap aspek kebudayaan.
Umat kristen protestan di masyarakat manado untuk mengaktualisasi potensi
positif dengan mengadakan tradisi upacara pernikahan.Upacara Toki Pintu
merupakan upacara pernikahan yang biasa dilakukan oleh masyarakat kota Manado
yang dianut oleh penduduk beragama kristen protestan. Upacara adat toki pintu
dilaksanakan di salah satu rumah pengantin laki laki atau rumah pengantin
perempuan dalam satu hari. Masyarakat manado mengganti acara pesta malam hari
dengan acara kebaktian dan makan malam.Upacara toki pintu pada waktu hari

adanya kegiatan pemandian pengantin, merias pengantin, dan memakai mahkota atau
topi untuk melaksanakan upacara toki pintu. Waktu siang hari, pengantin pergi ke
catatan sipil dan melaksanakan pengesahan atau pemberkatan pernikahan di gereja
yang kemudian dilanjutkan resepsi pernikahan. Upacara toki pintu diiringi
pelemparan bunga dan waktu malam hari diisi dengan acara kebaktian dan makan
malam. Upacara toki pintu bertujuan untuk menyucikan diri dari hal buruk dan
mensyukuri diri untuk menempuh kehidupan yang baru.
Gambar 01. Upacara Adat Toki Pintu

Sumber Seputarsulut.com
c) Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan
Masyarakat manado yang berumat kristen protestan melakukan tradisi foso
rumages upaya untuk semakin mendekatkan diri dengan-Nya,di dalamnya juga ada
wujud penghormatan terhadap leluhur.
Tradisi foso rumages dilakukan secara turun termurun oleh para walian (pendeta)
untuk menekankan pemberian rasa sykur kepada Pencipta-Nya dan para leluhur opo
kasuruang wangko sebagai pemberi dan pencipta segalanya. Tradisi foso rumages
dilakukan sesudah panen besar yang dilakukan setiap tahun pada bulan juli yang
menggambarkan sebagai rangkaian siklus hidup. Siklus pertanian yang berulang
menunjukkan rangkaian kehidupan dari kegiatan pertanian yaitu, kegiatan mapar,
perombakan hutan, pemberian lahan, menanam, dan panen. Siklus tersebut harus
dihayati, dipahami, dan sebagai pengingat bahwa bagaimana masyarakat manado
umat kristen protestan menjalankan hidup. Tradisi foso rumages melakukan nya
dengan cara Rerumetaan (persembahan khusus bagi Tuhan) dan persembahan
sebagai simbol penghormatan bagi leluhur , dengan cara padi hasil panen perdana,
dimasak di dalam bambu dan dikhususkan untuk Opo Wananatas. Persembahan
untuk foso rumages dimasak dan disediakan sebagai wujud hormat bagi leluhur atau
weteng. Tradisi foso rumages juga persembahannya dalam bentuk binatang seperti
ayam, Pada puncak ritual nya dilakukan sebelum matahari terbit. Ritual foso
rumages menggambarkan mendapat semangat baru untuk kehidupan. Ritual foso
rumages mengundang masyarakat lain, untuk mewujudkan kasih terhadap sesama.
Tradisi foso rumages menghubungkan rasa spiritual antara masyarakat umat kristen
protestan dengan Si Opo Kasuruang Wangko dan Para Leluhur.

d) Meyakini bahwa
menguntungkan

berhubungan

dengan

dimensi

transidensi

adalah

Masyarakat kota manado mempercayai bahwa berhubungan dengan dimensi


transidensi menguntungkan bagi diri sendiri yang menimbulkan rasa kesadaran
terhadap percaya dengan alam roh gaib. Masyarakat kota Manado melakukan ritual
opo opo, ritual untuk perdamaian manusia dengan opo opo. Upacara opo-opo
dilakukan di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di tempat kuburankuburan opo-opo, batu-batu besar, maupun di bawah pohon besar. Pada saat-saat
tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di Watu
Pinabetengan (tempat paling keramat di Minahasa). Upacara opo-opo dilakukan
pada saat tertentu, seperti pada saat malam bulan purnama. Benda-benda sakti yang
sudah diberikan harus diasapi (difufu) dengan membakar kemenyan. Upacara opoopo pada saat upacara pemberian benda sakti batu, akar, dan benda sakti yang
lainnya kepada yang baru membutuhkan. Pemegang benda kekuatan sakti
sebelumnya berjanji akan mematuhi pantangan-pantangan dan bersedia secara
teratur merawatnya sesuai dengan petunjuk, jika gagal memenuhi peraturanperaturan tersebut akan mengakibatkan kekuatan sakti pada benda tersebut hilang
dan benda itu hilang sendiri, atau pemegangnya jatuh sakit. Upacara-upacara tersebut
selalu disajikan sesaji dalam satu wadah yang terdiri atas sirih, pinang, tembakau,
rokok, gambir, kapur dan makanan serta sebotol minuman alkohol untuk semua opoopo yang datang berkunjung melalui tubuh tonaas.
Tonaas sebagai perantara dalam memanggil opo-opo, tonaas juga berperan
sebagai dukun untuk mengobati orang-orang sakit dengan teknik-teknik tradisional
yang disebut makatana. Dukun-dukun ini terbagi menjadi beberapa spesialisasi
seperti dukun yang disebut biyang yang melakukan perawatan kesehatan ibu hamil,
persalinan, dan pasca salin bagi ibu dan bayi. Tukang mawi sebutan untuk dukun
yang
dapat
menunjukkan
siapa
yang
mencuri
barang
seseorang. Madira atau pandoti sebutan bagi orang dapat melakukan guna-guna
atau fui-fui. Tua yaitu orang tua yang berpengetahuan dan yang arif bijaksana di
desa-desa. Dukun-dukun tersebut biasanya melakukan pekerjaan yang baik-baik
seperti mengusir roh-roh jahat sebelum memasuki rumah baru atau terhadap
peristiwa-peristiwa lain. Dukun yang memiliki profesi khusus dalam diagnosa dan
terapi penyakit yang lebih umum diartikan sebagai tou maundam.

b. Elemen Spiritual
a) Kapasitas Trasendensi (Muhamad Raka Adrian J3B115010)

Upacara adat opo-opo yang ada di Kota Manado merupakan suatu tradisi
turun-temurun yang sudah ada di Kota Manado. Upacara adat ini biasa dilakukan
oleh leluhur masyarakat manado yang bertujuan untuk menghalau kekacauan, dan
menjauhkan masyarakat dari penyakit yang mengganggu masyarakat manado.
Upacara adat opo-opo ini memiliki tiga peristiwa yang penting yang ada dalam
upacara. Peristiwa tersebut yaitu Rumages, Rumages merupakan suatu tiupan angin
pertanda kehadiran roh-roh para leluhur. Peristiwa kedua yaitu Tumiwa, Tumiwa
merupakan sumpah setia bersama sebagai kesatuan tanah minahasa. Peristiwa ketiga
yaitu Mangorai, Mangorai ini merupakan suatu kegiatan tarian yang memiliki
gerakan melingkari benda pusaka yang di tengah-tengah penari.
Pada saat peristiwa Rumages berlangsung ada delapan opo (orang tua
minahasa) yang hadir dan berbicara melalui mediator yang disebut para Tonaas yang
menyampaikan pesan-pesan dan nasihat yang disampaikan dari para leluhur untuk
para puyun-puyun (keturunan minahasa). Upacara adat opo-opo ini diyakini oleh
masyarakat manado sebagai pedoman dan petunjuk masyarakat manado untuk
menata hidup yang lebih baik dan menjauhkan serta menyembuhkan masyarakat dari
penyakit yang mengganggu masyarakat sekitar.

Gambar 03. Upacara adat opo-opo


Sumber, http://www.suaramanado.com/berita/manado/
b)

Kemampuan Untuk Memasuki Kondisi Kesadaran Spiritual Yang Lebih


Tinggi (Muhamad Raka Adrian J3B115010)

Masyarakat Kota Manado memiliki sebuah ritual yang bernama Gofeca yang
dilakukan setiap tanggal 27 Mei. Ritual Gofeca ini biasa dilakukan oleh masyarakat
manadi di pesisir Pantai Malalayang Manado. Ritual Gofaca ini diyakini sebagai
ritual adat memanjatkan doa untuk kelangsungan hidup masyarakat pesisir yang
bergantung pada laut. Doa-doa pada Ritual Gofaca menggunakan bahasa bantik yang
sudah hampir punah. Ritual Gofaca dibuka dengan adanya penari-penari cakalele dan
menggunakan pakaian berwarna merah dengan membawa senjata parang. Orang tua
yang mengikuti Ritual Gofaca ini memakai pakaian berwarna putih dan
menggunakan ikat kepala yang berwarna merah. Pemimpin upacara ritual ini
biasanya di pimpin oleh pemuka agama di daerah manado yang berjumlah 6 orang
dan dua diantaranya adalah pendeta.
Konon Ritual Gofeca sudah ada sebelum agama kristen masuk ke daerah
Sulawesi Utara. Ritual Gofeca ini dapat berupa persembahan-persembahan yang
sudah disediakan oleh masyarakat sekitar, dan ketika ritual dimulai masyarakat dapat
memanjatkan doa-doa dan menyanyikan lagu-lagu persembahan. Pada saat matahari
sudah mulai tenggelam, masyarakat mematikan lampu yang ada disekitar lokasi

