Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN EKSPLORASI KABUPATEN YAHUKIMO

PROVINSI PAPUA
Diajukan untuk memenuhi tugas akhir Praktikum Geologi Struktur semester IV
Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung. Tahun akademik 2015 / 2016.
Disusun oleh:
Kelompok 5
Shift 2

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG


1437 H / 2016 M

LAPORAN EKSPLORASI KABUPATEN YAHUKIMO


PROVINSI PAPUA

Disusun oleh:
Adetiyo Burhanudin Hakim

(10070113129)

Dani Ahmad Nurdiansyah

(10070114081)

Deantyo Nugroho

(10070114119)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1437 H / 2016 M
LEMBAR PENGESAHAN
Judul

: LAPORAN EKSPLORASI KABUPATEN YAHUKIMO

PROVINSI PAPUA
Waktu Kegiatan
Disusun Oleh

: 11 Mei 2016 01 Juni 2016


: 1. Adetiyo Burhanudin Hakim
2. Dani Ahmad Nurdiansyah
3. Deantyo Nugroho

(10070113129)
(10070114081)
(10070114119)

Bandung, Juni 2016


Menyetujui,

Annisa Noorraya
Asisten Pembimbing

Adi Sutrisno
Koodinator Kampus

Mengetahui.
Kasie Laboratorium Geologi
Dr. Ir. Yunus Ashari, M.T
NIK: D.92.0.158

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat illahi robbi yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan akhir Praktikum Geologi
Struktur pertemuan 7 hingga 10 telah selesai dibuat.

Kami ucapkan terimakasih kepada pihak pihak yang telah membantu dan
membimbing kami dalam pembuatan laporan akhir ini, diantaranya:
1. Orang Tua kami yang telah mendukung dan tetap memotivasi kami dalam
pembuatan laporan akhir ini;
2. Bapak Dr. Ir. Yunus Ashari, M.T selaku Kasie. Laboratorium Geologi, atas
arahan dan perhatiannya; dan
3. Staff asisten Laboratorium Geologi atas bimbingan dan arahannya dalam
pembuatan laporan akhir ini.
Dalam pembuatan laporan akhir ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan. Kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun bagi kami guna penulisan laporan yang lebih baik lagi.
Semoga laporan akhir ini dapat berguna khusunya bagi penulis dan
umumnya bagi seluruh Mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Islam
Bandung.
Wassallamualaikum. Wr. Wb.

Bandung, Juni 2016

Kelompok 5, Shift 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan penambangan merupakan serangkaian kegiatan yang diawali
oleh kegiatan eksplorasi dan diakhiri oleh kegiatan pemasaran. Kegiatan
penambangan menghasilkan output berupa bahan galian yang siap untuk
dipasarkan sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh pasar dengan input
berupa bahan galian yang ditambang dan ditemukan di alam. Kegiatan
eksplorasi merupakan tahap kegiatan pencarian terhadap bahan galian yang
diinginkan.

Kegiatan

tersebut

dilakukan

pada

daerah

yang

berpotensi

terdapatnya bahan galian yang diinginkan dengan didasari interpretasi kondisi


geologi terhadap daerah pengamatan.
Bahan galian yang ditemui di lapangan dapat berupa badan bijih ataupun
suatu perlapisan batuan yang tergantung pada proses keterbentukan bahan
galian tersebut. Cabang ilmu geologi, geologi struktur berperan pada suatu
kegiatan penambangan sebab Suatu bahan galian dapat berbentuk utuh tanpa
adanya pengaruh struktur ataupun sudah terpengaruh oleh struktur. Terdapatnya
faktor struktur geologi pada suatu bahan galian mempengaruhi terhadap metode
penambangan dan estimasi sumberdaya bahan galian tersebut. Bahan galian
yang terpengaruh struktur memiliki perhitungan estimasi sumberdaya dan
cadangan yang berbeda dengan yang tidak terpengaruh struktur sebab adanya
bagian yang hilang saat terkena struktur.
Saat ini, kebutuhan terhadap hasil bahan tambang meningkat seiring
dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi tersebut menuntut perusahaan
tambang untuk meningkatkan produksi hariannya dan melakukan eksplorasi
guna menemukan potensi bahan galian yang lebih besar. Estimasi terhadap
sumberdaya vital untuk dilakukan guna memenuhi kebutuhan pasar terhadap
bahan tambang. Oleh karena itu, dalam perhitungan estimasi sumberdaya perlu
dilakukan dengan seksama dengan memperhatikan input yang diperlukan seperti
ketebalan, bentuk, dan struktur yang mempengaruhi bahan galian. Sehingga
kegiatan pemetaan geologi dan analisis struktur penting dalam kegiatan estimasi.

1.2 Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Pembuatan dari laporan akhir ini dimaksudkan agar praktikan dapat

mengkaji dan menganalisa struktur geologi berdasarkan metode morfometri,


sebaran batuan berdasarkan metode satu, dua, dan tiga titik, kondisi geologi dan
estimasi sumberdaya pada daerah pengamatan.
1.2.2
Tujuan

Membuat dan menganalisa Peta Morfologi, Peta Aliran Sungai, Peta

Kelurusan Struktur, dan Peta Bentuk Lahan;


Membuat Peta Sebaran Batuan pada daerah pengamatan berdasarkan

data lubang bor dengan metode satu, dua, dan tiga titik;
Menganalisa kondisi geologi daerah pengamatan berdasarkan aspek

tektonis, sedimentasi, dan variasi kualitas; dan


Melakukan perhitungan estimasi sumberdaya untuk mengatahui volume
dan tonase bahan galian.

1.3 Lokasi Daerah Penyelidikan


Lokasi daerah pengamatan berada di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua
yang terletak pada koordinat 138045 140014 Bujur Timur dan 3039 5002
Lintang Selatan. Waktu tempuh untuk menuju Kabupaten Yahukimo tidak dapat
dipastikan akibat keterbatasan akses jalan menuju daerah pengamatan.
Kabupaten Yahukimo memiliki luas wilayah 17.152 km2 dimana secara
administratif berbatasan dengan:
Sebelah Barat : Kabupaten Nduga dan Kabupaten Mimika;
Sebelah Utara : Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Jayapura;
Sebelah Timur : Kabupaten Pegunungan Bintang; dan
Sebelah Selatan: Kabupaten Asmat.

1.4 Keadaan Lingkungan


Kabupaten Yahukimo berada pada elevasi yang beragam dengan rentang
ketinggian antara 100 3000 meter di atas permukaan laut. Iklim pada
kabupaten Yahukimo tergolong kedalam iklim basah dengan intensitas hujan rata
rata tahunan selama 21 hari dan suhu harian rata rata 27,40oC.
Kondisi topografi daerah pengamatan memiliki titik terendah pada elevasi
70 mdpl dan titik tertinggi pada elevasi 425 mdpl. Titik terendah pada daerah
pengamatan merupakan aliran sungai sekuen (Aliran sungai utama) yang
menjadi muara bagi sungai sub sekuen (Aliran anak sungai) dari elevasi yang
lebih tinggi pada bagian barat daya dan timur laut daerah pengamatan.

Kondisi topografi pada daerah pengamatan menghasilkan beberapa pola


aliran sungai, yaitu pola aliran sungai dendritik, radial dan paralel. Pola aliran
sungai dendritik mendominasi pada kondisi topografi curam di elevasi 150 mdpl
425 mdpl sementara pola aliran sungai paralel terbentuk pada daerah yang
terkena struktur sesar. Pola aliran sungai radial dapat dilihat secara keseluruhan
bila tidak dibatas oleh IUP daerah pengamatan.
Berdasarkan kondisi topografi daerah pengamatan, didapat kondisi
morfologi yang didominasi oleh topografi menengah curam / berbukit dengan
nilai persen lereng 14 20% dan beda tinggi 50 200 meter yang berada pada
elevasi 150 425 mdpl. Pada elevasi yang lebih rendah terdapat kondisi
morfologi berupa lereng / bergelombang dengan nilai persen lereng 8 13% dan
beda tinggi 12 75 meter yang berada pada elevasi 150 70 mdpl.

PETA ALIRAN SUNGAI

A3

PETA MORFOLOGI
A3

PETA MORFOMETRI
A3

1.5 Waktu
Kegiatan eksplorasi pada daerah pengamatan dilakukan dalam rentang
waktu 11 Mei 2016 hingga 01 Juni 2016 dan menghasilkan output berupa peta
yang berkaitan terhadap daerah pengamatan, seperti Peta Morfologi dan Peta
Kondisi Geologi. Berikut silabus output yang dihasilkan selama kegiatan
eksplorasi pada daerah pengamatan.
Tabel 1
Output Kegiatan Eksplorasi

Sumber: Kegiatan Eksplorasi Kelompok 5, Shift 2

1.6 Pelaksanaan dan Peralatan


Kegiatan eksplorasi pada daerah pengamatan dilakukan oleh tiga engineer
dari Universitas Islam Bandung, yaitu Adetiyo Burhanudin Hakim, Dani Ahmad
Nurdiansyah, dan Deantyo Nugroho. Kegiatan eksplorasi dilakukan pada IUP
daerah pengamatan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua yang terindikasi
adanya bahan galian yang dicari. Peralatan yang digunakan pada kegiatan
eksplorasi berupa kompas dan palu geologi, alat tulis, plastik sampel, peta
geologi, dan loope.

1.7 Penyelidikan Terdahulu


Berdasarkan kegiatan eksplorasi yang dilakukan di wilayah Provinsi Papua,
terdapat bermacam deposit mineral logam dengan jumlah cadangan yang
bernilai ekomonis. Mineral logam yang cukup berlimpah keterdapatannya adalah
logam mulia berupa emas dan perak serta logam dasar berupa tembaga dan
besi.
Deposit emas, perak, dan tembaga ditemukan dalam batuan induknya saat
kegiatan eksplorasi di kompleks pegunungan tengah yang meliputi Kabupaten
Mimika, Jayawijaya, Puncak Jaya, Puncak, Yahukimo, Pegunungan Bintang,
Tolikara, dan Lanijaya. Cadangan total emas primer pada wilayah tersebut
mencapai 2.878,626 juta ton.

1.8 Geologi Umum


Berdasarkan keadaan geologi pada daerah pengamatan di Kabupaten
Yahukimo, Provinsi Papua bahwa terdapat empat jenis batuan yang ada, yaitu
batu gamping, batu beku, sedimen lepas, dan sedimen padu. Informasi tersebut
didapat dari peta geologi regional provinsi papua.

Sumber: papua.go.id

Gambar 1.1
Peta Geologi Regional Papua

BAB II
KEGIATAN PENYELIDIKAN

2.1 Persiapan
Kegiatan eksplorasi dilakukan pada daerah pengamatan yang berpotensi
terdapatnya

bahan

galian

yang

dicari.

Pengetahuan

mengenai

daerah

pengamatan dapat diketahui melalui interpretasi peta topografi dan peta geologi
regional daerah pengamatan.
Terdapat empat tahapan eksplorasi, yaitu survei tinjau, prospeksi umum,
eksplorasi awal, dan eksplorasi rinci. Pembagian tahapan ekplorasi bertujuan
untuk membagi ruang lingkup data yang diambil dan perlakuan terhadap bahan
galian yang ditemui di lapangan. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada
daerah pengamatan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua merupakan
tahapan eksplorasi survei tinjau. Survei tinjau merupakan tahapan awal dari
rangkaian kegiatan eksplorasi.
Interpretasi terhadap peta geologi regional dan pemotretan udara ataupun
citra satelit merupakan langkah awal dalam mengidentifikasi daerah pengamatan
guna menmukan daerah yang prospektif akan bahan galiannya untuk diselidiki
lebih lanjut. Penyelidikan geologi langsung di lapangan juga dilakukan dengan
melakukan parit uji dan sumur uji. Berdasarkan tahapan eksplorasi survei tinjau,
didapat data mengenai daerah pengamatan, yaitu:
Sampel batuan;
Lithologi batuan; dan
Struktur geologi pada singkapan.
Peralatan dan perlengkapan yang digunakan pada tahapan eksplorasi
survei tinjau, yaitu peta geologi, peta topografi, citra landsat, peralatan
pembuatan sumur uji, plastik sampel dan peralatan lainnya yang digunakan
dalam pengambilan data.

2.2 Pemetaan Geologi


Berdasarkan data yang digunakan dalam pembuatan peta sebaran yaitu
data singkapan dan data yang digunakan dalam pembuatan peta sumberdaya
batubara yaitu data loggin, terdapat dua metode pemetaan geologi yang
digunakan yaitu pemetaan geologi permukaan dan bawah permukaan.
Pada pemetaan geologi permukaan, pengukuran stratigrafi dilakukan untuk
mendapatkan data terhadap singkapan yang ditemui pada derah pengamatan.
Pengukuran stratigrafi dilakukan dengan menggunakan tali meteran dan kompas
pada singkapan yang ditemui. Output yang dihasilkan dari pengukuran stratigrafi

berupa urutan dan ketebalan perlapisan batuan dan jurus serta kemiringan pada
setiap singkapan. Data tersebut kemudian digunakan dalam pembuatan peta
sebaran batuan daerah pengamatan.
Pemetaan geologi bawah permukan dengan metode geofisika lubang bor
dilakukan untuk mendapatkan rekaman log secara terperinci pada suatu lubang
bor. Dalam suatu kegiatan pengeboran, informasi mengenai urutan batuan dapat
diketahui melalui cutting ataupun core tergantung pada teknik yang digunakan.
Penggunaan geofisika lubang bor diterapkan pada ekplorasi batubara yang tidak
hanya untuk mengetahui urutan batuan tetapi juga kedalaman dan ketebalan
serta kualitas batubara.

BAB III
HASIL PENYELIDIKAN

3.1 Geologi
Keadaan geologi pada daerah pengamatan dijelaskan melalui peta sebaran
batuan yang dibuat berdasarkan data singkapan pada daerah pengamatan.
Terdapat tujuh singkapan yang ditemui di lapangan dengan data ketebalan dan
lithologi yang berbeda beda. Secara keseluruhan, terdapat tiga lithologi batuan,

yaitu batu pasir, batu lanau, dan batu lempung. Pembagian sebaran batuan
kedalam tiga jenis batuan tersebut dibuat dengan menggunakan metode satu titik
dan dua titik berdasarkan data singkapan. Ketiga jenis batuan tersebut tergolong
ke jenis batuan sedimen yang terbentuk melalui proses sedimentasi.
Keterdapatan batuan yang tergolong batuan sedimen pada daerah
pengamatan berbeda dengan bentuk lahan daerah pengamatan berupa
struktural. Keterbentukan batuan sedimen berada pada lingkungan yang
mendukung untuk terjadinya proses sedimentasi, seperti daerah aliran sungai
ataupun cekungan yang merupakan zona pengendapan. Sementara, daerah
pengamatan memiliki bentuk lahan struktural yang terkontrol oleh pergerakan
struktur. Perbedaan bentuk lahan tersebut dapat disebabkan adanya perubahan
kondisi pada daerah pengamatan. Saat bentuk lahan berupa denudasi
(Pengendapan), batuan sedimen terbentuk melalui proses sedimentasi. Seiring
berjalannya waktu, perkembangan struktur pada daerah pengamatan semakin
aktif sehingga berubah menjadi struktural dari denudasi.
Adanya struktur berupa sesar pada daerah pengamatan berpengaruh
terhadap sebaran batuan yang ada. Jenis sesar yang terbentuk adalah sesar
mendatar yang ditandai dengan adanya perbelokan sungai secara tiba tiba
pada bagian timur daerah pengamatan. Bagian selatan zona sesar mengalami
pergeseran sebesar heave 20 meter ke arah timur daerah pengamatan.
Pengaruh

struktur

terhadap

suatu

perlapisan

batuan

mengakibatkan

ketidakmenerusan perlapisan tersebut dan keberadaan struktur pada suatu


daerah pengamatan dapat dilihat melalui kondisi bentang alam pada daerah
tersebut.

PETA SEBARAN BATUAN


A3

3.2 Endapan Bahan Galian


Endapan bahan galian pada daerah pengamatan dijelaskan melalui
pembuatan peta seam batubara berdasarkan data pengeboran yang ada.
Terdapat tiga seam batubara pada daerah pengamatan, yaitu seam 13, seam 15,
dan seam 19 dengan data ketebalan dan lubang bor yang berbeda beda.
Keterdapatan batubara pada daerah pengamatan terpengaruh oleh adanya
struktur sesar.
Kondisi geologi pada daerah pengamatan, tergolong kedalam kondisi
geologi moderat. Penentuan kondisi geologi didasarkan atas tiga parameter,
yaitu aspek tektonis, aspek sedimentasi, dan variasi kualitas.
Berdasarkan ketiga peta seam batubara, didapat nilai statistik terhadap
ketebalan batubara dan frekuensi pada masing masing lubang bor.
Pengoboran yang dilakukan menghasilkan data terperinci terhadap sampel
batuan yang didapat. Variasi ketebalan didominasi pada range ketebalan 3,33
meter hingga 3,81 meter dengan posisi kedua berada pada range ketebalan 2,35
meter hingg 2,83 meter. Ketebalan pada masing masing lubang bor
berpengaruh terhadap perhitungan sumberdaya setiap seam batubara.
Homogenitas batubara dapat dilihat melalui data statistik yang menunjukan
data lubang bor terhadap ketebalan. Semakin banyak titik yang mendekati garis
linear, maka semakin homogen batubara yang terdapat pada daerah
pengamatan. Berdasarkan data yang didapat, terlihat bahwa tidak semua data
lubang bor mendekati garis linier.

Distribusi Ketebalan terhadap Frekuensi


30
25
20
Drekuensi 15
10
5
0
Range Ketebalan

Sumber: Kegiatan Asistensi Geostruk Kelompok 5, 2106

Grafik 3.1
Grafik Distribusi Ketebalan terhadap Frekuensi

Data Lubang Bor terhadap Ketebalan


4
f(x) = 0.03x + 2.43
R = 0.76

3
Ketebalan

Linear ()

1
0
0

10 15 20 25 30 35 40 45
Data Lubang Bor

Sumber: Kegiatan Asistensi Geostruk Kelompok 5, 2106

Grafik 3.2
Grafik Data Lubang Bor terhadap Ketebalan

3.3 Estimasi Sumberdaya Bahan Galian


Berdasarkan peta sumberdaya batubara, terdapat tiga perhitungan
sumberdaya terhadap keterdapatan batubara yang didasarkan pada tiga jarak
informasi, yaitu terukur, terunjuk, dan tereka. Perhitungan didasarkan pada tiga
jarak informasi untuk mengetahui sumberdaya batubara pada cakupan daerah
yang berbeda beda. Sumberdaya tereka memiliki cakupan daerah yang paling
besar dan sumberdaya terukur memiliki cakupan daerah yang paling kecil. Hal

tersebut disebabkan karena pada pengukuran tereka, perhitungan sumberdaya


didasarkan pada perekaan atau guessing terhadap batubara yang ada
sementara pengukuran terukur sudah didasarkan terhadap keadaan batubara
yang sebenarnya dengan mempertimbangkan aspek kuantitas dan kualitas.
Berdasarkan perhitungan sumberdaya, bahwa sumberdaya terukur memiliki nilai
terbesar dibanding dengan sumberdaya terunjuk dan tereka.
Kondisi batubara pada daerah pengamatan terbentuk melalui genesa drift
yang ditunjukkan dengan perlapisan batubara secara horizontal. Suatu
perlapisan batubara yang aktif terkena struktur, umumnya memiliki kadar yang
tinggi dibandingkan dengan batubara yang pasif terhadap struktur. Pada daerah
pengamatan, terdapat struktur berupa sesar mendatar dengan heave 20 meter
ke arah kanan.
Keterdapatan struktur berupa sesar dapat meningkatkan kadar batubara
tetapi hanya pada sepanjang zona sesar. Berbeda bila suatu perlapisan batubara
terkena lipatan yang dimana keseluruhan perlapisan batubara terlipat dan
mengalami peningkatan kadar.
Selain pengaruh dari struktur terhadap perlapisan batubara, jenis batuan
pada roof dan floor ikut mempengaruhi terhadap kadar batubara. Perlapisan
batubara yang tersisip dengan roof berupa lempung memiliki kadar yang tinggi
sementara bila roof berupa pasir maka batubara memiliki kadar yang rendah.
Lempung merupakan lapisan impermeable sehingga air terhalang untuk masuk
ke perlapisan batubara sehingga mempertahankan bahkan meningkatkan kadar.
Keterbentukan batubara di alam mengalami beberapa tahapan yang
diawali dengan gambut dan diakhiri dengan graphit. Semakin lama proses
keterbentukan batubara maka semakin meningkat massa jenis dan kadar dari
batubara tersebut.
Pada dasarnya batubara merupakan bahan galian yang mudah untuk
ditambang sebab bentuk bahan galian yang umumnya berlapis (Horizontal).
Tetapi tidak semua batubara dapat ditambang dengan memperhatikan aspek
kadar dan ketebalan dari seam batubara tersebut. Selain dari segi kadar dan
ketebalan, keekonomisan dalam proses penambangan batubara tersebut juga
diperhatikan. Oleh sebab itu keterdapatan suatu bahan galian terbagi menjadi
dua, yaitu sumberdaya dan cadangan untuk memudahkan dalam proses
penambangan nantinya.

PETA SEAM 13
A3

PETA SEAM 15
A3

PETA SEAM 19
A3

KESIMPULAN

Berdasarkan pembuatan peta morfolofi, peta aliran sungai, peta kelurusan


struktur, dan peta bentuk lahan dapat disimpulkan bahwa bentuk lahan atau
bentang alam suatu daerah dipengaruhi oleh struktur yang terbentuk dan jenis
batuan yang ada pada daerah pengamatan. Keterdapatan suatu struktur dapat
diketahui tidak hanya melalui bentuk atau bentang lahan yang ada tetapi dapat
juga melalui aliran sungai yang terbentuk. Pada daerah pengamatan, terlihat
adanya struktur berupa sesar dengan pergerakan ke arah timur sebesar 20
meter melalui pembelokan secara tiba tiba pada aliran sungai di bagian timur
daerah pengamatan. Setiap aspek yang ada pada daerah pengamatan saling
menjelaskan antar satu dengan lainnya. Seperti penentuan bentuk lahan yaitu
struktural yang didasarkan atas aktif atau tidaknya struktur, dimana struktur
tersebut juga mempengaruhi terhadap bentang alam daerah tersebut.
Pembuatan peta sebaran batuan berdasarkan data singkapan bertujuan
untuk mengetahui jenis batuan dan batasan sebaran batuan pada daerah
pengamatan. Terdapat tiga jenis batuan yang tersebar, yaitu batu pasir, batu
lempung, dan batu lanau. Sebaran ketiga jenis batuan tersebut didapat melalui
penggambaran sebaran batuan berdasarkan metode satu atau dua titik.
Penggunaan metode satu atau dua titik didasarkan pada data yang dimiliki untuk
penggambaran sebaran batuan.
Kondisi

geologi

daerah

pengamatan

termasuk

ke

jenis

moderat.

Penggolongan tersebut berdasarkan aspek tektonis, aspek sedimentasi, dan

variasi kualitas pada daerah pengamatan. Variasi ketebalan pada daerah


pengamatan yang cukup bervariasi dan adanya struktur berupa sesar mewakili
terhadap penentuan kondisi geologi daerah pengamatan, yaitu moderat.
Perhitungan sumberdaya batubara pada daerah pengamatan menghasilkan
nilai volume dan tonase pada masing masing jarak informasi, yaitu terukur,
terunjuk, dan tereka. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, didapat volume
dan tonase terbesar pada jarak informasi terukur di seam13. Perhitungan
sumberdaya merupakan kegiatan vital yang memerlukan ketelitian dalam
perhitungannya.
Berdasarkan perhitungan sumberdaya, dapat diketahui cadangan batubara
pada daerah tersebut yang berpengaruh terhadap perhitungan keuntungan yang
diterima oleh perusahaan tambang. Oleh sebab itu, segala parameter yang
diperlukan dalam perhitungan sumberdaya dan cadang harus diperhatikan,
seperti keberadaan struktur yang mempengaruhi bahan galian.

DAFTAR PUSTAKA

Afan.

2012.

Pola

Penyebaran

Singkapan,

http://afanmining10.blogspot.com/2012/11/pola-singkapangeologi.html. Diakses pada tanggal 14 Juni 2016.


Amin,

Yadil.

2011

Geologi

Struktur.

http://belajar-

geologi.blogspot.co.id/2011/11/geologi-struktur-gs-part-i.html. Diakses
pada tanggal 14 Juni 2016.
Anonim,

2011,

Estimasi

Sumber

Daya

Mineral,

http://jurnalkesimpulan.blosgpot-com/2011/05/estimasi-sumberdaya/html.
Diakses pada 14 Juni 2016.
Anonymous. 2012. Problema Tiga Titik dan Pola Penyebaran Singkapan
http://dc254.4shared.com/doc/pS6QtC68/preview.html. Diakses pada
tanggal 14 Juni 2016.
Anonymous.

2011

Pemetaan

Geologi.

dc.blogspot.co.id/2011/12/pemetaan-geologi.html.

http://erwyneDiakses

pada

tanggal 14 Juni 2016.


Kurniawan,

Widhi.

2013.

Peta

Geologi.

https://allaboutgeo.wordpress.com/2013/11/23/peta-geologi/. Diakses
pada tanggal 14 Juni 2016.
Wijaya,

Hadi,

2011,

Estimasi

Sumber

Daya

Mineral,

http://hadiwijayatambang-blosgpot.com/2011/05/estimasi-sumberdayamineral/html. Diakses pada 14 Juni 2016.