Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

OSTEOARTHRITIS (OA)

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Surgical


Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
Dia Amalindah
NIM. 150070300011131

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
OSTEOARTHRITIS (OA)

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Surgical


Ruang 21 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang

Oleh :
DIA AMALINDAH
NIM. 150070300011131

Telah diperiksa dan disetujui pada :


Hari

Tanggal :

Pembimbing Akademik

Pembimbing Lahan

OSTEOARTHRITIS (OA)
A. Definisi
Osteoartritis
kerusakan

tulang

merupakan
rawan

suatu

sendi

penyakit

yang

berkembang lambat yang tidak diketahui


penyebabnya, meskipun terdapat beberapa
faktor resiko yang berperan. Keadaan ini
ditandai dengan kerusakan dan hilangnya
kartilago

artikular

yang

berakibat

pada

pembentukan osteofit, rasa sakit, pergerakan yang terbatas, deformitas


(Tjokroprawiro, 2007).
Osteoartritis merupakan kelainan sendi non inflamasi yang mengenai sendi
yang dapat digerakkan, terutama sendi penumpu badan, dengan gambaran
patologis yang karakteristik berupa buruknya tulang rawan sendi serta terbentuknya
tulang-tulang baru pada sub kondrial dan tepi-tepi tulang yang membentuk sendi,
sebagai hasil akhir terjadi perubahan biokimia, metabolisme, fisiologis dan patologis
secara serentak pada jaringan hialin rawan, jaringan subkondrial dan jaringan
tulang yang membentuk persendian (Mubin, 2001).
B. Klasifikasi
Osteoartritis menurut Zairin (2008) diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan
etiologi yang mendasari terjadinya, yaitu :
1. Osteoartritis Primer
Osteoarthritis primer atau dapat disebut osteoarthritis idiopatik, tidak
memiliki penyebab yang pasti ( tidak diketahui ) dan tidak disebabkan oleh
penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. Osteoartritis
primer disebabkan oleh tekanan yang berlebihan pada sendi yang menahan
berat tubuh atau tekanan yang normal pada sendi yang lemah. OA primer
sering menyerang sendi jari-jari, panggul dan lutut, tulang belakang servikal
dan lumbal, serta ibu jari. Obesitas juga meningkatkan tekanan pada sendi
yang menahan berat badan.
2. Osteoartritis Sekunder
Osteoartritis sekunder disebabkan oleh trauma kronik atau tiba-tiba pada
sendi. OA sekunder dapat terjadi pada beberapa sendi. OA sekunder
berhubungan dengan beberapa faktor, antara lain:

Trauma, termasuk trauma olah raga

Episode artritis gout atau artritis septik yang berulang

Postur tubuh yang kurang baik atau kelainan tulang yang disebabkan
oleh perkembangan yang tidak normal

Kelainan metabolik dan endokrin

C. Epidemiologi
Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang paling banyak mengenai
terutama pada orang-orang 40 tahun. Di atas 85% orang berusia 65 tahun
menggambarkan osteoarthritis pada gambaran x-ray, meskipun hanya 35%-50%
hanya mengalami gejala. Umur di bawah 45 tahun prevaleensi terjadinya
Osteoarthritis lebih banyak terjadi pada pria sedangkan umur 55 tahun lebih banyak
terjadi pada wanita.
Di Indonesia, prevalensi osteoartritis mencapai 5% pada usia <40 tahun,
30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia >61 tahun. Untuk osteoartritis lutut
prevalensinya cukup tinggi yaitu 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Pasien
OA biasanya mengeluh nyeri waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan
pada sendi yang terkena. Pada derajat nyeri yang berat dan terus menerus bisa
mengganggu mobilitas. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia
menderita cacat karena OA (Darmojo & Hadi, 2006).
D. Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya osteoarthritis menurut Tjokroprawiro (2007)
diantaranya adalah:
1. Umur
Perubahan fisik dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya
usia dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya
berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2. Pengausan
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan
sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi
karena bahan yang harus dikandungnya.
3. Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat
badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis
mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif dan dapat menambah
kegemukan

4. Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang
menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi
tersebut.
5. Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematoid, infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi
peradangan dan pengeluaran enzim perusak matrik rawan sendi oleh
membran synovial dan sel- sel radang.
6. Penyakit Endokrin
Pada hipertiroidisme terjadi produksi air dan garam- garam proteglikan yang
berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehinggga merusak sifat fisik
rawan sendi, ligament. Tendon, synovial, dan kulit pada diabetes melitus,
glukosa akan menyebabkan produksi proteaglandin menurun.
7. Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis,penyakit

wilson,

akronotis,

kalsium

pirofosfat

dapat

mengendapkan homosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal


monosodium urat/ pirofosfat dalam rawan sendi.
E. Patofisiologi
(Terlampir)
F. Manifestasi klinis
Pada umumnya, pasien Osteoarthritis mengatakan bahwa keluhan-keluhan
yang dirasakannya telah berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan.
Berikut adalah keluhan yang dapat dijumpai pada pasien osteoarthritis :
1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama pasien. Nyeri biasanya bertambah
dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan
tertentu terkadang dapat menimbulkan rasa nyeri yang melebihi gerakan lain.
Perubahan ini dapat ditemukan meski osteoarthritis masih tergolong dini
( secara radiologis ). Umumnya bertambah berat dengan semakin beratnya
penyakit sampai sendi hanya bisa digoyangkan dan menjadi kontraktur,
Hambatan gerak dapat konsentris ( seluruh arah gerakan ) maupun eksentris
( salah satu arah gerakan saja ).

2. Hambatan gerakan sendi

Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat secara perlahan sejalan


dengan pertambahan rasa nyeri. Rasa kaku pada sendi dapat timbul setelah
pasien berdiam diri atau tidak melakukan banyak gerakan, seperti duduk di
kursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama, bahkan setelah bangun tidur
di pagi hari (Muttaqin, 2011).
3. Krepitasi
Rasa gemeretak (seringkali sampai terdengar) yang terjadi pada sendi yang
sakit.
4. Pembesaran sendi ( deformitas )
Sendi yang terkena secara perlahan dapat membesar.
5. Pembengkakan sendi yang asimetris
Pembengkakan sendi dapat timbul dikarenakan terjadi efusi pada sendi yang
biasanya tidak banyak ( < 100 cc ) atau karena adanya osteofit, sehingga
bentuk permukaan sendi berubah.
6. Tanda tanda peradangan
Tanda tanda adanya peradangan pada sendi ( nyeri tekan, gangguan gerak,
rasa hangat yang merata, dan warna kemerahan ) dapat dijumpai pada OA
karena adanya synovitis. Biasanya tanda tanda ini tidak menonjol dan
timbul pada perkembangan penyakit yang lebih jauh. Gejala ini sering
dijumpai pada OA lutut (Muttaqin, 2011).
7. Perubahan gaya berjalan
Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan pasien dan merupakan
ancaman yang besar untuk kemandirian pasien OA, terlebih pada pasien
lanjut usia. Keadaan ini selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi
tumpuan berat badan terutama pada OA lutut.
F. Pemeriksaan Diagnostic
1. Pemeriksaan Radiologi
Diagnosis OA selain dari gambaran klinis, juga dapat ditegakkan dengan
gambaran radiologis. Gambaran radiografi
sendi yang menyokong diagnosis OA, ialah:

Penyempitan celah sendi yang seringkali


asimetris (lebih berat pada daerah yang
menanggung beban)

Peningkatan densitas (sclerosis) tulang


subkondral

Kista tulang

Osteofit pada pinggir sendi

Perubahan struktur anatomi sendi

2. Tes Darah
Pada pemeriksaan darah lengkap bisa terjadi anemia dan leukositosis pada OA
yang disertai peradangan, mungkin didapatkan penurunan viskositas, dan
peningkatan ringan sel peradangan (<8000/m).
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya kekurangan serta proses radang aseptik,
cairan dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan osteoarthritis menurut Kasjmir (2003) dan Setyohadi
(2001) adalah sebagai berikut:
1. Istirahat sendi
Istirahat penting karena osteartiritis biasanya disertai rasa lelah yang hebat.
Walaupun rasa lelah dan kekakuan sendi itu bisa timbul setiap hari, tetapi
ada masa- masa ketika pasien merasa lebih baik atau lebih berat. Kekakuan
dan rasa tidak nyaman dapat meningkat apabila beristirahat, hal ini berarti
bahwa pasien dapat mudah terbangun dari tidurnya pada malam hari karena
nyeri.
2. Farmakologi
Obat- obat yang digunakan untuk mengobati penyakit ini adalah:
a. Analgesik oral
o

Non narkotik: parasetamol

Opioid (kodein, tramadol)

b. Antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs)


Obat pilihan utama untuk paien OA adalah Acetaminophen 500mg
maksimal 4 gram perhari. Pemberian obat ini harus hati-hati pada
pasien usia lanjut karena dapat menimbulkan reaksi pada liver dan
ginjal.
c. Chondroprotective
Yang dimaksud dengan chondoprotectie agent adalah obat-obatan yang
dapat menjaga dan merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi
pada pasien OA, sebagian peneliti menggolongkan obat-obatan
tersebut dalam Slow Acting Anti Osteoarthritis Drugs (SAAODs) atau
Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Sampai saat ini
yang termasuk dalam kelompok obat ini adalah: etrasiklin, asam

hialuronat, kondrotin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin-C, superoxide


desmutase dan sebagainya.

Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai efek menghambat kerja


enzime MMP. Salah satu contohnya doxycycline. Sayangnya obat
ini baru dipakai oleh hewan belum dipakai pada manusia.

Glikosaminoglikan, dapat menghambat sejumlah enzim yang


berperan dalam degradasi tulang rawan, antara lain: hialuronidase,
protease, elastase dan cathepsin B1 in vitro dan juga merangsang
sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan
sendi. Pada penelitian Rejholec tahun 1987 pemakaian GAG
selama 5 tahun dapat memberikan perbaikan dalam rasa sakit pada
lutut, naik tangga, kehilangan jam kerja (mangkir), yang secara
statistik bermakna.

Kondroitin sulfat, merupakan komponen penting pada jaringan


kelompok

vertebra,

dan

terutama

terdapat

pada

matriks

ekstraseluler sekeliling sel. Menurut penelitian Ronca dkk (1998),


efektivitas kondroitin sulfat pada pasien OA mungkin melalui 3
mekanisme utama, yaitu : 1. Anti inflamasi 2. Efek metabolik
terhadap sintesis hialuronat dan proteoglikan. 3. Anti degeneratif
melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat oksigen
reaktif.

Vitamin C, dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas


enzim lisozim dan bermanfaat dalam terapi OA

Superoxide Dismutase, dapat diumpai pada setiap sel mamalia


dam mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superoxide dan
hydroxyl radicals. Secara in vitro, radikal superoxide mampu
merusak asam hialuronat, kolagen dan proteoglikan sedang
hydrogen peroxyde dapat merusak kondroitin secara langsung.
Dalam percobaan klinis dilaporkan bahwa pemberian superoxide
dismutase dapat mengurangi keluhan-keluhan pada pasien OA.

3. Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus
menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan
seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.

4. Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang
meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat.
Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi
rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi
dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai
sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik,
ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas.
Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat
otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometrik
lebih baik dari pada isotonik karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi
rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena
berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otototot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan
senadi dari beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
5. Operasi
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan
sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi.
Tindakan

yang

ketidaklurusan

dilakukan
atau

adalah

ketidaksesuaian,

osteotomy

untuk

debridement

mengoreksi
sendi

untuk

menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit.


a. Penggantian engsel (artroplasti)
Engsel yang rusak akan diangkat dan diganti dengan alat yang terbuat
dari plastik atau metal yang disebut prostesis.
b. Pembersihan sambungan (debridemen).
Dokter bedah tulang akan mengangkat serpihan tulang rawan yang
rusak dan mengganggu pergerakan yang menyebabkan nyeri saat
tulang bergerak.

H. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat timbul akibat penanganan osteoarthritis
yang kurang tepat diantaranya yaitu:
1. Malfungsi tulang
2. Kelumpuhan
3. Osteonekrosis
I.

Pencegahan
Untuk mencegah osteoarthritis, lakukan hal-hal berikut:

1.
2.
3.
4.

Konsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran


Minum obat yang direkomendasikan dokter
Jaga gerakan yang dapat menyebabkan cidera tulang
Ketahui batas kemampuan gerakan dan kemampuan mengangkat beban

J. Konsep Asuhan keperawatan


1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan
o
o

Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.
Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien
mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.

b. Pemeriksaan Fisik
1) Aktivitas/istirahat
Gejala: nyeri sendi karena pergerakan, nyeri tekan, yang memburuk dengan
stress dengan sendi, kekakuan senda pada pagi hari, biasanya terjadi secara
bilateral dan simetris.
Tanda: malaise, keterbatasan ruang gerak, atrofi otot, kulit kontraktur atau
kelainan pada sendi dan otot.
2) Kardiovaskular
Gejala: Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
3) Integritas ego
Gejala:

factor-faktor

ketidakmampuan,

stress

akut/kronis

factor-faktor

missal

hubungan

finansial,

social,

pekerjaan,

keputusan

dan

ketidakberdayaan. Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas diri missal
ketergantungan pada orang lain, dan perubahan bentuk anggota tubuh
4) Makanan / cairan
Gejala: ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengonsumsi makanan atau
cairan adekuat : mual, anoreksia, dan kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : penurunan berat badan, dan membrane mukosa kering.
5) Hygiene
Gejala: berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi
secara mandiri, ketergantungan pada orang lain.

6) Neurosensory
Gejala: kebas/ kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari
tangan.
Tanda : pembengkakan sendi simetri

7) Nyeri/kenyamanan
Gejala : fase akut dari nyeri ( disertai / tidak disertai pembengkakan jaringan
lunak pada sendi ), rasa nyeri kronis dan kekakuan ( terutama pada pagi hari ).
8) Keamanan
Gejala : kulit mengkilat, tegang, nodus subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki,
kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga, demam ringan
menetap, kekeringan pada mata, dan membrane mukosa.
9) Interaksi social
Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain, perubahan peran,
isolasi.
c. Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan OA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi
apalagi pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia
merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan
kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian
terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien.
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan agen cedera biologis distruksi
sendi, ditandai dengan mengungkapkan nyeri
b. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri,
ketidaknyamanan, penurunan kekuatan otot
c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan
fisik serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi
d. Resiko trauma berhubungan dengan keterbatasan ketahanan fisik,
perubahan fungsi sendi
e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai penyakit, prognosis
dan
f.

kebutuhan

perawatan

dan

pengobatan

berhubungan

dengan

kurangnya pemahaman/mengingat kesalahan interpretasi informasi.


Gangguan citra tubuh berhubungan dengan deformitas sendi, perubahan
bentuk tubuh pada sendi dan tulang.

3. Perencanaan
No
1.

Diagnosa

Rencana Keperawatan
Tujuan
Intervensi

Keperawatan
Nyeri akut/kronis

Setelah

diberikan

berhubungan

asuhan

keperawatan

selama

3x24

dengan

agen

jam

Pain Management

Lakukan
nyeri

pengkajian
secara

cedera

biologis

distruksi

sendi,

ditandai

dengan

mengungkapkan
nyeri

diharapkan

nyeri

komprehensif termasuk

berkurang/terkontrol

lokasi,

karakteristik,

dengan kriteria hasil :

durasi,

frekuensi,

Mampu

kualitas

mengontrol

penyebab

nyeri,

mampu

menggunakan

nonfarmakologi
untuk mengurangi

reaksi

nonverbal

dari

bantuan)

Evaluasi

pengalaman

nyeri masa lampau

mencari

Kurangi

faktor

presipitasi nyeri

Melaporkan
bahwa

Observasi
ketidaknyamanan

tehnik

nyeri,

faktor

presipitasi

nyeri

(tahu

dan

nyeri

Pilih

dan

lakukan

penanganan

nyeri

(farmakologi,

non

berkurang dengan

farmakologi dan inter

menggunakan

personal)

manajemen nyeri

Mampu mengenali
nyeri

dan

tanda nyeri)
Menyatakan

Ajarkan tentang teknik


non farmakologi

rasa

setelah

untuk

menentukan intervensi

frekuensi

nyaman

nyeri

(skala,

intensitas,

Kaji tipe dan sumber

Berikan analgetik untuk


mengurangi nyeri

nyeri berkurang

Evaluasi

keefektifan

kontrol nyeri

Tanda vital dalam

Tingkatkan istirahat

rentang normal

Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil

Monitor
pasien

penerimaan
tentang

manajemen nyeri
Analgesic Administration

Tentukan

lokasi,

karakteristik,
dan

kualitas,

derajat

sebelum

nyeri

pemberian

obat

Cek

instruksi

tentang

dokter

jenis

obat,

dosis, dan frekuensi

Cek riwayat alergi

Pilih

analgesik

yang

diperlukan

atau

kombinasi

dari

analgesik

ketika

pemberian

lebih

dari

satu

Tentukan

analgesik

pilihan, rute pemberian,


dan dosis optimal

Evaluasi

efektivitas

analgesik, tanda dan


gejala (efek samping)
2.