ritual dan mulai menyalakan obor yang sudah dipersiapkan. Ritual Gofaca memiliki
sebuah kebiasaan yaitu melepaskan sebuah rakit bambu kecil yang bernama gofeca
yang sudah diisi oleh persembahan dari masyarakat sekitar. Rakit gofeca tersebut

kemudian di tarik ke tengah laut menggunakan sebuah perahu motor, dan dilepas di
tengah laut hingga hilang bersama dengan matahari yang terbenam.
Gambar 2 Ritual Gofaca
Sumber : https://kristupa.wordpress.com
c)

Kemampuan untuk menyadari akan kemampuan merasakan hal-hal


suci. (Nastiti Anjani J3B215024)

Agama merupakan aturan atau tatacara hidup manusia dalam hubungannya


dengan Tuhan dan sesamanya. Agama dapat mencakup tata tertib upacara, praktek
pemujaan, dan kepercayaan kepada Tuhan. Agama juga berfungsi sebagai pedoman
hidup manusia, sehingga tercipta suatu hubungan serasi antar manusia dan dengan
Yang Maha Pencipta. Agama Protestan ialah kekristenan di luar kekristenan Katolik
Roma. Istilah Protestan timbul dari aksi protes yang dilakukan oleh penduduk bukan
Katolik di kota Spreyer, Jerman tahun 1529 terhadap keputusan-keputusan 5 Sidang
Parlemen Kerajaan Jerman yang didominasi agama Katolik (Team1990a: 419).
Agama Kristen (termasuk Protestan) merupakan agama terbesar di dunia dengan
jumlah pemeluknya pada tahun 2010 sebanyak 880,625,553 jiwa atau 90% dari total
penduduk dunia. Dasar utama agama Protestan bukanlah tradisi, melainkan Bibel
atau Alkitab (Bleeker, 1985: 89) yang terbagi menjadi dua bagian yaitu: Perjanjian
Lama (The Old Testament) dan Perjanjian Baru (The New Testament) (Abdul, 1994:
77). Di dalam Alkitab dijelaskan mengenai berbagai ibadah atau sembahyang baik
yang bersifat biasa maupun kebaktian (Ahmadi, 1990: 143), termasuk di dalamnya
ibadah puasa. Puasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak makan dan tidak
minum selama waktu tertentu (misalnya Est 4: 16) (Douglas (ed.), 2008:280).
Unsur-unsur religi pribumi masyarakat Manado masih nampak dalam beberapa
upacara adat yang dilakukan orang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sekitar
lingkaran hidup individu, seperti masa hamil, kelahiran, perkawinan, kematian,
maupun dalam bentuk roh-roh leluhur dan kekuatan-kekuatan gaib dalam hidup
sehari-hari,yang baik maupun yang jahat. Orang Manado menyebut dewa dengan
Empung atau Opo. Dewa yang tertinggi disebut Opo Wailan Wangko (Tuhan Allah).
Ia dianggap sebagai pencipta seluruh alam dan dunia serta segala isinya. Sesudah
dewa tertinggi, ada wujud di bawahnya yakni, Karema. Rupanya Karema merupakan
salah satu dari roh leluhur. Karema sendiri berarti mitra, teman (ka-) yang
dihubungkan dengan makan sirih-pinang (lema). Opo ada yang baik dan ada yang

jahat. Opo yang baik akan senantiasa menolong manusia yang dianggap sebagai cucu
mereka, apabila mentaati petunjuk-petunjuk yang diberikan mereka. Pelanggaran
terhadap petunjuk itu dapat mengakibatkan yang bersangkutan mengalami bencana,
kesulitan hidup atau hilangnya kekuatan sakti akibat murka dari Opo-opo tersebut.
Ada juga Opo-opo yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yang tidak baik
seperti untuk mencuri dan berjudi. Opo masih dibagi lagi ke dalam beberapa jenis,
yakni: nenek moyang (dotu), Opo dari setiap kerabat, makhluk-makhluk penghuni
gunung, sungai, mata air, hutan, tanah, pantai/laut, mata angin, dan Opo hujan.
Agama-agama wahyu dalam masyarakat Manado, umumnya orang Manado dikenal
sebagai suatu komunitas Kristen yang juga masih menerima beberapa unsur atau
konsep tertentu dari religi pribumi. Namun dalam kehidupan sehari-hari, unsur-unsur
dari religi pribumi ini berpadu dengan komponen-komponen Kristen dan membentuk
sebuah sinkretisme. Hal ini terlihat dalam upacara-upacara siklus hidup, pengobatan,
dan perilaku keagamaan sehari-hari. Dalam proses sinkretisme ini, unsur-unsur religi
pribumi mengalami penyesuaian maupun transformasi makna sehingga sejalan
dengan agama Kristen. Misalnya, Opo Wailan Wangko sebagai konsep dewa
tertinggi telah dilihat sebagai Tuhan Allah. Namun, di samping itu tentu terjadi juga
beberapa ketidaksesuaian persepsi emic dan etic atas sinkretisme tersebut. Agamaagama yang umum dipeluk oleh masyarakat ialah Protestan, Katolik, Islam, dan
Budha. Sekarang ini Protestanisme merupakan mayoritas (85%) di Manado.
Penganut Islam sendiri terhitung 8% dari populasi penduduk.
d)

Kemampuan untuk memanfaatkan sumber-sumber spiritual untuk


memecahkan masalah dalam kehidupan (Nastiti Anjani J3B215024)

Rambu Solo dalah upacara adat kematian masyarakat Manado yang bertujuan
untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju
alam roh,yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah
tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan
kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah
seluruh prosesi upacara ini digenapi. Upacara tersebut harus berjalan, jika belum,
maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah,
sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di
tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak
berbicara. Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakandisebuah lapangan
khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual,seperti proses
pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas danperak pada peti
jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, danproses
pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir., selain itu, dalam upacara
adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu
kerbau,kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum
disembelih,dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian
Toraja, Manado. Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leherkerbau hanya
dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat TanaToraja. Kerbau yang
akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule Tedong Bonga
yang harganya berkisar antara 10-50 juta atau lebih per ekornya.
Hal ini banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat karena banyak masyarakat yang
akan mendapat jatah dari sembelihan kerbau tersebut danmenjadikanya cadangan

makanan. hal tersebut bisa menjadi pesta atausedekahan. Selain itu pesta ini juga
menghilangkan cemburu antar keluarga karena dalam aturan toraja jika seseorang
yang meninggal tersebut menyayangi anggota keluarga (anak emas) maka anak atau
orang yang disayang tersebutlahyang harus membiayai upacara pemakaman tersebut.

Gambar 03. Upacara Rambu Solo


Sumber : wreck.co.id
e)

Kemampuan untuk bertingkah laku yang baik (Adam Fauzan


Yogaswara J3B215047)

Masyarakat Minahasa yang berada di menado kental dengan budaya dan


aturan adat namun masyarakat minahasa juga taat dalam menganut agama atau
kepercayaan. Masyarakat minahasa dalam sistem kepercayaan, mempercayai roh-roh
akan senantiasa dapat berhubungan dengan manusia. Nasib roh dalam dunia akhirat
ditentukan oleh perbuatan-perbuatan yang dilakukan semasa hidupnya, jika
masyarakat minahasa semasa hidupnya banyak melakukan perbuatan jahat maka
rohnya akan menjadi jahat, begitu pula sebaliknya.
Masyarakat minahasa pada jaman sekarang mengikuti sesuai dengan aturan
agama Kristen, maka konsepsi dunia akhirat yaitu surga bagi orang yang melakukan
hal baik maka akan selamat dari neraka dan bagi yang berdosa lalu tidak percaya
dengan agamanya akan masuk ke neraka. Masyarakat menado melakukan berbagai
perbuatan sebagai usaha manusia untuk mengadakan hubungan dengan dunia gaib,
atau sebagai kelakuan baik yang serba religi atas dasar sesuatu emosi keagamaan,
yang dalam perwujudannya berbentuk upacara keagamaan. Upacara-upacara
keagamaan minahasa, upacara dilaksanakan pada malam hari di rumah tonaas atau
di rumah orang lain. Selain di tempat tersebut juga dilakukan di tempat-tempat yang
dianggap keramat, seperti di tempat kuburan-kuburan (opo-opo), batu-batu besar,
maupun di bawah pohon besar. Waktu pelaksanaan saat-saat tertentu yang dianggap
penting di upacara dapat dilakukan di Watu Pinabetengan (tempat paling keramat di
Minahasa). Upacara yang dilakukan pada tempat ini adalah upacara untuk
mendapatkan kesaktian dari opo-opo untuk tujuan tertentu yang dianggap baik
melalui perantara tonaas, Selain sebagai perantara dalam memanggil opoopo, tonaas juga berperan sebagai dukun untuk mengobati orang-orang sakit dengan
teknik-teknik tradisional.

