Anda di halaman 1dari 19

BAB.

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian adalah salah satu sektor penting pada pertanian di indonesia,
segala cara di lakukan untuk memenuhi akan kebutuhan pangan. Salah satu faktor
yanga sangat berpengaruh adalah penggunaan pestisida. Pestisida merupakan
suatu subtansi kimia yang di gunakan untuk membunuh dan mengendalikan
berbagai hama dalam bidang pertanian. Yang dimadsud hama disini di antaranya
adalah serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang
disebabkan oleh jamur, bakteria dan virus, kemudian nematoda, siput, tikus,
burung dan hewan lain yang dianggap merugikan dalam bidang pertanian yang
dimana di antaranya dapat membuat tidak maksimalnya hasil panen. Secara
khusus, pestisida yang digunakan di bidang pengelolaan tanaman disebut produk
perlindungan tanaman (crop protection products, crops protection agents) atau
pestisida pertanian. Penyabutan ini dimaksudkan untuk membedakan jenis
pestisida tersebut dengan pestisida yang di gunakan di bidang lain (Djojosumarto,
2008).
Dengan melihat besarnya penggunaan pestisida oleh petani untuk dapat
menyelamatkan kehilangan hasil yang di timbulkan oleh hama, penyakit maupun
gulma, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa peranan pestisida sangat besar dan
sarana yang sangat penting dalam bidang pertanian. Ditambah lagi kebutuhan
pagan yang sangat tinggi mengakibatkan intensifikasi pertanain agar dapat
memenuhi ketersedian panga itu sendiri. Intensifikasi itu sendiri menerapkan
teknologi terbaru, menggunakan farietas yang tahan akan hama, pengolaha laha
yang semakin banyak cara dan macamnya, penggunaan berbagai jenis pupuk,
serta pengolahan lahan yang mana secara tidak langsung akan berpengaruh
terhadap ekosistem yang di imbangi dengan semakin banyaknya jasad
pengganggu (hama, penyakit, dan gulma). Hingga sampai saat ini nampaknya
penggunaan pestisida sangat efektif. Karna dengan tidak menggunakan pestisida
maka pertani dalam produksi pertanianya akan mengalami pengurangan hingga

30% , bahkan di beberapa lokasi mendapat serangan berat dapat menurunkan


produksi hingga 50% dan bisa juga gagal produksi (kardinan dan Surati, 2012).
Pestisida sebenarnya adalah subtansi kimia dalam bentuk murni yang
sangat berbahaya bagi manusia karna dapat mematikan, pestisida dalam bentuk
murni di produksi oleh pabrik bahan dasar dengan kandugan yang pekat pestisida
akan sangat berbahaya. Oeleh karna itu dalam pemprosesan pestisida yang akan
di jual kepasaran tidak lah langung pestisida murni namun dengan menggunakan
formulsai yang di lakukan oleh formulator, lalu diberi

nama dan klasifikasi

pestisida (Sudarmo, 2007). Dimana merupakan pengolahan yang nantinya akan


berhubungan dengan cara pemakaian, keefektifan, keamanan, penggunaan.
Pestisida sendiri memiliki banyak jenis dan macamnya yang beredar di pasaran
sesui dengan kebutuhan petani untuk menanggulangi organisme penggangu yang
menyerang pertanianya. Serta berkembangnya organisme penggangu, serta
munnculnya organisme penggangu yang baru.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui formulasi pestisida
2. Mengetahui klasifikasi pestisida
3. Mengetahui asal dan sifat kimia pestisida

BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA


Pestisida merupakan senyawa kimia dan bahan lain serta jasad renik dan
virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai organisme penggangu,
dimana dimanfaaatkan untuk membunuh atau mengendalikan organisme
pengganggu tanaman. Tujuan dari semua pestisida adalah untuk mencegah
kejadian yang tidak diinginkan pada kerusakan pertanian, lingkungan dan
masyarakat. produksi pertanianya akan mengalami pengurangan hingga 30% ,
bahkan di beberapa lokasi mendapat serangan berat dapat menurunkan produksi
hingga 50% dan bisa juga gagal produksi (kardinan dan Surati, 2012).
Berhubungan dengan pestisida, banyak berbagai macam pestisida sesuai dengann
kegunaan untuk membunuh oragnisme penggangu yang menyerng. Contohnya
antara lain fungisida, herbisida, avisida, rodentisida, insektisida, bakterisida,
repellent, dan banyak lagi macam-macam pestisida (Djojosumarto, 2008).
Pestisida banyak digunakan di sebagian besar sektor produksi pertanian
untuk mencegah atau mengurangi kerugian oleh hama dan dengan demikian dapat
meningkatkan hasil serta kualitas produk, bahkan dalam hal banding kosmetik,
yang sering penting untuk konsumen. Pestisida juga dapat meningkatkan nilai gizi
makanan dan kadang-kadang keamanannya. Ada juga banyak jenis manfaat yang
disebabkan pestisida, tetapi manfaat ini sering tidak diketahui oleh masyarakat
umum. Jadi, pestisida dapat dianggap sebagai ekonomi, tenaga kerja hemat, dan
alat yang efisien manajemen hama dengan popularitas besar di sebagian besar
sektor produksi pertanian (Damalas et al., 2011). Namun penggunaan pestisida
juga ada dampak negatifnya, dimana masih tertinggalnya zat residu pestisida.
Residu pestisida adalah zat tertentu yang terkandung dalam hasil pertanian bahan
pangan atau pakan hewan, baik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung
dari penggunaan pestisida (Yusnani et al, 2011 ).
Pestisida merupakan bahan-bahan kimia yang berbahaya oleh karena itu
penggunaan pestisida yang tidak tepat waktu, interval waktu aplikasi yang pendek
dan terlalu dekat waktu panen akan menyebabkan tertinggalnya residu pestisida
pada bahan makanan yang dapat membahayakan kesehatan manusia yang

mengkonsumsi bahan makanan tersebut (Tuhumury et al. 2012). Dan salah satu
pencegahan terpenting agar pestisida tidak erlalu berbahaya efisien dan efektif
maka pestisida harus diformulasikan, diman bertujuan untuk Untuk meningkatkan
efektivitas pengendalian dan mempermudah penggunaan, bahan tanaman tersebut
diformulasi menjadi pestisida yang siap pakai (Wiranto et al). Formulasi adalah
pestisida yang di gunakan bersama bersama dengan bahan lain misalnya di
campur minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk mempermudah
dalam pengenceran atau penyebaran dan penyemprotannya, bubuk yang di
campur sebagai pengencer ( dalam formulasi dust ), atraktan ( misalnya bahan
untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk penambah daya racun.
Karena pestisida merupakan bahan racun maka penggunaanya perlu kehati
hatian, dengan memperhatikan keamanan operator bahan yang di beri pestisida
dan lingkungan sekitar (Hartini et al, 2014).
pengembangan teknologi formulasi kini muncul sebagai teknologi
mapan, yang tidak hanya menambah nilai yang signifikan bagi formulator tetapi
juga

menghadirkan

produk

menarik

bagi

pengguna

pestisida

dengan

meningkatkan keselamatan operator, mengurangi laju dosis bersama dengan


pemborosan pestisida diterapkan pada tanaman, dengan demikian meningkatkan
kualitas lingkungan. Tujuan dasar dari teknologi formulasi yang untuk
mengoptimalkan aktivitas biologis pestisida, dan untuk memberikan produk yang
aman dan nyaman untuk digunakan (Hazra, ).

BAB 3. METODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum pestisida pertanian acara Formulasi Pestisida dilaksanakan di
Laboratorium hama Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Jember pada hari Kamis, tanggal 22 September 2016 pukul 08.50
WIB 09.40 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Kertas A4
2. Alat tulis
3. Penggaris
4. Kamera
3.2.2 Bahan
1. Produk Insektisida
2. Produk Fungisida
3. Produk Herbisida
4. Produk Bakterisida
3.3 Cara Kerja
1. Mengamati label yang ada pada produk pestisida.
2. Mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja.

