Anda di halaman 1dari 5

MANAJEMEN PAKAN DAN KESEHATAN SOA PAYUNG (Chlamydosaurus kingi)

DI PENANGKARAN PT MEGA CITRINDO

Kelompok 7

Tria Ratu Huzaifah


Dwi Setia Agusti Putri
Hangga Fhambian
Tiara Yasinta Gunara Putri
Dede Lana Bakti
Sani Sari Sri Rejeki

E34130026
E34130028
E34130062
E34130071
E34130084
E34130094

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Indonesia juga menjadi habitat bagi satwa-satwa endemik atau satwa yang hanya
ditemukan di Indonesia saja. Jumlah mamalia endemik Indonesia ada 259 jenis,
kemudian burung 384 jenis dan reptil 173 jenis (Sentanu 1999).
Soa payung (Chlamydosaurus kingii) merupakan salah satu satwa liar yang
terancam punah, dilindungi oleh pemerintah dengan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar
Republik Indonesia. Habitat asli soa payung adalah hutan tropis, hutan savana, dan
hutan terbuka. Soa ini tersebar di Australia dan Papua (Gembiralokazoo 2015).
Kegiatan penangkaran merupakan salah satu jalan dan upaya dalam menjaga
kelestarian populasi Soa payung di alam dan dapat memberikan keuntungan ekonomi
serta menambah devisa bagi negara. Pengetahuan dan perhatian terhadap reptil di
Indonesia masih sangat kurang, terlihat dari belum banyaknya informasi yang akurat
dan penelitian ilmiah yang mengkaji reptil pada umumnya serta Soa payung pada
khususnya (Yusuf 2008). PT Mega Citrindo merupakan salah satu penangkar dan
eksportir Soa payung yang ada di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan adalah
memelihara Soa payung sebelum di ekspor ke luar negeri.
Berdasarkan uraian tersebut diketahui bahwa secara khusus data dan informasi
yang terkait dengan teknik manajemen pakan dan kesehatan dari Soa payung belum
diketahui, padahal untuk dapat mengembangkan usaha penangkaran sangat
diperlukan informasi tersebut. Oleh karena itu laporan ini akan menguraikan
mengenai manajemen pakan dan kesehatan Soa payung penting dilakukan.
1.2 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui teknik manajemen pakan dan
kesehatan Soa payung di PT Mega Citrindo.

BAB 2 METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan penyusunan laporan ini dilakukan pada tanggal 15-22 Mei 2016 di
Kampus IPB Darmaga, Bogor. Kegiatan pengambilan data ini dilakukan di
Penangkaran PT Mega Citrindo terletak di Jalan Mutiara 7 no 33 Desa Curug,
Kecamatan Gunung Sindur, Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada
tanggal 14 Mei 2016.
2.2 Alat dan Objek

Alat dan objek yang digunakan meliputi:


1. Alat: alat tulis, alat perekam suara, kamera
2. Objek: dokumen terkait topik penulisan.
2.3 Metode Pengambilan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka yang terkait
dengan manajemen pakan dan kesehatan dari Soa payung di PT Mega Citrindo.
Aspek pakan yang diamati dan diukur meliputi jenis pakan, waktu pemberian pakan,
pengukuran jumlah pakan, dan cara pemberian pakan pada Soa payung. Sedangkan
pengamatan aspek kesehatan dilakukan dengan studi pustaka, pengamatan langsung
dan wawancara terhadap animal keeper, meliputi jenis penyakit, upaya pencegahan
dan penanggulangan, jenis obat atau desifektan, dan waktu pemberian obat atau
desinfektan.
2.4 Analisis Data
Metode analisis data dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

BAB 3 PEMBAHASAN
3.1. Pembahasan
Soa payung (Chlamydosaurus kingii) merupakan sejenis kadal unik yang
memiliki membran kulit di bagian lehernya. Satwa ini dapat mencapai ukuran sampai
sekitar 90 cm, serta dapat berlari di atas dua kakinya. Habitat aslinya adalah di
Australia dan Papua Nugini. Soa payung adalah satwa arboreal yang berarti
menghabiskan waktu sebagian besar di atas pohon, dan hanya turun jika sedang
mencari makan atau ketika sedang mempertahankan daerah tritorialnya.
Salah satu penangkaran Soa payung (Chlamydosaurus kingii) adalah
Penangkaran Reptil PT. Mega Citrindo Parung. Jumlah Soa payung yang terdapat di
penangkaran ini sebanyak lima ekor, empat ekor berukuran sedang dan satu
berukuran kecil. Soa payung di penangkaran PT. Mega Citrindo diambil dari daerah
Kalimantan. Tujuan utama penangkaran ini adalah untuk penjualan baik skala lokal
maupun nasional, sehingga kesehatan satwa lebih diutamakan. Salah satu penunjang
kesehatan satwa adalah pemberian pakan dan perawatan satwa.
Pakan merupakan komponen habitat yang paling penting, ketersedian pakan
berhubungan erat dengan kesehatan satwa. Makanan pokok Soa payung
(Chlamydosaurus kingii) di Penangkaran Reptil PT. Mega Citrindo Parung adalah
jangkrik. Menurut Maharani (2012), Soa payung adalah satwa omnivora, mereka
dapat memakan serangga, buah dan sayur seperti daun-daunan, kentang manis, wortel
dan kacang-kacangan. Namun umumnya mereka lebih menyukai serangga seperti

