Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan dan pengembangan pembelajaran sains bagi anak usia dini sangatlah
penting. Pendidikan sains hendaklah bersifat segera dan wajib diberikan pada setiap
anak usia dini. Selama ini anak usia dini keliru karena telah memandang sains sebagai
sesuatu pelajaran yang sulit dan membosankan. Kekeliruan anak usia dini itu harus
dihentikan dan dicarikan solusinya. Para pengajar dan pendidik sains harus
meningkatkan kemampuannya dalam memperkenalkan sains pada anak - anak, baik
dalam melihat dan mengungkapkan isi sains ( discovery content ), dalam mengkaji dan
mengungkapkan proses sains ( utilization of process ), maupun dalam melekatkan sikap
sains ( scientist personality ), sehingga dapat mengantar anak pada pemahaman yang
benar tentang sains dan ruang lingkupnya.
Oleh karena itu kami kelompok 4 akan menguraikan secara rinci tentang berbagai hal
yang terkait dengan program pengembangan pembelajaran sains untuk anak usia dini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja ruang lingkup program pembelajaran sains untuk AUD ?
2. Apa saja model program pengembangan sains untuk AUD ?
3. Bagaimana Pendekatan dan strategi pembelajaran sains untuk AUD ?
4. Bagaimana cara pengembangan keterampilan proses sains untuk AUD ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui ruang lingkup program pembelajaran sains untuk AUD
2. Untuk mengetahui model program pengembangan sains untuk AUD
3. Untuk mengetahui pendekatan dan strategi pembelajaran sains untuk AUD
4. Untuk mengetahui cara pengembangan keterampilan proses sains untuk AUD
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ruang Lingkup Program Pembelajaran Sains Untuk AUD
Secara umum yang menjadi wilayah garapan pembelajaran sains meliputi dua
dimensi besar, pertama dilihat dari isi bahan kajian dan kedua dilihat dari bidang
pengembangan atau kemampuan yang akan di capai. Abruscato dalam Nugraha (2005:
99) mengemukakan bahwa ruang lingkup sains dilihat dari isi bahan kajian meliputi
materi atau disiplin yang terkait dengan bumi dan jagat raya (ilmu bumi), ilmu-ilmu
hayati (biologi), serta bidang kajian fisika dan kimia.
Isi bahan kajian bidang yang terkait dengan jagat raya (ilmu tentang bumi),
mempresentasikan tentang pengetahuan-pengetahuan yang benar mengenai alam
semesta dan bagian-bagiannya.Yang termasuk dalam kelompok ini meliputi astronomi,
geologi, meteorology.

Tetapi topik-topik umum untuk pembelajaran anak usia dini, biasanya meliputi :

Pengetahuan tentang binatang, matahari dan planet

Kajian tentang tanah, batuan dan pegunungan, serta

Kajian tentang cuaca dan musim.


Sedangkan isi bahan kajian terkait dengan ilmu-ilmu hayati atau biologi meliputi
botani, zoology, dan ekologi. Dan khusus lingkup kajian untuk pendidikn anak usia dini,
biasanya meliputi :

Studi tentang tumbuh-tumbuhan

Studi tentang binatang atau hewan

Studi tentang hubungan antara tumbuhan dan hewan, serta

Studi tentang hubungan antara aspek-aspek kehidupan dengan lingkungannya.


Ruang lingkup program pengembangan pembelajaran sains apabila ditinjau dari bidang
pengembangan atau kemampuan yang harus dicapai, maka terdapat tiga dimensi yang
semestinya dikembangkan bagi anak usia dini yaitu meliputi kemampuan terkait dengan
penguasaaan produk sains, penguasaan proses sains dan penguasaan sikap-sikap sains
(jiwa ilmuan).
B. Model Program Pengembangan Pembelajaran Sains untuk AUD
Jurnal yang berjudul Pengembangan Model Pembelajaran Sains Bagi Siswa MI/SD
(Murtono, 130) menejelaskan bahwa model pembelajaran adalah suatu pola
pembelajaran yang dapat menerangakan proses , menyebutkan dan menghasilkan
lingkkungan belajar tertentu sehingga peserta didik dapat berinteraksi yang
selanjutnya berakibat terjadinya perubahan tingakah laku siswa secara khusus.
Terdapat beberapa model pengembangan program pembelajaran atau kurikulum
yang dapat dijadikan pedoman dalam pengembangan program pembelajaran sains
pada anak usia dini. Tytler dalam Samatowa (2010: 57 ) menyatakan bahwa setiap
model memiliki fase-fase dengan istilah yang berbeda, tetapi pada dasarnya
memiliki tujuan yang sama, yaitu :
a. Menggali gagasan siswa
b. Mengadakan klarifikasi dan perluasan terhadap gagasan tersebut
c. Merefleksikannya secara eksplisit.
Menurut pandangan konstruktivis dalam Samatowa (2012: 63 ) dalam proses
pembelajaran sains seyogianya disediakan serangkaian pengalaman berupa kegiatan
nyata yang rasional atau dapat dimengerti siswa dan memungkinkan terjadi interaksi
sosial. Dengan kata lain saat proses belajar berlangsung siswa harus terlibat secara
langsung dengan kegiatan nyata.
Hasil kajian selama ini, secara umum terdapat tiga pendekatan utama dalam
pengembangan kurikulum sains pada jenjang pendidikan anak usia dini, yaitu :

