Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA KULIAH

EKONOMI WILAYAH DAN KOTA


Konsep Kota Optimum
Dosen : DR. IR. E. D. Heripoerwanto
Asisten Dosen : Meyriana Kesuma, ST, MT

Disusun Oleh :
Nama: Rulina

TEKNIK PERENCANAAN KOTA DAN REAL ESTATE


UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
2015

Adakah Kota yang berukuran optimum?


Kata optimal tidak hanya dilihat dari ukuran atau luasan dari suatu kota dan wilayah,
tetapi dapat dilihat dari kinerja dari kota atau wilayah tersebut. Menurut Alonso
(1975) dan Richardson (1978), ukuran kota optimal (optimal city size) dlilihat dari
sudut pandang ekonomi dapat dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan yaitu:
pendekatan biaya minimum (minimum cost approach) dan pendekatan biaya marginal
(marginal cost approach). Kedua pedekatan ini cara kerjanya pun berbeda sehingga
bisa menghasilkan kota optimum yang berbeda tergantung dari tujuan dan
karakteristik dari sebuah kota tersebut mau menggunakan pendekatan yang mana
yang tepat .
Pendekatan ongkos minimum (Minimum Cost Approach), yaitu pendekatan yang
mengacuh pada meminimalisasi tingkat biaya pengelolaan kegiatan yang diakumulasi
dan dirata-rata dari setiap bagian kota. Sistem pengelolaan kota yang dilakukan secara
efektif dan efisien dan dapat diwujudkan di dalam pengaturan biaya pengelolaan yang
dibuat serendah mungkin. Selain itu ada juga factor-factor yang dapat mempengaruhi
biaya pengelolan sebuah kota atau wilayah seperti faktor perubahan jumlah penduduk
yang semakin berkembang, Masyarakat itu sendiri,Pemerintah setempat,dll.
Pendekatan marginal cost-marginal product memiliki faktor utama yaitu pertumbuhan
ekonomi Marginal Cost (MC) dan Marginal Product (MP). Dengan pendekatan ini
ukuran kota optimal yang dihasilkan lebih besar daripada dengan pendekatan ongkos
minimum.
Ukuran kota optimum yang disebutkan di dalam teori akan memunculkan aglomerasi
yang konsentris dalam ekonomi dan penduduk kota. Dalam aglomerasi, kegiatan
usaha industri menyesuaikan kebutuhan dan melihat keuntungan dari sumber daya,
lahan, dan tenaga ahli yang terdapat . Contohnya kota Tangerang, awalnya berupa
kabupaten berjalannya waktu penambahan penduduknya semakin banyak karena
dorongan mobilisasi dari daerah sekitarnya seperti jakarta. sehingga luas
kabupatennya semakin meluas, setelah itu terjadi pembagian administrasi wilayah
sehingga muncul wilayah kota Tangerang. Selain itu kota tangerang juga merupakan

wilayah yang terdapat industri baik dari industri skala besar hingga skala kecil yang
memberi peluang bagi pendapatan ekonomi wilayah tersebut.
Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa dukuran kota optimum masih bersifat relatif
dan sulit untuk dilihat secara langsung karena karakteristik dan kemampuan setiap
kota berbeda .Sehingga kosnep kota optimum dapat disimpulkan sulit untuk
diterapkan dan belum bisa dipastikan.

Referensi:Buku : Sjafrizal, 2002, Ekonomi Wilayah dan Perkotaan


Internet:https://fallinginlol.wordpress.com/2013/12/26/ekonomi-regional-10-ukurankota-optimal/

Tugas II Ekonomi Wilayah dan Kota


1. Pendapatan dan Pengeluaran Negara
Inilah Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia Tahun 2014.

Sumber Pendapatan dan Pengeluaran Negara


Sumber Pendapatan dan Pengeluaran Negara - Program pembangunan yang dijalankan oleh
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memerlukan banyak dana. Pembiayaan
pembangunan tersebut dapat dihimpun dari berbagai sumber-sumber pendapatan atau
penerimaan. Sumber-sumber penerimaan dan pengalokasiannya dapat dilihat dari susunan
APBN maupun APBD.
1. Sumber-Sumber Pendapatan Negara dan Daerah
Setiap negara menginginkan untuk meningkatkan penerimaan atau pendapatan nasional,
karena dengan peningkatan pendapatan kemakmuran suatu negara akan meningkat. Sejalan
dengan itu, dalam kebijakan fiskal pemerintah terus meningkatkan penerimaan negara baik
penerimaan negara berupa pajak dan bukan pajak atau penerimaan migas dan nonmigas.

