Anda di halaman 1dari 3

Pengaruh Islam dalam Arsitektur

Budaya Islam di Indonesia dimulai pada tahun 13 Masehi ketika di Sumatra bagian utara
muncul kerajaan Islam Pasai di 1292. Dua setengah abad kemudian bersama-sama juga
dengan orang-orang Eropa, Islam datang ke Jawa. Islam tidak menyebar ke kawasan
Indonesia oleh kekuatan politik seperti di India atau Turki namun lebih melalui penyebaran
budaya. Budaya Islam pada arsitektur Indonesia dapat dijumpai di masjid-masjid, istana,
dan bangunan makam.
Menurunnya kekuatan kerajaan Hindu Majapahit di Jawa menandai bergantinya periode
sejarah di Jawa. Kebudayaan Majapahit tersebut meninggalkan kebesarannya dengan
dengan serangkaian candi-candi monumental sampai abad keempat belas. Meskipun
demikian, tidak berarti bahwa "Zaman Klasik" di Jawa ini kemudian diganti dengan zaman
"biadab" dan juga bukanlah awal dari "Abad Kegelapan". Selanjutnya kerajaan-kerajaan
Islam melanjutkan budaya lama Majapahit yang mereka adopsi secara jenius. "New Era"
selanjutnya menghasilkan ikon penting seperti masjid-masjid di Demak, Kudus dan Banten
pada abad keenam belas. Juga dengan situs makam Imogiri dan istana-istana Yogyakarta
dan Surakarta pada abad kedelapan belas. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam tidak
memperkenalkan bentuk-bentuk fisik baru dan ajaran-ajarannyapun diajarkan lebih dalam
cara-cara mistis oleh para sufi, atau dengan kata lain melalui sinkretisme, sayangnya hal
inilah yang mempengaruhi gagalnya Islam sebagai sebuah sistem baru yang benar-benar
tidak menghapuskan warisan Hindu ( lihat Prijotomo, 1988).

Masjid Kudus dengan Gaya Hindu untuk Drum Tower dan Gerbang

Penyebaran Islam secara bertahap di kawasan Indonesia dari abad ke-12 dan seterusnya
dengan memperkenalkan serangkaian penting pengaruh arsitektur. Namun, perubahan dari
gaya lama ke baru yang lebih bersifat ideologis baru kemudian teknologi. Kedatangan Islam
tidak mengarah pada pengenalan bangunan yang sama sekali baru, melainkan melihat dan
menyesuaikan bentuk-bentuk arsitektur yang ada, yang diciptakan kembali atau ditafsirkan

kembali sesuai persyaratan dalam Islam. Menara Kudus, di Jawa Tengah, adalah contoh
dalam kasus ini. Bangunan ini sangat mirip dengan candi dari abad ke-14 di era kerajaan
Majapahit, menara ini diadaptasi untuk kepentingan yang lebih baru dibangun masjid
setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Demikian pula, masjid-masjid di awal perkembangan
Islam di Indonesia murni terinspirasi dari tradisi bangunan local yang ada di Jawa, dan
tempat lain di Nusantara, dengan empat kolom utama yang mendukung atap tengahnya.
Dalam kedua budaya ini empat kolom utama atau Saka Guru mempunyai makna simbolis.
Penyebaran Islam di Indonesia dari abad ke-12 mempunyai pengaruh penting terhadap
arsitektur di Indonesia. Masjid-masjid kuno peninggalan kerajaan Islam memiliki ciri khasnya
masing-masing, namun ciri khas tersebut erat hubungannya dengan daerah tempat masjid
itu berada. Seperti contohnya Menara Kudus, bangunan tersebut sangat mirip dengan candi
di era kerajaan Majapahit. Demikian pula dengan masjid-masjid lainnya yang bentuk
bangunannya mirip dengan unsur bangunan di zaman Hindu-Buddha.
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corakkebudayaan yang
dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yangterlampir sebelumnya. Dengan
masuknya Islam, Indonesia kembali
mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percam
puran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkankebudayaan baru yaitu
kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebuttidak berarti kebudayaan Hindu dan
Budha hilang. Ajaran Islam mulai masuk keIndonesia sekitar abad Penyebaran awal Islam di
Nusantara dilakukan
pedagang- pedagang Arab, Cina, India dan Parsi. Setelah itu, proses penyebaran Islamdilak
ukan oleh kerajaan-kerajaan Islam Nusantara melalui perkawinan, perdagangan
dan peperangan. Banyak masjid yang diagungkan di Indonesia tetapmempertahankan
bentuk asalnya yang menyerupai (misalnya) candiHindu/Buddha bahkan pagoda Asia Timur,
atau juga menggunakan konstruksidan ornamentasi bangunan khas daerah tempat masjid
berada. Pada perkembangan selanjutnya arsitektur mesjid lebih banyak mengadopsi bentuk
dariTimur Tengah, seperti atap kubah bawang dan ornamen, yang diperkenalkanPemerintah
Hindia Belanda. Kalau dilihat dari masa pembangunannya, masjidsangat dipengaruhi pada
budaya yang masuk pada daerah itu. Masjid dulu,khususnya di daerah pulau Jawa, memiliki
bentuk yang hampir sama dengancandi Hindu

Budha. Hal ini karena terjadi akulturasi budaya antara budayasetempat dengan budaya
luar.Antar daerah satu dengan yang lain biasanya jugaterdapat perbedaan bentuk. Hal ini
juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan budaya setempat.
Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut,tidak hanya bersifat
kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilakumasyarakat Indonesia. Wujud akulturasi
dalam seni bangunan dapat terlihat
pada bangunan masjid, makam, istana. Untuk lebih jelasnya silakan Anda simakgambar
berikut

'Masjid Aceh merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia.''


Wujud akulturasi dari masjid kuno seperti yang tampak pada gambarmemiliki ciri sebagai
berikut: Atapnya berbentuk tumpang
yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentu
klimas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengankemuncak untuk
memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut denganMustaka.Tidak dilengkapi
dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjidyang ada di luar Indonesia atau yang
ada sekarang, tetapi dilengkapi dengankentongan atau bedug untuk menyerukan adzan
atau panggilan sholat. Bedug dankentongan merupakan budaya asli Indonesia.Letak masjid
biasanya dekat denganistana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempattempatkeramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.Selain bangunan masjid
sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. Untuk itu
silahkan Anda simak gambar 2 makam SendangDuwur berikut ini