Gambar 04. Upacara Opo Opo


Sumber, Wikidiaw.co..id

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil studi literatur yang di dapat, identifikasi aspek dan elemen
spritual di masyarakat perkotaan manado umat kristen protestan dapat ditarik
kesimpulan yaitu,
1. Aspek dan elemen spiritual masyarakat perkotaan manado terbagi menjadi dua,
yaitu aspek dan elemen spiritual. Aspek spiritual terdiri dari 4 aspek yaitu, merasa
yakin bahwa hidup sangat bermakna dengan merayakan hari hari besar umat
kristen protestan yaitu, hari raya natal dan kenaikan yesus kristus. Aspek
selanjutnya yaitu, memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi
potensi positif dengan cara upacara adat umat kristen protestan yaitu, upacara toki
pintu. Aspek ketiga yaitu, menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan yang
dilakukan dengan cara tradisi foso rumages (rasa syukur), dan aspek keempat
yaitu, meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transidensi adalah
menguntungkan bagi umat kristen masyarakat manado dengan cara ritual opo
opo. Elemen spiritual yang terdapat di masyarakat perkotaan manado yaitu, terdiri
dari lima elemen spiritual.
2. Aspek dan elemen spiritual di masyarakat perkotaan manado terdiri dari 4 aspek
dan 5 elemen budaya. Elemen budaya terdiri dari kapasitas transendensi dengan
melakukan upacara adat opo opo, kemampuan untuk memasuki kondisi
kesadaran spiritual yang lebih tinggi yang dilakukan dengan ritual gofeca yang
diadakan tiap tanggal 27 mei, kemampuan untuk menyadari akan kemampuan
merasakan hal hal yang suci yaitu dengan cara upacara wailan wongko,
kemampuan untuk memanfaatkan sumber sumber spiritual untuk memecahkan
permasalahan dalam kehidupan yang dilakukan oleh masyarakat manado dengan
cara ritual atau upacara adat rambu solo, dan elemen terakhir yaitu kemampuan
untuk bertingkah laku yang baik dengan cara ritual opo opo yang mempercayai
roh roh untuk kehidupan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Sejarah Pengucapan Syukur. http://www.seputarsulut.com/sejarahpengucapan-syukur-atau-rumages/ [Diakses 29 September 2016 17:00].
Anonim. 2015. Tulude, Manifestasi Daerah Yang Berkepribadian Budaya.
http://www.seputarsulut.com/tulude-manifestasi-daerah-yang-berkepribadianbudaya/ [Diakses 29 September 2016 17:05].
Margaretha.2014. Suasana Malam Natal Berlangsung.
http://www.beritasatu.com/nasional/235788-suasana-malam-natal-di-manadoberlangsung-meriah.html. [Diakses 29 September 2016 17:05].
Anonim. 2015. Tradisi Unik Natal di Indonesia.
https://www.cermati.com/artikel/tradisi-natal-unik-di-berbagai-daerah-diindonesia-1 [Diakses 29 september 2016 17:06].
Anonim.2015.Upacara Keagamaan Suku Minahasa Sebagai Wujud Sinkretisme
Budaya. https://kuliahsejarah.wordpress.com/2015/07/05/upacarakeagamaan-suku-minahasa-sebagai-wujud-sinkretisme-budaya [diakses pada
30 september 2016. 13.00 WIB.]
Jelajahi. 2015. Pengertian Kecerdasan Spiritual.
http://www.jelajahinternet.com/2015/10/10-pengertian-kecerdasanspiritua.html [Diakses 01 Oktober 2016 12:00].