jangkrik, ulat sutra, ulat hongkong, dan jenis ulat lainnya. Jangkrik memiliki
kandungan nutrisi dan gizi yang bisa memenuhi kebutuhan gizi hewan peliharaan.
Jangkrik memiliki kadar protein yang tinggi selain bisa menjadi pengganti serangga
yang biasa di konsumsi hewan peliharaan di habitat aslinya (Panghiyangani, 2010).
Pemberian pakan pada Soa payung (Chlamydosaurus kingii) di Penangkaran
Reptil PT. Mega Citrindo Parung dilakukan dengan cara memasukan langsung pakan
(jangkrik) ke dalam kandang. Frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali dalam
seminggu yaitu hari rabu dan jumat pada pukul 10.00 WIB. Setiap satu ekor Soa
payung (Chlamydosaurus kingii) diberikan sembilan ekor jangkrik dalam sekali
pemberian pakan. Pemberian pakan pada Soa payung harus selalu ada dalam
pengawasan penjaga untuk memastikan bahan pakan termakan habis dan
meminimalisir terjadinya penggerogotan kulit Soa payung (Chlamydosaurus kingii)
oleh jangkrik. Pakan (jangkrik) yang diberikan didapatkan dari pasar Parung yang
disimpan pada boks plastik.
Kesehatan satwa merupakan suatu hal yang perlu mendapat perhatian serius
agar produktivitas satwa semakin meningkat. Berdasarkan pengalaman penjaga,
kematian Soa payung (Chlamydosaurus kingii) dalam penangkaran terjadi karena
penyakit cacingan. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya bruntusan pada bagian
perut satwa dan diduga penyakit ini disebabkan oleh tempat penangkaran atau
kandang yang terlalu lembab. Upaya pencegahan penyakit ini dilakukan dengan cara
membersihkan kandang satwa setiap hari dan memberikan ramuan khusus.
Penangkaran Reptil PT. Mega Citrindo Parung memiliki dua dokter hewan untuk
menjaga timbulnya penyakit pada semua jenis satwa sekaligus untuk memeriksa
kesehatan satwa yang ada di penangkaran. Perawatan Soa payung (Chlamydosaurus
kingii) di Penangkaran Reptil PT. Mega Citrindo Parung dengan cara mengeluarkan
kandang satwa dari laboratorium dan menyimpannya di bawah terik matahari saat
pagi hari. Menjemur satwa saat pagi hari dimulai sejak pukul 08.00 WIB sampai
16.00 WIB. Namun, meskipun upaya manajemen kesehatan ini telah dilakukan, Soa
payung yang ada tidak mengalami pertumbuhan seperti seharusnya. Hal ini juga
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan penjaga dari Soa payung.

BAB 4 PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Manajemen pakan yang dilakukan memenuhi kebutuhan Soa payung di PT
Mega Citrindo. Hal ini ditunjukkan oleh pemberian pakan yang teratur dan rutin serta
dilakukan pengawasan. Manajemen kesehatan belum terpenuhi karena masih ada Soa

payung yang mati karena terserang penyakit. Pengetahuan penjaga masih kurang
karena perawatan yang dilakukan hanya berdasarkan dugaan.

Daftar Pustaka
Maharani D. 2012. Manfaat Senyawa Kimia Pada Jangkrik Kalung (Gryllus
Testaceus). Jakarta (ID) : ASTRIK.
Panghiyangani R. 2010. Alternatif Pemanfaatan Tepung Jangkrik Sebagai Anti
Oksidan. Jakarta (ID) : Farmasi University.
Sentanu AB. 1999. Studi Penangkaran dan perilaku kawin ular sanca hijau (Morelia
viridis) di CV Teraria Indonesia [skripsi]. Bogor. Fakultas Kehutanan, Institut
Pertanian Bogor.
Yusuf L R. 2008. Studi kenaekaragaman jenis reptil pada beberapa tipe habitat di eksHPH PT RKI Kabupaten Bungo Propinsi Jambi [skripsi]. Bogor. Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor.