Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

(Pengukuran Perubahan Tekanan Udara Akibat Perubahan Volume)

Oleh :
Nama

: Winda Mariana

NPM

: 240110150006

Hari, Tgl Praktikum : Senin, 21 Maret 2016


Asisten Dosen

: 1. Adams Rizan Abdalla


2. Dita Luthfiani C. D.
3. Feby Febryani Santana
4. Nirmaya Arti Utami
5. Riska Dwi W. T.
6. Rizkiyanti Dwi H. M.

LABORATORIUM SUMBERDAYA AIR


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari baik secara langsung ataupun tidak
langsung makhluk hidup pada dasarnya selalu membutuhkan udara baik untuk
bernafas ataupun melakukan kegiatan lain. Udara adalah salah satu zat yang
berbentuk gas. Gas adalah materi yang encer. Sifat ini disebabkan interaksi yang
lemah diantara partikelpartikel penyusunnya sehingga perilaku termalnya relatif
sederhana. Sebuah gas memiliki volume dan tekanan. Tekanan tersebut jika
bergerak dinamakan angin. Udara akan menekan jika menabrak benda
didepannya. Tekanan tersebut diakibatkan oleh kandungan uap air didalam udara
sehingga udara mempunyai berat atau volume. Kedua komponen tersebut saling
mempengaruhi satu sama lain. Jika volume berubah maka tekanan pun berubah.
Begitu pula sebaliknya. Tekanan udara juga dipengaruhi oleh ketinggian pada
suatu tempat. Salah satu contoh akibat adanya tekanan udara adalah pada pesawat
terbang dan juga gelas yang diisi air namun airnya tidak keluar. Hal ini tentu
diakibatkan oleh adanya tekanan udara dibawahnya sehingga hal tersebut bisa
terjadi. Hal ini penting untuk diketahui dan dipelajari sehingga tekanan udara
yang ada disekeliling kehidupan ini dapat dibuktikan dan benar adanya.
Menurut hukum Boyle, tekanan gas dan volume akan bernilai konstan
apabila massa, suhu dan berat tetap. Pada pratikum kali ini akan membahas
tentang mengukur perubahan tekanan udara akibat perubahan volume. Ini
dilakukan untuk mengetahui apakah ada perubahan volume udara akibat
perubahan tekanan dan bagaimana volume udara jika tekanan diperbesar atau
diperkecil
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mengetahui perubahan tekanan udara akibat perubahan volume.
2. Menghitung besarnya gaya dari tekanan udara dan perubahan volume.
3. Mengetahui hubungan antara tekanan udara dan perubahan volume.
4. Mengetahui penggunaan Hukum Boyle.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tekanan Udara (Atmosfir)
Udara adalah campuran berbagai gas, jadi mempunyai berat dan
memberikan efek tekanan yang biasa dinamakan tekanan udara. Tekanan udara
adalah tekanan yang diberikan oleh udara karena beratnya kepada tiap-tiap 1 cm 2
bidang mendatar dari permukaan bumi sampai batas atmosfer. Makin tinggi suatu
permukaan maka kerapatan udara semakin kecil kolom udaranya semakin pendek.
Tekanan udara juga dapat didefinisikan sebagai akibat benturan antar
molekul-molekul udara dan atom-atom gas di udara sehingga menimbulkan gaya
per satuan luas udara tersebut. Mengingat gerak molekul-molekul dan atom-atom
gas setelah benturan akan ke segala arah, maka gaya yang terjadi juga ke segala
arah. Akibatnya arah tekanan udara dapat terjadi ke segala arah pula. Tekanan
udara pada suatu permukaan didefinisikan sebagai gaya atau berat yang diberikan
oleh sekolom udara diatas suatu permukaan atau area kepada suatu permukaan
atau area tersebut. Tekanan yang diberikan tersebut sebanding dengan massa
udara secara vertikal diatas permukaan tersebut sampai pada batas lapisan.
Tekanan udara semakin rendah apabila semakin tinggi dari permukaan laut.
Sehingga tekanan udara selalu berkurang dengan bertambahnya ketinggian. Hal
ini disebabkan karena semakin tinggi dari permukaan bumi maka daerah tersebut
banyak menerima panas matahari, udaranya akan mengembang dan naik. Oleh
karena itu daerah tersebut bertekanan udara rendah.
Udara disebut sebagai berat udara di atas permukaan tanah menghasilkan
daya tekan ke bumi. Tekanan udara juga bisa diartikan sebagai tenaga yang
bekerja untuk menggerakkan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu.
Kepadatan udara tidak sepadat tanah dan air. Namun udarapun mempunyai berat
dan tekanan. Udara yang mengembang menghasilkan tekanan udara yang lebih
rendah. Sebaliknya, udara yang berat menghasilkan tekanan yang lebih tinggi.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan udara disebabkan