BAB 4. PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No.

Gambar pestisida

a.

Keterangan
Nama dagang : Bio Bb
Formulasi : Tepung
Bahan aktif : Baeuvenna bassiana
Jenis : Insektisida
Sasaran : Insekta atau serangga
Nama dagang : Acrobat 50 WP
Formulasi : WP
Bahan aktif : Dimetomorf 50%

Jenis :

Fungisida
2.

Sasaran : Fungi atau jamur pada kentang


dan tomat
Dosis : kentang 0.25 0.6 gram/liter, tomat
0.5-1 gram/liter
Cara aplikasi : disemprotkan pada umur 2170 hari setelah tanam
Nama dagang : Goal

Formulasi : EC

Bahan aktif : Oksiflourfen 240 gram/liter


Jenis : Herbisida
3.

Sasaran : gulma berdaun lebar (Borreria


Sp.), gulma rumput (Paspalum Sp.), gulma
teki (Cyperus iria)
Dosis : 1-2 liter/hektar
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi

Nama dagang : Bacterimicin


Bahan aktif : Streptomycin sulfat 20%
4.

Jenis : Bakterisida
Dosis : 50 gram/liter air atau volume 250500 cc per tanaman
Cara aplikasi : disemprot atau disiram
Nama dagang : Ally plus WP
Formulasi : WP
Bahan aktif : metal metsulfuron 0.7%, 2.4
D garam natrium 75%, etil klorimuron

5.

0.7%
Jenis : Herbisida

Sasaran :

Gulma
Dosis : 1500 gram/hektar
Cara aplikasi : dilakukan saat 2 minggu
setelah panen atau sebelum tabur benih.
Nama dagang : Saber 720 EC
Formulasi : EC
Bahan aktif : 2.4 D iso-butil ester 720
gram/liter
Jenis : Herbisida
6.

Sasaran : Gulma berdaun lebar, berdaun


sempit, dan teki
Dosis : Gulma berdaun lebar 0.5-1
liter/hektar, gulma berdaun sempit 1-1.5
liter/hektar, teki 0.5-1 liter/ha
Cara aplikasi : disemprot

Nama dagang : Bravoxone

Formulasi :

SL
Bahan aktif : Parakuat diklorida 276
gram/liter
7.

Jenis : Herbisida

Sasaran :

gulma
Dosis : kelapa sawit 1-2 liter/hektar, jagung
1-2 liter/hektar
Cara aplikasi : semprot pada seluruh
permukaan tanaman.
Nama dagang : Profile 430

Formulasi :

EC
Bahan aktif : Profenofos 430 gram/liter
8.

Jenis : insektisida

Sasaran :

serangga
Dosis : 1-2 ml/liter
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
Nama dagang : Dupont lannate 40 sp
Formulasi : SP
Bahan aktif : Metomil 40%
9.

Jenis :

Insektisida
Sasaran : ulat grayak dan kutu daun
Dosis : 1-2 gram/liter
Cara aplikasi : penyemprotan

10.

Nama dagang : STAMYCIN 20 WP


Formulasi : WP
Bahan aktif : Streptamycin 20% Jenis :
Bakterisida
Sasaran : penyakit layu bakteri
Dosis : 1-2 gram/liter
Cara aplikasi : penyemprotan atau

penyiraman
Nama dagang : Fenval

Formulasi :

EC
Bahan aktif : Fenvaleral 200 gram/liter
11.

Jenis : insektisida

Sasaran :

serangga
Dosis : 0.25-0.50 m/liter
Cara aplikasi : disemprotkan
Nama dagang : Agrept 20 WP
Formulasi : WP
12.

Bahan aktif : Streptomisin sulfat 20%


Jenis : bakterisida
Sasaran : layu bakteri dan hawar daun
Cara aplikasi : disemprotkan
Nama dagang : Rumpas
Formulasi :
EW
Bahan aktif : Fenoksaprop-p etil 120

13.

gram/liter
Jenis : herbisida

Sasaran :

gulma
Dosis : 2 ml/liter dan 1.5-3 ml/liter
Cara aplikasi : disemprotkan
Nama dagang : Nazole

Formulasi :

SC
Bahan aktif : Heksa konazol 50 gram/liter
14.