1. Pendekatan yang bersifat situasional


Pendekatan yang bersifat situasional adalah pembahasan tentang sains akan di ulas
secara lebih mndalam apabila dalam pembelajaran muncul fenomena yang terkait
dengan tuntutan pembahasan konsep dan pengalaman dan pengalaman sains pada
sasaran belajar.
Jadi pendekatan ini sangat ditentukan oleh muncul atau tidaknya konteks sains
dalam pembelajaran yang sedang dilakukan. Jika muncul maka pembelajaran akan
segera disesuaikan dan diarahkan pada pembahasan sains, tetapi jika tidak muncul
maka pembelajaran akan dilanjutkan sebagaimana semestinya. Dengan kata lain
pendekatan ini dapat dikatakan sebagai program pengembangan pmbelajaran sains
yang berdasarkan situasi spontanitas (spontanous based treatment) sebagai titik awal
(execellent starting point) untuk menjelaskan sains pada anak.
Haren dan Jelly dalam Nugraha (2005: 104-105 ) menyebutkan bahwa pendekatan
tersebut sebagai pendekatan yang bersifat sensitif (sensitif approach ) yaitu strategi
pengembangan pembelajaran sains yang didasarkan atas kepekaan terhadap situasi
kelas atau pembelajaran yang terjadi. Jadi pembelajaran sains akan diperkenalkan
pada anak sesuai dengan perkembangan anak itu sendiri dan situasi kelas, jika ada
kesempatan maka harus di fasilitasi secara optimal. Hal tersebut dikarenakan
memang anak itu bersifat spontan, yang ia ingin ketahui seringkali langsung ia
tanyakan kepada guru atau orang dewasa lainnya. Kemuncuan itu sendiri, dapat saja
di awal pembelajaran, di tengah-tengah pembelajaran ataupun jelang-jelang akhir
pembelajaran yang sedang dilakukan dilaksanakan.
2. Pendekatan yang bersifat terpisah atau tersendiri.
Pendekatan yang bersifat terpisah atau tersendiri diartikan sebagai program
pengembangan pembelajaran sains dikemas secara khusus dan tersendiri.
Pembelajaran sains diberikan waktu tersendiri sebagaimana bidang pengembangan
lainnya dalam pendidikan anak usia dini, pembelajaran sains di setting (dirancang)
secara khusus sesuai dengan karakteristik anak yang sesuai (relevant) dengan
tuntutan penguasaan sains. Jadi pengembangan pembelajaran sains bersifat regular
karena memiliki waktu dan tempat khusus dalam program (kurikulum) pendidikan
anak usia dini yang ada.
Program sains tidak tergantung program lainnya, walaupun tetap prinsip-prinsip
pengembangannya harus mengacu pada landasan pengembangan program
(kurikulum) pada umumnya. Jadi program pengembangan pembelajaran sains
sederajat dan berdampingan denga program program pengembangan lainnya dalam
sistem pendidikan yang ada. Haren dan Jelly dalam Nugraha (2005: 106)
menyatakan bahwa untuk model pengembangan kurikulum pembelajaran sains
seperti ini, menyebutnya dengan istilah separate lessons, maksudnya adalah program
sains direncanakan secara mandiri dan terpisa, dengan alokasi waktu dan jam belajar
tersendiri.
Secara tegas, Haren dan Jelly menyatakan, untuk mengemas program sains dengan
pendekatan tersebut , para pengembang diberikan keleluasaan dan otoritas
(kewenangan) yang tinggi. Pengembang sains tidak di bebani tuntutan untuk

menyelaraskan dan mengharmoniskan progra yang dibuatnya dengan program yang


di buat untuk mengembangkan bidang lainnya. Pikiran yang harus ada dalam
pengembang adalah plot waktu untuk sains anak, dan isilah dengan program yang
optimal sesuai karakteristik sains itu sendiri dan karakteristik anak sebagai sasaran
pengembangan.
3. Pendekatan yang bersifat merger atau terintregasi dengan disiplin lain atau
bidang pengembangan lain
Dalam pendekatan ini, program sains dikembangkan dengan cara digabungkan
secara formal dan sistematis dengan bidang pengembangan atau displin ilmu
lainnya. Sehingga dalam program, pengembangan pembelajaran sains merupakan
bagian dari suatu program kurikulum yang lebih luas dan terpadu sifatnya. Jadi
dalam pengorganisasiannya, para pengembang program harus mampu melihat
secara seksama karakteristik dari setiap bidang yang diintegrasikan dengan bidang
sains tersebut.
Disiplin atau bidang pengembangan lain yang diintegrasikan dapat bersifat terbatas,
maupun terbuka secara luas dan tanpa dibatasi secara khusus. Contoh
pengintegrasian program sainsyang dilihat berdasarkan isi bahan kajian misalnya :
penggabungan sains dan matematika, penggabungan sains dan sejarah,
penggabungan sains dan olahraga, dan sebagainya. Sedangkan contoh
penggabungan program sains dilihat dari dimensi pengembangan kemampuan,
diantaranya : sains, keterampilan, bahasa, moral, agama, dan sebagainya menjadi
satu kesatuan yang utuh.
Beberapa saran yang harus diperhatikan oleh para guru sains ketika
mengembangkan program sains secara umum, daintaranya :

1. Sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaklah gur sudah


meyakinkan diri bahwa dia sudah memahami perkembangan dan karakteristik
anak secara memadai
2. Sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaklah guru sudah
meyakinkan diri bahwa dia sudah memahami ruang lingkup program sains, baik
dari dimensi isi, bahan kajian, maupun dari dimensi pengembangan kemampuan
anak.
3. Jika rambu-rambu 1 dan atau 2, tidak terpenuhi hendaklah dalam pengembangan
program pembelajaran sains anda melakukannya secara kelompok (teamwork).
Bahkan jika diperlukan dan memungkinkan tim anda mengundang ahli khusus
atau konsultan, sehingga anda dan tim dapat bekerja denga optimal.
4. Bentuk dan wujud program sains yang dapat dihasilkan oleh anda dan atau tim,
dapat berupa program 1 tahun, semester, catur wulan, bulan, minggu atau hari
atau insidental. Jadi dapat disesuaikan dengan kebutuhaan lembaga dan
kepentingan program lain secara keseluruhan.
5. Sebaiknya diinventarisir seluruh yang dapat memberikan kontribusi (sumbangan
) terhadap pengembangan pembelajaran sains di tempat anda, sehingga program
sains mendapatkan dukungan semua pihak (total environtment)

6. Kemasalah isi program yng mempehatikan prinsip-prinsip kekseimbangan,


keluwesan, kesinambungan, kebermaknaan dan fungsionalitas. Sehingga
program yang dihasilkan lebih adaptif terhadap berbagai perubahan kondisi
lingkungan belajar, apalagi beberapa karakteristik anak usia dini menunjukkan
sifat yang amat situasional.
C. Pendekatan Dan Strategi Pembelajaran Sains untuk AUD
Secara umum terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan yang berorientasi pada
guru (teacher centered) dan pendekatan yang berorientasi pada anak ( student centered).
Pendekatan yang bersifat teacher centered, maksudnya adalah otoritas dan
dominasi aktifitas, interaksi, dan komunikasi dalam pembelajaran cenderung dikuasai
oleh guru atau pengajar. Bahkan lebih jauh, otoritas guru mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi hingga penentuan dan pengambilan keputusan tentang
perkembangan, kemajuan dan hasil akhir dari pembelajaran. Porsi yang diberikan
kapada anak atau anak, meskipun disediakan tapi ruang nya amat terbatas. Sedangkan
pendekatan student centered, adalah berdimensi sebaliknya, sistem pembelajaran
memberikan porsi dan lahan luas kepada peserta didik untuk terlibat dan aktif dalam
proses pembelajaran. Beberapa pengajar, dalam pelibatan anak hingga menyentuh level
perencanaan dan penilaian kemajuan, termasuk pengambilan keputusan atas kegiatan
pembelajaran yang dilaksakannya.
Yulianti (2010 : 24-29 ) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran sains pada anak
usia dini ( Taman Kanak- Kanak ) hendaknya memperhatikan prinsip prinsip yang
berorientasi pada kebutuhan anak dengan memperhatikan hal - hal berikut :
1. Berorientasi pada Kebutuhan dan Perkembangan Anak
Salah satu kebutuhan perkembangan anak adalah rasa aman. Oleh karena itu jika
kebutuhan fisik anak terpenuhi dan merasa aman secara psikologis, maka anak akan
belajar dengan baik. Di samping itu perlu diperhatikan bahwa siklus belajar Taman
Kanak kanak adalah berulang dengan memperhatikan perbedaan individu.
Minat yang tumbuh akan memotivasi belajarnya, sedangkan anak akan belajar melalui
interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak anak lainnya. Tak terkecuali dalam
pembelajaran sains, minat sains anak dapat dibangkitkan melalui bermain sains yang
dirancang dengan aman untuk anak, dirancang agar anak bisa bersosialisasi dengan
teman, membangkitkan motivasi dan rasa ingin tahu. Guru jangan malas untuk selalu
mengulang pertanyaan untuk membangkitkan minatnya dan mengulang untuk
menegaskan jawaban yang benar.
2. Bermain Sambil Belajar
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegatan pembelajaran
pada anak anak dini. Untuk itu dalam memeberikan pendidikan pada usia dini harus
dilakukan dalam situasi yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa bosan dalam
mengikuti pelajaran. Bermain bagi anak juga merupakan suatu porses kreatif untuk
bereksplorasi, mempelajari keterampilan yang baru dan bermain dapat menggunakan
simbol untuk menggambarkan dunianya. Pembelajaran harus dirancang sedemekian
sehingga melalui bermain anak anak menemukan konsep dengan suasana yang

menyenangkan dan tidak terasa telah belajar sesuatu dalam suasana bermain yang
menyenangkan.
Manfaat bermain sambil belajar sains pada aspek aspek perkembangan anak,
diantaranya adalah :
a. Aspek Perkembangan Motorik Kasar dan Halus
Berbagai penelitian menununjukkan bahwa bermain memungkinkan anak
bergerak secra bebas sehingga mampu mengembangkan kemampuan motoriknya. Dia
belajar memanjat, melangkah, melompat dan sebagainya.
b. Aspek Perkembangan Kognisi
Piaget dalam Yulianti (2010 : 28), anak akan memahami pengetahuan melalui
interaksi dengan objek yand ada di lingkungan sekitarnya. Pada saat bermain sambil
belajar sains anak memiliki kesempatan untuk mengetahui objek objek dengan cara
mengamati, menyentuh, mencium, dan mendengarkan.
c. Aspek Perkembangan Sosial
Ketika anak sedang bermain sambil belajar sains anak dapat belajar
bersosialisasi dan berkelompok sehingga membuka peluang untuk berinteraksi dengan
anak atau orang lain. Interaksi tersebut mengajarkan kepada anak cara merespon,
memberi dan menerima, menolak dan menyetujui ide atau perilaku anak lain.
d. Aspek Perkembangan Bahasa
Pada saat bermain sambil belajar sains anak dilatih mengemukakan bahasa untuk
berkomunikasidan menyatakan ide atau pikirannya.
e. Aspek Perkembangan Moral
Setiap permainan mempunyai aturan. Aturan akan dikenalkan oleh teman
bermain sedikit demi sedikit, tahap demi tahap sampai anak memahami aturan bermain.
Oleh karena itu, bermain akan melatih anak menyadari adanya aturan dan pentingnya
mematuhi aturan. Hal ini merupakan tahap awal dari perkembangan moral.
3. Selektif, Kreatif dan Inovatif
Materi sains yang disajikan dipilih sedemikian rupa sehingga dapat disajikan
melaui bermain. Pengeloaan pembelajaran hendaknya juga dilakukan dengan cara
dinamis. Artinya anak tidak hanya dijadikan sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek
dalam pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dan inovasi guru dalam
menyusun pembelajaran sains.
Mengenalkan sains kepada anak dapat dilakukan dengan cara mengamati dan
menyelidiki fenomena di lingkungan sekitar. Anak juga dapat diajak beljar sains melalui
permainan dengan berbagai macam benda, misalnya air, kertas, tanah liat, daun
daunan dan pohon sekitar sekolah dan sebagainya.
D. Pengembangan Keterampilan Proses Sains untuk AUD
Anita Chandra Dewi dalam skripsi Novitahadsari yang berjudul Peningkatan
Keterampilan Mengkomunikasikan Sains melalui Media Grafis pada Anak Kelompok B

TK ABA Balerante Sleman Yogyakarta ( 2014: 12 ) menyatakan bahwa, aspek aspek


keterampilan proses meliputi :

1. Observasi, mencakup keterampilan melibatkan semua alat indra untuk


menyatakan sifat yang dimiliki oleh suatu benda atau objek.
2. Menafsirkan hasil pengamatan, melibatkan keterampilan mencari hubungan
antara pengamatan dengan pernyataan ciri ciri atau sifat suatu benda atau
peristiwa yang mudah diberi arti oleh orang lain.
3. Mengelompokkan memerlukan keterampilan observasi.
4. Berkomunikasi, mencatat hasil pengamatan yang relevan dengan hasil
penyelidikan.
5. Mengajukan pertanyaan, memberikan kepada siswa untuk mengungkapkan apa
yang ingin diketahuinya.
6. Menyimpulkan ( inferensi ), merupakan keterampilan memberikan penjelasan
atau interprestasi terhadap suatu data yang didasarkan atas pengetahuan dan
pengalaman awal.
Conny Semiawan dalam skripsi Novitahadsari yang berjudul Peningkatan Keterampilan
Mengkomunikasikan Sains melalui Media Grafis pada Anak Kelompok B TK ABA
Balerante Sleman Yogyakarta (2014 : 2) menyatakan bahwa, Pengembangan
keterampilan proses sains anak usia dini diperlukan dalam menjelajah dan memahami
alam sekitar. Keterampilan proses anak usia dini dikembangkan agar anak usia dini
terbiasa untuk menemukan suatu fakta dan konsep sendiri seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan yang berlangsung semakin cepat, untuk melatih anak berpikir dan
bertindak secara kreatif, untuk melatih anak dalam mengembangkan pikiran ( kognitif )
melalui gerakan dan perbuatan serta untuk sikap dan nilai diri anak sehingga
menghasilkan pribadi yang manusiawi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari seluruh materi tentang pengembangan program pembelajaran
adalah secara umum ruang lingkup pembelajaran sains untuk anak usia dini itu meliputi
2 dimensi yaitu dilihat dari isi bahan kajian dan dilihat dari bidang pengembangan
kemampuan yang akan dicapai.
Model program pembelajaran sains untuk anak usia dini yang tepat itu adalah model
pembelajaran sains yang mengharuskan anak usia dini terlibat secara langsung dengan
kegiatan nyata saat proses belajar sedang berlangsung.
Pendekatan dan strategi yang dipilih dengan pertimbangan dapat menyajikan dan
memberikan aktivitas sains secara memadai dan terintegrasi pada anak. Keterampilan
proses sains yang harus diajarkan dan dilatih pada anak usia dini yaitu mengamati

(observasi), mengelompokkan, menafsirkan, memprediksi, menerapkan, merencanakan


penelitian, dan mengkomunikasikan.

B. Saran
Untuk mencapai tujuan dari pembelajaran sains di PAUD secara maksimal,
maka hendaknya para penyelenggara PAUD memperhatikan model, pendekatan dan
strategi yang akan di terapkan. Serta meningkatkan keterampilan proses yang harus
dimiliki oleh anak usia dini. Agar belajar sains tidak dianggap sebagai hal yang sulit dan
membosankan oleh anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA
Murtono, Pengembangan Model Pembelajaran Sains Bagi Siswa MI/SD, Jurnal,
(Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga)
Novitahadsari, Peningkatan Keterampilan Mengkomunikasikan Sains Melalui Media
Grafis Pada Anak Kelompok B TK ABA Balerante Sleman Yogyakarta, Skripsi,
(Yogyakarta: UNY, 2014)
Nugraha, Ali. 2005. PengembanganPembelajaran Sains Pada Anak Usia Dini. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
Samatowa, Usman. 2010. Pembelajaran Ipa di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Indeks
Yulianti, Dwi. 2010. Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak Kanak. Jakarta:
PT Indeks