Sementara itu, pemerintah daerah juga berkeinginan untuk meningkatkan penerimaan atau
pendapatan derahnya guna menunjang pembangunan daerah.
Sumber-sumber pendapatan negara dari penerimaan negara dan hibah, seperti Penerimaan
Dalam negeri (Penerimaan perpajakan, Pajak dalam negeri (PPh, PPN, PBB, cukai, dan
lainnya), Pajak perdagangan internasional (bea masuk, pajak impor)) , Penerimaan bukan
pajak (Penerimaan sumber daya alam, Bagian laba BUMN, Penerimaan Negara bukan pajak
lainnya),dan Hibah (Sumber-Sumber Pendapatan Daerah seperti Pajak daerah, Retribusi
daerah,dll)
2. Jenis Pembelanjaan Pemerintah Pusat dan Daerah

Sumber:
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/NK%20dan%20APBN%202014%20full_0.pdf,
(Halaman 419-420)

Pendapatan yang berasal dari berbagai sumber selanjutnya digunakan untuk membiayai
negara secara rutin dan pembangunan agar jalannya pemerintahan semakin lancar. Wawasan
Ekonomi Mulai tahun 2008, Departemen Keuangan akan menetapkan daerah-daerah kaya
yang tidak layak lagi mendapatkan Dana Alokasi Umum atau DAU.Langkah-langkah tersebut
karena pemerintah ingin mengembalikan fungsi utama DAU sebagai sarana untuk pemerataan
bagi daerah.Pembelanjaan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah
dapat diuraikan seperti berikut ini.Jenis Pembelanjaan Pemerintah pusat. Pengeluaran Negara
sperti Belanja Pemerintah Pusat (Belanja barang,Belanja Modal,Pembayaran bunga utang

(dalam negeri dan luar negeri, Subsidi (BBM dan non BBM), Anggaran Belanja
Pembangunan,dll)
Berdasarkan uraian mengenai sumber penerimaan dan belanja negara, maka diusahakan
setiap APBN dan APBD menunjukkan adanya tabungan pemerintah. Semakin tinggi tabungan
pemerintah maka akan dapat meningkatkan investasi atau penanaman modal untuk usaha
sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar atau dengan kata lain APBN
menunjukkan surplus.
3. Produk Domestik Bruto Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Secara Keseluruhan 10 Tahun Terakhir

Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014

Semester
I
II
I
II
I
II
I
II
I
II
I
II
I
II
I
II
I
II
I
II

Grafik Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan
Ekonomi (%)
5.5
6
6.1
5.5
6.3
6.3
6.1
6
4.4
4
5.7
6.2
6.5
6.5
6.4
6.3
5.81
5.78
5.12
5.97

Pertumbuhan
Ekonomi (%)
berdasrkan nilai
konstan
1
1.09
1.11
1
1.15
1.15
1.11
1.09
0.8
0.73
1.04
1.13
1.18
1.18
1.16
1.15
1.06
1.05
0.93
1.09

Pertumbuhan Ekonomi (%)


7
6
5

Pertumbuhan
Ekonomi (%)

4
3
2
1
0

Dapat dilihat pada grafik diatas, pertumbuhan ekonomi sempat mengalami penurunan dan
penaikan dimana antara tahun 1965 sampai 1997 perekonomian Indonesia tumbuh dengan
persentase rata-rata per tahunnya tujuh persen. Dengan pencapaian ini Indonesia tidak lagi
berada di tingkatan negara-negara berpendapatan rendah melainkan masuk ke tingkatan
negara-negara berpendapatan menengah. Meskipun demikian, Krisis Keuangan Asia yang
terjadi di akhir tahun 1990an telah memberikan efek negatif bagi perekenomian nasional,
akibatnya produk domestik bruto (PDB) Indonesia turun 13.6 persen di tahun 1998 dan naik
sedikit di tahun 1999 sebanyak 0.3 persen. Antara tahun 2000 sampai 2004 perekenomian
mulai memulih dengan rata-rata pertumbuhan PDB sebanyak 4.6 persen per tahun.
Penurunan yang terjadi pada akhir tahun 2008 (Sem 2) yang kemudian terus menerus hingga
tahun 2009. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa factor eksternal maupun internal. Tetapi
factor eksternal yang paling besar mempengaruhi adalah terjadinya Krisis Finansial Global
yang melanda Negara-negara maju dan berkembang yang Indonesia termasuk salah satunya.
Selain berpengaruh kepada angka pertumbuhan PDB, krisis finasnsial global ini juga
mempengaruhi inflasi yang pada tahun 2009, Indonesia mengalami inflasi terendah selama 10
tahun terakhir yaitu berada pada angka 2.78% berdasarkan informasi dari Bank Indonesia dan
Bisnis.com . Tetapi setelah tahun 2009 pertumbuhan mulai menanjak naik pada tahun 2011
2012. Pertumbuhan yang paling tinggi selama kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi pada tahun
2011 dimana angka pertumbuhan ekonomi mencapai titik 6.5%. Pertumbuhan yang baik ini
terus menerus hingga tahun 2012. Sektor-sektor yang berkontribusi dalam peningkatan ini
adalah yang tertinggi diberikan oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 9.98 %, kedua oleh
sector Perdagangan, Hotel dan Restoran 8.11%, ketiga sector Konstruksi 7.50%, keempat
Keuangan, Real Estate dan Perusahaan Jasa 7.15% dan yang terakhir adalah sector Listrik,
Gas dan air Bersih 6.40%. Setelah itu PDB Indonesia meningkat dengan nilai rata- rata per

tahun sekitar enam persen, kecuali tahun 2009 dan 2013, ketika gejolak krisis keuangan global
dan ketidakpastian terjadi. Meski masih cukup mengagumkan, PDB Indonesia turun ke nilai 4.6
persen dan 5.8 persen pada kedua tahun tersebut.
Tahun
1998 1999
2000 2004
2005 2009
2010 2013

Rata-rata Pertumbuhan PDB


(%)
- 6.65
4.60
5.64
6.15

Sumber: Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Badan Pusat Statistik (BPS)

Lambannya pertumbuhan ekonomi tahun 2013 (5.78 persen) terjadi karena kombinasi
ketidakpastian global yang parah disebabkan oleh perancangan ulang program pembelian aset
per bulan Federal Reserve sebesar USD $85 milyar (pelonggaran kuantitatif) yang
mengakibatkan arus keluar modal secara signifikan dari negara-negara berkembang, dan
kelemahan isu finansial internal: defisit transaksi berjalan dengan rekor tertinggi, inflasi tinggi
(setelah pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada bulan Juni 2013) dan nilai tukar
rupiah yang terdepresiasi tajam. Namun pada semester II 2014 pertumbuhan ekonomi di
Indonesia kembali mengalami kenaikan lagi sebesar 5,97% hal ini dikaitankan dengan
reformasi politik dan ekonomi praktis dikombinasikan dengan investasi besar dalam sektor
infrasktruktur di Indonesia.
4. Kondisi Negara Kita
Melihat tingkat PDB per kapita baru-baru ini mencapai level tertinggi namun PDB per kapita
Indonesia terdapat kesenjangan antara stastistik dan realitas sebagaimana kekayaan 43 ribu
orang terkaya Indonesia (yang hanya berkisar 0.02 persen dari total penduduk Indonesia)
adalah setara dengan 25 persen PDB Indonesia. Kekayaan empat puluh orang terkaya
Indonesia mecakup 10.3 persen dari PDB (jumlah ini berbanding sama dengan jumlah
kekayaan 60 juta orang Indonesia termiskin). Angka-angka ini mengindikasikan konsentrasi
kekayaan yang besar dalam kalangan elit yang kecil. Apalagi kesenjangan distribusi
pendapatan ini diprediksi akan semakin meluas ke depan, Yang juga menarik adalah seberapa
jauh faktor-faktor yang ada dalam kebudayaan Indonesia (salah satu contohnya budaya Jawa
yang dominan) dapat mempengaruhi pertumbuhan PDB Indonesia, yang sebagaimana kita
ketahui pulau jawa merupakan distribusi terbesar yang meningkatkan nilai pdrb dimana pulau
jawa merupakan salah area yang merupakan pusat Negara yaitu khususnya Jakarta sebagai
ibukota NKRI yang memiliki segala aktifitas ekonomi yang tinggi. Untuk daerah diluar jawa juga
memiliki potensi sebagai distribusi dalam peneningkatan pdrb namun kondisi geografi anatar

daerah yang berbeda bisa juga menjadi hambatan buat kemajuan adanya saling
terintegrasinya distribusi serta adanya kekurangan aksesbilitas maupun infrastruktur yang baik
mendorong adanya ketimpangan antar satu daerah dengan daerah yang lain.