Jenis : Fungisida

Sasaran : jamur atau

cendawan
Dosis : 0.5-1 ml/liter
Cara aplikasi : disemprotkan

Nama dagang : Metaben 20 WG


Formulasi : WG
Bahan: metal metsunforon 20%
15.

Jenis : herbisida

sasaran : Gulma

Dosis : 50-100 gram/hektar


Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
400-500
Nama dagang : Dursban

Formulasi :

EC
Bahan aktif :Klorpirifus 200 gram/liter
16.

Jenis : Insektisida

Sasaran : Hama

bawang merah
Cara aplikasi : disemprotkan
Nama dagang : Kormodor

Formulasi :

AS
Bahan aktif : Isopropilamina glifosfat 300
gram/liter, 2.4- d dimetilamina 100
17.

gram/liter
Jenis : Herbisida

Sasaran :

Gulma
Dosis : 1.5 liter/hektar
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
400 l/ha
Nama dagang : Roundup

Formulasi :

486 SL
Bahan aktif : Isopropilamina glifosfat 486
18.

gram/liter
Jenis : Herbisida

Sasaran :

Gulma
Dosis : 3-6 liter/hektar
19.

Cara aplikasi : disemprotkan secara merata


Nama dagang : Unilax
Formulasi :

WP
Bahan aktif : Manozeb 64%, metalaki 8%
Jenis : Fungisida
Sasaran : penyakit hawar daun phytopthora
infesta
Dosis : 0.5-1 gram/liter air
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
Nama dagang : Trebon
Formulasi : EC
Bahan aktif : 1 tofenproks 94,27 gram/liter
20.

Jenis : insektisida

Sasaran :hama

Dosis : padi 0.5-1 liter/ha, kedelai 0.5-1


liter/ha
Cara aplikasi : disemprotkan
Nama dagang : Kanon
Formulasi :
EC
Bahan aktif : Dimintact 400 gram/liter

21.

Jenis :Insektisida kontak dan sistemis


Sasaran :kutu daun, ulat grayak
Dosis : 0.5-1 ml
Cara aplikasi : penyem[rotan
Nama dagang : Herbisida reaktif
Formulasi :SC
Bahan aktif : Isopropil aminogi, Fospas 490
gram/l

22.

Jenis :herbisida
Sasaran :gulma
Dosis : daun sempit 3-4 l/ha, daun lebar 2-4
l/ha
Cara aplikasi : disemprotkan

Nama dagang : Heksa 50 cc


Formulasi : SC
Bahan aktif : Heksanotol 50 gr/l
23.

Jenis

:Fungisida
Sasaran : hawar pada padi dan busuk ungu
pada bawang
Dosis : padi 0.5-1 l.ha, bawang 1-2 ml/liter
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
Nama dagang : Dithane M-46 BOWP
Formulasi : WP

Bahan aktif :

monokozob 80%
24.

Jenis : Fungisida Sasaran : cacar daun


padi, karat

kopi, busuk buah kakao

Dosis : padi 1.5-3 gr/l, kopi 0.3-0.6 gr/l,


kakao 0.8-1.2 kg/ha
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
Nama dagang : Asterin 250 EC Formulasi
: EC
Bahan aktif : sipermetin 250 g/l Jenis
25.

:Insektisida
Sasaran : ulat grayak
Dosis : 0.5-1 ml/liter
Cara aplikasi : penyemprotan
Nama dagang : Avidor 25 WP
Formulasi :WP
Bahan aktif : Imidakloprid 25%

26.

:Insektisida
Sasaran :serangga
Dosis :0.5-1 gram/liter
Cara aplikasi :disemprotkan

Jenis

Nama dagang : Duport Ally 20 WG


Formulasi : WG
Bahan aktif : metik silpurom 20%
Jenis : herbisida
27.

Sasaran :

Gulma
Dosis : 10-20 gr/ha
Cara aplikasi : Semprot
Nama dagang : Rizotin 100 EC
Formulasi : EC
Bahan aktif : Sipermetin 100 gr/l Jenis :

28.

Insektisida
Sasaran : perusak daun
Dosis : 1-2 ml/liter air
Cara aplikasi : penyemprotan volume tinggi
Nama dagang : Mandoxone 276 SL
Formulasi : SL
Bahan aktif : Paraquat diklorida 276 SL

29.

Jenis : Herbisida
Sasaran : Gulma
Dosis : 1.5-2.5 l/ha
Cara aplikasi : penyemprotan
Nama dagang : Benstar 50 WP
Formulasi : WP
Bahan aktif : Benomil 50%

30.

Fungisida
Sasaran : penyakit tanaman kacang panjang
dan padi
Dosis : 1-2 gr/liter
Cara aplikasi : penyemprotan

4.2 Pembahasan

Jenis :

Dalam penggunaan pestisida secara aman maka salah satunya adalah


diperlukanya Formulasi. Pada dasarnya bahan aktif dalam pestisida tidak di jual
begitu saja dalam bentuk yang murni selain berbahaya, bahan aktif teknis atau
murni sangat mahal. Bahan aktif tersebut umumnya sulit digunaka secara praktis
di lapangan (misalnya tidak larut dalam air. Oleh karna itu, bahan pestisida aktif
ini perlu di formulasikan terlebih dahulu dengan dicampur bahan-bahan lain agar
mudah di aplikasikan. Pada umumnya formulasi pestisida yanng di perdagangkan
terdiri atas 3 bagian, yaitu bahan aktif, bahan pembantu (adjuvant), dan bahan
pembawa (carrier). Dengan adanya 3 bagian itu maka akan mempengauhi juga
cara penggunaan, dosis yang digunakan, cara penyimpanan, dan benuk dari hasil
formulasi itu sendiri, dimana nantinya akan aman untuk di gunakan oleh petani
(Djojosumarto, 2008).
Pestisida juga dapa dibuat dari tumbuhan, dimana kandungan zat pada
tumbuhan dapat menjadi pestisida alami yang dapat di guakan oleh para petani
dan dapat dibuat sendiri. Contoh dari tumbuhan yang dapat di jadikan pestisida
adalah :
a. Tanaman Mimba

Tanaman ini dapat dimanfaatkan biji dan daunya yang dimana


mengandung badan aktif azadiractin, salanin, nimbinen, dan
meliantriol. Pestisida nabati mimba cocok untuk hama ulat, hama
penghisap, jamur, bakteri, nematoda, dan sebagainya
b. Daun Pepaya

Daun pepaya juga dapat digunakan untuk pestisida, dimana


kandungan zat aktif dalam daun pepaya adalah papain. Pestisida ini

sangat efektif untuk digunakan mengendalikan ulat dan hama


penghisap.
c. Biji Jarak

jarak mengandung zat aktif resinin dan alkaloid. Pestisida biji jarak
(dalam bentuk larutan) efektif untuk mengendalikan ulat dan hama
penghisap, sedangkan serbuknya efektif untuk mengendalikan
nematoda (Subiakto, 1991).
Dalam penggunaanya pestisida harus di gunakan seccara tepat dan sesuai
dengan anjuran atau tatacara yang telah di tentukan oleh setiap pabrik pestisida itu
sendiri. Akan tetapi ada yang paling penting dalam penggunaan pestisida.
Penggunaan pestisida harus tepat waktu, interval waktu aplikasi yang harus di
perhatikan tidak boleh terlalu pedek, dosis yang di gunakan harus sesuai dengan
dosis yang di anjurkan, mengetahui waktu akhir rpemberian pestisida sebelum
tanaman di panen. Jika anjuran penggunaan tidak di lakukan makan pestisida
tidak akan maksimal, dapat meracuni petani dan jika terlalu dekat waktu panen
akan menyebabkan tertinggalnya residu pestisida pada bahan makanan yang dapat
membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi bahan makanan tersebut
(Tuhumury et al.2012).
Pestisida di memiliki beberapa jenis berdasarkan OPT sasaranya dimana
organisme penggangu tanaman yang dapat merusak produksi tanaman. Adapun
jenis pestisida yang sering di gunakan oleh petani untuk menangulangi organisme
penggangu (Djojosumarto, 2008), di antaranya adalah :
1. Insektisida : Insektisida adalah pestisida yagn digunakan utntuk
mengendalikan hama berupa serangga. Dalam insektisida juga di
bagi menjadi 2 kelompok, yaitu ovisida (mengendalikan telur
serangga) dan Larvisida (mengendalikan larva serangga)

2. Herbisida : Dimana herbisida adalah pestisida yang di gunakan


untuk membunuh atau mengendalikan gulma yang mengganggu
tanaman utama. Meskipun untuk tumbuhan herbisida tidak akan
membunuh tanaman utama namun akan membunuh guma
penggangu.

3. Fungisida dan Bakterisida : dimana pestisida ini bertujuan untuk


menyembuhkan atau mengendalikan penyakit tanaman yang di
sebabkan oleh jamur dan bakteri. Dimana 2 organisme tersebut
sangat di takuti oleh petani karna mudahnya merusak dan menular
pada tanaman.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Masih tergantungnya petani terhadap pestisida yang sangat besar dan
semakin berkembangnya teknologi juga semakin banyak bermuncula pestisida
yang ada di pasaran. Dan berbagai jenis pestisida menurut jenis hama dan
organisme pengganggu. Salah satu sarat beredarnya pestisida adalah harus di
formulasikan karna pestisida aktif kan sulit di gunakan oleh petani dan juga
berbahaya. Selain itu juga pestisida juga dapat di buat sendiri oleh petani dengan
memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan yang hidup di lingkungan sekitar petani
tinggal. Dimana tumbuhan-tumbuhan tersebut mengandunng zat aktif yang dapt
menjadi pestisida dan menanggulangi organisme penggangu.
5.2 Saran
Di harapkan praktikum nantinya dapat melihat dengan jelas bagaimana
bentuk sedianya atau formulasinya, tidak hanya melihat dari bungkusnya saja
akan tetapi benar-benar melihat bentuk pestisida itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
D, Panut. 2008. Pestisida Dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka: Jakarta.
Damalas, Achritos dan Eleftherohorinos, G Illias. 2011. Pesticide Exposure,
Safety Issues, And Risk Assessment Indicators. ERPH Journal
.
G.N.C. Tuhumury., J. A. Leatemia., R.Y. Rumthe dan J.V. Hasinu. 2012. Residu
Pestisida Produk Sayuran Segar Di Kota Ambon. Agrologia.
Hartini, Eko. 2014. Kontaminasi Residu Pestisida Dalam Buah Melon (Studi
Kasus Pada Petani Di Kecamatan Penawangan). KEMAS.
Hazra, D Kumar. 2015. Recent Advancement in Pesticide Formulations for User
and Environment Friendly Pest Management. IJRR.
Kardinan, Agus dan Suriati, S. 2012. Efektivitas Pestisida Nabati Terhadap
Serangan Hama Pada Teh (Camellia Sinensis L.) Effectivity Of Botanical
Pesticides Against Tea (Camellia Cinensis L.) Pest Attack. BPTRO.
Subiyakto, Sudarmo. 2005. Pestisida Nabati, Pembuatan Dan Pemanfaatanya.
Kanisius: yogyakarta.
Sudarmo, Subiakto. 1991. Pestisida. Kanisius: Yogyakarta
Wiratno., Siswanto, dan I.M. Trisawa. 2013. Perkembangan Penelitian, Formulasi,
Dan Pemanfaatan Pestisida Nabati. BPTP Sulsel.

Yusnani,. Daud,Anwar dan Anwar. 2011. Identifikasi Residu Pestisida Golongan


Organofosfat Pada Sayuran Kentang Di Swalayan Lottemart Dan Pasar
Terong Kota Makassar Tahun 2013. Jurnal Litbang Pertanian. 5. (1)