oleh:
1. Lintang Bumi
Pengaruh lintang bumi melalui temperature menghasilkan pola mintakat
tekanan udara pada permukaan bumi yang simetris. Sepanjang katulistiwa
terdapat lingkaran tekanan rendah (cold pola latitude) terdapat daerah yang terus
menerus bertekanan tinggi. Ditengah-tengah antara 60 0 -700 terdapat lingkaran
tekanan rendah subpolar (subpolar lows). Antara 250-350 terdapat lingkaran
tekanan tinggi subtropika. Mintakat-mintakat tekanan ini disamping disebabkan
oleh temperature juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti angin.
Lingkaran-lingkaran tekanan ini juga tidak permanen akan tetapi sangat
dipengarhi oleh pergerakan tahunan dari matahari dan sebaran daratan dan lautan.
2. Sebaran Lautan dan Daratan
Pengaruh sebaran daratan dan lautan ini sangat jelas pada lintang-lintang
pertengahan. Pada musim dingin benua relatif lebih dingin dan mempunyai
tendensi membentuk pusat-pusat tekanan tinggi. Pada musim panas lebih panas
dari pada lautan dan mempunyai tendensi diliputi oleh pusat-pusat pusat-pusat
tekanan rendah. Sebaliknya lautan dipengaruhi tekanan rendah pada musim dingin
dan tekanan tinggi pada musim panas. Dari peta isobar yang menunjukan tekanan
permukaan laut untuk bulan Januari dan Juli (keadaan yang ekstrim) terlihat
bahwa:
a. Atlantik utara ada dibawah pengaruh tekanan tinggi pada musim panas dan
tekanan rendah pada musim dingin
b. Belahan bumi selatan yang mempunyai permukaan lebih homogen (banyak
lautan) tidak menunjukan adanya perbedaan-perbedaan musiman yang besar.
c. Isobar pada lintang 40 0- 700 selatan hampir sejajar dan terbentang sepanjang
garis lintang
d. Adanya pusat tekanan tinggi terus-menerus dan teraturnya sobar dibelahan
bumi selatan disebabkan kecilnya pengaruh sebaran lautan dan daratan.
3. Tinggi Rendahnya Tempat
Semakin tinggi suatu tempat, lapisan udaranya semakin tipis dan semakin
renggang, akibatnya tekanan udara semakin rendah.Tekanan udara di suatu tempat

pada umumnya dipengaruhi oleh penyinaran matahari. Daerah yang banyak


mendapat sinar matahari mempunyai tekanan udara rendah dan daerah yang
sedikit mendapat sinar matahari mempunyai tekanan udara tinggi. Tekanan udara
pada suatu tempat berubah sepanjang hari. Alat pencatat tekanan udara dinamakan
barograf. Pada barograf tekanan udara sepanjang hari tergores pada kertas yang
dinamakan barogram. Bila hasilnya dibaca secara teliti, maka tekanan udara
tertinggi terjadi pada pukul 10.00 (pagi) dan pukul 22.00 (malam) dan tekanan
rendah terjadi pada pukul 04.00 (pagi) dan pukul 16.00 (sore).
4. Temperatur
Jika temperatur udaranya tinggi, maka volume molekul udara
berkembang sehingga tekanan udara menjadi rendah, sebaliknya jika temperatur
udara menjadi kecil, maka tekanan udara menjadi tinggi.
2.2 Pengukuran Tekanan
Evangelista Torricelli (1608-1647) merupakan seorang ilmuwan yang
membuat suatu metode atau cara untuk mengukur tekanan atmosfir pada tahun
1643 menggunakan barometer air raksa hasil karyanya. Barometer tersebut berupa
tabung kaca yang panjang, dimana dalam tabung tersebut diisi air raksa. Tabung
kaca yang berisi air raksa tersebut dibalik dalam sebuah piring yang juga telah
diisi air raksa.
Ketika tabung kaca yang berisi air raksa dibalik maka pada bagian ujung
bawah tabung terisi air raksa, isinya hanya uap air raksa yang tekanannya sangat
kecil sehingga diabaikan (p2 = 0). Pada permukaan air raksa yang berada di dalam
piring terdapat tekanan atmosfir yang arahnya ke bawah. Tekanan atmosfir
tersebut menyanggah kolom air raksa yang berada dalam pipa kaca.
Rata-rata tekanan atmosfir pada permukaan laut adalah 1,013 x 10 5 N/m2.
Besarnya tekanan atmosfir pada permukaan laut ini digunakan untuk
mendefinisikan satuan tekanan lain, yakni atm (atmosfir). Jadi 1 atm = 1,013 x
105 N/m2= 101,3 kPa (kPa = kilo pascal). Satuan tekanan lain adalah bar, 1 bar =
1,00 x 105 N/m2 = 100 kPa.
2.3 Alat Pengukuran Tekanan

Terdapat banyak alat yang digunakan untuk mengukur tekanan, di


antaranya adalah manometer tabung terbuka. Manometer adalah alat ukur tekanan
yang dapat dilakukan langsung dan cukup teliti pada beberapa daerah pengukuran.
Manometer kolom cairan biasanya digunakan untuk pengukuran tekanan yang
tidak terlalu tinggi (mendekati tekanan atmosfir). Versi manometer sederhana
kolom cairan adalah bentuk pipa U yang diisi cairan setengahnya dimana
pengukuran dilakukan pada satu sisi pipa, sementara tekanan (yang mungkin
terjadi karena atmosfir) diterapkan pada tabung yang lainnya. Perbedaan
ketinggian cairan memperlihatkan tekanan yang diterapkan.
Adapun fungsi manometer adalah alat untuk mengukur perbedaan
tekanan di dua titik yang berlawanan. Jenis manometer tertua adalah manometer
kolom cairan. Versi manometer sederhana kolom cairan adalah bentuk pipa U
yang diisi cairan setengahnya (biasanya berisi minyak, air atau air raksa) dimana
pengukuran dilakukan pada satu sisi pipa, sementara tekanan (yang mungkin
terjadi karena atmosfir) diterapkan pada tabung yang lainnya. Perbedaan
ketinggian cairan memperlihatkan tekanan yang diterapkan.
Pada manometer tabung terbuka, dimana tabung berbentuk U, sebagian
tabung diisi dengan zat cair (air raksa atau air). Tekanan yang terukur
dihubungkan dengan perbedaan dua ketinggian zat cair yang dimasukan ke dalam
tabung. Besar tekanan dihitung menggunakan persamaan:
P= g h

Pada umumnya bukan hasil kali pgh yang dihitung melainkan ketinggian
zat cair (h) karena tekanan kadang dinyatakan dalam satuan milimeter air raksa
(mmhg)

atau

milimeter

air

(mm-H2O).

Nama

lain

mmhg

adalah torr (Evangelista Torricelli).


Selain manometer, terdapat juga pengukur lain yakni barometer aneroid,
baik mekanis maupun elektrik, termasuk alat pengukur tekanan ban. Alat yang
digunakan oleh torricelli untuk mengukur tekanan atmosfir disebut juga barometer
air raksa, dimana tabung kaca diisi penuh dengan air raksa kemudian dibalik ke
dalam piring yang juga berisi air raksa.

2.4 Hukum Boyle


Robert Boyle menyatakan tentang sifat gas bahwa massa gas (jumlah
mol) dan temperatur suatu gas dijaga konstan, sementara volume gas diubah
ternyata tekanan yang dikeluarkan gas juga berubah sedemikian hingga perkalian
antara tekanan (P) dan volume (V), selalu mendekati konstan. Dengan demikian
suatu kondisi bahwa gas tersebut adalah gas sempurna (ideal). Kemudian hukum
ini dikenal dengan Hukum Boyle dengan persamaan:
P 1 V1 = P 2 V2 = P n Vn
Syarat berlakunya hukum Boyle adalah bila gas berada dalam keadaan
ideal (gas sempurna), yaitu gas yang terdiri dari satu atau lebih atom-atom dan
dianggap identik satu sama lain. Setiap molekul tersebut tersebut bergerak secara
acak, bebas dan merata serta memenuhi persamaan gerak Newton. Yang dimaksud
gas sempurna (ideal) dapat didefinisikan bahwa gas yang perbangdingannya
PV/nT nya dapat didefinisikan sama dengan R pada setiap besar tekanan. Dengan
kata lain, gas sempurna pada tiap besar tekanan bertabiat sama seperti gas sejati
pada tekanan rendah.
Persaman gas sempurna:
P.V = n.R.T
dimana:
P = tekanan gas
V = volume gas
n = jumlah mol gas
T = temperatur mutlak ( Kelvin)
R = konstanta gas universal (0,082liter.atm.mol-1.K-1)
Hukum Boyle bekerja berdasarkan komposisi udara dan besar ruangan.
Bila ruangan udara diperkecil, maka tekanannya akan bertambah besar. Demikian
sebaliknya. Bila ruangan udara diperbesar, maka tekanannya akan bertambah
kecil.
Hukum Boyle ditemukan seorang ahli ilmu alam dari Irlandia bernama
Boyle. Prinsip ini ditemukannya bersamaan dengan sebuah alat bernama pompa

hampa udara. Selain soal tekanan udara dan besar ruangan tadi, hukum Boyle juga
menyebutkan bahwa bunyi tidak dapat menerobos tabung udara Tapi Pada 1657,
Boyle mengembangkan temuannya itu, yang kemudian menyebutkan bahwa udara
dapat dimanfaatkan dan dapat berkembang bila dipanaskan.
Akhirnya dia menemukan hukum yang kemudian terkenal sebagai
Hukum Boyle seperti yang kita kenal saat ini. Bahwa bila suhu tetap, volume
gas/udara dalam ruangan tertutup berbanding terbalik dengan tekanannya.
Salah satu contoh berlakunya prinsip ini ada pada pena tulis yang dapat
diisi ulang tintanya. Bila kamu mengisi tinta ke dalam pena. Penekan yang berada
diujung tabung tinta akan menggerakkan per yang terdapat di dalamnya. Yang
kemudian sebuah alat pengisap akan tertekan pula. Akibatnya ruangan akan
menjadi kecil. Setelah itu, isi tinta dari botol ke dalam pulpen. Ketika penekan
ditarik ke atas, maka per pada tabung akan kembali seperti semula. Pengisap pun
naik dan ruangan tempat tinta berada akan bertambah besar. Beberapa alat lain
yang bekerja berdasarkan prinsip Hukum Boyle adalah pompa ban sepeda,
pengisap/pompa air dan penghembus api. Ketika tungkai pengisap ditarik ke atas
maka ruang udara dibawahnya bertambah besar.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada pratikum kali ini adalah:

Suntikan.
Manometer.

3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada pratikum kali ini adalah:

Air atau air raksa.

3.3 Prosedur Pelaksanaan


Prosedur pelaksanaan pratikum kali ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada pratikum.


Hubungkan suntikan (pompa) dengan manometer yanng berisi air raksa.
Tentukan V1 pada suntikan.
Atur tinggi air raksa pada ketinggian yang sama.
Catat tinggi raksa, V1 dan P1 .
Ubah volume pada suntikan secara bebas sebanyak 5 kali dan catat perubahan

volume.
7. Perhatikan perubahan ketinggian air raksa setiap kali perubahan volume dan
catat setiap perubahan ketinggian air raksa.
8. Hitung besar gaya (F1) dari P1 dan V.
9. Hitung besarnya tekanan akhir (P2) dari data hasil pengamatan yang didapat
dengan menggunakan rumus.
10. Hitung besar gaya akhir F2.
11. Cari perbedaan tekanan pertama dengan tekanan yang kedua.
12. Masukkan data yang didapat ke dalam tabel.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

AWAL
N
O

AKHIR

h1 (m)

h2 (m)

h3 (m)

P1
(Pa)

V1
(10-6 m3)

F1
(N)

P2
(Pa)

V2
(10-6 m3)

F2 (N)

1,013
x105

25x10-6

3,5086
x101

1,1010
x105

23x10-6

3,4982
x101

0,03

0,004

0,026

1,013
x105

20x10-6

3,5086
x101

1,6205
x105

12,5x10-6

5,6127
x101

0,04

0,006

0,034

3,5086
x101
3,5086
x101
3,5086
x101

2,1707
x105
1,426
x105
2,8138
x105

0,039

0,007

0,032

0,037

0,009

0,028

0,033

0,012

0,021

3
4
5

1,013
x105
1,013
x105
1,013
x105

15x10-6
10x10-6
5x10-6

4.1 Hasil
Perhitungan:
Percobaan 1
Diketahui:
P1 = 1,013 x 105 Pa
V1 = 25 mm = 25 x 10-6 m3
V2 = 23 mm = 23 x 10-6 m3
R = 1,05 mm
h1 = 3 cm
h2 = 0,4 cm
Ditanyakan:
F1 ? , F2 ?
Jawab:
A = r2
= (1,05 x 10-2)2
= 3,4636 x 10-4 m2
F1 = P1 X A
= (1,013 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 3,5086 x 101 N
P1x V 1
P2 =
V2

7x10-6
7,1x10-6
1,8x10-6

7,5184
x101
4,9415
x101
9,7458
x101

( 1,013 x 10 5 ) x ( 25 x 10 6 )
23 x 10

= 1,1010 x 105 Pa
F2 = P2 X A
= (1,010 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 3,4982 x 101 N
h = h2 h1
= 0,4 3
= - 2,6 cm = 2,6 x 10-2 m
Pteoritis = Hg g h
= 13600 x 9,81 x 2,6 (10-2)
= 3468,816 Pa
Percobaan 2
Diketahui:
P1 = 1,013 x 105 Pa
V1 = 20 mm

= 20 x 10-6 m3

V2 = 12,5 mm = 12,5 x 10-6 m3


R = 1,05 mm
h1 = 4 cm
h2 = 0,6 cm
Ditanyakan:
F1 ? , F2 ?
Jawab:
A = r2
= (1,05 x 10-2)2
= 3,4636 x 10-4 m2
F1 = P1 X A
= (1,013 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 3,5086 x 101 N
P1x V 1
P2 =
V2
=

( 1,013 x 10 5 ) x ( 20 x 10 6 )
12,5 x 10

= 1,6205 x 105 Pa
F2 = P2 X A
= (1,6205 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 5,6127 x 101 N
h = h2 h1

= 0,6 4
= - 3,4 cm = 3,4 x 10-2 m
Pteoritis = Hg g h
= 13600 x 9,81 x 3,4 (10-2)
= 4536,144 Pa
Percobaan 3
Diketahui:
P1 = 1,013 x 105 Pa
V1 = 15 mm = 15 x 10-6 m3
V2 = 7 mm = 7 x 10-6 m3
R = 1,05 mm
h1 = 3,9 cm
h2 = 0,7 cm
Ditanyakan:
F1 ? , F2 ?
Jawab:
A = r2
= (1,05 x 10-2)2
= 3,4636 x 10-4 m2
F1 = P1 X A
= (1,013 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 3,5086 x 101 N
P1x V 1
P2 =
V2
=

( 1,013 x 10 5 ) x ( 15 x 10 6 )
7 x 10 6

= 2,1707 x 105 Pa
F2 = P2 X A
= (2,1707 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 7,5184 x 101 N
h = h2 h1
= 0,7 3,9
= - 3,2 cm = 3,2 x 10-2 m
Pteoritis = Hg g h
= 13600 x 9,81 x 3,2 (10-2)
= 4269,312 Pa
Percobaan 4
Diketahui:

P1 = 1,013 x 105 Pa
V1 = 10 mm = 10 x 10-6 m3
V2 = 7,1 mm = 7,1 x 10-6 m3
R = 1,05 mm
h1 = 3,7 cm
h2 = 0,9 cm
Ditanyakan:
F1 ? , F2 ?
Jawab:
A = r2
= (1,05 x 10-2)2
= 3,4636 x 10-4 m2
F1 = P1 X A
= (1,013 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 3,5086 x 101 N
P1x V 1
P2 =
V2
=

( 1,013 x 10 5 ) x ( 10 x 10 6 )
7,1 x 10 6

= 1,4267 x 105 Pa
F2 = P2 X A
= (1,4267 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 4,9415 x 101 N
h = h2 h1
= 0,9 3,7
= - 2,8 cm = 2,8 x 10-2 m
Pteoritis = Hg g h
= 13600 x 9,81 x 2,8 (10-2)
= 3735,648 Pa
Percobaan 5
Diketahui:
P1 = 1,013 x 105 Pa
V1 = 5 mm

= 5 x 10-6 m3

V2 = 1,8 mm = 1,8 x 10-6 m3


R = 1,05 mm
h1 = 3,3 cm
h2 = 1,2 cm

Ditanyakan:
F1 ? , F2 ?
Jawab:
A = r2
= (1,05 x 10-2)2
= 3,4636 x 10-4 m2
F1 = P1 X A
= (1,013 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 3,5086 x 101 N
P1x V 1
P2 =
V2
=

( 1,013 x 10 5 ) x ( 5 x 10 6 )
1,8 x 10

= 2,8138 x 105 Pa
F2 = P2 X A
= (2,8138 x 105) x (3,4636 x 10-4)
= 9,7458 x 101 N
h = h2 h1
= 1,2 3,3
= - 2,1 cm = 2,1 x 10-2 m
Pteoritis = Hg g h
= 13600 x 9,81 x 2,1 (10-2)
= 2801,736 Pa
4.1.1 Grafik Hubungan antara V terhadap F

250

230

225
200
175
150

125

V2 (10-7m3) 125
100
75

71

70

50
25
0

18
0

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
F2 (N)

Gambar 1.
Grafik hubungan
antara V dengan
F.

30

28.14

21.71
20

16.21
14.27

P2(104) Pa

11.01

10

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
F2 (N)

4.1.2 Grafik
Hubungan antara P terhadap F

Gambar 2. Grafik
hubungan antara P
dengan F

4.2 Pembahasan
Praktikum kali ini membahas pengukuran yang dilakukan untuk
mengetahui perubahan tekanan akibat diberikan sejumlah volume tertentu.
Volume yang diberikan berbeda-beda, agar terlihat perubahan tekanan yang
diakibatkan perubahan volume tersebut.

Dari lima kali percobaan didapatkan hasil bahwa, ketika volume pada
suntikan (pompa udara) berubah, maka tekanan juga akan berubah. Hal ini sesuai
dengan hukum Boyle dimana tekanan dan volume bernilai konstan.
Pada percobaan kali ini kita juga mencari nilai P2 (tekanan akhir) dengan
menggunakan rumus yang ada, ternyata nilai P2 (tekanan akhir) berbanding lurus
dengan nilai P1 (tekanan awal). Tetapi berbeda halnya dengan nilai V2 (volume
akhir). Dapat kita lihat dari tabel ataupun grafik hasil pratikum, semakin besar V 2
(volume akhir) makan nilai P2 (tekanan akhir) akan semakin kecil, begitu pula
sebaliknya.
Dalam pratikum, kesalahan dalam pengukuran, diakibatkan karena
kurang teliti pada saat mengukur atau melihat meniskus cembung pada air raksa.
Kesalahan dalam perhitungan juga dapat diakibatkan karena kurang teliti dalam
menghitung.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa:
1.
2.
3.
4.
5.

Tekanan berbanding lurus dengan gaya.


Semakin besar volume akhir, maka tekanan akhir akan semakin kecil.
Perubahan volume berpengaruh terhadap perubahan tekanan udara.
Tekanan dan volume bernilai konstan ketika massa, suhu dan berat tetap.
Nilai P1 berbanding lurus dengan nilai P2 dengan artian semakin besar nilai

P1 maka P2 juga akan semakin besar.


6.
Nilai V2 berbanding terbalik dengan nilai P2.
1.

DAFTAR PUSTAKA
Adha,

Joni.

2011.

Tekanan

Udara.

Terdapat

pada

http://joni-

adha.blogspot.co.id/2011/12/tekanan-udara.html (diakses pada 27 Maret


2016, 22:21 WIB)
Graha,

Gunawan.

2014.

Pengertian

Hukum

Boyle.

Terdapat

http://www.pengertianilmu.com/2015/01/pengertian-hukum-boyle.html
(diakses pada 23 Maret 2016,14:14 WIB)

pada

LAMPIRAN

Gambar 3. Suntikan (pompa udara)


(sumber : doc.pribadi)

Gambar 5. Air Raksa didalam Manometer Pipa U


(sumber: doc. pribadi )

Gambar 4. Manometer Pipa U


(sumber: doc. pribadi )