Gangguan/kerusa

Setelah

diberikan

kan mobilitas fisik

asuhan

keperawatan

b/d deformitas

selama

skeletal, nyeri,

diharapkanhambatan

ketidaknyamanan,

mobilisasi

penurunan

diatasi dengan kriteria :

.kekuatan otot

3x24
fisik

jam,

Exercise therapy :
ambulation

saat latihan

Kaji

kemampuan

pasien

fisik

dalam

mobilisasi

dari peningkatan

Latih

pasien

dalam

pemenuhan kebutuhan

mobilitas

ADLs secara mandiri

Memverbalisasik
an perasaan

sign

dan lihat respon pasien

dalam aktivitas
Mengerti tujuan

vital

sebelm/sesudah latihan

dapat

Klien meningkat

Monitoring

sesuai kemampuan

Dampingi

dan

Bantu

dalam

pasien saat mobilisasi

meningkatkan

dan

kekuatan dan

kebutuhan ADLs ps.

kemampuan

berpindah

bantu

penuhi

Berikan alat Bantu jika


klien memerlukan

Memperagakan

penggunaan alat
Bantu untuk

Bantu klien melakukan


latihan ROM

Ajarkan

pasien

mobilisasi

bagaimana

(walker)

posisi

merubah

dan

berikan

bantuan jika diperlukan


3

Defisit perawatan

Setelah

diberikan

diri b/d

asuhan

keperawatan

kelemahan,

selama 3x24 jam, klien

kerusakan

mampu

persepsi dan

dengan kriteria hasil :

kognitif

merawat

diri yang mandiri.

Sediakan

bantuan

sampai klien mampu


secara

Dapat
dengan bantuan

berpakaian,

makan.

melakukan ADLs
melakukan ADLS

alat-alat

berhias, toileting dan

an kenyamanan

untuk

diri,

Menyatak

kemampuan untuk

kebutuhan

bantu untuk kebersihan

badan

terhadap

Monitor
klien

terbebas dari bau

Monitor kemampuan
klien untuk perawatan

diri

Klien

Self Care assistance : ADLs

utuh

untuk

melakukan self-care.

Dorong klien untuk


melakukan

aktivitas

sehari-hari yang normal


sesuai

kemampuan

yang dimiliki.

Dorong

untuk

melakukan

secara

mandiri,

tapi

beri

bantuan

ketika

klien

tidak
melakukannya.

mampu

Berikan

aktivitas

rutin sehari- hari sesuai


kemampuan.
4.

Resiko trauma b/d

Setelah

diberikan

penurunan fungsi

asuhan

keperawatan

sendi,

selama

keterbatasan

diharapkan

ketahanan fisik

tidak/terhindar
resiko

3x24

trauma

jam,

.
Environmental
Management safety

klien

yang

dari
dengan

Klien terbebas dari

aman

untuk

Identifikasi

kebutuhan

keamanan

pasien,

sesuai dengan kondisi

cedera

fisik dan fungsi kognitif

Klien mampu

pasien

menjelaskan

penyakit

faktor resiko dari

pasien

lingkungan/perilak

lingkungan

pasien

criteria:

Sediakan

dan

riwayat
terdahulu

Menghindarkan

u personal

lingkungan

yang

Mampu

berbahaya

(misalnya

memodifikasi gaya

memindahkan

hidup untuk

perabotan)

mencegah injuri

Memasang

side

rail

tempat tidur

Menyediakan

tempat

tidur yang nyaman dan


bersih

Menempatkan

saklar

lampu ditempat yang


mudah

dijangkau

pasien.

Memberikan
penerangan

yang

cukup

Mengontrol lingkungan
dari kebisingan

Memindahkan barang-

barang

yang

dapat

membahayakan

Berikan
pada

penjelasan
pasien

keluarga
pengunjung

dan
atau
adanya

perubahan

status

kesehatan

dan

penyebab penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Kasjmir, Y. 2003. Penatalaksanaan Osteoartritis yang Refrakter Terhadap NSAIDs.


Dalam Penyakit Kronik dan Degeneratif Penatalaksanaan dalam Praktek
Sehari-hari. Jakarta : Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Mubin, H. 2001. Osteoartritis. Dalam Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Muttaqin, Arif. 2011. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal : Aplikasi Pada Praktik
Klinik Keperawatan. Jakarta : EGC
Nurma, Ningsih lukman. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Musculoskeletal. Jakarta: Salemba Medika
Setyohadi. 2000. Panduan Diagnosis dan Penatalaksanaan Osteoartritis. www.
technorati favorites.com. Diakses tanggal 3 Oktober 2016
Tjokroprawiro. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Surabaya: Airlangga
University Press.
Zairin, N.H. 2014. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika